SAAT itu musim semi 1887. Temanku, Mr. Sherlock Holmes, belum pulih benar dari kelelahannya akibat kerja keras. Keseluruhan masalah yang berhubungan dengan Perusahaan Belanda-Sumatra dan juga kasus-kasus besar Baron Maupertuis masih hangat dalam ingatan banyak orang. Namun berhubung kasus kasus itu terlalu erat kaitannya dengan dunia politik dan keuangan, maka tak cocoklah untuk dimasukkan dalam serial kisah yang kutuliskan. Tapi, kasus-kasus itu telah membuka kesempatan bagi temanku untuk menangani sebuah masalah lain yang unik dan rumit, dan sempat pula dia mendemonstrasikan sebuah jurus baru di antara jurus-jurus lainnya yang selama ini dipakainya untuk melawan kejahatan.

Ketika mengamati catatan-catatanku, aku membaca bahwa pada tanggal 14 April aku menerima telegram dari Lyons yang mengabarkan bahwa Holmes sedang terbaring sakit di Hotel Dulong. Dua puluh empat jam kemudian, aku sudah berada di sampingnya dan aku merasa lega karena sakitnya tak terlalu mengkhawatirkan. Walaupun selama ini dia kujuluki si Tulang Baja, toh akhirnya dia jatuh sakit juga karena kecapekan setelah mengadakan penyelidikan nonstop selama dua bulan penuh, dengan jam kerja tak kurang dari lima belas jam seharinya. Memang benar, penyelidikannya sukses besar dan menjadi buah bibir di seluruh benua Eropa, dan banyak orang mengirim telegram ucapan selamat kepadanya, tapi dia malah terserang depresi berat. Bahkan ketika dia tahu bahwa kesuksesannya itu sangat luar biasa, karena sebelumnya polisi dari tiga negara telah gagal menangani kasus itu, dan bahwa dia telah membuktikan diri lebih cerdik dari penjahat yang paling cerdik di Eropa sekalipun, hal ini pun tak cukup membangkitkan sarafnya yang melemah.

Tiga hari kemudian kami kembali ke Baker Street bersama-sama, tapi jelas sekali bahwa temanku membutuhkan pergantian suasana. Menurutku, metuangkan waktu seminggu di pedesaan akan sangat menyenangkan, apalagi pada musim semi begini. Aku punya seorang teman lama, Kolonel Hayter, yang dulu pernah kurawat di Afganistan, dan kini dia bertempat tinggal di dekat Reigate, Surrey. Dia sering mengundangku untuk mengunjunginya. Terakhir kali ketika aku menerima kabar darinya, dia mengatakan bahwa dia akan merasa senang kalau aku berkenan mengunjunginya dengan membawa serta temanku. Aku perlu sedikit berdiplomasi dalam upayaku untuk mengajak Holmes ke rumah teman lamaku itu.

Tapi ketika Holmes tahu bahwa yang punya rumah adalah seorang bujangan, dan bahwa dia akan bisa bebas bergerak, akhirnya dia setuju dengan rencanaku dan seminggu setelah kami pulang dari Lyons, kami sudah berada di rumah Pak Kolonel. Hayter seorang pensiunan tentara yang baik. Dia sudah berkelana ke banyak negara, dan seperti yang kuduga sebelumnya, dia cepat akrab dengan Holmes karena mereka berdua memiliki banyak persamaan.

Pada malam kedatangan kami, setelah makan malam kami duduk di ruang senjata Pak Kolonel. Holmes duduk sambil melemaskan kaki di sofa, sementara aku dan Hayter melihat lihat beberapa koleksi senjatanya

"Omong-omong," katanya tiba-tiba, "kurasa sebaiknya aku membawa salah satu pistol ini ke atas, kalau kalau ada bahaya mengancam."

"Bahaya mengancam?" tanyaku.

"Ya, akhir akhir ini penduduk dilanda ketakutan. Si tua Acton, salah satu tokoh di daerah ini, rumahnya dimasuki pencuri hari Senin malam yang lalu. Memang tak terjadi kerusakan yang parah, tapi para pencuri itu masih berkeliaran di sekitar sini."

"Tak adakah petunjuk?" tanya Holmes sambil menatap Pak Kolonel dengan tajam.

"Belum ada. Tapi pencurian ini cuma kecil-kecilan saja, kok, pasti tak akan menarik perhatian Anda, Mr. Holmes, setelah berhasil menangani masalah internasional yang begitu besar."

Holmes seolah tak mengacuhkan pujian itu, walau senyumnya menunjukkan bahwa dia sebetulnya sangat senang.

"Apakah ada ciri-ciri yang menarik?"

"Saya rasa tidak. Pencuri-pencuri itu mengobrak-abrik perpustakaan, dan hanya mendapatkan barang yang tak seberapa nilainya. Semua laci dibuka dengan paksa dan rak-rak dibongkar, namun yang hilang cuma satu set Homer karangan Pope, dua tempat lilin berlapis emas, bandul pemberat dari gading, barometer yang terbuat dari batang ek, dan segelondong benang. Itu saja."

"Aneh, ya. Yang dicuri kok barang-barang macam begitu!" teriakku

"Oh, para pencuri itu jelas hanya membawa lari apa yang mereka bisa ambil secepatnya."

Holmes mendengus.

"Polisi wilayah seharusnya memperhatikan hal itu," katanya. "Wah, jelas sekali..."

Tapi aku langsung mengangkat jariku untuk memperingatkannya.

"Kau kemari untuk istirahat, sobat. Demi Tuhan, jangan mulai mengutak-utik masalah baru dulu, berhubung sarafmu lagi tak beres."

Holmes mengangkat bahu dengan sikap seolah-olah pasrah, sambil melirik Pak Kolonel dengan jenaka. Pembicaraan kami lalu beralih ke hal-hal yang lebih ringan.

Tapi rupanya peringatanku itu sia-sia, karena keesokan harinya masalah pencurian itu kembali menyita perhatian kami, sehingga kunjungan kami ke pedesaan berubah tujuannya tanpa kami duga-duga sebelumnya. Kami sedang makan pagi ketika kepala pelayan Pak Kolonel berlari masuk dengan gemetaran.

"Sudah Anda dengar beritanya, sir?" dengusnya. "Di rumah Mr. Cunningham, sir!"

