Di ruang penyimpanan barang-barang berharga Bank Cox & Co di Charing Cross, terdapat kotak timah tua berlabelkan namaku, John H. Watson, M.D., Late Indian Army. Kotak yang sudah mulai usang itu penuh berisi kertas, hampir semuanya merupakan catatan kasus-kasus unik yang pernah ditangani Mr. Sherlock Holmes. Beberapa di antaranya, walaupun cukup menarik, ternyata tak berhasil dipecahkan misterinya, dan karenanya tak layak disajikan kepada pembaca. Masalah tanpa jalan keluar mungkin menarik perhatian mahasiswa, tapi sangat mengganggu pembaca. Salah satu contoh kegagalan Holmes adalah dalam kasus Mr. James Phillimore, yang tak pernah terlihat lagi batang hidungnya di bumi sejak ia melangkah kembali ke dalam rumahnya untuk mengambil payung. Yang tak kalah peliknya adalah misteri lenyapnya kapal Alicia yang berlayar pada suatu pagi di musim semi yang berkabut. Sejak berangkatnya, tak ada berita lebih lanjut baik tentang nasib kapal itu maupun awak kapalnya. Kasus ketiga yang pantas dikemukakan di sini ialah kasus Isadora Persano, wartawan dan jago duel terkenal, yang ditemukan dalam keadaan gila dengan kotak korek api berisi ulat misterius di hadapannya.

Di samping kasus-kasus yang tak terpecahkan ini, ada beberapa kasus lain menyangkut rahasia pribadi keluarga bangsawan yang bila diterbitkan akan menimbulkan keresahan. Namun tentu saja aku dan sahabatku Holmes tidak berniat menyalahgunakan kepercayaan yang telah diberikan kepada kami. Catatan kasus-kasus itu akan dipisahkan dan dihancurkan oleh sahabatku saat ini juga karena kebetulan dia punya waktu dan tenaga. Nah, kisah-kisah selebihnyalah yang berhak kusodorkan kepada pembaca. Sebetulnya jauh-jauh hari aku sudah bermaksud mengisahkannya, hanya aku khawatir pembaca akan menjadi jenuh sehingga reputasi sahabatku bisa jatuh. Dalam beberapa kasus, aku ikut terlibat dalam penyelidikannya dan menampilkan diri sebagai saksi mata, sedangkan dalam kasus-kasus lainnya aku tak berperan atau sedikit saja ikut berperan, sehingga aku mengambil posisi orang ketiga. Kisah berikut ini kuangkat dari pengalamanku sendiri.

Pada suatu pagi di bulan Oktober yang muram, sementara berpakaian, aku memperhatikan daun-daun dibawa angin menjauhi pepohonan asal mereka dan memenuhi halaman belakang tempat tinggal kami. Aku turun untuk makan pagi, dan menduga akan menemukan sahabatku dalam keadaan tertekan, karena sebagaimana seniman-seniman besar, Holmes gampang sekali terpengaruh keadaan sekelilingnya. Berlawanan dengan dugaanku, dia ternyata sudah hampir selesai makan pagi, dan suasana hatinya pun riang. "Kau sedang punya kasus, Holmes?" tanyaku.

"Kemampuan menarik kesimpulan rupanya menular, ya, Watson," jawabnya, "sehingga kau bisa menerka rahasiaku. Ya, aku sedang punya kasus. Setelah sebulan mengurusi hal-hal sepele, kini roda-roda otakku mulai berfungsi lagi."

"Apakah aku boleh tahu?"

"Tak banyak yang dapat kusampaikan padamu, tapi kita bisa membicarakannya kalau kau sudah menelan dua telur rebus yang dimasak terlalu matang oleh tukang masak kita yang baru. Keadaannya bisa jadi ada hubungannya dengan majalah Family Herald yang kemarin kulihat di meja ruang depan. Bahkan hal sepele seperti merebus telur membutuhkan ketepatan waktu, yang mestinya tak boleh diseling dengan membaca kisah cinta dalam majalah yang bagus itu."

Seperempat jam kemudian, meja telah dibersihkan dan kami duduk berhadapan muka. Holmes mengeluarkan surat dari sakunya.

"Pernah dengar nama Neil Gibson, sang Raja Emas?" tanyanya.

"Maksudmu senator Amerika itu?"

"Well, dia pernah menjabat senator di salah satu negara bagian di sebelah barat, tapi dia lebih dikenal sebagai pemilik tambang emas terbesar di dunia."

"Ya, aku tahu dia. Dia menetap di London sejak beberapa waktu lalu. Namanya tak asing bagiku."

"Ya, dia membeli tanah yang sangat luas di Hampshire kira-kira lima tahun yang lalu. Kau mungkin sudah mendengar tentang kematian tragis istrinya?"

"Tentu saja. Aku ingat sekarang. Itulah sebabnya nama itu tak asing bagiku. Tapi aku sama sekali tak tahu perincian kejadiannya."

Holmes melambaikan tangannya ke arah koran-koran di kursi. "Aku tak mengira kasus ini akan kutangani. Kalau tahu, aku pasti sudah menyiapkan bahan-bahannya," katanya. "Kenyataannya, masalah itu walaupun sangat sensasional, tampaknya tak rumit. Kepribadian tersangka memang menarik, tapi itu tak membuat kabur bukti-bukti yang sudah cukup jelas, begitulah pandangan penyidik. Kasus itu sekarang dibawa ke pengadilan di Winchester. Aku khawatir penyelidikanku akan sia-sia, Watson. Aku bisa saja menggali fakta, tapi aku tak dapat mengubahnya, kan? Kecuali muncul bukti-bukti yang sama sekali baru dan tak terduga, aku tak melihat ada harapan bagi klien kita."

"Klien?"

"Ah, aku lupa mengatakannya padamu. Aku ketularan kebiasaan jelekmu, Watson, yaitu menceritakan sesuatu dari belakang. Sebaiknya kaubaca ini dulu."

Surat yang diserahkannya kepadaku ditulis tangan. Tulisannya mantap dan meyakinkan. Bunyinya sebagai berikut:
Hotel Claridge,
3 Oktober

Mr. Sherlock Holmes yang terhormat,

Saya tak bisa berpangku tangan melihat wanita paling baik hati yang pernah diciptakan Tuhan akan dihukum mati. Saya tak bisa menjelaskan semuanya di sini—bahkan takkan mencoba melakukannya—tapi saya yakin benar bahwa Miss Dunbar tak bersalah. Anda pasti tahu detail peristiwanya—siapa yang tidak? Tragedi ini sudah menjadi buah bibir di seluruh negeri. Dan tak ada satu pun suara yang membelanya! Semua ketidakadilan inilah yang membuat saya gila. Wanita itu bahkan tak sampai hati membunuh lalat. Well, saya akan datang pukul sebelas besok untuk mendapatkan secercah cahaya dalam kegelapan. Saya mungkin punya petunjuk tanpa menyadarinya. Pokoknya, apa pun yang saya tahu, apa pun yang saya miliki, bagaimanapun keadaan saya, saya siap membantu asalkan Anda bisa menyelamatkannya. Saya menantang Anda untuk menunjukkan kemampuan Anda dalam memecahkan permasalahan ini.

Hormat saya,
J. Neil Gibson
"Nah, kau sudah tahu sekarang," kata Sherlock Holmes sambil mengetuk-ngetukkan pipa rokoknya untuk mengeluarkan sisa abu di dalamnya, lalu pelan-pelan mengisinya lagi. "Pria itulah yang sedang kutunggu. Sedangkan kisahnya—berhubung kau belum sempat membaca semua surat kabar itu—akan kusingkat saja kalau memang kau berminat ikut serta dalam penanganan kasus ini. Pria ini orang terkaya di dunia, dan setahuku sifatnya sangat garang. Istrinyalah yang terbunuh dalam tragedi ini. Aku tak tahu apa-apa tentang si istri, kecuali dia berumur separo baya dan telah melewati masa jayanya. Malang baginya, di tengah keluarganya hadir guru les muda yang sangat menawan yang mengajar kedua anaknya yang masih kecil. Itulah ketiga tokoh yang terlibat, dan lokasi kejadiannya adalah rumah bangsawan kuno yang besar. Sekarang mengenai tragedi itu sendiri. Sang istri ditemukan tergeletak di tanah hampir setengah mil dari rumah, pada pukul sebelas malam. Ia masih mengenakan pakaian yang dipakainya waktu makan malam. Syal melilit di lehernya, peluru menembus otaknya. Tak ditemukan senjata di dekatnya dan tak ditemukan petunjuk di sekeliling tempat pembunuhan itu. Tak ditemukan senjata di dekatnya, Watson—perhatikan itu! Pembunuhan tampaknya dilakukan beberapa jam sebelumnya, dan mayatnya ditemukan pengawas hutan. Polisi dan dokter sempat memeriksa keadaan mayat, sebelum diangkat masuk ke rumahnya. Apakah penuturanku terlalu padat? Bisakah kau mengikutinya dengan jelas?"

