AKU sungguh tak menduga bahwa sesudah masa pensiunku, aku masih mendapat kesempatan untuk memecahkan masalah yang muskil dan unik. Waktu itu aku telah meninggalkan keramaian kota London dan tinggal di rumah kecil di daerah Sussex, tempat aku dapat hidup tenang dekat dengan alam, sebagaimana telah lama kudambakan. Hubunganku dengan sahabatku Watson tak seerat dulu, hanya kadang-kadang dia datang menengokku di akhir pekan. Itulah sebabnya peristiwa-peristiwa yang kualami harus kucatat sendiri. Ah! Kalau saja dia ada di sini, pastilah dia dengan mudah menuliskan kisah luar biasa ini. Tapi biarlah, aku akan mencoba menuturkannya sendiri dengan gayaku yang seadanya, semoga kata-kataku yang sederhana bisa menunjukkan betapa susahnya proses yang harus kujalani untuk mengungkapkan misteri Surai Singa.

Vilaku terletak di atas bukit landai dengan pemandangan indah ke arah Selat Inggris. Dari rumahku tampak garis pantai yang terdiri atas jurang kapur semata-mata. Untuk turun dari jurang itu, orang harus melalui jalan sempit berliku-liku yang sangat curam dan licin. Di dasar jurang terdapat dataran kerikil dan batu batuan seluas beratus-ratus meter persegi, bahkan pada saat air laut pasang. Di sana-sini ada lekukan-lekukan dan lubang lubang yang mirip kolam renang bila tergenang air pasang. Pantai yang indah ini panjangnya beberapa kilometer. Di salah satu ujung ada teluk kecil dan desa Fulworth yang memotong garis pantai.

Rumahku sepi. Penghuninya hanya aku, pelayanku, dan para lebah. Tapi setengah mil dari rumahku terletak sekolah pelatihan milik Harold Stackhurst yang terkenal, bernama Gables. Di situ tinggal para pemuda yang sedang menyelesaikan pelatihan sebelum terjun ke masyarakat mencari pekerjaan, bersama staf pengajarnya. Stackhurst sendiri mantan atlet dayung sekaligus ilmuwan yang menguasai macam-macam bidang ilmu pengetahuan. Kami berteman sejak aku pindah ke daerah pantai itu, dan kami menjadi begitu akrab sehingga pada malam hari bisa saling mengunjungi tanpa diundang.

Mendekati akhir Juli 1907, angin ribut bertiup dari arah laut. Air laut terlempar sampai ke dasar jurang dan menyisakan semacam danau di pantai tempat gelombang berbalik arah. Keesokan harinya badai sudah reda dan alam sekeliling kembali tenang dan segar. Hari yang begitu indah sungguh tak cocok dipakai bekerja, maka sebelum makan pagi aku pergi berjalan-jalan. Kutelusuri jalanan curam yang menuju pantai. Ketika aku sedang melangkah, kudengar orang menegurku dari belakang. Ternyata Harold Stackhurst, yang melambaikan tangan dan menyapaku dengan gembira

"Pagi yang indah sekali, Mr. Holmes! Saya sudah menduga Anda pasti keluar rumah."

"Mau berenang, ya?"

"Keahlian lama muncul lagi." Dia tertawa sambil menepuk-nepuk kantong bajunya yang menggembung. "Ya. McPherson sudah berangkat duluan, dan saya mau menemuinya di bawah sana."

Fitzroy McPherson adalah salah seorang guru yang tinggal di Gables, pemuda gagah yang sayangnya menderita gangguan jantung akibat demam rematik. Tapi dia atlet yang cukup tangguh, yang bisa mengikuti hampir semua jenis olahraga asal tidak terlalu berat. Pada musim panas dan musim gugur, dia pergi berenang, dan karena aku pun bisa berenang, kami sering bersama-sama.

Tepat pada waktu itu muncul orang yang disebut-sebut. Mula-mula tampak kepalanya, lalu seluruh tubuhnya yang sempoyongan seperti orang mabuk. Dia mengangkat kedua tangannya, dan sambil berteriak nyaring, dia jatuh tersungkur. Aku dan Stackhurst berlari mendekatinya—sekitar lima puluh meter jaraknya—lalu membalikkan badannya. Dia sedang sekarat. Matanya yang meredup dan pipinya yang pucat pasi menunjukkan hal itu. Dia mengejap sekilas dan membisikkan satu atau dua kata peringatan. Kata-katanya tak jelas dan lirih sekali, tapi telingaku menangkap desahan terakhir yang keluar dari bibirnya, "Lion's Mane—Surai Singa." Apa gerangan itu? Benar-benar di luar konteks dan tak bisa dimengerti, tapi hanya itulah yang bisa kutangkap. Dia berusaha mengangkat badannya, mengayunkan kedua tangannya ke atas, tapi lalu terjatuh ke samping, mati.

Teman seperjalananku terpaku karena kagetnya, namun aku, sebagaimana biasa, langsung mengambil sikap waspada. Dan memang aku perlu bersikap begitu, karena dengan segera jelas bagiku bahwa aku harus menangani kasus yang luar biasa. Pemuda itu mengenakan jaket Burberry, celana panjang, dan sepatu kanvas yang talinya belum diikatkan. Ketika terjatuh, jaket yang hanya tersampir di bahunya lepas, sehingga punggungnya terlihat. Kami menatap dengan terheran-heran, karena punggungnya penuh guratan merah seolah-olah dia telah dipukuli dengan cemeti. Bekas-bekas pukulan itu jelas sekali tampak di sekeliling bahu dan tulang rusuknya. Darah mengucur ke dagunya, sebab dia telah menggigit bibir bawahnya keras-keras untuk menahan sakit. Wajahnya yang kesakitan menunjukkan betapa dahsyatnya penganiayaan yang telah dialaminya.

