SUDAH beberapa saat lamanya Sherlock Holmes membungkuk di depan mikroskop berkekuatan rendah Ia lalu menegakkan tubuhnya dan menoleh kepadaku dengan penuh kemenangan.

"Lem, Watson," katanya. "Tak diragukan lagi itu lem. Coba lihat!"

Aku mengintip ke dalam mikroskop sambil berusaha memfokuskan pandanganku.

"Yang seperti rambut adalah benang-benang jas wol. Yang abu-abu debu. Nah, gumpalan-gumpalan cokelat di tengah itu lemnya."

"Well" kataku sambil tertawa, "aku percaya saja pada kata-katamu. Tapi apa gunanya semua ini?"

"Ini bisa menjadi bukti yang cukup kuat," jawabnya. "Dalam kasus St. Pancras, kau mungkin masih ingat telah ditemukan topi di samping mayat sang polisi. Tersangka menyangkal bahwa topi itu miliknya, tapi pekerjaannya sehari-hari adalah pembuat bingkai foto yang banyak memakai lem."

"Apakah kau menangani kasus itu?"

"Tidak, tapi temanku Merivale dari Scotland Yard meminta bantuanku. Sejak aku berhasil meringkus si pembuat uang palsu gara-gara sisa seng dan tembaga yang kutemukan di jahitan mansetnya, mereka mulai menyadari pentingnya mikroskop."

Ia menengok ke arah jam dengan gelisah.

"Ada klien baru yang berjanji mau datang, tapi dia kok terlambat, ya? Ngomong-ngomong, Watson, adakah yang kauketahui soal pacuan kuda?"

"Mestinya begitu. Kugunakan separo dana pensiun kesehatanku untuk ikut taruhan di pacuan kuda."

"Kalau begitu kau akan kujadikan pemandu serbaguna untuk Kasus Pacuan Kuda. Bagaimana dengan Sir Robert Norberton? Apakah nama itu mengingatkanmu pada sesuatu?"

"Ya, tentu. Dia tinggal di Tempat Tua Shoscombe. Aku tahu tempatnya, karena selama beberapa musim panas aku pernah bertugas di daerah sana. Norberton pernah terlibat perkara kriminal."

"Oh ya?"

"Ketika sedang berada di Newmarket Heath, dia mencambuki Sam Brewer, lintah darah Curzon Street yang tersohor. Dia nyaris membunuhnya."

"Ah, kedengarannya menarik! Apakah dia sering membuat onar?"

"Well, dia terkenal berbahaya. Dan dia joki paling nekat di Inggris, pernah jadi juara kedua pada pacuan kuda nasional beberapa tahun lalu. Dia sangat berbeda dari pria-pria lain segenerasinya, bahkan lebih mirip pria Zaman Regency. Dia senang tinju, balap kuda, dan wanita-wanita cantik, sementara hidupnya terbelit utang."

"Hebat, Watson! Analisis yang sangat bagus. Sekarang aku sudah mendapatkan gambaran tentang dia. Bisakah kaujelaskan sedikit tentang Tempat Tua Shoscombe?"

"Tak banyak yang bisa kukatakan, kecual bahwa tempat itu terletak di tengah-tengah Taman Shoscombe, segala jenis kuda dan pusat latihan terbaik ada di situ."

"Dan kepala pelatihnya," kata Holmes, "bernama John Mason. Kau tak perlu heran, Watson, karena surat yang sedang kubuka ini berasal darinya. Tapi mari kita cari tahu tentang Shoscombe lebih jauh lagi. Tampaknya aku berurusan dengan orang kaya!"

"Di Shoscombe juga ada anjing-anjing spaniel," kataku. "Nama mereka selalu disebut-sebut kalau ada kontes. Spaniel Shoscombe adalah keturunan yang paling eksklusif di Inggris. Mereka merupakan kebanggaan nyonya rumah Tempat Tua Shoscombe."

"Istri Sir Robert Norberton?"

"Sir Robert Norberton tidak menikah. Lebih baik begitu, mengingat gaya hidupnya. Dia tinggal bersama kakak perempuannya yang sudah menjanda, Lady Beatrice Falder."

"Maksudmu wanita itu menumpang di rumah adiknya?"

"Tidak, tidak. Gedung itu dulunya milik almarhum suaminya, Sir James. Norberton tak punya hak apa pun atasnya. Wanita itu boleh menempati gedung tua itu seumur hidupnya, tapi kelak akan menjadi milik adik lelaki almarhum suaminya. Sementara ini, setiap tahun dia mendapat tunjangan hidup."

"Dan kurasa, Robert sang adiklah yang menghabiskan uang itu?"

"Kira-kira begitu. Dia itu jahat dan sering menyusahkan hati kakaknya. Tapi kudengar wanita itu sangat sayang kepadanya. Oh ya, ada masalah apa di Shoscombe?"

"Ah, itulah yang ingin kuketahui. Dan kurasa orang yang bisa menjelaskan semuanya sudah tiba."

Pintu ruangan kami terbuka dan seorang pria tinggi berwajah klimis memasuki ruangan. Pandangannya mantap dan keras sebagaimana umumnya orang yang harus melatih kuda atau mengajar pemuda-pemuda. Mr. John Mason melakukan keduanya, dan penampilannya memang meyakinkan. Dia membungkukkan badan dengan kaku, lalu duduk di kursi yang ditunjukkan Holmes.

"Anda menerima surat saya, Mr. Holmes?"

"Ya, tapi tak ada penjelasan apa-apa."

