MR. SHERLOCK HOLMES selalu berpendapat bahwa aku seharusnya menerbitkan kisah tentang Profesor Presbury, untuk meredam desas-desus yang sekitar dua puluh tahun yang lalu meresahkan universitas dan masyarakat berpendidikan tinggi di London. Namun ada beberapa hambatan untuk mempublikasikan kasus itu, sehingga catatan tentang apa yang sebenarnya terjadi masih tersimpan rapi di kotak timahku. Sekarang kami akhirnya mendapat izin untuk menyebarluaskan fakta-fakta itu, yang merupakan salah satu kasus terakhir Holmes sebelum dia pensiun.

Waktu itu hari Minggu malam di awal September 1903. Aku menerima berita pendek dari Holmes:
Datanglah segera kalau kau sempat—walaupun tak sempat, datanglah segera.
S.H.
Hubungan kami di hari-hari menjelang pensiunnya itu unik sekali. Sahabatku hanya mempunyai kebiasaan-kebiasaan tertentu, dan aku telah menjadi salah satu "kebiasaan"nya, sesuatu yang tak dapat dilepaskan dari kehidupannya. Ibarat benda, aku ini setara dengan biola, tembakau, pipa rokok tua dan buku-buku indeksnya. Kalau menghadapi kasus dan membutuhkan rekan yang bisa dipercayainya, dia langsung mencariku. Tapi aku juga mempunyai manfaat lain. Aku menjadi batu asahan bagi otaknya. Kehadiranku memberinya stimulasi. Dia suka menyuarakan pikiran-pikirannya di depanku. Meskipun sering kali dia seolah-olah berbicara pada dirinya sendiri, rupanya kehadiranku penting baginya. Bahkan cara kerja otakku yang lambat justru membuat intuisi dan daya pikirnya yang bagaikan bara api makin membara. Begitulah peranku dalam kerja sama kami.

Ketika aku tiba di Baker Street, kulihat Holmes sedang melingkar di kursi malas dengan lutut terangkat, pipa rokok bertengger di mulut, dan alis mengerut. Jelas dia sedang menghadapi masalah yang membingungkan. Dia melambaikan tangannya agar aku duduk di kursi malas tua yang biasanya menjadi tempat dudukku. Tapi selama setengah jam berikutnya dia seolah-olah tak menggubris kehadiranku. Kemudian, secara sangat mengejutkan, dia tampaknya tiba-tiba sadar, dan dengan senyum misteriusnya menyambut kedatanganku kembali ke tempat yang dulu kami tempati bersama.

"Maaf kalau aku asyik menerawang, sobatku Watson," katanya. "Ada beberapa fakta unik yang diserahkan kepadaku selama 24 jam terakhir ini, dan fakta-fakfa itu menimbulkan spekulasi yang sifatnya lebih umum. Aku sedang berpikir-pikir, barangkali ada baiknya aku menulis artikel tentang peran anjing dalam penyidikan."

"Tapi, Holmes, bukankah hal itu sudah dilakukan?" kataku. "Banyak yang sudah menulis tentang anjing pelacak."

"Bukan, Watson, bukan tentang itu. Yang kumaksud peran yang lebih rumit, lebih tak kentara. Kau mungkin masih ingat ketika kau menangani kasus yang kauberi judul Petualangan di Copper Beeches. Waktu itu, dengan melihat jalan pikiran sang anak, aku bisa menyimpulkan kebiasaan-kebiasaan buruk ayahnya yang penampilannya sangat terhormat."

"Ya, aku ingat itu."

"Pemikiranku tentang anjing lebih ke arah itu. Anjing menggambarkan kehidupan keluarga pemiliknya. Kau pernah lihat anjing lincah di keluarga yang murung, atau sebaliknya anjing murung di keluarga yang gembira? Orang yang suka menggertak, anjingnya pun pasti galak; orang yang berbahaya pasti punya anjing yang berbahaya. Suasana hati si pemilik akan menular ke anjing peliharaannya."

Aku menggeleng-gelengkan kepala. "Astaga, Holmes, rasanya kesimpulanmu terlalu jauh."

Dia mengisi pipanya lagi dan kembali duduk tanpa menggubris komentarku.

"Bukti praktis ucapanku tadi sangat erat hubungannya dengan masalah yang sedang kutangani. Untuk kau ketahui, kasus ini rumit sekali, dan aku sedang mencari ujungnya yang tak jelas di mana letaknya. Salah satu ujungnya mungkin terletak pada pertanyaan ini: Mengapa Roy, anjing Profesor Presbury, mencoba menggigit tuannya sendiri?"

Aku menjatuhkan punggungku ke tempat duduk dengan kecewa. Hanya untuk pertanyaan sepele begitukah sampai aku diminta datang dan meninggalkan pekerjaanku? Holmes menoleh ke arahku.

"Masih Watson yang dulu!" katanya. "Kau tak pernah sadar bahwa hal-hal yang paling rumit biasanya sangat tergantung pada hal-hal yang paling sepele. Tetapi dari permukaannya saja aneh, bukan, kalau filsuf tua yang tenang dan serius—kau tentunya pernah mendengar tentang Presbury, ahli fisiologi Camford yang termasyhur—yang selalu ditemani anjing setianya, sampai dua kali diserang anjingnya. Bagaimana pendapatmu?"

"Anjingnya sakit."

"Well, itu bisa dipertimbangkan. Tapi dia tak menyerang orang lain, dan penyerangannya dilakukan hanya pada saat-saat tertentu. Unik, Watson—sangat unik. Tapi pemuda bemama Mr. Bennett ini rupanya datang lebih awal, kalau benar dia yang membunyikan bel. Aku sebetulnya berharap bisa berbincang-bincang lebih lama dulu denganmu."

Terdengar langkah-langkah sigap di tangga, lalu ketukan keras di pintu, dan sekejap kemudian klien baru kami memasuki ruangan. Orangnya jangkung, tampan, umurnya sekitar tiga puluh, pakaiannya bagus dan necis. Namun, pembawaannya masih malu-malu. Dia lebih mirip mahasiswa daripada lelaki dewasa. Dia menjabat tangan Holmes, lalu menatapku dengan terkejut.

"Masalah ini sangat peka, Mr. Holmes," katanya. "Tolong pertimbangkan hubungan saya dengan Profesor Presbury, baik secara pribadi maupun secara pekerjaan. Saya benar-benar keberatan kalau harus bicara di depan orang ketiga."

"Jangan takut, Mr. Bennet. Dr. Watson bisa dipercaya, dan saya harus mengakui bahwa dalam menangani kasus ini, saya membutuhkan asisten."

"Terserah Anda, Mr. Holmes. Saya yakin Anda bisa mengerti kenapa saya sangat berhati-hati dalam kasus ini."

