SALAH satu keunikan sifat temanku Sherlock Holmes yang sering mencengangkan diriku adalah kenyataan bahwa walaupun cara berpikir dan berpakaiannya sangat rapi dan serba teratur, dia mempunyai kebiasaan kebiasaan yang kacau balau yang sangat mengganggu orang yang tinggal serumah dengannya. Itu tak berarti bahwa aku sangat kaku dalam hal-hal seperti itu. Kesukaanku akan gaya hidup Bohemia yang serba seenaknya, ditambah dengan pengalamanku di Afganistan dulu, membuatku jadi tak begitu ketat berdisiplin sebagaimana layaknya seorang dokter. Tapi itu pun ada batasnya. Aku benar-benar merasa jauh lebih baik kalau dibandingkan dengan seseorang yang menyimpan cerutunya di ember arang, tembakaunya di ujung sandal Persia-nya yang melengkung, dan yang sampai tak sempat membalas surat-surat karena surat-surat itu diselipkannya di lipatan gantungan di atas perapian. Aku juga pernah latihan menembak, dan biasanya dilakukan di tempat terbuka, tapi Holmes aneh sekali dalam hal ini. Kalau lagi "kumat" dia duduk di kursi malas sambil tangannya mengacungkan pistol mininya ke dinding di depannya. Lalu dia mulai memuntahkan peluru, dan terbentuklah tulisan V.R. di tembok itu. Menurutku, itu bukan hal yang baik untuk dilakukan.

Kamar-kamar kami selalu penuh zat-zat kimia dan guntingan-guntingan berita kejahatan yang berhamburan di semua tempat. Bisa saja ditemukan di atas kaleng mentega, atau bahkan di tempat-tempat yang tidak lazim lainnya. Tapi yang paling membuatku jengkel ialah berkas-berkas laporannya. Dia tak berani menghancurkan dokumen-dokumennya, khususnya yang berhubungan dengan kasus-kasus yang ditanganinya di masa lalu. Namun dia tak suka mengurus dokumen dokumennya itu. Hanya setahun atau dua tahun sekali dia mengemasi kertas-kertas catatannya itu. Seperti pernah kukatakan dia itu menggebu-gebu kalau sedang menangani suatu kasus, tapi setelah itu dia berubah jadi manusia pemalas yang kerjanya cuma berbaring santai ditemani biola dan buku, hampir-hampir tak pernah bergerak kecuali berjalan dengan malas dari sofa ke meja. Begitulah, dari bulan ke bulan dokumennya menumpuk hingga memenuhi setiap sudut ruangan. Tak ada yang boleh membakar atau membuangnya kecuali si pemilik sendiri.

Pada suatu malam di mnsim dingin ketika kami berdua sedang duduk di depan perapian dan kulihat dia telah selesai menempelkan kliping, aku menyarankan bagaimana kalau dia membenahi berkas-berkasnya agar ruangan kami nampak lebih rapi. Dia tak bisa mengingkari apa yang telah mengganggu diriku, dan dengan wajah yang agak jengkel dia lalu masuk ke kamar tidurnya. Sekejap kemudian dia keluar lagi dengan menarik sebuah kotak besar. Ditaruhnya kotak ini di tengah ruangan, dan setelah membuka gerendelnya, ditariknya penutup kotak itu. Di dalamnya terdapat bundelan berkas yang masing-masing dipisahkan dengan pengikat berwarna merah dan memenuhi sepertiga dari kotak itu sendiri.

"Di dalam sini ada cukup banyak kasus, Watson," katanya sambil menatapku dengan nakal. "Kurasa kalau kau sempat mempelajari berkas-berkas ini, kau tak akan memintaku untuk menimbunkan berkas-berkas lain ke atasnya. Sebaliknya, kau pasti malah akan memintaku untuk mengeluarkannya."

"Apakah ini berkas berkas dari kasus-kasus awalmu?" tanyaku. "Aku memang sering berharap dapat mencatat kasus-kasus itu."

"Betul, sobat, semua kasus yang tercatat dalam bundel di kotak itu kutangani sebelum aku bertemu dengan penulis yang dengan setia membuat namaku terkenal." Diangkatnya berkas itu bundel demi bundel dengan amat hati-hati. "Tak semuanya berhasil, Watson," katanya, "tapi di antaranya ada yang sangat menarik perhatian. Nih, berkas-berkas kasus pembunuhan di Tarleton, kasus Vamberry, si pedagang anggur, kasus petualangan seorang wanita tua Rusia, kasus tongkat penyangga yang terbuat dari aluminium, lalu kasus Ricoletti yang berkaki bengkok dan istrinya yang mengerikan. Dan yang ini... ah, ini kasus yang benar-benar unik."

Diselipkan tangannya ke dasar kotak itu, dan dikeluarkannya sebuah kotak kayu kecil yang mirip tempat menyimpan mainan anak-anak. Dari dalam kotak itu dikeluarkannya secarik kertas yang lusuh, sebuah kunci kuningan yang model kuno, sepotong kayu dengan segelondong benang yang menempel, dan tiga baja yang sudah karatan.

"Well, sobatku, apa pendapatmu tentang barang-barang ini?" tanyanya sambil tersenyum melihat kebingungan yang terpancar dari wajahku.

"Koleksi yang aneh."