"Masalahnya terlalu peka untuk dituliskan di dalam surat. Rumit, lagi. Saya akan menjelaskannya sendiri."

"Well, silakan."

"Pertama-tama, Mr. Holmes, saya rasa tuan saya, Sir Robert, telah menjadi gila."

Holmes mengangkat alisnya. "Ingat, ini Baker Street, bukan Harley Street," katanya. "Tapi mengapa Anda mengatakan demikian?"

"Well, Sir, kalau orang melakukan satu atau dua hal aneh, itu bisa dimengerti. Tapi kalau semua kelakuannya aneh, bukankah Anda mulai bertanya-tanya? Saya yakin Prince dan pacuan Derby-lah yang membuatnya gila."

"Prince kuda yang biasanya Anda latih, bukan?"

"Kuda terbaik di negeri ini, Mr. Holmes, saya tahu betul itu. Saya akan berterus terang, karena saya yakin Anda berdua bisa dipercaya. Mohon kerahasiaan kasus ini dijaga. Sir Robert harus memenangkan pacuan Derby. Ini kesempatan terakhirnya untuk menyelamatkan diri dari kebangkrutan. Semua miliknya dipertaruhkannya untuk kuda ini. Tapi dia memang punya peluang besar untuk menang taruhan, karena orang-orang justru menganggap kuda ini akan kalah dalam pacuan.

"Kenapa bisa begitu bila kuda itu memang demikian hebatnya?"

"Masyarakat tak tahu kecepatannya yang sebenarnya. Sir Robert memang cerdik. Yang ditunjukkannya di muka umum adalah saudara seinduk Prince, yang mirip sekali dengannya. Bedanya hanya terlihat bila mereka sedang melompat. Pokoknya, saat ini pikiran Sir Robert dipenuhi oleh Prince dan pacuan yang akan diikutinya. Hidupnya seperti telur di ujung tanduk, karena para lintah darat terus mengejarnya. Kalau Prince sampai gagal, tamatlah riwayatnya."

"Wah, nekat sekali dia! Tapi dia tidak seperti orang sinting. Dapatkah Anda jelaskan keanehan-keanehannya?"

"Well, pertama-tama, penampilannya. Saya yakin dia tak pernah tidur akhir-akhir ini. Dia senantiasa berada di istal. Matanya liar, saraf terganggu. Lalu sikapnya terhadap Lady Beatrice... wah!"

"Ah! Bagaimana?"

"Selama ini hubungan mereka sangat baik. Mereka berdua mempunyai minat yang sama, dan wanita itu juga sayang pada kuda. Pada jam tertentu setiap siang, dia naik kereta dan pergi mengunjungi istal—terutama untuk menengok Prince. Prince akan mengangkat telinganya kalau mendengar suara roda kereta wanita itu mendekati istal, dan dia biasa berderap mendekati kereta untuk mendapatkan sebongkah gula. Tapi kini semuanya sudah berlalu."

"Kenapa?"

"Wanita itu tampaknya sudah tak berminat pada kuda. Selama seminggu ini, kalau dia lewat di dekat istal, menyapa 'Selamat pagi' pun tidak!"

"Menurut Anda telah terjadi pertengkaran?"

"Pastilah pertengkaran besar yang menimbulkan dendam. Kalau tidak, mengapa tuan saya membuang anjing spaniel yang disayangi wanita itu seperti anaknya sendiri? Beberapa hari yang lalu, anjing itu diberikannya kepada Pak Tua Barnes, pemilik Penginapan Green Dragon di Crendall, sekitar tiga mil jauhnya dari Shoscombe."

"Ini baru kelihatan aneh."

"Masih ada hal Iain. Lady Beatrice mengidap penyakit jantung dan gembur-gembur, sehingga dia tak bisa melakukan banyak kegiatan. Tapi Sir Robert biasa menemaninya di kamar selama dua jam setiap malam. Itu memang layak dilakukannya karena Lady Beatrice telah begitu baik terhadapnya. Namun sekarang kebiasaan itu tak lagi dijalankannya. Lady Beatrice sangat sedih, Mr. Holmes. Dia jadi pemurung dan banyak minum."

"Sebelum keanehan-keanehan ini terjadi, apakah dia suka minum-minum?"

"Well, paling segelas, tapi sekarang sebotol pun dia habiskan sekali minum. Begitulah menurut Stephens, kepala pelayan. Semuanya berubah, Mr. Holmes, dan tampaknya ada sesuatu yang tidak beres. Lagi pula, apa gerangan kerja tuan saya malam-malam di ruang bawah tanah kapel tua? Dan siapa yang menemuinya di sana?"

Holmes menggosok-gosokkan tangannya.

"Silakan dilanjutkan, Mr. Mason. Kisah ini makin lama makin menarik!"

"Kepala pelayan juga yang melihatnya pergi ke situ. Waktu itu jam dua belas malam dan sedang hujan lebat. Malam berikutnya, saya menunggu di rumah Sir Robert dan ternyata dia pergi lagi. Saya dan Stephens mengikutinya, walaupun apa yang kami lakukan cukup berbahaya. Kalau dia memergoki kami, kami pasti celaka. Tuan sangat galak. Kalau marah dia main pukul. Dia tak pernah menghargai orang lain. Maka kami mengikutinya dari kejauhan, tapi bisa cukup jelas melihat gerak-geriknya. Dia menuju ruangan yang mengerikan itu, dan di sana ada orang yang menunggunya."

"Tempat apa sebenarnya itu?"

