"Holmes," kataku suatu pagi, ketika aku sedang berdiri di depan jendela sambil menatap ke jalanan di bawah, di luar tempat tinggal kami, "ada orang gila lewat. Kenapa keluarganya membiarkan dia berkeliaran sendirian begitu, ya?"

Temanku bangkit dari kursi malas dengan enggan, lalu berdiri dengan kedua tangannya terbenam dalam saku baju tidurnya. Dia pun lalu melongok ke bawah. Pagi di bulan Februari itu sangat cerah dan segar. Sisa salju masih menempel di tanah, berkilauan memantulkan sinar matahari. Di sepanjang Baker Street salju itu berubah warnanya menjadi coklat karena terlindas mobil-mobil yang lewat, tapi salju yang menumpuk di pinggir jalan masih seputih kapas. Trotoar yang kelabu telah disapu bersih, tapi masih licin sekali, sehingga tak banyak orang yang lalu lalang di jalanan. Dari arah Stasiun Metropolitan cuma satu orang yang lewat, yaitu lelaki sinting yang telah menarik perhatianku tadi.

Pria itu kira-kira berusia lima puluh tahun, tinggi, gemuk, dan gagah. Wajahnya lebar, dan profil wajahnya khas sekali. Tubuhnya tegap berwibawa. Pakaiannya berwarna suram tapi gaya, dilengkapi mantel panjang hitam, topi mengkilat, penutup kaki berwarna coklat yang amat rapi, dan celana keperakan yang bagus jahitannya. Tapi sikapnya sangat kontras dengan pakaiannya yang "wah", karena dia berlari dengan kencang, sambil kadang-kadang melompat-lompat kecil. bagaikan orang yang keletihan yang tak biasa memakai perlengkapan kaki seberat itu. Sambil berlari, tangannya naik-turun, kepalanya menggeleng-geleng, dan wajahnya menggeliat-geliat menahan rasa sakit.

"Kenapa dia, ya?' tanyaku. "Kini dia sedang meneliti nomor-nomor rumah."

"Menurutku, dia sedang menuju kemari," kata Holmes sambil menggosok-gosok kedua tangannya.

"Kemari?"

"Ya, kukira dia akan berkonsultasi denganku. Kelihatan dari gejalanya, kok. Ha! Betul, kan?" Saat dia berkata demikian, pria itu sedang berlari menuju pintu depan tempat tinggal kami. Napasnya terengah-engah, dan asap mengepul dari mulutnya. Ditariknya, bel dengan begitu kerasnya, sehingga bunyi dentangnya memekakkan seisi rumah.

Beberapa saat kemudian, dia sudah berada di kamar kami, masih terengah-engah, tangannya masih bergerak-gerak, tapi pandangan matanya benar-benar memancarkan kepedihan yang berbaur dengan rasa putus asanya, sehingga senyum di wajah kami langsung lenyap, berganti dengan rasa ngeri dan kasihan. Selama beberapa saat, dia tak mampu berkata apa-apa. Dia hanya menggoyang-goyang tubuhnya dan menarik-narik rambutnya seperti orang yang kehilangan akal. Lalu, tiba tiba dia melangkah ke pinggir ruangan dan memukul-mukulkan kepalanya ke tembok dengan sekuat tenaga, sehingga kami langsung berlari mencegahnya. Kami lalu menariknya ke tengah ruangan. Sherlock Holmes mendudukkannya di kursi malas, dan dia sendiri duduk di sampingnya. Holmes menepuk-nepuk tangan tamunya, dan menggumamkan beberapa kata untuk menenangkannya. Dia memang cukup mahir dalam hal yang satu ini.

"Anda datang kemari untuk berkonsultasi, kan?" tanyanya. "Anda kelelahan karena tergesa- gesa. Silakan menenangkan diri dulu, lalu baru lah saya akan mendengarkan masalah Anda yang ingin Anda percayakan kepada saya."

Pria itu terdiam selama beberapa menit. Dadanya naik-turun karena pergumulan perasaannya. Kemudian diusapnya keningnya dengan saputangan, dikatupkannya bibirnya, lalu dia menoleh ke arah kami.

"Tak heran kalau Anda mengira saya orang gila," katanya.

"Saya lihat Anda sedang dilanda masalah yang berat," jawab Holmes.

"Ya, Tuhan! Memang benar!—Masalah yang di luar jangkauan kemampuan saya. Begitu mendadak, dan sangat gawat. Menanggung aib mungkin saya masih bisa, walau tak setitik cela pun pernah saya lakukan selama ini. Menghadapi musibah pun saya mampu, karena itu toh merupakan bagian dari hidup manusia. Tapi kali ini saya tertimpa aib sekaligus musibah, dan bentuknya begitu menakutkan sehingga jiwa saya benar-benar terguncang. Di samping itu, bukan hanya saya yang akan terkena akibatnya. Semua bangsawan di negeri ini akan ikut merasa prihatin, kecuali ada jalan keluar bagi masalah ini."

"Tenanglah, sir," kata Holmes, "dan tolong jelaskan siapa Anda, dan apa yang telah menimpa Anda."

"Nama saya," jawab tamu kami, "mungkin sudah Anda kenal. Saya Alexander Holder, dari Holder & Stevenson Bank, yang beralamat di Threadneedle Street."

Kami memang sudah kenal nama itu, nama salah satu pemilik bank swasta terbesar kedua di London. Lalu, apa yang telah terjadi, sehingga warga terhormat ini berada dalam keadaan yang mengenaskan begini? Kami menunggu dengan sangat penasaran sampai dia sendirilah yang memulai menuturkan kisahnya. "Saya kira, waktu kita sangat berharga," katanya. "Itulah sebabnya saya bergegas kemari begitu inspektur polisi menyarankan agar saya meminta jasa Anda juga. Saya menuju ke Baker Street dengan kereta api bawah tanah, dan dari sana langsung jalan kaki kemari. Kalau naik kereta akan lebih lama lagi, karena jalanannya bersalju. Itulah sebabnya saya sampai kehabisan napas, karena saya tak biasa lari-lari begitu. Tapi sekarang, saya sudah merasa agak baikan, dan saya akan langsung membeberkan masalah saya dengan singkat dan jelas.

"Anda pasti tahu, bahwa keberhasilan bisnis bank tergantung pada perolehan investasi untuk persediaan dana bank dan juga tergantung pada bertambahnya koneksi dan jumlah nasabah. Salah satu pelayanan jasa kami yang menguntungkan adalah pinjaman kepada nasabah dengan jaminan yang benar-benar tinggi nilainya. Beberapa tahun terakhir ini, kami berhasil meningkatkan kegiatan ini dengan sangat memuaskan. Banyak keluarga bangsawan yang membutuhkan dana secepatnya meminjam dari kami, dengan menyerahkan lukisan, perpustakaan, atau piring-piring berharga sebagai jaminannya.

"Kemanan pagi saya sedang berada di kantor saya, ketika seorang pegawai membawa masuk sebuah kartu nama. Saya sangat terkejut ketika membaca nama yang tertera di kartu itu, karena dia tak lain adalah... Yah, mungkin sebaiknya tak usah saya sebut saja, karena nama itu sangat terkenal di seantero negeri ini. Pokoknya beliau adalah salah seorang bangsawan dengan kedudukan tertinggi dan termulia di Inggris. Saya merasa sangat mendapat kehormatan, dan berusaha mengatakan hal itu kepadanya ketika beliau masuk ke kamar saya. Tapi dia langsung membicarakan bisnis, dan nampaknya sedang amat terburu-buru.

"'Mr. Holder,' katanya, 'saya mendapat informasi bahwa Anda bisa meminjamkan dana untuk jangka waktu singkat'

"'Ya, dengan jaminan yang meyakinkan,' jawab saya.

"'Saya sedang sangat membutuhkan dana,' katanya, 'sejumlah 50.000 pound, segera. Tentu saya bisa saja meminjam sepuluh kali lipat jumlah itu dari teman-teman saya, tapi saya lebih suka dengan cara bisnis saja, dan melakukannya secara pribadi. Dalam posisi saya, Anda pasti akan menyadari bahwa tidaklah bijaksana bagi saya kalau saya berutang budi pada orang lain.'

"'Bolehkah saya tahu, berapa lama pinjaman ini akan dikembalikan?' tanya saya.