Aku sedang berlutut dan Stackhurst berdiri di dekat mayat itu ketika sebuah bayangan menutupi kami. Ternyata Ian Murdoch, gum pembimbing matematika di Gables. Lelaki kurus tinggi dan berkuht gelap itu pendiam dan tak suka bergaul. Ia tampaknya hidup di alam khayal, bukan di bumi—sungguh gaya hidup yang tak biasa. Murid-muridnya menganggapnya aneh, namun mereka tak berani mengolok-oloknya karena kadang-kadang kegarangannya timbul. Pada suatu kali, ketika dia diganggu oleh anjing kecil milik McPherson, dia langsung mengangkat anjing itu dan melemparnya ke luar jendela hingga kacanya pecah. Melihat perangainya, Stackhurst sebenarnya berniat memberhentikannya, namun niat itu diurungkannya karena tenaga si guru sangat diperlukan. Begitulah keadaan orang yang kini muncul di samping kami. Ia kelihatannya sangat terguncang oleh apa yang dilihatnya, meski tentunya ia tak punya hubungan dekat dengan korban, mengingat insiden anjing kecil itu.

"Kasihan sekali! Kasihan sekali! Apa yang bisa saya lakukan? Adakah yang bisa saya bantu?"

"Apakah Anda tadi bersamanya? Bisakah Anda menceritakan apa yang telah terjadi?"

"Tidak, tidak, saya bangun agak kesiangan. Saya tidak ada di pantai. Saya baru saja datang dari Gables. Apa yang bisa saya lakukan?"

"Tolong secepatnya pergi ke kantor polisi Fulworth untuk melaporkan kejadian ini."

Tanpa sepatah kata pun dia langsung berangkat, dan aku mempersiapkan diri untuk menangani kasus ini, sementara Stackhurst, yang masih terguncang oleh musibah ini, tetap berdiri dekat mayat. Tugas pertamaku, tentu saja, adalah mencatat siapa saja yang berada di pantai saat itu. Dari jalan yang agak tinggi, aku bisa melayangkan pandangan menyeluruh ke pantai. Pantai itu sepi, hanya ada dua atau tiga sosok tubuh yang terlihat di kejauhan sedang berjalan menuju desa Fulworth. Setelah puas menyelidiki pantai, aku berjalan perlahan-lahan menuruni jalanan tebing. Terlihat bekas lumpur atau tanah halus yang sudah bercampur dengan kapur, dan di sana-sini kulihat jejak kaki yang sama, baik menaiki maupun menuruni jalanan itu. Tak ada orang lain yang telah turun ke pantai melewati jalanan ini pagi tadi. Pada salah satu tempat, aku memperhatikan ada bekas tangan dengan jari-jari mengarah ke atas. Ini berarti McPherson yang malang telah terjatuh ketika dia menaiki jalanan. Kutemukan pula bekas-bekas yang menunjukkan bahwa beberapa kali dia terpaksa merangkak. Tepat di ujung jalan, terdapat genangan air luas yang ditinggalkan oleh gelombang pasang. McPherson sempat membuka pakaiannya di dekat situ, terbukti dari handuk yang tergeletak di batuan. Handuk itu kering dan terlipat rapi, jadi tampaknya dia urung masuk ke air. Ketika aku berkeliling, kudapati jejak sepatu kanvas dan juga jejak kaki telanjangnya di pasir di sela-sela batuan. Hal terakhir ini menunjukkan dia sudah siap mencebur ke laut.

Sekarang aku mulai menyadari misterinya—misteri yang belum pernah kuhadapi sepanjang karier detektifku. Pemuda itu pastilah belum lama berada di pantai, paling lama seperempat jam. Stackhurst menyusulnya dari Gables, jadi hal itu tak perlu diragukan. Dia telah melepas pakaiannya dan siap berenang, seperti ditunjukkan oleh jejak kaki telanjang itu. Namun tiba-tiba dia bergegas berpakaian kembali—pakaian yang dikenakannya masih semrawut, kancingnya belum terpasang semua—dan dia berlari ke atas. Dia tak jadi berenang, atau kalaupun sudah, dia tak sempat mengeringkan badannya. Semua itu disebabkan oleh pukulan yang menimpanya, pukulan yang sangat bengis dan tak manusiawi, sampai dia harus menggigit bibir untuk menahan sakit. Penganiayanya meninggalkannya dalam keadaan sekarat, dan dia lalu merangkak ke atas. Siapa gerangan yang telah melakukan penganiayaan sadis ini? Di bawah jurang memang ada beberapa lekukan dan gua kecil, tapi matahari yang bersinar rendah tepat menerangi tempat-tempat itu, sehingga tak mungkin ada orang yang bersembunyi di situ. Mataku kembali menatap sosok-sosok di kejauhan. Jarak mereka terlalu jauh untuk dihubungkan dengan tindak kriminal ini, dan danau buatan tempat McPherson berniat berenang terbentang memisahkan korban dan mereka, lagi pula ada bukit batu di sebelah sana. Di laut, terlihat dua atau tiga kapal penangkap ikan tak jauh dari pantai. Para nelayan itu bisa kutanyai nanti. Ada beberapa cara untuk memulai penyelidikan, tapi tak satu pun cukup meyakinkan.

Ketika akhirnya aku kembali ke tempat mayat itu tergeletak, kulihat sekelompok kecil orang telah berkerumun di situ. Stackhurst, tentu saja, masih di situ, dan Ian Murdoch baru saja tiba bersama Anderson, polisi setempat. Polisi ini bertubuh gempal, berkumis, dan gerakannya lamban. Pembawaannya khas orang Sussex—dari luar terlihat galak dan pendiam, tapi hatinya baik. Dia mendengarkan semua penuturan kami, mencatatnya, lalu menggamitku ke samping.

"Saya akan senang sekali kalau Anda punya saran, Mr. Holmes. Ini masalah besar untuk saya, dan saya akan mendapat teguran keras dari Lewes kalau saya sampai berbuat salah."