"Well, Sir, di halaman Shoscombe ada kapel tua yang sudah rusak. Begitu tuanya sehingga tak seorang pun tahu berapa usianya. Dan kapel itu mempunyai ruang bawah tanah yang sangat menyeramkan. Pada siang hari saja tempat itu gelap, lembap, dan sunyi sepi. Apalagi ketika malam. Tak banyak orang sekitar situ yang berani mendekat ke tempat itu. Tapi Tuan tak takut. Tak ada yang ditakutinya di dunia ini. Namun saya benar-benar tak habis pikir, apa yang dilakukannya di sana malam-malam begitu?"

"Tunggu sebentar!" kata Holmes. "Anda mengatakan ada orang lain di sana. Pastilah salah satu pekerja istal atau penghuni rumah. Anda tinggal mencari orangnya lalu menanyainya."

"Saya tak mengenal orang itu."

"Bagaimana Anda bisa bilang begitu?"

"Karena saya telah melihatnya, Mr. Holmes, malam itu juga. Setelah Sir Robert membelok dan lewat di depan kami—saya dan Stephens yang mengendap-endap di semak belukar—kami mendengar orang lain im mondar mandir di belakang gedung. Kami tak takut kepadanya. Maka, ketika Sir Robert telah pergi, kami keluar dari persembunyian dan berpura-pura sedang jalan jalan di bawah sinar rembulan. Kami mendekatinya dengan santai. 'Halo! Anda siapa, ya?' sapa saya. Rupanya dia tak mendengar langkah kami, dan menoleh dengan sangat terkejut seperti melihat setan. Dia berteriak, lalu langsung menghilang dalam kegelapan. Larinya cepat sekali! Benar-benar cepat. Dalam semenit dia sudah tak kelihatan dan tak kedengaran lagi, jadi kami tak pernah tahu siapa dia ataupun apa pekerjaannya."

"Tapi apakah Anda melihat wajahnya dengan jelas di bawah sinar bulan?"

"Ya, wajah yang kekuningan itu benar-benar tampak bengis. Entah apa urusannya dengan Sir Robert."

Selama beberapa saat Holmes termenung.

"Siapa yang biasanya menemani Lady Beatrice Falder?" tanyanya akhirnya.

"Pelayan wanitanya, Carrie Evans. Dia telah bekerja selama lima tahun."

"Kesetiaannya tak perlu diragukan?"

Mr. Mason bergerak-gerak dengan gelisah.

"Dia cukup setia," jawabnya akhirnya. "Tapi tak bisa saya katakan kepada siapa dia setia."

"Ah!" kata Holmes.

"Saya tak mau jadi penyebar gosip."

"Saya bisa mengerti, Mr. Mason. Saya tahu situasinya. Dr. Watson telah menjelaskan bahwa Sir Robert memang mata keranjang. Tak terpikirkah oleh Anda bahwa pertengkaran antara kakak beradik itu mungkin bersumber pada hal ini?"

"Skandal itu sebenarnya telah lama diketahui orang banyak."

"Tapi Lady Beatrice mungkin belum lama tahu. Andaikan saja dia tiba-tiba mengetahui hal itu lalu dia ingin mengusir pelayan wanitanya. Tapi sang adik melarangnya. Wanita yang sakit-sakitan itu, tentu saja tak berdaya memaksakan kehendaknya. Dia tetap mempekerjakan si pelayan walaupun membencinya. Wanita itu jadi pendiam dan pemurung, dan menghibur diri dengan minuman keras. Karena jengkel, Sir Robert lalu membuang anjing spaniel kesayangan wanita itu. Bukankah semuanya berhubungan?"

"Well, mungkin juga—sejauh ini."

"Tepat sekali! Sejauh ini. Sekarang, bagaimana tentang kunjungan-kunjungan malam hari Sir Robert ke kapel tua itu? Rasanya tidak ada hubungannya sama sekali dengan gambaran kita."

"Memang, Sir, dan ada hal lain yang juga tak cocok. Untuk apa Sir Robert membongkar peti mati?"

Holmes langsung duduk tegak.

"Kami baru mengetahuinya kemarin, setelah saya menulis surat kepada Anda. Kebetulan Sir Robert berangkat ke London, maka saya dan Stephens lalu pergi ke ruang bawah tanah kapel itu. Semuanya dalam keadaan rapi, Sir, hanya di salah satu pojok ruangan terdapat sisa-sisa tubuh manusia."

"Anda tentunya langsung melaporkan hal ini ke polisi?"

Tamu kami tersenyum pahit.

"Well, Sir, saya rasa laporan saya takkan menarik perhatian mereka. Yang kami temukan hanyalah tengkorak dan beberapa tulang mumi. Usianya mungkin sudah seribu tahun. Tapi murni itu dulunya tak ada di situ itu kami yakin benar, Sir. Mumi itu teronggok di pojok ruangan dan ditutupi papan. Sebelumnya tak ada apa-apa di pojok sebelah situ

"Lalu Anda apakan mumi im?"

"Well, kami tinggalkan saja."

"Tindakan yang bijaksana. Anda mengatakan kemarin Sir Robert pergi. Apakah dia sudah kembali?"

"Kami kira dia akan kembali hari ini."

"Kapan Sir Robert membuang anjing kakaknya?"

"Baru seminggu yang lalu. Ketika itu si anjing sedang menyalak di luar bangunan pengadilan tua, dan Sir Robert sedang tinggi emosinya. Dia langsung menangkap anjing itu, dan tampaknya berniat membunuhnya. Tapi anjing im lalu diserahkannya kepada Sandy Bain, sang joki, dengan pesan agar ia mengantarnya ke Pak Tua Barnes pemilik Penginapan Green Dragon. Katanya dia tak mau melihat anjing itu lagi."