"Sangat jelas. Tapi mengapa guru les itu yang dituduh?"

"Well, pertama-tama karena ada bukti langsung yang ditemukan. Pistol yang pelurunya telah terpakai satu dan ukurannya cocok dengan yang ditembakkan ke korban, ditemukan tergeletak di dasar lemari pakaiannya." Mata sahabatku menjadi serius dan dia mengulang kalimat terakhir dengan terpatah-patah, "Tergeletak-di-dasar-lemari-pakaiannya." Dia terdiam, tenggelam dalam alam kembaranya sendiri. Aku tak berani mengusiknya. Tiba-tiba, dengan lonjakan yang mengejutkan, dia kembali ke dunia nyata. "Ya, Watson, begitulah kenyataannya. Bukti yang sangat memberatkan, bukan? Lebih-lebih lagi, di tangan korban terdapat surat dari sang guru les berisi janji pertemuan mereka di tempat yang kemudian menjadi lokasi pembunuhan. Dan wanita muda itu memiliki motif, Watson. Kalau si istri disingkirkan, ia punya peluang besar untuk menjadi pendamping Senator Gibson yang memang sudah lama memperhatikannya. Asmara, kekayaan, pangkat berada dalam genggamannya. Parah, Watson—sangat parah!"

"Memang benar, Holmes."

"Wanita itu tak punya alibi. Sebaliknya, dia telah mengakui berada di dekat Jembatan Thor—di situlah tragedi itu terjadi—sekitar jam pembunuhan. Dia tak bisa mengingkarinya karena ada saksi mata."

"Jadi tampaknya sudah final."

"Tapi, Watson... tapi! Jembatan batu yang sisi-sisinya berdinding batu ini membentang di atas bagian yang paling dangkal Danau Thor. Di mulut jembatan inilah korban tergeletak. Nah, kau sudah mendengar fakta-fakta utamanya. Kini kita akan menemui klien kita, yang rupanya datang agak awal."

Billy membuka pintu, tapi nama yang disampaikan kepada kami bukan yang sedang kami tunggu. Kami berdua tak mengenal Mr. Marlow Bates. Orangnya kurus, gemetaran, matanya ketakutan, sikapnya ragu-ragu—dalam pandanganku dia benar-benar sedang mengalami tekanan batin yang hebat.

"Anda kelihatan cemas, Mr. Bates," kata Holmes. "Silakan duduk. Tapi saya cuma punya waktu sedikit, karena saya ada janji pada jam sebelas."

"Saya tahu," sergah tamu kami terengah-engah. "Mr. Gibson mau datang. Dia majikan saya, Mr. Holmes. Saya mengurus rumah dan tanahnya. Mr. Gibson itu penjahat—penjahat yang sangat berbahaya."

"Istilah Anda keras sekali, Mr. Bates."

"Saya harus tegas, Mr. Holmes, karena waktunya sangat terbatas. Jangan sampai dia melihat saya di sini. Tak lama lagi dia akan tiba. Tapi saya begitu sibuk, sehingga tak bisa kemari sebelum ini. Sekretarisnya, Mr. Ferguson, baru tadi pagi mengatakan kepada saya bahwa dia ada janji dengan Anda."

"Tadi Anda katakan Anda yang mengurus rumah dan tanahnya?"

"Saya sudah minta berhenti. Dua minggu lagi saya akan terbebas dari perbudakan. Dia orangnya keras, Mr. Holmes, keras terhadap semua orang di sekelilingnya. Kedermawanan yang digembar-gemborkannya hanyalah topeng untuk menutupi kebobrokan moralnya. Tapi yang paling sering menjadi korban adalah istrinya. Dia sangat brutal terhadapnya—ya, Sir, brutal! Bagaimana wanita itu menemui ajalnya saya tidak tahu, tapi saya yakin majikan saya telah membuat hidupnya sangat menderita. Anda tentu tahu si istri berasal dari negara tropis, Brazilia..." ,

"Tidak, informasi itu belum sampai ke saya."

"Dia wanita tropis yang berdarah panas, dan mati-matian mencintai suaminya. Namun ketika pesonanya memudar—padahal orang bilang dulu dia sangat cantik—tak ada lagi yang memikat suaminya. Kami semua menyukainya dan sangat iba terhadapnya, dan kami benci pada suaminya yang telah memperlakukannya dengan begitu buruk. Tapi si suami licik dan banyak akal. Hanya itu yang ingin saya katakan pada Anda. Jangan terpengaruh penampilan fisiknya. Di baliknya sangat lain. Nah, saya harus pergi. Jangan. Jangan halangi saya! Majikan saya hampir tiba di sini."

Sambil menatap jam dengan penuh ketakutan, tamu kami yang aneh ini berlari ke pintu dan menghilang.

"Well! Well!" kata Holmes setelah terdiam sejenak. "Karyawan-karyawan Mr. Gibson tampaknya sangat 'setia' kepadanya. Tapi peringatan Mr. Bates ada gunanya, dan sekarang kita hanya bisa menunggu sampai yang bersangkutan datang kemari."

Tepat pada waktu yang sudah ditetapkan, kami mendengar langkah-langkah berat di tangga, dan miliarder tersohor itu diantarkan masuk ke ruangan kami. Ketika menatapnya, aku mengerti kenapa tak hanya karyawannya yang begitu takut dan membencinya, tetapi juga saingan-saingan bisnisnya. Seandainya aku pematung dan ingin membuat sosok orang yang sukses dan berkarakter sekeras baja, pilihanku akan jatuh kepada Mr. Neil Gibson. Figurnya tinggi besar, mirip Abraham Lincoln tanpa tanda jasa kepahlawanan. Wajahnya bagaikan berlapis granit, keras, tak mengenal belas kasihan, dengan garis-garis mencolok yang menandakan banyaknya krisis yang dialaminya. Mata abu-abunya dengan dingin menatap kami. Dia membungkuk sedikit ketika Holmes menyebutkan namaku, lalu dengan gaya penuh kuasa menarik kursi dan duduk di samping Holmes, begitu dekat sampai lututnya yang kurus nyaris menyentuh sahabatku.

"Pertama-tama perlu saya katakan, Mr. Holmes," dia memulai penuturannya, "uang tak jadi masalah untuk saya dalam kasus ini. Anda bahkan boleh membakar uang saya kalau itu dapat membantu memecahkan masalahnya. Wanita ini tak bersalah dan perlu dibela dan Andalah yang akan melakukan hal itu. Sebut saja berapa harga yang Anda minta."

"Biaya jasa saya sudah ada ketentuannya," kata Holmes dingin. "Saya tak membeda-bedakan, kecuali terhadap mereka yang tidak mampu. Mereka dapat memanfaatkan jasa saya tanpa biaya sepeser pun."

"Well, kalau uang tak ada artinya bagi Anda, pikirkanlah reputasi Anda. Bila kali ini Anda berhasil, semua surat kabar di Inggris dan Amerika akan memuja Anda. Anda akan menjadi bahan pembicaraan di dua benua."

"Terima kasih, Mr. Gibson. Saya rasa saya tak perlu dipuja orang. Anda mungkin terkejut kalau saya mengatakan saya lebih suka bekerja tanpa menyebutkan nama saya, dan yang lebih menarik bagi saya adalah jenis masalahnya. Tapi, kita sudah membuang buang waktu, tolong sampaikan saja fakta-faktanya."

