Holmes baru saja selesai membaca sepucuk surat yang tiba dengan pos terakhir. Sambil tergelak ringan, dia menunjukkan surat itu kepadaku.

"Kalau mau melihat campuran antara zaman modern dan zaman pertengahan, antara yang praktis dan yang sangat fantastis, kurasa inilah contohnya," katanya. "Bagaimana pendapatmu, Watson?"

Kubaca surat itu:
Old Jewry 46, 19 November
Hal: Vampir

Dengan hormat,
Klien kami, Mr. Robert Ferguson, pemilik perusahaan Ferguson & Muirhead, agen penjualan teh yang beralamat di Mincing Lane, telah berkonsultasi kepada kami sehubungan dengan vampir. Berhubung ruang lingkup kami semata-mata di bidang hukum, kami tak tahu-menahu tentang hal seperti itu, sehingga kami menyarankan agar Mr. Ferguson menemui Anda dan meminta Anda menangani kasusnya. Kami masih ingat kehebatan Anda ketika menangani kasus Matilda Briggs.

Hormat kami,
Morrison, Morrison, dan Dodd
"Matilda Briggs itu bukan nama seorang wanita, Watson," kata Holmes sambil mengingat-ingat. "Itu nama kapal yang ada hubungannya dengan tikus raksasa dari Sumatra, kisah yang benar-benar baru bagi seluruh isi dunia. Tapi apa yang kita ketahui tentang vampir? Apakah bidang itu termasuk dalam profesi kita juga? Daripada menganggur, lebih baik masalah ini kita tangani, tapi kita tampaknya akan masuk ke zaman dongeng karangan Grimm. Tolong ambilkan buku referensi, Watson, mari kita lihat informasi apa yang ada di situ."

Aku menggapai ke rak buku dan mengambil buku referensi besar yang dimaksudkannya. Holmes menaruh buku itu di lututnya dan matanya mulai menelusuri catatan kasus-kasus lama yang diselingi dengan berbagai informasi yang selama ini dikumpulkannya.

"Pelayaran Gloria Scott," bacanya, "kasus yang tak menyenangkan. Aku ingat kau pernah mempublikasikan kasus itu, Watson, walaupun hasil tulisanmu tak bisa dikatakan baik. Victor Lynch, pemalsu ulung. Kadal berbisa. Yang satu ini kasus yang luar biasa! Vittoria, artis sirkus. Vanderbilt dan Yeggman. Keduanya bak ular berbisa. Vigor, kisah unik dari Hammersmith. Hai! Hai! Betapa bagusnya buku referensi ini. Tak ada yang terlewat sedikit pun. Dengarkan, Watson. Vampir di Hongaria. Lalu ada lagi. Vampir di Transylvania." Sahabatku membalik-balik halaman buku itu dengan penuh semangat, tapi setelah beberapa saat dia meletakkannya kembali sambil mengeluh.

"Sampah, Watson, sampah! Apa yang bisa kita lakukan terhadap mayat-mayat gentayangan yang hanya bisa dikembalikan ke kuburan mereka dengan cara menusuk tepat di jantung mereka? Benar-benar gila."

"Tapi praktek mengisap darah tak selalu dilakukan mayat, kan? Orang hidup bisa saja punya hobi menjadi vampir. Sebagai contoh, aku pernah membaca tentang orang tua yang suka mengisap darah pemuda supaya tetap awet muda."

"Kau benar, Watson. Buku tadi juga menyebutkan legenda seperti yang kaukatakan. Tapi, apakah kita patut memperhatikan hal-hal seperti itu dengan serius? Biro detektif yang kita tangani berpijak di bumi, dan di situlah kita bertahan. Dunia cukup luas bagi kita; tak perlu kita mengurusi makhluk-makhluk dari alam lain. Aku khawatir tak bisa menanggapi kasus Mr. Robert Ferguson dengan serius. Mungkin surat satunya lagi dari dia, dan kita bisa memperoleh titik terang tentang apa yang sebenarnya membuatnya cemas."

Holmes mengambil surat lain yang tergeletak di meja, yang tak diperhatikannya ketika tadi dia asyik membahas surat pertama. Senyumnya mengembang ketika dia mulai membaca, namun kemudian lenyap berganti dengan ekspresi penasaran dan penuh konsentrasi. Setelah selesai, dia duduk merenung, sementara surat itu masih menggelantung di antara jemarinya. Akhimya, dengan sangat mengejutkan, dia berdiri.

"Cheeseman, Lamberley. Di mana Lamberley, Watson?"

"Di daerah Sussex, sebelah selatan Horsham."

"Kalau begitu tak begitu jauh, ya? Lalu Cheeseman?"

"Nama salah satu rumah tua di Lamberley. Aku tahu kebiasaan di desa itu. Rumah-rumahnya dinamai menurut nama orang yang membangunnya beberapa abad yang lalu. Jadi ada Odley, Harvey, dan Carriton—mereka sudah tiada, tapi nama mereka tetap abadi."

"Begitu, ya," kata Holmes dingin. Sobatku ini memang agak angkuh dan terlalu percaya diri, sehingga apabila mendapat masukan dari orang lain, dia jarang sekali mengakuinya terutama kepada pihak pemberi informasi. "Kurasa kita akan mendapat informasi lebih lanjut mengenai Cheeseman, Lamberley, selama menangani kasus ini. Sebagaimana yang kuharapkan, surat ini berasal dari Robert Ferguson. Omong kosong, dia bilang kenal denganmu."

"Kenal denganku!"