"Kau perlu tahu, Watson, klien kita ini, Mr. Trevor Bennett, adalah asisten ilmuwan besar yang kusebut-sebut tadi. Dia tinggal bersamanya, dan sudah bertunangan dengan putri tunggal Profesor Presbury. Jelas kita sepakat bahwa Profesor berhak mendapatkan kesetiaan dan rasa hormat Mr. Bennet, namun justru karena itulah kita perlu mengambil langkah untuk menyibakkan misteri ini."

"Demikianlah harapan saya, Mr. Holmes, satu-satunya keinginan saya. Apakah Dr. Watson sudah mengerti situasinya?"

"Saya belum sempat menjelaskannya."

"Kalau begitu mungkin sebaiknya saya ulangi dari awal sebelum menambahkan beberapa perkembangan baru."

"Biar saya yang melakukan itu," kata Holmes, "untuk menunjukkan bahwa saya mengerti benar urutan peristiwanya. Profesor Presbury, Watson, tersohor di seluruh Eropa. Hidupnya dibaktikannya untuk pendidikan. Dia tak pernah terlibat skandal apa pun. Dia duda dengan anak perempuan bernama Edith. Setahuku, dia pria yang jantan dan tegas, bisa dikatakan selalu siap siaga. Begitulah keadaannya sampai beberapa bulan terakhir ini.

"Lalu gaya hidupnya berubah. Dia sudah berusia enam puluh satu, namun dia bertunangan dengan gadis muda, putri Profesor Morphy, koleganya. Tidak seperti orang-orang seumurnya, dia benar-benar dipenuhi gelora asmara dan tergila-gila pada gadis itu. Tunangannya, Alice Morphy, memang gadis yang sempurna, baik fisik maupun mental, sehingga bisa dimengerti kalau Profesor terpikat padanya. Tetapi keluarga Profesor tak begitu menyetujui pertunangan ini."

"Kami merasa hubungan mereka agak keterlaluan," kata tamu kami.

"Tepat. Keterlaluan dan kurang wajar. Tapi Profesor Presbury sangat kaya, sehingga tak ada keberatan dari pihak ayah sang gadis. Gadis itu sendiri ternyata diincar beberapa pria lain yang walaupun tak sekaya Profesor, jelas lebih muda. Gadis itu tampaknya menyukai Profesor meski dia agak eksentrik. Hanya perbedaan usialah yang masih mengganjal pikirannya.

"Kira-kira pada waktu itulah muncul misteri yang mengganggu keteraturan hidup Profesor. Dia melakukan sesuatu yang tak pernah dilakukannya sebelumnya. Dia meninggalkan rumah dan tak memberitahukan ke mana dia pergi. Dia pergi selama dua minggu dan pulang dalam keadaan sangat lelah. Dia tak menjelaskan ke mana dia selama ini, padahal biasanya dia sangat terbuka. Tapi, secara kebetulan, klien kita Mr. Bennett menerima surat dari bekas teman kuliahnya yang tinggal di Prague. Dalam surat itu dia menyebutkan bahwa dia senang telah bertemu dengan Profesor Presbury di Praha, walaupun dia tak sempat mengobrol dengannya. Karena itulah keluarga Profesor jadi tahu ke mana dia pergi.

"Sekarang bagian terpentingnya. Sejak saat itu terjadi perubahan yang mencolok atas diri Profesor. Dia jadi suka menghindar dan penuh rahasia. Orang-orang di sekelilingnya merasakan benar perubahannya, seolah-olah sisi baik dirinya telah diselubungi kegelapan. Kecerdasannya memang tak terpengaruh. Kuliah-kuliahnya masih sehebat sebelumnya. Tapi toh ada sesuatu yang tak biasa, sesuatu yang aneh dan sama sekali tak terduga. Putrinya, yang sangat mengasihinya, berkali kali mencoba mendekatinya, dan melucuti 'topeng' yang seolah dikenakannya. Anda pun, Sir, setahu saya telah melakukan hal serupa—tapi semuanya sia-sia belaka. Dan sekarang, Mr. Bennet, tolong ceritakan kejadian sehubungan dengan surat-surat itu."

"Anda harus tahu, Dr. Watson, Profesor tak pernah merahasiakan apa pun terhadap saya. Dia percaya penuh pada saya, seakan saya putra atau adiknya sendiri. Sebagai sekretarisnya, saya menangani semua surat masuk, termasuk membukanya dan membagi-bagi menurut kepentingannya. Tak lama setelah dia kembali dari aksi menghilangnya, semua ini diubahnya. Dia mengatakan mungkin akan ada surat untuknya yang dikirim dari London dan diberi tanda silang di bawah prangko. Surat-surat semacam itu harus disisihkan, dan hanya dia yang boleh membukanya. Ternyata memang ada beberapa surat seperti itu, bertanda E.C., dan alamatnya ditulis dengan tulisan tangan yang nyaris tak terbaca. Saya tak tahu apakah dia membalas urat surat itu atau tidak, karena saya tak pernah menemukan balasannya di keranjang tempat dia biasa menaruh surat-surat yang harus diposkan."

"Sekarang mengenai kotak itu," ujar Holmes.

"Ah, ya, kotak itu. Profesor membawa pulang kotak kayu kecil, yang menunjukkan dia telah bepergian ke Eropa, karena kotak itu khas ukiran Jerman. Dia menaruh kotak ini di lemari perlengkapannya. Pada suatu hari, ketika saya sedang mencari-cari sesuatu di lemarinya, kotak itu terangkat oleh saya. Saya terkejut sekali karena Profesor marah besar karenanya, dan mengata-ngatai saya. Saya jadi penasaran. Baru sekali itulah dia marah-marah kepada saya, dan saya sangat terpukul. Saya mencoba menjelaskan bahwa saya tak sengaja mengangkat kotak itu, tapi sepanjang malam itu saya tahu dia terus menatap saya dengan sangat marah dan kejadian itu masih memenuhi pikirannya." Mr. Bennet mengeluarkan buku harian kecil dari sakunya.

"Itu terjadi pada tanggal 2 Juli," katanya.

"Anda benar-benar saksi yang patut dipuji," kata Holmes. "Saya mungkin memerlukan beberapa tanggal yang Anda catat."

"Saya belajar banyak dari dosen yang hebat itu, termasuk cara kerja yang efektif. Sejak saya menyadari kelakuannya yang aneh, saya merasa perlu mempelajari kasusnya. Maka saya catat di sini, pada hari yang sama itulah, tanggal 2 Juli, Roy menyerang Profesor ketika dia keluar dari kamar belajarnya menuju ruang tengah. Lalu, pada tanggal 11 Juli, penyerangan terjadi lagi; kemudian tanggal 20 Juli. Setelah itu Roy terpaksa diikat di kandang. Roy sebenarnya anjing yang sangat manis dan penyayang, tapi... wah, jangan-jangan Anda sudah capek mendengarkan saya."