"Pencurian lagi?" teriak Pak Kolonel, cangkir kopinya masih terangkat.

"Pembunuhan!"

Pak Kolonel bersiul. "Ya, Tuhan," katanya. "Siapa yang terbunuh? Si J.P. atau anaknya?"

"Bukan keduanya, sir. Tapi si William, kusir mereka. Ditembak di jantungnya, sir, dan langsung tewas."

"Siapa yang menembaknya?"

"Pencuri itu, sir. Dia lalu kabur secepat kilat dan tak ada jejaknya. Mungkin pencuri itu baru saja mendongkel jendela di dekat ruang makan ketika William memergokinya, dan pencuri itu langsung menembaknya."

"Jam berapa penembakan itu terjadi?"

"Tadi malam, sir, sekitar jam dua belas."

"Ah, nanti saja kita bicarakan lagi," kata Pak Kolonel, lalu kembali menikmati makan paginya dengan tenang. "Benar-benar kabar buruk," tambahnya ketika kepala pelayan itu sudah pergi. "Si Cunningham tua itu tuan tanah terkemuka di daerah ini, dan orangnya sangat terhormat. Masalah ini pasti akan diurusnya dengan serius, karena korban telah bekerja dengan baik di tempatnya selama bertahun-tahun. Jelas penjahatnya sama dengan yang mencuri di rumah Acton."

"Pencuri barang-barang aneh itu?" komentar Holmes sambil tepekur.

"Tepat."

"Hm! Kelihatannya sangat sederhana, ya? Tapi kalau dilihat secara lebih cermat, menimbulkan rasa penasaran. Sekelompok pencuri yang beroperasi di sebuah kota kecil biasanya mcngincar tempat-tempat yang bervariasi, dan tak pernah memasuki dua tempat di daerah yang sama hanya dalam tenggang waktu beberapa hari. Ketika tadi malam Anda mengatakan soal adanya bahaya yang mengancam, saya sempat berpikir bahwa tempat ini sebenarnya tak terlalu cocok untuk operasi pencurian. Wah, ternyata saya salah."

"Saya rasa mereka ya orang sini saja," kata Pak Kolonel. "Tentu saja mereka lalu mengincar rumah Acton dan Cunningham, karena kedua rumah itulah yang terbesar di sekitar sini."

"Dan apakah mereka juga termasuk orang-orang yang paling kaya di sini?"

"Well, tentunya ya, tapi sudah beberapa tahun mereka bersengketa di pengadilan, dan untuk itu mereka harus mengeluarkan banyak biaya. Si tua Acton merasa memiliki separo tanah Cunningham, dan para pengacara mereka berusaha memenangkan klien masing-masing."

"Kalau orang sini saja, pasti tak susah untuk menangkapnya," kata Holmes sambil menguap. "Baiklah, Watson, aku tak berniat untuk ikut campur."

"Inspektur Forrester, sir," kata kepala pelayan sambil membuka pintu.

Seorang petugas polisi yang gagah, masih muda, dan penuh semangat memasuki ruangan. "Selamat pagi, Kolonel," katanya. "Maaf, saya mengganggu, tapi kami dengar Mr. Holmes dari Baker Street ada di rumah Anda."

Pak Kolonel melambaikan tangan ke arah temanku, dan inspektur polisi itu membungkukkan badan untuk menghormat.

"Kami harap Anda bersedia turun tangan, Mr. Holmes."

"Wah, nasib membawaku untuk tidak menuruti anjuranmu, Watson," katanya sambil tertawa. "Kami memang sedang membicarakan hal itu ketika Anda datang, Inspektur. Silakan Anda menambahkan beberapa rinciannya." Ketika dia lalu menyandarkan punggungnya ke tempat duduknya dengan gayanya yang khas, tahulah aku bahwa tak ada gunanya lagi mencegahnya.

"Kami tak punya petunjuk apa pun dalam kasus Acton. Tapi kini kami dihadapkan pada banyak hal yang harus diselidiki, dan tak diragukan lagi bahwa pada setiap kasus pelakunya sama. Ada yang melihat pelaku itu."

"Ah!"

"Ya, sir. Tapi dia langsung kabur setelah menembak William Kirwan yang malang itu. Mr. Cunningham melihatnya dari jendela kamar tidurnya, dan Mr. Alec Cunningham juga melihatnya dari arah lorong belakang rumah. Waktu itu jam dua belas kurang seperempat Mr. Cunningham baru saja naik ke tempat tidurnya, dan Mr. Alec yang sudah mengenakan pakaian tidur sedang mengisap pipa. Mereka berdua mendengar William, sang kusir itu, berteriak minta tolong, dan Mr. Alec berlari menuruni tangga untuk melihat apa yang sedang terjadi. Pintu belakang terbuka, dan ketika dia sampai di kaki tangga dia melihat dua pria sedang berkelahi di luar. Salah satu dari kedua orang itu melepaskan tembakan, dan lawan nya terjatuh. Kemudian si pembunuh berlari me nyeberangi taman dan melompati pagar tanaman. Mr. Cunningham, yang waktu itu melongok dari jendela kamar tidurnya, melihat si pembunuh ketika dia sudah sampai ke jalan raya, tapi sesudah itu pria itu langsung menghilang. Mr. Alec mendekati orang yang tertembak itu dengan maksud untuk menolongnya, sehingga pembunuh itu bisa kabur dengan mudah. Fakta yang bisa didapat hanyalah bahwa sosok pembunuh itu sedang-sedang saja dan berpakaian serba hitam. Tak ada petunjuk tentang ciri-ciri lainnya, tapi kami sedang terus menghimpun informasi, dan kita akan segera tahu apakah dia berasal dari wilayah ini atau tidak."

"Apa yang sedang dikerjakan William saat itu? Apakah dia sempat mengucapkan sesuatu sebelum meninggal?"

"Tak sepatah kata pun. Dia tinggal di perumahan yang disediakan bersama ibunya, dan karena dia pekerja yang sangat setia, tentunya saat itu dia sedang berjalan menuju rumah tuannya untuk memeriksa keadaan rumah itu. Pengawasan di semua rumah memang diperketat sejak kejadian di rumah Acton. Pencuri itu tentunya baru saja berhasil mendongkel pintu—kuncinya jadi rusak—ketika William memergokinya."

"Apakah William mengatakan sesuatu kepada ibunya sebelum meninggalkan rumahnya?"

