Dari semua petualanganku bersama Sherlock Holmes, kurasa hanya kisah inilah yang dimulai dengan begitu dramatis dan tak terduga. Sudah beberapa hari aku tak mengunjunginya, sehingga aku sama sekali tak punya bayangan tentang kasus yang sedang ditanganinya. Namun suasana hatinya kelihatan baik ketika aku datang pagi itu. Aku baru saja menjatuhkan diri di kursi reyot di samping perapian dan dia duduk sambil mengisap pipa di hadapanku, ketika seorang tamu memasuki ruangan itu. Kata "tamu" barangkali kurang tepat—lebih baik kukatakan kami kedatangan seekor banteng gila.

Pintu ruangan terbuka lebar, dan seorang Negro tinggi besar masuk dengan tergopoh-gopoh. Penampilannya agak menggelikan, terutama karena jas kotak-kotaknya yang begitu mencolok dan dasinya yang merah tua. Wajahnya yang lebar dan hidungnya yang pesek dimajukannya, sementara matanya yang gelap memancarkan kebencian. Pandangannya tertuju ke arah kami secara bergantian.

"Yang mana di antara kalian berdua Masser Holmes?" dia bertanya.

Holmes mengangkat pipanya sambil tersenyum kecil.

"Oh! Anda orangnya?" kata tamu kami sambil mendekat dengan langkah-langkah lambat. "Dengar, Masser Holmes, Anda jangan ikut campur urusan orang lain. Biar orang mengurus urusannya sendiri. Mengerti, Masser Holmes?"

"Teruskan omongan Anda," kata Holmes. "Tak jadi masalah kok."

"Oh! Tak jadi masalah, ya?" geram pria itu. "Akan jadi masalah kalau saya memberi Anda sedikit pelajaran. Saya sudah biasa menghadapi orang-orang seperti Anda, dan mereka semua saya bikin kapok. Mengerti, Masser Holmes?"

Dia menempelkan tinjunya tepat di bawah hidung sahabatku. Holmes memperhatikannya dengan saksama dan penuh minat. "Apakah pembawaan Anda memang begini?" tanyanya. "Atau terbentuk sedikit demi sedikit?"

Sikap dingin sahabatku melunturkan keganasan tamu kami. Atau hal ini disebabkan oleh kesigapanku mengambil besi pengorek api.

"Pokoknya saya sudah memperingatkan Anda," katanya. "Ada teman saya yang tertarik pada urusan di Harrow—Anda pasti tahu maksud saya—dan dia tak ingin Anda ikut campur. Anda bukan petugas hukum, saya juga bukan, jadi kalau Anda ikut campur, saya pun akan turun tangan. Jangan lupa peringatan saya ini."

"Sudah lama saya ingin bertemu dengan Anda," kata Holmes. "Saya tak akan mempersilakan Anda duduk, karena saya tak tahan bau badan Anda, tapi Anda Steve Dixie, bukan?"

"Itu betul nama saya, Masser Holmes, dan Anda akan menderita kalau berani berkata macam-macam tentang saya."

"Saya tak suka mengada-ada," dengan santai Holmes menanggapi ancamannya. "Saya hanya teringat pembunuhan pemuda bernama Perkins di depan Bar Holborn... Apa! Jangan pergi dulu!"

Pemuda Negro itu berbalik lagi dan wajahnya semakin keruh. "Saya tak mau mendengar pembicaraan seperti ini," katanya. "Apa hubungan saya dengan si Perkins, Masser Holmes? Waktu pemuda itu menemui ajalnya, saya sedang berlatih tinju di Bull Ring, Birmingham."

"Silakan menjelaskannya kepada hakim nanti, Steve," kata Holmes. "Sudah lama saya mengawasi Anda dan Barney Stockdale..."

"Demi Tuhan, kasihanilah saya, Masser Holmes..."

"Cukup. Pergilah. Saya akan menangkap Anda kalau sudah waktunya."

"Selamat pagi, Masser Holmes. Saya harap Anda tak marah atas kunjungan saya ini."

"Tidak, asal kaukatakan siapa yang menyuruhmu."

"Lho, jelas sekali, kan, Masser Holmes. Orang yang baru saja Anda sebut namanya."

"Dan siapa yang mempekerjakannya?"

"Saya tak tahu, Masser Holmes, sungguh! Dia cuma bilang, 'Steve, pergi ke Mr. Holmes, dan katakan nyawanya terancam bila dia ikut campur urusan Harrow."'

Tanpa menunggu pertanyaan lagi, tamu kami berlari keluar ruangan sesigap ketika masuk tadi. Dengan tenang Holmes mematikan pipa rokoknya.

"Aku senang kau tak perlu mematahkan kepalanya yang lembek itu, Watson. Kulihat kau sudah bersiaga dengan besi. Tapi dia sebenarnya tak berbahaya, walau otot-ototnya besar. Dia anak ingusan yang bisanya cuma menggertak, dan seperti kaulihat sendiri, gampang ditakut-takuti. Dia anggota komplotan Spencer John yang sering melakukan pekerjaan kotor akhir-akhir ini. Komplotan ini akan kugulung kalau aku sudah agak senggang. Atasannya yang bernama Barney itu lebih berbahaya. Mereka mengkhususkan diri dalam melakukan kekerasan, intimidasi, dan sejenisnya. Yang ingin kuketahui ialah, siapa yang menjadi otak operasi mereka kali ini."