"Saya rasa Anda sudah tahu yang penting-penting dari laporan para wartawan, kan? Saya tak tahu apakah ada yang perlu saya tambahkan. Namun kalau ada yang ingin Anda perjelas saya siap melakukannya."

"Well, hanya ada satu hal."

"Apa itu?"

"Bagaimana sebenarnya hubungan Anda dengan Miss Dunbar?"

Raja Emas itu terkejut sekali dan hendak bangkit dari duduknya. Tapi dia kemudian bisa menguasai diri, dan menjadi tenang kembali.

"Tentunya Anda punya hak untuk menanyakan pertanyaan macam begitu dalam tugas Anda, Mr. Holmes?"

"Sebaiknya dianggap begitu," kata Holmes.

"Hubungan kami hanyalah antara majikan dan guru les anak-anaknya, Anda harus yakin itu. Saya tak pernah berbicara atau menemuinya kecuali kalau dia bersama anak anak saya."

Holmes bangkit dari duduknya.

"Saya ini orang sibuk, Mr. Gibson," katanya, "dan saya tak punya waktu atau minat untuk membicarakan sesuatu yang tak ada ujung-pangkalnya. Sampai ketemu lagi."

Tamu kami juga berdiri, dan figurnya yang jangkung bagaikan menara di samping Holmes. Matanya menyorotkan kemarahan dan pipinya memerah.

"Apa gerangan yang Anda maksud dengan semua ini, Mr. Holmes? Anda tak mau terima kasus saya?"

"Well, Mr. Gibson, paling tidak saya tak menerima kehadiran Anda. Saya rasa kata-kata saya cukup jelas, kan?"

"Cukup jelas, tapi ada apa di belakang semua ini? Mau minta tambah bayaran, atau takut menangani, atau apa? Saya punya hak untuk mendapatkan penjelasan."

"Well, Anda mungkin sudah mendapatkannya," kata Holmes. "Akan saya tambahkan satu lagi. Kasus ini cukup rumit, apalagi kalau informasinya salah."

"Berarti saya berbohong, begitu?"

"Saya baru mencoba mengatakannya sehalus mungkin, tapi jika Anda memilih kata itu, saya setuju saja."

Aku bersiap maju, karena ekspresi miliarder itu sangat mengerikan, dan dia telah mengangkat tinjunya. Holmes tersenyum kecil, lalu mengambil pipa rokoknya.

"Jangan membuat keributan, Mr. Gibson. Bagi saya, setelah makan pagi, pertengkaran kecil pun bisa sangat mengganggu. Saya sarankan agar Anda berjalan-jalan menghirup udara pagi agar pikiran Anda tenang."

Dengan susah payah, sang Raja Emas mengendalikan amarahnya. Aku sangat kagum padanya karena dia bisa menguasai diri, dalam sekejap mengubah bara kemarahan menjadi sikap acuh tak acuh dan meremehkan.

"Kalau begitu kemauan Anda, baiklah. Saya rasa Anda tahu bagaimana Anda menjalankan bisnis Anda sendiri. Saya tak bisa memaksa Anda menangani kasus ini kalau Anda tidak bersedia. Anda telah bertindak keliru pagi ini, Mr. Holmes, karena saya telah mengalahkan banyak orang yang lebih kuat dari Anda. Tak ada orang yang menentang saya dan lolos begitu saja."

"Banyak yang berkata seperti itu pada saya, namun ternyata saya tetap di sini," kata Holmes tersenyum. "Selamat pagi, Mr. Gibson. Anda perlu belajar banyak."

Tamu kami meninggalkan ruangan dengan langkah yang memekakkan telinga, tapi Holmes dengan tenangnya mengisap pipa. Matanya menatap kosong ke langit-langit.

"Apa pendapatmu, Watson?" tanyanya akhirnya.

"Well, Holmes, menurutku karena orang ini selalu menyapu bersih apa pun yang merintangi niatnya, dan si istri yang sudah tidak dicintainya kemungkinan besar merupakan penghalang baginya, bisa saja..."

"Tepat sekali. Pendapatku demikian."

"Tapi bagaimana sebenarnya hubungannya dengan guru les itu, dan bagaimana kau bisa tahu mereka ada hubungan?"

"Cuma gertakan, Watson, cuma gertakan! Ketika kubandingkan nada suratnya yang begitu pribadi dan penuh perasaan dengan sikap dan penampilannya yang begitu resmi, jelas dia punya perasaan mendalam terhadap wanita tersangka, bukan kepada korban yang notabene istrinya sendiri. Kita harus mengerti dengan jelas bagaimana hubungan ketiga orang itu kalau kita mau menemukan kebenaran. Kaulihat sendiri serangan langsung yang kuarahkan kepadanya, dan bagaimana reaksinya. Lalu kugertak dia dengan memberi kesan seolah-olah aku benar-benar yakin, padahal sebenamya aku hanya curiga."

"Ada kemungkinan dia akan kembali ke sini?"

"Dia pasti kembali. Dia harus kembali. Dia tak mungkin mengabaikan masalah ini. Ha! Ada bunyi bel! Ya, kedengaran langkah kakinya. Well, Mr. Gibson, saya baru saja mengatakan kepada Dr. Watson bahwa Anda sedang menuju ke sini."

Sang Raja Emas memasuki ruangan kami, kali ini dengan sikap yang lebih hati-hati. Amarah dan rasa tersinggung masih terpancar dari sorot matanya, tapi nalarnya rupanya lebih menguasai dirinya. Ia sadar bahwa ia harus mengalah kalau ingin maksudnya tercapai.

"Saya telah memikirkannya, Mr. Holmes, dan saya merasa saya tadi terlalu terburu nafsu dalam menyalahartikan komentar-komentar Anda. Anda sekarang boleh mendapatkan fakta-faktanya, apa saja yang Anda butuhkan, dan saya pikir makin banyak makin baik. Tapi saya jamin, hubungan saya dengan Miss Dunbar sama sekali tak berhubungan dengan kasus ini."

"Biarlah saya yang memutuskan hal itu, setuju?"

"Ya, saya rasa begitu. Anda seperti ahli bedah, yang mau tahu setiap gejala sebelum memberikan diagnosis."

"Tepat sekali. Ungkapan Anda bagus sekali. Dan hanya pasien yang punya niat tertentu yang membohongi ahli bedahnya dengan cara menyembunyikan fakta-fakta penyakitnya."

"Bisa jadi begitu, tapi harus Anda akui, Mr. Holmes, kebanyakan pria akan malu kalau mereka ditanya secara blak-blakan tentang hubungannya dengan wanita—seandainya memang ada perasaan serius dalam hal ini. Saya rasa kebanyakan pria punya rahasia pribadi yang disembunyikannya dari orang lain. Dan Anda tiba-tiba nyelonong masuk ke daerah rahasia itu. Tapi saya memaafkan tindakan Anda karena Anda melakukannya untuk menyelamatkan wanita itu. Nah, semuanya siap dibuka dan dibeberkan. Apa yang ingin Anda ketahui?"

"Situasi yang sebenarnya."

Selama beberapa saat sang Raja Emas terenyak, seolah sedang mengerahkan pikirannya. Wajahnya yang angker dan berkerut-kerut tampak semakin sedih dan murung.

"Saya bisa menyampaikannya secara singkat, Mr. Holmes," katanya akhirnya. "Ada beberapa hal yang sangat menyakitkan dan juga sangat-sulit diceritakan, jadi akan saya ceritakan yang Anda butuhkan saja. Saya bertemu istri saya ketika saya mencari tambang emas di Brazil. Maria Pinto adalah putri pejabat pemerintah di Manaos, dan dia sangat cantik. Saya masih muda dan bergairah saat itu, tapi sampai sekarang pun, ketika saya mengingat kembali dengan lebih tenang dan kritis, harus saya akui dia memiliki kecantikan yang langka. Dia sangat menawan, penuh kasih sayang, baik hati, ceria, sama sekali berbeda dari wanita-wanita Amerika yang pernah saya kenal. Singkat cerita, saya jatuh cinta padanya lalu menikahinya. Ketika asmara kami sudah tak menggebu-gebu lagi—setelah beberapa tahun berlalu—baru saya sadari kami berdua tidak cocok. Cinta saya pun meredup. Seandainya cintanya terhadap saya juga meredup, semuanya akan jadi lebih mudah. Tapi Anda tahu bagaimana hati wanita! Apa pun yang saya lakukan ternyata tak mampu mengubah perasaannya. Jika saya kasar terhadapnya, bahkan brutal seperti yang mungkin dikatakan orang-orang, itu saya lakukan untuk memadamkan cintanya terhadap saya. Namun semuanya sia-sia. Selama hidup di daerah pedalaman Inggris, dia tetap saja memuja saya sebagaimana dua puluh tahun yang lalu ketika kami masih tinggal di tepi Sungai Amazon. Apa pun yang saya lakukan terhadapnya, dia tetap mencintai saya.