"Ibunya itu sudah sangat tua dan tuli, dan kami tak bisa mendapatkan informasi apa-apa darinya. Kejadian yang sangat memukul ini telah membuatnya bagaikan kehilangan akal tapi setahu saya dia memang tak pernah waras. Namun ada satu hal yang sangat penting. Coba lihat ini!"

Dia mengeluarkan secarik robekan kertas dari buku catatannya, dan menaruhnya di atas lutut.

"Ini ditemukan terselip di antara jari telunjuk dan jempol almarhum. Nampaknya seperti dirobek dari kertas yang besar. Dapat Anda lihat bahwa waktu yang tertera di situ sama persis dengan saat pria malang itu menemui ajalnya. Bisa jadi si pembunuh yang merobek kertas itu dan bagian lain robekannya terbawa olehnya atau korbanlah yang mungkin telah merebut robekan ini dari sang pembunuh. Bunyinya seperti janji sebuah pertemuan."

Holmes mengambil robekan kertas itu, yang reproduksinya dapat Anda lihat di sini.

"Seandainya ini benar janji sebuah pertemuan," lanjut Pak Inspektur, "tentu saja masuk akal kalau kita menyimpulkan bahwa William Kirwan berkomplot dengan si pencuri, walau selama ini dia memang dikenal sebagai orang yang jujur. Dia mungkin sengaja menemui si pencuri di sana, bahkan mungkin dialah yang telah menolongnya membongkar pintu. Tapi mereka kemudian bentrok."

"Tulisan ini sangat menarik perhatian," kata Holmes yang telah mengamati tulisan itu dengan konsentrasi penuh. "Permasalahannya ternyata jauh lebih dalam dari apa yang saya duga sebelumnya."

Dia lalu duduk merenung, sementara sang inspektur tersenyum-senyum melihat laporannya telah begitu mempengaruhi ahli kriminalitas dari London yang sangat terkenal itu.

"Komentar Anda yang terakhir itu," kata Holmes kemudian, "tentang kemungkinan berkomplotnya pencuri dengan si kusir dan tentang kemungkinan potongan catatan ini merupakan janji pertemuan antara keduanya, bisa saja terjadi. Tapi tulisan ini membuka..." Dia menundukkan kepalanya ke arah tangannya lagi sambil berpikir keras selama beberapa menit. Ketika akhirnya dia mengangkat wajahnya aku terkejut melihat ada rona di pipinya, dan matanya berkilauan seperti halnya kalau dia dalam keadaan sehat walafiat. Dia lalu melangkah dengan penuh semangat.

"Begini saja!" katanya. "Saya akan meneliti rincian kasus ini sejenak. Ada sesuatu yang sangat menarik perhatian saya. Kalau Anda tak keberatan, Kolonel, saya akan tinggalkan teman saya Watson di sini, dan saya pergi bersama Pak Inspektur untuk menguji satu atau dua teori yang memenuhi benak saya. Saya akan kembali setengah jam lagi."

Satu setengah jam kemudian barulah Pak Inspektur kembali, sendirian.

"Mr. Holmes sedang mondar-mandir di luar," katanya. "Dia ingin kita berempat semuanya pergi ke rumah itu."

"Ke rumah Mr. Cunningham?"

"Ya, sir."

"Untuk apa?"

Pak Inspektur mengangkat bahunya. "Saya tidak tahu, sir. Terus terang saja, menurut saya Mr. Holmes belum sembuh benar dari sakitnya. Kelakuannya sangat nyentrik, dan dia agak terlalu bersemangat"

"Saya rasa Anda tak perlu cemas," kataku. 'Dalam 'kesintingan'-nya itu biasanya ada metode tertentu."

"Sebagian orang mungkin akan mengatakan ada yang 'miring' dalam metodenya," gumam Pak Inspektur. "Yah, yang jelas ia sudah tak sabar lagi untuk mulai, Kolonel, jadi sebaiknya kita langsung saja pergi ke sana, kalau Anda sudah siap."

Kami mendapati Holmes sedang berjalan kesana kemari di lapangan, dagunya ditundukkannya sampai menyentuh dadanya, dan tangannya dimasukkannya pada kedua saku celananya.

"Masalah ini makin lama makin menarik," kata-nya. "Watson, idemu untuk berlibur di pedesaan telah menunjukkan dampak positif. Sepanjang pagi ini aku merasa senang sekali."

"Anda telah menyelidiki lokasi pembunuhan itu?" tanya Pak Kolonel.

"Ya, saya dan Inspektur telah bersama-sama mengadakan pengamatan."

"Ada hasilnya?"

"Well, kami menemukan beberapa hal yang menarik. Akan saya ceritakan apa saja yang telah kami lakukan sambil kita berjalan. Pertama, kami sempat melihat jenazah kusir yang malang itu. Kematiannya memang disebabkan oleh tembakan pistol sebagaimana yang telah dilaporkan."

"Apakah sebelumnya Anda meragukan hal itu?"

"Oh, bukankah lebih baik kalau semua hal dibuktikan kebenarannya terlebih dahulu? Penyelidikan kami ternyata ada gunanya. Kami lalu menanyai Mr. Cunningham dan putranya, yang langsung bisa menunjukkan di mana tepatnya pembunuh itu telah melangkahi pagar tanaman ketika dia melarikan diri. Menarik sekali."

"Tentu saja."

"Kemudian kami menengok ibu korban. Kami tak berhasil mendapatkan informasi apa-apa darinya karena dia sudah sangat tua dan lemah."

"Dan, apa hasil penyelidikan Anda?"

"Keyakinan bahwa pembunuhan ini ternyata sangat ganjil. Mungkin kunjungan kita akan membuatnya sedikit lebih jelas. Saya rasa kita berdua telah setuju, Inspektur, bahwa potongan kertas yang berada di genggaman korban, yang mencantumkan waktu yang bersamaan dengan saat kematian korban, sangat penting."

"Itu bisa jadi petunjuk, Mr. Holmes."

"Itu memang merupakan petunjuk. Penulis surat itulah yang telah menyebabkan William Kirwan bangun pada malam buta itu. Tapi di mana robekan lainnya?"

"Saya telah memeriksa seluruh halaman dengan amat teliti dengan harapan akan menemukannya," kata Pak Inspektur.