"'Hari Senin depan saya akan menerima banyak dana, dan saya akan langsung mengembalikan pinjaman ini bersama bunganya. Yang penting, dana itu dapat saya terima saat ini juga.'

"'Dengan senang hati sebetulnya ingin langsung saya ambilkan dari kas saya sendiri,' kataku, 'tapi saya tak memiliki dana sebesar itu. Sedangkan kalau dari kas bank, ada kesepakatan di antara kami, yaitu di antara saya dan pasangan bisnis saya, maka maaf, Anda pun perlu memenuhi persyaratan yang diminta.'

"'Saya lebih suka begitu,' katanya sambil menunjukkan sebuah kotak kulit berwarna hitam yang sejak tadi tergeletak di samping tempat duduknya. 'Anda pasti pernah mendengar tentang tiara bertatahkan permata hijau?'

"'Salah satu kekayaan kerajaan ini, yang menjadi milik umum dan sangat tinggi nilainya,' kata saya.

"'Tepat sekali.' Dibukanya kotak itu, dan di dalamnya terdapat perhiasan yang tak ternilai harganya yang dimaksudkannya itu, menempel pada beludru halus berwarna kuning.

"'Ada tiga puluh sembilan permata hijau pilihan pada tiara ini,' katanya, 'dan nilai emas yang membalutnya pun tak terkatakan. Nilai tiara ini paling sedikit dua kali jumlah yang ingin saya pinjam. Saya akan serahkan tiara ini sebagai jaminan.'

"Saya terima kotak itu, dan dengan tercengang-cengang saya memandang isi kotak itu dan pembawanya secara bergantian

"'Anda meragukan nilai barang itu?' tanyanya.

"'Sama sekali tidak. Saya hanya meragukan...'

"'Apakah pantas bagi saya untuk meninggalkan barang itu pada Anda? Tenang saja. Saya berani melakukannya karena saya yakin akan mengambilnya kembali dalam waktu empat hari. Ini benar-benar hanya masalah persyaratan. Apakah jaminan saya memenuhi syarat?'

"'Lebih dari sekadar memenuhi.'

"'Anda tahu, Mr. Holder, ini menjadi bukti yang kuat bahwa saya benar-benar mempercayai Anda berdasarkan apa yang saya dengar tentang reputasi Anda. Saya mempercayai Anda bukan saja agar Anda merahasiakan hal ini untuk mencegah gosip, tapi lebih dari itu, agar Anda menyimpan tiara ini dengan sebaik-baiknya. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan tiara ini, masyarakat pasti akan heboh. Jangan sampai terjadi kerusakan sedikit pun, apalagi sampai hilang, karena tak ada lagi permata hijau yang senilai itu di dunia ini, dan tak bisa digantikan oleh apa pun juga. Maka saya serahkan ini kepada Anda dengan penuh kepercayaan, dan saya sendirilah yang akan mengambilnya pada hari Senin pagi yang akan datang.'

"Menyadari bahwa klien saya dalam keadaan terburu-buru, saya tak berkata apa-apa lagi. Saya panggil kasir, dan menyuruhnya menyediakan uang sebanyak 50.000 pound. Ketika klien saya sudah pergi, saya mulai menyadari betapa besar tanggung jawab yang dipercayakan kepada saya. Karena barang ini milik negara, kalau sampai terjadi sesuatu atasnya, pasti masyarakat akan heboh. Saya langsung menyesal karena telah bersedia menerima jaminan itu. Tapi saya tak bisa mengubah keadaan, maka saya lalu menyimpan tiara itu di dalam lemari besi saya, dan saya pun melanjutkan pekerjaan saya.

"Ketika malam tiba, saya merasa sebaiknya saya tidak meninggalkan tiara itu di situ. Bukankah sudah sering terjadi lemari besi bank dibongkar pencuri? Bagaimana kalau itu terjadi di kantor saya? Tamatlah riwayat saya! Maka saya memutuskan untuk membawa tiara itu ke mana pun saya pergi, sehingga saya selalu bisa mengawasinya. Begitulah, saya lalu memanggil kereta, dan pulang ke rumah saya di Streatham. Sepanjang perjalanan saya terus-menerus merasa waswas. Setelah saya sampai di kamar pakaian saya di lantai atas, dan benda berharga itu aman tersimpan di dalam lemari, barulah saya bisa bernapas dengan lega.

"Sekarang tentang penghuni rumah saya, Mr. Holmes, supaya Anda bisa memahami situasinya dengan jelas. Tukang kuda dan pelayan pria saya tidur di luar rumah, dan mereka tak mungkin dicurigai. Saya mempunyai tiga pelayan wanita yang sudah bekerja pada saya selama bertahun-tahun, dan rasanya tak mungkin kalau mereka yang melakukannya. Lalu ada Lucy Parr, pelayan wanita yang baru bekerja selama beberapa bulan. Tapi dia itu baik sekali, dan pekerjaannya sangat memuaskan. Gadis ini cantik dan banyak pria di sekitar rumah saya yang meliriknya. Hanya itu kekurangannya, tapi sebenarnya dia gadis yang amat baik.

"Itu tentang pelayan-pelayan saya. Keluarga saya cuma kecil saja, sehingga takkan lama untuk menjelaskannya. Saya seorang duda, dan hanya punya seorang putra, Arthur. Saya kecewa padanya, Mr. Holmes, sangat kecewa. Mungkin salah saya sendiri. Orang-orang mengatakan bahwa saya telah terlalu memanjakannya. Memang, saya akui itu benar. Setelah istri tercinta saya meninggal, saya lalu mencurahkan segenap kasih sayang saya kepadanya, karena tinggal dialah satu-satunya keluarga yang saya miliki. Saya tak ingin melihatnya bersedih barang sedetik pun. Semua permintaanya saya kabulkan. Mungkin seharusnya saya agak lebih tegas kepadanya. Tapi, saya pikir saya melakukan semua itu untuk kebaikannya.

"Wajar toh, kalau saya berkeinginan agar dia melanjutkan usaha saya kelak, tapi dia tak berminat terjun ke bidang bisnis. Putra saya itu susah diatur, suka melawan, dan terus terang, saya tak mempercayainya untuk memegang uang dalam jumlah besar. Ketika meningkat dewasa, dia menjadi anggota sebuah klub aristokrat, dan di sana dia langsung diterima dengan baik oleh anggota-anggota lainnya. Tak lama kemudian, dia berteman dengan anak-anak orang kaya, dan meniru gaya hidup mereka yang berfoya-foya. Dia mulai ikut bermain judi, dan menghamburkan uang di taruhan pacuan kuda. Uang saku yang saya berikan selalu habis sebelum waktunya, dan dia lalu meminta lagi jatah berikutnya. Dia berbuat demikian agar teman-temannya menyukainya. Dia pernah beberapa kali mencoba untuk melepaskan diri dari klubnya yang brengsek itu, tapi salah seorang temannya yang bernama Sir George Burnwell selalu berhasil menariknya kembali.

"Tentu saja saya bisa memaklumi mengapa orang semacam Sir George Burnwell mampu mempengaruhinya sedemikian rupa. Dia sering mengajak temannya itu mampir ke rumah kami, dan saya sendiri juga mengagumi penampilannya. Sir George Burnwell lebih tua dari Arthur, luas pengetahuannya karena sering bepergian ke luar negeri. Orangnya pandai berbicara, dan sangat tampan. Tapi kalau saya memikirkannya setelah dia pergi, saya yakin bahwa kata-katanya yang sinis dan pandangan matanya menunjukkan bahwa dia bukanlah orang yang bisa dipercaya. Mary juga berpendapat begitu. Sebagai seorang wanita, dia dapat menilai karakter seseorang dengan cepat.

"Dan yang terakhir dalam lingkungan keluarga saya adalah gadis bernama Mary ini. Dia keponakan saya. Ketika ayahnya, kakak saya, meninggal lima tahun yang lalu, dia sebatang kara di dunia. Maka saya lalu mengadopsinya, dan sejak itu saya menganggapnya sebagai anak saya sendiri. Dia membawa keceriaan dalam rumah saya... manis sikapnya, penyayang, cantik, pengurus rumah tangga yang hebat, dan lemah lembut. Dialah tangan kanan saya. Saya tak tahu bagaimana hidup saya tanpa dia. Hanya dalam satu hal saja dia tak menuruti kehendak saya. Dua kali putra saya meminangnya, karena Arthur sangat mencintainya, tapi dia selalu menolak. Menurut saya, Mary-lah satu-satunya orang yang bisa menarik anak saya kembali ke jalan yang benar. Kalau dia setuju menikah dengan anak saya, saya yakin hidup anak saya akan berubah. Tapi kini semua sudah terlambat... terlambat selama-lamanya!