Kusarankan kepadanya untuk menyuruh orang menjemput atasannya dan memanggil dokter. Sambil menunggu kedatangan mereka, kuminta dia menjaga agar jangan sampai ada yang berubah, dan membatasi orang yang mendekat ke tempat kejadian. Aku lalu merogoh saku celana korban. Ada saputangan, pisau besar, dan tempat kartu nama kecil. Dari tempat kartu itu menyembul secarik kertas yang lalu kubuka dan kuserahkan kepada polisi itu. Dalam surat yang tampaknya dikirim oleh seorang wanita itu tertulis demikian:
Saya pasti akan ke sana.
Maudie
Sepertinya itu janji pertemuan dengan kekasih, walaupun tak disebutkan kapan dan di mana. Anderson mengembalikan surat itu ke tempatnya semula, lalu dimasukkannya ke saku jaket Burberry milik korban bersama barang-barang lainnya. Karena tak ada yang bisa kulakukan, aku pun pulang untuk makan pagi setelah meminta agar dasar jurang diperiksa dengan saksama.

Beberapa jam kemudian, Stackhurst mampir ke rumahku untuk melaporkan bahwa mayat korban telah diangkat ke Gables, tempat penyidikan akan dilakukan. Dia juga membawa berita yang serius. Seperti sudah kuduga, mereka tak menemukan apa-apa di dasar jurang, tapi dia telah memeriksa kertas-kertas yang ada di meja McPherson. Ternyata ada beberapa surat cinta dari wanita bernama Miss Maud Bellamy yang tinggal di Fulworth. Dengan demikian identitas Maudie telah kami ketahui.

"Polisi mengambil surat-surat itu," jelasnya. "Saya tak bisa membawanya kemari. Tapi jelas telah terjalin kisah cinta yang serius di antara mereka berdua. Hanya terus terang saya tak melihat hubungannya dengan musibah tadi, kecuali kalau wanita itu berjanji untuk menemuinya di situ."

"Kecil kemungkinannya mereka berjanji untuk berkencan di tempat renang yang biasa kalian pakai, kan?" komentarku.

"Kebetulan," katanya, "McPherson tak ditemani para siswa."

"Apakah benar itu kebetulan?"

Kedua alis Stackhurst mengerut, menandakan dia sedang berpikir keras.

"Ian Murdoch yang menyebabkan para siswa tak bisa keluar gedung," katanya. "Murdoch bersikeras membahas soal aljabar sebelum makan pagi. Pemuda yang malang, dia jadi sangat terpukul oleh musibah ini."

"Padahal mereka tak berteman, kan?"

"Mereka memang pernah saling mendiamkan, tapi kira-kira setahun terakhir ini, Murdoch dan McPherson berteman dekat. Memang dia bukan orang yang berpembawaan simpatik."

"Oh, begitu. Rasanya saya ingat cerita Anda tentang pertengkaran di antara mereka sehubungan dengan anjing kecil milik korban yang dilempar ke luar jendela."

"Masalah itu sudah beres."

"Tapi mungkin meninggalkan sedikit perasaan dendam?"

"Tidak, tidak. Saya yakin mereka sungguh-sungguh bersahabat."

"Kalau begitu, kita harus menjajaki kasus ini dari sisi sang wanita. Apakah Anda kenal dia?"

"Semua orang mengenalnya. Dia kembang desa—benar-benar cantik, Mr. Holmes. Di mana pun berada, dia selalu menjadi pusat perhatian. Saya tahu McPherson tertarik kepadanya, tapi saya tak menduga hubungan mereka sedalam itu."

"Tapi, siapakah gadis itu sebenarnya?"

"Dia putri Tom Bellamy, pemilik semua kapal dan kolam renang di Fulworth. Dia dulunya cuma nelayan, tapi sekarang cukup kaya dan terpandang. Dia menjalankan bisnisnya bersama putranya, William."

"Bagaimana kalau kita berjalan kaki ke Fulworth dan menemui mereka?"

"Dengan alasan apa?"

"Oh, alasan mudah dicari. Bagaimanapun juga, tak mungkin korban menganiaya dirinya sendiri, kan? Pasti ada orang yang mencambuknya kalau luka-luka itu memang karena cambuk. Teman-teman korban di sekitar tempat ini tidak banyak. Mari kita jajaki setiap kemungkinan yang ada, maka kita akan menemukan motif pembunuhan, yang akan mengarahkan kita kepada pelakunya."

Perjalanan itu mestinya sangat menyenangkan karena harum bunga sepanjang perjalanan. Sayang pikiran kami sedang dipenuhi oleh tragedi yang terjadi di depan mata kami tadi pagi. Desa Fulworth terletak di lekuk pantai dan berbentuk setengah lingkaran. Di belakang gedung-gedung kuno ada beberapa rumah modern yang dibangun di tanah yang agak tinggi. Stackhurst membawaku ke salah satu rumah modern itu.

"Itulah Haven, rumah keluarga Bellamy. Gedung yang dihiasi menara sudut dan beratap batu. Lumayan, bukan, buat mantan nelayan yang dulunya tak punya apa-apa? Hei! Lihat itu!"

Pintu halaman Haven terbuka dan seseorang melangkah keluar. Sosok tinggi kurus itu tak asing bagi kami! Dialah Ian Murdoch, guru matematika. Kami sengaja mencegatnya di jalan.

"Halo!" sapa Stackhurst. Pria itu mengangguk sambil secara sepintas menatap kami dengan mata hitamnya yang penasaran. Dia baru saja hendak berlalu, ketika sang pemilik sekolah menahannya.

"Apa yang Anda lakukan di sana?" tanyanya.

Wajah Murdoch merah padam. "Di sekolah Anda, Sir, saya memang bawahan Anda. Namun saya tak merasa perlu menjelaskan kepada Anda kegiatan-kegiatan pribadi saya."

Emosi Stackhurst memuncak setelah apa yang dialaminya seharian ini. Dia benar-benar kehilangan kesabaran.

"Dalam keadaan seperti ini, jawaban Anda benar-benar tak sopan, Mr. Murdoch."

"Bukankah pertanyaan Anda juga bisa dianggap begitu?"

"Ini bukan pertama kali saya menghadapi pembangkangan Anda. Saya sudah tak tahan lagi. Silakan bersiap-siap mencari pekerjaan di tempat lain secepatnya."

