PADA suatu malam di musim panas, beberapa bulan setelah pernikahanku, aku duduk sendirian sambil merokok dan membaca sebuah novel setelah lelah berpraktek seharian. Istriku telah masuk ke kamar kami di lantai atas, dan suara pintu dikunci beberapa saat sebelumnya menunjukkan bahwa para pembantu kami juga sudah beristira hat. Aku sedang berdiri dan membuang abu rokok dari pipa, ketika tiba-tiba aku mendengar bel pintu berbunyi.

Kulirik jam dinding. Jam dua belas kurang seperempat. Tak mungkin tamu berkunjung pada jam selarut ini. Pasti pasien yang sedang gawat. Dengan wajah masam aku membuka pintu depan. Ternyata yang datang Sherlock Holmes. Aku terheran-heran jadinya.

"Ah, Watson," katanya. "Kuharap kunjunganku ini tak terlalu malam."

"Sobat, silakan masuk."

"Kau heran, kan? Tentu sajal Dan pasti lega juga! Hm! Kau masih mengisap tembakau Arcadia; terlihat dari abunya yang tercecer di bajumu. Tampak jelas bahwa kau ini mantan tentara, Watson. Tak mungkin kau tampil sebagai orang sipil, kalau kau selalu menaruh saputanganmu di lengan bajumu. Bisakah aku nginap di sini malam ini?"

"Dengan senang hati."

"Kau bilang rumahmu dilengkapi kamar tamu tunggal untuk seorang bujangan, dan rasanya tak ada tamu lain hari ini, kan? Gantungan topimu tak berisi topi lain."

"Aku senang kau mau menginap di sini."

"Terima kasih. Biar kucari gantungan topi lain yang kosong. Kau mempekerjakan tukang orang Inggris, ya. Payah pekerjaan mereka. Apa yang sedang kauperbaiki? Kuharap bukan saluran mampet."

"Bukan. Hanya perbaikan kompor gas."

"Ah! Dia telah meninggalkan bekas paku sepatunya di lantai. Tidak, terima kasih. Aku sudah makan malam di Waterloo. Tapi aku ingin merokok bersamamu."

Kuberikan kotak tembakau kepadanya, dan dia duduk di hadapanku sambil merokok. Sejenak kami terdiam. Aku tahu pasti ada urusan penting sekali, sehingga malam-malam begini dia mendatangi rumahku. Aku menunggu dengan sabar sampai dia sendirilah yang mulai menceritakan segalanya.

"Aku tahu kau agak sibuk dengan praktekmu saat ini," katanya sambil menatapku dengan tajam.

"Ya, hari ini aku sibuk sekali," jawabku. "Mungkin kau anggap aku bodoh," tambahku, "tapi bagaimana kau tahu akan hal itu?"

Holmes tergelak.

"Aku kan tahu kebiasaanmu sobatku Watson," katanya. "Kalau pasienmu dekat kau jalan kaki. Kalau jauh, kau naik kereta. Lihat, sepatumu bersih, berarti pasienmu banyak sehingga kau perlu naik kereta."

"Hebat!" teriakku.

"Ah, cuma hal mendasar saja, kok," katanya. "Ini salah satu contoh di mana seseorang bisa memberikan kesimpulan yang nampaknya hebat bagi orang lain, karena orang lain itu tak melihat satu hal kecil yang menjadi dasar kesimpulan itu. Demikian juga, sobat, karya karya tulismu yang bisa saja dianggap cuma menarik di permukaannya saja, karena tergantung dari kejelianmu mengolah masalah-masalah yang tak pernah diketahui oleh pembaca. Baiklah saat ini aku berada dalam kedudukan seperti pembaca itu. Di tanganku tergenggam benang-benang kusut sebuah kasus yang amat aneh, tapi aku belum berhasil mendapatkan satu dua hal kecil yang diperlukan untuk menyempurnakan teoriku. Tapi, nanti akan kucari, Watson, pasti kutemukan!" Matanya berkobar-kobar dan pipinya yang kurus memerah. Untuk sesaat, sikapnya yang biasanya keras dan serius lenyap. Tapi, hanya sesaat saja. Ketika aku menatapnya lagi, wajahnya telah berubah bak orang Indian merah lagi. Karena itulah, maka banyak orang yang menganggapnya mesin dan bukannya manusia.

"Masalah ini sangat menarik perhatian," katanya, "sangat unik, malah. Aku telah mengadakan penyelidikan, dan hampir mendapatkan kesimpulannya. Kalau kau mau menemaniku untuk langkah terakhir itu, jasamu takkan pemah kulupakan."

"Dengan senang hati."

"Besok pagi, bisakah kau pergi ke Aldershot?"

"Jackson pasti bisa menggantikan praktekku."

"Baik. Sebaiknya kita berangkat dengan kereta api jam 11.10 dari Waterloo."

"Ada cukup waktu untukku."

"Dan, kalau kau belum mengantuk, akan kuberikan gambaran tentang apa yang telah terjadi dan apa yang harus kita kerjakan."

"Tadi sebelum kau datang, aku sudah mengantuk. Tapi sekarang, sudah hilang rasa kantukku."

"Akan kuringkas ceritanya tanpa menghilangkan bagian-bagian yang penting. Mungkin kau sudah baca beritanya, malah. Tentang dugaan pembunuhan terhadap Kolonel Barclay, dari Kesatuan Royal Mallows, di Aldershot."

"Aku belum tahu apa-apa tentang itu."

"Memang tak begitu diperhatikan, kecuali hanya secara lokal. Kejadiannya dua hari yang lalu. Begini.

"Sebagaimana kau ketahui, Kesatuan Royal Mallows adalah salah satu resimen Irlandia yang paling terkenal dalam Ketentaraan Inggris. Kesatuan ini telah menunjukkan kehebatannya pada peristiwa Crimea dan Mutiny. Sejak itu kesatuan ini jadi amat terkenal. Sampai Senin malam yang lalu, kesatuan ini dipimpin oleh James Barclay, seorang veteran yang gagah berani, yang memulai kariernya dari bawah, dinaikkan pangkatnya karena jasa-nya dalam peristiwa Mutiny, sampai akhirnya menjadi kepala resimen itu.