"Silakan kaubaca sendiri."

Dia menyerahkan surat itu kepadaku. Kepala surat itu berisi alamat yang telah disebutkan Holmes. Begini bunyinya:
Mr. Holmes yang terhormat,

Penasihat hukum saya menyarankan agar saya menghubungi Anda, tapi masalahnya benar-benar aneh dan peka, sehingga sangat susah dijabarkan. Kasusnya berhubungan dengan teman saya. Kira-kira lima tahun yang lalu, teman saya ini menikah dengan wanita Peru, putri pedagang besar di negeri itu. Dia bertemu wanita itu ketika mengadakan hubungan bisnis impor nitrat. Wanita itu sangat cantik, tapi berhubung dia orang asing dan agamanya pun berbeda, mereka sering berbeda pendapat. Setelah beberapa lama, cintanya kepada wanita itu menjadi dingin, dan dia merasa telah membuat kesalahan besar dengan menikahinya. Dia merasa ada sifat-sifat istrinya yang tak bisa dimengertinya sama sekali. Ini sangat menyakitkan, karena istrinya itu sangat menyayanginya dan sangat patuh kepadanya.

Nah, sekarang saya akan menyinggung sedikit masalah yang akan saya perjelas dalam pertemuan kita. Melalui surat ini saya hanya ingin memberikan gambaran umum tentang situasi kasusnya, agar Anda dapat memutuskan apakah Anda berminat menanganinya. Begini, akhir-akhir ini istri teman saya mulai menunjukkan sikap-sikap aneh yang sangat bertentangan dengan kepribadiannya yang manis dan lembut. Dia bersikap kejam terhadap anak tirinya, putra teman saya dari perkawinan pertamanya. Pemuda berusia lima belas tahun ini tampan dan baik hati, meskipun agak cacat akibat kecelakaan yang menimpanya ketika ia masih kecil. Entah karena alasan apa, sang istri dua kali ketahuan memukuli pemuda itu, bahkan yang sekali dengan tongkat sehingga meninggalkan bekas luka besar di lengannya.

Tapi peristiwa itu belum seberapa dibandingkan dengan tingkahnya terhadap anak kandungnya yang belum setahun usianya. Kira-kira sebulan yang lalu, bayi itu ditinggal pergi sebentar oleh pengasuhnya. Tiba-tiba terdengar jerit tangis kesakitan si bayi, dan pengasuhnya bergegas mendatanginya. Ketika dia tiba di kamar bayi, dia melihat nyonyanya sedang membungkuk di depan bayinya sambil menggigit lehernya. Bekasnya terlihat di leher bayi itu. Si pengasuh begitu ketakutan hingga hendak memanggil tuannya, tapi wanita itu mencegahnya sambil menyerahkan uang lima pound sebagai upah gerakan tutup mulutnya. Tak ada penjelasan lebih lanjut tentang peristiwa itu, dan untuk sementara masalahnya didiamkan saja.

Tapi peristiwa itu sangat menghantui si pengasuh, dan sejak itu dia mengawasi majikannya dengan saksama sambil dengan sangat hati-hati menjaga bayi yang sangat dicintainya. Tampaknya sang ibu sadar bahwa dia senantiasa diawasi, dan dia selalu mencari-cari kesempatan untuk mendekati bayi itu. Maka siang-malam si pengasuh melindungi sang bayi, dan selama itu pula sang ibu berkeliaran bagaikan serigala yang ingin menerkam domba. Anda mungkin tak percaya ketika membaca penuturan saya ini, tapi saya mohon agar Anda menganggap serius kasus ini, karena menyangkut nyawa seorang pemuda dan seorang bayi.

Akhirnya, pada suatu hari yang naas, kenyataan itu tak bisa disembunyikan lagi dari sang suami. Si pengasuh sudah tak tahan lagi, sehingga dia berterus terang kepada tuannya. Seperti halnya Anda, dia pun sangat terperanjat mendengar penuturan pengasuh itu. Sejauh pengetahuannya, istrinya adalah wanita dan ibu yang penuh kasih sayang. Hanya dua kali itu dia memukul anak tirinya. Kenapa pula dia ingin menyakiti putranya sendiri yang masih bayi? Teman saya mengatakan kepada si pengasuh bahwa pastilah dia salah lihat, kecurigaannya tak berdasar, dan tak pantas dia memfitnah nyonyanya seperti itu. Selagi mereka berbicara, tiba-tiba terdengar teriak kesakitan. Pengasuh dan tuannya segera berlari ke kamar bayi. Bayangkan perasaan teman saya, Mr. Holmes, ketika dia menyaksikan sendiri istrinya berdiri dari posisi berjongkok di samping ranjang bayi dan melihat darah berceceran di leher dan seprai si bayi. Sambil berteriak ngeri, dia menangkap wajah istrinya dan mengarahkannya ke lampu... Sekeliling bibir wanita itu penuh darah. Jadi benarlah bahwa istrinya—sungguh tak bisa dipercaya—yang telah mengisap darah bayi yang malang itu.

Begitulah duduk perkaranya. Sekarang ini, sang istri mengunci diri di kamarnya. Wanita itu tak berkata apa-apa. Pikiran sang suami sangat kacau. Dia maupun saya sendiri tak tahu banyak tentang vampir. Kami pikir semua itu hanya dongeng mengerikan dari negara lain. Tak dinyana itu terjadi di jantung daerah Sussex di negeri kita ini. Bagaimana, Mr. Holmes, maukah Anda menemui saya? Bersediakah Anda menggunakan kemampuan Anda yang luar biasa itu untuk menolong teman saya yang sedang bingung? Jika Anda bersedia, tolong kirim telegram ke Ferguson, Cheeseman, Lamberley, dan saya akan datang pada pukul sepuluh pagi.