"Tapi mengapa mereka ingin menggertakmu?"

"Ini ada hubungannya dengan kasus Harrow Weald. Aku jadi berminat pada kasus ini karena ada orang yang bersusah-susah memperingatkanku. Pasti ada apa-apanya...."

"Bagaimana sebenarnya kasusnya?"

"Aku baru mau bercerita kepadamu, ketika gangguan yang menggelikan itu tiba-tiba muncul. Ini surat Mrs. Maberley. Kalau kau bersedia menemaniku, kita akan mengirim telegram kepadanya dan kita akan berangkat sekarang juga." Aku membaca surat itu:
Mr. Sherlock Holmes yang terhormat,
Ada beberapa kejadian aneh yang saya alami sehubungan dengan rumah saya, dan saya akan sangat berterima kasih seandainya Anda berkenan memberi saran. Besok, saya berada di rumah seharian. Rumah saya tak jauh dari Stasiun Weald. Anda mungkin ingat almarhum suami saya, Mortimer Maberley, pernah menjadi klien Anda.
Hormat saya, Mary Maberley
Alamatnya tertulis "Gedung Beratap Tiga, Harrow Weald".

"Begitulah duduk perkaranya!" kata Holmes. "Dan sekarang, kalau kau ada waktu, Watson, kita akan segera berangkat."

Setelah menempuh perjalanan singkat dengan kereta api, dilanjutkan dengan naik kereta sewaan sebentar, sampailah kami ke tempat yang dituju. Rumah itu lebih mirip vila, terbuat dari kayu dan bata, di sekelilingnya ada halaman yang tak terawat. Namanya berasal dari tiga atap berbentuk segitiga yang mencuat dari jendela paling atas.

Secara keseluruhan tempat itu tampak telantar dan tak menyenangkan. Tapi rumah itu sendiri berperabotan lengkap, dan wanita tua yang menemui kami ternyata sangat menarik dan berpendidikan.

"Saya masih ingat pada suami Anda, Madam," kata Holmes, "walaupun sudah lama sekali ketika dia memakai jasa saya untuk menangani kasus kecil."

"Mungkin Anda lebih kenal putra saya, Douglas."

Holmes menatap wanita itu dengan penuh minat.

"Wah! Apakah Anda ibu Douglas Maberley? Saya tak mengenalnya secara dekat, tapi tentu saja semua orang di London mengenalnya. Dia pemuda yang luar biasa! Di mana dia sekarang?"

"Meninggal, Mr. Holmes, meninggal! Dia ditugaskan sebagai atase di Roma, dan dia meninggal karena pneumonia di sana sebulan yang lalu."

"Saya turut berduka. Tak terbayangkan pemuda sehebat dia sudah meninggal. Tak pernah saya melihat pemuda yang semangat hidupnya begitu tinggi. Setiap sel dalam tubuhnya rasanya begitu hidup!"

"Barangkali semangatnya yang begitu tinggi yang akhirnya menghancurkan hidupnya. Anda ingat dia sebagaimana penampilannya dulu—lincah dan ceria. Anda pasti tak dapat membayangkan keadaannya sebelum dia meninggal. Dia patah hati, patah semangat. Dalam sebulan, saya melihat sendiri bagaimana putra saya yang menawan itu berubah menjadi pria yang loyo dan sinis."

"Apakah dia putus cinta?"

"Bisa jadi... atau dia berada di bawah pengaruh kuasa jahat. Tapi, saya mengundang Anda kemari bukan untuk membicarakan anak saya, Mr. Holmes."

"Saya dan Dr. Watson siap melayani Anda."

"Akhir-akhir ini saya mengalami kejadian-kejadian aneh. Saya sudah tinggal di rumah ini lebih dari setahun, dan saya bermaksud menikmati masa pensiun di sini. Itulah sebabnya saya tak sering berkunjung ke tetangga-tetangga. Tiga hari yang lalu, seorang pria datang kemari. Dia mengaku sebagai agen penjual rumah. Dia mengatakan rumah ini sangat diminati salah satu calon pembelinya, dan jika saya bersedia menjualnya, harga tak menjadi masalah. Saya agak heran, karena ada beberapa rumah lain yang dijual yang tak kalah bagusnya dari rumah saya, tapi tentu saja saya tertarik pada ucapannya. Saya lalu menyebutkan harga yang saya minta, lima ratus pound lebih tinggi daripada yang seharusnya. Dia langsung menyetujui harga itu tapi dia menambahkan bahwa kliennya bermaksud membeli rumah ini berikut perabotannya, dan saya diminta memasang harga untuk itu. Beberapa perabotan di rumah ini berasal dari rumah saya yang dulu, dan karena masih bagus-bagus, seperti Anda bisa lihat sendiri, saya menetapkan harga yang cukup tinggi. Dia pun langsung setuju. Sejak lama saya memang punya keinginan untuk bepergian, dan uang yang akan saya peroleh begitu banyak, sampai saya berpikir saya bisa bersenang-senang sepanjang sisa hidup saya.

