SUASANA hati Sherlock Holmes pagi itu agak melankolis dan filosofis. Rupanya pembawaannya yang selalu praktis dan waspada pun tak lepas dari reaksi-reaksi seperti itu.

"Kaulihat dia?" tanyanya.

"Maksudmu pria tua yang baru saja keluar?"

"Tepat."

"Ya, aku berpapasan dengannya di pintu."

"Apa pendapatmu tentang dia?"

"Dia lelaki yang sudah putus harapan, tak berarti, dan menyedihkan."

"Betul, Watson. Tak berarti dan menyedihkan. Tapi bukankah kehidupan ini memang tak berarti dan menyedihkan? Bukankah kisah tentang dirinya merupakan contoh sejarah manusia pada umumnya? Kita menggapai-gapai. Kita meraih. Dan apa yang kita dapat akhirnya? Bayang-bayang. Atau lebih buruk lagi... penderitaan."

"Apakah dia klienmu?"

"Mungkin bisa disebut begitu. Dia dikirim oleh Yard. Seperti dokter yang kadang-kadang mengirim pengidap penyakit fatal ke tukang obat jalanan. Mereka berdalih toh si pasien tak dapat lagi disembuhkan, dan apa pun yang terjadi, keadaan si pasien takkan bisa lebih buruk."

"Apa masalahnya?"

Holmes mengambil kartu nama yang agak kotor dari meja. "Josiah Amberley. Menurut pengakuannya, ia pernah punya saham di Brickfall dan Amberley, produsen barang-barang artistik. Kau bisa melihat nama mereka di kaleng cat. Ia berhasil mengumpulkan uang, pensiun pada usia 61, membeli rumah di Lewisham, dan berniat hidup santai setelah seumur hidup membanting tulang. Orang pasti mengira masa depannya telah terjamin."

"Ya, jelas."

Holmes melirik catatan-catatan yang ditulisnya di belakang amplop bekas.

"Pensiun pada tahun 1896, Watson. Awal 1897, ia menikahi wanita yang dua puluh tahun lebih muda—cantik lagi, kalau fotonya tidak berdusta. Tabungan yang cukup, istri, hidup santai—tampaknya jalan di depannya lancar-lancar saja. Namun kenyataannya, dua tahun kemudian, ia sudah menjadi makhluk malang seperti kausaksikan sendiri.

"Tapi apa yang telah terjadi?"

"Kisah lama, Watson. Teman yang tidak setia dan istri yang berkhianat. Rupanya satu-satunya hobi Amberley adalah bermain catur dan tak jauh dari rumahnya tinggal seorang dokter muda yang gemar bermain catur. Namanya kucatat di sini—Dr. Ray Ernest. Si dokter sering berkunjung ke rumah mereka, dan keintiman di antara dirinya dan Mrs. Amberley merupakan sesuatu yang wajar, karena harus kita akui penampilan suaminya sama sekali tidak menarik. Pasangan itu melarikan diri bersama-sama minggu lalu—tempat tujuannya tak diketahui. Yang lebih menyedihkan, istri yang tidak setia itu membawa kabur kotak tabungan berisi sebagian besar milik Mr. Amberley. Dapatkah kita melacak si istri? Dapatkah kita mendapatkan kembali uangnya? Masalah yang biasa-biasa saja, namun sangat penting bagi Josiah Amberley."

"Jadi apa rencanamu?"

"Well, pertanyaannya, Watson, mestinya, 'Apa rencanamu?'—kalau kau mau berbaik hati mewakiliku. Kau tahu aku saat ini masih sibuk menangani kasus Coptic Patriach. Aku betul-betul tak sempat pergi ke Lewisham, padahal penting sekali bagi kita untuk mencari bukti di tempat kejadian. Si tua itu menuntut kehadiranku, tapi setelah kujelaskan situasinya, dia bersedia menerima pengganti."

"Tentu saja aku bersedia," jawabku. "Terus terang aku tak yakin dapat melakukan banyak, tapi aku akan berusaha semampuku."

Maka siang itu aku pun berangkat ke Lewisham. Sama sekali tak terpikir olehku bahwa seminggu kemudian urusan yang sedang kuselidiki itu menjadi bahan perdebatan di seluruh Inggris.

Larut malam baru aku kembali ke Baker Street dan melaporkan hasil perjalananku. Holmes menenggelamkan diri di kursi malas, asap mengepul dari pipa yang diisapnya, sementara matanya terpejam. Kukira dia tidur, tapi ketika kisahku sampai pada bagian-bagian yang kurang jelas baginya, dia setengah membuka matanya dan menyorotkan pandangannya yang tajam kepadaku.