Holmes duduk termenung sambil mengisap pipa. "Belum jelas bagi saya apa yang sebenarnya Anda ingin saya lakukan sehubungan dengan kasus ini, Mr. Mason," katanya. "Tak bisakah Anda mengutarakannya?"

"Mungkin benda ini bisa menjelaskannya, Mr. Holmes," sahut tamu kami.

Dia mengeluarkan bungkusan kecil dari saku bajunya dan memperlihatkan sepotong tulang.

Holmes mengamatinya dengan penuh minat.

"Dari mana Anda mendapatkannya?"

"Ada perapian sentral di gudang yang letaknya tepat di bawah kamar Lady Beatrice. Telah lama alat itu tak dihidupkan, tapi beberapa hari yang lalu Sir Robert mengeluh tentang hawa yang sangat dingin dan menyuruh pelayan menyalakannya. Harvey—salah satu bawahan saya—yang mengurusi alat pemanas itu. Pagi tadi dia menemui saya membawa tulang yang ditemukannya di onggokan abu. Dia ngeri melihat benda ini."

"Saya pun demikian," kata Holmes. "Bagaimana pendapatmu, Watson?"

Tulang itu gosong, tapi bentuknya masih utuh.

"Ini tulang manusia—bagian paha atas," kataku.

"Tepat sekali!" kata Holmes serius. "Kapan biasanya bawahan Anda itu mengurus perapian?"

"Dia menyalakannya setiap sore lalu meninggalkannya."

"Jadi sepanjang malam orang bisa masuk ke situ tanpa sepengetahuannya?"

"Ya, Sir."

"Dapatkah Anda masuk dari luar?"

"Ada pintu masuk dari luar. Ada satu pintu lagi di kamar Lady Beatrice."

"Wah, kasus ini rumit, Mr. Mason—rumit dan agak kotor. Anda bilang Sir Robert tak ada di rumah semalam?"

"Ya, Sir."

"Jadi, bukan dia yang membakar tulang itu."

"Benar, Sir."

"Apa nama rumah penginapan yang tadi Anda sebutkan?"

"Green Dragon."

"Apakah di daerah Berkshire ada tempat memancing yang bagus?"

Pelatih yang lugu itu tertegun, seolah dia sedang menghadapi orang gila yang lain lagi.

"Well, Sir, saya pernah dengar di sungai dekat pabrik banyak ikan trout dan pike di danau dekat tempat saya bekerja."

"Bagus. Saya dan Watson dua penangkap ikan yang hebat, bukan begitu, Watson? Alamat kami sementara akan pindah ke Green Dragon. Kami akan tiba di sana malam ini. Tak perlu kami jelaskan bahwa selama di sana kami tak ingin bertemu dengan Anda, Mr. Mason. Kalau ada perlu, silakan mengirim surat saja, dan bila saya membutuhkan Anda, saya tahu di mana harus menemui Anda. Kalau kami sudah menyelidiki kasus ini lebih jauh, mungkin kami dapat mengutarakan pendapat kami."

Begitulah, pada suatu malam yang cerah di bulan Mei, aku dan Holmes berada di kereta api kelas satu untuk melaksanakan tugas penyelidikan di Shoscombe. Rak di atas tempat duduk kami penuh dengan alat-alat pancing. Sesampainya di tempat tujuan kami naik kereta ke penginapan kuno milik Josiah Barnes. Ia bersemangat sekali ketika kami menyampaikan maksud kami untuk memancing di dekat situ.

"Bagaimana kalau kami memancing di danau dekat Gedung Tua Shoscombe untuk mendapatkan ikan pike?" tanya Holmes.

Wajah pemilik penginapan itu menjadi muram.

"Tak bisa, Sir. Anda bisa-bisa diceburkan ke danau sebelum sempat memancing."

"Memangnya ada apa?"

"Sir Robert, Sir. Dia selalu curiga pada orang-orang asing, takut jika mereka berniat mengintai kudanya. Kalau melihat Anda berdua dekat-dekat lapangan tempat dia melatih kudanya, dia pasti akan melabrak Anda. Dia tak mau ambil risiko, begitulah Sir Robert."

"Saya dengar kudanya akan ikut dalam pacuan Derby."

"Ya, kuda yang hebat sekali. Dia mempertaruhkan semua uang kami untuk pacuan itu, juga uangnya sendiri. Omong-omong," katanya sambil menatap kami dengan serius, "Anda bukan penggemar pacuan kuda, kan?"

"Jelas bukan. Kami hanyalah dua penduduk London yang kecapekan, yang memerlukan udara segar."

"Well, Anda datang ke tempat yang tepat. Silakan bersantai-santai. Tapi ingatlah apa yang saya katakan tentang Sir Robert. Dia orang yang suka menghantam dulu, bicara belakangan. Jangan mendekat ke halaman gedung yang ditinggalinya."

"Baiklah, Mr. Barnes! Kami akan ingat itu. Ngomong-ngomong, betapa cantiknya anjing spaniel yang sedang menyalak di halaman."

"Memang. Dia asli keturunan Shoscombe, jenis terbaik di seluruh Inggris."

"Saya juga suka anjing," kata Holmes. "Nah, apakah saya boleh bertanya, berapa kira-kira harga anjing seperti itu?"

"Saya tak mungkin mampu membelinya, Sir. Sir Robert sendiri yang memberikannya kepada saya. Itulah sebabnya saya harus menjaganya baik-baik. Kalau tidak diikat, dia pasti sudah kembali ke tempat tinggalnya yang lama."