Hormat saya, Robert Ferguson

N.B.
Kalau saya tidak keliru, teman Anda Watson pernah ikut tim rugby Blackheath yang bertanding melawan tim Richmond ketika saya memegang posisi three-quarter. Hanya itu referensi pribadi yang dapat saya berikan kepada Anda.
"Tentu saja aku ingat dia," kataku sambil menaruh surat itu. "Bob Ferguson orangnya tinggi besar, pemain three-quarter, pemain belakang, terbaik yang pernah dimiliki tim Richmond. Dia pemuda yang baik. Tak heran kalau dia mau susah-susah menolong temannya yang sedang butuh pertolongan."

Holmes menatapku dengan serius, lalu menggelengkan kepalanya.

"Aku tak pernah tahu kau dulu pemain rugby, Watson," katanya. "Wah, masih banyak yang belum kuketahui tentang dirimu. Tolong kirimkan telegram untukku: 'Dengan senang hati bersedia menangani kasus Anda.'"

"Kasus Andal"

"Kita tak boleh membuatnya berpikir bahwa biro detektif ini dijalankan oleh orang-orang tolol. Sudah jelas ini kasusnya sendiri, bukan kasus orang lain. Kirimkan telegram itu kepadanya, dan kita lupakan dulu kasus ini sampai besok pagi."

Tepat pada pukul sepuluh keesokan harinya, Ferguson masuk ke ke kamar sewaan kami. Dalam ingatanku dia adalah pria jangkung tegap yang dengan sigap menghindari kepungan lawan-lawannya dalam permainan rugby. Namun atlet yang pernah begitu berjaya itu ternyata sekarang dalam keadaan menyedihkan. Tubuhnya yang tegap sudah tak ada bekasnya lagi, rambutnya yang berwarna jerami sudah menipis, dan pundaknya bungkuk. Aku khawatir jangan-jangan dia juga terkejut melihat kemerosotan fisikku.

"Halo, Watson," katanya dengan suara yang masih dalam dan ramah. "Penampilanmu kini berbeda sekali dengan ketika kau kulempar ke penonton di lapangan Old Deer Park. Aku tahu aku pun sudah banyak berubah, terutama sejak satu-dua hari yang lalu. Melihat telegram Anda, Mr. Holmes, rupanya sia-sia saya pura-pura bertindak atas nama orang lain."

"Lebih mudah kalau langsung saja, kan?" kata Holmes.

"Memang. Tapi Anda bisa membayangkan betapa sulitnya bila kita harus membicarakan istri sendiri yang seharusnya dilindungi dan ditolong. Apa yang bisa saya lakukan? Bagaimana mungkin saya melaporkan peristiwa seperti itu kepada polisi? Di pihak lain, kedua putra saya juga harus dilindungi. Apakah istri saya gila, Mr. Holmes? Apakah ini penyakit keturunan? Pernahkah Anda menghadapi kasus seperti ini? Demi Tuhan, tolonglah saya, karena saya benar-benar telah kehabisan akal."

"Bisa dimengerti, Mr. Ferguson. Nah, silakan duduk dulu dan tenanglah. Anda perlu menjawab beberapa pertanyaan saya. Saya jamin bahwa saya tak sedang kehabisan akal, dan saya yakin akan mampu memberikan jalan keluar. Pertama-tama, tindakan apa saja yang telah Anda lakukan? Apakah istri Anda masih berada dekat dengan kedua putra Anda?"

"Keadaan di rumah saya betul-betul mengenaskan. Istri saya biasanya sangat penyayang, Mr. Holmes. Belum pernah saya melihat wanita mencintai suaminya seperti dia mencintai saya—dengan segenap hati dan jiwanya. Hatinya hancur ketika saya memergoki rahasianya yang sangat mengerikan ini. Dia tak mau berbicara sepatah kata pun. Dia tak menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Dia hanya menatap saya dengan pandangan mata liar dan putus asa. Lalu dia lari ke kamarnya dan menguncinya dari dalam. Sejak itu dia tidak mau menemui saya sama sekali. Dia hanya mau dilayani pelayannya yang bernama Dolores, yang telah ikut dia sebelum kami menikah dan dianggapnya kerabatnya sendiri."

"Jadi bayi Anda cukup aman?"

"Mrs. Mason, pengasuhnya, telah berjanji akan terus menjaganya. Dia bisa dipercaya. Saya lebih menguatirkan putra saya yang tertua, Jack, karena sebagaimana saya tulis dalam surat saya, dia telah dua kali diserang istri saya."

"Sampai terluka parah?"

"Tidak, meski pukulannya cukup keras. Tindakan istri saya sangat kejam, Mr. Holmes, mengingat Jack anak cacat yang tak berdaya." Wajah Ferguson menjadi lembut ketika dia berbicara tentang putranya. "Anda pasti akan iba melihat kondisi anak saya yang pertama. Waktu kecil dia jatuh sehingga tulang belakangnya melengkung, Mr. Holmes, tapi anak itu benar-benar manis, sangat penyayang."

Holmes mengambil surat yang diterimanya kemarin dan membacanya kembali. "Siapa lagi yang tinggal di rumah Anda, Mr. Ferguson?"