"Saya memang sudah merencanakan hal itu. Hari ini saya kehilangan satu-satunya orang yang selama ini membuat saya bertahan tinggal di Gables."

Dia langsung melangkah pergi, sementara Stackhurst, dengan pandangan marah, terus menatapnya. "Lihat, betapa menjengkelkan dan tak tahu dirinya dia!" teriaknya.

Satu hal yang mengejutkanku ialah bahwa Mr. Ian Murdoch mau melarikan diri dari tempat ini. Kecurigaan muncul di benakku. Mungkin kunjungan kami ke rumah keluarga Bellamy akan memberikan titik terang pada kasus ini. Stackhurst menenangkan diri, lalu kami melanjutkan perjalanan menuju rumah keluarga itu.

Mr. Bellamy adalah pria setengah baya dengan janggut merah manyala. Suasana hatinya rupanya sedang kacau, dan wajahnya semerah janggutnya.

"Tidar, Sir, saya tidak ingin mendengarkan detail-detailnya. Putra saya," katanya sambil menunjuk pemuda tinggi besar berwajah murung yang berdiri di ujung ruang tamu, "sependapat dengan saya bahwa niat McPherson terhadap Maud sangat tidak terpuji. Ya, Sir, kata 'pemikahan' tak pernah disebut-sebut, padahal mereka sudah bersurat-suratan dan sering bertemu. Maud sudah tak punya ibu, jadi kami berdualah yang mengawasinya. Kami tetap berpendapat..."

Kata-katanya tak terselesaikan karena gadis itu masuk ke ruangan. Tak ada orang di dunia yang takkan terpana oleh penampilannya. Siapa yang mengira di desa terpencil ini tumbuh bunga yang demikian cantik? Aku tak pernah tertarik pada wanita, karena hatiku terlalu dikuasai oleh otakku, tapi kali ini aku benar-benar terpana menatap wajahnya yang sempurna dan segar—khas gadis desa—serta kulitnya yang halus. Pantaslah, semua pemuda yang sempat bertemu dengannya jatuh hati. Gadis itu berdiri di hadapan Harold Stackhurst dengan mata terbelalak dan tegang.

"Saya sudah tahu Fitzroy tewas," katanya. "Jangan takut untuk menjelaskan detailnya."

"Rekan Anda yang satunya tadi datang kemari untuk mengabarkan hal itu," jelas ayah si gadis.

"Tak ada alasan untuk melibatkan adik saya dalam urusan ini," dengus pemuda Bellamy.

Si gadis menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan tajam dan galak. "Ini urusanku, William. Biar aku menanganinya dengan caraku sendiri. Jelas dia telah dibunuh. Sedikitnya aku harus membantu polisi untuk melacak pelakunya."

Gadis itu mendengarkan penjelasan singkat temanku dengan tenang dan penuh perhatian. Di samping cantik, ia ternyata memiliki pribadi yang mantap. Maud Bellamy akan senantiasa kukenang sebagai wanita yang sempurna dan hebat. Tampaknya ia sudah mengenali diriku, karena ketika penjelasan temanku berakhir, ia lalu menoleh ke arahku.

"Tegakkan keadilan, Mr. Holmes. Saya mendukung dan bersedia membantu, siapa pun pelaku-pelaku kejahatan itu." Aku sempat menangkap tatapan matanya yang penuh kebencian ke arah ayah dan kakaknya.

"Terima kasih," kataku. "Saya menghargai naluri wanita dalam kasus-kasus seperti ini. Anda tadi mengatakan 'pelaku-pelaku'. Apakah menurut Anda pelakunya lebih dari satu orang?"

"Saya kenal baik Mr. McPherson. Dia pemberani dan perkasa. Kalau pelakunya hanya seorang, tak mungkin dia sampai babak belur."

"Boleh saya bicara dengan Anda sendirian?"

"Kuperingatkan, Maud, jangan ikut campur dalam kasus ini!" teriak ayahnya.

Ia menatapku dengan tak berdaya. "Apa yang bisa saya lakukan?"

"Semua orang akan tahu kejadian yang sebenarnya tak lama lagi, jadi tak ada salahnya kalau saya membicarakannya di sini," kataku. "Saya lebih suka berbicara secara pribadi, tapi kalau ayah Anda tak mengizinkan, biarlah dia ikut mendengar apa yang hendak saya katakan."

Aku lalu mengungkapkan tentang surat yang ditemukan di saku celana korban. "Surat itu pasti akan ditanyakan dalam pemeriksaan. Bisakah Anda menjelaskannya?"

"Tak ada yang perlu saya sembunyikan lagi," jawab gadis itu. "Kami sudah bertunangan dan merencanakan untuk menikah, tapi kami sengaja merahasiakannya karena paman Fitzroy, yang sudah sangat tua dan tak lama lagi akan meninggal dunia, mungkin akan membatalkan hak waris Fitzroy kalau dia menikah tanpa restunya. Hanya inilah alasannya."

"Kenapa kau tak menceritakannya kepada kami?" dengus Mr. Bellamy.

"Sebenarnya saya mau, Ayah, seandainya saja Ayah sedikit bersimpati."

"Aku tak setuju anakku berhubungan dengan pria yang tak sederajat dengannya."

"Ayah terlalu berprasangka terhadapnya. Itulah sebabnya kami tak berani berterus terang. Sedangkan janji pertemuan itu," ia merogoh saku dan mengeluarkan sehelai kertas lecek, "adalah balasan saya atas suratnya."

Bunyi surat im demikian:
Sayang,
Tempat biasa di pantai, hari Selasa setelah matahari terbenam, Hanya saat itu aku bisa keluar.
F.M.
"Hari ini Selasa, dan saya sebenarnya hendak menemuinya nanti malam."

Aku membalik surat itu. "Surat ini tak diposkan. Bagaimana surat ini sampai kepada Anda?"

"Sebaiknya saya tak menjawab pertanyaan itu. Tak ada hubungannya dengan kasus yang sedang Anda tangani, kan? Tapi saya akan menjawab semua pertanyaan Anda yang lain."