"Kertas itu dirobek dari tangan korban. Mengapa seseorang begitu bernafsu untuk merebutnya? Karena surat itu ada sangkut-pautnya dengan dirinya. Lalu apa yang akan dilakukannya? Yang paling mungkin ialah dia akan langsung memasukkan surat itu ke saku celananya, tanpa menyadari bahwa surat itu telah terobek dan robekannya tertinggal di genggaman tangan korban. Kalau kita bisa menemukan robekan lainnya, jelaslah kita akan mengalami banyak kemajuan dalam menguak misteri ini."

"Ya, tapi bagaimana kita bisa memeriksa kantong celana pembunuh itu sebelum kita menangkapnya?"

"Well, well, itulah yang harus dipikirkan. Di samping itu, ada satu hal lagi yang cukup jelas. Surat itu dikirim ke William. Tentunva bukan penulisnya sendiri yang mengantar, sebab kalau memang demikian halnya, apa gunanya surat itu? Bukankah dia lebih baik menyampaikan pesannya secara lisan? Kalau begitu, siapa yang mengantar surat itu? Ataukah dikirim lewat pos?"

"Saya telah mengadakan penyelidikan," kata Pak Inspektur. "William menerima surat itu lewat pos kemarin siang. Sampul surat itu sudah dibuangnya."

"Bagus sekali!" teriak Holmes sambil menepuk punggung Pak Inspektur. "Jadi Anda telah menemui tukang posnya. Senang sekali bekerja sama dengan Anda. Nah, inilah tempat tinggal William. Mari, Kolonel, akan saya tunjukkan lokasi pembunuhan itu."

Kami melewati pondok mungil yang tadinya ditempati oleh korban, lalu berjalan naik ke rumah kuno bergaya Ratu Anne yang masih dalam keadaan baik itu. Tahun didirikannya rumah itu tertera di atas pintu. Holmes dan Pak Inspektur mengantar kami mengitari rumah itu sampai kami tiba di pintu masuk samping, yang dipisahkan oleh sebuah teman dari pagar tanaman di pinggir jalan. Seorang polisi sedang berdiri di pintu dapur.

"Buka pintunya, officer," kata Holmes. "Nah, di tangga itulah Mr. Cunningham muda berdiri dan melihat dua orang sedang bergumul di tempat kita sekarang berdiri. Mr. Cunningham tua berada di jendela sana itu—kedua dari kiri—dan dia melihat pembunuh itu melarikan diri di sebelah kiri rumpunan semak itu. Putranya juga melihat hal itu. Mereka berdua merasa yakin tentang rumpunan semak itu. Lalu Mr. Alec berlari ke luar dan berjongkok di samping korban. Coba lihat, tanah di halaman ini amat keras, sehingga tak nampak jejak kaki yang bisa memberi petunjuk kepada kita."

Saat dia berkata-kata, dua orang berjalan di jalan setapak teman dari arah rumah dan mendekati kami. Salah satunya adalah seorang yang sudah lanjut usia, wajahnya keras, berkerut-kerut, dan matanya tajam, yang satunya lagi seorang pemuda yang sangat tampan. Dia tersenyum lepas dan mengenakan pakaian yang sangat mewah, sangat tak sesuai dengan keadaan yang sedang kami hadapi.

"Masih melakukan penyelidikan, heh?" kate pemuda itu kepada Holmes. "Tadinya saya kira orang London tak pernah berbuat kesalahan. Ternyata Anda tak bisa bekerja dengan cepat."

"Ah! Anda harus memberi kami waktu," kata Holmes dengan ramah.

"Silakan saja," kata pemuda bernama Alec Cunningham itu. "Maklumlah, soalnya memang tak ada petunjuk sama sekali."

"Ada satu, kok," celetuk Pak Inspektur. "Kalau saja kami bisa menemukan... Ya, Tuhan! Mr. Holmes, Anda kenapa?"

Wajah temanku tiba-tiba berubah menjadi sangat mengerikan. Matanya melotot ke atas, seluruh otot wajahnya mengejang, dan sambil mengerang dia jatuh tertelungkup di tanah. Kami semua ketakutan dan segera mengangkatnya, lalu membaringkannya di sebuah kursi besar di dapur. Selama beberapa menit, napasnya tersengal-sengal. Akhirnya, dia bangkit kembali sambil meminta maaf dengan penuh rasa malu.

"Watson pasti bisa menjelaskan bahwa saya memang baru saja sembuh dari sakit yang parah," dia menerangkan. "Jadi sewaktu-waktu saya bisa terkena serangan saraf seperti itu."

"Apakah sebaiknya Anda saya antar pulang dengan kereta saya?" Mr. Cunningham tua menawarkan diri.

"Well, karena saya sudah berada di sini, ada satu hal yang ingin saya pastikan kebenarannya. Dan kita bisa melakukan itu dengan mudah."

"Apa, ya?"

"Well, saya merasa bahwa mungkin saja korban tiba di sini setelah pencuri masuk ke rumah, dan bukan sebelumnya. Anda berdua nampaknya merasa yakin bahwa walaupun ada pintu yang didobrak, pencuri itu tak sempat masuk."

"Saya rasa itu cukup jelas," kata Mr. Cunningham dengan dingin. "Putra saya Alec belum tidur, dan kalau ada orang masuk, dia pasti mendengar."

"Di mana putra Anda duduk?"

"Saya sedang mcrokok di kamar pakaian saya."

"Yang mana jendelanya?"

"Yang paling kiri, di sebelah jendela kamar ayah saya."

"Waktu itu tentunya lampu di kedua kamar itu masih menyala?"

"Jelas."

"Nah di sini terjadi beberapa hal yang unik," kata Holmes sambil tersenyum. "Bukankah tak umum kalau seorang pencuri—apalagi yang sudah berpengalaman—dengan sengaja masuk ke sebuah rumah padahal dia tahu bahwa paling tidak dua penghuninya belum tidur?"

"Dia pastilah orang yang nekat."

"Yah, tentu saja kalau kasusnya tak seunik ini, kami tak merasa perlu mengundang Anda untuk menyelidiki," kata Mr. Alec. "Tapi ide Anda bahwa pencuri itu sudah masuk ke rumah sebelum William memergokinya, saya kira tak masuk akal. Karena kalau demikian halnya, bukankah kami akan mendapati rumah kami dalam keadaan semrawut dan ada barang yang hilang?"