"Dua pelayan yang masih agak baru. Juga pengurus kuda Michael, yang tidur di dalam rumah. Lalu istri saya, saya sendiri, putra saya Jack, si bayi, Dolores, dan Mrs. Mason. Itu saja."

"Saya rasa Anda tak begitu mengenal istri Anda ketika Anda menikahinya?"

"Saya baru kenal dengannya selama beberapa minggu."

"Sudah berapa lama si Dolores menjadi pelayan istri Anda?"

"Beberapa tahun."

"Jadi Dolores lebih tahu sifat istri Anda daripada Anda sendiri?"

"Ya, bisa dikatakan begitu."

Holmes membuat catatan.

"Saya rasa," katanya, "saya lebih baik pergi ke Lamberley. Jelas sekali kasus ini membutuhkan penyelidikan langsung. Kalau istri Anda mengurung diri di kamarnya, berarti kehadiran kami takkan mengganggunya. Tentu saja, kami akan menginap di losmen."

Ferguson melakukan gerakan yang menunjukkan betapa lega hatinya.

"Begitulah yang saya harapkan, Mr. Holmes. Ada kereta api utama yang berangkat jam dua dari Victoria. Anda siap berangkat dengan kereta itu?"

"Tentu saja. Masih ada waktu, kan? Akan saya kerahkan segenap kemampuan saya untuk kasus Anda. Tentu saja Watson akan ikut bersama kita. Tapi sebelum kita berangkat, ada satu atau dua hal yang ingin saya dapatkan kepastiannya dari Anda. Istri Anda yang sedang menderita ini, setahu saya, menyerang kedua putra Anda, yaitu bayinya sendiri dan putra Anda dari perkawinan pertama, betulkah?"

"Benar."

"Tapi jenis serangannya berbeda, bukan? Dia memukul putra Anda."

"Yang pertama dengan memakai tongkat, dan yang kedua cuma memakai tangan."

"Apakah istri Anda tak menjelaskan kenapa dia memukul putra Anda?"

"Tidak, dia hanya mengatakan membencinya. Berulang-ulang dia mengatakan itu."

"Well, ibu tiri memang biasanya begitu. Katakanlah gejala cemburu kepada almarhum istri Anda. Apakah dia memang pencemburu?"

"Ya, mungkin karena cintanya yang sangat besar kepada saya."

"Tapi putra Anda... umurnya lima belas, bukan? Berarti pikirannya sudah cukup matang, walau perkembangan fisiknya agak terhambat. Apakah dia memberikan penjelasan mengapa ibu tirinya memukulinya?"

"Tidak, menurutnya dia tak tahu alasannya."

"Apakah mereka berdua pernah akrab?"

"Tidak, sejak awal hubungan mereka memang buruk."

"Tapi tadi Anda mengatakan putra Anda sangat penyayang?"

"Tak pernah saya melihat anak yang sepatuh dia. Hidup saya adalah hidupnya. Dia selalu memperhatikan apa yang saya katakan atau lakukan."

Sekali lagi Holmes mencatat. Selama beberapa saat dia duduk merenung.

"Jelas hubungan Anda dan putra Anda sangat dekat sebelum perkawinan yang kedua ini, benarkah?"

"Begitulah."

"Dan putra Anda itu, yang sifatnya sangat penyayang, juga sangat dekat dengan ibu kandungnya sehingga tak mungkin melupakannya?"

"Benar."

"Putra Anda ini sangat menarik minat saya. Ada satu hal lagi mengenai serangan-serangan yang dilakukan istri Anda. Apakah dia menyerang bayinya dan putra Anda pada waktu yang bersamaan?"

"Pada peristiwa pertama, memang demikian. Dia seolah-olah kesurupan, lalu menyerang keduanya. Pada peristiwa kedua, hanya Jack yang dipukulnya. Mrs. Mason tak melaporkan apa-apa sehubungan dengan bayi kami."

"Wah, rumit juga."

"Saya tak mengerti maksud Anda, Mr. Holmes."

"Mungkin tidak. Kalau sedang menyusun teori, orang akan menunggu dulu sampai informasinya lengkap, barulah menyebarluaskannya. Memang kebiasaan yang buruk, Mr. Ferguson, tapi bukankah tiap manusia mempunyai kelemahan? Saya rasa teman lama kita ini telah memberikan penilaian yang terlalu berlebihan tentang cara-cara kerja saya yang ilmiah. Tapi, saat ini saya hanya mau mengatakan masalah Anda rasanya bisa diselesaikan, dan kami akan menemui Anda di Victoria pada jam dua siang."

Senja di bulan November itu cuacanya agak muram dan berkabut. Kami menaruh tas bawaan kami di Chequers, Lamberley, lalu naik kereta sewaan melewati daerah Sussex yang jalanannya panjang dan berkelok-kelok, sampai akhirnya kami tiba di rumah peternakan tua dan terpencil yang ditinggali Ferguson sekeluarga. Rumah itu besar sekali, terdiri atas beberapa bangunan, yang di tengah sudah kuno, sedangkan sayap-sayapnya masih baru dengan menara cerobong model Tudor dan atap tinggi model Horsham. Ambang pintunya sudah bengkok-bengkok karena tuanya, dan lantai sepanjang serambi depannya sudah pecah-pecah. Di bagian dalam bangunan tengah itu, langit-langitnya bengkok-bengkok karena beratnya balok kayu ek yang ditahannya, dan banyak lantainya yang tak rata dan melengkung. Bau gedung kuno dan rusak menyeruak di seluruh bagian rumah itu.