"Sangat aneh, bahkan. Dan kisah sehubungan dengan barang-barang itu malah lebih aneh lagi."

"Jadi barang-barang ini ada sejarahnya?"

"Mereka justru adalah sejarah."

"Apa maksudmu?"

Sherlock Holmes mengangkat barang-barang itu satu per satu dan menaruhnya di pinggir meja. Dia lalu kembali duduk di kursinya dan dipandangnya barang-barang itu dengan tatapan yang meman carkan kepuasan.

"Barang-barang ini," katanya, "merupakan kenang-kenangan yang kudapatkan dari kasus Ritual Keluarga Musgrave."

Dia memang sudah pernah menyebutkan kasus itu beberapa kali, tapi aku belum berhasil mendapatkan keterangan yang rinci darinya.

"Aku akan merasa gembira," kataku, "kalau kau bersedia menceritakan kisah itu kepadaku."

"Kalau begitu aku tak perlu membereskan berkas-berkas ini dulu?" teriaknya dengan licik. "Sedikit kurang rapi tak terlalu mengganggumukan, Watson? Aku senang kalau kau mau memasukkan kisah ini dalam tulisanmu, karena ada beberapa hal unik di dalamnya yang membuat kasus ini lebih menonjol dibandingkan kasus kejahatan lain di negeri mana pun. Koleksi prestasiku tak akan lengkap tanpa menyebutkan kasus yang satu ini.

"Kau mungkin masih ingat kasus Gloria Scott, dan bagaimana percakapan yang terjadi antara diriku dengan lelaki tua bernasib malang, sebagaimana telah kukisahkan kepadamu, itulah yang mendorongku untuk mulai menekuni profesi kedetektifan yang kini menjadi mata pencaharianku. Kau melihat diriku kini sebagai orang yang telah terkenal. Masyarakat maupun pihak kepolisian mengakui kemampuanku dan tanpa ragu-ragu meminta bantuanku bila mereka menghadapi jalan buntu. Bahkan pada awal perkenalanmu dengan diriku, yaitu ketika aku sedang menangani kasus yang lalu kau publikasikan dengan judul A Study in Scarlet, aku sudah mempunyai jaringan kerja yang cukup luas walaupun belum begitu banyak menghasilkan uang. Kau pasti tak begitu menyadari betapa sulit dan lamanya bagiku untuk meraih keberhasilan dalam profesiku.

"Ketika aku hijrah ke London, aku menyewa kamar di Montague Street, tak jauh dari British Museum. Di sanalah aku menunggu kesempatan untuk membuktikan kemampuanku, mengisi waktu luangku yang berlebihan dengan mempelajari macam-macam cabang ilmu pengetahuan yang menurutku akan bermanfaat bagi profesiku. Sekali-sekali aku mendapat klien, sebagian besar atas rekomendasi mantan teman-teman kuliahku, sebab pada tahun-tahun terakhirku di universitas memang kemampuanku banyak dibicarakan orang. Kasus ketiga yang kutangani adalah Ritual Keluarga Musgrave ini. Kasus unik ini akhirnya menjadi buah bibir, terutama karena nilai sejarahnya tinggi. Sejak itulah karierku semakin menanjak.

"Reginald Musgrave adalah teman sekuliahku, dan aku sempat berkenalan dengannya. Dia tak begitu populer karena orang-orang menganggapnya angkuh. Tapi menurutku, keangkuhannya itu justru untuk menutupi sifatnya yang sangat pemalu. Dari luar, penampilannya sangat mengesankan, benar-benar seorang bangsawan tulen. Badannya kurus, hidungnya mancung matanya lebar, dan gayanya sopan dan lembut. Dia memang keturunan salah satu keluarga kerajaan yang sudah sangat tua, walaupun nenek moyangnya bukanlah putra pertama keluarga itu. Pada abad keenam belas, keluarga moyangnya itu memisahkan diri dari keluarga Musgrave lainnya yang tinggal di daerah utara Inggris, lalu menetap di bagian barat Sussex. Tempat tinggal mereka yang bernama Istana Hurlstone mungkin merupakan satu-satunya bangunan kuno yang masih dihuni di daerah itu. Ciri-ciri daerah kelahirannya masih menempel pada dirinya, dan setiap kali aku memandang wajahnya yang pucat dan tegar atau sikap kepalanya, aku jadi teringat pada lorong-lorong kusam, jendela-jendela berukir, dan segala macam peninggalan agung dari bangunan kuno bekas bangsawan masa lalu. Pernah sekali dua kali kami bercakap-cakap, dan aku teringat bahwa dia sangat tertarik pada metode penyelidikan dan pengambilan kesimpulanku.

"Selama empat tahun aku tak mendengar kabar tentang dirinya, sampai pada suatu pagi dia mengunjungiku di kamar kontrakanku di Montague Street. Dia hampir tak berubah, pakaiannya modis—dia memang agak pesolek—dan sikapnya masih tetap halus dan sopan seperti dulu.

"'Bagaimana kabarmu selama ini, Musgrave?' tanyaku setelah kami berjabat tangan dengan hangat.

"'Kau mungkin telah mendengar tentang kematian ayahku yang malang,' katanya. 'Dia mati terhanyut kira-kira dua tahun yang lalu. Setelah itu, tentu saja akulah yang bertanggung jawab mengelola Hurlstone, dan karena aku juga aparat pemerintah di daerah itu, maka aku jadi sangat sibuk. Nah, Holmes, kudengar kau telah mempraktekkan kemampuanmu yang dulu sempat mengherankan kami.'