"Tergantung barang apa yang dicurinya," kata Holmes. "Anda harus ingat bahwa kita sedang berurusan dengan seorang pencuri aneh, yang nampaknya punya cara kerja yang khas. Lihat saja barang-barang aneh yang dicurinya dari rumah keluarga Acton—apa yang diambilnya?—segelondong benang, pemberat surat, dan barang-barang aneh lainnya yang tak saya ingat satu per satu."

"Well, kami menyerahkan semua ini ke tangan Anda, Mr. Holmes," kata Mr. Cunningham tua. "Apa pun saran Anda atau Pak Inspektur pasti akan kami laksanakan."

"Pertama," kata Holmes, "saya minta agar Anda menyediakan hadiah uang—dan kantong Anda sendiri, karena kalau lewat jalur resmi pasti akan memakan waktu lama. Saya sudah mengisi fomulir ini, silakan ditandatangani. Saya rasa lima puluh pound sudah cukup."

"Lima ratus pun akan saya berikan," kata hakim setempat itu sambil menerima kertas dan pensil yang disodorkan Holmes kepadanya. "Tapi datanya ada yang kurang tepat," tambahnya sambil menatap dokumen itu.

"Saya menuliskannya dengan tergesa gesa."

"Coba lihat, Anda memulai dengan, 'Mengingat sebuah percobaan pencurian terjadi pada hari Senin tengah malam kira-kira jam dua belas kurang sepuluh,' dan seterusnya. Kenyataannya peristiwa-nya terjadi pada jam dua belas kurang seperempat."

Aku prihatin atas kesalahan ini, karena aku tahu betapa dalamnya kekecewaan yang diderita Holmes menyadari dirinya sampai membuat kesalahan seperti itu. Dia orang yang selalu akurat kalau menyangkut fakta, tapi penyakit yang baru saja dideritanya telah mengguncangkan dirinya, dan kejadian kecil ini cukup menunjukkan padaku bahwa kesehatannya belum pulih benar. Sekilas, jelas bahwa temanku itu merasa malu, sementara Pak Inspektur polisi menaikkan alisnya dan Alec Cunningham tertawa terbahak bahak. Mr. Cunningham tua lalu membetulkan kesalahan itu, dan mengembalikan kertas tersebut kepada Holmes.

"Langsung saja dimuat di koran," katanya. "Saya rasa ide Anda ini bagus sekali."

Holmes menyelipkan kertas itu di buku catatan nya dengan hati-hati.

"Nah, sekarang," katanya, "sebaiknya kita bersama-sama memeriksa isi rumah, untuk meyakinkan bahwa pencuri yang agak aneh ini tak meng ambil barang apa pun."

Sebelum memasuki rumah, Holmes memeriksa pintu yang telah didobrak itu. Jelas untuk mendobrak pintu itu, pencurinya telah menggunakan pahat atau pisau yang kuat, dan kuncinya telah dirusak pula. Kami bisa melihat dengan jelas bekas dongkelan pada pintu kayu itu.

"Anda tak memalang pintu Anda, ya?" tanyanya.

"Menurut kami tindakan itu tak perlu."

"Anda juga tak memelihara anjing?"

"Ada, tapi anjing itu kami tkat di bagian lain rumah ini."

"Jam berapa biasanya para pelayan pergi tidur?"

"Kira-kira jam sepuluh."

"Berarti William juga biasanya pergi tidur pada jam sepuluh?"

"Ya."

"Anehnya pada malam itu dia masih tenaga sampai larut malam begitu. Nah, saya akan senang sekali kalau Anda berkenan menunjukkan seluruh rumah ini pada kami, Mr. Cunningham."

Ada lorong terbuat dari batu di seberang dapur, lalu sebuah tangga kayu yang langsung menuju lantai atas. Di samping tangga ini masih ada satu tangga lagi yang lebih bagus di ruang depan. Setelah menaiki tangga, kami tiba di ruang keluarga dan beberapa kamar tidur, termasuk kamar Mr. Cunningham dan putranya. Holmes berjalan perlahan-lahan sambil mencatat bentuk bangunan rumah itu. Dari ekspresi wajahnya, aku tahu bahwa dia sedang mencium sesuatu, tapi aku tak bisa menduga ke arah mana pikirannya berjalan. "Tuan yang baik hati," kata Mr. Cunningham dengan rasa tak sabar, "saya rasa apa yang Anda lakukan ini tak ada manfaatnya. Itu kamar saya di ujung tangga, dan kamar putra saya di sebelahnya lagi. Silakan pertimbangkan, apakah mungkin pencuri itu naik ke sini tanpa kami mendengarnya."

"Saya rasa, Anda pastilah merasa perlu untuk memeriksa berkeliling agar mendapatkan sesuatu," kata sang putra dengan senyum yang agak sinis.

"Yah, terpaksa saya minta pengertian Anda lebih jauh lagi. Misalnya, saya ingin tahu berapa jauhnya jangkauan pandang seseorang dari jendela-jendela kamar tidur itu. Nah, ini tentunya kamar putra Anda"—didorongnya pintunya hingga terbuka—"dan saya rasa di situlah ruang pakaiannya, tempat dia duduk merokok waktu terdengar teriakan. Jendela itu membuka ke mana?" Dia menyeberangi kamar tidur itu, membuka pintu, dan melongok ke ruang.

"Saya harap Anda sudah puas sekarang?" kata Mr. Cunningham dengan kaku.

"Terima kasih. Saya rasa pemeriksaan saya sudah cukup."

"Kalau begitu, apakah Anda perlu memeriksa kamar tidur saya?"

"Kalau Anda tak keberatan."

Sang hakim mengangkat bahunya dan mendahului kami menuju kamarnya sendiri yang ternyata sangat sederhana dan biasa-biasa saja. Ketika kami menyeberangi kamar itu untuk mendekat ke jendela, Holmes sengaja berhenti sejenak, sehingga hanya tinggal aku dan dia yang ada di belakang rombongan. Di atas meja kecil dekat kaki tempat tidur terdapat semangkuk jeruk dan sebotol air. Ketika kami melewati tempat itu, aku menjadi sangat terkejut, karena Holmes tiba-tiba membungkuk di depanku dan dengan sengaja menjatuhkan mangkuk berisi jeruk dan botol berisi air itu. Botolnya pecah berantakan dan jeruknya menggelinding ke segala arah di lantai kamar itu.