"Di tangan kita sudah ada beberapa kartu, Watson," kata Holmes ketika pemilik hotel itu telah meninggalkan kami. "Tak mudah memainkannya, tapi kita mungkin akan melihat hasilnya dalam satu dua hari. Oh ya, kudengar Sir Robert masih di London. Kita bisa masuk ke ruang bawah tanah itu malam ini, tanpa kuatir diserang. Aku perlu mengecek beberapa hal."

"Sudah punya dugaan, Holmes?"

"Hanya ini, Watson, yaitu telah terjadi sesuatu kira-kira seminggu yang lalu yang mengguncangkan penghuni Tempat Tua Shoscombe. Kejadian apa itu? Kita hanya bisa menduga dari akibat-akibatnya yang tampaknya cukup unik dan membingungkan. Tapi yang begitu justru sangat membantu kita. Kasus yang datar dan tak bervariasilah yang biasanya tak punya harapan untuk diselesaikan. Mari kita membahas data yang kita punyai. Sang adik tak lagi menemui kakak tercintanya yang sakit-sakitan. Dia bahkan membuang anjing kesayangannya, Watson! Apakah kau tak bisa menyimpulkan sesuatu dari hal ini?"

"Tidak, kecuali adik lelakinya itu jahat."

"Well, mungkin saja. Nah, mari kita lanjutkan pembahasan kita mulai dari saat pertengkaran di antara mereka terjadi—kalau memang telah terjadi pertengkaran. Sang kakak mengunci diri di dalam kamar, mengubah kebiasaan-kebiasaannya, tak pernah terlihat orang lain kecuali kalau sedang bepergian dengan pelayan wanitanya. Dia tak mau lagi berhenti di istal untuk menengok kuda kesayangannya, dan dia mulai menenggak minuman keras. Begitu kasusnya secara keseluruhan, bukan?"

"Ditambah urusan di ruang bawah tanah itu."

"Itu bagian lain yang terpisah. Ada dua bagian, Watson, dan kuminta kau tak mencampuradukkannya. Bagian A, yang berhubungan dengan Lady Beatrice, tidakkah terasa aneh sekali?"

"Aku tak tahu apa-apa."

"Well, sekarang, coba kita lihat bagian B, yang berhubungan dengan Sir Robert. Dia mati-matian berusaha memenangkan pacuan Derby. Dia dililit utang, dengan risiko istal kuda dan seluruh hartanya jatuh ke tangan para kreditornya. Orang yang nekat itu kini terjepit. Selama ini keuangannya sepenuhnya dibantu kakaknya. Dia pun memanfaatkan pelayan wanita kakaknya. Sejauh ini rasanya beres-beres saja, bukan?"

"Bagaimana dengan ruang bawah tanah itu?"

"Ah, ya, ruang bawah tanah itu! Mari kita anggap, Watson—ingat, ini cuma dugaan—Sir Robert telah membunuh kakaknya."

"Wah, Holmes! Tak mungkin begitu!"

"Mungkin saja, Watson. Memang Sir Robert orang terhormat, tapi kadang-kadang kita menemukan burung gagak di antara rajawali. Mari kita anggap dugaan ini benar. Dia tak bisa melarikan diri ke luar negeri sampai dia memperoleh uang, dan uang itu hanya bisa didapatnya bila Shoscombe Prince menang. Karenanya dia harus mempertahankan keadaan. Untuk itu, dia harus melenyapkan mayat korban, dan mencari orang untuk berperan sebagai kakaknya. Dengan bantuan pelayan wanita yang bersekongkol dengannya, hal itu pun tak sulit dilaksanakan. Mayat wanita itu mungkin disembunyikan di ruang bawah tanah. Bukankah jarang orang masuk ke situ? Lalu diam-diam dihancurkannya mayat itu dengan membakarnya di perapian pada malam hari. Maka bukti yang kita lihat merupakan sisa mayat yang belum sempat terbakar. Bagaimana menurutmu, Watson?"

"Semua itu mungkin saja jika dugaanmu yang mengerikan benar."

"Ada eksperimen kecil yang akan kita lakukan besok, Watson, untuk mendapatkan sedikit kejelasan tentang kasus ini. Sementara itu, sebaiknya kita tetap berperan seperti yang kita rencanakan. Mari kita menemui pemilik hotel sambil minum anggur dan ngobrol tentang belut dan ikan—topik-topik yang tampaknya sangat disenanginya. Barangkali saja kita akan mendapat informasi tentang kejadian-kejadian di sekitar sini."

Keesokan harinya kami tak jadi pergi memancing, karena ternyata kami lupa membawa jarum umpan. Sekitar pukul sebelas, kami pergi berjalan-jalan, dan diizinkan membawa anjing spaniel hitam itu.

"Inilah tempatnya," katanya ketika kami sampai di gerbang tinggi berpintu ganda. Di atas gerbang itu menjulang patung singa bersayap dan berkepala elang. "Menjelang tengah hari, begitu menurut Mr. Barnes, biasanya nyonya rumah pergi berjalan-jalan, dan keretanya harus diperlambat jalannya sementara menunggu pintu gerbang dibuka. Nanti kalau terjadi seperti itu, dan sebelum keretanya dilarikan lagi dengan kencang, aku mau agar kau, Watson, menyetop kusirnya dengan pura-pura menanyakan sesuatu. Jangan pedulikan aku. Aku akan bersembunyi di balik semak untuk melihat apa yang bisa kulihat."