"'Ya,' kataku, 'aku hidup dengan akalku sekarang.'

"'Bagus, karena saat ini aku sangat memerlukan nasihatmu. Akhir-akhir ini telah terjadi beberapa hal yang aneh di Hurlstone, dan polisi tak berhasil memecahkannya. Benar-benar sangat aneh dan tak bisa dijelaskan.'

"Kau bisa membayangkan betapa penasarannya diriku mendengar hal ini, Watson, karena sudah berbulan-bulan aku tak mendapat kesempatan untuk menangani sebuah kasus dan aku merasa sudah tak tahan lagi. Jauh di lubuk hatiku aku percaya bahwa aku akan bisa berhasil walaupun orang lain tidak, dan saat itu aku mendapat kesempatan untuk membuktikan kemampuanku.

"'Mengapa tak langsung dilanjutkan dengan rincian kisahnya?' teriakku dengan tak sabar.

"Reginald Musgrave duduk di hadapanku dan menyulut rokok yang kutawarkan kepadanya.

"'Kau harus tahu,' katanya, 'bahwa walaupun aku masih bujangan, jumlah pelayanku di Hurlstone cukup banyak, karena tempat kuno itu semrawut sekali keadaannya dan perlu banyak tenaga untuk merawatnya. Aku juga punya hutan pribadi, dan pada musim burung teman-temanku biasa berkumpul untuk berburu. Begitulah seluruhnya ada delapan pelayan wanita, tukang masak, kepala pelayan, dua penjaga pintu, dan seorang bocah pesuruh. Masih ditambah dengan staf yang merawat kebun dan kandang kuda.

"'Dari semua pelayanku ini yang paling lama bekerja di tempatku adalah Brunton, si kepala pelayan. Sebelum diterima bekerja oleh ayahku dia pernah menjabat sebagai kepala sekolah, tapi oleh sesuatu sebab dia dikeluarkan. Dia orang yang rajin dan menyenangkan, serta amat berguna di rumah kami. Tubuhnya bagus dan wajahnya tampan, dengan dahi lebar, dan walaupun dia sudah bekerja di tempat kami selama dua puluh tahun, saat ini usianya baru kira-kira empat puluh. Dengan kelebihan-kelebihannya—dia juga bisa berbicara dalam beberapa bahasa dan bisa memainkan hampir semua alat musik—maka agak mengherankan juga mengapa dia merasa puas dengan jabatannya di rumah kami itu untuk sekian lamanya. Menurutku, dia mungkin sudah merasa nyaman dan tak ingin buang-buang tenaga untuk berpindah pekerjaan. Siapa pun yang pernah bertamu ke rumah kami, pasti akan terkesan oleh kehebatan si kepala pelayan itu

"'Tapi orang yang serba hebat ini punya satu kelemahan. Dia suka main wanita. Tentu kau bisa mengerti bahwa pria semacam dia pasti tak sulit untuk main-main asmara begitu di daerah kami yang sepi.

"'Ketika dia menikah, semua petualangannya berakhir. Tapi dia lalu menjadi duda, dan mulailah dia berulah lagi sampai membuat pusing semua orang di rumah. Beberapa bulan yang lalu kami melihat gelagat bahwa dia nampaknya akan menikah lagi. Hal ini membuat kami lega. Dia bertunangan dengan Rachel Howells, salah satu pelayan wanita kami. Tapi ternyata dia meninggalkan gadis itu begitu saja, lalu ganti pacaran dengan Janet Tregellis, putri pengawas hutan. Rachel gadis yang baik, tapi temperamennya sangat mudah terganggu sebagaimana umumnya orang yang berasal dari daerah Wales. Sejak ditinggalkan oleh Brunton, dia terserang radang otak dan sampai sekarang—tepatnya sampai kemarin—kerjanya seharian hanya mondar-mandir di sekitar rumah kami, tanpa ingat lagi siapa dirinya. Itulah musibah pertama di Hurlstone. Tapi tak lama kemudian kami telah melupakan kejadian itu karena perhatian kami tercurah kepada kejadian berikutnya, yaitu dipecatnya Brunton gara-gara perbuatannya yang amat memalukan.

"'Begini kisahnya. Tadi sudah kukatakan bahwa Brunton ini orangnya cerdas, tapi justru kecerdasannya inilah yang telah menghancurkannya, karena dia nampaknya menjadi serba ingin tahu akan hal-hal yang tak bersangkutan dengan dirinya. Aku tak pernah menyadari hal ini sampai mataku ter buka karena memergoki suatu peristiwa.

"'Tadi sudah kukatakan bahwa rumah kami itu agak semrawut. Suatu hari pada minggu yang lalu—tepatnya hari Kamis malam—aku tak bisa tidur semalaman karena tanpa pikir telah minum kopi kental sesudah makan malam. Aku membolak balik badan di tempat tidur sampai jam dua pagi. Akhirnya karena merasa tak akan bisa memejamkan mata, aku lalu bangun dari tempat tidur dan menyalakan lilin untuk melanjutkan membaca sebuah novel. Tapi buku itu tertinggal di ruang biliar. Aku lalu mengenakan pakaian dengan maksud mau mengambil buku itu.