"Ketika Kolonel Barclay masih berpangkat sersan, ia menikahi Miss Nancy Devoy, putri seorang sersan kulit berwarna dari kesatuan yang sama. Tidak heran kalau mereka menghadapi sedikit kesulitan dalam kehidupan sosial mereka. Tapi, tak lama kemudian nampaknya mereka dapat menyesuaikan diri. Mrs. Barclay sangat populer di antara wanita-wanita di resimen itu, seperti halnya suaminya di antara teman-teman prianya. Dia seorang wanita yang sangat cantik, dan bahkan sampai sekarang, setelah menikah selama tiga puluh tahun penampilannya masih mempesona.

"Keluarga Kolonel Barclay nampaknya amat bahagia. Mayor Murphy, yang mengisahkan semua ini, menjamin bahwa dia tak pernah mendengar adanya ketidakcocokan di antara mereka berdua. Menurutnya, Barclay lebih mencintai istrinya dibanding sebaliknya. Dia akan sangat gelisah kalau berpisah sehari saja dari istrinya. Sebaliknya, istrinya tak terlalu mencintamya walaupun cukup setia dan melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik. Tapi mereka dianggap pasangan separo baya yang pantas dijadikan teladan. Melihat hubungan di antara keduanya, tak seorang pun mengira akan terjadi tragedi berikut ini.

"Agaknya Kolonel Barclay memiliki sifat-sifat yang agak unik. Dia seorang tentara tua yang memikat dan periang tapi pada saat-saat tertentu sikapnya bisa berubah menjadi kejam dan jahat. Tapi sisi jelek sifatnya ini nampaknya tak pernah menimpa istrinya. Fakta lain yang mengejutkan Mayor Murphy dan juga tiga di antara lima perwira lain yang kuajak omong-omong ialah bahwa dia kadang-kadang mengalami depresi yang hebat sekali. Sebagaimana dituturkan oleh Mayor Murphy, seolah-olah ada sesuatu—sepertinya tangan yang tak kelihatan—yang tiba-tiba menghalau senyum dari wajahnya, padahal saat itu dia sedang bersenda gurau dan bercanda ria bersama teman-teman lainnya. Kalau lagi 'kumat', dia bisa murung selama berhari-hari. Hanya sikapnya ini dan rasa percayanya pada takhayul yang sering dianggap aneh oleh teman-temannya. Keanehannya yang berhubungan dengan takhayul itu seperti ini. Dia tidak berani ditinggal sendirian, apalagi pada malam hari. Banyak orang bertanya-tanya mengapa dia demikian, padahal dia sebenarnya orang yang sangat gagah berani.

"Batalion Royal Mallows yang pertama—dulu namanya Infanteri 117—telah beberapa tahun bermarkas di Aldershot. Perwira-perwira yang sudah menikah tinggal di luar barak, dan kolonel ini sendiri tinggal di sebuah vila bernama Lachine yang berjarak kira-kira setengah mil dari barak sebelah utara. Rumah itu punya halaman sendiri, tapi sebelah baratnya hanya berjarak tiga puluh meter dari jalan raya. Ada pengemudi kereta dan dua pelayan yang tinggal bersama Mr. dan Mrs. Barclay di Lachine. Keluarga ini tak dikaruniai anak, dan mereka jarang menerima tamu yang menginap.

"Nah, kini sampailah kita pada peristiwa yang terjadi di sana pada antara jam sembilan dan jam sepuluh malam hari Senin yang lalu.

"Nampaknya, Mrs. Barclay itu anggota Gereja Katolik Roma, dan aktif membantu berdirinya Yayasan Sosial St. George. Yayasan yang berada di bawah naungan Kapel Watt Street ini bertujuan mengumpulkan pakaian-pakaian bekas untuk orang-orang miskin. Pada jam delapan malam itu ada rapat yayasan sosial itu, dan Mrs. Barclay makan malam dengan bergegas karena hendak pergi menghadiri rapat itu. Ketika hendak berangkat pengemudi kereta mendengarnya berpamitan kepada suaminya sebagaimana layaknya, dan dia mengatakan bahwa dia tak akan lama. Dia lalu menjemput Miss Morrison, wanita muda yang tinggal di vila sebelahnya, dan keduanya lalu berangkat untuk menghadiri rapat itu. Rapatnya berlangsung selama empat puluh menit, dan pada jam sembilan lewat seperempat Mrs. Barclay pulang setelah mengantarkan Miss Morrison terlebih dahulu.

"Lachine memiliki sebuah kamar yang biasa dipakai untuk duduk-duduk sepanjang pagi. Kamar ini menghadap ke jalan raya dan ada pintu kaca besar yang bisa dilipat yang menuju ke halaman depan. Halaman yang berjarak kira-kira tiga puluh meter dari jalan itu hanya dipagari oleh tembok rendah dan jeruji besi di atasnya. Waktu sampai di rumah Mrs. Barclay langsung menuju kamar ini. Kerai jendelanya belum ditutup, karena kamar ini jarang dipakai pada malam hari. Mrs. Barclay menyalakan lampu dan membunyikan bel untuk memanggil Jane Stewart, pelayan rumah tangganya. Dia mau minta secangkir teh. Aneh, karena dia biasanya tak suka minum teh. Pak Kolonel yang sedang menunggu di ruang makan datang menemui istrinya di kamar depan itu. Pengemudi kereta melihat ketika dia berjalan menyeberangi ruang tengah menuju kamar depan. Itulah terakhir kalinya Pak Kolonel terlihat oleh seseorang dalam keadaan hidup.