"Nah, Mr. Holmes, Anda sudah tahu tentang penghuni rumah saya, dan akan saya teruskan kisah yang sangat mengguncangkan, hati saya ini.

"Malam itu, kami sedang minum kopi di ruang tengah setelah makan malam. Saya menceritakan pengalaman saya di kantor pagi tadi kepada Arthur dan Mary. Juga tentang benda berharga yang saya simpan di rumah. Tapi saya tak menyebutkan nama klien saya. Saya tahu Lucy Parr yang melayani kami waktu itu sudah meninggalkan ruangan, tapi mungkin saja pintunya tak tertutup. Mary dan Arthur sangat tertarik pada cerita saya, dan keduanya ingin melihat tiara yang terkenal itu, tapi tak saya izinkan.

"'Ayah simpan di mana tiara itu?' tanya Arthur.

"'Di lemari pakaianku sendiri.'

"'Yah, moga-moga rumah ini tak dimasuki pencuri nanti malam,' katanya.

"'Lemari itu terkunci,' jawab saya.

"'Oh, lemari Ayah gampang sekali dibuka dengan kunci palsu. Waktu kecil saya pernah membukanya dengan kunci lemari gudang.'

"Anak saya itu kalau bicara sering ngelantur, jadi saya tak terlalu memikirkan ucapannya. Tapi malam itu dia mengikuti saya ke kamar, wajahnya sangat serius.

"'Dengar, Ayah,' katanya tanpa berani menatap saya. 'Bolehkah saya minta uang? Dua ratus pound saja.'

"'Tidak!' jawab saya dengan ketus. 'Aku sudah terlalu royal kepadamu selama ini.'

"'Selama ini Ayah memang baik sekali,' katanya, 'tapi sekali ini saya benar-benar membutuhkan uang itu. Kalau tidak, saya tak akan punya muka lagi untuk mengunjungi klub itu.'

"'Lebih baik demikian,' teriak saya.

"'Ya, tapi Ayah kan tak akan senang kalau nama saya jadi jelek,' katanya. 'Saya tak tahan menanggung malu seperti itu. Saya harus mendapatkan uang itu. Kalau Ayah tak mau memberi, akan saya usahakan sendiri.'

"Saya menjadi marah sekali, karena sudah tiga kali ini dalam sebulan dia meminta tambahan uang. 'Aku tak akan memberi sepeser pun,' teriak saya. Dia lalu membungkuk dan meninggalkan kamar saya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Ketika dia sudah pergi, saya membuka lemari pakaian saya, untuk meyakinkan diri bahwa tiara itu masih ada di dalamnya. Lalu saya kunci lagi lemari itu. Kemudian saya mulai memeriksa keadaan seluruh rumah, apakah semuanya aman. Pekerjaan ini biasanya dilakukan oleh Mary, tapi malam itu saya merasa sebaiknya saya lakukan sendiri. Ketika saya menuruni tangga, saya melihat Mary sedang berdiri di jendela samping ruang depan. Dia lalu menutup dan mengunci jendela itu ketika dilihatnya saya mendekat ke arahnya.

"'Benarkah,' katanya sambil menatap saya dengan agak gelisah, 'Ayah yang mengizinkan si pelayan, Lucy, pergi ke luar malam ini?'

"'Tentu saja tidak.'

"'Dia baru saja masuk lewat pintu belakang. Pasti dia baru saja menemui seseorang di pintu samping. Saya rasa hal itu bisa membahayakan seisi rumah, dan sebaiknya dia dilarang berbuat begitu lagi.'

"'Kau harus menegurnya besok pagi, ataukah menurutmu sebaiknya aku yang melakukannya? Apakah semua pintu dan jendela sudah dikunci?'

"'Sudah, Ayah.'

"'Kalau begitu, selamat malam.' Saya menciumnya, lalu masuk ke kamar. Saya langsung tertidur.

"Saya mencoba menceritakannya selengkap-lengkapnya, Mr. Holmes, agar kasus ini menjadi jelas. Tapi silakan bertanya kalau ada yang kurang jelas."

"Tidak perlu, penuturan Anda jelas sekali."

"Sekarang kita tiba ke bagian yang penting. Saya ini kalau tidur tak terlalu nyenyak, lebih-lebih malam itu pikiran saya dibebani kecemasan. Kira-kira jam dua pagi, saya terbangun oleh suatu suara. Tak lama setelah saya terbangun, suara itu menghilang. Tapi nampaknya seperti suara jendela yang dikatupkan. Saya masih terbaring sambil mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Tiba-tiba saya dikejutkan oleh suara langkah kaki samar-samar di ruang sebelah. Saya turun dari tempat tidur dengan ketakutan, dan mengintip ke kamar pakaian.

"'Arthur!' teriak saya. 'Bajingan kau! Pencuri! Berani beraninya kau menjamah tiara itu!'

"Lampu gas menyala separonya seperti waktu saya tinggalkan sebelumnya. Anak laki-laki saya yang malang itu sedang berdiri di samping lampu sambil memegang tiara di tangannya. Dia hanya mengenakan celana panjang dan kaus oblong. Dia nampaknya sedang menekan tiara itu, atau lebih tepatnya membengkokkannya dengan segenap kekuatannya. Mendengar teriakan saya, tiara itu terjatuh dari tangannya, dan mukanya menjadi pucat pasi. Saya bergegas mengambil tiara itu dari lantai dan memeriksanya. Salah satu ujungnya yang bertatahkan tiga permata hilang.

"'Bajingan kau!' teriak saya dengan kemarahan yang meletup-letup. 'Kau telah merusaknya! Kau telah mencemarkan nama baikku untuk selamanya! Kautaruh di mana permata yang kau curi itu, hah?'

"'Kucuri?!' teriaknya.

"'Ya, maling!" bentak saya sambil mengguncang-guncang bahunya.

"'Tak ada yang hilang. Tak mungkin ada yang hilang," katanya.

"'Ada tiga permata yang hilang. Dan kau pasti tahu ada di mana. Haruskah kusebut kau pembohong, di samping pencuri? Bukankah tadi kulihat kau sedang berusaha mencopot permata yang lainnya?'

"'Cukup sudah Ayah mengata-ngatai saya,' katanya. 'Saya tak tahan lagi. Saya tak sudi mengatakan sepatah kata pun tentang hal ini, karena Ayah telanjur menghina saya sedemikian rupa. Saya akan meninggalkan rumah ini secepatnya, dan biarlah saya hidup sendiri saja.'

"'Kau akan berurusan dengan polisi!' teriak saya masih dengan marah, tapi kali ini bercampur dengan rasa pilu. 'Masalah ini harus dituntaskan.'

"'Saya tak akan memberikan keterangan apa-apa,' katanya dengan tegar. Saya tak pernah melihatnya setegar itu sebelum ini. 'Kalau Ayah mau panggil polisi, biarlah mereka sendiri yang akan mencari keterangan keterangan yang diperlukan.'

"Saat itu seluruh rumah sudah terbangun oleh suara marah saya yang menggelegar. Mary yang pertama kali masuk ke tempat kami, dan ketika melihat tiara itu dan ekspresi wajah Arthur, tahulah dia apa yang telah terjadi. Dia berteriak pilu, lalu jatuh pingsan. Saya menyuruh seorang pelayan memanggil polisi dan minta mereka mengadakan penyelidikan saat itu juga. Ketika inspektur dan seorang anak buah nya tiba di rumah saya, Arthur yang selama itu hanya berdiri muram dengan kedua tangan tersilang di dadanya, bertanya apakah saya akan menuduhnya telah mencuri tiara itu. Saya jawab bahwa masalahnya bukan lagi masalah pribadi, tapi masalah publik, karena tiara yang rusak itu merupakan milik umum. Saya tetap ingin agar masalah ini diselesaikan secara hukum.

"'Paling tidak,' katanya, jangan biarkan saya ditangkap sekarang juga. Akan lebih baik bagi kita berdua kalau saya diizinkan keluar rumah sejenak lima menit saja.'