"Kemarin pria itu datang lagi untuk membereskan perjanjian jual-beli. Untungnya, saya sempat menunjukkan surat perjanjian itu kepada Mr. Sutro, penasihat hukum saya, yang tinggal di Harrow. Dia mengatakan kepada saya, 'Surat perjanjian ini sangat aneh. Sadarkah Anda jika Anda menandatangani surat ini, secara hukum Anda tak berhak membawa apa pun dari rumah ini—sekalipun itu milik pribadi Anda?' Ketika si agen rumah datang lagi pada malam harinya, saya menanyakan hal itu, dan saya tegaskan bahwa saya hanya bermaksud menjual rumah berikut perabotannya.

"'Tidak, tidak, semuanya termasuk,' katanya.

"'Tapi pakaian saya? Perhiasan saya?'

"'Well, well, beberapa barang pribadi mungkin boleh Anda bawa, tapi harus setahu klien saya. Dia orangnya baik namun agak eksentrik. Pokoknya dia mau semuanya atau tidak sama sekali.'

"'Kalau begitu tidak jadi saja," kata saya. Dan masalahnya menggantung sampai di situ, hanya saya berpikir semua ini aneh sekali, jangan-jangan..."

Sampai di sini pembicaraan terputus.

Holmes mengangkat tangannya sebagai tanda agar kami semua diam. Kemudian dia berlari menyeberangi ruangan, membuka pintu lebar-lebar, dan menarik masuk seorang wanita tinggi besar yang berhasil disergapnya Wanita itu masuk sambil meronta-ronta.

"Lepaskan saya! Apa yang Anda lakukan?" teriaknya lantang.

"Susan, ada apa ini?"

"Begini, Madam, saya baru mau masuk kemari untuk menanyakan apakah tamu-tamu ini akan makan siang di sini. Lalu orang ini tiba-tiba melompat dan menangkap saya."

"Sejak lima menit yang lalu saya sudah mendengar kehadirannya, tapi saya tak ingin memotong penururan Anda, Mrs. Maberley. Suara napas Anda terlalu keras, Susan, kurang cocok untuk pekerjaan menguping."

Wajah Susan memancarkan kejengkelan sekaligus keheranan. Dia menatap orang yang menangkapnya. "Anda ini siapa? Dan punya hak apa Anda memperlakukan saya seperti ini?"

"Saya hanya ingin menanyakan sesuatu di hadapan Anda, Mrs. Maberley, apakah Anda memberitahu orang lain bahwa Anda menulis surat dan berkonsultasi kepada saya?"

"Tidak, Mr. Holmes."

"Siapa yang mengeposkan surat Anda?"

"Susan."

"Tepat sekali. Sekarang, Susan, kepada siapa Anda mengirim berita bahwa majikan Anda ingin berkonsultasi dengan saya?"

"Itu bohong. Saya tak mengirim berita kepada siapa-siapa."

"Ayolah, Susan, kau tahu orang yang napasnya berbunyi biasanya tak hidup lama. Dan berdusta itu dosa. Siapa yang kauberitahu?"

"Susan!" bentak majikannya. "Ternyata kau pendusta dan penipu. Sekarang aku ingat pernah melihatmu berbicara dengan seseorang di pagar depan."

"Itu urusan saya sendiri," kata wanita itu dengan cemberut.

"Bagaimana kalau saya katakan Anda telah berbicara dengan Barney Stockdale?" kata Holmes.

"Kalau Anda memang sudah tahu, untuk apa Anda bertanya?"

"Tadinya saya tak yakin, tapi Anda memberi saya kepastian. Nah, Susan, Anda akan mendapatkan imbalan sepuluh pound kalau bersedia mengatakan kepada saya siapa yang menyuruh Barney."

"Orang yang bisa memberikan imbalan seribu pound untuk permintaan yang sama."

"Kalau begitu, pria itu kaya, ya? Oh, tidak, senyum Anda menyiratkan dia seorang wanita. Karena sudah telanjur, bagaimana kalau Anda sebutkan saja namanya untuk mendapatkan sepuluh pound yang saya janjikan?"

"Lebih baik Anda pergi ke neraka!"

"Oh, Susan! Betapa kasar bahasa Anda!"

"Saya tak mau bekerja di sini lagi. Saya muak pada kalian semua. Akan saya ambil barang-barang saya besok pagi." Dia beranjak ke pintu dengan marah.

"Sampai jumpa, Susan. Ada obat untuk sesak napas...." Wajah Holmes menjadi lebih serius ketika wanita itu sudah meninggalkan ruangan. "Komplotan ini betul-betul canggih. Lihat saja bagaimana gesitnya kerja mereka. Cap pos di surat Anda menunjukkan surat itu dikirim pukul sepuluh kemarin malam. Dan pada pukul sebelas tadi pagi, Black Steve sudah muncul di tempat saya. Berarti dalam waktu tiga belas jam, Susan sempat menyampaikan berita ini pada Barney, yang lalu menghubungi orang yang menyewanya untuk meminta instruksi, kemudian mengutus Black Steve."

"Tapi apa sebetulnya yang mereka inginkan?"

"Inilah yang harus kita selidiki. Siapa pemilik rumah ini sebelum Anda?"

"Pensiunan kapten kapal bernama Ferguson."

"Ada yang istimewa dengannya?"

"Sejauh pengetahuan saya, tidak ada."