"Teh yang diminta siap dalam sepuluh menit. Ketika pelayan itu tiba di dekat pintu kamar depan itu, dia mendengar pertengkaran sengit antara tuan dan nyonyanya. Dia mengetuk pintu, tapi tak ada jawaban. Lalu coba dibukanya pintu itu, tapi ternyata pintu itu dikunci dari dalam. Begitulah, dia lalu berlari untuk memberi tahu juru masak. Lalu keduanya ditemani oleh pengemudi kereta berlari menuju ruang tengah dan mendengarkan pertengkaran yang masih dengan sengitnya berlangsung. Mereka semua menyatakan bahwa mereka hanya mendengar dua suara, yaitu suara Barclay dan istrinya. Kata-kata Barclay tak begitu keras dan cuma sesekali, sehingga tak tertangkap oleh mereka. Sebaliknya, suara istrinya sangat lantang dan ketus, sehingga jelas terdengar oleh mereka. 'Kau pengecut!' dia mengulang berkali kali 'Bagaimana sekarang? Kembalikan kehidupanku yang lalu. Aku tak sudi tinggal bersamamu lagi! Kau pengecut! Kau pengecut!' Begitulah kata-kata akhir amarahnya yang lalu diikuti oleh teriakan suaminya yang mengerikan. Lalu terdengar suara berdentam, disusul oleh teriakan istrinya yang nyaring. Yakin telah terjadi sesuatu yang mengerikan, pengemudi kereta lalu mendobrak pintu masuk kamar itu, sementara teriakan wanita itu terus melengking dari dalam. Tapi, dia tak berhasil membuka pintu itu dengan paksa, dan para pelayan pun begitu ketakutannya sehingga mereka malah tak bisa berbuat apa-apa. Tapi, dia seolah ingat sesuatu, lalu berlari melewati pintu depan menuju ke halaman. Dari salah satu jendela panjang yang kebetulan terbuka dia langsung melompat masuk ke kamar itu. Nyonyanya sudah berhenti berteriak, dan tergeletak pingsan di sebuah dipan. Tuannya terbaring dengan kaki miring di samping sebuah kursi dan kepalanya tergeletak dekat perapian. Tentara yang malang itu sudah tak bernyawa lagi. Darah bersimbah di sekitar tubuhnya.

"Karena tak tahu harus berbuat apa, pengemudi kereta itu lalu berniat membuka pintu kamar itu. Anehnya—nah, disini letak keunikannya—kunci pintu itu tak ada di tempatnya. Dia mencoba mencarinya, tapi tak juga diketemukannya. Dia lalu berlari keluar dari kamar itu dengan melompat jendela lagi. Setelah memanggil polisi dan dokter, dia pun kembali ke rumah itu lagi. Wanita itu, yang tentu saja langsung dicurigai sebagai pembunuh suaminya, lalu dipindahkan ke kamar tidurnya, masih dalam keadaan pingsan. Mayat Pak Kolonel lalu dibaringkan di sofa, dan penyelidikan yang teliti pun segera dilakukan.

"Luka yang diderita veteran tentara yang malang itu diduga berasal dari pukulan benda tumpul ke bagian belakang kepalanya sepanjang lima sentimeter. Tak usah menduga-duga senjata apa itu, karena sebuah pemukul kayu yang berukir dengan pegangan terbuat dari tulang tergeletak di samping tubuh Pak Kolonel. Dia memang memiliki koleksi macam-macam senjata dari berbagai negara tempat dia pernah bertugas, dan polisi menduga pemukul yang mematikannya ini juga salah satu koleksinya. Para pelayan mengatakan bahwa mereka tak pernah melihat barang itu sebelumnya, tapi mungkin saja mereka tak begitu memperhatikannya di antara senjata-senjata lain yang banyak jumlahnya di rumah itu. Polisi tak menemukan hal lain yang penting di kamar itu, kecuali bahwa kunci yang hilang itu masih belum ditemukan walaupun Mrs. Barclay dan mayat suaminya telah digeledah dan seisi kamar telah diperiksa. Seorang tukang kunci dari Aldershot didatangkan untuk membuka pintu itu.

"Begitulah keadaannya, Watson, ketika Selasa pagi aku pergi ke tempat musibah itu atas undangan Mayor Murphy untuk membantu penyelidikan yang dilakukan oleh polisi. Aku yakin kau pun akan menganggap kasus ini sangat menarik. Dari pengamatanku, aku sadar bahwa kasus ini lebih rumit dari apa yang langsung bisa terlihat.

"Sebelum melakukan pengamatan, aku menanyai para pelayan dulu. Hanya sedikit yang mereka tahu seperti yang telah kusebutkan tadi. Ada tambahan satu detail penting yang disampaikan oleh Jane Stewart. Kau masih ingat, ketika mendengar suara pertengkaran itu, dia lalu turun untuk memanggil pelayan satunya. Ketika dia masih sendirian itu, dia mengatakan bahwa suara tuan dan nyonyanya begitu pelannya sehingga dia hampir-hampir tak mendengar apa-apa. Ia tahu bahwa mereka sedang bertengkar, bukan dari kata-kata yang terucap melainkan dari nada suara mereka. Ketika kudesak, akhirnya dia ingat bahwa dia mendengar kata 'David' diucapkan dua kali oleh nyonya rumahnya. Hal ini penting sekali karena mungkin inilah penyebab pertengkaran yang tiba-tiba itu. Nama depan kolonel itu, kau masih ingat, bukan David tetapi James.

"Ada satu hal lagi yang sangat mengesankan baik para pelayan ataupun polisi, yaitu ekspresi wajah Pak Kolonel. Menurut mereka, wajah itu memancarkan ketakutan dan kengerian yang luar biasa. Dengan melihat ekspresi wajah yang telah jadi mayat itu saja, seseorang mungkin bisa jatuh pingsan. Jelas dia sempat menyadari bahwa ada bahaya yang mengancam dirinya, dan inilah yang menyebabkan ketakutannya yang luar biasa. Ini sesuai dengan teori yang diajukan oleh polisi bahwa mungkin saja Pak Kolonel melihat dengan jelas bahwa istrinya berusaha menyerang untuk membunuhnya. Bahwa yang terluka ternyata bagian belakang kepalanya, oleh para polisi itu di anggap bisa dijelaskan dengan alasan mungkin saja waktu itu dia membalikkan badan untuk menghindari pukulan itu. Wanita itu masih belum bisa memberikan keterangan. Dia masih terbaring lemah dan tak ingat apa-apa lagi karena menderita radang otak.