Ada sebuah ruangan besar di tengah-tengah, dan ke sanalah Ferguson mengajak kami. Di situ ada perapian antik yang sedang menyala, buatan tahun 1670—menurut pelat besi di belakangnya. Ketika aku menoleh-noleh ke sekeliling, kuperhatikan bahwa dekorasi gedung ini berasal dari macam-macam zaman dan macam-macam tempat. Temboknya yang separonya berlapis kayu adalah model rumah petani pada abad ketujuh belas. Tapi bagian bawahnya diwamai dengan cat air gaya modern yang indah, sedang di atasnya, yang diplester kuning, tergantung koleksi perabotan dan senjata Amerika Selatan yang tenmnya dibawa oleh wanita Peru yang sedang mengurung diri di lantai atas. Holmes bangkit dari duduknya, dengan rasa penasaran yang menjadi ciri khasnya, lalu mengamati benda-benda di dinding itu dengan cermat. Ekspresinya serius ketika dia kembali ke tempat duduknya.

"Hullo!" teriaknya. "Hullo!"

Ternyata ada seekor anjing spaniel yang sejak tadi merebahkan diri dalam keranjang di sudut ruangan. Anjing itu lalu melangkah dengan pelan-pelan dan susah payah ke arah tuannya. Gerakan kaki belakangnya tak menentu dan ekornya menyentuh lantai. Dia menjilat tangan Ferguson.

"Ada apa, Mr. Holmes?"

"Anjing itu. Kenapa dia?"

"Itulah yang membingungkan dokter hewan saya. Terkena semacam kelumpuhan. Menurut dokter, dia terserang radang sumsum tulang belakang. Tapi keadaannya sudah membaik. Dia akan segera sembuh—betul, kan, Carlo?"

Anjing itu menggoyangkan ekornya sedikit tanda setuju. Matanya yang sedih menatap kami berdua secara bergantian. Dia tahu kami sedang membicarakan dirinya.

"Apakah dia tiba-tiba jadi begitu?"

"Dalam waktu semalam."

"Kapan itu?"

"Mungkin sekitar empat bulan yang lalu."

"Luar biasa sekali. Bisa sangat berarti."

"Apa yang Anda simpulkan melalui keadaan anjing saya ini, Mr. Holmes?"

"Konfirmasi dari apa yang ada di benak saya."

"Demi Tuhan, apa yang ada di benak Anda, Mr. Holmes? Mungkin pikiran Anda yang hebat itu cuma bertanya-tanya tapi bagi saya ini masalah hidup dan mati! Istri saya bisa jadi pembunuh—anak saya terus-menerus dalam bahaya! Jangan permainkan saya, Mr. Holmes. Masalah ini amat sangat serius bagi saya."

Mantan pemain rugby yang tinggi besar itu gemetaran. Holmes memegang lengannya untuk menenangkannya.

"Saya kuatir jalan keluarnya akan menyakitkan bagi Anda, Mr. Ferguson," katanya. "Saya akan berusaha menolong Anda sedapat-dapatnya. Saat ini saya belum bisa mengatakan apa-apa tapi sebelum meninggalkan rumah ini, saya harap saya sudah bisa memastikan kesimpulan saya."

"Semoga Tuhan menolong Anda! Permisi, Tuan-tuan, saya ingin menengok istri saya untuk melihat apakah telah terjadi perkembangan."

Selama beberapa menit dia pergi, sementara Holmes melanjutkan pengamatannya terhadap barang-barang unik yang tergantung di dinding. Ketika tuan rumah kembali, wajahnya yang merunduk jelas menunjukkan belum ada perkembangan apa-apa. Dia kembali bersama gadis berkulit cokelat yang tinggi semampai.

"Tehnya sudah siap, Dolores," kata Ferguson. "Layanilah kebutuhan nyonyamu sebaik mungkin."

"Nyonya sakit parahl" teriak gadis itu sambil menatap tuannya dengan jengkel. "Dia tak mau makan. Dia sakit parah. Dia perlu dokter. Saya takut menjaganya sendirian."

Ferguson menatapku, matanya bertanya-tanya.

"Aku senang sekali kalau bisa membantu."

"Apakah nyonyamu mau ditemui Dr. Watson?"

"Akan saya antarkan dia. Tak perlu minta izin pada Nyonya. Dia perlu dokter."

"Baiklah kalau begitu, mari!"

Aku mengikuti gadis yang emosinya sedang meledak-ledak itu. Kami naik ke lantai atas lalu menelusuri koridor kuno. Di ujung koridor itu ada pintu kayu yang kokoh. Aku terkejut ketika melihat pintu itu, karena pastilah tak mudah bagi Ferguson kalau dia tadi memaksa masuk ke kamar istrinya. Gadis itu mengeluarkan kunci dari saku bajunya, lalu pintu itu pun terbuka dengan suara derit yang nyaring. Aku masuk dan si gadis dengan cepat mengikutiku sambil mengatupkan pintu.

Di tempat tidur, terbaring seorang wanita yang kepayahan karena demam tinggi. Dia hampir tak sadarkan diri, tapi begitu aku masuk dia membuka matanya yang indah. Dia menatapku dengan was-was dan prihatin. Begitu menyadari aku orang yang tak dikenalnya, dia tampak lega lalu kembali menjatuhkan dirinya ke bantal sambil mengerang. Aku mendekatinya sambil menggumamkan beberapa kalimat untuk menenangkannya, dan dia tetap berbaring tenang ketika aku mengecek tekanan darah dan suhu badannya. Keduanya tinggi sekali, tapi aku mendapat kesan bahwa kondisinya lebih disebabkan oleh gangguan mental dan saraf daripada fisik.