"Lalu datanglah Miss Grace Dunbar. Dia menjawab iklan kami dan menjadi guru les kedua anak kami. Anda mungkin sudah melihat fotonya di surat-surat kabar. Semua orang mengakui dia juga sangat cantik. Nah, saya tak ingin berpura-pura lebih bermoral dari lelaki-lelaki lain, saya akui saya tak bisa tinggal seatap dan setiap hari bertemu dengan wanita seperti itu tanpa tertarik kepadanya. Apakah saya salah, Mr. Holmes?"

"Saya tak menyalahkan perasaan tertarik Anda, tapi masalahnya berbeda kalau perasaan itu Anda ungkapkan padanya, karena wanita muda ini bisa dibilang berada dalam perlindungan Anda."

"Well, mungkin begitu," kata miliarder itu, walaupun sesaat celaan Holmes sempat menyebabkan sinar kemarahan di matanya. "Saya tak mau berpura-pura lebih baik dari keadaan saya sebenarnya. Saya kira sepanjang hidup saya, saya selalu mendapatkan apa yang saya inginkan, dan waktu itu tak ada yang lebih saya dambakan daripada memiliki wanita itu dan mendapatkan cintanya. Saya pun mengatakan hal itu kepadanya."

"Oh, begitu?"

Holmes bisa tampak angker kalau hatinya tergerak.

"Saya katakan padanya kalau saja saya bisa menikahinya, akan saya lakukan itu, tapi saya tak berdaya dalam hal ini. Saya katakan uang bukan masalah bagi saya, dan apa saja yang bisa saya lakukan untuk membuatnya bahagia dan menyenangkan hatinya akan saya lakukan."

"Anda royal sekali, ya?" kata Holmes tersenyum sinis.

"Dengar, Mr. Holmes, saya datang kemari untuk berkonsultasi tentang kasus pembunuhan, bukan masalah moral. Saya tak butuh kritik Anda."

"Saya bersedia menangani kasus Anda semata-mata demi wanita muda itu," kata Holmes ketus. "Menurut saya tuduhan yang ditimpakan kepadanya sekarang tidak lebih berat dari pelanggaran yang telah Anda lakukan. Anda telah mencoba menghancurkan hidup gadis tak berdaya yang menumpang di rumah Anda. Pria-pria kaya seperti Anda harus diberi pelajaran bahwa tak semua orang bisa dibeli dengan uang."

Betapa terkejutnya aku karena sang Raja Emas ternyata menerima celaan itu dengan sangat tenang.

"Sekarang saya menyesali perbuatan saya. Dan saya bersyukur rencana-rencana saya itu tidak terlaksana. Gadis itu menolak mentah-mentah tawaran saya, dan berniat meninggalkan rumah saya."

"Kenapa dia tak jadi pergi?"

"Well, pertama-tama, dia punya banyak tanggungan, dan tak mungkin dia membiarkan keluarganya kekurangan. Ketika saya berjanji dengan sungguh-sungguh untuk tidak mengganggunya lagi, dia akhirnya setuju untuk tetap tinggal. Tapi ada alasan lain lagi. Dia tahu dia dapat mempengaruhi saya, pengaruhnya lebih besar dari apa pun yang ada di dunia. Dan dia ingin memanfaatkannya untuk melakukan hal-hal yang terpuji."

"Bagaimana caranya?"

"Well, dia tahu sedikit tentang bisnis saya. Usaha saya sangat besar, Mr. Holmes—jauh lebih besar dari dugaan orang. Saya bisa membangun atau menghancurkan—dan biasanya saya menghancurkan. Bukan satu orang yang nasibnya ada di tangan saya, Mr. Holmes, tapi masyarakat, seluruh kota, bahkan bangsa. Bisnis itu kejam, dan mereka yang lemah akan tersingkir. Selama ini saya berkiprah tanpa pandang bulu. Saya tak pernah mengasihani diri saya, juga tak pernah kasihan kepada orang lain. Tapi dia melihatnya dari sudut lain. Saya rasa dia benar. Dia bilang orang tak boleh menumpuk kekayaan dengan mengorbankan ribuan orang yang kurang beruntung. Dia percaya ada hal-hal yang lebih berharga dari uang. Pendapat dan nasihatnya saya turuti, Mr. Holmes, dan dia tahu itu. Dia yakin telah berbuat kebajikan bagi dunia dengan mempengaruhi tindakan-tindakan saya. Itulah sebabnya dia mengurungkan niatnya meninggalkan rumah saya. Lalu musibah ini terjadi."

"Anda bisa menjelaskannya?"

Sejenak sang Raja Emas tepekur, kepalanya tertelungkup pada kedua tangannya.

"Peristiwa itu sangat menyudutkannya. Itu jelas. Isi hati wanita memang sulit diduga. Dia bisa melakukan hal-hal yang tak dapat dimengerti pria. Pada awalnya, saya begitu cemas dan bingung sehingga saya pikir dia telah melakukannya karena kerasukan. Kemudian timbul pikiran lain dalam benak saya. Begini, Mr. Holmes, istri saya sangat mencemburuinya. Meskipun dia tak punya alasan untuk mengungkapkan kecemburuannya secara terang-terangan, perasaan itu mencabik-cabik hatinya. Dia sadar gadis Inggris ini telah berhasil mempengaruhi pikiran dan sikap saya, padahal dia sendiri tak mampu melakukannya. Miss Dunbar sebenarnya membawa perubahan positif dalam hidup saya, tapi itu membuat istri saya semakin membencinya, lebih-lebih karena dia wanita tropis yang berdarah panas. Jadi saya pikir, bisa saja dia mempunyai rencana untuk membunuh Miss Dunbar—atau katakanlah menakut-nakutinya dengan pistol agar gadis itu meninggalkan rumah kami. Mungkin terjadi pergumulan di antara mereka dan pistol itu meletus mengenai pembawanya sendiri."

"Kemungkinan itu telah pula saya pikirkan," kata Holmes. "Itu satu-satunya alternatif untuk melawan tuduhan pembunuhan berencana."

"Tapi hal ini pun dengan keras disangkalnya."

"Well, itu belum kata akhir, kan? Bisa dimengerti wanita yang berada dalam keadaan yang begitu tak menguntungkan, lalu bergegas pulang dan karena kagetnya malah membawa pistol itu. Mungkin dia menyembunyikan pistol itu di lemari pakaiannya, tanpa menyadari apa yang dilakukannya, dan ketika alat pembunuh itu ditemukan dia bisa saja mencoba berbohong dengan menyangkal keterlibatannya, karena tak ada kemungkinan untuk memberikan penjelasan lain. Masuk akal, bukan?"

"Ya, hanya Miss Dunbar sendiri bersikeras menyangkalnya."

"Yah, kita lihat saja nanti."

Holmes melirik jam tangannya. "Saya yakin kita bisa mendapatkan surat izin pagi ini, lalu pergi ke Winchester dengan kereta api malam. Kalau saya sudah bertemu dengan gadis ini, mungkin kasusnya akan lebih jelas bagi saya, walaupun saya tak berani janji bahwa kesimpulan saya akan sejalan dengan kemauan Anda."