"Miss Morrison, yang malam itu bepergian dengan Mrs. Barclay, mengatakan kepada polisi bahwa dia tak tahu mengapa tetangga itu pulang dalam keadaan jengkel.

"Setelah mendapatkan fakta-fakta ini, Watson, aku mengbabiskan beberapa cangklong tembakau dalam upaya memilah-milah mana fakta yang memang amat diperlukan dan mana yang cuma kebetulan saja. Tak dapat diragukan lagi bahwa yang paling aneh dari semuanya ialah hilangnya kunci kamar itu secara misterius, walaupun telah dicari ke seluruh penjuru kamar itu. Pak Kolonel maupun istrinya tak membawanya, jadi kunci itu pasti telah diambil oleh seseorang. Dengan demikian jelaslah bahwa pada saat terjadinya peristiwa itu ada orang ketiga di dalam kamar itu. Dan orang ketiga ini pasti masuk lewat jendela. Aku lalu mengamati kamar dan halaman dengan cermat untuk mencari jejak tamu misterius itu. Kau kan sudah tahu bagaimana cara kerjaku Watson. Semua metode yang kuketahui, kuterapkan dalam pengamatanku. Akhirnya aku menemukan jejak, namun jejak yang amat berbeda dari apa yang kuduga sebelumnya. Ada seorang pria lain di kamar itu, yang masuk ke situ setelah menyeberangi halaman dari arah jalan raya. Aku berhasil memperoleh lima jejak kakinya yang amat jelas—salah satunya di jalan raya itu—ketika dia hendak memanjat dinding pagar yang rendah itu, dua lainnya di halaman, dan dua lagi yang tak begitu jelas di papan dekat jendela yang dimasuknya itu. Dia lari ketika menyeberangi halaman itu, karena jejak bagian depan sepatunya lebih dalam dari bagian tumitnya. Tapi bukan orang itu yang mengejutkanku. .Tapi temannya."

"Temannya!"

Holmes mengambil selembar kertas tisu yang lebar dari sakunya dan dengan saksama membeberkannya di atas lututnya.

"Bagaimana pendapatmu?" tanyanya.

Kertas itu penuh dengan jejak-jejak kaki dari seekor binatang kecil. Ada lima bekas jejak kaki yang kukunya panjang-panjang dan ukurannya kira-kira sebesar sendok makanan kecil.

"Anjing?" kataku.

"Pernah dengar ada anjing bisa melompat setinggi kain gorden? Jejaknya menyatakan hal itu."

"Kera, kalau begitu?"

"Jejaknya bukan jejak kaki kera."

"Lalu apa, kalau begitu?"

"Bukan anjing, kucing, maupun kera, atau binatang yang umum kita kenal. Aku telah mencoba merekonstruksinya dari ukuran jejak-jejaknya. Nih, empat jejak binatang itu ketika sedang berdiri dengan diam. Jarak kaki depan dan kaki belakangnya lebih dari tiga puluh sentimeter. Kalau ditambah dengan panjang leher dan kepalanya, maka binatang itu pasti panjangnya lebih dari enam puluh sentimeter—belum lagi dihitung ekornya. Tapi, coba perhatikan jejak yang lain ini. Binatang itu bergerak-gerak, dan kita mendapatkan panjang langkahnya. Rata-rata sekitar tujuh sentimeter. Jadi, kita mendapatkan petunjuk bahwa binatang itu bertubuh panjang dan berkaki pendek. Sayang tak ditemukan ceceran bulunya. Tapi bentuk badannya pasti seperti yang telah kusimpulkan, bisa lari memanjat gorden, dan dari jenis binatang. pemakan daging."

"Dari mana kaudapat kesimpulan itu?"

"Karena dia lari ke atas dengan cara memanjat gorden. Ada sangkar burung kenari di dekat jendela itu, dan nampaknya dia mau menangkap burung itu."

"Jadinya, binatang apa itu?"

"Ah, kalau saja aku tahu dengan pasti, akan sangat menolong penyelesaian kasus ini. Mungkin sebangsa musang—tapi lebih besar."

"Tapi apa hubungan binatang itu dengan pembunuhan yang terjadi?"

"Itu pun masih belum jelas. Tapi cukup banyak yang sudah kita ketahui. Kita tahu bahwa ada seseorang yang sedang berdiri di jalan raya dan menyaksikan pertengkaran antara Mr. Barclay dan istrinya, karena kerai jendela terbuka dan lampu kamar itu menyala. Kita juga tahu bahwa dia lalu lari menyeberangi halaman rumah, masuk ke kamar depan dengan ditemani binatang yang aneh itu, dan dia lalu memukul Pak Kolonel atau mungkin juga Pak Kolonel langsung jatuh pingsan karena ketakutan melihatnya dan kepalanya membentur pinggiran perapian. Akhirnya, orang itu melarikan diri setelah mengambil kunci pintu."

"Penemuan-penemuanmu membuat kasus ini jadi lebih buram dari sebelumnya," kataku.

"Memang. Ternyata kasus ini lebih dalam dari kelihatannya. Aku sudah memikirkan tentang kasus ini, dan kesimpulanku ialah aku harus mendekati kasus ini dari segi yang lain. Tapi terus terang, Watson, aku telah mengganggu jam tidurmu. Sebaiknya lanjutan kisah ini kuceritakan besok pagi saja dalam perjalanan kita ke Aldershot."

"Terima kasih. Tanggung kalau dipenggal ceritanya."