"Saya sedang bertanya-tanya, jangan-jangan dia telah menimbun sesuatu. Tentu saja, zaman sekarang orang lebih suka menyimpan hartanya di bank, tapi ada saja orang yang eksentrik. Namun kalau yang mereka incar harta terpendam, mengapa mereka juga menginginkan perabotan Anda? Barangkali ada lukisan atau naskah kuno yang Anda miliki tanpa Anda sadari?"

"Saya rasa tidak. Saru-satunya barang antik yang saya miliki adalah satu set cangkir teh Crown Derby."

"Kalau hanya untuk itu, mereka tak perlu repot-repot. Mereka bisa berterus terang kepada Anda dan mengajukan tawaran, tanpa perlu memborong semua harta Anda. Menurut saya, yang menjadi incaran mereka adalah sesuatu yang takkan Anda jual seandainya Anda mengetahuinya."

"Kesimpulanku juga demikian," kataku.

"Dr. Watson sependapat, maka kita semua sudah sepakat."

"Kalau begitu, Mr. Holmes, apa itu?"

"Mari kita lihat apakah analisis ini bisa menuntun kita untuk mendapatkan perincian lainnya. Anda sudah setahun tinggal di rumah ini."

"Hampir dua tahun."

"Baik. Selama ini tak ada orang yang mengganggu Anda. Lalu tiga-empat hari yang lalu, tiba-tiba muncul tawaran yang sangat mendesak. Bagaimana menurut Anda?"

"Menurut pendapatku" aku menyela, "itu berarti barang yang diinginkan mereka—apa pun wujudnya—belum lama sampai ke rumah ini."

"Dapat satu hal lagi," kata Holmes. "Sekarang, Mrs. Maberley, apakah ada barang baru di rumah ini?"

"Tidak, saya tak membeli apa-apa selama tahun ini."

"Betulkah? Wah, luar biasa sekali. Nah, saya rasa kita sebaiknya membiarkan hal ini berkembang lebih jauh sampai kita memperoleh data yang jelas. Apakah penasihat hukum Anda cukup memenuhi syarat?"

"Mr. Sutro sangat memenuhi syarat."

"Apakah Anda mempunyai pelayan wanita lain, atau cuma Susan yang bam saja membanting pintu itu?"

"Ada yang lainnya, lebih muda."

"Cobalah minta Sutro agar menginap di rumah ini selama satu-dua malam. Anda mungkin memerlukan perlindungan."

"Anda pikir ada orang yang akan mencelakakan saya?"

"Siapa tahu? Kasus ini masih samar-samar. Kalau saya tak bisa mencari tahu apa yang diinginkan mereka, saya harus mendekati kasus ini dari sudut lain. Apakah agen rumah itu memberikan alamatnya?"

"Hanya kartu nama dan pekerjaannya. Haines-Johnson, juru lelang dan agen jual-beli."

"Saya yakin namanya tak tercantum di buku telepon. Pengusaha yang jujur tak pernah menyembunyikan alamat kantornya. Baiklah, silakan beritahu saya kalau ada perkembangan baru. Saya bersedia menangani kasus Anda, dan Anda boleh yakin saya akan membongkar misteri ini."

Ketika kami berjalan melewati ruang tamu, mata Holmes yang sangat jeli bersinar-sinar melihat tumpukan koper dan kotak di sudut. Labelnya terlihat jelas.

"'Milano'. 'Lucerne'. Barang-barang ini dari Itali."

"Semuanya punya Douglas."

"Anda belum membukanya?"

"Baru tiba minggu lalu."

"Tadi Anda bilang... sudahlah, pokoknya kita sudah menemukan mata rantainya. Bagaimana kita tahu tak ada barang berharga di dalam paket-paket itu?"

"Tak mungkin, Mr. Holmes. Douglas yang malang penghasilannya cuma pas-pasan, ditambah tabungan yang tak seberapa. Barang berharga apa yang mungkin dia miliki?"

Holmes berpikir keras.

"Jangan tunggu lagi, Mrs. Maberley," katanya pada akhirnya. "Pindahkan semua barang ini ke kamar Anda di lantai atas, lalu periksalah secepatnya dan lihat apa saja isinya. Saya akan kembali besok pagi untuk mendengarkan laporan Anda."

Rumah beratap tiga itu ternyata terus-menerus diamati. Begitu keluar dari halaman, kami melihat Black Steve berdiri di balik pohon. Dia menghampiri kami sambil menyeringai. Holmes langsung memasukkan tangannya ke saku baju.

"Mencari pistol, Masser Holmes?"

"Cari botol parfum, Steve."

"Anda ini lucu, ya, Masser Holmes?"

"Saya tak ingin melucu di hadapan Anda, Steve, apalagi kalau sedang memburu Anda. Saya sudah memperingatkan Anda tadi pagi."

"Baik, Masser Holmes, saya sudah memikirkan apa yang Anda katakan, dan saya tak ingin bicara tentang Masser Perkins lagi. Kalau saya bisa membantu Anda, Masser Holmes, saya bersedia."

"Katakan siapa yang membayar Anda untuk pekerjaan ini!"

"Astaga! Masser Holmes, kan sudah saya katakan! Saya tak tahu. Bos saya Barney yang memberi instruksi, itu saja."