Mr. Bennett agak terganggu karena jelas Holmes tak mendengarkan penuturannya. Wajahnya tegang, dan matanya menerawang ke langit-langit. Dengan susah payah dia berusaha kembali ke alam nyata.

"Unik! Sangat unik!" gumamnya. "Detail-detail yang Anda sampaikan benar-benar baru bagi saya, Mr. Bennett. Saya rasa cukup sudah kita mengulang yang terdahulu. Bagaimana perkembangan selanjutnya?"

Wajah tampan tamu kami menjadi muram. "Apa yang saya kisahkan ini terjadi kemarin dulu," katanya. "Waktu itu pukul dua pagi dan saya belum tidur. Mendadak saya mendengar suara di lorong. Saya membuka pintu kamar, lalu mengintip ke luar. Perlu saya jelaskan bahwa kamar Profesor terletak di ujung lorong."

"Tanggalnya ...?" tanya Holmes.

Tamu kami sangat terganggu dengan interupsi Holmes yang tak ada sangkut pautnya ini.

"Saya sudah bilang. Sir, itu terjadi kemarin dulu, tanggal 4 September."

Holmes menggangguk dan tersenyum. "Silakan dilanjutkan," katanya.

"Dia tidur di ujung lorong dan harus melewati pintu kamar saya kalau menuju tangga. Benar-benar pengalaman yang mengerikan, Mr. Holmes. Saya pikir saya sama tegarnya dengan orang-orang lain, tapi ternyata sangat terguncang dengan apa yang saya lihat. Lorong itu gelap, hanya ada sedikit cahaya yang masuk dari jendela di tengahnya. Saya melihat sesuatu mondar-mandir di lorong itu, bayangan hitam yang merunduk-runduk. Lalu tiba-tiba tampak jelas bayangan itu adalah Profesor. Dia sedang merangkak, Mr. Holmes—merangkak! Bukan lututnya yang menyentuh lantai, tapi kaki dan tangannya saja, sementara mukanya menunduk. Gerakannya tampak lincah sekali. Saya begitu terkesima oleh pemandangan itu sehingga saya terbengong-bengong sampai dia mendekat ke pintu kamar saya. Barulah saat itu saya mampu berjalan ke luar dan bertanya kepadanya apakah dia memerlukan bantuan. Reaksinya aneh sekali. Dia langsung berdiri tegak, memaki-maki saya, lalu bergegas menuruni tangga. Saya menunggu selama kira-kira satu jam, tapi dia tak kunjung naik kembali. Pasti baru keesokan harinya dia kembali ke kamarnya."

"Well, Watson, bagaimana menurutmu?" tanya Holmes dengan gaya ahli patologi yang sedang menunjukkan objek penyelidikan yang unik.

"Mungkin gejala penyakit lumbago. Aku pernah melihat orang yang terjangkiti penyakit itu berjalan seperti itu, dan perangainya jadi gampang marah."

"Bagus, Watson! Pendapatmu masuk akal. Tapi kecil kemungkinan kita menganggapnya sebagai gejala penyakit lumbago, karena dia bisa berdiri tegak dalam sekejap."

"Sebetulnya, kesehatannya baik sekali," sela Bennett. "Bahkan terus terang, dia tampaknya makin kuat. Tapi kelainan-kelainan itulah yang membuat kami cemas. Anda tentu mengerti, Mr. Holmes, masalah ini tak mungkin saya laporkan ke polisi, tapi kami sudah kebingungan dan firasat kami mengatakan akan timbul bencana. Edith—Miss Presbury—setuju kami tak boleh hanya berpangku tangan dan menunggu."

"Kasus ini benar-benar unik dan aneh. Bagaimana pendapatmu, Watson?"

"Berbicara sebagai dokter," kataku, "tampaknya kasus ini harus ditangani psikiater. Pikiran profesor tua itu telah terganggu oleh kisah asmaranya. Dia pergi ke luar negeri dengan harapan bisa menghilangkan gelora asmaranya. Surat-surat beserta kotak itu mungkin ada hubungannya dengan transaksi pribadi—pinjaman uang, atau sertifikat saham."

"Dan si anjing rupanya kurang setuju dengan transaksi-transaksi itu. Tidak, tidak, Watson, masalahnya tidak sesederhana itu. Saat ini, saya hanya bisa menyarankan..."

Apa yang hendak disarankan Sherlock Holmes tak pernah kami ketahui, karena saat itu juga pintu ruangan kami terbuka dan seorang wanita muda diantarkan masuk. Begitu wanita itu masuk, Mr. Bennett langsung berdiri dan berteriak, lalu berlari menghambur dan memeluk wanita itu.

"Edith, Sayang! Tak ada apa-apa, kan?"

"Aku merasa harus menyusulmu. Oh, Jack, aku sangat ketakutan! Aku takut berada di rumah sendirian."

"Mr. Holmes, inilah wanita yang tadi saya ceritakan. Dia tunangan saya."

"Memang itu kesimpulan kami, bukan begitu, Watson?" Holmes menjawab sambil tersenyum. "Saya berani mengatakan, Miss Presbury, pasti telah terjadi perkembangan baru dalam kasus ini, yang menurut Anda perlu kami ketahui."

Tamu kami yang baru tiba itu seorang gadis yang cantik dan cerdas. Wajahnya khas Inggris. Dia tersenyum kepada Holmes sambil mengambil tempat duduk di samping Mr. Bennett.

"Ketika saya dengar Mr. Bennet telah meninggalkan hotelnya, saya pikir saya mungkin bisa menjumpainya di sini. Tentu saja dia telah mengatakan kepada saya bahwa dia hendak berkonsultasi dengan Anda. Tapi, oh, Mr. Holmes, tak bisakah Anda menolong ayah saya? Kasihan sekali dia."

"Saya punya harapan untuk itu, Miss Presbury, tapi kasus ini masih samar-samar bagi saya. Mungkin apa yang hendak Anda katakan bisa memberikan petunjuk."

"Sesuatu terjadi tadi malam, Mr. Holmes. Sepanjang hari tingkahnya sangat aneh, sepertinya dia tak sadar apa yang sedang dilakukannya. Dia bagaikan hidup di alam mimpi yang aneh. Dia sama sekali bukanlah ayah yang saya kenal sebelumnya. Secara fisik memang dia, tapi sebenarnya bukan."

"Ceritakanlah apa yang terjadi."