"Jelas ketika Mrs. Barclay meninggalkan rumah pada jam setengah delapan, dia dan suaminya tidak dalam keadaan sedang bertengkar. Kukira aku tadi sudah mengatakan bahwa dia memang tak terlalu mencintai suaminya, tapi pengemudi kereta mendengarnya sempat bergurau dengan suaminya ketika berpamitan. Dan cukup jelas juga bahwa dia langsung masuk ke kamar itu setibanya di rumah dari rapat. Jadi dia belum sempat bertemu dengan suaminya. Lalu dia minta teh, sebagaimana biasa dilakukan oleh seorang wanita yang sedang gelisah, dan ketika suaminya datang menghampirinya, dia langsung memaki-maki. Maka, tentunya telah terjadi sesuatu antara jam setengah delapan dan jam sembilan yang telah menjadikannya marah sekali terhadap suaminya. Dan Miss Morrison bersamanya selama satu setengah jam itu. Jadi dia pasti tahu sesuatu yang berhubungan dengan pertengkaran itu, walaupun dia tadi menyangkalnya.

"Dugaan pertamaku ialah mungkin ada apa-apa antara wanita muda ini dan tentara tua itu. Lalu wanita muda itu mengakui hubungan antara keduanya kepada istri tentara itu. Itu mungkin penjelasan yang ada tentang mengapa istri tentara itu pulang dalam keadaan marah dan mengapa wanita itu menyangkal dengan mengatakan bahwa dia tak tahu apa-apa. Dugaan ini cocok juga dengan makian yang dilontarkan sang istri. Tapi jangan lupa bahwa ada disebut nama David, dan Pak Kolonel nampaknya amat mencintai istrinya sehingga rasanya tak mungkin main gila. Bagaimana pula dengan kehadiran orang ketiga itu? Tak mudah memutuskan aku harus mulai dari mana, tapi secara keseluruhan aku yakin bahwa tak ada hubungan apa-apa antara Pak Kolonel dan Miss Morrison. Aku juga yakin bahwa wanita muda itu pasti tahu apa yang menyebabkan Mrs. Barclay jadi sangat membenci suaminya. Aku lalu menemui Miss Morrison dan meyakinkannya bahwa tak ada gunanya berpura-pura tak tahu apa-apa, karena Mrs. Barclay bisa saja dituduh membunuh suaminya, kecuali semuanya jelas duduk perkaranya.

"Miss Morrison itu orang yang kecil dan kerempeng. Matanya malu-malu, dan rambutnya pirang. Tapi ternyata dia itu gadis yang pandai dan bijaksana. Dia duduk sambil berpikir selama beberapa saat setelah aku mengutarakan pendapatku itu, lalu dia menoleh padaku dengan mantap dan mulai memberikan penjelasannya yang sebaiknya kusingkat saja demi kebaikanmu.

"'Saya sudah berjanji pada teman saya itu untuk tak mengatakan hal ini pada siapa pun, dan janji harus dipegang,' katanya. 'Tapi kalau dengan begitu saya bisa menolongnya supaya dia tak dituduh macam-macam, dan karena saat ini dia tak bisa dimintai keterangan apa-apa karena sakitnya itu— kasihan benar dia—maka saya terpaksa melanggar janji saya dan menceritakan pada Anda apa yang sebenarnya terjadi pada Senin malam yang lalu.

"'Kami pulang dari rapat di Watt Street kira-kira jam sembilan kurang seperempat. Dalam perjalanan itu, kami harus lewat Hudson Street yang amat sepi itu. Hanya ada satu lampu yang menyala di pinggir jalan sebelah kiri, dan ketika kami mendekati lampu itu, saya melihat seorang pria bungkuk mendekati kami. Dia mengangkat semacam kotak di salah satu bahunya. Cacatnya nampaknya sedemikian parahnya sehingga ketika berjalan pun dia harus menundukkan kepalanya, dan kedua lututnya dibengkokkan. Ketika kami melewatinya, dia kebetulan mengangkat mukanya dan memandang kepada kami dalam cahaya lampu di pinggir jalan itu. Dan ketika itulah, dia terpaku dan berteriak dengan suara yang mengerikan, "Ya Tuhan, Nancy!" Mrs. Barclay menjadi sangat pucat, dan hampir saja terjatuh kalau tidak ditahan oleh manusia yang mengerikan penampilannya itu. Saya hendak memanggil polisi, tapi anehnya teman saya ini malah menyapa orang itu dengan sopan.

"'"Kukira kau sudah mati tiga puluh tahun yang lalu, Henry," katanya dengan suara gemetar.

"'"Memang," kata pria itu dengan nada suara yang amat pahit. Wajahnya sangat gelap dan menakutkan. Dan kilatan matanya sampai sekarang sering menghantui mimpi-mimpi saya. Rambut dan jenggotnya berwarna abu-abu, dan mukanya dipenuhi kerut-kerut sehingga nampak bagaikan buah apel yang telah layu.

"'"Silakan jalan duluan, dear" kata Mrs. Barclay pada saya. "Saya perlu bicara sebentar dengannya. Tak usah takut." Dia memberanikan diri waktu mengatakan itu dengan wajah yang masih amat pucat, sehingga kata-katanya itu hampir-hampir tak terucap dari bibirnya.

"'Saya menuruti permintaannya, dan mereka bercakap-cakap selama beberapa menit. Lalu, dia menyusul saya dengan mata yang menyala-nyala karena amarah, dan saya juga sempat melihat si bungkuk itu berdiri di dekat tiang lampu sambil mengepalkan tinju ke udara, seolah-olah dia sedang marah sekali. Dia tak mengatakan sepatah kata pun sampai kami tiba di pintu rumah saya. Di situlah dia memegang tangan saya dan memohon agar saya tak mengatakan kepada siapa pun tentang apa yang telah terjadi. "Dia tadi teman lama saya yang bernasib malang," katanya. Saya lalu berjanji kepadanya, dan dia memeluk saya. Itulah terakhir kalinya saya berjumpa dengannya. Nah, saya sudah menceritakan semuanya, dan kalau sebelum ini saya tak bersedia bercerita pada polisi, itu semata-mata karena saya sungguh tak menduga bahwa teman saya berada dalam bahaya besar. Hanya demi kebaikannyalah saya mau menceritakan semua ini.'