"Kalau terus-terusan seperti itu, dalam satu-dua hari dia pasti akan mati," kata gadis itu.

Wajah wanita cantik yang merah padam itu menoleh ke arahku.

"Di mana suami saya?"

"Di bawah, dan dia ingin menemui Anda."

"Saya tidak mau menemuinya. Saya tak mau menemuinya." Dia lalu meracau, "Iblis! Iblis! Oh, apa yang harus saya lakukan terhadap setan ini?"

"Bisakah saya menolong?"

"Tidak. Tak ada yang bisa menolong saya. Semuanya sudah berakhir. Semuanya sudah hancur. Akan saya lakukan apa saja semau saya, semuanya sudah hancur."

Wanita itu pastilah sedang mengkhayal. Tak mungkin Bob Ferguson yang lugu itu memiliki sifat seperti setan.

"Madame," kataku, "suami Anda sangat mencintai Anda. Dia sangat sedih dengan apa yang menimpa Anda."

Matanya yang indah itu kembali menatapku.

"Dia mencintai saya. Itu benar. Tapi bukankah saya juga mencintainya? Bukankah saya begitu mencintainya sampai saya memilih mengorbankan diri saya daripada menghancurkan hatinya? Begitulah cara saya menyatakan cinta kepadanya. Tapi, tega-teganya dia mengira saya demikian... menuduh saya berbuat sekeji itu."

"Kepedihannya sangat dalam, dia tak bisa mengerti."

"Ya, dia tak bisa mengerti. Tapi seharusnya dia mempercayai saya."

"Tak maukah Anda menemuinya?" desakku.

"Tidak, tidak, saya tak bisa melupakan kata-katanya yang menyakitkan dan pancaran wajahnya yang mengerikan. Saya tak mau menemuinya. Pergilah sekarang. Anda tak bisa berbuat apa-apa untuk saya. Katakan satu hal kepada suami saya. Saya menginginkan bayi saya. Saya berhak memilikinya. Hanya itu yang ingin saya sampaikan kepadanya." Dia menghadapkan wajahnya ke tembok dan menolak berbicara lagi.

Aku kembali ke lantai bawah tempat Ferguson dan Holmes berada Mereka berdua masih duduk di dekat perapian. Ferguson mendengarkan laporan pembicaraanku dengan istrinya dengan murung.

''Bagaimana aku bisa menyerahkan bayi itu kepadanya?" katanya. "Bagaimana kalau dia kumat lagi? Aku tak mungkin melupakan saat dia bangkit dari samping bayinya dengan bibir berlumuran darah!" Dia gemetaran ketika mengingat semua itu.

"Bayi itu aman bersama Mrs. Mason, dan biarlah begitu saja."

Seorang pelayan wanita yang cekatan masuk ke ruangan membawa teh. Ketika dia sedang menyajikannya, pintu terbuka dan seorang pemuda masuk. Pemuda itu cukup tampan, wajahnya agak pucat, rambutnya berwarna terang. Matanya yang biru muda langsung bersinar-sinar gembira ketika melihat ayahnya. Dia berlari ke depan dan memeluk ayahnya bagaikan gadis yang memeluk kekasihnya karena sudah lama tak bertemu.

"Oh, Ayah," teriaknya. "Saya tak tahu Ayah sudah kembali. Kalau tahu saya pasti akan berada di sini untuk menunggu Ayah. Oh, saya gembira sekali Ayah sudah pulang!"

"Anakku sayang," kata Ferguson sambil mengelus-elus kepala putranya dengan sangat lembut. "Ayah pulang lebih awal karena teman-teman Ayah, Mr. Holmes dan Dr. Watson, berkenan mengunjungi kita malam ini."

"Anda Mr. Holmes sang detektif?"

"Benar."

Pemuda itu menatap kami dengan sangat tajam, dan menurutku dengan agak curiga.

"Bagaimana dengan anak Anda yang lain, Mr. Ferguson?" tanya Holmes. "Bolehkah kami berkenalan dengan bayi Anda?"

"Mintalah Mrs. Mason membawa si bayi turun," kata Ferguson. Pemuda itu pergi dengan langkah-langkah diseret, akibat cacat tulang punggung. Tak lama kemudian dia kembali diikuti oleh wanita tinggi kurus yang menggendong bayi yang sangat molek. Mata bayi itu berwarna gelap, rambutnya pirang, perpaduan yang sangat cantik antara darah Inggis dan Latin. Ferguson jelas sangat mencintai bayi itu, karena dia langsung menggendongnya, dan menimang-nimangnya dengan sangat lembut.

"Bayangkan, ada orang yang tega melukainya," gumamnya sambil menatap bekas luka kecil di daerah tenggorokan bayi itu.

Saat itu aku sempat menatap ke arah Holmes dan kulihat wajahnya menjadi kaku dan aneh, seperti patung gading. Matanya yang tadi menatap sang ayah dan sang bayi secara bergantian, kini berpindah menatap sesuatu di bagian lain ruangan itu dengan penuh penasaran. Ketika aku mengikuti pandangannya, aku hanya bisa menduga bahwa dia mungkin sedang menatap ke taman yang tak terawat lewat jendela. Jendela itu memang tertutup setengahnya sehingga pandangan ke luar agak terhalang, tapi jelas Holmes sedang memfokuskan perhatiannya ke arah jendela. Kemudian dia tersenyum, dan matanya kembali menatap si bayi. Pada lehernya yang montok terdapat sedikit kerutan. Tanpa berkata sepatah pun, Holmes mengamatinya. Akhirnya dia menggoyang-goyangkan tangan si bayi yang terkepal.