Gadis itu menepati kata-katanya, namun tak ada hal berarti yang kami temukan dalam wawancara itu. Menurutnya, tunangannya tak punya musuh, tapi dia mengakui ada beberapa pemuda lain yang tertarik kepadanya.

"Bolehkah saya bertanya, apakah Mr. Ian Murdoch salah satunya?"

Wajah gadis itu memerah dan ia tampaknya kebingungan.

"Dulu saya kira begitu. Tapi semuanya berubah ketika dia menyadari Fitzroy dan saya sudah serius."

Bayangan sosok Murdoch yang aneh kembali melintas di benakku. Aku harus menyelidiki data dirinya. Aku juga harus menggeledah kamarnya. Stackhurst bersedia membantuku karena ia menaruh kecurigaan yang sama. Kami meninggalkan Haven, dengan harapan telah ada setitik terang bagi misteri yang rumit ini.

Seminggu berlalu. Pemeriksaan polisi tak menghasilkan apa-apa, dan pemeriksaan selanjutnya ditunda sampai ada bukti lain. Stackhurst diam-diam telah mencari informasi tentang Murdoch, dan kamarnya pun sudah digeledah, tapi hasilnya nihil. Aku sendiri telah menjelajahi daerah sekitar tempat kejadian sekali lagi, baik secara langsung maupun dalam pikiran, namun aku tak mendapatkan kemajuan. Sepanjang sejarah karierku, baru kali ini aku menemui jalan buntu. Bahkan mereka-reka solusinya pun aku tak mampu. Lalu musibah terjadi lagi, kali ini menimpa anjing korban.

Pelayan tuakulah yang lebih dulu mendengar berita itu, ketika berbincang-bincang dengan rekan-rekan pelayan desa lainnya.

"Ada berita menyedihkan, Sir, tentang anjing McPherson," katanya pada suatu malam.

Aku biasanya tak suka mendengarkan ocehannya, tapi kali ini kata-katanya menarik perhatianku.

"Kenapa anjing McPherson?"

"Mati, Sir. Mati karena sedih ditinggal tuannya."

"Siapa yang mengatakannya padamu?"

"Lho, Sir, semua orang membicarakannya. Anjing itu jadi sengsara dan tak mau makan selama seminggu. Lalu hari ini dua pemuda dari Gables menemukan bangkainya—di pantai, di bawah sana, Sir, persis di situ, di tempat tuannya menemui ajalnya."

"Persis di situ." Kata-kata itu mengganggu pikiranku. Secercah cahaya yang mengisyaratkan bahwa hal itu sangat penting muncul di benakku. Bahwa anjing itu akhirnya mati, itu biasa—begitulah kesetiaan seekor anjing. Tapi "persis di situ"! Mengapa pantai yang sepi itu begitu fatalnya bagi si anjing? Apakah mungkin anjingnya juga menjadi korban pembalasan dendam seseorang? Mungkinkah...? Ya, isyarat itu kecil saja, tapi ide besar mulai menggelembung di benakku. Beberapa menit kemudian, aku sudah dalam perjalanan menuju Gables, dan menemui Stackhurst yang berada di ruang baca. Atas permintaanku dia memanggil Sudbury dan Blount, kedua siswa yang telah menemukan anjing itu.

"Ya, anjing itu tergeletak di tepi kolam renang," kata salah satu dari mereka. "Dia pastilah mengikuti jejak almarhum tuannya."

Aku melihat binatang kecil yang setia itu, anjing terier Airedale, tergeletak di keset. Tubuhnya kaku, matanya melotot, dan perutnya mengerut. Semua menunjukkan penderitaan luar biasa.

Dari Gables, aku berjalan menuju "kolam renang" yang dibentuk oleh gelombang pasang. Matahari telah tenggelam dan bayangan jurang menutupi air laut, yang memancarkan cahaya suram bagaikan lembaran timah. Tempat itu sepi dan tak ada tanda-tanda kehidupan, kecuali dua ekor burung laut yang sedang berputar-putar dan berteriak-teriak tak jauh dari kepalaku. Dalam keremangan cahaya senja, aku berhasil melihat bekas tempat anjing itu menemui ajalnya di pasir dekat batu tempat handuk tuannya ditaruh. Aku berdiri termangu-mangu selama beberapa saat sementara sekitarku menjadi semakin gelap. Benakku dipenuhi macam-macam pikiran. Anda mungkin pernah mengalami "mimpi buruk" sepertiku, saat Anda merasa hal penting yang sedang Anda cari-cari sebenarnya ada di suatu tempat di otak Anda, namun Anda belum berhasil menjangkaunya. Akhirnya, aku membalikkan badan dan berjalan pulang dengan gontai.

Ketika aku sampai di bagian atas jalanan itu, sesuatu melintas di benakku. Tiba-tiba saja, apa yang sedang kucari-cari itu tertangkap. Watson pasti pernah menceritakan, bahwa gudang pengetahuanku sangat luas tapi serba serabutan. Otakku seperti ruangan yang penuh dengan kotak-kotak kardus berisi segala macam barang rongsokan... begitu banyaknya, sampai aku sendiri tak tahu apa saja isinya. Sekarang telah kutemukan sesuatu yang erat kaitannya dengan kasus ini. Memang masih samar-samar, tapi paling tidak aku tahu bagaimana aku bisa membuatnya menjadi jelas. Begitu mengerikan, luar biasa, tapi cukup masuk akal. Aku harus mengujinya secara tuntas.

Ada loteng kecil di rumahku yang penuh berisi buku. Ke tempat inilah aku menghambur dan mengobrak-abrik buku-buku di situ selama satu jam. Akhirnya, kudapatkan buku bersampul cokelat keperakan. Dengan penuh penasaran aku membuka bagian halaman yang sekilas masih kuingat. Ya, memang upaya yang melelahkan dengan kemungkinan yang sangat kecil, tapi toh aku merasa tak tenang sebelum meyakinkan apakah kemungkinan itu benar. Aku pergi tidur larut malam, tak sabar menunggu datangnya esok hari menuntaskan penyelidikanku.