"Itulah penjelasan yang bisa diberikannya, Watson, dan bagiku, itu bagaikan sinar di malam yang gelap. Semua yang saling tak berhubungan sebelumnya langsung jadi agak jelas duduk perkaranya, dan secara samar-samar aku punya firasat tentang jalinan kejadian yang sesungguhnya. Langkahku berikutnya ialah mencari pria yang telah begitu mempengaruhi Mrs. Barclay itu. Kalau dia masih berada di Aldershot, tak susah mendapatkannya. Penduduk kota ini tak begitu banyak, dan orang yang bungkuk pastilah menarik perhatian orang. Seharian penuh aku mencarinya, dan malamnya—malam tadi, Watson—aku berhasil mendapatkan alamatnya. Nama orang itu Henry Wood, dan dia tinggal di sebuah rumah sewaan di jalan tempat dia bertemu kedua wanita itu. Dia baru lima hari tinggal di situ, dan setelah menyamar sebagai agen registrasi pemerintah, aku berhasil mengorek keterangan dari wanita pemilik rumah sewaan itu. Pekerjaan pria bungkuk itu adalah tukang sulap yang suka manggung di kedai-kedai minum setelah larut malam. Dia selalu membawa seekor binatang yang aneh di dalam sebuah kotak. Belum pernah wanita itu melihat binatang seperti itu. Menurut wanita itu, dia mempergunakannya dalam beberapa adegan pertunjukannya. Hanya itu yang bisa diungkapkan oleh wanita pemilik rumah sewa itu. Tapi memang aneh, orang seperti dia bisa bertahan hidup. Dia amat bungkuk, dan bahasanya kadang-kadang aneh sekali. Dua malam terakhir ini wanita itu mendengarnya merintih dan terisak isak di kamar tidurnya. Urusan keuangannya selalu beres, tapi di antara uang muka yang diberikannya kepada pemilik rumah terdapat semacam koin perak yang sudah jelek. Wanita itu memmjukkannya padaku, Watson, dan ternyata itu mata uang India.

"Nah, sekarang, teman, kau sudah tahu kedudukan kita dan untuk apa aku membutuhkanmu. Jelas ketika kedua wanita itu berpisah dari si bungkuk ini, dia mengikuti mereka dari kejauhan, dan dia sempat melihat pertengkaran antara suami-istri itu dari jendela, lalu dia masuk ke kamar itu, dan binatang yang dibawanya terlepas dari kotaknya. Semuanya cukup jelas sekarang. Tapi, hanya dialah yang bisa menceritakan pada kita apa yang sebenarnya telah terjadi di kamar itu."

"Dan kau hendak menanyakan ini kepadanya?"

"Tentu... tapi di hadapan seorang saksi."

"Dan akulah yang mau kaujadikan saksi?"

"Kalau kau tak keberatan. Kalau dia bisa menjelaskan semua itu, baik. Tapi kalau dia menolak melakukannya, terpaksa kita harus minta surat perintah."

"Tapi, apakah kau yakin dia masih ada di sana kalau kita menemuinya besok?"

"Tak usah khawatir. Sudah kuatur. Kuminta salah satu anak Baker Street untuk menjaganya agar jangan sampai dia melarikan diri. Dan aku yakin dia akan menjalankan tugasnya dengan baik. Kita akan menemuinya di Hudson Street besok pagi, Watson, dan sementara itu, aku akan jadi penjahat juga kalau tak mengizinkan kau secepatnya beristirahat."

Keesokan siangnya kami pergi ke tempat terjadinya tragedi itu, lalu langsung ke Hudson Street Walaupun Holmes bisa menyembunyikan perasaannya, aku bisa merasakan dengan jelas bahwa dia sangat penasaran. Sedangkan aku terombang-ambing antara rasa gembira karena mendapat kesempatan ikut serta di satu pihak, dan karena merasa diriku tak cukup pandai dalam hal-hal seperti ini di lain pihak. Perasaan semacam ini selalu kurasakan setiap kali ikut serta dalam penyelidikan yang dilakukan oleh Holmes.

"Di jalan ini," katanya ketika dia membelok ke sebuah jalan yang pendek yang kedua sisinya dipenuhi dengan rumah-rumah bata berlantai dua yang sederhana. "Ah, itu Simpson yang akan melapor pada kita."

"Dia masih tetap ada di dalam, Mr. Holmes," teriak seorang anak Arab jalanan sambil berlari ke arah kami.

"Bagus, Simpson!" kata Holmes sambil mengusap-usap rambut anak itu. "Mari, Watson. Ini tempat tinggalnya." Dia menunjukkan kartu namanya dengan pesan bahwa dia datang untuk urusan yang amat penting. Beberapa saat kemudian, kami sudah berhadapan dengan orang yang ingin kami temui. Walaupun cuaca di luar hangat, dia teronggok di depan perapian dan kamarnya yang sempit itu bagaikan oven yang menyala. Si bungkuk itu meringkuk begitu rupa di kursinya, sehingga cacat tubuhnya sangat kentara. Wajahnya lusuh dan gelap, namun masih tersisa garis-garis ketampanannya di masa lalu. Dia memandang kami dengan curiga dengan matanya yang kekuningan bak orang sakit lever, dan tanpa beranjak dari duduknya atau berkata sepatah pun, dia menunjuk ke arah dua buah kursi.

"Mr. Henry Wood yang dulu pernah di India, kan?" tanya Sherlock Holmes dengan ramah. "Saya kemari sehubungan dengan kematian Kolonel Barclay."

"Tahu apa saya tentang hal itu?"

"Itulah yang ingin kami ketahui. Anda tahu kan, kalau masalah ini tak dijelaskan dengan tuntas, Mrs. Barclay, teman lama Anda itu, mungkin akan dituduh telah membunuh suaminya?"

Orang itu terkejut.

"Saya tak kenal Anda," teriaknya, "saya juga tak tahu dari mana Anda bisa tahu tentang semua ini, tapi benarkah apa yang Anda katakan itu?"

"Lho, mereka hanya tinggal menunggu sampai Mrs. Barclay sembuh ingatannya, lalu mereka akan menangkapnya."