Ada sedikit kesulitan untuk mendapatkan surat izin itu, dan kami tak jadi pergi ke Winchester melainkan ke Thor, tanah Mr. Neil Gibson di Hampshire. Dia tak menemani kami, tapi kami diberi alamat Sersan Coventry, polisi setempat yang pertama kali menyidik kasus ini. Dia berperawakan tinggi, kurus, dan pucat. Sikapnya misterius dan penuh rahasia, memberi kesan bahwa dia tahu atau punya kecurigaan yang jauh melebihi apa yang berani dia katakan. Dia juga punya kelihaian untuk secara tiba-tiba mengecilkan volume suaranya menjadi bisikan bila sepertinya dia tiba pada bagian cerita yang sangat penting, padahal informasinya ternyata sepele saja. Di balik semua sikapnya yang aneh, sebenarnya dia orang baik dan jujur, yang terlalu sombong untuk mengakui bahwa kemampuannya terbatas dan untuk menerima bantuan orang lain.

"Bagaimanapun, saya lebih suka bertemu Anda daripada Scotland Yard, Mr. Holmes," katanya. "Bila diminta menyelidiki suatu kasus, mereka tak pernah menghargai polisi lokal sedikit pun kalau sukses. Tapi kalau gagal, polisi lokallah yang disalahkan. Nah, kalau Anda biasanya kerjanya lurus, begitulah yang saya dengar."

"Nama saya bahkan tak perlu muncul sama sekali," kata Holmes. Teman baru kami yang melankolis itu merasa lega. "Kalaupun saya berhasil, saya tak minta nama saya disebut-sebut."

"Wah, Anda sangat murah hati. Dan teman Anda Dr. Watson pasti bisa dipercaya. Mari, Mr. Holmes, kita berjalan ke lokasi kejadian, dan ada satu pertanyaan yang ingin saya ajukan. Hanya kepada Anda saya berani menanyakannya." Dia menengok ke sekeliling seolah-olah ketakutan. "Apakah Anda tak menduga adanya tuntutan terhadap Mr. Neil Gibson sendiri?"

"Saya sudah mempertimbangkan hal itu."

"Anda belum pernah berjumpa dengan Miss Dunbar, ya? Gadis itu perangainya manis sekali. Mr. Gibson mungkin memang ingin menyingkirkan istrinya. Dan orang-orang Amerika kan lebih gampang mencabut pistol daripada kita. Pistol itu kepunyaannya." .

"Apakah fakta itu sudah dicek kebenarannya?"

"Ya, Sir. Pistol itu salah satu dari sepasang pistol kembar yang dimilikinya."

"Salah satu pistol kembar? Di mana yang satunya?"

"Well, pria itu memiliki banyak senjata yang modelnya macam-macam. Kami belum menemukan pasangannya... yang jelas kotaknya disediakan untuk dua pistol."

"Kalau pasangannya ada, pastilah tak sulit mencocokkannya."

"Semua pistol itu ada di rumahnya. Anda bisa mengeceknya sendiri jika Anda mau."

"Mungkin nanti saja. Sebaiknya kita melihat lokasi kejadian dulu."

Pembicaraan ini berlangsung di depan rumah kecil Sersan Coventry yang sekaligus menjadi kantor polisi setempat. Kami berjalan kira-kira setengah mil melewati tanah lapang yang anginnya menderu-deru dan kami dipenuhi warna keemasan dan keperakan daun-daun pakis yang hampir layu. Akhirnya kami sampai di gerbang terbuka yang menuju Thor. Lewat jalan setapak kami menembus hutan lindung, hingga kami tiba di tempat terbuka. Dari sana kami dapat melihat rumah besar yang separonya terbuat dari kayu, modelnya campuran gaya Tudor dan Georgian, di puncak bukit. Di samping kami terdapat kolam panjang penuh dengan alang-alang, yang bagian tengahnya agak menyempit dan di atasnya ada jembatan batu untuk jalan kereta. Kedua ujung kolam semakin lama semakin membesar masing-masing menuju danau. Penunjuk jajan kami berhenti di mulut jembatan itu, lalu menunjuk ke tanah.

"Di situlah mayat Mrs. Gibson ditemukan. Saya menandainya dengan batu itu."

"Saya yakin Anda sudah berada di lokasi sebelum mayatnya diangkat?"

"Ya, mereka langsung memanggil saya."

"Siapa yang memanggil Anda?"

"Mr. Gibson sendiri. Begitu tanda bahaya berbunyi dia langsung berlari keluar rumah bersama penghuni-penghuni lainnya, dan dia memerintahkan agar jangan ada yang disentuh sampai polisi datang."

"Tindakan yang bijaksana. Saya baca di surat kabar bahwa tembakannya berasal dari jarak dekat."

"Ya, Sir, sangat dekat."

"Dekat pelipis kanan?"

"Tepat di belakang pelipis kanan, Sir."

"Bagaimana posisi mayat?"

"Tertelentang, Sir. Tak ada tanda-tanda perlawanan. Tak ada bekas pukulan. Tak ada senjata. Surat pendek yang berasal dari Miss Dunbar tergenggam erat di tangan kirinya."

"Tergenggam erat, kata Anda?"

"Ya, Sir, kami hampir tak bisa membuka jari-jarinya."

"Itu penting sekali. Itu menunjukkan bahwa tak ada orang lain yang telah menempatkan surat itu setelah kematiannya dengan tujuan memberikan petunjuk palsu. Wah! Surat itu, seingat saya, pendek saja:
Saya akan berada di Jembatan Thor pada pukul sembilan.
G. Dunbar.
Betul?"

"Ya, Sir."

"Apakah Miss Dunbar mengaku memang dia yang menulis surat itu?"

"Ya, Sir."

"Bagaimana penjelasannya?"

"Dia tak mau mengatakan apa-apa. Dia bilang dia akan membela diri di depan pengadilan."

"Masalah ini benar-benar menarik. Hal surat ini masih sangat kabur, kan?"

"Well, Sir," kata penunjuk jalan kami, "menurut saya justru surat itulah yang paling jelas faktanya dalam seluruh kasus ini."

Holmes menggeleng.

"Andaikan surat itu asli dan benar-benar ditulis Miss Dunbar, berarti pasti sudah diterima beberapa saat sebelumnya—mungkin satu atau dua jam sebelumnya. Lalu mengapa wanita ini masih menggenggamnya di tangan kirinya? Mengapa dia menggenggamnya dengan demikian erat? Dia toh tak perlu surat itu lagi dalam pertemuan itu. Bukankah ini hal yang luar biasa?"

"Kalau dipikir-pikir, Sir, Anda benar juga."

"Saya rasa sebaiknya saya duduk diam sejenak dan memikirkan hal ini."

Dia duduk di jembatan, mata abu-abunya yang tajam menatap ke setiap jurusan. Tiba-tiba dia bangkit dan berlari menyeberangi jembatan, lalu dicabutnya lensa pembesar dari sakunya, dan mulailah dia mengamati dinding batu jembatan di sebelah situ.

"Ini aneh," katanya.

"Ya, Sir, kami sudah melihat gompalan itu. Pasti hasil kerja orang iseng yang kebetulan lewat."

Dinding batu itu warnanya abu-abu, tapi di bagian yang gompal putih. Kalau diamati secara teliti, akan terlihat gompalan itu diakibatkan oleh pukulan yang keras.

"Perlu tenaga besar untuk menghasilkan gompalan ini," kata Holmes serius. Dengan tongkatnya dia memukul dinding itu beberapa kali tanpa meninggalkan bekas sedikit pun. "Ya, pukulannya keras sekali. Tempat gompalan itu juga unik. Bukannya dari atas tapi dari bawah, karena gompalan itu berada di bagian bawah dinding."

"Tapi, jaraknya paling tidak empat setengah meter dari tempat mayat itu ditemukan."

"Ya, jaraknya empat setengah meter. Bisa saja gompalan ini tak ada hubungannya sama sekali dengan kasus ini, tapi perlu juga diperhatikan. Saya kira tak ada lagi yang bisa kita lakukan di sini. Tak ada jejak kaki, begitu Anda bilang?"

"Tanahnya sekeras besi, Sir. Tak terlihat jejak kaki sama sekali."

"Kalau begitu, mari kita pergi. Kita akan ke rumah Mr. Gibson dulu untuk melihat koleksi senjatanya, lalu menuju Winchester. Saya ingin menemui Miss Dunbar sebelum melanjutkan penyelidikan."