"'Supaya kau bisa kabur, atau menyembunyikan barang curian itu?' kata saya. Lalu saya sadar, bahwa saya dihadapkan pada situasi yang sulit. Saya lalu mengatakan pada putra saya bahwa bukan hanya nama baik saya saja yang sedang dipertaruhkan, tapi juga nama baik seseorang yang sangat dihormati di masyarakat. Negara akan guncang kalau skandal ini sampai diketahui umum. Dia bisa mencegah terjadinya hal ini kalau dia mau, hanya dengan mengatakan secara terus terang, apa yang telah diperbuatnya dengan tiga permata yang hilang itu. "'Silakan pilih! Mau menghadapi tuduhanku,' kata saya, 'karena kau memang tertangkap basah, dan tak ada gunanya membela diri. Atau kalau kau mau mengatakan di mana kautaruh ketiga permata itu, maka kau akan kuampuni dan segala tuduhan akan gugur.'

"'Saya tak butuh pengampunan Ayah,' jawabnya sambil membuang muka dan menyeringai. Saya menyadari dia tak mungkin bisa saya pengaruhi. Hanya tinggal satu jalan. Saya panggil inspektur, dan menyerahkan anak saya untuk diadili. Pencarian segera dilakukan Arthur di geledah. Kamarnya juga. Lalu setiap sudut rumah diperiksa, tapi ketiga permata itu tak ditemukan. Anak saya yang brengsek itu tak mau memberi penjelasan sedikit pun, walau sudah dibujuk dan diancam. Pagi tadi dia dimasukkan ke tahanan. Dan sesudah menyelesaikan semua formalitas di kepolisian, saya langsung menuju kemari dengan harapan Anda akan mampu menyelesaikan masalah saya ini. Polisi telah mengakui bahwa sampai saat ini mereka menghadapi jalan buntu. Biaya tak jadi masalah buat saya. Berapa pun yang diperlukan akan saya bayar. Saya bahkan telah menawarkan imbalan seribu pound. Ya, Tuhan! Apa yang harus saya lakukan! Saya kehilangan reputasi saya, permata-permata itu, dan anak laki-laki saya hanya dalam waktu satu malam. Oh, apa yang harus saya lakukan?"

Ditaruhnya kedua tangannya di kepalanya, lalu digoyang-goyangkannya sambil berceloteh sendiri bagaikan seorang anak yang sedang mengalami kesedihan yang luar biasa.

Sherlock Holmes duduk terdiam selama beberapa saat, keningnya berkerut dan matanya menatap ke perapian.

"Apakah Anda sering menerima tamu?" tanya temanku.

"Tidak, kecuali pasangan bisnis saya dan keluarganya, dan kadang-kadang teman Arthur. Akhir-akhir ini Sir George Burnwell sering datang berkunjung. Hanya itu, saya rasa."

"Apakah Anda sering bepergian?"

"Arthur yang sering. Mary dan saya lebih banyak tinggal di rumah. Kami berdua tak suka keluar rumah."

"Tak biasanya gadis muda tak suka keluar rumah."

"Dia sangat pendiam. Di samping itu, dia memang sudah tak begitu muda lagi. Umurnya dua puluh empat tahun."

"Dari penuturan Anda, nampaknya kejadian ini telah mengejutkannya pula?"

"Amat sangat! Dia malah lebih terpukul dibanding saya sendiri."

"Anda berdua tak meragukan lagi bahwa yang bersalah adalah putra Anda?"

"Tentu saja, karena saya melihatnya dengan mata kepala sendiri tiara itu berada di tangannya."

"Itu belum tentu membuktikan bahwa dialah pencurinya. Apakah tiara itu rusak?"

"Ya, melengkung."

"Apakah tak ada kemungkinan justru waktu itu dia sedang berusaha untuk meluruskannya?"

"Semoga Tuhan memberkati Anda! Saya tahu Anda bertindak demi kebaikan saya dan putra saya. Tapi itu tak mudah. Apa yang sebenarnya dilakukannya saat itu? Kalau dia tak bersalah, kenapa dia tak mengatakannya?"

"Ya. Dan kalau dia bersalah, kenapa dia tak mencoba berbohong? Tutup mulutnya nampaknya membuatnya berada di persimpangan jalan. Ada beberapa hal yang aneh dalam kasus ini. Menurut polisi, suara apakah yang telah membangunkan Anda?"

"Menurut mereka mungkin suara pintu kamar Arthur ketika dikatupkan."

"Ada-ada saja! Mana mungkin seseorang yang sedang melakukan tindak kejahatan, begitu cerobohnya membanting pintu sehingga membangunkan penghuni rumah? Lalu bagaimana pendapat mereka tentang hilangnya permata itu?"

"Mereka masih terus berusaha untuk mencarinya di seluruh penjuru rumah."

"Apakah mereka berpikir untuk mencarinya di halaman juga?"

"Ya, mereka benar-benar bersemangat. Seluruh taman sudah diperiksa dengan teliti."

"Nah, sir," kata Holmes, "ternyata masalah ini jauh lebih rumit dari yang diduga semula, bukan? Bagi Anda mungkin jawabnya sederhana saja, tapi bagi saya tidaklah demikian. Coba kita pertimbangkan teori Anda. Menurut Anda, putra Anda turun dari tempat tidurnya, lalu dengan risiko tertangkap dia masuk ke kamar pakaian Anda. Dia membuka lemari, mengambil tiara, mencopot sebagian permata dari tiara itu, lalu pergi ke suatu tempat lain untuk menyembunyikan tiga saja dari tiga puluh sembilan permata yang ada. Begitu lihainya dia menyembunyikan permata-permata itu sehingga sampai sekarang tak ada yang dapat menemukannya Sesudah itu dia kembali lagi untuk menaruh tiara itu dengan risiko akan dipergoki seseorang. Saya ingin bertanya, apakah teori itu bisa diterima?"

"Tapi kalau tidak begitu, lalu bagaimana lagi?" teriak pemilik bank itu dengan putus asa. "Kalau dia tak bersalah, mengapa dia tak membela diri?"

"Tugas kitalah untuk mencari tahu jawabnya," sahut Holmes. "Jadi sekarang, kalau Anda tak keberatan, Mr. Holder, mari kita berangkat ke Streatham bersama-sama dan memeriksa rincian kasus ini dengan lebih saksama."

Holmes bersikeras agar aku ikut serta dalam penyelidikan ini, dan dengan senang hati aku menyerujuinya. Aku dipenuhi rasa ingin tahu dan sangat tertarik pada kisah yang baru saja kudengar. Aku mengakui bahwa aku sependapat dengan pemilik bank itu bahwa putranyalah yang jelas bersalah, tapi aku pun yakin akan pemikiran Holmes. Aku merasa masih ada harapan, karena ternyata Holmes agak meragukan pendapat pemilik bank itu. Holmes tak mengatakan apa-apa sepanjang perjalanan ke bagian selatan kota London itu. Dia duduk tepekur dengan kepala tunduk dan sebagian wajah tertutup topi. Klien kami agak terhibur dengan kemungkinan adanya secercah harapan yang disampaikan oleh Holmes, dan dia banyak bicara kepadaku tentang urusan bisnisnya. Perjalanan kereta api itu tak memakan waktu terlalu lama, lalu kami berjalan sebentar ke Fairbank, rumah pemilik bank itu.

Fairbank rumah yang cukup luas, terbuat dari batu putih, agak masuk dari jalan raya. Ada jalan untuk kereta lewat, dan halaman yang tertutup salju di depannya. Pintu gerbangnya besar sekali, terbuat dari besi. Di samping kanan rumah itu terdapat semak-semak kayu sampai ke jalanan sempit di antara pagar pepohonan yang berjajar rapi dari jalan raya ke pintu dapur. Dari pintu inilah para pedagang masuk. Di samping kiri rumah ada jalur jalan lagi yang menuju ke kandang kuda. Jalan itu jalan umum, tapi tak banyak dilewati orang.

Ketika kami sedang berdiri di pintu depan, Holmes meninggalkan kami dan berjalan mengitari rumah, mulai dari depan, lalu ke samping kanan, ke halaman belakang, dan akhirnya ke kandang kuda. Lama sekali dia tak muncul-muncul, sehingga Mr. Holder mengajakku masuk ke ruang makan. Kami menunggu Holmes sambil duduk terdiam di depan perapian. Kemudian, pintu ruangan itu terbuka, dan seorang wanita muda masuk.