"Saya terbangun di malam hari karena anjing kami menyalak-nyalak garang. Roy yang malang, sekarang dia dirantai di dekat kandang kuda. Saya tidur dengan pintu terkunci, karena—mungkin Jack, maksud saya Mr. Bennett, sudah menjelaskannya kepada Anda—kami merasa ada bencana yang mengancam. Kamar saya berada di lantai dua. Kebetulan kerai jendela tak saya tutup, padahal bulan sedang bersinar terang. Ketika saya berbaring sambil menatap sinar bulan yang masuk dan mendengarkan gonggongan anjing, tiba-tiba tampak wajah ayah saya mengintip di jendela. Mr. Holmes, saya hampir mati karena kaget dan takut. Wajahnya menempel di kaca jendela, dan sebelah tangannya seperti sedang menaikkan kaca untuk membuka daun jendela. Seandainya dia berhasil membuka jendela itu, saya pasti sudah jadi gila. Apa yang saya lihat bukan khayalan, Mr. Holmes. Jangan sampai Anda mengira saya cuma berkhayal. Selama kira-kira dua puluh detik saya ternganga menatapnya, lalu wajahnya menghilang. Saya tak mampu mengejarnya. Saya berbaring saja sambil menggigil kedinginan dan ketakutan sampai pagi hari. Waktu sarapan, sikap ayah saya sangat ketus dan kasar, dan dia tak menyinggung tentang apa yang terjadi semalam. Saya pun tak berani menyinggung hal itu, tapi saya lalu minta izin untuk pergi ke kota—dan di sinilah saya berada sekarang."

Holmes tampak benar-benar terkejut mendengar penuturan Miss Presbury.

"Anda katakan kamar Anda berada di lantai dua. Apakah ada tangga panjang di taman?"

"Tidak ada, Mr. Holmes, justru itu yang sangat mencengangkan. Tak ada jalan untuk bisa sampai ke jendela—tapi dia muncul di situ."

"Kemarin tanggal 5 September," kata Holmes. "Hal ini jelas menambah rumit kasus ini."

Giliran gadis itu yang terperanjat.

"Sudah dua kali Anda menyebut-nyebut soal tanggal, Mr. Holmes," kata Bennet. "Apakah mungkin ada hubungannya dengan kasus ini?"

"Mungkin saja—bahkan besar kemungkinannya—tapi bahan yang saya dapatkan belum lengkap."

"Mungkin Anda memikirkan hubungan gangguan jiwa dengan bentuk bulan?"

"Tidak, saya jamin bukan itu. Apa yang ada di pikiran saya lain sekali. Sebaiknya Anda tinggalkan buku catatan ini di sini agar saya bisa memeriksa tanggal-tanggalnya. Nah, Watson, kurasa arah tindakan kita sudah cukup jelas. Gadis ini telah menceritakan—dan aku percaya penuh pada penuturannya—bahwa ayahnya kadang-kadang tak bisa mengingat kejadian sebelumnya. Maka kita akan mengunjunginya, seolah-olah dia yang telah mengundang kita. Dia akan menganggap dialah yang lupa dan kita akan diterimanya. Dengan demikian kita dapat mengamatinya dari dekat."

"Bagus sekali," kata Mr. Bennett. "Tapi saya perlu memperingatkan Anda bahwa Profesor bisa tiba-tiba menjadi berang dan kasar."

Holmes tersenyum. "Ada alasan mengapa kami harus menemuinya secepatnya. Besok pagi, Mr. Bennett, kami akan berada di Camford. Kalau tak salah, ada penginapan yang cukup bagus di sana, The Chequers. Kurasa, Watson, perjalanan kita akan cukup menyenangkan."

Hari Senin pagi, kami berangkat ke kota universitas yang terkenal itu. Bagi Holmes, kepergian ini gampang saja, karena memang begitulah dia, tapi bagi orang yang biasa merencanakan semuanya dengan saksama seperti aku, kepergian mendadak seperti ini cukup merepotkan karena saat ini praktekku sedang ramai. Holmes tak membicarakan kasus itu sampai kami tiba di penginapan kuno yang dikatakannya kemarin. Koper-koper kami tinggalkan di sana.

"Kurasa, Watson, kita bisa menemui Profesor sebelum makan siang. Dia mengajar jam sebelas dan setelah itu beristirahat di rumahnya."

"Alasan apa yang akan kita pakai untuk menemuinya?"

Holmes melihat buku catatannya.

"Pada tanggal 26 Agustus pikirannya tampaknya agak kacau. Kita perkirakan dia lupa pada apa-apa yang dilakukannya hari itu. Kalau kita bersikeras mengatakan kita menemuinya karena dia yang mengundang, dia pasti takkan menolak kita. Kau siap menghadapinya?"

"Coba saja."

"Bagus, Watson, moto yang baik! Coba saja! Penunjuk jalan lokal akan membantu kita."

Orang yang dimaksud menghampiri kami dengan mengendarai kereta yang bagus. Kami berangkat melewati gedung-gedung sekolah kuno, membelok ke jalan yang kedua sisinya ditumbuhi pepohonan, dan akhirnya berhenti di depan pintu rumah mewah berhalaman luas. Begitu kami turun dari kereta, sebuah kepala berambut putih terlihat di jendela depan, dan kami menangkap pandangan matanya yang penasaran di balik alisnya yang kusut dan kacamatanya yang besar. Tak lama kemudian kami sudah berada di ruang tamu, dan sang ilmuwan misterius, yang ulahnya telah menyebabkan kami susah-susah datang dari London, berdiri di hadapan kami. Tak tampak gejala tingkah laku eksentrik dalam sikap maupun penampilannya, karena pria tua itu tinggi, gagah, tenang, dan mengenakan jas panjang, penuh wibawa sebagaimana mestinya seorang dosen. Matanya tajam, penasaran, penuh selidik, sehingga nyaris licik.

Dia melihat kartu nama kami. "Silakan duduk, Tuan-tuan. Ada yang bisa saya bantu?"

Holmes tersenyum ramah.

"Justru itu yang ingin saya tanyakan kepada Anda, Profesor."

"Kepada saya, Sir?"

"Mungkin telah terjadi kekeliruan. Ada yang menyampaikan kepada saya bahwa Profesor Presbury dari Camford membutuhkan jasa saya."

"Oh, begitu?" Matanya berkilat-kilat "Jadi ada yang menyampaikan kabar itu kepada Anda. Boleh saya tahu siapa orangnya?"

"Maaf, Profesor, tapi itu rahasia. Kalau ternyata keliru, tak ada yang dirugikan, kan? Saya hanya bisa minta maaf."

"Tak apa. Tapi saya ingin menyelidiki hal itu lebih jauh. Saya tertarik. Apakah Anda punya surat atau telegram untuk menjelaskan kehadiran Anda?"

"Tidak."

"Jadi Anda tak mungkin mengatakan saya telah mengundang Anda, kan?"

"Saya tak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan," kata Holmes.