"'Untuk sampai ke ruangan biliar, aku harus menuruni tangga lalu menyeberangi koridor yang menuju perpustakaan dan ruang senjata. Bisa kau bayangkan betapa terkejutnya aku, ketika melihat cahaya dari ruang perpustakaan yang pintunya dalam keadaan terbuka. Seingatku, aku tadi sudah memadamkan semua lampu dan menutup pintu perpustakaan itu sebelum masuk tidur. Tentu saja aku langsung berpikir jangan-jangan ada pencuri yang masuk ke situ. Dinding-dinding koridor di Hurlstone didekorasi dengan senjata-senjata kuno sebagai kenang-kenangan. Aku lalu menyambar sebuah kapak yang tergantung di dekatku, menaruh lilin di lantai, lalu berjalan sambil berjinjit dan mengintip ke dalam perpustakaan itu.

"'Yang berada di dalam ternyata Brunton, si kepala pelayan. Dia berpakaian lengkap dan sedang duduk di kursi malas. Di lututnya terdapat sehelai kertas yang nampaknya seperti peta, kepalanya terjulur ke depan seolah sedang berpikir keras. Aku berdiri termangu-mangu sambil menatapnya dari kegelapan. Tiba-tiba dia berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan menuju lemari di sampingnya. Dibukanya kunci lemari itu, lalu ditariknya salah satu lacinya. Dari laci itu diambilnya sehelai kertas, kemudian dia kembali ke tempat duduknya. Ditaruhnya kertas itu bersama peta yang tadi di ujung meja, lalu dipelajarinya dengan amat saksama. Aku langsung naik darah menyaksikan ada seseorang yang berani-beraninya mempelajari dokumen keluarga kami dengan begitu santainya. Aku lalu masuk dan ketika Brunton mendongakkan kepalanya, dia melihatku sedang berdiri di pintu. Dia langsung bangkit wajahnya memancarkan ketakutan, dan dimasukkannya peta yang tadi dlpelajarinya ke dalam sakunya.

""'Begitu, ya!" kataku. "Begini caramu membalas kepercayaan yang kami berikan. Mulai besok pagi, kau boleh angkat kaki dari rumah ini."

"'Dia membungkukkan badan dengan sikap seseorang yang hancur luluh hidupnya, lalu menyelinap melewatiku tanpa berkata sepatah pun. Lilin yang dibawanya masih ada di meja, dan dari cahayanya aku bisa melihat kertas apa yang telah diambil oleh Brunton dari lemari. Yang membuatku terkejut ialah bahwa yang diambilnya itu ternyata sama sekali bukan dokumen penting, tapi cuma salinan serangkaian tanya jawab sehubungan dengan Ritual Keluarga Musgrave yang memang unik. Upacara yang menandai kedewasaan seseorang ini harus dan telah dilakukan oleh setiap keturunan Musgrave selama berabad-abad. Upacara ini sifatnya sangat pribadi dan mungkin berarti bagi seorang arkeolog, seperti warna-warni pada perabotan atau larangan-larangan tertentu, tapi bagi orang awam sebetulnya tak bermakna apa-apa.'

"'Kita akan kembali ke masalah kertas itu nanti,' kataku.

"'Baik, kalau menurutmu hal itu memang penting,' jawabnya dengan agak ragu. 'Tapi biarlah aku menyelesaikan keteranganku dulu. Aku membuka lemari itu dengan kunci yang telah ditinggalkan Brunton dengan begitu saja, dan aku baru saja membalikkan badan untuk meninggalkan ruangan itu, ketika aku dikejutkan dengan kehadiran kepala pelayan tadi yang kini sedang berdiri di hadapanku.

""'Mr. Musgrave yang terhormat," teriaknya dengan penuh emosi, "saya tak akan mampu menahan rasa malu, Tuan. Selama ini saya sangat bangga dengan reputasi saya, dan lebih baik saya mati daripada harus menanggung malu. Anda akan sangat menyesal, Tuan—sungguh—kalau saya sampai bunuh diri. Kalau Anda tak berkenan dengan apa yang telah saya lakukan, maka demi Tuhan, berilah kesempatan kepada saya untuk mengajukan surat pengunduran diri dan saya akan meninggalkan tempat ini dalam sebulan, seolah-olah memang atas permintaan saya. Mr. Musgrave, saya tak mampu menanggung kalau saya harus dipermalukan di depan banyak orang yang selama ini saya kenal dengan baik."

"'"Kau tak layak mcndapatkan pertimbangan lebih lanjut, Brunton," jawabku, "Perbuatanmu benar-benar menjijikkan. Tapi, mengingat kau sudah lama bekerja di sini, aku tak berniat untuk mempermalukanmu di hadapan orang lain. Namun aku tak mau menunggu sampai sebulan; terlalu lama. Kuberi waktu seminggu saja, dan silakan mempersiapkan alasan pengunduran dirimu "

""'Hanya seminggu, Tuan?" teriaknya dengan putus asa. "Bagaimana kalau dua minggu—setujuilah paling sedikit dua minggu!"

""'Seminggu," ulangku, "itu pun karena hatiku telah agak menjadi lunak terhadapmu."

"'Dia mengundurkan diri dengan menunduk benar-benar bagaikan seseorang yang hidupnya hancur luluh. Aku lalu mematikan lilin dan kembali ke kamar tidurku.