Dia agak jangkung, ramping, mata dan rambutnya berwarna hitam, kontras sekali dengan warna kulitnya yang amat pucat. Tak pernah sebelumnya aku melihat wajah seorang wanita sepucat itu. Bibirnya juga pucat, tapi matanya merah karena habis menangis. Kuamati dia ketika dia berjalan memasuki ruangan, dan wanita itu memberi kesan bahwa dia sangat terpukul, bahkan lebih parah dari klien kami pagi tadi. Dan yang lebih mengherankan ialah karena sebetulnya wanita itu seorang yang berkepribadian kuat, yang seharusnya bisa menahan diri. Tanpa—mengindahkan kehadiranku, dia langsung mendekati pamannya dan merangkulnya.

"Ayah akan menyuruh agar Arthur dibebaskan saja, kan?" tanyanya.

"Tidak, tidak, anakku. Masalah ini harus diselesaikan dengan baik,"

"Tapi saya yakin dia tak bersalah. Ayah percaya naluri wanita, kan? Saya tahu dia tak bersalah apa-apa, dan Ayah pasti akan menyesal karena telah bertindak gegabah."

"Kalau dia tak bersalah, mengapa dia diam saja?"

"Entahlah! Mungkin karena dia menjadi terlalu geram karena Ayah telah menuduhnya."

"Bagaimana aku tak menuduhnya! Dengan mata kepala sendiri aku melihat tiara itu berada di tangannya!"

"Oh, dia hanya mau melihat saja. Oh, percayalah kepada saya. Dia tak bersalah. Hentikan saja tuntutan atas masalah ini, dan lupakan saja. Mengerikan sekali memikirkan Arthur kita di penjara!"

"Aku tak akan berhenti mengurus masalah ini sebelum permata-permata yang hilang itu ditemukan—tak akan, Mary! Rasa sayangmu kepada Arthur telah membutakanmu. Kau lupa betapa besar akibat peristiwa ini pada diriku. Aku tak mau menutup-nutupi masalah ini. Aku malah sudah meminta seseorang dari London untuk menyelidikinya."

"Orang ini?" tanyanya sambil menoleh kepadaku.

"Tidak, temannya. Dia minta kami meninggalkannya. Sekarang dia sedang menyelidiki jalanan dekat kandang."

"Jalanan dekat kandang?" Alis wanita itu terangkat. "Apa yang ingin didapatnya di sana? Ah, tentunya ini orangnya. Saya percaya, sir, Anda akan bisa membuktikan apa yang saya yakini bahwa Arthur, saudara saya, tak bersalah."

"Saya setuju dengan Anda, dan saya yakin saya akan bisa membuktikannya." Holmes berjalan menuju keset untuk mengibas-ngibaskan salju yang menempel di sepatunya. "Saya kira saya sedang berhadapan dengan Miss Mary Holder? Bolehkah saya mengajukan satu atau dua pertanyaan?"

"Silakan, sir, kalau memang diperlukan untuk menyelesaikan kasus ini."

"Anda sendiri tak mendengar apa-apa semalam?"

"Tidak. Saya baru terbangun ketika mendengar Paman berteriak-teriak. Saya lalu turun."

"Andalah yang menutup jendela dan pintu tadi malam. Apakah semua jendela telah terkunci?"

"Ya."

"Apakah semua tetap dalam keadaan terkunci tadi pagi?"

"Ya."

"Ada pelayan wanita yang sedang pacaran, kan? Menurut laporan Anda kepada paman Anda, tadi malam dia keluar untuk menemui pacarnya?"

"Ya, dan waktu paman saya menceritakan tentang tiara itu pada kami, dialah pelayan yang bertugas melayani kami di ruangan itu. Jadi dia mungkin mendengar pembicaraan kami."

"Saya tahu. Menurut Anda, tadi malam dia mungkin keluar untuk memberitahu pacarnya tentang tiara itu, lalu mereka berdua merencanakan perampokan?"

"Untuk apa semua teori yang samar-samar begini?" teriak klien kami dengan tak sabar.

"Bukankah sudah saya jelaskan bahwa saya melihat tiara itu di tangan Arthur?"

"Tunggu sebentar, Mr. Holder. Nanti kita akan sampai ke hal itu juga. Tentang pelayan ini, Miss Holder. Anda melihatnya kembali melalui pintu dapur, betulkah?"

"Ya, ketika saya hendak memeriksa pintu itu, saya melihatnya bergegas masuk ke dalam. Samar-samar saya juga melihat pacarnya."

"Anda kenal dengan pacarnya itu?"

"Oh, ya, dia tukang sayur langganan kami. Namanya Francis Prosper."

"Waktu itu dia berdiri," kata Holmes, "di sebelah kiri pintu—agak sedikit jauh dari pintu?'

"Ya."

"Dan salah satu kakinya palsu?"

Mata hitam gadis itu memancarkan ketakutan. "Wah, Anda kok seperti tukang sulap," katanya. "Bagaimana Anda bisa tahu tentang hal itu?" Gadis itu tersenyum, tapi Holmes tak membalas senyumnya. Wajahnya yang kurus justru nampak penasaran.

"Sekarang saya ingin memeriksa lantai atas," katanya. "Saya mungkin akan memeriksa halaman rumah sekali lagi nanti. Tapi sebaiknya saya periksa jendela jendela di lantai bawah ini dulu sebelum naik ke atas."

Dia bergegas memeriksa jendela-jendela yang dimaksudkannya satu per satu. Dia berhenti sejenak di depan jendela besar yang kalau dibuka akan menampakkan jalur jalan yang menuju ke kandang kuda. Dibukanya jendela besar itu, dan diperiksanya pinggirannya dengan teliti dengan menggunakan kaca pembesarnya. "Sekarang, mari kita naik ke atas," katanya kemudian.

Kamar pakaian pemilik bank itu sederhana sekali, dan tak begitu besar. Karpetnya berwarna abu-abu. Ada sebuah lemari besar dan cermin panjang. Holmes langsung mendekati lemari itu dan mengamati kuncinya.

"Kunci apa yang tadi malam dipakai untuk membuka lemari ini?" tanyanya.

"Seperti yang dikatakan putra saya—kunci lemari gudang."

"Apakah kunci itu ada di sini?"

"Itu, di meja."

Sherlock Holmes mengambil kunci itu, dan dibukanya lemari.

"Kunci ini tak berbunyi," katanya. "Itulah sebabnya Anda tak sampai terbangun. Kotak inikah yang berisi tiara itu? Kita perlu memeriksanya." Dibukanya kotak tersebut lalu dikeluarkannya tiara itu dan diletakkannya di meja. Sungguh hasil karya seni perhiasan yang luar biasa! Dan permata yang jumlahnya tiga puluh enam itu sungguh-sunguh indah. Salah satu sisi tiara itu melengkung, dan tiga permata di bagian ujungnya hilang.

"Nah, Mr. Holder," kata Holmes, "ujung yang melengkung inilah yang hilang permatanya. Coba Anda patahkan tiara ini."

Pemilik bank itu terlompat mundur dengan ketakutan. "Saya tak mungkin berani melakukan hal itu," katanya.

"Kalau begitu, biar saya saja yang mencobanya." Holmes mencoba mematahkan tiara itu dengan segenap kekuatannya, tapi tak berhasil. "Sia-sia," katanya, "kalaupun tangan saya jauh lebih kuat, tak mudah untuk mematahkannya. Orang biasa tak mungkin bisa melakukan hal itu. Sekarang, apa yang akan terjadi seandainya saya bisa mematahkannya, Mr. Holder? Tentu akan menimbulkan suara seperti ledakan pistol. Mungkinkah ini terjadi hanya dalam jarak beberapa meter dari tempat tidur Anda, tanpa Anda mendengarnya?"

"Saya tak bisa berpikir. Semuanya gelap bagi saya."

"Tapi sebentar lagi mungkin akan menjadi semakin terang. Bagaimana pendapat Anda, Miss Holder?"

"Saya akui, saya pun masih bingung seperti paman saya."

"Putra Anda tak memakai sepatu atau sandal ketika Anda memergokinya, bukan?"

"Dia hanya memakai celana panjang dan kaus oblong."

"Terima kasih. Kami sangat beruntung selama penyelidikan ini, dan keterlaluan sekali kalau kami sampai tak berhasil menyelesaikan masalah ini. Kalau Anda tak keberatan, Mr. Holder, sekarang saya harus melanjutkan pemeriksaan di halaman."