"Tidak, saya yakin Anda takkan berani," kata Profesor jengkel. "Tapi saya akan mendapatkan jawabannya dengan mudah tanpa bantuan Anda."

Dia berjalan menyeberangi ruangan menuju tempat bel. Klien kami, Mr. Bennett, masuk.

"Masuk, Mr. Bennett. Dua orang ini datang dari London dan katanya mereka diundang kemari. Kau yang menangani surat-suratku. Apakah kau pernah menulis surat kepada orang bernama Holmes?"

"Tidak, Sir," jawab Bennett dengan wajah memerah.

"Nah, jelas, kan!" kata Profesor sambil menatap sahabatku dengan marah. "Sekarang, Sir," dia mendoyongkan tubuhnya ke depan sementara kedua tangannya menekan meja, "tampaknya kehadiran Anda perlu dipertanyakan."

Holmes mengangkat bahu.

"Saya hanya bisa mengulangi bahwa saya minta maaf bila telah mengganggu Anda."

"Itu belum cukup, Mr. Holmes!" geram pria tua itu. Ekspresinya sangat menakutkan. Dia berlari menghalangi pintu dan menuding-nuding kami. "Jangan kira Anda bisa keluar dengan gampang." Wajahnya merah padam, dia menyeringai dan meracau dengan kemarahan yang tak bisa dimengerti. Kalau Mr. Bennett tak menengahi, kami mungkin harus bergumul untuk lolos dari tempat itu.

"Profesor," teriaknya, "ingat kedudukan Anda! Pertimbangkan skandal yang akan menyebar di seluruh universitas! Mr. Holmes ini orang terkenal, Anda tak bisa memperlakukannya dengan begitu kasar."

Dengan mendongkol tuan rumah memberi jalan. Kami merasa lega ketika sudah berada di luar rumah dan kembali di keheningan jalanan yang dipenuhi pepohonan. Holmes tampaknya sangat gembira dengan apa yang baru saja terjadi.

"Saraf teman kita yang terpelajar itu tak berfungsi sebagaimana mestinya," katanya. "Mungkin gangguan kita tadi agak keterlaluan, tapi toh kita sudah sempat berhubungan langsung dengannya. Itulah yang kuinginkan. Tapi, wah, Watson, dia sedang mengejar kita. Orang jahat itu masih mengejar kita."

Terdengar suara orang berlari di belakang kami. Betapa leganya aku karena ternyata itu bukan Profesor melainkan asistennya. Dia baru berbelok dari tikungan, sambil berlari pontang-panting menyusul kami.

"Maafkan saya, Mr. Holmes. Saya sungguh menyesal."

"Wah, Sir, Anda tak perlu repot-repot. Bagi saya, hal seperti itu sudah biasa."

"Saya tak pernah melihatnya seganas itu. Tapi dia jadi semakin aneh. Anda bisa mengerti sekarang mengapa putrinya dan saya sendiri sangat ketakutan. Padahal pikirannya sangat jernih."

"Jernih sekali!" kata Holmes. "Saya salah duga dalam hal ini. Jelas ingatannya jauh lebih baik dari perkiraan saya. Ngomong-ngomong, sebelum kami pergi, bisakah kami melihat jendela kamar Miss Presbury?"

Mr. Bennett memotong jalan melewati semak belukar, dan tampaklah oleh kami sisi rumah yang dimaksud.

"Itu! Jendela kedua dari kiri."

"Wah, tampaknya tak gampang dicapai. Tapi memang ada tumbuhan menjalar dan pipa air yang dapat dijadikan tempat berpijak."

"Saya pribadi tak mungkin bisa memanjat ke situ," kata Mr. Bennet.

"Kelihatannya begitu. Jelas sangat membahayakan bagi orang normal."

"Ada satu hal lagi yang ingin saya katakan, Mr. Holmes. Saya mendapatkan alamat orang yang ditulisi surat oleh Profesor. Rupanya tadi pagi dia juga menulis surat kepadanya, dan saya mendapatkan alamat itu dari kertas pengisap tinta. Apa yang saya lakukan jelas tak terpuji bagi sekretaris kepercayaan, tapi apa lagi yang bisa saya lakukan?"

Holmes melihat kertas itu sekilas, lalu memasukkannya ke saku.

"Dorak—nama yang unik. Saya rasa bangsa Slavia. Bagaimanapun, informasi ini merupakan mata rantai penting dalam kasus ini. Kami akan langsung kembali ke London, Mr. Bennett. Saya rasa kami tak perlu tinggal di sini lebih lama. Kami tak bisa menahan Profesor, karena dia tak melakukan tindak kejahatan. Kami juga tak bisa mengirimnya ke rumah sakit jiwa, sebab dia tidak gila. Saat ini kita belum bisa berbuat apa-apa."

"Lalu, apa gerangan yang harus kita lakukan?"

"Bersabarlah, Mr. Bennett. Akan terjadi perkembangan. Kalau saya tak salah, Selasa depan dia mungkin akan mengalami krisis lagi. Kami akan kembali ke Camford hari itu. Sementara itu, secara umum memang keadaannya tak mengenakkan, dan kalau Miss Presbury bisa memperpanjang kunjungannya..."

"Itu mudah."

"Kalau begitu biarlah dia tinggal di tempat lain dulu sampai kita yakin tak ada bahaya lagi yang perlu ditakutkan. Sementara itu, biarlah Profesor melakukan segala yang dikehendakinya, jangan mencegahnya. Selama suasana hatinya baik, semuanya beres."

"Wah, itu dia!" bisik Bennett terperanjat. Dari balik dahan-dahan pohon, dapat kami lihat sosok Profesor yang tinggi tegap keluar dari pintu ruang tamu. Dia melayangkan pandangan ke sekelilingnya. Si sekretaris langsung melambaikan tangan kepada kami, lalu menghilang di antara pepohonan. Tak lama kemudian kami melihatnya sudah berdiri di samping atasannya. Keduanya lalu masuk ke rumah bersama-sama sambil bercakap-cakap dalam suasana panas.

"Kurasa Profesor mulai menghubung-hubungkan fakta dan menarik kesimpulan," ujar Holmes ketika kami berjalan ke arah penginapan. "Dari perjumpaan singkat dengannya, dapat kulihat pikirannya ternyata sangat jernih dan logis. Memang meledak-ledak, tapi itu masuk akal, karena ada detektif yang membuntutinya dan dia curiga anggota keluarganya sendirilah yang telah membuat ulah. Kurasa teman kita Bennett sedang menghadapi kesulitan."

Holmes berhenti di kantor pos untuk mengirim telegram. Kami mendapat jawabannya pada malam hari. Dia menunjukkan telegram jawaban itu kepadaku.
Sudah pergi ke Commercial Road dan bertemu Dorak. Orangnya sopan, sudah tua, berasal dari Bohemia. Punya toko besar. Mercer
"Mercer membantuku sejak kau masih tinggal bersamaku," kata Holmes. "Dia sangat berguna. Kita perlu tahu dengan siapa Profesor berhubungan melalui surat. Menilik kebangsaannya, orang itu ada hubungannya dengan kunjungan Profesor ke Praha."