"Sampai jumpa lagi, Nak. Kau telah mengawali hidupmu secara unik. Mrs. Mason, saya ingin bicara dengan Anda secara pribadi."

Dia duduk di samping si pengasuh, dan berbicara kepadanya dengan sangat serius. Aku hanya sempat mendengar kata-kata penutupnya, "Saya harap Anda tak kuatir lagi." Pengasuh yang pembawaannya agak pendiam dan pemurung itu pergi sambil menggendong sang bayi.

"Apa pendapatmu tentang Mrs. Mason?" tanya Holmes.

"Dari luar tak begitu simpatik, kau pun tahu itu, tapi hatinya baik dan dia sangat mengasihi si bayi."

"Apakah kau menyukai pengasuh itu, Jack?" Tiba-tiba Holmes menoleh ke pemuda itu. Wajahnya yang penuh ekspresi menjadi murung dan dia menggeleng.

"Ada yang disukai dan tidak disukai Jacky," kata Ferguson sambil merangkul putranya. "Saya beruntung karena termasuk orang yang disukainya." Pemuda itu mendekat dan menyusupkan kepalanya di dada ayahnya. Dengan lembut Ferguson melepaskan pelukannya.

"Pergilah, Nak," katanya. Pandangan matanya mengikuti pemuda itu ketika dia meninggalkan ruangan. "Nah, Mr. Holmes," lanjutnya ketika anaknya sudah tak kelihatan lagi, "sayang sekali kedatangan Anda kemari ternyata sia-sia saja, karena apa yang bisa Anda lakukan kecuali mengasihani saya? Kasus ini pastilah sangat peka dan rumit bagi Anda."

"Memang peka," kata sahabatku dengan senyum jenaka, "tapi sampai saat ini tak terasa rumit bagi saya. Kasus ini membutuhkan kemampuan deduksi yang sangat tinggi, tapi begitu teori-teori itu terbukti satu per satu melalui beberapa kejadian yang berbeda-beda, apa yang tadinya cuma dugaan kini menjadi kepastian, sampai akhimya kita bisa mengatakan dengan yakin bahwa kita telah mencapai kesimpulan. Sebetulnya, kesimpulan itu telah ada di benak saya sebelum kami meninggalkan Baker Street, dan setelah itu saya hanya perlu mengadakan pengamatan untuk memastikannya."

Ferguson menempelkan tangan ke dahinya yang penuh keriput.

"Demi Tuhan, Holmes," katanya dengan kasar, "kalau Anda sudah tahu yang sebenarnya, jangan buat saya ketakutan terus. Di mana posisi saya? Apa yang harus saya lakukan? Saya tak mau tahu bagaimana Anda bisa mendapatkan fakta-fakta itu, yang penting Anda benar-benar telah mendapatkanrtya."

"Memang saya harus menjelaskannya kepada Anda, dan akan saya lakukan itu. Tapi Anda tak keberatan kalau saya menangani kasus ini dengan cara saya sendiri, kan? Apakah nyonya rumah cukup kuat untuk menemui kita, Watson?"

"Dia tak mau menemui saya!" teriak Ferguson.

"Oh, dia pasti mau," kata Holmes. Dia menuliskan beberapa kalimat pada secarik kertas. "Paling tidak kau kan diizinkan masuk, Watson. Tolong berikan surat ini kepada wanita itu."

Aku naik ke lantai atas lagi dan menyerahkan surat itu kepada Dolores, yang dengan hati-hati membuka pintu. Semenit kemudian, aku mendengar teriakan dari dalam kamar, teriakan gembira bercampur dengan terkejut. Dolores melongokkan kepalanya ke luar kamar.

"Dia mau menerima mereka. Dia akan mendengarkan penjelasan mereka," katanya.

Atas laporanku, Ferguson dan Holmes pun ikut naik ke lantai atas. Ketika kami masuk ke kamar wanita itu, Ferguson melangkah lebih dulu mendekati istrinya, yang sudah dalam posisi duduk di tempat tidurnya. Tapi wanita itu mencegah suaminya mendekat. Ferguson lalu menjatuhkan diri di sebuah kursi, sementara Holmes duduk di sampingnya setelah terlebih dulu membungkuk penuh hormat kepada wanita yang sedang menatapnya dengan mata terbelalak.

"Saya rasa sebaiknya Dolores pergi saja," kata Holmes. "Oh, baiklah, Madame, jika Anda lebih suka dia berada di sini, saya tak keberatan. Nah, Mr. Ferguson, saya ini orang sibuk dan banyak dibutuhkan. Itulah sebabnya cara kerja saya harus sigap dan langsung. Operasi yang memakan waktu paling pendek akan mengakibatkan rasa sakit yang paling minimum. Pertama-tama, izinkan saya menyampaikan sesuatu yang akan melegakan pikiran Anda. Yaitu bahwa istri Anda ini wanita yang sangat baik hati, penuh kasih sayang, namun telah diperlakukan secara salah."

Ferguson terlonjak dari duduknya sambil berteriak gembira.

"Buktikan itu, Mr. Holmes, dan saya akan berutang budi kepada Anda selamanya."

"Akan saya buktikan, tapi untuk itu saya terpaksa melukai Anda."