"Haven adalah nama rumah Mr. Josiah Amberley," jelasku. "Kupikir rumah itu akan menarik perhatianmu, Holmes. Tempat itu bak bangsawan kikir yang telah merendahkan derajatnya sendiri dan mengikuti gaya hidup kaum jelata. Lokasinya pasti tak asing bagimu, jalan-jalan batu yang monoton, jalan-jalan besar yang membosankan. Tepat di tengahnya, di pulau kecil yang menyisakan budaya dan kejayaan masa lalu, dikelilingi dinding-dinding berlumut yang sudah kusam didera matahari..."

"Tak perlu berpuisi, Watson," tegur Holmes keras. "Katakan saja dindingnya tinggi dan terbuat dari batu."

"Tepat. Aku takkan tahu yang mana Haven kalau aku tidak menanyakannya pada pejalan kaki yang sedang merokok. Orang itu kusebut-sebut karena alasan tertentu. Dia tinggi, berkulit gelap, dan berkumis lebat. Penampilannya mirip tentara. Ia mengangguk ketika kutanya, dan memandangku dengan sorot mata aneh yang baru kemudian kuingat kembali.

"Aku baru mau memasuki gerbang ketika kulihat Mr. Amberley berjalan ke arahku. Tadi pagi aku hanya sempat melihatnya sekilas, namun kesannya jelas aneh. Tapi ketika kulihat dia di bawah sinar matahari yang terang benderang, penampilannya tampak makin abnormal."

"Aku memang telah memperhatikannya, tapi aku ingin mendengar pendapatmu," ujar Holmes.

"Dia seperti orang yang keberatan menanggung beban. Punggungnya melengkung seakan-akan dia sungguh-sungguh memikul beban. Tapi ternyata dia tidak selemah yang kukira, karena pundak dan dadanya cukup kekar, meski tubuhnya ditopang sepasang kaki kurus."

"Sepatu kirinya berkerut-kerut, yang kanan mulus."

"Itu tak kuperhatikan."

"Aku yakin tidak. Aku sempat mengamati tungkai palsunya, tapi teruskan ceritamu."

"Yang menurutku perlu dicatat adalah rambut keriting yang mencuat dari topi jeraminya, dan wajahnya yang berkerut-kerut penuh ekspresi."

"Bagus, Watson. Apa katanya?"

"Dia mulai melantunkan kisah sedihnya. Kami menyusuri jalan kereta bersama-sama, dan tentu saja segala sesuatu yang ada di sana tak luput dari pengamatanku. Tempat itu tak terawat. Kebunnya berantakan, seolah tanaman-tanamannya dibiarkan tumbuh sendiri. Aku sungguh tak mengerti bagaimana wanita baik-baik bisa tahan menghadapi keadaan seperti itu. Rumahnya juga jorok, tapi laki-laki malang itu tampaknya sadar dan berusaha memperbaikinya. Di ruang depan kulihat sekaleng besar cat hijau, dan Mr. Amberley sendiri membawa-bawa kuas tebal di tangan kirinya. Ia sedang mengecat dinding-dinding kayu.

"Dia mengajakku ke dalam, dan kami berbincang-bincang lama. Dia kecewa sekali karena kau tak bisa datang. 'Tentu saja saya tak berani berharap detektif kondang seperti Mr. Sherlock Holmes sudi memperhatikan lelaki hina seperti saya, lebih-lebih setelah saya kehilangan hampir seluruh harta saya.'

"Kuyakinkan dia bahwa uang bukan masalah bagimu. 'Ya, saya pernah mendengar bahwa bagi Mr. Sherlock Holmes seni kejahatannyalah yang penting. Barangkali dalam hal ini ada sesuatu yang dapat dipelajarinya. Juga tentang manusia, Dr. Watson, khususnya mereka yang tak tahu terima kasih. Bayangkan, saya selalu mengabulkan keinginan istri saya. Adakah wanita lain yang begitu dimanja? Dan lelaki muda itu—saya memperlakukannya seperti anak sendiri. Dia bebas keluar-masuk rumah saya. Dan begitulah mereka membalas budi baik saya. Oh, Dr. Watson, mengerikan sekali dunia kita ini!'

"Selama satu jam lebih dia terus berkeluh kesah. Tampaknya dia sama sekali tak mencurigai hubungan si istri dengan sahabatnya. Mereka tinggal berdua saja, hanya ada pembantu yang bekerja paro waktu. Malam itu, si tua Amberley bermaksud menyenangkan istrinya. Ia membeli dua tiket kelas satu pertunjukan di Haymarket Theatre. Pada saat terakhir si istri mengeluh sakit kepala dan membatalkan kepergiannya. Mr. Amberley akhirnya pergi sendiri. Rasanya fakta ini tak perlu dipertanyakan, karena karcis istrinya yang tak jadi digunakan ditunjukkannya padaku."