"'Selama dua hari berikulnya, Brunton sangat rajin menjalankan tugasnya. Aku tak mengungkit-ungkit apa yang telah diperbuatnya dan menunggu dengan penasaran, alasan apa yang akan dikemukakannya untuk menutupi rasa malunya. Tapi pada hari ketiga setelah itu, dia tak kelihatan. Biasanya dia menerima perintah-perintah dariku untuk sehari itu setelah acara makan pagi. Ketika aku keluar dari ruang makan aku bertemu dengan Rachel Howells, pelayan wanita mantan tunangan Brunton. Tadi sudah kukatakan bahwa dia baru saja sembuh dari sakitnya, wajahnya sangat pucat sehingga aku menegumya

""'Kau masih perlu istirahat," kataku. "Nanti kalau sudah agak kuat saja, barulah mulai bekerja lagi."

"'Dia menatapku dengan ekspresi yang sangat aneh sehingga aku merasa bahwa pikirannya pun jadi terganggu karena sakit radang otaknya itu.

""'Saya sudah cukup kuat, Mr. Musgrave," katanya.

""'Biarlah dokter yang memutuskan," jawabku.

""'Sekarang juga berhentilah bekerja, dan kalau kau pergi ke lantai bawah, tolong panggilkan Brunton.

""'Kepala pelayan itu telah pergi," katanya.

""'Pergi? Ke mana?"

""'Tak ada yang tahu ke mana dia pergi. Kamarnya kosong. Oh, ya, dia telah pergi... dia telah pergi!" Gadis pelayan itu terjatuh ke belakang sambil tertawa terbahak-bahak. Aku ketakutan melihat sikapnya yang tiba-tiba menjadi histeris. Aku berlari menekan bel untuk meminta pertolongan. Gadis itu lalu dibawa ke kamarnya, masih dalam keadaan berteriak-teriak bercampur baur dengan tangisan, sementara aku menanyakan tentang Brunton kepada seisi rumah. Tak diragukan lagi bahwa Brunton telah kabur. Tempat tidurnya masih rapi, dan tak seorang pun melihatnya setelah dia masuk ke kamarnya pada malam sebelumnya. Yang aneh adalah bagaimana caranya keluar dari rumah, sementara semua pintu dan jendela terkunci dari dalam? Pakaian, jam tangan, dan bahkan uangnya masih ada di kamarnya, tapi jas hitam yang biasa dikenakannya tak ada. Sandalnya juga lenyap, cuma sepatunya yang tertinggal. Ke mana gerangan perginya si kepala pelayan Brunton semalam, dan apa yang terjadi atas dirinya?

"'Tentu saja kami lalu mencarinya ke setiap sudut rumah, tapi tak terlihat jejaknya. Seperti yang sudah kukatakan, susunan ruangan di rumah kuno kami ini agak semrawut, khususnya bangunan utama yang sekarang tak dihuni. Kami membongkar semua ruangan dan gudang, tapi sia-sia saja. Tak terlihat sedikit pun jejak orang yang hilang itu. Aku jadi senewen memikirkan bagaimana mungkin dia menghilang begitu saja tanpa membawa harta miliknya, dan di mana gerangan dia sekarang? Aku menghubungi kepolisian setempat, tapi mereka pun tak berhasil melacaknya. Pada malam menghilangnya itu hujan turun dan kami telah memeriksa jejak di halaman dan jalanan di luar rumah, namun hasilnya nihil. Begitulah keadaannya, sampai kemudian menyusul sebuah perkembangan baru yang menarik perhatian kami sehingga misteri hilangnya Brunton agak terkesampingkan.

"'Selama dua hari berturut-turut setelah itu, Rachel Howells kambuh lagi sakitnya, kadang-kadang suhu badannya menjadi tinggi sekali sampai dia menjeril-jerit histeris. Kami mempekerjakan seorang suster untuk menungguinya pada malam hari. Pada malam ketiga setelah menghilangnya Brunton, ketika suster melihat pasiennya tertidur pulas, dia pun lalu menjatuhkan diri di kursi malas, dan tak lama kemudian tertidur pula. Ketika dia terjaga pada fajar buta keesokan harinya, didapatinya tempat tidur pasiennya kosong, jendela kamar terbuka, dan pasiennya menghilang. Aku segera dibangunkan, dan bersama kedua penjaga pintu, mulai mencari gadis yang hilang itu. Kami tak mengalami kesulitan, karena kami menemukan jejaknya sejak dari bawah jendela kamarnya, lalu menuju ke ujung danau di halaman, dekat jalanan berbatu yang menuju jalan raya. Danau itu dalamnya dua setengah meter, dan dapat kaubayangkan betapa ngerinya perasaan kami melihat jejak gadis gila yang malang itu berakhir di situ.

"'Tentu saja kami lalu langsung mengeruk danau itu, tapi mayat si gadis tak kami temukan. Yang kami peroleh justru benda yang tak kami sangka-sangka, yaitu sebuah tas kain berisi sepotong logam yang sudah karatan dan beberapa butir batu-batuan yang berwarna kusam. Hanya penemuan aneh ini yang kami dapatkan dari dasar danau itu, dan walaupun kami sudah berusaha keras untuk mencari gadis itu kemarin, sampai sekarang kami masih tak tahu bagaimana nasib Rachel Howells dan Richard Brunton. Polisi wilayah juga sudah angkat tangan, maka aku lalu menemuimu untuk mendapatkan pertolongan terakhir.'