Dia minta agar hanya dia saja yang pergi, karena kalau terlalu banyak jejak kaki akan menyusahkan penyelidikannya. Dia pergi selama satu jam lebih, dan akhirnya kembali dengan wajah misterius dan kaki penuh salju.

"Saya kira penyelidikan saya sudah cukup, Mr. Holder," katanya, "sebaiknya saya pulang saja."

"Tapi, di manakah permata-permata itu, Mr. Holmes?"

"Saya tidak tahu."

Pemilik bank itu meremas-remas tangannya. "Berarti permata-permata itu tak mungkin kembali!" teriaknya. "Dan, putra saya? Adakah harapan?"

"Pendapat saya tak berubah sedikit pun."

"Kalau demikian, demi Tuhan, apa yang telah terjadi di rumah saya semalam?"

"Silakan datang ke tempat saya besok antara jam sembilan-sepuluh pagi, untuk penjelasan lebih lanjut. Kalau tak salah, Anda memberi saya kuasa untuk bertindak atas nama Anda, dan saya boleh memakai dana berapa saja asalkan permata itu kembali kepada Anda?"

"Seluruh kekayaan saya pun akan saya relakan untuk itu."

"Baiklah. Masalah ini akan saya selidiki lagi. Selamat dnggal, mungkin saja saya akan kemari lagi sebelum nanti malam."

Jelas bahwa temanku sudah mendapatkan kepastian tentang kasus ini, walaupun aku masih belum bisa membayangkan kesimpulan apa yang didapatkannya. Sepanjang perjalanan pulang, aku mencoba memancingnya untuk membicarakan kasus ini, tapi dia selalu mengelak dan membelokkan pembicaraan ke topik lain. Akhirnya, aku pun mengalah. Ketika kami sampai di tempat kami, waktu menunjukkan jam tiga kurang sedikit. Dia bergegas menuju kamar tidurnya, dan dalam beberapa menit sudah menuruni tangga dengan berpakaian seperti seorang pengangguran. Kerah bajunya dinaikkan ke atas, mantelnya lusuh, syalnya merah, sepatu botnya sudah butut, benar-benar seperti seorang pengangguran yang biasa luntang-lantung di pinggir-pinggir jalan.

"Kurasa sudah pantas begini, ya," katanya sambil menoleh ke cermin di atas perapian. "Sebenarnya aku ingin mengajakmu, Watson, tapi tak bisa. Yang kuikuti ini mungkin jejak yang benar, mungkin pula sebaliknya, tapi aku toh akan segera tahu. Aku harap aku akan kembali dalam beberapa jam." Dia mengambil sepotong daging dari bufet, ditaruhnya di antara dua roti bulat, dan makanan seadanya ini lalu dimasukkannya ke saku mantelnya. Kemudian dia pun berangkat.

Aku baru saja selesai minum teh, ketika dia kembali dengan penuh kegembiraan, sambil mengayun-ayunkan sepatu bot bututnya. Dia melemparkan sepatunya itu ke sudut ruangan, lalu menuang secangkir teh.

"Aku cuma mampir sebentar, kok, karena kebetulan lewat sini," katanya. "Aku mau pergi lagi."

"Ke mana?"

"Oh, ke suatu tempat di West End. Mungkin akan lama. Tak usah menungguku, karena aku mungkin sampai larut malam."

"Bagaimana penyelidikanmu?"

"Oh, yah, beginilah. Tak terlalu jelek. Tadi aku pergi ke Streatham lagi, tapi aku tak masuk ke dalam rumah. Masalah kecil ini menarik sekali, dan aku tak ingin melewatkannya begitu saja. Wah, aku tak bisa duduk ngobrol di sini saja, tapi biar kulepas pakaian jembel ini dulu, dan kembali menjadi orang terhormat lagi."

Walaupun tak diucapkannya, dan gerak-geriknya aku tahu, bahwa dia pasti telah berhasil menemukan sesuatu. Matanya bersinar, dan pipinya yang kurus memerah. Dia bergegas naik ke atas, dan beberapa menit kemudian aku mendengar pintu depan diempaskan. Pasti temanku sudah berangkat menuju perburuan yang memang disukainya itu.

Aku menunggu sampai tengah malam, tapi dia belum juga kembali, maka aku pun menuju kamarku untuk tidur. Sudah biasa baginya untuk bepergian selama beberapa hari, kalau dia, sedang memburu jejak. Maka keterlambatannya kali ini pun tak mengherankanku. Aku tak tahu jam berapa dia pulang, tapi ketika aku turun untuk makan pagi, dia sudah berada di ruang makan sedang menghirup kopi sambil membaca koran dalam keadaan segar bugar.

"Maaf, aku mendahuluimu, Watson," katanya, "tapi kau kan tahu bahwa pagi ini klien kita berjanji akan datang kemari agak awal."

"Wah, sekarang sudah jam sembilan lebih," jawabku. "Pasti tak lama lagi dia datang. Kurasa, aku mendengar bunyi bel pintu."

Benarlah, yang datang adalah klien kami, pemilik bank itu. Aku terkejut sekali melihat perubahan wajahnya. Yang biasanya lebar dan tegar, kini menjadi sangat sengsara dan murung. Rambutnya nampak semakin putih. Dia masuk dengan langkah lesu dan gontai. Keadaannya lebih mengenaskan dari kemarin, ketika dia datang dengan menggebu-gebu. Dia langsung menjatuhkan dirinya ke kursi yang kusorongkan ke dekatnya.

"Saya tak tahu apa dosa saya, sehingga kemalangan datang dengan begini hebatnya," katanya. "Dua hari yang lalu, saya masih seorang pria yang kaya dan bahagia, tanpa kekuatiran sedikit pun. Kini, saya hanyalah seorang pria tua yang kesepian dan tercela. Kesusahan datang bertubi-tubi. Keponakan saya Mary telah meninggalkan saya."

"Meninggalkan Anda?"

"Ya. Pagi tadi saya lihat tempat tidurnya tetap rapi, kamarnya kosong, dan dia meninggalkan sepucuk surat di meja ruang depan. Memang semalam saya mengatakan kepadanya bahwa kalau saja sebelum ini dia bersedia menikah dengan putra saya, pastilah putra saya menjadi orang baik-baik. Saya mengatakan ini cuma untuk mengungkapkan kesedihan hati saya, bukan karena saya marah padanya. Betapa salahnya saya, telah mengucapkan kata-kata seperti itu. Akibatnya, dia menulis surat yang berbunyi demikian:
Paman tercinta,

Saya merasa sayalah yang menjadi penyebab semua kesulitan ini, dan kalau saja saya bertindak lain maka kemalangan ini pasti tak akan terjadi. Karena itu, saya merasa tak tenang lagi untuk tinggal bersama Paman, maka saya memutuskan untuk pergi selamanya. Tak usah kuatir tentang diri saya, karena sudah ada yang menjamin kehidupan saya, dan terlebih lagi, Paman tak perlu mencari saya, karena akan sia-sia saja. Saya tetap sayang kepada Paman untuk selamanya.

Mary

"Apa maksud suratnya itu, Mr. Holmes? Apakah dia akan bunuh diri?"

"Tidak, tidak, bukan begitu. Mungkin ini jalan keluar terbaik. Saya yakin, Mr. Holder, kemalangan Anda akan segera berakhir."

"Ha! Anda kok berkata begitu! Pasti Anda telah mendengar sesuatu, Mr. Holmes, Anda bahkan sudah menemukan sesuatu! Di mana permata-permata itu?"

"Menurut Anda, kalau satu permata harus dibeli dengan harga seribu pound, mahal tidak?'

"Sepuluh ribu pun akan saya bayar!"

"Tak perlu sebanyak itu. Tiga ribu cukup, ditambah sedikit uang jasa, begitu, kan? Anda bawa buku cek? Nih, pulpen. Mungkin sebaiknya Anda tulis empat ribu pound."

Dengan terheran-heran pemilik bank itu melakukan apa yang diminta oleh Holmes. Holmes berjalan menuju laci mejanya, dan mengeluarkan sepotong perhiasan emas berbentuk segitiga yang tak begitu besar, yang bertatahkan tiga permata hijau, lalu ditaruhnya di meja.

Sambil berteriak kegirangan, klien kami memungut perhiasan itu dan menggenggamnya erat-erat.