Kami tak perlu menunggu lama. Seperempat jam kemudian, kami melihat kereta terbuka berwarna kuning bergerak dari bagian dalam halaman menuju pintu gerbang. Di bawah sinar matahari, tampak dua ekor kuda abu-abu yang gagah dan langkahnya panjang-panjang. Holmes langsung menarik anjing spaniel yang dibawanya ke balik semak. Aku berdiri santai di pinggir jalan sambil mengayun ayunkan tongkat. Seorang penjaga berlari keluar untuk membuka pintu gerbang.

Ketika kereta itu diperlambat aku bisa melihat para penumpangnya. Seorang wanita muda berkulit gelap dengan rambut cokelat kekuningan dan mata nyalang duduk di sebelah kiri. Di sampingnya duduk wanita tua bertubuh gemuk dengan syal terlilit di sekitar wajah dan bahunya—rupanya dialah sang nyonya rumah yang sakit-sakitan. Ketika kereta itu sudah mencapai jalan, aku mengangkat tangan dengan gerakan memerintah, dan begitu kusirnya memperlambat kereta, kutanyakan apakah Sir Robert ada di rumah.

Pada saat yang sama Holmes keluar dari persembunyiannya dan melepaskan anjing spaniel itu. Sambil menyalak gembira anjing itu berlari ke arah kereta dan melompat naik ke tangganya. Tapi sekejap kemudian, anjing itu menggeram-geram marah, dan dia berusaha menggigit pakaian wanita yang duduk di hadapannya

"Terus! Terus!" jerit sebuah suara besar. Kusir kereta mencambuk kedua kudanya dan kereta itu meninggalkan kami yang berdiri di jalan.

"Well, Watson, itu pun sudah cukup," kata Holmes sambil kembali memasangkan rantai di leher spaniel yang masih menggeram itu. "Dia mengira yang didekatinya tadi nyonyanya, dan ternyata bukan. Anjing tak pernah salah mengenali orang."

"Tapi yang menjerit tadi suara pria!" teriakku.

"Tepat sekali! Kartu kita bertambah satu lagi, Watson, tapi kita harus tetap berhati-hati memainkannya."

Tampaknya sahabatku tak punya rencana lain hari itu, sehingga kami lalu memutuskan untuk pergi memancing di sungai dekat pabrik. Dan malam itu menu makanan kami adalah ikan trout. Setelah makan malam, barulah Holmes menunjukkan tanda-tanda hendak melakukan kegiatan baru. Sekali lagi kami berjalan menuju tempat yang kami kunjungi tadi siang. Di pintu gerbang ternyata sudah menunggu John Mason, pelatih kuda yang menemui kami di London.

"Selamat malam, Tuan-tuan," katanya. "Saya sudah menerima-surat Anda, Mr. Holmes. Sir Robert belum pulang, tapi saya dengar dia akan pulang malam ini."

"Berapa jauh jarak kapel itu dari rumah?" tanya Holmes.

"Sekitar seperempat-mil."

"Kalau begitu, kehadirannya tak perlu diperhitungkan."

"Saya tak berani berbuat begitu, Mr. Holmes. Begitu tiba di rumah, dia pasti akan memanggil saya untuk menanyakan Shoscombe Prince."

"Baik. Kalau begitu kami akan bekerja sendiri, Mr. Mason. Tunjukkan saja di mana kapel itu, dan sesudahnya Anda boleh meninggalkan kami."

Malam itu gelap gulita, tapi dengan cekatan Mason membimbing karni melewati padang rumput sampai kami melihat bayangan hitam di hadapan kami. Itulah kapel yang sedang kami tuju. Kami memasuki celah yang dulunya serambi. Pemandu jalan kami berjalan terseok-seok di antara tumpukan puing untuk mencapai ujung gedung. Di situ ada tangga curam menuju ruang bawah tanah. Dia menyalakan korek api sehingga kami dapat melihat apa yang terhampar di hadapan kami. Ruangan itu mengerikan dan sepertinya berhantu, dengan dinding-dinding kuno yang sudah ambruk di sana-sini, batu-batuan yang porak-poranda, serta tumpukan peti mati timah dan batu yang berjajar dari bawah sampai ke langit-langit. Holmes menyalakan lampu senter dan menyorotkannya ke tumpukan peti mati berhiaskan patung singa bersayap dan berkepala elang, lambang kejayaan keluarga yang dibawa penyandangnya sampai ke liang kubur.

"Anda bilang Anda telah menemukan tulang-tulang manusia, Mr. Mason. Bisakah Anda tunjukkan tempatnya sebelum Anda meninggalkan kami?"

"Di sudut sana."

Pelatih itu menyeberangi ruangan, namun langkahnya terhenti ketika lampu senter kami menyorot ke tempat yang ditunjukkannya. "Tak ada lagi di situ," katanya.

"Sudah saya duga," kata Holmes sambil tergelak "saya rasa sebagian sudah jadi abu di perapian."

"Tapi untuk apa orang membakar mayat yang sudah berusia ribuan tahun?" tanya John Mason.

"Itulah yang ingin kami selidiki dengan kehadiran kami di sini," kata Holmes. "Penyelidikan ini bisa memakan waktu lama, jadi silakan Anda meninggalkan kami. Saya rasa malam ini juga kami akan mendapatkan penyelesaiannya."

Ketika John Mason telah pergi, Holmes mulai mengamati peti-peti itu, mulai dari yang paling kuno sejak zaman Saxon, yaitu yang berada di tengah-tengah, zaman Dinasti Norman Hugo dan Odo, sampai ke Sir William dan Sir Denis Falder yang hidup di abad kedelapan belas.