"Coba bayangkan, Watson, betapa aku dipenuhi dengan rasa ingin tahu sementara aku mendengarkan rentetan kisah yang luar biasa ini, sambil berusaha memilah-milah rinciannya untuk dihubung-hubungkan satu sama lain.

"Kepala pelayan menghilang. Gadis pelayan itu juga menghilang. Gadis itu pernah mencintai kepala pelayan, tapi lalu berubah membencinya. Dia berdarah Wales, bertemperamen panas, dan penuh semangat. Dia merasa sangat gelisah ketika dia tahu kepala pelayan telah menghilang. Dia melemparkan sebuah tas berisikan barang-barang aneh ke danau. Hal-hal ini perlu dipertimbangkan, tapi tak ada satu pun yang mengarah ke inti permasalahannya. Dimulai dari manakah semua rentetan perisitiwa ini? Itulah kunci pemecahan masalah yang rumit ini.

"'Aku perlu melihat dokumen itu, Musgrave,' kataku, 'dokumen yang begitu pentingnya bagi kepala pelayanmu itu sampai sampai dia berani mengambil risiko kehilangan pekerjaannya '

"'Ritual keluarga kami ini sebenarnya agak tak masuk akal,' sahutnya. 'Tapi, karena sudah turun-temurun, apa boleh buat. Aku bawa salinan tanya-jawab itu kalau kau mau membacanya.'

"Dia menyerahkan kertas yang kini berada di hadapanmu Watson, dan beginilah ritual yang harus dijalani oleh setiap keturunan Musgrave ketika dia sudah cukup umur untuk mewarisi harta keluarga itu. Baiklah kubacakan untukmu:

"'Milik siapakah itu?

"'Milik dia yang telah tiada.

"'Siapa yang akan mewarisinya?

"'Dia yang berikutnya.

"'Pada bulan apa?

"'Bulan keenam.

"'Di mana matahari?

"'Di atas pohon ek.

"'Di mana bayangannya?

"'Di bawah pohon elm.

"'Bagaimana bayangan itu bisa dilangkahi?

"'Di utara sepuluh dan sepuluh, di timur lima dan lima, di selatan dua dan dua, di barat satu dan satu, dan begitulah di bagian bawahnya.

"'Dengan apa kita akan membelanya?

"'Dengan semua yang ada pada kita.

"'Mengapa demikian?

"'Demi apa yang kita percayai.

"'Naskah aslinya tak bertanggal, tapi melihat gaya kata katanya, nampaknya ditulis pada pertengahan abad ketujuh belas,' komentar Musgrave. 'Tapi aku khawatir dokumen ini tak dapat mem bantumu memecahkan misteri ini.'

"'Paling tidak,' kataku, 'malah menambah sebuah misteri lagi yang lebih menarik dari misteri sebelumnya. Bisa jadi kalau misteri ritual ini terpecahkan, misteri yang lainnya juga akan terbongkar. Maaf bila aku mengatakan, Musgrave, bahwa kepala pelayanmu ini menurutku sangat cerdas, dan dia memiliki pemahaman yang lebih mendalam daripada sepuluh generasi tuannya turun-temurun.'

"'Aku tak mengerti maksudmu,' kata Musgrave. 'Bagiku, dokumen itu tak begitu bermakna.

"'Menurutku, malah sebaliknya, dan aku menduga bahwa Brunton sependapat denganku. Dia mungkin secara tak sengaja tahu tentang adanya dokumen itu ketika suatu saat kau sedang mengeluarkannya.'

"'Mungkin sekali. Dokumen itu memang cuma kami simpan begitu saja.'

"'Menurutku, pada waktu kaupergoki itu, dia cuma mau mengulang apa yang sudah dia hafal. Bukankah dia juga memegang semacam peta yang dicocokkannya dengan dokumen itu, yang lalu di masukkannya ke sakunya ketika kau muncul di hadapannya?'

"'Benar. Tapi apa urusan Brunton dengan upacara tradisi kami yang sudah kuno itu, dan apa arti tanya-jawabnya?'

"'Kukira tak sukar untuk memecahkan hal itu,' kataku, 'dan kalau kau setuju, mari kita berangkat dengan kereta api ke Sussex dan kita akan membahas masalah ini dengan lebih mendalam di tempat kejadian.'

"Kami berdua tiba di Hurlstone siang itu juga. Kau mungkin pernah melihat foto atau membaca keterangan tentang gedung tua yang terkenal itu, jadi aku hanya ingin mengatakan bahwa bangunan itu berbentuk huruf L, bagian gedung yang lebih panjang lebih modern, dan yang pendek merupakan bekas bangunan utama yang sudah sangat kuno. Di atas pintu depannya yang rendah dan tebal terpahat sebuah penunjuk tahun, 1607, tapi para ahli mengatakan bahwa balok-balok kayu dan batu batuan gedung itu lebih tua lagi usianya. Dinding-dinding bangunan utamanya sangat tebal, padahal jendela-jendelanya amat kecil, sehingga keluarga ini membangun sayap baru untuk mereka tempati, sedangkan bagian ini lalu dipergunakan sebagai gudang, kalau diperlukan. Rumah ini dikelilingi oleh taman indah yang dipenuhi pepohonan tua, dan danau yang diceritakan oleh klienku itu terletak dekat jalan raya, dari rumah jaraknya sekitar dua ratus meter.