"Wah, Watson, lihat apa yang telah kau lakukan!" katanya dengan tenang. "Berantakan semua di karpet."

Meski tercengang aku mulai memunguti buah yang berserakan itu. Aku tahu temanku sengaja menyalahkan diriku untuk tujuan tertentu. Anggota rombongan yang lain juga membantu, dan mengembalikan meja kecil yang terguling itu.

"Lho!" teriak Pak Inspektur. "Ke mana dia?"

Holmes ternyata telah menghilang.

"Tunggu di sini sebentar," kata Alec Cunningham. "Menurut saya, detektif itu pasti sedang linglung. Mari, Ayah, kita cari dia!"

Mereka berlari keluar, meninggalkan aku, Pak Inspektur, dan Pak Kolonel. Kami saling bertatapan bingung.

"Saya cenderung menyetujui pendapat Mister Alec," kata polisi itu. "Mungkin karena efek penyakitnya, tapi nampaknya..."

Kata katanya terputus oleh teriakan yang tiba-tiba terdengar. "Tolong! Tolong! Ada pembunuhanl" Aku bergidik ketika menyadari bahwa itu suara temanku. Bagaikan orang gila, aku berlari keluar dari kamar itu menuju ke dekat tangga. Teriakan minta tolong yang sudah berubah menjadi teriakan-teriakan tak menentu itu berasal dari kamar yang tadi kami masuki. Aku berlari masuk sampai ke ruang pakaian di sebelahnya. Mr. Cunningham dan putranya sedang membungkuk di atas tubuh Sherlock Holmes. Cunningham muda mencekik leher temanku dengan kedua tangannya, sedangkan ayahnya nampak memelintir salah satu pergelangan tangannya. Dalam sekejap, kami bertiga berusaha melerai mereka, dan Holmes lalu berusaha berdiri dengan terhuyung-huyung. Wajahnya sangat pucat dan kelelahan.

"Tangkap mereka, Inspektur," katanya dengan terengah engah

"Atas tuduhan apa?"

"Atas tuduhan membunuh kusir mereka, William Kirwan."

Pak Inspektur menatap sekelihng dengan bingung. "Oh, ayolah, Mr. Holmes," katanya pada akjurnya "Saya yakin Anda tak bersungguh-sungguh dengan..."

"Huh, coba lihat wajah mereka!" teriak Holmes dengan ketus.

Tak pernah sebelumnya aku melihat ekspresi wajah yang sedemikian gamblangnya menyatakan pengakuan rasa bersalah. Yang tua nampak begitu bingung dan terkejut, wajahnya menjadi kusam dan murung. Sebaliknya, penampilan anaknya telah berubah sama sekali dari yang sebelumnya sok dan penuh gaya. Matanya yang hitam legam memancarkan kekejaman sehingga wajahnya yang tampan berubah menjadi menakutkan. Tanpa berkata apa-apa, Pak Inspektur melangkah ke pintu, lalu meniup peluitnya. Dua bawahannya segera datang menghampirinya.

"Saya tak bisa bertindak lain, Mr. Cunningham," katanya. "Semoga ini merupakan suatu kekeliruan yang tak masuk akal, tapi Anda bisa melihat... Eh, Anda mau apa? Letakkan!" Secepat kilat tangannya menyambar sesuatu, yang ternyata sebuah pistol yang baru saja hendak ditembakkan oleh Cunningham muda. Pistol itu lalu terjatuh ke lantai.

"Simpan pistol itu," kata Holmes sambil dengan cepat menginjaknya. "Anda akan membutuhkannya di persidangan Tapi inilah yang sebetulnya benar-benar kita butuhkan." Dia menunjukkan secarik kertas kecil yang sudah lusuh.

"Robekan kertas itu?" teriak Pak Inspektur.

"Tepat."

"Di mana Anda menemukannya?"

"Di tempat yang sejak semula sudah saya yakini. Nanti akan saya jelaskan kasus ini secara menyeluruh. Saya rasa, Kolonel, sebaiknya Anda dan Watson pulang dulu, saya akan menyusul kalian paling lama sejam lagi. Saya dan Inspektur perlu menanyakan beberapa hal kepada para tertuduh ini, tapi saya akan kembali pada saat makan siang."

Sherlock Holmes menepati kata-katanya. Sekitar jam satu siang dia sudah kembali bersama kami di ruang untuk merokok. Dia ditemani oleh seorang pria tua bertubuh kecil, yang diperkenalkan kepadaku sebagai Mr. Acton yang rumahnya lebih dulu dimasuki oleh pencuri untuk pertama kali di daerah itu.

"Saya sengaja meminta Mr. Acton datang kemari agar dia bisa ikut mendengarkan penjelasan saya," kata Holmes, "karena tentunya dia pun akan sangat tertarik untuk mendengarkan rincian kejadiannya. Maaf, Kolonel, Anda terpaksa mendengarkan kicauan saya sekitar satu jam lamanya."

"Oh," jawab Pak Kolonel dengan hangat, "saya malah merasa mendapat kehormatan karena diizinkan mempelajari cara kerja Anda. Saya akui bahwa semuanya melampaui apa yang saya bayangkan, dan saya tak mampu menjelaskan bagaimana Anda bisa sampai berkesimpulan sedemikian. Saya tak melihat adanya petunjuk apa pun."

"Maaf, kalau penjeiasan saya nantinya mengecewakan Anda, tapi saya memang tak pernah menyembunyikan cara kerja saya, baik terhadap sobat saya Watson, maupun terhadap siapa saja yang berminat mengetahuinya. Namun berhubung saya agak terguncang dengan pukulan yang menghantam saya di kamar pakaian tadi, izinkan saya terlebih dahulu menenggak sedikit brendi milik Anda, Kolonel. Akhir-akhir ini tubuh saya agak lemah."

"Moga-moga sakit saraf Anda tak kambuh lagi."

Sherlock Holmes terbahak. "Nanti kita akan sampai ke hal itu juga," katanya. "Baiklah, saya akan menjelaskan kasus ini sesuai dengan urutan kejadiannya, sambil menunjukkan macam-macam hal yang telah mengarahkan kesimpulan saya. Silakan memotong penjeiasan saya kalau ada sesuatu yang kurang jelas bagi kalian.