"Baiklah. Tolong diingat, Steve, wanita di rumah itu dan semua isi rumah itu, berada dalam perlindunganku. Jangan lupa."

"Akan saya ingat, Masser Holmes."

"Dia betul-betul ketakutan, Watson," komentar Holmes ketika kami melanjutkan perjalanan. "Kurasa dia akan mengkhianati orang yang menyewanya, kalau memang tahu orangnya. Aku ber-untung karena tahu sedikit tentang komplotan Spencer John, dan Steve salah satunya. Nah, Watson, kasus ini cocok untuk Langdale Pike, dan aku mau menemuinya sekarang. Kasusnya mungkin akan jadi lebih jelas."

Aku tak bertemu Holmes lagi hari itu, tapi aku bisa membayangkan apa yang dilakukannya, karena Langdale Pike adalah sumber referensinya untuk skandal-skandal di masyarakat. Lelaki loyo yang agak aneh ini sepanjang hari duduk di salah satu klub di St. James's Street, dan menjadi penerima serta penerus berita-berita seputar London. Kata orang penghasilannya sebagai pemasok gosip untuk koran-koran kuning bisa mencapai ribuan pound. Begitu ada kejadian unik, bahkan di gang kecil yang tak diketahui umum, pria ini bisa memberikan informasi sangat terperinci. Holmes pun menjalin hubungan timbal balik dengan Langdale.

Ketika aku menemui sahabatku di rumah sewaannya keesokan paginya, kulihat dari sikapnya semua baik-baik. Namun tak lama kemudian, muncul kejutan yang sangat mengganggu dalam bentuk telegram berikut ini:
Mohon segera datang. Rumah klien dirampok semalam. Sudah lapor polisi.
Sutro
Holmes bersiul. "Dramanya sudah mencapai krisis, lebih cepat dari yang kuduga, malah. Kasus ini melibatkan kekuasaan yang besar, Watson, yang tak mengherankanku setelah apa yang kudengar. Orang bemama Sutro ini jelas penasihat hukum Mrs. Maberley. Seharusnya kau yang kuminta berjaga-jaga di sana, Watson; pria ini tampaknya tak dapat diandalkan. Yah, terpaksa kita ke Harrow Weald lagi."

Rumah Beratap Tiga ternyata ramai dan agak berantakan, berbeda dengan hari sebelumnya. Beberapa pengangguran yang ingin tahu berkumpul di gerbang depan, sementara polisi mengamati jendela dan rumpun geranium di dekatnya. Di dalam rumah, kami bertemu dengan pria tua berambut abu-abu, yang memperkenalkan diri sebagai penasihat hukum nyonya rumah. Juga ada inspektur polisi gemuk yang sedang sibuk, yang lalu menyalami Holmes dengan ramah.

"Sayang sekali kasus ini bukan untuk Anda, Mr. Holmes. Cuma perampokan biasa dan bisa diatasi oleh polisi. Tak perlu ahli-ahli."

"Saya yakin kasus ini sedang ditangani dengan baik," kata Holmes. "Perampokan biasa, kata Anda?"

"Begitulah. Kami tahu siapa pelakunya dan di mana sarang mereka. Komplotan Barney Stockdale dengan si Negro-nya—ada yang melihat mereka berkeliaran di sekitar sini."

"Bagus sekali! Apa yang mereka ambil?"

"Well, tampaknya tak banyak yang diambil. Mrs. Maberley dibius, lalu rumahnya... Ah, nyonya rumah datang."

Klien kami, yang kelihatan sangat pucat dan lemah, masuk ke ruangan sambil bergayut pada pelayan wanitanya.

"Saran Anda bagus sekali, Mr. Holmes," katanya sambil tersenyum pahit. "Sayangnya, saya tak menjalankannya! Saya tak ingin mengganggu Mr. Sutro, jadi tak ada yang melindungi saya semalam."

"Saya baru mendengar peristiwanya tadi pagi," si ahli hukum menjelaskan.

"Mr. Holmes menyarankan agar saya minta seseorang menemani saya. Tapi saya abaikan sarannya, dan saya harus menanggung akibatnya."

"Anda tampak kurang sehat," kata Holmes. "Mungkin sekarang bukan saat yang tepat bagi Anda untuk menceritakan apa yang telah terjadi."

"Semuanya ada di sini," kata Inspektur, menepuk-nepuk buku catatannya yang tebal.

"Walaupun demikian, kalau Anda tak terlalu lelah..."

"Tak banyak yang bisa diceritakan," ujar nyonya rumah. "Saya yakin si jahat Susan yang mengatur sehingga mereka bisa masuk. Mereka tahu setiap sudut rumah ini. Saya ingat ketika mulut saya dibekap kloroform, tapi saya tak tahu berapa lama saya pingsan. Ketika sadar, saya lihat seorang pria berdiri di dekat tempat tidur, dan rekannya mengangkat bungkusan yang diambilnya dari kemasan barang anak saya, yang sudah terbuka sebagian dan berceceran di lantai. Sebelum dia lari, saya bangun dan menangkapnya."

"Wah, Anda mengambil risiko besar!" kata Inspektur.