"Luar biasa... bagus sekali," komentar Holmes, minatnya semakin besar. "Lanjutkan, Watson, ceritamu sangat memukau. Apakah kau sempat memeriksa tiket itu? Kau catat nomornya?"

"Kebetulan nomornya kuingat, karena persis sama dengan nomor sekolahku dulu. Tiga puluh satu," sahutku bangga.

"Hebat, Watson! Kalau begitu tempat duduk Amberley mestinya nomor 30 atau 32."

"Betul," jawabku sedikit misterius. "Baris B."

"Ini betul-betul memuaskan. Apa lagi yang dikatakannya kepadamu?"

"Dia menunjukkan ruangan tempat dia menyimpan harta bendanya. Benar-benar seperti di bank, Holmes, lengkap dengan pintu besi dan terali. Antimaling, katanya. Tapi istrinya rupanya punya kunci duplikat, dan berhasil membawa lari uang tunai dan obligasi senilai tujuh ribu pound."

"Obligasi! Bagaimana mereka bisa menjualnya?"

"Mr. Amberley mengatakan daftarnya telah diserahkannya ke polisi, dan ia berharap obligasi-obligasi itu tak dapat dijual. Ia kembali dari teater sekitar tengah malam, dan ternyata hartanya telah lenyap, pintu dan jendela terbuka sementara istrinya tak tampak batang hidungnya. Tak ada surat atau pesan, dan sejauh ini ia belum mendengar kabar sama sekali. Ia langsung melapor ke polisi."

Selama beberapa menit Holmes tepekur.

"Katamu dia sedang mengecat. Apa yang dicatnya?"

"Lorong. Tapi dia telah mengecat pintu dan kusen-kusen ruangan yang tadi kusebutkan."

"Apakah menurutmu tindakannya tidak aneh mengingat dia baru tertimpa musibah?"

"'Orang harus melakukan sesuatu untuk menghibur diri,' itu penjelasan yang diberikannya. Memang eksentrik, tapi orangnya kan juga begitu. Dia merobek-robek foto istrinya di depanku—merobek-robeknya dengan ganas dan bernafsu. 'Aku tak ingin melihat wajah sialannya lagi!' pekiknya."

"Ada informasi lain, Watson?"

"Ya, hal yang meninggalkan kesan mendalam di benakku. Ketika aku sampai di Stasiun Blackheath dan sudah naik ke kereta, seorang laki-laki tiba-tiba melompat ke gerbong sebelahku. Kau tahu aku mudah mengingat wajah, Holmes. Tak pelak lagi orang itu adalah lelaki tinggi berkulit gelap yang kusapa di jalanan. Aku melihatnya sekali lagi di London Bridge, setelah itu ia membaur di antara orang banyak. Tapi aku yakin ia membuntutiku."

"Jelas! Tak diragukan lagi!" seru Holmes. "Katamu perawakannya tinggi, kumisnya lebat, dan kulitnya gelap? Pasti ia memakai kacamata hitam."

"Holmes! Bagaimana kau bisa tahu? Dia memang memakai kacamata hitam."

"Dan jepit dasi Masonic?"

"Holmes!"

"Tidak sulit menarik kesimpulan seperti itu, Watson. Tapi sudahlah, mari kita kembali ke kasus ini. Harus kuakui kasus sederhana yang nyaris tak menarik perhatianku ini ternyata menjanjikan aspek-aspek lain. Hal-hal penting memang luput dari pengamatanmu, tapi laporanmu memberiku bahan pemikiran yang serius."

"Apa yang luput dari perhatianku?"

"Jangan tersinggung, kawan. Aku tak bermaksud mengkritikmu. Orang lain mungkin malah lebih parah. Tapi jelas kau belum mengecek poin-poin penting. Bagaimana pandangan para tetangga tentang Amberley dan istrinya? Bagaimana pandangan mereka tentang Dr. Ernest? Apakah si dokter tipe perayu? Kau sebetulnya punya banyak kelebihan, Watson, dan kau bisa mengorek informasi dari lawan jenismu. Gadis yang bekerja di kantor pos, misalnya, atau istri tukang sayur. Bisa kubayangkan kau bergunjing dengan wanita muda di Blue Anchor, dan memperoleh masukan yang berharga. Sayangnya semua ini tak kaulakukan."

"Aku masih bisa melakukannya."

"Tak perlu, semua telah kulakukan sendiri. Berkat telepon dan bantuan Yard, aku dapat memperoleh semua yang kubutuhkan tanpa beranjak dari sini. Informasi yang kuterima ternyata menegaskan cerita Amberley. Di lingkungannya ia dikenal sebagai pecundang dan suami yang galak. Benar bahwa ia menyimpan banyak uang di ruang khususnya itu. Begitu pula ceritanya tentang lawan bermain caturnya, Dr. Ernest, lelaki lajang yang kemungkinan besar menjalin hubungan dengan istrinya. Semua jelas, seakan tak perlu dipertanyakan lagi, tapi... tapi!"