"Yang paling penting bagi seorang detektif ialah kemampuan untuk mengetahui fakta mana yang cuma kebetulan saja, dan mana yang amat berguna. Kalau tak mampu berbuat demikian, energi dan perhatian akan menjadi kacau dan bukannya terkonsentrasi. Nah, dalam kasus ini, sejak awal saya sudah merasa yakin bahwa kuncinya terletak pada robekan kertas yang ditemukan di tangan korban.

"Sebelumnya, saya ingin kalian memperhatikan kenyataan bahwa kalau apa yang diceritakan Alec Cunningham itu benar, dan kalau si pencuri langsung melarikan diri setelah rhenembak William Kirwan, jelas bukan dia yang merobek kertas itu. Tapi kalau bukan dia, tentunya Alec Cunningham sendiri, karena ketika ayahnya tiba di lantai bawah, beberapa pelayannya telah pula berada di tempat kejadian. Hal ini sebenarnya sederhana, namun terlewatkan begitu saja oleh Inspektur sebab dia sudah mempunyai praduga bahwa keluarga terpandang itu pastilah tak terlibat dalam kejahatan ini. Nah, saya tak pemah mau mempunyai praduga atau prasangka, dan dengan setia saya mengikuti arah yang ditunjukkan oleh fakta-fakta. Demikianlah pada tahap awal penyelidikan saya, saya dapati bahwa peran Alec Cunningham nampaknya meragukan.

"Saya lalu memperhatikan robekan kertas yang diserahkan Inspektur kepada saya. Saya langsung tahu bahwa tulisan yang tertera di kertas itu agak aneh. Coba lihat ini, tidakkah kalian melihat kejanggalannya?"

"Bentuk tulisannya memang aneh," kata Pak Kolonel.

"Pak Kolonel yang terhormat," teriak Holmes, "jelas sekali surat itu ditulis oleh dua orang secara bergantian. Coba lihat, ada tulisan huruf t-nya yang amat kuat seperti pada kata 'timur' dan 'tentang', dan ada pula yang lemah seperti yang terdapat pada kata 'seperempat' dan 'menyangkut'. Analisis singkat tentang keempat kata itu membuat kita bisa mengatakan dengan pasti bahwa kata 'dua', 'kurang', 'diri', 'dan', 'ini' ditulis oleh tangan yang lebih kuat, sedangkan kata 'jam', 'belas', 'Anda', 'siapa-siapa', 'hal' ditulis oleh tangan yang lebih lemah."

"Astaga, memang jelas sekali!" teriak Pak Kolonel. "Tapi mengapa dua orang menulis pesan secara bergantian begitu?"

"Jelas karena urusannya kotor, dan salah satu dari mereka, yang rupanya tidak mempercayai rekannya, bertekad bahwa dua-duanya harus bertanggung jawab. Nah, di antara kedua orang itu, jelas pentolannya adalah yang menulis 'timur' dan 'tentang'.

"Bagaimana Anda bisa menyimpulkan demikian?"

"Kita bisa menyimpulkannya dari ciri-ciri kedua jenis tulisan itu. Tapi ada alasan yang lebih kuat. Kalau kalian perhatikan sobekan kertas ini dengan saksama, kalian akan berkesimpulan bahwa orang yang lebih kuat tangannya itulah yang menulis terlebih dahulu lalu orang lain lagi menuliskan kata-kata berikutnya di dalam spasi-spasi yang sengaja dikosongkan. Spasi-spasi ini tidak selalu cukup untuk kata-kata yang hendak disisipkan, dan kalian bisa lihat kata 'belas', misalnya, yang harus dijejalkan di antara 'dua' dan 'kurang'. Itu membuktikan bahwa kata yang di belakang ditulis lebih dahulu. Jelas penulis yang pertama adalah orang yang merencanakan semua ini."

"Bagus sekali!" teriak Mr. Acton.

"Tapi sebenarnya sepele," kata Holmes. "Nah, kini kita sampai ke bagian yang penting. Kalian mungkin tak menyadari bahwa kita sebenarnya bisa menduga usia seseorang dari tulisannya. Dan ini sudah dibuktikan kebenarannya oleh para ahli. Biasanya, cara demikian cukup meyakinkan. Saya katakan biasanya karena bisa saja orang yang kita sangka tua berdasarkan tulisannya, sebenarnya belum tua sama sekali, tapi tulisannya mengesankan demikian mungkin karena kesehatannya yang buruk atau tubuhnya yang lemah. Dalam kasus kita kali ini, kalau kita perhatikan, ternyata ada tangan yang lebih kuat dan ada yang sebaliknya—terlihat dari goresan huruf i-nya yang tak dicoret bagian atasnya. Maka kita bisa menyimpulkan bahwa kedua penulis surat itu terdiri dari seorang yang masih muda dan seseorang yang sudah tidak muda lagi, walaupun belum terlalu tua."

"Bagus sekali!" teriak Mr. Acton lagi.

"Tapi, masih ada hal lain lagi yang lebih tak kentara dan sangat menarik perhatian. Kedua tulisan ini mirip. Pasti penulisnya berhubungan keluarga. Kalian mungkin hanya melihat hal itu dengan jelas pada tulisan huruf e nya, tapi saya bisa melihat banyak rincian kecil lain yang mendukung hal itu. Saya tak meragukan lagi bahwa kedua penulis ini bersaudara. Tentu saja saya hanya memaparkan garis besar hasil penyelidikan saya ini, sedangkan dua puluh tiga kesimpulan saya lainnya mungkin hanya akan menarik perhatian mereka yang menekuni bidang detektif saja. Pokoknya, semuanya menguatkan dugaan saya bahwa Mr. Cunningham bersama anaknyalah yang telah menulis surat itu.

"Langkah saya selanjutnya ialah mengamati rincian pembunuhan itu, yang mungkin bisa membantu penyelesaian kasus ini. Saya lalu pergi ke rumah mereka bersama Inspektur, dan melihat semua hal yang perlu dilihat. Saya merasa yakin bahwa luka pada tubuh korban berasal dari pistol yang ditembakkan dalam jarak lebih dari tiga setengah meter. Tak terlihat bekas mesiu di pakaiannya. Itu berarti Alec Cunningham berbohong ketika dia mengatakan bahwa ada dua orang yang sedang bergumul ketika terdengar suara tembakan. Tambahan pula, ayah dan anak sama-sama sepakat soal di mana penembak melarikan diri ke jalan raya. Di tempat yang mereka tunjuk itu terdapat selokan lebar yang penuh lumpur basah, tapi tak terlihat bekas tapak kaki di situ. Jadi mereka bohong lagi, dan sama sekali tak pernah ada orang luar pada waktu musibah itu terjadi.