"Saya tarik dia, tapi dia bisa membebaskan diri, dan pastilah orang yang satunya yang memukul saya, karena setelah itu saya tak ingat apa-apa lagi. Mary, pelayan wanita saya, mendengar keributan itu dan mulai berteriak-teriak dari jendela. Polisi datang, tapi para perampok itu telah melarikan diri."

"Apa yang mereka ambil?"

"Saya rasa tidak ada barang berharga yang hilang. Koper-koper itu cuma berisi tetek-bengek."

"Apakah mereka tak meninggalkan petunjuk?"

"Ada selembar kertas yang tersobek ketika saya menangkap perampok itu. Kertas yang teremas-remas itu jatuh ke lantai. Isinya tulisan tangan anak saya."

"Berarti kertas itu tak terlalu penting," kata Inspektur. "Seandainya isinya tulisan si perampok..."

"Tepat," kata Holmes. "Benar-benar masuk akal! Tapi saya tetap berkeinginan melihat sobekan kertas itu."

Inspektur mengeluarkan kertas terlipat dari buku catatannya.

"Saya tak pernah membuang barang bukti, walaupun sepele," katanya bangga. "Saya sarankan demikian kepada Anda, Mr. Holmes. Melalui pengalaman selama 25 tahun, saya banyak mendapatkan pelajaran. Barangkali saja ada sidik jari atau lainnya."

Holmes mengamati kertas itu.

"Menurut Anda apa ini, Inspektur?"

"Akhir novel yang agak aneh."

"Saya yakin ini memang akan mengakhiri suatu kisah unik," kata Holmes. "Anda pasti sudah memperhatikan angka-angka di bagian atas: 245. Di mana 244 halaman lainnya?"

"Tentunya dibawa si perampok. Sial benar mereka mendapat hasil rampokan seperti itu!"

"Aneh, ya? Susah-susah merampok hanya untuk mencuri kertas. Apa yang dapat Anda simpulkan dari hal ini, Inspektur?"

"Menurut saya, karena terburu-buru para penjahat itu hanya sempat asal ambil. Semoga mereka menikmati hasil rampokannya itu."

"Mengapa yang mereka tuju justru barang anak saya?" tanya Mrs. Maberley.

"Mereka tak menemukan barang berharga di lantai bawah maka mereka lalu mencari ke atas. Begitulah menurut saya. Bagaimana pendapat Anda, Mr. Holmes?"

"Saya harus memikirkannya dengan saksama, Inspektur. Ayo, kita ke jendela, Watson." Ketika kami berdua sudah berdiri di dekat jendela, sahabatku membaca tulisan di potongan kertas itu.

"...Wajahnya berlumuran darah karena luka dan pukulan, tapi itu tak berarti apa-apa dibandingkan dengan luka di hatinya ketika dia melihat wajah jelita itu—wajah orang yang dicintainya dengan sepenuh hati—menonton penderitaan dan penghinaan yang dialaminya. Wanita itu tersenyum— sungguh! Dia tersenyum tanpa rasa kasihan, karena hatinya memang kejam. Saat itulah cintanya lenyap seketika, digantikan kebencian yang membara. Orang hidup harus punya makna. Kalau tidak untuk cinta, kekasihku, aku harus tetap hidup paling tidak untuk membalas dendam kepadamu."

"Tata bahasa yang unik!" kata Holmes sambil tersenyum dan menyerahkan kertas itu kembali ke Inspektur. "Apakah Anda perhatikan bagaimana 'dia' tiba-tiba berubah menjadi 'ku'? Penulisnya pastilah begitu terbawa oleh kisah yang ditulisnya, sehingga dia membayangkan dirinya menjelma menjadi tokoh kisah itu."

"Naskah yang tak begitu bagus," kata Inspektur sambil menyelipkan kertas itu ke dalam buku catatannya. "Lho! Anda sudah mau pulang, Mr. Holmes?"

"Saya rasa tak ada yang bisa saya lakukan di sini, apalagi karena sudah ada petugas andal yang menanganinya. Oh ya, Mrs. Maberley, bukankah Anda pernah mengatakan ingin bepergian?"

"Saya selalu memimpikan itu, Mr. Holmes."

"Tempat mana yang ingin Anda kunjungi—Kairo, Madeira, Riviera?"

"Oh, kalau saja saya punya cukup uang, saya ingin keliling dunia."

"Begitu, ya! Keliling dunia. Baiklah, selamat pagi. Saya mungkin akan mengirim telegram nanti malam."

Ketika kami melewati jendela, kulihat sekilas Inspektur tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Orang-orang pintar ini selalu saja macam-macam."

"Nah, Watson, kita sudah sampai pada tahap akhir perjalanan kita," kata Holmes ketika kami sudah berada kembali di keramaian kota London. "Sebaiknya kita tuntaskan saja kasus ini, dan aku ingin kau ikut, karena lebih aman kalau ada saksi ketika aku berurusan dengan wanita sekaliber Isadora Klein."

Kereta yang kami sewa melaju ke sebuah alamat di Grosvenor Square. Holmes asyik merenung, tapi tiba-tiba terlonjak.

"Omong-omong, Watson, kurasa semuanya sudah jelas, kan?"

"Tidak, aku masih belum mengerti. Aku hanya tahu kita sekarang hendak menemui wanita yang menjadi otak kejahatan ini."