"Anda mendapatkannya kembali!" katanya tercekat. "Selamatlah saya! Selamatlah saya!"

Reaksi kegembiraannya meluap seperti juga luapan kesedihannya sebelum ini, dan dia menempelkan perhiasan itu ke dadanya.

"Anda masih punya satu utang, Mr. Holder," 'kata Sherlock Holmes dengan wajah agak tegang.

"Utang!" Disambarnya sebuah pulpen. "Sebut saja jumlahnya, akan langsung saya bayar."

"Tidak, Anda tak berutang lagi pada saya. Anda berutang maaf kepada putra Anda yang budiman yang telah sangat berjasa dalam hal ini. Saya pun akan bangga kalau punya anak laki-laki seperti dia."

"Jadi bukan Arthur pencurinya?"

"Kemarin sudah saya katakan, dan saya tegaskan lagi hari ini, bahwa bukan dia pencurinya."

"Anda yakin akan hal itu? Kalau begitu, mari kita segera menemuinya untuk menjelaskan semuanya."

"Dia sudah tahu semuanya. Ketika masalah ini sudah saya bereskan, saya langsung menemuinya untuk menanyakan beberapa hal kepadanya. Dan karena dia tetap tak mau menjawab apa-apa, maka sayalah yang lalu menjelaskan kepadanya. Dia membenarkan semua penjelasan saya, dan setelah itu barulah dia bersedia menambahkan beberapa rincian yang belum saya ketahui. Tapi setelah Anda nanti mengabarkan kepadanya soal minggatnya Mary, dia pasti akan bersedia buka mulut."

"Demi Tuhan, tolong beritahu. Saya tentang misteri yang luar biasa ini!"

"Tentu, dan saya pun akan menjelaskan langkah-langkah yang telah saya tempuh sehingga sampai pada penyelesaian kasus ini. Pertama, saya ingin menyampaikan sesuatu yang sebenarnya sangat berat, baik bagi saya maupun bagi Anda. Sir George Burnwell dan Mary, keponakan Anda itu, sebenarnya telah lama berpacaran. Sekarang ini, mereka sedang melarikan diri bersama-sama."

"Mary keponakanku? Tak mungkin!"

"Sayang, tapi memang begitulah adanya. Anda dan putra Anda tak tahu bagaimana sifat pria itu sebenarnya ketika Anda berdua menjalin hubungan dengannya. Dia itu salah seorang yang paling berbahaya di Inggris—penjudi yang sudah rusak akhlaknya, benar-benar penjahat kelas berat yang tak berperasaan lagi. Keponakan Anda tak tahu-menahu tentang pria macam begitu. Ketika pria itu merayunya, seperti juga yang telah beratus-ratus kali dilakukannya kepada gadis-gadis lain, maka keponakan Anda pun langsung terbuai. Entah apa saja yang telah diucapkan oleh pria itu, pokoknya gadis itu secara tak sadar telah diperalat olehnya, dan mereka bertemu hampir tiap malam."

"Saya rasanya tak bisa dan tak akan percaya akan hal itu!" teriak pemilik bank itu dengan wajah pucat.

"Kalau begitu, coba dengarkan apa yang terjadi di rumah Anda malam itu. Ketika mengira Anda sudah masuk ke kamar untuk tidur, keponakan Anda turun ke lantai bawah, menemui kekasihnya lewat jendela di dekat kandang kuda. Jejak-jejak kaki pria itu jelas terlihat di salju, dan dia berdiri di sana lama sekali. Gadis itu bercerita tentang tiara itu. Niat jahat sang pria langsung timbul dan dia merayu keponakan Anda untuk bersekongkol dengannya. Saya yakin gadis itu menyayangi Anda, tapi cinta butanya pada kekasihnya telah membuatnya Iupa diri. Memang ada beberapa wanita yang bersikap demikian. Dan keponakan Anda ini adalah salah satu contohnya.

"Dia sedang mendengarkan instruksi-instruksi dari pria itu ketika dia mendengar langkah-langkah kaki Anda menuruni tangga. Dia lalu cepat-cepat menutup jendela, dan mengatakan bahwa salah satu pelayan wanita telah keluar untuk menemui kekasihnya yang berkaki palsu secara diam-diam. Dan itu memang benar terjadi.

"Arthur, putra Anda, langsung pergi tidur setelah bertengkar dengan Anda, tapi tidurnya tak nyenyak karena dia sedang gelisah memikirkan utangnya kepada klub itu. Pada tengah malam, dia mendengar langkah orang melewati pintu kamarnya. Dia pun terbangun dan melongok keluar. Dia terkejut ketika melihat Mary sedang berjalan mengendap-endap di lorong depan kamarnya, lalu masuk ke kamar pakaian Anda. Karena keheranannya, dia lalu cepat-cepat mengenakan pakaian sebisanya, kemudian menunggu dalam kegelapan untuk melihat perbuatan aneh apa yang sedang dilakukan oleh Mary.

"Tak lama kemudian gadis itu keluar sambil membawa tiara yang tak ternilai harganya itu. Dia menuruni tangga, sedangkan putra Anda lalu berlari ketakutan dan bersembunyi di balik gorden dekat kamar Anda. Dari situ, dia bisa melihat apa yang terjadi di ruang depan di bawah. Dengan sangat berhati-hati Mary membuka jendela, menyerahkan tiara itu kepada seseorang yang sedang menunggu dalam kegelapan di balik jendela itu, kemudian menutupnya lagi dan bergegas kembali ke kamarnya dengan melewati tempat persembunyian putra Anda.

"Selama masih ada Mary, maka putra Anda tak sampai hati memergokinya, karena itu akan sangat memalukan bagi gadis yang disayanginya itu. Tapi, begitu Mary masuk ke kamarnya, dia menyadari betapa pencurian ini akan menghancurkan hidup ayahnya, maka dia pun bertekad untuk merebut kembali perhiasan yang dicuri itu. Dia lari ke bawah, tanpa mengenakan sepatu ataupun sandal, membuka jendela ruang depan tadi, dan melompat ke luar, ke halaman yang tertutup salju. Dia lalu berlari sepanjang jalanan di halaman itu, dan dia melihat bayangan seseorang di bawah sinar rembulan. Sir George Burnwell mencoba melarikan diri, tapi Arthur berhasil menyergapnya, sehingga mereka pun bergumul. Putra Anda berusaha menarik tiara itu, sedangkan lawannya berusaha menahannya. Dalam tarik-menarik itu, putra Anda berhasil memukul Sir George Burnwell, dan melukai kepalanya.

"Lalu tiba-tiba terdengar bunyi seperti ada sesuatu yang patah, dan tiara itu pun berpindah tangan ke putra Anda. Ketika menyadari bahwa tiara itu sudah berada di tangannya, putra Anda langsung berlari masuk ke dalam rumah, menutup jendela, lalu menuju ke kamar pakaian Anda. Di situ barulah dia menyadari bahwa tiara itu telah menjadi bengkok karena perkelahian mereka tadi. Maka dia pun berusaha membetulkannya. Pada saat itulah Anda masuk dan memergokinya."

"Apakah betul demikian?" tanya pemilik bank itu dengan terharu.

"Anda lalu membuatnya geram dengan mengata-ngatainya macam-macam, padahal sebetulnya Andalah yang harusnya berterima kasih kepadanya. Dia tidak bisa menjelaskan kejadian itu tanpa mengkhianati orang yang sangat dicintainya. Dia kemudian berniat untuk bertindak ksatria, dengan menyembunyikan rahasia gadis itu."

"Dan itulah sebabnya Mary sangat terkejut lalu pingsan ketika dia melihat tiara itu," teriak Mr. Holder. "Oh, Tuhan! Betapa bodoh dan butanya saya selama ini. Dan putra saya minta izin untuk keluar selama lima menit! Tentunya dia ingin mencari bagian tiara yang hilang dalam perkelahian itu. Betapa kejamnya saya, telah mendakwanya macam-macam!"