Lebih dari satu jam kemudian, Holmes mendekati peti mati timah yang terletak di dekat pintu masuk. Kudengar ia berteriak kecil penuh kepuasan, dan dari gerakannya yang tergesa-gesa dan mantap tahulah aku bahwa dia telah mendapatkan apa yang dicari-carinya. Dengan kaca pembesarnya dia mengamati pinggiran tutup peti itu. Dikeluarkannya alat pengungkit pendek dan pembuka peti yang lalu disisipkannya pada celah di pinggiran peti. Dia lalu mendongkel tutup peti yang tampaknya hanya dipaku pada dua bagian. Terdengar suara bergeretak ketika tutup peti itu mulai menguak, tapi tiba-tiba kegiatan kami terganggu.

Terdengar suara orang berjalan di lantai atas kapel. Langkah-langkahnya mantap dan terburu-buru, berarti ia datang ke sini dengan maksud tertentu dan sudah mengenal tempat ini dengan baik. Seberkas cahaya terlihat di tangga, dan tak lama kemudian orang itu muncul. Penampilannya menyeramkan—tinggi besar dan bengis. Ia memegang lampu istal besar di depannya sehingga cahayanya menyinari wajahnya yang berkumis lebat dan matanya yang memancarkan kemarahan. Ia menatap ke sekeliling dengan saksama, dan akhirnya menemukan kami berdua. Ia menatap kami dengan terperanjat.

"Siapa kalian?" teriaknya bagaikan halilintar. "Dan apa yang kalian lakukan di sini?"

Karena Holmes tak menjawab, ia maju beberapa langkah dan mengangkat tongkat pemukul yang dibawanya.

"Kalian dengar saya?" teriaknya lagi. "Kalian siapa? Apa yang kalian lakukan di wilayah saya?"

Ia mengacung-acungkan tongkat pemukulnya.

Bukannya mundur, Holmes malah melangkah maju.

"Saya juga punya pertanyaan buat Anda, Sir Robert," katanya ketus. "Siapa ini? Dan mengapa bisa sampai di sini?"

Holmes langsung membalikkan badan dan membuka tutup peti mati di belakangnya. Dalam cahaya lampu, aku melihat mayat yang terlilit kain putih dari kepala sampai ke kaki. Wajahnya mengerikan, seperti nenek sihir, hidung dan dagunya mencuat, matanya melotot, dan wajahnya berkerut-kerut.

Sambil berteriak, sang bangsawan melangkah mundur, lalu berpegangan pada peti mati yang terbuat dari batu.

"Bagaimana Anda bisa tahu?" teriaknya. Lalu, kembali ke sikapnya yang kasar. "Apa urusannya dengan Anda?"

"Nama saya Sherlock Holmes," kata sahabatku. "Anda mungkin pernah mendengarnya. Begini, urusan saya adalah urusan semua warga negara yang baik, yaitu menegakkan keadilan. Tampaknya, Anda perlu menjawab banyak pertanyaan."

Selama beberapa saat, Sir Robert hanya menatap nyalang, tapi suara Holmes yang tenang serta sikapnya yang dingin dan penuh percaya diri membuatnya gentar.

"Demi Tuhan, Mr. Holmes, semuanya baik baik saja," katanya. "Saya menyadari bahwa yang tampak dari luar semuanya menyudutkan saya, tapi saya tak bisa berbuat lain."

"Saya akan senang kalau ternyata begitu, tapi sayangnya Anda harus menjelaskannya kepada pihak kepolisian."

Sir Robert mengangkat bahunya yang bidang.

"Well, baiklah kalau begitu. Ayo kita ke rumah dan akan saya ceritakan semuanya, agar Anda bisa menilai sendiri bagaimana sebenarnya kasus ini."

Seperempat jam kemudian, kami berada di ruang senjata gedung tua itu. Perabotan dalam ruangan ini bagus-bagus, dan dindingnya dikelilingi lemari kaca berisi senapan. Sir Robert meninggalkan kami sebentar, lalu kembali bersama dua orang. Yang satu adalah wanita muda berkulit gelap yang kami lihat di kereta tadi pagi, satunya lagi pria berwajah tirus yang sikapnya mencurigakan. Kedua orang ini tampak bingung—rupanya sang bangsawan belum sempat menjelaskan perkembangan yang baru saja terjadi.

"Mereka," kata Sir Robert sambil melambaikan tangannya, "adalah Mr. dan Mrs. Norlett. Mrs Norlett, yang sebelum menikah bernama Evans, adalah pelayan pribadi kakak saya selama bertahun-tahun. Saya bawa mereka kemari karena saya merasa perlu menjelaskan keadaan saya yang sebenarnya kepada Anda, dan hanya mereka yang bisa saya jadikan saksi."

"Apakah ini sungguh-sungguh perlu, Sir Robert? Sudahkah Anda pikirkan baik-baik apa yang sedang Anda lakukan?" teriak wanita muda itu.

"Sedangkan saya, saya sama sekali tak ikut bertanggung jawab," kata suaminya.

Sir Robert memandangnya dengan tatapan merendahkan. "Saya akan bertanggung jawab sepenuhnya," katanya. "Nah, Mr. Holmes, dengarlah apa yang sebenarnya telah terjadi.