"Tepat! Apakah nama Isadora Klein tak berarti apa-apa bagimu? Dia termasyhur karena kecantikannya. Tak ada wanita yang dapat menandinginya. Dia berasal dari Spanyol, keturunan keluarga Conquistador yang telah menduduki jabatan penting di Pernambuco selama berabad-abad. Dia menikah dengan Klein, raja gula Jerman yang sudah tua tapi kaya raya, dan saat ini Isadora janda yang paling kaya dan paling cantik di dunia. Setelah suaminya meninggal dia mulai terlibat petualangan asmara, salah satunya dengan Douglas Maberley, pria paling tampan di London. Namun bagi Douglas itu bukan sekadar petualangan. Dia pria yang serius dan punya harga diri, yang menuntut komitmen total dalam hubungan mereka. Tentu saja ini tak sejalan dengan kehendak wanita yang tak berbelas kasihan itu. Prinsipnya adalah 'habis manis sepah dibuang'—dan kalau ia sudah bertekad untuk memutuskan hubungan, cara apa pun dianggap halal."

"Kalau begitu naskah yang ditulis Douglas merupakan kisahnya sendiri?"

"Ah, kau mulai melihat kaitannya. Kudengar wanita itu akan menikah dengan Duke of Lomond, yang sebenarnya lebih pantas menjadi anaknya. Ibu Duke mungkin tak terlalu mempermasalahkan perbedaan usia ini, tapi skandal yang memalukan akan lain efeknya. Maka Isadora... wah, kita sudah sampai!"

Tempat tinggal Isadora ternyata salah satu rumah pojok yang terindah di West End. Seorang pelayan pria yang kaku mengambil kartu nama kami, dan kembali sambil mengabarkan bahwa wanita itu tak ada di rumah "Kalau begitu kami akan menunggu sampai dia datang," kata Holmes riang.

Si pelayan meradang. "Tidak ada di rumah berarti tidak mau menemui Anda."

"Kalau dia memang ada," sahut Holmes, "kebetulan! Kita malah tak perlu menunggu. Tolong serahkan surat ini kepada nyonya rumah Anda"

Dia menuliskan beberapa kata di secarik kertas, melipat kertas itu, lalu menyerahkannya kepada si pelayan.

"Apa yang kautulis Holmes?" tanyaku.

"Singkat saja, 'Anda lebih suka menemui polisi?' Kita pasti diizinkan masuk, Watson."

Beberapa menit kemudian kami sudah diantar ke ruangan tamu yang luas dan megah, dengan penerangan yang temaram disertai kilatan lampu merah muda. Walaupun masih cantik, rupanya wanita itu merasa perlu menyembunyikan tanda-tanda mulai meningkatnya usia. Ia bangkit dari sofa tempatnya duduk ketika kami memasuki ruangan. Matanya menyala-nyala penuh kebencian.

"Apa maksud Anda memaksa masuk kemari, dan surat yang penuh penghinaan ini?" tanyanya sambil memegang surat dari sahabatku itu.

"Saya tak perlu menjelasKan, Madame, karena saya percaya Anda cukup cerdas untuk menyimpulkannya sendiri. Sayang Anda agak gegabah belakangan ini."

"Maksud Anda?"

"Anda mempekerjakan tukang-tukang pukul untuk menakut-nakuti saya. Apakah tak terpikir oleh Anda bahwa seorang detektif justru tertarik pada bahaya? Ulah Anda sendirilah yang telah mendorong saya untuk menyelidiki kasus pemuda Maberley."

"Saya tak mengerti apa yang sedang Anda bicarakan. Apa hubungan saya dengan para tukang pukul itu?"

Holmes berpaling seolah-olah menyerah.

"Anda ternyata lebih cerdas dari yang saya duga. Permisi!"

"Tunggu! Mau ke mana Anda?"

"Scotland Yard."

Kami belum sampai ke pintu ketika dia menyusul kami dan memegangi lengan Holmes. Sikapnya yang ketus langsung menjadi ramah.

"Silakan duduk, Tuan-tuan. Mari kita bicarakan masalahnya secara baik-baik. Sebaiknya saya berterus terang kepada Anda, Mr. Holmes. Anda seorang gentleman—hati wanita bisa dengan cepat merasakan hal itu. Saya akan menganggap Anda sebagai teman."

"Saya tak berjanji akan membalas keramahan Anda, Madame. Saya bukan petugas hukum, tapi saya selalu menegakkan keadilan sejauh kemampuan saya. Ceritakan semuanya dan saya akan memutuskan apa yang sebaiknya saya lakukan."

"Saya memang bodoh, Mr. Holmes, mencoba menakut-nakuti orang yang gagah berani seperti Anda."

"Yang paling bodoh, Madame, adalah bahwa Anda telah menempatkan diri dalam kekuasaan bandit-bandit yang bisa memeras atau mengkhianati Anda."

"Tidak, tidak! Saya tidak senaif itu. Karena sudah berjanji untuk mengatakan yang sebenarnya, saya ingin mengaku bahwa hanya Stockdale dan istrinya, Susan, yang tahu siapa yang mempekerjakan mereka. Sedangkan mereka... well, bukan untuk pertama kalinya..." Wanita itu tersenyum dan mengangguk genit.

"Saya mengerti. Anda telah beberapa kali menggunakan jasa mereka."