"Syukurlah! Akhirnya kita menemukan dua hal yang berhubungan," kataku. "Saat ini kita rasanya menghadapi peristiwa-peristiwa yang tak tentu ujung-pangkalnya dan tak jelas hubungannya. Misalnya, apa hubungan antara anjing yang menggonggong dengan kunjungan Profesor ke Bohemia, atau dengan Profesor yang merangkak di lorong rumahnya pada malam hari? Apalagi tanggal-tanggal yang kauributkan—itulah yang paling misterius bagiku."

Holmes tersenyum dan menggosok-gosok kedua tangannya. Saat itu kami sedang duduk-duduk di ruang tamu penginapan kuno itu sambil meneguk anggur.

"Well, mari kita bicarakan soal tanggal-tanggal itu dulu," katanya sambil mengatupkan ujung-ujung jarinya dengan gaya dosen yang sedang menyampaikan kuliah. "Buku harian pemuda itu menunjukkan bahwa masalah dimulai tanggal 2 Juli, lalu terulang setiap sembilan hari, hanya dengan satu kekecualian. Jadi kumat terakhir Jumat tanggal 4 September, setelah sebelumnya terjadi pada 26 Agustus. Siklus ini tentunya bukan kebetulan."

Mau tak mau aku mengangguk.

"Sekarang kita perkirakan setiap sembilan hari Profesor minum obat yang efeknya sangat dahsyat sampai-sampai meracuni sikapnya. Dia mendapatkan obat ini ketika berada di Praha, dan sekarang terus dipasok Mr. Dorak yang tinggal di London. Sudah terlihat jalinannya, bukan, Watson!"

"Tapi bagaimana dengan anjingnya, lalu wajah yang mengintip di jendela, dan orang yang merangkak di lorong?"

"Well, well, kita baru mulai. Menurutku, takkan ada perkembangan baru sampai Selasa depan. Sementara itu, kita hanya bisa berhubungan dengan teman kita Bennett dan menikmati keindahan kota yang cantik ini."

Keesokan harinya, Mr. Bennett menemui kami sambil melaporkan perkembangan terakhir. Sebagaimana telah diperkirakan Holmes, dia benar-benar mengalami kesulitan. Memang Profesor tak secara langsung menuduhnya bertanggung jawab atas kehadiran kami kemarin tapi sikapnya langsung menjadi kasar dan kata-katanya sangat galak. Namun paginya dia kembali normal dan bisa memberikan kuliah dengan baik. "Seandainya tidak ada kelainan-kelainan ini, saya berani mengatakan kondisinya malah lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Dia penuh semangat dan vitalitas; otaknya semakin brilian. Namun kelainan-kelainan itulah yang mengganggu pikiran kami, Mr. Holmes. Dia bukan dirinya sendiri... dia berbeda sekali dengan pribadi yang selama ini kami kenal."

"Saya rasa Anda tak perlu takut, paling tidak selama seminggu ini," Holmes menjawab. "Saya sangat sibuk, dan Dr. Watson banyak ditunggu pasiennya. Mari kita sepakat untuk bertemu di sini pada jam yang sama Selasa depan. Saya yakin, kalaupun kami tak mampu mengakhiri masalah-masalah Anda, paling tidak kami akan bisa menjelaskannya. Tolong beri kabar kalau ada peristiwa baru;"

Aku sama sekali tak mendapat berita dari sahabatku Holmes selama beberapa hari berikutnya. Tapi pada Senin malam, aku menerima surat pendek yang.isinya memintaku menemuinya di kereta api. Mendengar kisah Holmes sepanjang perjalanan kami ke Camford, kusimpulkan semuanya beres selama seminggu ini. Tak terjadi keributan di rumah Profesor dan tingkah lakunya juga biasa. Mr. Bennett melaporkan hal yang sama ketika dia menemui kami di Penginapan The Chequers malam harinya. "Dia menerima surat dari London hari ini, bersama paket kecil yang prangkonya bertanda silang. Cuma itu."

"Saya rasa itu cukup," kata Holmes serius. "Nah, Mr. Bennett, saya rasa penjelasannya akan kita dapatkan nanti malam. Kalau perkiraan saya benar, kita punya peluang untuk menyelesaikan masalah ini. Untuk itu kita perlu mengamati Profesor. Saya sarankan agar Anda tetap berjaga dan mengawasi gerak-geriknya. Begitu Anda mendengarnya melewati pintu kamar Anda, secara sembunyi-sembunyi ikutilah dia. Saya dan Dr. Watson akan berada tak jauh dari Anda. Omong-omong, di mana Profesor menyimpan kunci kotak kecil yang pernah Anda sebut?"

"Di rantai jam tangannya."

"Kita harus berusaha memperolehnya. Seandainya usaha itu gagal, kita masih bisa membongkar kotak itu. Apakah ada penghuni lain di rumah Profesor?"

"Ada kusir kereta, Macphail."

"Di mana dia tidur?"

"Di dekat kandang kuda."

"Kita mungkin memerlukan dia. Well, kita tak bisa berbuat apa-apa sampai terlihat perkembangan selanjutnya. Sampai ketemu lagi nanti malam."

Menjelang tengah malam, kami berangkat ke tempat persembunyian kami di antara semak belukar, tepat di seberang pintu ruang tamu Profesor. Malam itu cuaca cerah, tapi hawanya dingin. Untunglah, kami mengenakan jaket tebal. Angin semilir berembus, dan awan bertebaran di langit, menghalangi sinar bulan. Seandainya bukan karena harapan dan rasa penasaran yang tinggi, serta jaminan sahabatku bahwa kami mungkin akan mencapai akhir dari peristiwa-peristiwa aneh yang saat ini merebut perhatian kami, takkan sudi aku berkeliaran di malam buta begini.

"Kalau siklus sembilan harinya masih berlaku, malam ini tingkah Profesor yang mengerikan itu akan mencapai puncaknya," kata Holmes. "Kenyataan bahwa semua gejala anehnya timbul setelah kepergiannya ke Praha, secara sembunyi-sembunyi dia berhubungan dengan penjual berkebangsaan Bohemia di London yang kemungkinan besar menjadi agen seseorang di Praha, dan dia menerima paket dari si penjual hari ini, mengarah kepada satu hal. Apa yang diminumnya dan mengapa dia meminumnya masih di luar jangkauan kita, tapi jelas obat itu berasal dari Praha. Dia meminumnya setiap sembilan hari sesuai petunjuk yang diterimanya, dan inilah yang pertama kali menarik perhatianku. Tapi gejala-gejala yang ditunjukkannya luar biasa. Apakah kauperhatikan buku-buku jarinya?"