"Di mana letak kesulitannya?"

"Dalam imajinasiku, mungkin. Cukup sampai di sini, Watson. Sudah waktunya kita mencari selingan dan mendengarkan musik. Bagaimana kalau kita makan malam lalu menikmati nyanyian Carina di Albert Hall?"

Keesokan harinya aku bangun pagi-pagi, namun Holmes rupanya bangun lebih awal lagi. Di meja kulihat remah-remah roti dan kulit telur, serta surat pendek yang ditujukan padaku.
Watson yang baik,
Ada satu-dua hal yang perlu kutanyakan pada Mr. Josiah Amberley. Setelah itu kita dapat memutuskan akan melanjutkan penyelidikan atau tidak. Aku mungkin membutuhkan bantuanmu, jadi bersiap-siaplah sekitar pukul 15.00.
S.H.
Sepanjang hari itu aku tak melihat Holmes, tapi pada jam yang telah disebutkannya ia kembali. Wajahnya murung dan serius, sikapnya dingin. Dari pengalaman aku tahu, lebih baik ia dibiarkan sendiri bila suasana hatinya begitu.

"Amberley sudah datang?"

"Belum."

"Ah! Aku mengharapkan kedatangannya."

Holmes tak perlu kecewa, karena tak lama kemudian lelaki tua itu muncul, dengan tampang cemas dan bingung.

"Saya baru saja menerima telegram, Mr. Holmes. Saya sungguh tak mengerti." Diserahkannya telegram itu dan Holmes membacanya keras-keras.
Datanglah segera, penting! Bisa memberimu informasi tentang hartamu yang hilang.
Elman
Pastori
"Dikirim dari Little Purlington pukul 14.10," kata Holmes. "Kurasa Little Partington terletak di Essex, tak jauh dari Frinton. Sebaiknya Anda langsung berangkat, Mr. Amberley. Telegram ini jelas dikirim oleh orang yang dapat dipercaya, pendeta. Mana buku alamatku? Ya, ini dia, 'J.C. Elman, M.A.' Beralamat di Moosmoor, Little Purlington. Lihat jadwal kereta api, Watson."

"Ada kereta yang akan berangkat dari Liverpool Street, pukul 17.20."

"Bagus. Ada baiknya kau menemani klien kita, Watson, barangkali saja dia perlu bantuan atau nasehat. Jelas urusan ini telah mencapai tahap kritis."

Tapi Mr. Amberley tampaknya segan pergi.

"Semua ini tak masuk akal, Mr. Holmes," katanya. "Apa gerangan yang diketahui orang itu tentang musibah yang telah menimpa saya? Ini pemborosan waktu dan uang."

"Dia takkan mengirim telegram kalau dia tak punya informasi. Balaslah telegramnya dan katakan Anda akan datang."

"Saya tak mau pergi."

Holmes memasang tampang seram.

"Sikap Anda akan meninggalkan kesan negatif pada polisi dan pada saya sendiri, Mr. Amberley. Ada petunjuk yang begitu jelas dan Anda tak mau mengikutinya. Jangan-jangan Anda tidak sungguh-sungguh berniat menuntaskan kasus ini?"

Klien kami tampak ketakutan.

"Tentu saja saya bersedia pergi kalau Anda melihatnya dari sudut itu. Tampaknya tak masuk akal bahwa pendeta ini punya informasi, tapi kalau menurut Anda..."

"Menurut saya itu perlu," tegas Holmes, dan perintahnya segera dijalankan.

Sebelum pergi, Holmes sempat memberiku petunjuk, yang menunjukkan bahwa masalah ini dianggapnya penting. "Ingat, kau harus mengatur agar dia benar-benar pergi. Seandainya ia melarikan diri atau pulang ke rumahnya, pergilah ke telepon umum terdekat dan hubungi tempat ini. Kau hanya perlu mengucapkan satu kata 'Kabur'. Akan kuatur agar berita itu kuterima di mana pun aku berada."

Little Purlington bukan tempat yang mudah dicapai, karena letaknya di persimpangan, dan perjalanan kami benar-benar tidak menyenangkan.

Cuacanya panas, keretanya lambat, dan orang yang kutemani terus menutup mulut dengan wajah cemberut. Hanya kadang-kadang ia melontarkan komentar-komentar sinis tentang kepergian kami yang katanya pasti sia-sia. Ketika akhirnya kami sampai di stasiun kecil yang kami tuju, kami masih harus naik kereta kira-kira sejauh dua mil untuk mencapai pastori. Seorang pendeta berperawakan besar dan berwajah serius yang sikapnya agak angkuh menerima kami di ruang bacanya. Telegram kami tergelar di hadapannya.