Tapi, keesokan harinya niatku tertunda karena ada gangguan. Aku baru saja hendak berangkat ke pantai, setelah meneguk teh hangat, ketika aku kedatangan tamu—Inspektur Bardie dari Kepolisian Sussex. Lelaki berwajah serius itu menatapku dengan sangat gelisah.

"Saya tahu pengalaman Anda yang luar biasa, Sir," katanya. "Kunjungan saya ini bukan kunjungan resmi, dan tak perlu dibesar besarkan, tapi terus terang saya bingung menghadapi kasus McPherson ini. Pertanyaannya ialah, apakah saya harus menangkapnya atau tidak?"

"Maksud Anda, Mr. Ian Murdoch?"

"Ya, Sir. Kalau dipikir-pikir, jelas tak ada orang lain. Itulah keuntungan tinggal di daerah yang sepi. Kami hanya harus melakukan penyelidikan yang sangat terbatas. Kalau bukan dia, siapa lagi?"

"Bukti apa yang Anda peroleh tentang dia?"

Sama seperti aku, ternyata dugaannya didasarkan pada faktor-faktor berikut ini: perangai Murdoch, sikapnya yang sangat tertutup, dan emosinya yang meledak-ledak ketika melempar anjing ke luar jendela. Juga kenyataan bahwa dia pernah bertengkar dengan McPherson, dan dugaan bahwa dia mungkin cemburu karena hubungan korban dengan Miss Bellamy. Dia menyebutkan semua faktor yang telah kuketahui, tak ada satu pun yang baru, kecuali tambahan bahwa Murdoch sedang bersiap siap meninggalkan Gables.

"Bagaimana posisi saya kalau membiarkan dia pergi padahal ada bukti yang memberatkannya?" keluh Inspektur bimbang.

"Pertimbangkanlah," kataku, "semua kelemahan yang ada. Pada pagi hari ketika peristiwa itu terjadi, dia punya alibi yang kuat. Dia bersama siswa-siswa sampai saat terakhir, dan beberapa menit setelah kami bertemu McPherson, dia mendatangi saya dari arah belakang. Lagi pula tak mungkin dia menganiaya korban yang kuat itu seorang diri. Dan akhirnya, bagaimana tentang alat yang dipakai untuk melakukan penganiayaan itu?"

"Apa lagi kalau bukan sejenis cambuk?"

"Apakah Anda memperhatikan bekas cambukannya?"tanyaku.

"Sudah. Dokter juga sudah melihatnya."

"Tapi saya mengamatinya dengan memakai kaca pembesar. Goresan-goresannya sangat aneh."

"Aneh bagaimana, Mr. Holmes?"

Aku melangkah ke lemari dan mengambil foto yang sudah dibesarkan. "Beginilah cara saya menangani kasus-kasus seperti ini," jelasku.

"Anda benar-benar bertindak dengan saksama, Mr. Holmes."

"Saya jadi begini karena pengalaman. Nah, mari kita perhatikan goresan di sepanjang bahu kanan. Tak Anda lihat keanehannya?"

"Apa, ya?"

"Dalamnya berbeda-beda. Ada darah yang mengental di sini, di sana, juga di bawah sini. Apa artinya?"

"Entahlah. Memangnya Anda tahu?"

"Saya mungkin tahu, mungkin juga tidak. Saya akan bisa mengatakannya lebih jauh tak lama lagi. Kalau kita bisa memastikan alatnya, pelakunya pun akan kita temukan."

"Ide saya mungkin tak masuk akal," kata sang polisi, "tapi seandainya cambuk yang menghantam punggungnya berupa kabel panas, goresan-goresan yang lebih dalam ini akan menjadi tempat pertemuan beberapa cambukan."

"Perbandingan yang cerdik. Atau bisa juga cambuk bercabang sembilan?"

"Astaga, Mr. Holmes, saya rasa Anda telah menemukannya!"

"Tunggu dulu, Mr. Bardie, bisa jadi penyebabnya malah sesuatu yang sangat berbeda. Pokoknya, Anda belum punya cukup bukti untuk melakukan penangkapan. Dan harus kita pertimbangkan juga kata-kata terakhir korban... 'Lion's Mane'."

"Mungkin yang dimaksud adalah Ian..."

"Saya sempat berpikir begitu, tapi kata selanjutnya sama sekali tidak mirip Murdoch. Saya yakin ucapannya adalah 'Lion's Mane'."

"Anda tak punya alternatif lain, Mr. Holmes?"

"Mungkin punya, tapi saya tak mau membicarakannya sampai mendapat kepastian."

"Kapan?"

"Dalam satu jam—mungkin kurang dari itu."

Inspektur menggosok-gosok dagunya dan menatapku dengan ragu-ragu.

"Sayang saya tak bisa melihat apa yang ada di benak Anda, Mr. Holmes. Apakah Anda mencurigai kapal-kapal penangkap ikan itu?"

"Tidak, tidak. Mereka jauh sekali dari tempat kejadian."

"Kalau begitu, apakah Bellamy dan putranya yang tinggi besar itu? Mereka tak begitu menyukai Mr. McPherson. Mungkinkah mereka yang telah menganiayanya?"

"Tidak, tidak, Anda takkan bisa memancing saya sampai saya siap mengatakannya," kataku tersenyum. "Sekarang, Inspektur, kita masing-masing punya pekerjaan. Mungkin, jika Anda mau menemui saya nanti siang..."

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, muncul gangguan lain.

Pintu depan rumahku terbuka, lalu terdengar langkah-langkah kaki di gang, dan Ian Murdoch berjalan sempoyongan memasuki ruangan. Wajahnya pucat pasi, rambutnya awut-awutan, dan pakaiannya semrawut. Ia mencengkeram perabotan untuk menopang dirinya. "Brendi! Brendi!" serunya, lalu terjatuh ke sofa.

Ia tak datang sendirian. Di belakangnya muncul Stackhurst yang berlari kencang. Penampilannyapun awut-awutan dan ia tak memakai topi.

"Ya, ya, brendi!" teriaknya. "Pemuda itu sedang sekarat. Nyaris saya tak mampu membawanya kemari. Dia pingsan dua kali dalam perjalanan."