Aku mengakui bahwa aku tak memperhatikannya.

"Tebal dan kapalan, dan ini sesuatu yang baru dalam pengalamanku. Perhatikanlah selalu tangan orang, Watson, lalu manset, lutut celana, dan sepatunya. Buku-buku jari seperti itu hanya bisa terbentuk karena pengaruh..." Holmes berhenti sejenak dan tiba-tiba memukulkan tangannya ke dahi. "Oh, Watson, Watson, betapa bodohnya aku selama ini! Tampaknya tak masuk akal, tapi aku yakin itulah penjelasannya. Semuanya mengarah ke satu hal. Bagaimana aku bisa tak melihat hubungannya? Buku-buku jari itu—bagaimana sampai aku melewatkan buku-buku jarinya? Dan anjingnya! Serta tumbuhan menjalar! Awas, Watson! Itu orangnya! Kita akan mendapat kesempatan untuk melihatnya sendiri."

Pintu ruang tamu terbuka perlahan, dan di bawah sinar lampu remang-remang kami melihat sosok tinggi Profesor Presbury yang mengenakan pakaian tidur. Cara berdirinya condong ke depan, sementara kedua lengannya menjuntai.

Kini dia melangkah menuju jalan, dan perangainya berubah. Dia menjatuhkan diri pada lututnya dan mulai merangkak, sesekali melompat-lompat seolah-olah didorong oleh tenaga yang amat besar. Dia menelusuri bagian depan rumah itu, lalu membelok ke samping. Begitu dia tak terlihat lagi, Bennett berlari ke luar dan dengan hati-hati membuntutinya.

"Ayo, Watson, ayo!" seru Holmes, dan kami berlari melewati semak belukar sampai kami mendapatkan tempat persembunyian lain. Tampak oleh kami Profesor sedang merangkak ke dinding yang dipenuhi tumbuhan menjalar, lalu dengan mudahnya tembok itu dipanjatnya. Dia melompat dari dahan yang satu ke yang lain dengan lincah dan bersemangat, tanpa memedulikan sekelilingnya. Dengan pakaian tidur yang berkibar-kibar pada kedua sisi tubuhnya, dia bagaikan kelelawar hitam besar yang tergantung di tembok samping rumahnya sendiri. Setelah lelah memanjat, dia menuruni dahan demi dahan, dan sesampainya di bawah kembali merangkak ke arah kandang. Anjingnya berada di luar sekarang, dan menyalak-nyalak buas. Dia mengentak-entakkan tali pengikatnya dan mengguncang-guncang badannya dengan kuat dan marah. Anehnya Profesor malah berjongkok di depannya, dan mulai mengejeknya. Dia meraup kerikil dari jalanan taman dan melemparkannya ke muka anjing itu, lalu menusuk-nusuknya dengan tongkat, dan memain-mainkan tangannya hanya dalam jarak beberapa sentimeter dari mulut anjing yang menganga itu. Sepanjang petualangan kami, tak pernah aku melihat pemandangan yang lebih aneh dari itu... seorang yang gagah perkasa berjongkok seperti kodok, lalu dengan kejamnya sengaja memancing kemarahan anjing yang meronta-ronta tepat di hadapannya.

Lalu dalam sekejap terjadilah hal ini! Bukan rantai pengikatnya yang patah, tapi anjing itu berhasil melepaskan diri dari ikatan lehernya yang ternyata terlalu longgar. Kami mendengar suara benda-benda logam berjatuhan, selanjutnya anjing dan tuannya itu bergulingan di tanah. Sang anjing menggonggong ganas, dan tuannya berteriak ketakutan. Nyawa Profesor nyaris melayang. Binatang buas itu berhasil menggigit lehernya, taringnya telah tertancap dalam, dan tuannya telah pingsan sebelum kami sampai di sana untuk memisahkan mereka. Tak mudah bagi kami untuk menarik anjing yang kesetanan itu, tapi untunglah suara dan kehadiran Bennett membuat anjing itu berangsur tenang.

Keributan itu telah menyebabkan si kusir terbangun dari tidurnya, karena kamarnya tak jauh dari tempat kejadian, yaitu di atas kandang. "Saya tak terkejut," katanya sambil menggeleng. "Saya pernah melihatnya mengganggu anjing itu. Saya tahu dia akan menerkamnya suatu saat."

Anjing itu lalu diamankan, dan Profesor dibawa ke kamar tidurnya. Bennett, yang juga dokter, mengobati lehernya yang robek. Gigitan anjing itu nyaris mengenai pembuluh darah leher Profesor, dan dia mengalami pendarahan yang serius. Tapi untunglah, setengah jam kemudian masa krisisnya berlalu. Aku telah menyuntiknya dengan morfin, sehingga dia lalu tertidur pulas. Setelah itu, ya, setelah itu, barulah kami saling memandang dan berusaha memahami peristiwa yang baru saja terjadi.

"Saya rasa dia perlu ditangani ahli bedah yang andal," kataku.

"Demi Tuhan, jangan!" teriak Bennett. "Sampai saat ini, skandal ini hanya diketahui penghuni rumah, dan itu aman. Kalau sampai tersebar ke luar, beritanya akan langsung tersiar. Pikirkanlah kedudukannya di universitas, reputasinya di seantero Eropa, juga perasaan anaknya."

"Saya sependapat," kata Holmes. "Saya rasa kita bisa merahasiakan musibah ini, dan mencegah agar ulahnya tak terulang lagi karena kita bebas bertindak sekarang. Tolong ambilkan kunci yang tergantung di rantai jamnya, Mr. Bennett. Macphail biar menjaganya, dan kalau ada perkembangan dia akan memberitahu kita. Mari kita lihat apa isi kotak misterius milik Profesor itu."

Isinya tak banyak, cukup untuk menjelaskan duduk perkaranya. Ada botol obat yang sudah kosong, botol lain yang isinya masih penuh, jarum suntik, dan beberapa pucuk surat yang ditulisnya seperti cakar ayam. Tanda silang pada amplopnya menunjukkan surat-surat itulah yang selama ini dirahasiakan dari si sekretaris, dan semuanya dikirim dari Commercial Road serta ditandatangani oleh A. Dorak. Surat-surat itu ternyata cuma resi-resi pengiriman obat ke Profesor Presbury, atau kuitansi pembayaran. Tapi ada satu amplop yang tulisannya lebih bagus, dengan prangko Austria dan stempel pos Praha. "Nah, ini dia, kita dapatkan apa yang kita cari," teriak Holmes sambil membuka amplop itu. Bunyi suratnya demikian:
Yang terhormat rekan seprofesi,

Sejak kunjungan Anda yang sangat saya hargai itu, saya banyak memikirkan kasus Anda, dan walaupun keadaan Anda memungkinkan untuk melakukan pengobatan ini, saya perlu memperingatkan agar Anda berhati-hati, karena hasil penyelidikan saya menunjukkan adanya ekses-ekses yang membahayakan.