Mr. Neil Gibson belum kembali dari kota, tapi kami disambut oleh Mr. Bates yang paginya datang ke tempat kami. Dengan sikap ia sinis menunjukkan koleksi senjata yang terdiri atas bermacam-macam bentuk dan ukuran.

"Mr. Gibson punya banyak musuh. Orang yang mengenal watak dan cara hidupnya pasti tak heran akan hal itu," katanya. "Dia tidur ditemani pistol yang siap diledakkan. Dia sangat kejam, Sir, dan kadang-kadang kami semua takut kepadanya. Saya yakin almarhum nyonya kami yang malang pun sering takut pada suaminya."

"Apakah Anda pernah melihat sendiri kekerasan fisik yang dilakukannya terhadap sang istri?"

"Tidak, saya tak berani mengatakan demikian. Tapi, saya sering mendengar dia mengucapkan kata-kata yang kasar, dingin, dan menyakitkan, bahkan di depan para pelayan."

"Kehidupan pribadi miliarder ini tampaknya tak begitu bahagia," komentar Holmes ketika kami menuju stasiun kereta api. "Well, Watson, kita telah mendapatkan banyak fakta, beberapa di antaranya baru, namun aku tetap merasa masih jauh dari kesimpulan akhirnya. Walaupun Mr. Bates tidak menyukai tuannya, dengan jujur dia harus mengatakan bahwa ketika tanda bahaya berbunyi, tuannya berada di ruang baca. Makan malam, selesai jam 20.30, dan semuanya normal saja sampai saat itu. Benar bahwa tanda bahaya berbunyi mendekati tengah malam, tapi tragedi itu sendiri pasti terjadi kira-kira jam sembilan. Tak ada bukti sama sekali bahwa Mr. Gibson ke luar rumah sekembalinya dari kota jam lima sore itu. Sebaliknya, Miss Dunbar, setahuku, mengakui telah membuat janji pertemuan dengan Mrs. Gibson di jembatan. Hanya itu yang dikatakannya. Pembelanya telah menasihatinya agar menyimpan dulu semua pembelaannya. Ada beberapa pertanyaan penting yang perlu kuajukan kepada gadis itu, dan pikiranku takkan tenang sebelum kita menemuinya. Aku harus mengakui kasus ini sangat memberatkan dirinya, kecuali satu hal."

"Apa itu, Holmes?"

"Ditemukannya pistol di lemari pakaiannya."

"Wah, Holmes!" teriakku. "Bagiku itu malah yang paling memberatkan."

"Tidak, Watson. Hal ini telah mengganggu pikiranku sejak pertama kali aku membaca beritanya. Dan sekarang, setelah aku mengamati kasus ini dari dekat, aku semakin yakin ada harapan baginya. Kita harus mencari hal-hal yang konsisten. Jika tak ada konsistensi, kita harus mencurigai tipu muslihat."

"Aku tak paham."

"Begini, Watson. Misalkan kau menjadi gadis itu, yang dengan kepala dan darah dingin mengatur rencana untuk menyingkirkan sainganmu. Kau menulis surat; korbannya sudah datang. Kau membawa senjata; penembakan dilaksanakan. Selesai. Coba katakan padaku, apakah setelah melakukan pembunuhan seperti itu, kau akan membawa pulang senjatanya dan menaruhnya di lemari pakaianmu? Mengapa tak kaubuang saja senjata itu ke kolam yang penuh alang-alang? Lemari pakaianmu adalah tempat pertama yang akan digeledah polisi. Kau memang bukan orang yang pandai mengatur siasat, Watson, tapi aku yakin kau pun takkan bertindak sebodoh itu."

"Bagaimana kalau waktu itu dia dalam keadaan bingung sekali?"

"Tidak, tidak, Watson. Kujamin hal itu takkan terjadi. Kalau pembunuhan sudah direncanakan dengan matang, cara menghilangkan jejaknya juga telah diatur. Itulah sebabnya aku berharap kita sedang menghadapi tipu muslihat yang sangat serius."

"Berarti banyak yang perlu dijelaskan."

"Yah, kita akan mulai melakukannya. Begitu pandanganmu berubah, hal yang paling memberatkanmu bisa menjadi petunjuk untuk menyingkap kebenaran. Misalnya, pistol itu. Miss Dunbar menyatakan tak tahu-menahu soal itu. Menurut teori kita, apa yang dikatakan Miss Dunbar kita anggap semuanya benar. Karena itu, ada orang lain yang menaruhnya di situ. Siapa yang menaruhnya? Orang yang ingin mencelakakannya. Dengan kata lain, si pembunuh sendiri. Kaulihat bagaimana penyelidikan kita akhirnya membuahkan hasil."

Kami terpaksa menginap di Winchester karena surat-surat izin yang diperlukan belum keluar, tetapi keesokan harinya, kami diperbolehkan menemui gadis itu. Ia didampingi pembelanya Mr. Joyce Cummings, pengacara yang sedang naik daun. Dari apa yang selama ini kami dengar, aku memang telah menduga akan menemui gadis cantik, tapi aku takkan pernah melupakan kesan pertamaku ketika melihatnya. Tak heran jika miliarder yang berkuasa itu sampai terpikat padanya. Siapa pun yang menatap gadis itu akan terkesan pada wajahnya yang keras dan cantik, sekaligus sensitif, sehingga kalaupun dia sampai melakukan tindak kekerasan orang harus mengakui bahwa dia memiliki karakter yang terpuji. Gadis itu berambut cokelat, jangkung, figurnya anggun dan penuh pesona, namun mata indahnya yang berwarna gelap memancarkan ekspresi putus asa, seperti binatang yang terperangkap. Ketika dia menyadari kehadiran dan pertolongan yang diupayakan sahabatku yang tersohor, pipinya yang pucat mulai sedikit memerah dan pancaran harapan mulai bersinar dari tatapan matanya yang mengarah kepada kami.

"Mungkin Mr. Neil Gibson telah mengisahkan hubungan kami kepada Anda?" dia bertanya dengan suara lemah dan bernada gelisah.

"Ya," jawab Holmes, "Anda tak perlu menyakiti diri Anda dengan menyampaikan hal itu lagi. Setelah berjumpa dengan Anda, saya percaya Mr. Gibson telah mengatakan yang sebenarnya, baik tentang pengaruh Anda atas dirinya maupun tentang bersihnya hubungan kalian. Tapi mengapa tidak Anda beberkan semuanya di pengadilan?"

"Saya merasa tuduhan yang tak masuk akal seperti itu tak mungkin dibenarkan hakim. Saya pikir kalau kami menunggu, semuanya akan beres dengan sendirinya tanpa kami perlu membeberkan hal-hal menyakitkan yang terjadi dalam keluarga. Tapi kini saya sadar masalah ini bukannya menjadi semakin jelas, tapi malah lebih parah."

"Saudariku yang baik!" teriak Holmes dengan sungguh-sungguh, "saya mohon Anda jangan mempunyai pandangan yang salah tentang kasus ini. Mr. Cummings bisa meyakinkan Anda bahwa saat ini semua bukti sangat memberatkan kita, dan kita harus bekerja keras kalau ingin menang. Merupakan kebohongan yang kejam sekali apabila berpura-pura Anda tidak sedang dalam bahaya besar. Maka dari itu, bantulah kami semaksimal mungkin dalam upaya kami untuk mendapatkan kebenaran."

"Tak ada yang akan saya sembunyikan."

"Kalau begitu, katakanlah kepada kami, tentang hubungan Anda yang sebenarnya dengan istri Mr. Gibson."

"Dia membenci saya, Mr. Holmes. Dia wanita yang tak pernah setengah-setengah melakukan sesuatu, dan sebesar cintanya kepada suaminya, sebesar itulah pula kebenciannya kepada saya. Mungkin dia telah salah mengartikan hubungan kami. Saya tak pernah berniat mengkhianatinya, tapi cintanya yang hanya secara lahiriah itu tak bisa memahami hubungan mental dan spiritual antara suaminya dan saya. Bahkan dia tak bisa membayangkan bahwa maksud saya hanyalah menjadikan suaminya lebih berbudi. Itulah semata-mata yang membuat saya bertahan tinggal di rumah itu. Sekarang saya sadar betapa salahnya tindakan saya. Tak seharusnya saya menyebabkan ketidakbahagiaan dalam keluarga itu, meski tak dapat disangkal bahwa kalaupun saya meninggalkan rumah itu, keadaan mereka takkan berbeda."