"Saya tak peduli, asalkan Anda membereskan urusan istri saya ini. Tak ada yang lebih penting dari itu."

"Kalau begitu, baiklah saya sampaikan deduksi saya sejak masih berada di Baker Street. Ide vampir itu bagi saya tak masuk akal. Hal-hal seperti itu tak terjadi dalam dunia kejahatan di Inggris. Tapi apa yang Anda laporkan memang mirip dengan cerita-cerita vampir. Anda melihat istri Anda bangkit dari sisi ranjang bayi dengan mulut berlumuran darah."

"Memang begitu."

"Apakah tak terpikir oleh Anda bahwa istri Anda mengisap luka berdarah di leher si bayi dengan tujuan tertentu, bukan dengan niat menyakitinya? Anda pernah dengar cerita tentang Ratu Inggris yang melakukan itu untuk mengeluarkan racun dari dalam tubuhnya?"

"Racun!"

"Bukan barang langka di rumah tangga Amerika Selatan. Insting saya sudah merasakan kehadiran senjata-senjata di dinding ruang tengah bahkan sebelum mata saya melihatnya. Memang bisa saja racun itu berasal dari tempat lain, tapi saat itu itulah yang ada di benak saya. Dan ketika saya melihat tempat anak panah dalam keadaan kosong tergeletak di samping busurnya, saya semakin yakin. Kalau sang bayi ditusuk dengan salah satu anak panah yang telah dilumuri curare—racun yang mematikan—akibatnya bisa fatal, bila racunnya tidak disedot keluar.

"Dan anjing itu! Kalau ada orang yang mau memakai racun seperti itu, bukankah dia akan mencoba dulu apakah racunnya masih bekerja atau tidak? Saya tak menduga akan melihat anjing di rumah ini, tapi paling tidak saya mengerti apa yang terjadi padanya, dan kondisi anjing itu cocok dengan rekonstruksi yang ada di benak saya.

"Nah, apakah Anda mengerti sekarang? Istri Anda takut serangan itu akan menimpa bayinya. Dia melihat kejadiannya dan langsung menyelamatkan nyawa bayinya, tapi dia tak mau menceritakan yang sebenarnya kepada Anda, karena dia tahu betapa Anda mencintai pemuda itu dan tak ingin menghancurkan hati Anda."

"Jacky?"

"Saya tadi memperhatikannya ketika Anda mengayun-ayun sang bayi. Bayangannya jelas terlihat di kaca jendela yang setengah tertutup. Wajahnya ternyata dipenuhi iri dan kebencian yang luar biasa. Tak pernah sebelumnya saya melihat ekspresi wajah sekejam itu."

"Jacky anak saya?"

"Anda harus menerima kenyataan ini, Mr. Ferguson. Ini memang sangat menyakitkan, sebab dia bertingkah begitu karena cintanya kepada Anda dan almarhum ibunya. Cintanya itu terlalu berlebihan sehingga cenderung menjurus kepada kelainan yang merusak. Jiwanya dirasuki kebencian terhadap bayi yang molek itu, yang jauh lebih sehat dan lebih sempurna dibandingkan dirinya."

"Ya Tuhan! Sungguh tak terduga!"

"Apakah saya sudah menyampaikan semua kejadian yang sebenarnya, Madame?"

Wanita itu terisak-isak sambil menutupi wajahnya dengan bantal. Lalu dia menatap suaminya.

"Bagaimana aku tega mengatakannya kepadamu, Bob? Aku bisa merasakan betapa akan terpukulnya dirimu. Lebih baik bila orang lain yang mengatakannya kepadamu. Ketika tuan ini, yang tampaknya memiliki kekuatan gaib, menulis surat kepadaku dan mengatakan dia sudah tahu semuanya, aku sangat gembira."

"Saya rasa resep yang jitu untuk Tuan Muda Jacky adalah pergi berlayar selama setahun," kata Holmes sambil beranjak dari duduknya. "Hanya ada satu hal yang belum jelas bagi saya, Madame. Kami bisa mengerti mengapa Anda memukul Jacky. Kesabaran seorang ibu pun ada batasnya. Tetapi mengapa Anda berani meninggalkan bayi Anda selama dua hari terakhir ini?"

"Saya telah menjelaskan kepada Mrs. Mason. Dia tahu semuanya."

"Itu telah saya duga."

Ferguson kini berdiri di samping tempat tidur sambil menahan air matanya. Kedua tangannya yang gemetaran terulur siap memeluk istrinya.

"Kurasa, Watson, sudah saatnya kita pergi dari sini," bisik Holmes. "Kautarik sebelah lengan Dolores yang amat setia pada nyonyanya ini, dan aku yang akan menarik lengan sebelahnya. Nah, begitu," katanya sambil menutup pintu kamar. "Biarlah mereka membereskan urusan ini di antara mereka sendiri saja."

Aku hanya ingin menyampaikan sedikit catatan tambahan mengenai kasus ini. Holmes membalas surat yang diterimanya di awal kisah ini. Balasannya berbunyi demikian:
Baker Street, 21 November
Hal: Vampir

Dengan hormat,
Sehubungan dengan surat Anda tertanggal 19 November, saya ingin mengabarkan bahwa saya telah melakukan penyelidikan untuk klien Anda, Mr. Robert Ferguson, pemilik perusahaan Ferguson & Muirhead, agen penjualan teh yang beralamat di Mincing Lane, dan kasusnya telah dapat diselesaikan dengan sangat memuaskan. Terima kasih atas rekomendasi Anda.

Hormat saya,
Sherlock Holmes