"Sekarang, saya ingin menyampaikan motif, yang melatarbelakangi pembunuhan yang unik ini. Untuk itu, saya akan coba menjelaskan terlebih dulu tentang pencurian di rumah Mr. Acton. Dari apa yang pernah dikatakan Kolonel, saya jadi tahu bahwa Anda, Mr. Acton, sedang bersengketa di pengadilan dengan keluarga Cunningham. Hal ini tentu saja membuat saya langsung berpikir, tentunya merekalah yang telah masuk ke perpustakaan di rumah Anda untuk mencuri dokumen tertentu yang mungkin diperlukan untuk kasus pengadilan itu,"

"Tepat sekali," kata Mr. Acton. "Tak dapat diragukan lagi memang itulah maksud mereka. Saya menuntut setengah dari tanah mereka, dan kalau saja mereka berhasil mendapatkan sebuah dokumen—yang untungnya saya simpan di tempat pengacara saya—gugatan saya pasti akan gugur."

"Nah, kan!" kata Holmes sambil tersenyum. "Tindakan mereka sangat sembrono, dan tentunya atas rancangan pemuda Alec itu. Karena tak menemukan apa-apa, mereka lalu berusaha untuk memberi kesan bahwa itu pencurian biasa, dan mereka menyabet apa saja yang gampang mereka ambil. Sampai di sini semuanya jelas, tapi ada banyak hal yang masih kabur. Yang paling saya inginkan waktu itu adalah menemukan robekan surat yang hilang itu. Saya yakin Alec telah merebutnya dari tangan korban, kemudian memasukkannya ke saku pakaian tidurnya. Pertanyaannya ialah, apakah benda itu masih ada di sana? Maka saya pun mengupayakan untuk mendapatkannya dan untuk maksud itulah kita sekalian pergi ke rumah mereka.

"Mr. Cunningham dan putranya bergabung dengan kita di depan pintu dapur. Tentu saja mereka tak boleh tahu betapa pentingnya arti surat yang robek itu, karena kalau mereka tahu mereka pasti akan segera memusnahkannya. Inspektur hampir saja kelepasan ngomong soal itu, namun secara kebetulan sekali penyakit saya 'kumat' dan pembicaraan pun beralih."

"Ya, Tuhan!" teriak Pak Kolonel sambil tertawa. "Jadi Anda tadi cuma pura-pura ya? Padahal kami sempat prihatin setengah mati."

"Sebagai dokter harus kuakui bahwa kau telah memerankannya dengan sangat baik," kataku sambil menatap pria yang selalu mencengangkanku dengan kelihaian-kelihaiannya yang tak terduga ini.

"Seni semacam itu sering ada gunanya, katanya. "Ketika serangan telah berhasil saya atasi, saya atur siasat sehingga Mr. Cunningham menuliskan kata 'seperempat', supaya bisa saya bandingkan dengan kata yang sama yang tertera di surat itu."

"Oh, betapa dungunya aku!" teriakku.

"Aku memang merasakan keprihatinanmu atas kelemahan tubuhku," kata Holmes sambil tertawa. "Maaf ya, atas semua ini. Kita lalu naik ke atas bersama sama dan ketika itulah saya melihat baju tidur yang tergantung di balik pintu. Saya sengaja menabrak meja kecil untuk mengalihkan perhatian mereka, lalu segera lari ke kamar Alec untuk memeriksa kantong-kantong pakaian tidur itu. Saya baru saja mendapatkan surat itu ketika Mr. Cunningham dan anaknya menyerang saya. Kalau tidak ada kalian, tamatlah riwayat saya. Cekikan pemuda itu di leher saya masih terasa sampai sekarang, juga rasa sakit di pergelangan tangan akibat dipelintir sang ayah yang berusaha merebut kertas tersebut. Mereka berdua menyadari bahwa saya telah tahu rahasia mereka, dan posisi mereka yang berubah begitu drastis itu membuat mereka nekat.

"Setelah itu, saya sempat berbicara sejenak dengan Mr. Cunningham untuk menanyakan motif pembunuhan itu. Dia langsung mengaku, walaupun anaknya berusaha menyangkal dengan sikap kesetanan. Kalau saja si Alec itu bersenjata pasti akan ada nyawa yang tercabut. Semangat Mr. Cunningham terbang ketika dia menyadari bahwa kasusnya tergolong berat, maka tanpa banyak cincong dia menceritakan semuanya. Rupanya ulah mereka di rumah Mr. Acton dipergoki oleh William, yang memang dengan sengaja mengekor. Dia lalu mengancam akan menyebarluaskan kejadian itu. Ternyata Mister Alec adalah seseorang yang sangat berbahaya untuk permainan semacam itu. Dengan kecerdikannya, dia lalu merencanakan untuk menghabisi nyawa orang yang ingin memerasnya itu. Maka William pun diumpaninya lalu di tembak, dan kecurigaan jatuh pada pencuri yang memang sedang ramai dibicarakan di daerah itu. Kalau saja mereka tak meninggalkan jejak berupa robekan kertas di genggaman tangan korban dan lebih saksama dalam hal-hal kecil, kemungkinan besar mereka tak akan pernah dicurigai."

"Dan surat itu?" aku bertanya.

Sherlock Holmes meletakkan surat yang telah ditambal itu di hadapan kami.

"Persis seperti yang saya duga," katanya. "Tentu saja kita masih belum tahu bagaimana hubungan Alec Cunningham, William Kirwan, dan Annie Morrison. Yang jelas, perangkapnya telah dipasang dengan sangat jitu. Nah, coba lihat kemiripan huruf p dan ekor huruf g itu. Menarik, kan? Huruf i tanpa titik yang ditulis oleh orang yang lebih tua juga merupakan ciri khusus. Watson, rencana istirahat kita di desa yang tenang ternyata membawa hasil. Maka besok pagi, dengan penuh semangat, sebaiknya kita kembali ke Baker Street."