"Sejak semula aku sudah merasa yakin, Watson, bahwa ketiga misteri yang terjadi di rumah itu saling berkaitan, dan begitu aku bisa mengartikan kata-kata yang terkandung dalam Ritual Keluarga Musgrave itu, aku akan mendapatkan petunjuk yang mengarah kepada apa yang sebenarnya terjadi baik pada Brunton si kepala pelayan maupun Howells si pelayan wanita. Maka aku lalu mengerahkan segala kekuatanku untuk hal itu. Mengapa Brunton begitu ingin menguasai formula kuno ini? Jelas, karena dia mendapatkan sesuatu yang tak terlihat oleh anggota keluarga ini sendiri selama berabad-abad, dan yang diharapkannya akan membawa keberuntungan baginya. Apakah gerangan itu? Dan bagaimana nasibnya sekarang?

"Setelah membaca ritual terscbut, aku jadi yakin bahwa semua ukuran itu mengacu ke suatu tempat, dan kalau kita bisa menemukan tempat itu, kita juga akan menemukan rahasia nenek moyang keluarga Musgrave yang telah disamarkan sedemikian rupa. Ada dua petunjuk yang bisa dipakai sebagai awal penyelidikan, yaitu pohon ek dan pohon elm. Tak ada masalah dengan pohon ek. Tepat di depan rumah, di sebelah kiri jalanan masuk, ada sebuah pohon ek tua yang amat indah, jauh lebih menonjol dibanding pohon-pohon ek lain di sekelilingnya.

"'Apakah pohon itu sudah ada di situ waktu ritual ini ditulis?' tanyaku ketika kami melewati pohon ek tua itu.

"'Rasanya sejak zaman Penaklukan Normandia pohon itu sudah ada,' jawabnya. 'Lingkar batang pohon itu 6,9 meter.'

"Nah, salah satu petunjuk telah kudapatkan."

"'Apakah ada pohon elm tua di sekitar rumah ini?' tanyaku.

"'Dulu memang pernah ada di sebelah sana, tapi kira-kira sepuluh tahun yang lalu tersambar petir dan roboh. Kami lalu menebangnya.'

"'Kau masih ingat letaknya secara persis?'

"'Oh, ya.'

"'Di samping pohon elm yang kautebang itu, apakah ada yang lain?'

"'Tidak ada yang berusia tua, kalau pohon-pohon lain ada banyak.'

"'Aku ingin melihat lokasi bekas pohon elm itu.'

"Saat itu kami masih berada di dalam kereta, dan klienku langsung membelokkan kereta menuju tempat yang kuinginkan tanpa mampir ke rumah terlebih dahulu. Lokasinya ternyata di tengah-tengah antara pohon ek tadi dan rumah. Penyelidikanku nampaknya menunjukkan titik terang.

"'Kurasa tak mungkin kita mencari tahu berapa kira-kira tinggi pohon elm yang kautebang itu?' tanyaku.

"'Aku tahu dengan tepat. Tingginya 19,2 meter.'

"'Bagaimana kau bisa tahu?' tanyaku dengan heran.

"'Guru les trigonometri yang mengajarku dulu sering menyuruhku membuat banyak latihan, yaitu mengukur-ukur ketinggian benda-benda. Aku masih ingat, waktu itu aku sempat mengukur tinggi setiap pohon dan gedung di daerah ini.'

"Kebetulan sekali. Data yang kuperlukan jadi terkumpul lebih cepat dari yang kuduga semula.

"'Ngomong-ngomong, pernahkah kepala pelayanmu mengajukan pertanyaan seperti itu kepadamu ' tanyaku.

"Reginald Musgrave menatapku dengan sangat terkejut. 'Astaga, aku jadi ingat! Brunton memang menanyakan tinggi pohon itu beberapa bulan yang lalu. Katanya, dia bertengkar dengan tukang kuda soal tinggi pohon itu.'

"Berita ini sungguh bagus, Watson, karena itu berarti arah penyelidikanku ternyata benar. Aku lalu menatap matahari yang tergantung rendah di angkasa. Kuperkirakan dalam waktu kurang dari satu jam, matahari akan terletak tepat di atas dahan pohon ek yang paling tinggi. Salah satu persyaratan yang disebut dalam ritual itu akan terpenuhi. Dan bayangan pohon elm tentunya berarti tempat bayangan matahari itu berakhir. Kalau tidak, pastilah batang pohon yang dijadikan ukurannya. Langkah selanjutnya ialah mencari tempat jatuhnya ujung bayangan matahari itu setelah melewati puncak pohon ek."

"'Tentunya susah menentukannya, Holmes, karena pohon elm itu sudah tak berada di tempatnya lagi.'

"Well, paling tidak aku merasa yakin bahwa kalau Brunton mampu melakukannya, mengapa aku tidak? Lagi pula, ternyata tak terlalu susah, kok. Aku dan Musgrave masuk ke rumah dan menuju ruang belajarnya, lalu menyiapkan sepotong kayu yang kini ada di tanganku ini. Kuikatkan benang yang panjang, dan benang itu kubundel pada tiap jarak 0,9 meter. Kuambil dua helai tali pancing yang panjangnya 1,8 meter, kemudian kami kembali ke lokasi bekas pohon elm tadi. Matahari berada tepat di atas puncak pohon ek. Aku mengikatkan tali pancing pada salah satu sisi untuk menandai arah bayangan matahari, lalu mengukur panjangnya. Ternyata 2,7 meter.