Setelah menenggak setengah gelas brendi, terjadilah perubahan yang mencengangkan. Ia berusaha bangun lalu membuka bajunya. "Demi Tuhan, beri minyak, opium, morfin!" teriaknya. "Apa saja untuk mengurangi rasa sakit yang luar biasa ini!"

Aku dan Inspektur berteriak ketika melihat apa yang ditunjukkannya. Di bahunya terdapat goresan menyilang, dengan pola yang sama dengan goresan di bahu almarhum Fitzroy McPherson.

Jelas sekali betapa kesakitannya dia, dan rasa sakit itu menjalar ke seluruh tubuh. Tarikan napasnya sesekali berhenti, wajahnya menghitam, dan tak henti-hentinya mengaduh sambil mendekap jantung, sementara keringat mengucur deras dari alisnya. Ia benar-benar sekarat. Kami terus-menerus menuangkan brendi ke mulutnya. Setiap kali habis meneguk brendi, ia tersadar. Tempelan-tempelan kain yang sudah dibasahi minyak sayur di sekujur tubuhnya tampaknya mengurangi rasa sakit pada luka-lukanya yang aneh. Akhirnya kepalanya terjatuh ke bantalan kursi. Wajarlah jika kekuatannya habis karena kelelahan. Ia setengah tidur, setengah pingsan, tapi paling tidak sakitnya sudah mereda.

Jelas tak mungkin menanyai dia, tapi begitu keadaannya sudah tak kritis lagi, Stackhurst menoleh ke arahku.

"Ya Tuhan!" teriaknya. "Kenapa dia, Holmes? Kenapa dia?"

"Di mana Anda temukan dia?"

"Di bawah sana, di pantai. Persis di tempat McPherson menemui ajalnya. Kalau saja jantungnya lemah seperti McPherson, dia takkan berada di sini sekarang. Beberapa kali saya sangka dia sudah mati dalam perjalanan tadi. Gables terlalu jauh, jadi saya bawa dia ke sini."

"Apakah Anda melihatnya ketika berada di pantai?"

"Saya sedang berjalan di atas tebing ketika saya mendengarnya berteriak. Dia berada ditepi kolam renang, berguling-guling seperti orang mabuk. Saya lari turun, memakaikan pakaiannya, dan membawanya naik. Demi Tuhan, Holmes, kerahkan segenap kemampuan Anda untuk mengusir kutuk yang mengerikan ini dari tempat ini, karena hidup kami benar-benar terancam. Tak bisakah Anda, dengan reputasi yang sudah dikenal di seluruh dunia, melakukan sesuatu bagi kami?"

"Saya rasa bisa, Stackhurst. Ayo ikut saya! Dan Anda juga, Inspektur, mari! Akan kita lihat apakah kita mampu menangkap pembunuh ini."

Kami meninggalkan pemuda yang pingsan itu dalam pengawasan pelayanku. Bertiga kami menuju kolam renang maut di pantai. Pada sebuah batu teronggok handuk dan pakaian milik guru matematika itu. Perlahan-lahan aku mengelilingi kolam, diikuti kedua rekanku. Air kolam itu tak begitu dalam, tapi tepat di bawah tebing, tanahnya turun kira-kira satu setengah meter. Ke sinilah biasanya orang berenang karena airnya sebening kristal. Sederet batuan menjorok di atasnya dan aku menapak ke situ, sambil mengintip ke dasar air. Ketika aku tiba di bagian kolam yang paling dalam dan paling tenang, mataku menangkap apa yang sedang kucari-cari. Aku berteriak penuh kemenangan.

"Cyanea!" teriakku. "Cyanea! Lihat si Surai Singa!" Makhluk aneh yang kutunjuk memang mirip surai singa. Dia teronggok di karang dalam air yang dalamnya sekitar semeter. Makhluk berambut itu bergerak-gerak, melambai-lambai, bergetar-getar—warna rambutnya kuning dengan sapuan keperakan di beberapa bagian. Makhluk itu berdenyut perlahan-lahan.

"Sudah cukup banyak dia menelan korban. Tamatlah riwayatmu!" teriakku. "Tolong, Stackhurst! Mari kita akhiri hidup pembunuh ini."

Ada batu besar tepat di atas kami, dan kami mendorongnya ke kolam. Ketika air kolam berhenti beriak, kami melihat batu itu telah mendarat di dasar kolam. Tampak selaput kuning yang menggelepar, menunjukkan bahwa buruan kami tertimpa batu itu. Buih berupa minyak pekat mengalir dari bawah batu sehingga mengotori air di sekitarnya, dan terus naik ke permukaan.

"Astaga, sungguh tak saya sangka!" seru Inspektur. "Apa itu, Mr. Holmes? Saya dilahirkan dan dibesarkan di sini, tapi belum pernah saya melihat makhluk seperti itu. Asalnya pasti bukan dari Sussex."

"Ya, syukurlah," komentarku. "Saya kira dia terbawa badai barat daya. Mari kita kembali ke rumah saya, dan Anda akan mendengarkan sendiri pengalaman si korban."

Ketika kami sampai di kamar bacaku, ternyata Murdoch sudah bisa duduk. Pikirannya masih kacau, dan sesekali tubuhnya terguncang oleh serangan rasa sakit. Dengan terpatah-patah ia mengisahkan bahwa sebenarnya ia tak tahu apa yang telah terjadi padanya, kecuali rasa sakit luar biasa yang tiba-tiba menjalari sekujur tubuhnya, sehingga dengan seluruh sisa kekuatannya ia berupaya mencapai tepi kolam.