"Nah, Tuan-tuan," ujarnya, "apa yang dapat saya bantu?"

"Kami datang," aku menjelaskan, "sebagai tanggapan atas telegram Anda."

"Telegram saya! Saya tidak mengirim telegram."

"Maksud saya telegram yang Anda tujukan kepada Mr. Josiah Amberley tentang istri dan uangnya yang hilang."

"Ini lelucon yang tidak lucu," kata pendeta itu marah. "Saya tak pernah mendengar nama yang Anda sebutkan, dan saya tidak mengirim telegram kepada siapa pun."

Aku dan klien kami berpandangan dengan heran.

"Barangkali telah terjadi kekeliruan," kataku, "barangkali di sini ada dua pastori? Ini telegramnya, yang ditandatangani oleh Elman dan beralamat di pastori."

"Di sini hanya ada satu pastori, Sir, dan cuma satu pendeta. Telegram ini jelas palsu, saya akan minta polisi mengusutnya. Dan saya rasa tak ada perlunya kita memperpanjang pembicaraan ini."

Maka aku dan Mr. Amberley tercampak di jalan, di desa yang rasanya paling terbelakang di Inggris. Kami pergi ke kantor telegram, namun kantornya sudah tutup. Namun di Railway Arms— penginapan kecil dekat stasiun, terdapat pesawat telepon. Aku langsung menghubungi Holmes, yang kedengarannya juga ikut bingung.

"Aneh sekali!" katanya dari jauh. "Sungguh luar biasa. Aku kuatir, sobatku Watson, tak ada kereta yang menuju London malam ini. Kalian terpaksa bermalam di penginapan desa yang kumuh. Tapi kau justru mendapat kesempatan untuk dekat dengan alam, Watson, belum lagi ditambah dengan Josiah Amberley. Kau dapat menjalin keakraban dengan mereka." Sempat kudengar gelaknya saat ia memutuskan hubungan.

Segera jelas bagiku bahwa julukan si kikir memang pantas disandang teman seperjalananku. Sebelumnya ia telah menggerutu karena biaya perjalanan yang dianggapnya terlalu tinggi, padahal kami naik kereta kelas tiga, dan kini ia mencak-mencak karena harus membayar biaya penginapan.

Keesokan harinya ketika akhirnya kami tiba di Baker Street, emosi kami sama sama hampir meledak.

"Lebih baik Anda mampir di Baker Street," saranku. "Barangkali ada petunjuk yang mau disampaikan Mr. Holmes."

"Tak ada gunanya, kalau petunjuknya ternyata tak lebih baik dari yang lalu," sahut Amberley kesal. Tapi ia mau juga menuruti saranku. Aku sudah mengirim telegram kepada Holmes mengabarkan jam kedatangan kami, tapi ketika kami tiba di tempat tinggalnya, kami diberitahu bahwa ia sudah pergi ke Lewisham dan menunggu kami di sana. Kejutan yang lebih besar menanti kami karena ternyata ia tidak sendirian. Di ruang duduk Mr. Amberley ada orang lain, yaitu lelaki berkulit gelap yang memakai kacamata hitam dan jepit dasi Masonic.

"Ini teman saya, Mr. Barker," Holmes memperkenalkan. "Dia juga menaruh minat pada kasus Anda, Mr. Josiah Amberley, meski kami bekerja sendiri-sendiri. Dan kami berdua ingin mengajukan pertanyaan yang sama pada Anda!"

Mr. Amberley menjatuhkan diri di tempat duduk. Ia mulai merasa terancam. Aku dapat membaca reaksinya dari matanya yang menyipit dan urat-uratnya yang berkedut-kedut.

"Apa pertanyaannya, Mr. Holmes?"

"Hanya ini: Anda apakan mayat mereka?"

Lelaki tua itu terlonjak sambil memekik serak. Tangannya yang kurus mencakar-cakar udara, mulutnya membuka, mirip burung pemakan bangkai. Dalam sekejap kedoknya terbuka dan kami dapat melihat dirinya yang sebenarnya—lelaki iblis yang jiwanya sama rusaknya seperti tubuhnya. Ia terperenyak kembali di kursi, lalu membekap mulutnya seolah-olah menahan batuk. Seperti singa Holmes langsung mencengkeram tenggorokan buruannya dan membalikkan mukanya. Sebutir pil putih jatuh dari sela-sela bibir Amberley.

"Tak ada jalan pintas, Josiah Amberley. Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Bagaimana, Barker?"

"Kereta saya menunggu di depan," ujar rekan kami yang tak banyak bicara itu.