"Mereka seperti anjing pelacak yang bekerja tanpa banyak membuka mulut."

"Anjing jenis itu, cepat atau lambat, akan menggigit tangan orang yang memberinya makan. Mereka akan ditangkap karena perampokan yang baru saja terjadi. Polisi sedang mengejar mereka."

"Mereka memang harus menanggung risikonya. Untuk itulah mereka dibayar. Saya tak tersangkut sama sekali dalam masalah itu."

"Kecuali saya memunculkan nama Anda."

"Tidak, tidak, tak mungkin Anda melakukannya. Anda seorang gentleman, sedangkan ini menyangkut rahasia wanita."

"Pertama-tama, Anda harus mengembalikan naskah itu."

Wanita itu terbahak-bahak dan menuju ke perapian. Terlihat setumpuk abu yang lalu dikoreknya dengan alat pengorek api yang tersedia. "Ini harus saya kembalikan?" tanyanya. Ia tampak begitu memesona dan menggoda sampai aku merasa bahwa dari semua penjahat yang ditangani Holmes, inilah yang paling sulit dihadapinya. Tapi sahabatku sama sekali tak bergeming.

"Tamatlah riwayat Anda," katanya dingin. "Tindakan-tindakan Anda sangat sigap, Madame, tapi kali ini Anda salah besar."

Wanita itu menjatuhkan pengorek api yang dipegangnya. Suaranya bergemerincing.

"Betapa kerasnya Anda!" teriaknya. "Bolehkah saya menjelaskan semuanya?"

"Saya kira saya sudah tahu semuanya"

"Tapi Anda harus melihatnya dari sudut pandang saya, Mr. Holmes—wanita yang bakal kehilangan seluruh cita-citanya pada saat terakhir. Salahkah kalau saya mau melindungi diri?"

"Dosanya bermula dari Anda sendiri."

"Ya, ya! Saya akui hal itu. Douglas pemuda yang menawan, tapi saya tak dapat memasukkan dia dalam rencana masa depan saya. Dia terus-terusan merengek agar saya mau menikah dengannya, padahal dia tak punya uang sepeser pun. Karena saya pernah memberi hati padanya, dia pikir saya tak berhak memutuskan hubungan. Dia jadi keras kepala dan menyebalkan. Akhirnya, saya terpaksa membuatnya mengerti."

"Dengan menyuruh tukang pukul menghajarnya di bawah jendela kamar Anda?"

"Wah, tampaknya Anda tahu semuanya. Memang benar. Barney dan kawan-kawannya menyuruhnya pergi, dan saya akui, mereka sedikit kasar dalam menjalankan tugasnya. Tapi, bayangkan apa yang dilakukan Douglas kemudian. Sulit dipercaya bahwa seorang gentleman bisa berbuat begitu. Dia menulis buku yang menceritakan kisah hidupnya. Tentu saja saya jadi serigala, sedangkan dia dombanya. Walaupun dia memakai nama lain untuk tokoh-tokohnya, semua orang di London pasti tahu kisah siapa itu. Bagaimana pendapat Anda, Mr. Holmes?"

"Well, dia berhak melakukannya."

"Sepertinya dia kerasukan nafsu balas dendam orang Itali. Dia mengirim surat kepada saya dan menyertakan salinan buku itu supaya saya menderita. Naskah aslinya akan dikirimkan kepada penerbit."

"Bagaimana Anda tahu naskah itu belum berada di tangan penerbit?"

"Saya tahu penerbitnya; bukan baru kali ini Douglas menulis novel. Menurut pihak penerbit, mereka belum mendapat kiriman dari Itali. Lalu tiba-tiba Douglas meninggal. Bila naskah itu belum dimusnahkan, saya takkan pernah merasa aman. Naskah itu pastilah berada di antara barang-barangnya yang akan diserahkan ke ibunya. Maka saya lalu mengatur rencana. Susan ditempatkan di rumah itu sebagai pelayan. Saya ingin melaksanakan niat saya secara jujur, Mr. Holmes, sungguh! Itulah sebabnya saya mau membeli rumah itu beserta isinya. Saya bersedia memenuhi berapapun harga yang diminta wanita itu. Saya beralih rencana hanya karena rencana semula ternyata gagal. Nah, Mr. Holmes, walaupun saya akui bahwa saya bertindak agak keras terhadap Douglas, Tuhan tahu betapa menyesalnya saya! Apa lagi yang bisa saya lakukan melihat seluruh masa depan saya di ambang kehancuran?"

Sherlock Holmes mengangkat bahunya.

"Well, well," katanya, "saya rasa perkara ini terpaksa dihentikan sampai di sini. Berapa biaya perjalanan keliling dunia dengan kapal dan hotel kelas satu?"

Wanita itu menatap Holmes dengan heran.

"Lima ribu pound, cukup?"

"Saya kira begitu. Nah, tolong tulis cek sejumlah lima ribu pound untuk Mrs. Maberley. Wanita malang itu perlu pergantian suasana, dan saya rasa layak kalau Anda yang menanggung biayanya. Tapi ingat, Madame," dia menggerak-gerakkan telunjuknya dengan maksud memperingatkan, "berhati-hatilah! Jangan main api kalau tak mau terbakar!"