"Sekarang, Miss Dunbar," kata Holmes, "saya mohon Anda bersedia menceritakan apa sebenarnya yang telah terjadi pada malam itu."

"Saya bisa menceritakannya hanya sebatas apa yang saya tahu, Mr. Holmes, tapi saya tidak dalam posisi untuk membuktikan sesuatu. Ada beberapa hal yang sangat penting yang justru tak bisa saya jelaskan."

"Jika Anda katakan fakta-faktanya, orang lain mungkin bisa memberikan penjelasannya."

"Baik, sehubungan dengan kehadiran saya di Jembatan Thor malam itu, saya menerima surat dari Mrs. Gibson pada pagi harinya. Surat itu tergeletak di meja tempat saya mengajar, dan mungkin diletakkan di situ oleh Mrs. Gibson sendiri. Dalam surat itu dia meminta dengan sangat agar saya menemuinya di Jembatan Thor setelah makan malam, juga dikatakannya ada sesuatu yang penting yang ingin dikatakannya kepada saya. Dia meminta saya menaruh jawaban saya di jam taman, karena dia tak ingin seorang pun tahu tentang rencana pertemuan ini. Saya tak mengerti mengapa dia harus merahasiakannya, tapi saya lakukan juga sebagaimana dimintanya. Jawaban saya adalah menerima undangannya itu. Dia menyuruh saya melenyapkan surat yang dikirimnya, maka saya pun membakarnya di perapian kamar belajar. Wanita itu sangat takut kepada suaminya, yang memperlakukannya dengan kasar. Saya sering menegur Mr. Gibson atas sikapnya itu. Saya hanya bisa membayangkan wanita itu bertindak demikian karena tidak ingin suaminya tahu tentang pertemuan itu."

"Tapi dia menyimpan surat jawaban Anda dengan hati-hati?"

"Ya. Saya terkejut ketika mendengar dia memegang surat itu ketika menemui ajalnya."

"Well, apa yang terjadi kemudian?"

"Saya pergi ke tempat pertemuan itu. Ketika saya sampai di jembatan, dia sudah menunggu. Baru saat itulah saya menyadari betapa luar biasanya kebenciannya kepada saya. Dia bagaikan orang gila, saya rasa dia benar-benar gila, hanya saja dia bisa mengelabui orang lain selama ini. Bagaimana mungkin dia bisa bersikap biasa pada saya sehari-hari, padahal di dalam hati dia begitu membenci saya? Saya tak akan mengatakan apa yang dikatakannya kepada saya. Dia menumpahkan segenap kemarahannya dengan kata-kata yang sangat mengerikan. Saya tak menjawab sepatah kata pun—saya tak mampu bersuara. Saya benar-benar merasakan kepahitan hatinya. Saya menutup telinga dengan kedua tangan, lalu berlari pulang. Ketika saya meninggalkannya, dia masih berdiri di ujung jembatan sambil menyumpah-nyumpah."

"Di mana dia kemudian ditemukan?"

"Beberapa meter dari tempat itu."

"Anda tak mendengar suara letusan pistol?"

"Tidak, saya tak mendengar apa-apa. Tapi, Mr. Holmes, saat itu saya begitu bingung dan ketakutan karena ledakan amarahnya yang mengerikan, sehingga saya terus lari ke kamar saya, tanpa memperhatikan apa pun yang terjadi di luar."

"Anda mengatakan Anda langsung kembali ke kamar Anda. Apakah Anda meninggalkan kamar Anda lagi sebelum keesokan harinya?"

"Ya, ketika tanda bahaya berbunyi dan berita tentang kematiannya tersebar, saya ikut lari keluar rumah bersama penghuni lain."

"Apakah Anda melihat Mr. Gibson waktu itu?"

"Ya, dia baru saja kembali dari jembatan ketika saya melihatnya. Dia langsung memanggil dokter dan polisi."

"Apakah dia kelihatan sangat terkejut?"

"Mr. Gibson orang yang sangat kuat dan tegar, yang tak pernah menunjukkan emosinya. Tapi, karena saya kenal betul dirinya, saya bisa melihat betapa prihatinnya dia."

"Sekarang, kita sampai ke hal yang paling penting. Pistol yang ditemukan di kamar Anda itu, apakah Anda pernah melihatnya sebelumnya?"

"Tidak pernah, saya bersumpah!"

"Kapan pistol itu ditemukan?"

"Besok paginya, ketika polisi mengadakan penggeledahan."

"Di antara pakaian Anda?"

"Ya, di dasar lemari pakaian saya, di bawah gaun-gaun saya."

"Anda tak bisa memperkirakan sudah berapa lama pistol itu berada di situ?"

"Sehari sebelumnya—di pagi hari tepatnya—pistol itu belum ada."

"Bagaimana Anda tahu?"

"Karena waktu itu saya mengatur isi lemari pakaian saya."

"Kalau begitu ada orang yang masuk ke kamar Anda dan menaruh pistol itu di sana agar Andalah yang akan dituduh."

"Mestinya begitu."

"Kapan kemungkinan orang itu melakukannya?"

"Bisa pada saat makan, atau ketika saya mengajar anak-anak."

"Sama seperti ketika Anda menerima surat?"

"Ya, mulai saat itu sampai waktu makan siang."

"Terima kasih, Miss Dunbar. Apakah ada hal lain yang bisa menolong saya dalam penyelidikan ini?"

"Saya rasa tak ada."

"Kami temukan bekas pukulan di dinding batu jembatan—gompalan itu masih baru dan tepat di seberang mayat ditemukan. Apa pendapat Anda tentang hal itu?"

"Pastilah kebetulan saja."

"Aneh, Miss Dunbar, sangat aneh. Kenapa terlihatnya persis pada saat pembunuhan, dan kenapa di tempat itu?"

"Tapi, apa yang mungkin menyebabkan gompalan itu? Hanya pukulan yang keras sekali yang bisa mengakibatkannya."

Holmes tak menjawab. Wajah pucatnya yang penasaran menjadi serius dan menerawang ke kejauhan. Kalau dia bersikap begitu, biasanya dia sedang mengerahkan segenap kecerdikannya. Begitu kerasnya dia berpikir, sehingga tak satu pun dari kami berani bersuara. Maka kami bertiga—aku, pengacara, dan tersangka—cuma duduk sambil menatapnya dengan penuh ingin tahu. Tiba-tiba dia bangkit dari tempat duduknya.

"Ayo, Watson, ayo!" teriaknya bersemangat.

"Ada apa, Mr. Holmes?"

"Tak apa-apa, Nona! Nanti Anda akan mendapat kabar dari saya, Mr. Cummings. Dengan pertolongan dewa keadilan, saya akan mengungkapkan bagi Anda kasus yang akan mengguncang seluruh Inggris. Anda akan mendapat kabar besok pagi, Miss Dunbar, dan sementara itu yakinlah bahwa kabut mulai terangkat dan saya punya harapan besar cahaya kebenaran akan bersinar menggantikannya."

Jarak antara Winchester dan Thor tak begitu jauh, tapi bagiku perjalanan kami rasanya lama sekali. Rupanya Holmes pun merasakan hal yang sama. Dia begitu gelisah sampai tak bisa duduk tenang. Dia terus mondar-mandir di gerbong kereta api yang kami tumpangi, atau mengetuk-ngetukkan jemarinya ke bantalan kursi di sampingnya. Tapi tiba-tiba, ketika kami sudah mendekati tempat tujuan, dia pindah duduk di hadapanku—karena kami naik gerbong kelas satu—lalu menaruh kedua tangannya di lututku sambil menatap mataku dengan pandangan aneh.

"Watson," katanya, "seingatku kau selalu membawa senjata kalau menemaniku bertualang."