"Kantor polisi hanya beberapa ratus meter dari sini. Kita akan pergi bersama-sama. Kau tak usah, Watson, aku akan kembali setengah jam lagi."

Pensiunan pengusaha cat tua bertubuh cacat itu ternyata sangat kuat, namun ia tak berdaya melawan kedua detektif yang sudah berpengalaman meringkus penjahat. Masih sambil meronta-ronta dan menggeliat-geliut, ia diseret ke kereta yang sudah menunggu, sementara aku tinggal seorang diri di rumah yang mengerikan itu. Namun belum sampai setengah jam kemudian Holmes sudah kembali, bersama inspektur muda yang tampaknya cerdas.

"Barker yang mengurus segala macam formalitas di kantor polisi," jelas Holmes. "Kau belum tahu siapa dia, bukan? Dia sainganku di pantai Surrey. Waktu kau menyebut-nyebut lelaki tinggi berkulit gelap, tak sulit bagiku untuk menyempurnakan gambarannya. Dia telah berhasil menangani beberapa kasus pelik, bukan begitu, Inspektur?"

"Jelas dia telah beberapa kali ikut campur dalam urusan polisi," sahut inspektur itu mencoba mengelak.

"Harus diakui bahwa cara kerjanya tak sesuai prosedur, seperti saya juga. Tapi kalau mau berhasil justru harus begitu. Anda misalnya, mana mungkin mengorek pengakuan dari Amberley kalau ia tahu semua yang dikatakannya bisa dibawa ke meja hijau!"

"Barangkali tidak. Tapi kesimpulan akhirnya kan sama. Jangan kira kami belum punya pendapat tentang kasus ini. Terns terang kami agak sakit hati karena Anda dengan seenaknya ikut campur dan menggunakan metode-metode yang tabu bagi kami, lalu mencari pujian."

"Saya tidak mencari pujian, MacKinnon. Nama saya sama sekali tak perlu dimunculkan. Sedang mengenai Barker, ia belum melakukan apa-apa kecuali yang saya perintahkan."

Inspektur itu tampak sangat lega.

"Anda sangat murah hati, Mr. Holmes. Pujian atau cacian tak ada bedanya bagi Anda, tapi bagi kami sangat penting, terutama ketika surat-surat kabar mulai bercuap-cuap."

"Benar. Supaya Anda siap kalau mereka melempar pertanyaan, bagaimana kalau saya berikan contoh. Apa jawab Anda, misalnya, kalau seorang wartawan yang cerdik bertanya bagian mana yang menimbulkan kecurigaan Anda, dan akhirnya meyakinkan Anda akan fakta-faktanya?"

Inspektur itu kelihatan bingung

"Kita kan belum menemukan fakta-faktanya, Mr. Holmes. Anda cuma bilang bahwa tersangka, di depan tiga saksi, mencoba bunuh diri dan secara tidak langsung mengakui dialah pembunuh istri dan kekasih istrinya. Fakta apa lagi yang Anda miliki?"

"Anda sudah mengatur penggeledahan?"

"Tiga anak buah saya dalam perjalanan kemari."

"Kalau begitu Anda akan segera memperoleh fakta yang tak dapat diragukan lagi. Mayat-mayat itu tak mungkin disembunyikannya jauh-jauh. Periksalah gudang bawah tanah dan kebun. Pasti tidak sulit menggali tempat-tempat yang kira-kira memungkinkan. Rumah ini lebih tua dari pipa-pipa airnya. Di suatu tempat pasti terdapat sumur yang tak terpakai lagi. Periksalah juga itu."

"Tapi bagaimana Anda bisa tahu itu, dan bagaimana dia melakukannya?"

"Pertama-tama akan saya tunjukkan cara pembunuhannya, baru setelah itu saya akan memberikan penjelasan kepada Anda, dan terutama kepada kawan saya yang sangat sabar ini, yang jasanya sangat besar dalam membongkar kejahatan ini. Namun sebelumnya saya mungkin perlu memberikan gambaran tentang keadaan jiwa Amberley. Jiwanya betul-betul terganggu, sehingga saya kira ia lebih cocok dikurung di rumah sakit jiwa daripada di penjara. Pikirannya lebih mirip pikiran orang Italia abad pertengahan dibandingkan dengan orang Inggris modern. Lelaki ini begitu kikir dan kejam, sehingga tak heran kalau istrinya tergoda untuk berselingkuh. Dan kebetulan teman selingkuhnya adalah lawan main Amberley. Orang tua ini mahir bermain catur, berarti otaknya terbiasa mengatur strategi, Watson. Seperti umumnya orang yang tercampak ia cemburu, dan cemburunya sudah melampaui akal sehat. Entah dia benar atau tidak, dia curiga istrinya mengatur intrik. Ia bertekad menuntut balas, dan itu direncanakannya dengan sangat cerdik. Ayo!"