"Ketika saya tiba di rumah Anda," lanjut Holmes, "saya langsung mengitari rumah Anda dengan saksama untuk mengamati jejak-jejak di halaman yang tertutup salju yang mungkin bisa menolong saya. Saya tahu malam itu salju tak turun lagi, dan saljunya sangat keras, sehingga kalau ada jejak kaki pasti akan terlihat dengan jelas. Saya lewat ke jalan yang biasa dilalui para pedagang, tapi sudah diinjak-injak banyak orang sehingga tak menunjukkan apa-apa. Tapi lebih jauh lagi, di ujung pintu dapur, terlihat bekas kaki seorang wanita yang telah berdiri di sana sambil mengobrol dengan seorang pria. Ada bekas bulat di satu sisi, yang menunjukkan bahwa pria itu berkaki palsu. Saya bahkan tahu bahwa pertemuan mereka sempat terganggu oleh sesuatu, karena wanita itu lalu berlari dengan tergesa-gesa ke arah pintu. Itu terlihat dari bekas jari kakinya yang menghunjam ke tanah dengan tajam, sedangkan bekas tumit kakinya tak begitu tajam. Setelah menunggu sejenak, si Kaki Palsu lalu pergi. Waktu itu saya langsung berpikir bahwa jejak itu mungkin milik pelayan wanita dan kekasihnya, seperti yang Anda katakan kepada saya, dan setelah saya tanyakan kepada yang bersangkutan, dia membenarkan hal itu. Saya lalu mengitari taman tanpa menemukan sesuatu pun yang berharga. Hanya ada jejak-jejak yang tak jelas, mungkin jejak polisi. Tapi ketika saya melewati jalan yang menuju ke kandang kuda, saya mendapatkan banyak sekali petunjuk.

"Ada jejak kaki pria memakai sepatu bot, dan jejak kaki telanjang. Saya langsung merasa yakin bahwa jejak kaki yang saya sebut belakangan itu adalah milik putra Anda. Jejak yang pertama ada dua arah. Yang kedua menunjukkan orang yang sedang berlari dengan cepat, dan beberapa langkahnya menumpuk pada jejak sepatu bot jadi tentunya pemilik jejak kedua itu berhasil mengejar pemilik jejak pertama. Saya lalu menelusuri jejak itu, dan tibalah saya di jendela ruang depan. Salju di situ rusak karena terlalu lama diinjak si Sepatu Bot sementara dia menunggu.

"Saya kemudian berjalan ke ujung lain yang berjarak sekitar seratus meter dari situ. Terlihat jejak si Sepatu Bot membalikkan badan, lalu salju di sekitar situ terpotong-potong, seperti telah terjadi perkelahian. Dan akhirnya, saya temukan juga beberapa tetes darah. Berarti dugaan saya benar. Si Sepatu Bot lalu melarikan diri melewati jalan itu, dan di sepanjang jejak itu terdapat beberapa ceceran darah lagi. Ini menunjukkan bahwa dialah yang telah terluka. Jejak tersebut saya telusuri sampai ke pinggir jalan raya, tapi karena trotoarnya sudah dibersihkan, berakhir sampai di situlah petunjuk yang saya dapatkan.

"Ketika masuk ke dalam rumah, saya mengamati pinggiran jendela ruang depan dengan kaca pembesar. Saya langsung tahu bahwa seseorang telah melompat ke luar dari situ. Dapat saya lihat bekas kura-kura kaki orang itu waktu dia masuk kembali. Saya mulai bisa menduga apa yang sebenarnya telah terjadi waktu itu.

"Seorang pria telah menunggu di luar jendela, lalu ada orang lain yang menyerahkan perhiasan itu kepadanya. Rupanya putra Anda melihat kejadian itu. Dia mengejar sang pencuri dan berkelahi dengannya, masing-masing berusaha merebut tiara. Paduan kekuatan mereka membuat tiara itu patah. Tenaga seorang saja takkan cukup untuk itu. Putra Anda akhirnya berhasil memperoleh perhiasan tersebut, tapi patahannya terbawa sang pencuri. Sejauh ini, begitulah penjelasannya. Yang masih menjadi pertanyaan ialah, siapa pria itu, dan siapa yang menyerahkan tiara kepadanya?

"Sejak dulu saya berpendapat, bahwa kalau salah satu dari dua hal ternyata tak mungkin terjadi, maka yang satunya lagi itulah yang benar, walaupun nampaknya mustahil. Nah, saya tahu bukan Anda yang membawa tiara itu ke bawah, jadi tinggal keponakan Anda atau para pelayan. Kalau pelayan, untuk apa anak Anda sampai rela membela mereka, sehingga dia sendiri yang dituduh? Ini tak mungkin. Tapi, bukankah dia sangat mencintai gadis saudara sepupunya itu? Maka jelaslah mengapa dia berusaha menutupi rahasianya—apalagi itu rahasia yang sangat memalukan. Ketika saya teringat bahwa Anda juga melihat Mary berdiri di jendela malam itu, dan bahwa dia pingsan ketika melihat tiara itu, dugaan saya langsung berubah menjadi keyakinan.

"Dan siapa yang bersekongkol dengannya? Jelas kekasihnya, karena siapa lagi yang bisa mengalahkan kasih dan kebaikan Anda terhadap dirinya selama ini? Saya tahu bahwa Anda tak banyak bergaul dengan orang lain, dan teman Anda sangatlah terbatas. Tapi salah satunya ialah Sir George Burnwell. Saya banyak mendengar tentang reputasinya yang jelek di antara wanita-wanita. Pasti dialah si pemakai sepatu bot itu, dan dia pulalah yang membawa lari permata yang hilang itu. Walaupun dia kepergok oleh Arthur, dia tetap tak merasa takut karena Arthur tak mungkin membuka mulut tanpa mencemarkan keluarganya sendiri.

"Well, Anda pasti bisa menduga apa yang saya lakukan berikutnya. Saya pura-pura jadi pengangguran dan pergi ke rumah Sir George. Saya berkenalan dengan pelayan prianya, dan mendapat berita bahwa majikannya mengalami kecelakaan semalam sehingga kepalanya terluka. Saya juga berhasil membeli sepatu bekas tuannya seharga enam shilling. Saya bawa sepatu itu ke Streatham dan ternyata cocok dengan jejak yang saya temukan."

"Saya memang melihat seseorang berpakaian jelek di jalanan samping rumah kemarin malam," kata Mr. Holder.

"Tepat sekali. Sayalah orangnya. Saya merasa sudah menemukan buruan saya, lalu saya pulang dan mengganti pakaian. Berikutnya, saya harus melakukan sesuatu yang cukup sulit, karena saya tahu masalah ini tak dapat kita bawa ke pengadilan demi menghindari kehebohan di masyarakat. Seorang penjahat ulung seperti dia juga pasti menyadari hal itu.

"Saya kemudian menemuinya. Pada awalnya, tentu saja dia tak mengaku. Tapi setelah saya ceritakan semuanya padanya, dia malah mencoba menggertak saya, dan menyambar senjatanya yang tergantung di dinding. Tapi saya sudah siap dengan pistol yang langsung saya bidikkan ke kepalanya, sebelum dia sempat melukai saya. Dia lalu bersedia diajak berunding. Saya katakan, saya akan membeli permata-permata itu—seribu pound sebutirnya. Baru saat itu dia kelihatan menyesal.

"'Sialan!' katanya. 'Ketiganya telah saya jual seharga enam ratus pound!'

"Saya berhasil mendapatkan alamat pembeli permata itu, setelah berjanji bahwa saya tak akan menuntutnya. Saya lalu berangkat lagi, dan setelah tawar-menawar yang cukup seru, saya berhasil membeli permata itu dengan harga seribu pound sebutirnya. Saya lalu mengunjungi putra Anda di tahanan, mengabarinya bahwa semuanya sudah beres, lalu barulah saya pulang kira-kira pukul dua malam. Wah, saya betul-betul kerja keras seharian!"

"Seharian yang telah menyelamatkan Inggris dari kehebohan besar," kata pemilik bank itu sambil berdiri. "Sir, tak ada kata-kata yang bisa mengungkapkan rasa terima kasih saya kepada Anda, tapi saya tak akan pernah melupakan jasa Anda. Percayalah! Anda benar-benar luar biasa. Kemampuan Anda jauh melebihi apa yang pernah saya dengar. Dan sekarang saya harus bergegas menemui putra saya tersayang untuk minta maaf atas kesalahan saya. Saya amat prihatin memikirkan nasib Mary. Bahkan Anda pun tak akan tahu di mana dia berada kini."

"Saya rasa kita bisa mengatakan," jawab Holmes, "bahwa dia kini tinggal bersama Sir George Burnwell. Apa pun dosa-dosanya, pasti akan ada hukuman yang pantas untuknya."