"Keterlibatan Anda dalam urusan ini pasti telah cukup jauh, kalau Anda bisa sampai ke ruang bawah tanah itu. Jadi mungkin Anda sudah tahu ada kuda saya yang akan bertarung di pacuan Derby, dan nasib saya sepenuhnya tergantung padanya. Kalau kuda itu menang, semuanya beres. Kalau dia kalah, wah... saya tak berani memikirkan konsekuensinya!"

"Saya mengerti posisi Anda," kata Holmes.

"Selama ini hidup saya ditunjang oleh kakak saya, Lady Beatrice. Tapi bukan rahasia lagi bahwa rumah ini hanya boleh kami tempati selama kakak saya masih hidup. Hidup saya seperti telur di ujung tanduk, karena saya terlibat banyak utang. Jika kakak saya meninggal, para kreditor akan menyita semua milik saya—istal, kuda-kuda, pokoknya tak ada lagi yang tersisa. Well, Mr. Holmes, seminggu yang lalu kakak saya benar-benar meninggal."

"Dan Anda merahasiakan hal ini!"

"Apa yang bisa saya lakukan? Saya menghadapi kehancuran total. Kalau saya bisa mempertahankan keadaan selama tiga minggu saja, semuanya akan beres. Suami pelayan wanita itu—yang ini orangnya—adalah aktor. Lalu kami—atau tepatnya saya—merencanakan agar untuk sementara waktu dia berperan sebagai kakak saya. Yang perlu dilakukannya hanyalah berkereta ke luar rumah setiap siang, dan berhubung tak ada orang yang pernah masuk ke kamar kakak saya kecuali si pelayan, rencana ini pun mudah diatur. Kakak saya meninggal akibat sakit gembur-gembur yang telah lama dideritanya."

"Biarlah hakim yang menentukan hal itu."

"Dokternya bisa memberi pernyataan bahwa gejala ke arah itu sudah terlihat beberapa bulan sebelumnya."

"Well, apa tindakan Anda selanjutnya?"

"Mayat itu tentu tak boleh berada di dalam rumah. Malam harinya, saya dan Norlett menyembunyikannya di gedung pengadilan tua yang tak pernah dipakai lagi. Tapi sialnya, anjing spaniel peliharaan kakak saya mengikuti kami, dan dia terus menyalak di depan pintu, sehingga saya merasa perlu memindahkah mayat itu ke tempat yang lebih aman. Setelah menyingkirkan si anjing, mayat kakak saya kami bawa ke ruang bawah tanah kapel. Kami melakukan semua itu dengan baik, Mr. Holmes. Rasanya sikap saya cukup hormat terhadap mendiang."

"Menurut saya, tindakan Anda tak bisa dimaafkan, Sir Robert."

Sang bangsawan menggeleng dengan jengkel. "Bicara memang mudah," katanya. "Anda mungkin akan berpikiran lain seandainya Anda berada dalam posisi saya. Orang tak akan tahan melihat semua impian dan rencananya hancur berantakan pada saat terakhir, tanpa melakukan apa pun untuk menyelamatkannya. Saya merasa tempat itu cukup layak bagi kakak saya, karena di sana jugalah dibaringkan nenek moyang suaminya. Kami membuka salah satu peti, mengeluarkan isinya, lalu menaruh mayat kakak saya di dalamnya sebagaimana Anda lihat sendiri tadi. Tentu saja tulang-tulang tua yang kami keluarkan tak bisa ditinggalkan begitu saja di lantai. Saya dan Norlett membawanya ke sudut, kemudian Norlett membakarnya di perapian pusat. Begitulah kisah saya, Mr. Holmes, walaupun saya masih tak mengerti bagaimana Anda sampai memaksa saya untuk mengisahkannya."

Holmes duduk termenung selama beberapa saat.

"Ada satu kelemahan dalam kisah Anda, Sir Robert," katanya akhirnya. "Taruhan Anda dalam pacuan itu, bukankah itu harapan masa depan Anda? Anda masih bisa hidup layak bahkan kalau para kreditor itu menyita habis semua kekayaan Anda."

"Kuda termasuk kekayaan saya. Peduli apa mereka dengan taruhan saya? Mereka mungkin takkan mengizinkan kuda itu ikut pacuan. Kreditor utama saya, sialnya, adalah musuh besar saya. Dia adalah Sam Brewer yang dengan sangat terpaksa pernah saya cambuk di Newmarket Heath. Apakah Anda pikir dia akan mau menolong saya?"

"Well, Sir Robert," kata Holmes sambil berdiri, "kasus ini, tentu saja, harus dilaporkan kc polisi. Tugas saya hanyalah mencari kebenaran faktanya. Itu saja. Sedangkan tentang apakah tindakan Anda itu cukup pantas atau bisa diterima dari segi moral, bukan wewenang saya untuk menilainya. Sudah hampir tengah malam, Watson, kurasa sebaiknya kita kembali ke penginapan kita yang sederhana."

Seperti telah diketahui umum, akhir peristiwa aneh itu ternyata jauh lebih menggembirakan dibandingkan dengan ganjaran yang sepatutnya diterima Sir Robert. Shoscombe Prince memenangkan pacuan Derby, dan pemiliknya meraup uang taruhan sebanyak 80.000 pound. Setelah membayar lunas para kreditor—yang bersedia menangguhkan tagihan sampai pacuan berakhir—Sir Robert masih mengantongi banyak uang. Baik polisi maupun hakim memandang kasusnya dengan agak lunak, dan dia hanya dianggap bersalah karena terlambat melaporkan kematian kakaknya. Sir Robert yang beruntung akhirnya berhasil membangun karier dan tetap dihormati sampai pada masa tuanya.