Holmes mendahului kami berjalan di lorong. Langkah-langkahnya mantap seakan itu rumahnya sendiri. Ia berhenti di depan ruang harta yang terbuka.

"Aduh! Bau catnya menusuk!" seru Inspektur.

"Inilah petunjuk yang pertama," kata Holmes. "Kita harus berterima kasih kepada Dr. Watson yang telah menyebut-nyebut masalah ini, meski apa yang terdapat di baliknya tak tertangkap olehnya. Soal cat ini yang menimbulkan kecurigaan saya. Mengapa setelah istrinya minggat si tua itu justru memenuhi rumahnya dengan bau cat yang menyengat? Jelas untuk menutupi bau-bauan lain—bau-bauan yang akan menimbulkan kecurigaan. Lalu dalam bayangan saya muncul gambaran tentang ruangan ini—ruangan yang tertutup rapat. Kalau dua fakta itu kita gabungkan, apa yang kita peroleh? Saya hanya bisa mendapat jawaban yang pasti jika saya sudah memeriksa sendiri rumah ini. Saya sudah yakin kasus ini serius, karena saya sudah mengecek alibi Amberley. Ia mengatakan kepada Dr. Watson bahwa malam itu ia menonton pertunjukan di Haymarket Theatre, tapi ternyata kursi nomor B 30 maupun 32—tempat-tempat duduk di samping kursi istrinya—kosong. Berarti malam itu ia tidak pergi ke teater dan alibinya runtuh. Si cerdik ini memang agak lalai, ia menunjukkan karcis istrinya kepada teman saya yang bermata jeli. Pertanyaannya sekarang, bagaimana saya bisa mendapat kesempatan untuk mengecek keadaan rumahnya? Amberley saya kirim jauh-jauh—ke desa terpencil—dan waktunya saya atur sedemikian rupa sehingga ia tak bisa pulang. Agar semuanya lancar, Dr. Watson saya utus untuk menemaninya. Nama si pendeta, tentu saja, saya ambil dari buku alamat. Apakah semuanya jelas sampai di sini?"

"Luar biasa" komentar Inspektur terkagum-kagum.

"Setelah memastikan kegiatan saya takkan terganggu, saya mulai bersiap-siap menyusup ke rumahnya. Menyusup memang keahlian saya, dan kalau suatu saat saya beralih profesi menjadi maling, saya rasa saya akan jadi yang nomor satu. Perhatikan apa yang saya temukan. Anda lihat pipa gas di sepanjang lantai, yang naik sedikit di sudut dinding, dan putarannya di pojok. Seperti Anda lihat, pipa ini diteruskan sampai ke 'ruang harta', dan berakhir di tengah langit-langit. Plesterannya tersembunyi di balik hiasan itu. Ujung pipa gas terbuka lebar-lebar. Jadi, ruangan itu bisa penuh gas kalau keran yang di luar diputar. Bila pintu dan semua jendela terkunci, dalam dua menit saja orang yang terkurung di ruang sempit itu akan menemui ajalnya Saya tak tahu dengan cara apa ia memancing mereka ke ruangan itu, tapi begitu berada di dalam, nasib mereka ada di tangannya."

Inspektur memeriksa pipa itu dengan penuh minat. "Salah satu anak buah saya memang mencium bau gas," katanya, "tapi tentu saja waktu itu jendela sudah dibuka dan bau cat sudah mulai menyebar. Menurut pengakuannya, sehari sebelumnya ia telah mulai mengecat. Tapi bagaimana selanjutnya, Mr. Holmes?"

"Tiba-tiba terjadi sesuatu yang agak tak terduga. Ketika saya sedang menyelinap keluar dari jendela dapur, kerah baju saya ditarik dan terdengar suara, 'Apa yang kaubuat di sini, bajingan?' Saya memutar kepala dan ternyata berhadapan dengan Mr. Barker, saingan saya. Pertemuan tak terduga itu membuat kami sama-sama tersenyum. Rupanya ia disewa keluarga Dr. Ray Ernest, dan mulai mencium sesuatu yang tidak beres. Telah beberapa hari ia mengamati rumah itu, dan salah satu orang yang dicurigainya adalah Dr. Watson. Tentu saja tak ada alasan baginya untuk menangkap Watson, tapi ketika melihat seorang laki-laki memanjat keluar dari jendela dapur, ia langsung bertindak. Saya jelaskan padanya duduk perkaranya dan kami menuntaskan kasus ini bersama-sama."

"Kenapa Anda bekerja sama dengan dia, bukan dengan kami?"

"Karena saya berniat mengadakan tes kecil yang hasilnya ternyata sangat meyakinkan. Saya kuatir polisi tak mau bertindak sejauh itu."