"Ya Tuhan! Apakah Anda seorang polisi juga?"

"Bukan."

"Kalau begitu apa urusan Anda dengan kasus ini?"

"Usaha menegakkan keadilan adalah urusan semua orang."

"Percayalah pada saya, wanita itu tak bersalah."

"Jadi, Andakah yang bersalah?"

"Tidak."

"Lalu, siapakah pembunuh Kolonel James Barclay?"

"Keadilan Tuhan sendirilah yang telah membunuhnya. Tapi coba perhatikan, kalau saja sayalah yang membunuhnya, sebagaimana yang selalu memenuhi pikiran saya, itu pun rasanya pantas untuknya. Seandainya saja rasa bersalahnya tak menghukumnya, mungkin sayalah yang akan melakukannya. Anda ingin saya menceritakan kisah ini? Yah, sebaiknya saya ceritakan saja, karena kisah ini tak memalukan bagi saya.

"Begini kisahnya, sir. Anda lihat saya sekarang, dengan punggung bungkuk seperti unta dan tulang rusuk yang ringsek. Tapi dulu, yang namanya Kopral Henry Wood adalah orang paling tampan dalam Pasukan Infanteri 117. Waktu itu kami terlibat pertempuran di daerah Bhurtee, di India.

Barclay yang meninggal kemarin itu, berpangkat sersan di resimen yang sama dengan saya. Dan wah, gadis tercantik di lingkungan kami pada waktu itu adalah Nancy Devoy, putri seorang sersan kulit berwarna. Ada dua pria yang sgma-sama mencintainya, dan Anda akan tersenyum kalau saya katakan bahwa salah satunya ialah makhluk malang yang sedang meringkuk di depan perapian ini. Anda juga pasti akan tersenyum lagi kalau saya katakan bahwa dia mencintai saya justru karena ketampanan saya.

"Yah, walaupun dia mencintai saya, ayahnya lebih memilih Barclay sebagai suaminya. Saya hanyalah seorang pemuda ugal-ugalan yang nekat, sedang Barclay adalah seorang pemuda terpelajar dan sudah terkenal. Tapi gadis itu tetap menginginkan saya, dan nampaknya hampir saja saya menikah dengannya. Tapi lalu terjadi Mutiny, dan negeri itu keadaannya bagai neraka

"Resimen kami terperangkap di Bhurtee, dengan perlengkapan artileri yang tinggal separo, beberapa orang Sikh, serta banyak orang sipil dan wanita. Ada sekitar sepuluh ribu pemberontak di sekeliling kami, dan perlakuan mereka bagaikan anjing terier yang mengepung sangkar kucing. Pada minggu kedua setelah pecahnya pemberontakan itu, kami kehabisan air, dan kami berusaha agar bisa menghubungi pasukan Jenderal Neill yang sedang bergerak menumpas pemberontakan di negeri itu. Itulah satu-satunya kesempatan kami, karena percuma saja kalau kami keluar melawan para pemberontak dengan begitu banyak wanita dan anak-anak. Saya lalu menawarkan diri secara sukarela untuk pergi dan memberitahu Jenderal Neill tentang keadaan kami yang sangat genting. Tawaran saya diterima, dan saya membicarakan kepergian saya dengan Sersan Barclay yang dianggap paling tahu mengenai daerah-daerah di situ. Dia menggambar rute perjalanan yang akan saya tempuh supaya saya jangan sampai mendekati daerah para pemberontak. Pada jam sepuluh malam itu juga saya berangkat. Ada seribu nyawa yang harus diselamatkan, tapi malam itu yang terlintas dalam benak saya hanyalah seorang saja.

"Jalan yang saya tempuh menuruni sungai yang telah kering, dengan harapan agar saya tak terlihat oleh pihak musuh. Tapi ketika saya membelok di ujung sungai itu, saya tertangkap oleh enam serdadu musuh yang sudah menunggu saya dari balik kegelapan. Kepala saya langsung dipukul, lalu tangan dan kaki saya diikal. Tapi sebenarnya, yang amat terpukul bukanlah kepala saya, tapi hati saya. Ketika saya sadarkan diri, saya sempat mendengar percakapan mereka tentang pengkhianatan rekan saya. Ternyata dia telah mengatur sedemikian rupa supaya saya dapat tertangkap oleh musuh dalam rute perjalanan ini.

"Yah, bagian ini tak perlu saya perpanjang lagi. Anda tahu sekarang bagaimana sebenarnya moral orang yang bernama Barclay itu. Keesokan harinya Bhurtee dibebaskan dari para pemberontak oleh Jenderal Neill, tapi para pemberontak yang menangkap saya membawa saya ke tempat pelarian mereka, dan saya tinggal bersama mereka selama bertahun-tahun. Saya disiksa, lalu saya mencoba melarikan diri. Tapi saya tertangkap, dan malah disiksa lagi sampai jadi beginilah rupa saya. Saya lalu dibawa bersama para pemberontak yang melarikan diri ke Nepal, dan lalu sampai melewati Darjeeling. Orang-orang di bukit itu berhasil membunuh para pemberontak yang menawan saya, dan saya lalu jadi budak mereka selama beberapa saat sampai saya akhirnya berhasil melarikan diri. Saya menuju utara, karena tak mungkin ke selatan, dan saya lalu sampai ke Afganistan. Selama beberapa tahun saya berkelana di sana, lalu kembali lagi ke Punjab, di mana saya hidup dari memperagakan keahlian yang berhasil saya pelajari. Saya tak ingin kembali ke Inggris dan berjumpa dengan kawan-kawan saya dalam keadaan cacat begin. Untuk apa? Bahkan hasrat saya untuk membalas dendam tak cukup kuat untuk memaksa saya kembali ke Inggris. Lebih baik Nancy dan teman-teman lama saya mengira bahwa Henry Wood telah mati dengan gagah berani, daripada mereka harus melihatnya hidup dan merangkak dengan tongkat seperti seekor simpanse. Mereka yakin saya sudah mati, dan saya senang dianggap begitu. Saya mendengar bahwa Barclay akhirnya menikahi Nancy, dan bahwa kariernya di resimen itu naik dengan cepatnya, tapi itu pun tak mengganggu pikiran saya.