"Buku inilah yang mula-mula menyulutkan titik terang pada kasus ini," kataku sambil menunjukkannya. "Kalau bukan karena informasi dari sini, kemungkinan kasus ini takkan terselesaikan. Judulnya Out of Doors, karangan peneliti ternama, J.G. Wood. Wood sendiri hampir menemui ajalnya ketika bertemu dengan makhluk mengerikan itu. Itulah sebabnya dia menuliskan tentang hal itu dengan sangat lengkap. Cyanea capillata adalah nama lengkap makhluk yang sangat berbahaya bagi manusia itu karena gigitannya lebih parah dari gigitan ular kobra. Mari saya bacakan beberapa bagian:
Jika perenang melihat selaput berserabut berwarna cokelat kekuning-kuningan yang bertebaran bagaikan surai singa dan kertas perak, dia harus waspada, karena berhadapan dengan makhluk penyengat yang sangat menakutkan, Cyanea capillata.
"Ciri-cirinya persis dengan makhluk yang kita temukan, bukan?

"Wood lebih lanjut mengisahkan pengalamannya sendiri ketika bertemu makhluk itu, ketika dia sedang berenang di pantai di daerah Kent. Ternyata makhluk itu memancarkan pijaran sinar yang jangkauannya mencapai lima belas meter. Dan siapa pun yang berada di dalam pijaran sinar itu menghadapi bahaya kematian. Bahkan dari jarak yang cukup jauh, efeknya terhadap Wood nyaris fatal.
Serabut-serabutnya yang begitu banyak mengakibatkan goresan-goresan ungu di kulit yang kalau diamati dengan teliti ternyata merupakan titik-titik kecil atau pustula—setiap titik bagaikan jarum panas yang menusuk kulit menuju saraf.
"Rasa sakit di tempat goresan, menurut penjelasannya, justru tak begitu menyiksa.
Rasa nyeri yang luar biasa menimpa bagian dada, menyebabkan saya terjatuh seolah-olah terkena tembakan peluru. Denyut nadi akan berhenti, lalu jantung akan berdetak keras selama enam atau tujuh kali, sepertinya sedang memaksa diri untuk keluar.
"Wood hampir terbunuh padahal dia bertemu dengan makhluk itu di lautan luas yang bergelora dan bukannya di kolam kecil yang airnya tenang. Dia mengatakan setelah itu dia tak percaya pada apa yang dilihatnya di kaca—wajahnya menjadi begitu pucat dan berkerut-kerut mengerikan. Dia lalu meneguk brendi, sebotol penuh, dan itulah tampaknya yang menyelamatkan nyawanya. Ini bukunya, Inspektur, silakan dibaca, maka Anda tak akan ragu lagi bahwa apa yang dijelaskan di buku itu persis sama dengan tragedi yang menimpa McPherson."

"Dan kemudian menimpa saya," komentar Ian Murdoch sambil tersenyum hambar. "Saya tak menyalahkan Anda, Inspektur, juga Anda, Mr. Holmes, karena kecurigaan Anda berdua terhadap saya sangat masuk akal. Rupanya saya baru berhasil membersihkan diri setelah mengalami penderitaan yang sama seperti teman saya."

"Tidak, Mr. Murdoch. Saya sebenarnya sudah menduga penyebab tragedi itu, dan kalau saja tadi pagi saya keluar rumah seperti yang saya rencanakan semula, Anda pasti takkan mengalami musibah ini."

"Tapi bagaimana Anda tahu, Mr. Holmes?"

"Saya suka sekali membaca buku dan biasanya tak melupakan detail-detail yang saya baca. Kata-kata 'Surai Singa' mengganggu pikiran saya. Saya tahu saya pernah melihatnya, tapi entah di mana. Anda lihat sendiri bagaimana istilah itu sangat cocok dengan wujud makhluk itu. Saya yakin makhluk itu sedang mengambang di kolam ketika McPherson melihatnya, dan istilah itulah yang langsung diteriakkannya sebagai peringatan bagi kami sebelum dia akhirnya menemui ajalnya."

"Kalau begitu, paling tidak saya sudah tak menjadi tersangka lagi, ya?" kata Murdoch sambil dengan perlahan mencoba berdiri. "Ada beberapa penjelasan yang ingin saya berikan sehubungan dengan penyelidikan-penyelidikan yang Anda lakukan. Memang benar saya mencintai gadis itu, tapi sejak dia memilih teman saya McPherson, yang saya inginkan adalah kebahagiaannya semata. Saya rela mengundurkan diri, bahkan menjadi perantara mereka. Saya sering mengantarkan surat mereka. Karena saya orang kepercayaan mereka dan saya tetap mengasihi gadis itu, saya langsung memberitahunya tentang kematian teman saya. Saya tidak ingin dia mendengar berita itu dari orang lain yang mungkin akan sangat mengejutkan dan mengguncangkan dirinya. Dia tak mau berterus terang tentang hubungan kami kepada Anda, Sir, karena Anda mungkin akan menaruh curiga dan saya jadi terpojok. Tapi bila Anda mengizinkan, sekarang saya mau kembali ke Gables. Saya benar-benar membutuhkan istirahat."

Stackhurst mengulurkan tangannya. "Selama seminggu ini emosi kita benar-benar terganggu," katanya. "Maafkan apa yang telah terjadi, Murdoch. Semoga di waktu-waktu mendatang, kita bisa lebih saling mengerti." Mereka berjalan pulang sambil bergandengan tangan seperti dua sahabat karib. Inspektur masih tinggal. Dia terpaku sambil menatapku.

"Well, Anda berhasil!" teriaknya akhirnya. "Saya sudah banyak membaca tentang Anda, tapi saya tak pernah mempercayainya. Anda hebat!"

Aku terpaksa menggeleng. Kalau pujian itu kuterima, berarti aku menurunkan standar kerjaku.

"Proses pemikiran saya terlalu lamban. Seandainya mayat McPherson ditemukan di kolam, saya pasti langsung tahu. Handuk yang tak terpakai itulah yang menyesatkan saya. Saya mengira ia belum sempat mencebur ke kolam, padahal sebenarnya sudah dan begitu tertimpa musibah, dia berpakaian tanpa mengeringkan badan. Mula-mula saya sama sekali tak memikirkan kemungkinan dia diserang makhluk air. Itulah kekeliruan saya, Inspektur. Terus terang saya sering mencemooh cara kerja polisi, dan rupanya dendam Anda nyaris berhasil dibalaskan Cyanea capillata."