Inspektur tersenyum.

"Well, mungkin tidak. Jadi Anda berjanji, Mr. Holmes, untuk mengundurkan diri dari kasus ini sekarang, dan menyerahkan hasil penyelidikan Anda kepada kami?"

"Tentu saja, itulah kebiasaan saya."

"Yah, atas nama dinas kepolisian, saya menghaturkan terima kasih. Seperti telah Anda paparkan, kasusnya sudah jelas, dan takkan sulit menemukan mayat-mayat itu."

"Akan saya tunjukkan bukti lain yang cukup memberatkan. Saya yakin Amberley sendiri tak pernah memperhatikannya. Kita akan mendapat hasil, Inspektur, kalau kita selalu menempatkan diri dalam posisi orang yang kita selidiki, dan berpikir apa yang akan kita lakukan dalam situasi yang sama. Memang kita perlu menggunakan imajinasi, tapi hasilnya tak bisa dianggap remeh. Nah, andaikan Anda yang terjebak dalam kamar maut ini, hidup Anda tinggal dua menit, tapi Anda ingin membuat perhitungan dengan bajingan yang kemungkinan besar sedang mencemooh Anda dari balik pintu. Apa yang akan Anda lakukan?"

"Menulis pesan terakhir."

"Tepat. Anda ingin menyampaikan kepada semua orang cara kematian Anda. Tak ada gunanya menulis di kertas; itu akan langsung terlihat. Kalau Anda menulis di dinding mungkin ada orang yang akan menghapusnya. Nah, lihat ini. Persis di atas garis lantai terdapat tulisan pensil ungu yang tak dapat dihapus. 'Kami di...' Hanya itu."

"Apa kesimpulan Anda?"

"Well, jaraknya hanya tiga puluh senti dari lantai. Lelaki malang itu berbaring di lantai dalam keadaan sekarat ketika menulisnya. Ia telah menemui ajalnya sebelum sempat menyelesaikan pesannya."

"Dia sebenarnya mau menulis, 'Kami dibunuh.'"

"Begitulah. Kalau Anda menemukan pensil yang tak dapat dihapus pada mayatnya..."

"Anda boleh yakin kami akan mencari benda itu. Tapi bagaimana dengan obligasi? Jelas tak ada pencurian, namun surat-surat berharga itu lenyap padahal sebelumnya dia memilikinya. Kami sudah mengeceknya."

"Saya yakin semua itu disimpannya di tempat yang aman. Setelah kasus minggat pasangan itu tak diributkan lagi, ia akan pura-pura menemukannya dan mengumumkan bahwa pasangan yang berdosa itu menyesali perbuatannya lalu mengirimkan semuanya kembali."

"Anda tampaknya mempunyai jawaban untuk semua pertanyaan," kata Inspektur. "Wajar kalau dia harus melaporkan lenyapnya istrinya ke polisi, tapi mengapa dia mau berkonsultasi dengan Anda, saya sungguh tak mengerti."

"Kesombonganlah yang membuatnya tersandung," sahut Holmes. "Dia merasa begitu cerdas dan yakin akan dirinya sehingga dipikirnya kejahatannya takkan terbongkar. Ia bisa menyombong pada tetangga-tetangga yang mungkin curiga, 'Lihat langkah-langkah yang telah kutempuh. Bukan hanya polisi, Sherlock Holmes pun sudah angkat tangan.'"

Inspektur tertawa.

"Nada bicara Anda tak kalah sombongnya, Mr. Holmes," ujarnya, "tapi saya bisa memakluminya. Hasil kerja Anda patut mendapat acungan jempol."

Dua hari kemudian sahabatku melemparkan majalah dua mingguan North Surrey Observer ke arahku. Di bawah judul-judul berita yang panas, yang dimulai dengan "Horor di Haven" dan diakhiri dengan "Penyidikan Polisi yang Brilian" tertulis laporan lengkap tentang seluruh peristiwa itu. Alinea penutupnya sama menggebu-gebunya. Aku mengutipnya di sini.
Ketajaman Inspektur MacKinnon yang berhasil mendeduksi bau gas di balik bau cat yang menusuk, kesimpulannya yang berani bahwa ruang penyimpanan harta itu juga telah berfungsi sebagai kamar maut dan pemeriksaan berikutnya yang akhirnya membawa Inspektur ke sumur tua tempat tersangka menyembunyikan mayat, akan selamanya di ingat dalam sejarah kejahatan sebagai contoh yang luar biasa tentang kecerdikan hamba-hamba hukum kita.
"Well, well, MacKinnon orang yang baik," komentar Holmes sambil tersenyum maklum. "Kau boleh menyimpan semua catatannya, Watson. Suatu hari kelak, kisah yang sebenarnya boleh kita suguhkan."