Beruntunglah dia mempunyai sahabat sepertiku, karena dia tak pernah mengacuhkan keselamatan dirinya sendiri kalau pikirannya sedang disibukkan suatu masalah. Berkali-kali pistolku membuktikan jasanya pada saat kritis. Aku mengingatkannya tentang hal itu.

"Ya, ya, aku agak pelupa dalam hal-hal seperti itu. Pokoknya kau siap dengan pistolmu?"

Kukeluarkan pistolku dari saku celanaku. Pistol kecil dan pendek, tapi sangat berguna. Dia membuka moncongnya, mengguncang-guncang pelurunya, dan mengamatinya.

"Berat, ya? Berat sekali," katanya.

"Ya, bagus buatannya."

Dia menimang-nimang pistol itu.

"Tahukah kau, Watson," katanya, "pistolmu ini akan berperan dalam misteri yang sedang kita selidiki."

"Sobatku Holmes, kau bergurau, ya?"

"Tidak, Watson, aku sangat serius. Ada percobaan yang akan kita lakukan. Kalau percobaan ini berhasil, semuanya akan jelas. Dan percobaannya tergantung pada perilaku senjata api kecil ini. Keluarkan sebuah peluru; yang lima kita masukkan lagi dan kita pasang pengamannya. Nah! Pistol ini jadi tambah berat, tapi itu malah lebih baik."

Aku sama sekali tak bisa membayangkan apa yang ada di benaknya, dan dia juga tak mau repot-repot menjelaskannya padaku. Dia duduk tepekur sampai kami turun di stasiun Hampshire. Kami ganti naik kereta kuda dan seperempat jam kemudian kami sudah berada di rumah teman kami, Sersan Coventry.

"Ada petunjuk, Mr. Holmes? Apa?"

"Semuanya tergantung pada perilaku pistol Dr. Watson," kata sahabatku. "Ini. Sekarang, Sersan, bisa minta benang sepanjang sepuluh meter?"

Di toko desa ternyata ada benang pintal yang cukup kuat.

"Saya rasa kita sudah memiliki semua yang kita butuhkan," kata Holmes. "Mari kita berangkat. Semoga ini menjadi perjalanan tahap akhir kita."

Matahari mulai tenggelam dan daerah Hampshire yang berbukit-bukit tampak sangat indah. Sepanjang perjalanan, Sersan berkali-kali menoleh ke arah sahabatku dengan pandangan kritis dan meremehkan, seolah dia meragukan kewarasan sahabatku. Ketika kami mendekati lokasi pembunuhan, aku bisa melihat betapa gelisahnya temanku, meski dia menyembunyikannya di balik sikap dinginnya.

"Ya," katanya menjawab komentarku, "kau pernah melihat aku gagal, Watson. Naluriku memang kuat, tapi kadang-kadang keliru. Ketika ide ini pertama kali melintas di benakku di rumah tahanan di Winchester, aku yakin sekali. Namun karena otakku terlalu aktif, aku terus saja memikirkan alternatif lain. Yah, Watson, tak ada salahnya mencoba, kan?"

Sambil berjalan, dia mengikatkan salah satu ujung benang pada pegangan pistol. Kini kami telah tiba di tempat kejadian. Dengan hati-hati dan dengan pertolongan Sersan dia memberi tanda tepat pada lokasi mayat terbaring. Dia menyibak-nyibak semak dan pepohonan sampai menemukan batu yang cukup besar. Diikatnya batu itu dengan ujung benang yang lain, lalu digantungnya di dinding jembatan sehingga bisa terayun di atas air. Dia pindah ke tempat mayat, tak jauh dari mulut jembatan, masih sambil memegang pistol. Benangnya menegang di antara pistolku dan batu berat di ujung lainnya.

"Sekarang lihat!" teriaknya.

Sambil mengucapkan kata-kata itu dia menarik pistol ke kepalanya dan melepaskannya. Dalam sekejap pistol itu mencuat ke atas karena daya berat batu, lalu menghantam dinding jembatan dengan sangat keras, dan akhirnya tercebur ke kolam. Sebelum pistol itu menghilang, Holmes telah berjongkok di muka dinding jembatan, dan teriakan gembiranya menunjukkan bahwa harapannya telah menjadi kenyataan.

"Pernah lihat demonstrasi yang lebih hebat dan tepat?" teriaknya. "Lihat, Watson, pistolmu telah memecahkan masalah ini!" Dia menunjuk gompalan lain di bagian bawah dinding jembatan.

"Kita tinggal di penginapan malam ini," lanjutnya sambil berdiri di hadapan Sersan yang terheran-heran. "Tolong Anda pancingkan pistol sahabat saya itu, ya? Anda nanti pasti juga menemukan pistol, benang, dan alat pemberat yang telah dipakai korban untuk menyembunyikan tindak kejahatannya sendiri. Tolong kabari Mr. Gibson dan minta dia menemui saya besok pagi, kalau langkah-langkah untuk mengembalikan nama baik Miss Dunbar sudah dilakukannya."

Malam itu, sambil duduk-duduk mengisap pipa di penginapan, Holmes memberikan penjelasan. "Aku khawatir, Watson," katanya, "reputasiku takkan membaik walaupun kautambahkan kasus Jembatan Thor ini dalam tulisanmu. Otakku lamban sekali, kurang cekatan mengolah data. Gompalan di permukaan batu itu merupakan petunjuk yang cukup kuat untuk mendapatkan jalan keluar, dan aku menyalahkan diriku sendiri karena tidak sejak awal menarik kesimpulan.

"Harus kuakui pikiran wanita yang putus asa ini begitu ruwet, sehingga tak mudah untuk mene-lusurinya. Kurasa dari semua petualangan kita, belum pernah kita menjumpai perilaku yang lebih aneh dibandingkan cinta buta yang terlalu menggebu-gebu seperti ini. Apakah Miss Dunbar menjadi saingannya dari segi fisik atau hanya dari segi mental, di matanya sama saja. Jelas dia menyalahkan gadis itu untuk semua tindakan dan kata-kata kasar suaminya. Dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dan dengan sedemikian rupa sehingga Miss Dunbar yang menjadi tertuduh. Itu merupakan pembalasannya terhadap gadis itu, yang nasibnya akan jauh lebih buruk dari sekadar bunuh diri.

"Kita bisa mengikuti langkah-langkahnya dengan cukup jelas, yang semuanya menunjukkan kehebatan pikirannya. Surat-menyurat itu dibuat sedemikian rupa sehingga tampaknya Miss Dunbar-lah yang telah mengundangnya ke lokasi. Agar surat itu tak sampai lolos dari pengamatan polisi, dia sengaja menggenggamnya sampai ajalnya. Ini saja mestinya sudah menimbulkan kecurigaanku.

"Lalu dia mengambil sepasang pistol kembar milik suaminya. Yang satu dipakainya untuk bunuh diri, yang lainnya disembunyikannya di lemari pakaian Miss Dunbar, setelah sebutir peluru ditembakkan. Dia bisa melakukannya di hutan tanpa ada yang menaruh curiga. Kemudian dia pergi ke jembatan tempat dia telah merencanakan cara bunuh diri yang cerdik ini, dan mengatur agar pistolnya terlempar ke kolam setelah ditembakkan. Ketika Miss Dunbar muncul, dia menggunakan kesempatan terakhirnya untuk melampiaskan kebenciannya, lalu ketika Miss Dunbar sudah tak mungkin mendengar apa-apa, dia melaksanakan niatnya. Setiap jalinannya sekarang sudah berada pada tempat yang seharusnya dan rangkaiannya lengkap sudah. Surat-surat kabar mungkin akan menanyakan mengapa kolam itu tak diperiksa sejak awal, tapi bicara memang mudah kalau kasusnya sudah terpecahkan. Mencari-cari sesuatu dalam danau yang dipenuhi alang-alang bukan pekerjaan gampang, kecuali kita tahu persis apa yang kita cari dan di mana mencarinya. Well, Watson, kita telah menolong seorang gadis yang sangat menawan hati, dan seorang pria yang kaya raya. Kalau kelak mereka bersatu, yang rasanya bisa saja terjadi, dunia bisnis akan melihat Mr. Neil Gibson telah banyak menarik hikmah dan tragedi ini."