Ada kemungkinan serum antropoid akan lebih baik hasilnya. Sebagaimana saya katakan kepada Anda, saya menggunakan langur, monyet Asia bermuka hitam, karena kebetulan itulah yang tersedia. Monyet ini, tentu saja, suka merangkak dan memanjat, sementara jenis antropoid jalannya tegak dan sangat mirip manusia.

Saya mohon Anda benar-benar berhati-hati agar dalam prosesnya jangan sampai diketahui orang lain. Saya punya klien lain di Inggris, dan Dorak adalah agen Anda berdua.

Anda harus melaporkan hasilnya seminggu sekali.

Hormat saya, H. Lowenstein
Lowenstein! Nama itu mengingatkanku pada artikel di surat kabar yang menulis tentang seorang ilmuwan tak dikenal yang sedang mengupayakan obat mujarab untuk segala macam penyakit dan juga untuk membuat orang menjadi muda kembali. Si Lowenstein dari Praha! Lowenstein dengan serum ajaib penguat tubuh yang dilarang oleh dunia kedokteran karena menolak memberitahukan dari mana dia memperoleh serum itu. Singkatnya, aku lalu mengatakan bahwa aku ingat semua ini.

Bennett mengambil buku dunia binatang dari rak. "Monyet Asia bernama langur," bacanya. "Monyet yang ditemukan di dataran rendah Himalaya. Badannya besar, mukanya hitam, paling mirip manusia dibandingkan monyet-monyet pemanjat lainnya. Dan seterusnya. Mr. Holmes, saya berterima kasih sekali kepada Anda, yang telah berhasil melacak sumber malapetaka ini."

"Yang menjadi pemicu," ujar Holmes, "jelas hubungan asmara yang tak pada tempatnya itu. Dia mengira dapat memperoleh apa yang didambakannya kalau dia menjadi muda kembali. Jika orang berusaha melawan kodrat alam, dia akan menghancurkan dirinya sendiri. Orang yang berpendidikan tinggi pun akan menjadi binatang kalau dia melawan kodratnya." Holmes duduk sebentar sambil menatap cairan bening dalam botol yang dipegangnya. "Saya akan menulis surat kepada orang ini dan mengatakan kepadanya bahwa dia akan ditahan kalau berani memasarkan serum ini lagi. Dengan demikian dia tak akan membuat masalah lagi. Tapi bisa saja hal serupa terjadi nanti. Orang lain mungkin malah akan menemukan cara yang lebih baik. Sungguh berbahaya—sangat berbahaya bagi hidup manusia. Coba pikir, Watson, kalau orang-orang yang materialistis, yang penuh gairah cinta, yang duniawi hidup lebih lama di dunia. Jiwa ini tak akan betah hidup di dunia. Yang kurang kuat akan menderita. Akan jadi apa bumi kita ini?"

Tiba-tiba sahabatku sang pemimpi terbangun, dan Holmes yang gesit berdiri dari duduknya. "Saya rasa, tak ada yang perlu saya katakan lagi, Mr. Bennett. Semua keanehan itu bisa dijelaskan sekarang. Si anjing, tentu saja, telah menyadari perubahan pada tuannya lebih dulu dari Anda sendiri. Itu disebabkan penciumannya yang tajam. Yang diserang Roy adalah sosok monyetnya, bukan Profesor, dan monyet itu pulalah yang telah mempermainkannya. Memanjat adalah kesukaan monyet, dan kebetulan belaka yang membawa Profesor ke jendela anak gadisnya. Ada kereta api pagi menuju kota, Watson, tapi kurasa kita masih punya waktu untuk minum teh di Chequers sebelum berangkat ke stasiun."

"Yang menjadi pemicu," ujar Holmes, "jelas hubungan asmara yang tak pada tempatnya itu. Dia mengira dapat memperoleh apa yang didambakannya kalau dia menjadi muda kembali. Jika orang berusaha melawan kodrat alam, dia akan menghancurkan dirinya sendiri. Orang yang berpendidikan tinggi pun akan menjadi binatang kalau dia melawan kodratnya." Holmes duduk sebentar sambil menatap cairan bening dalam botol yang dipegangnya. "Saya akan menulis surat kepada orang ini dan mengatakan kepadanya bahwa dia akan ditahan kalau berani memasarkan serum ini lagi. Dengan demikian dia tak akan membuat masalah lagi. Tapi bisa saja hal serupa terjadi nanti. Orang lain mungkin malah akan menemukan cara yang lebih baik. Sungguh berbahaya—sangat berbahaya bagi hidup manusia. Coba pikir, Watson, kalau orang-orang yang materialistis, yang penuh gairah cinta, yang duniawi hidup lebih lama di dunia. Jiwa ini tak akan betah hidup di dunia. Yang kurang kuat akan menderita. Akan jadi apa bumi kita ini?"

Tiba-tiba sahabatku sang pemimpi terbangun, dan Holmes yang gesit berdiri dari duduknya. "Saya rasa, tak ada yang perlu saya katakan lagi, Mr. Bennett. Semua keanehan itu bisa dijelaskan sekarang. Si anjing, tentu saja, telah menyadari perubahan pada tuannya lebih dulu dari Anda sendiri. Itu disebabkan penciumannya yang tajam. Yang diserang Roy adalah sosok monyetnya, bukan Profesor, dan monyet itu pulalah yang telah mempermainkannya. Memanjat adalah kesukaan monyet, dan kebetulan belaka yang membawa Profesor ke jendela anak gadisnya. Ada kereta api pagi menuju kota, Watson, tapi kurasa kita masih punya waktu untuk minum teh di Chequers sebelum berangkat ke stasiun."

Tiba-tiba sahabatku sang pemimpi terbangun, dan Holmes yang gesit berdiri dari duduknya. "Saya rasa, tak ada yang perlu saya katakan lagi, Mr. Bennett. Semua keanehan itu bisa dijelaskan sekarang. Si anjing, tentu saja, telah menyadari perubahan pada tuannya lebih dulu dari Anda sendiri. Itu disebabkan penciumannya yang tajam. Yang diserang Roy adalah sosok monyetnya, bukan Profesor, dan monyet itu pulalah yang telah mempermainkannya. Memanjat adalah kesukaan monyet, dan kebetulan belaka yang membawa Profesor ke jendela anak gadisnya. Ada kereta api pagi menuju kota, Watson, tapi kurasa kita masih punya waktu untuk minum teh di Chequers sebelum berangkat ke stasiun."