"Tapi, kalau orang berangsur menjadi tua, dia pasti merindukan kampung halamannya. Selama bertahun-tahun saya selalu memimpikan ladang-ladang dan pagar-pagar rumah yang menghijau di Inggris. Akhirnya saya bertekad untuk melihat kampung halaman saya sekali lagi sebelum saya mati. Saya menabung sampai cukup uang untuk pulang, lalu mengunjungi perkampungan tentara ini. Saya tahu kebiasaan-kebiasaan tentara, dan hiburan macam apa yang disukai mereka, jadi saya hidup dari memperagakan keahlian khusus saya kepada mereka itu."

"Kisah Anda menarik sekali," kata Sherlock Holmes. "Saya sudah mendengar tentang pertemuan Anda dengan Mrs. Barclay, dan bahwa Anda berdua masih saling mengenal. Lalu, Anda mengikutinya sampai ke rumah dan melihat pertengkaran antara dia dan suaminya dari jendela. Dia sangat marah dan menyesalkan tindakan suaminya yang memalukan terhadap Anda. Anda lalu terbawa oleh perasaan Anda, sehingga Anda berlari menyeberangi halaman rumah itu, dan masuk ke kamar tempat mereka bertengkar melalui jendela."

"Benar, sir, dan ketika dia melihat diri saya, dia begitu tersentaknya, bagaikan disambar halilintar di siang hari bolong. Baru kali itu saya melihat orang yang terkejut sampai sedemikian rupa. Dia langsung terjatuh, dan kepalanya membentur pinggiran perapian. Tapi saya yakin dia sudah mati sebelum terjatuh. Saya yakin akan hal itu setelah melihat ekspresi wajahnya. Begitu melihat saya jantungnya bagaikan kena tembak langsung oleh rasa bersalahnya yang selama ini memburu hati nuraninya."

"Lalu?"

"Lalu Nancy jatuh pingsan, dan saya mengambil kunci pintu yang digenggamnya, dengan tujuan hendak membuka pintu itu untuk mencari pertolongan. Tapi, saya lalu berpikir bahwa sebaiknya saya kabur saja karena saya dalam posisi yang amat tidak menguntungkan, dan rahasia saya akan terbuka kalau saya sampai ditahan. Karena terburu-buru, saya langsung masukkan saja kunci itu ke kantong baju saya, sedangkan tongkat saya tertinggal ketika saya sedang memburu Teddy yang lari naik ke atas lewat gorden. Begitu tertangkap, langsung saya masukkan dia ke kotaknya. Ternyata dia tadi terlepas begitu saja tanpa sepengetahuan saya. Lalu saya kabur secepat mungkin."

"Siapa Teddy?" tanya Holmes.

Orang itu menyandar ke samping lalu menjangkau sebuah kotak di sudut kamar. Dibukanya tutupnya, dan dari kotak itu keluarlah seekor binatang berwarna coklat kemerahan yang lucu, ramping, dan lembut. Kakinya seperti kaki serigala, hidungnya panjang dan kurus, serta matanya merah—indah sekali.

"Musang!" leriakku.

"Yah, ada yang menyebutnya begitu, dan ada juga yang menyebutnya cerpelai," kata orang itu. "Saya menamainya Penangkap Ular, karena Teddy amat cekatan menangkap ular kobra. Saya punya seekor kobra di sini, tapi gigi taringnya sudah dicopot. Teddy menunjukkan kebolehannya menangkap kobra itu tiap malam untuk menghibur para tamu di kantin. Ada yang ingin ditanyakan lagi, sir?"

"Yah, kami mungkin akan membutuhkan Anda lagi kalau Mrs. Barclay mengalami kesulitan."

"Kalau itu terjadi, saya pasti akan bersedia membantu."

"Kalau tidak, tak ada gunanya mengorek skandal ini ke permukaan. Walaupun dia pernah bertindak curang, toh sekarang dia sudah mati. Paling tidak, Anda boleh merasa puas karena selama tiga puluh tahun hidupnya dia telah diburu-buru oleh rasa bersalahnya. Ah, itu Mayor Murphy lewat di seberang jalan. Selamat tinggal, Wood, saya ingin menanyakan padanya kalau-kalau ada perkembangan baru sejak kemarin."

Kami berhasil mengejar Pak Mayor sebelum dia menghilang di tikungan jalan.

"Ah, Holmes," katanya, "saya rasa Anda sudah dengar bahwa segala kerepotan kita ini tak ada gunanya sama sekali?"

"Ada apa?"

"Pemeriksaan penyebab kematian Mr. Barclay baru saja selesai. Bukti medis menunjukkan dengan jelas bahwa kematiannya disebabkan oleh apopleksi. Nah, kok cuma begitu akhirnya."

"Iya, ya. Kok, cuma begitu," kata Holmes dengan tersenyum. "Mari, Watson, kurasa kita tak diperlukan lagi di Aldershot.

"Ada satu hal," kataku ketika kami berjalan ke stasiun kereta api, "kalau nama suaminya James, dan nama pria itu Henry, lalu siapa yang dimaksudkan wanita itu ketika dia menyebut nama David?"

"Nama itu, sobatku Watson, seharusnya mengingatkanku tentang sebuah cerita, kalau saja aku lebih peka, seperti yang sering kaulukiskan dalam tulisanmu. Jelas sekali bahwa nama itu dipakai untuk menghina suaminya."

"Menghina?"

"Ya, kau tahu, kan? David beberapa kali berbuat dosa kepada Tuhan. Dan salah satu perbuatan dosanya mirip dengan yang dilakukan Sersan James Barclay. Masih ingat, kan? Kisah Uria dan Betseba. Sayang, pengetahuan Alkitab-ku agak karatan. Tapi silakan membaca kisah itu di Kitab Samuel I atau Samuel II dari Perjanjian Lama."