"Tentu saja penghitungan selanjutnya mudah. Kalau tali pancing sepanjang 1,8 meter memancarkan bayangan sepanjang 2,7 meter, maka pohon yang tingginya 19,2 meter tentunya akan memancarkan bayangan sepanjang 28,8 meter menurut arah bayangan itu. Aku lalu mengukur jarak sejauh itu, dan sampailah di dekat tembok rumah. Di tempat itu kupancangkan potongan kayu ini. Bayangkan betapa gembiranya hatiku, Watson, melihat sedikit lekukan di tanah lima sentimeter jauhnya dari patok kayuku itu. Tahulah aku bahwa tanda itu dibuat oleh Brunton pada waktu dia mengukur-ukur seperti yang sedang kulakukan saat itu. Aku juga merasa yakin bahwa aku akan segera menemukan jejaknya.

"Dari situlah aku mulai bertindak. Pertama, aku menentukan empat arah mata angin dengan bantuan kompas kecilku. Aku maju sepuluh langkah sejajar dengan dinding rumah, lalu tempat itu aku beri tanda dengan menancapkan sepotong kayu lagi. Lalu lima langkah ke timur, dan dua langkah ke selatan. Sampailah aku ke ambang pintu gedung utama. Maka dua langkah ke barat berarti aku harus melangkah memasuki lorong yang terbuat dari batu, dan tempat inilah yang ditunjukkan oleh ritual itu.

"Tapi aku langsung menjadi teramat kecewa, Watson. Kelihatannya perhitunganku salah total. Waktu itu sinar matahari yang hampir tenggelam menerangi lorong itu, dan kulihat bebatuan di kedua sisi lorong itu masih utuh terbalut semen, dan jelas sekali sudah puluhan tahun tak pernah disentuh orang. Jadi, Brunton tak melacak sampai di sini. Aku menjejak-jejakkan kaki di sepanjang lantai lorong itu, dan suara yang dihasilkan sama semuanya. Tak terlihat tanda adanya retakan atau celah di bawahnya. Tapi, untunglah, Musgrave, yang mulai memahami makna upayaku dan yang kini jadi penasaran sebagaimana halnya diriku, lalu mengeluarkan catatannya lagi untuk mengecek perhitunganku.

"'Dan begitulah di bagian bawahnya,' teriaknya. 'Petunjuk itu telah kaulewatkan.'

"Tadinya kukira itu berarti kami harus menggali, namun tentu saja saat itu langsung kusadari bahwa tidak demikian halnya. 'Kalau begitu ada gudang di bawah tanah, ya?' teriakku.

"'Ya, gudang itu dibangun bersamaan dengan rumah utama. Letaknya di bawah sini, melalui pintu ini.'

"Kami berdua menuruni tangga putar, dan teman seperjalananku ini mengeluarkan korek lalu menyalakan lentera besar yang ada di atas drum di ujung ruangan. Dalam sekejap kami merasa yakin bahwa kami telah tiba di tempat yang dimaksud, dan bahwa sudah ada orang lain yang mendahului kami menemukan tempat itu.

"Tempat itu dulunya dipakai untuk menyimpan kayu bakar, dan potongan-potongan kayu yang dulunya bertebaran di lantai, sekarang telah ditumpuk di beberapa tempat, sehingga ada bagian kosong di tengah gudang itu. Di situ tergeletak sebuah batu besar dan bulatan besi karatan yang bagian tengahnya diikat dengan sebuah selendang tebal terbuat dari bulu domba.

"'Demi Tuhan!' teriak klienku. 'Selendang itu milik Brunton. Aku pernah melihatnya memakai selendang itu, aku berani bersumpah. Apa gerangan yang telah dilakukan oleh si keparat itu di sini?'

"Aku menyarankan agar dia memanggil polisi, dan aku lalu mencoba mengangkat batu besar itu dengan menarik selendangnya. Batu itu hanya bergeser sedikit. Setelah dibantu oleh seorang polisi, barulah aku berhasil memindahkannya ke samping. Di bawah lokasi batu semula ternyata ada sebuah lubang. Kami semua mengintip ke dalamnya, sementara Musgrave berjongkok di tepi lainnya sambil memasukkan lentera ke dalam lubang itu.

"Di dalam sana terdapat sebuah ruangan kecil yang daiamnya kira-kira 2,1 meter dan luasnya 1,4 meter persegi. Pada salah satu sisinya terdapat kotak kayu berlapis kuningan, tutupnya memakai engsel, dan kuncinya berbentuk aneh sekali. Kotak itu tertutup debu, dan kayunya sudah lapuk dimakan ulat dan kelembapan tempat itu. Bagian dalamnya juga sudah ditumbuhi jamur. Isi kotak itu cuma beberapa keping logam yang rupanya merupakan uang-uang kuno.

"Tapi pada waktu itu kami tak sempat memikirkan soal kotak tua itu, karena sesuatu yang meringkuk di sampingnya langsung menarik perhatian kami. Ternyata sosok seorang lelaki berjas hitam dalam posisi bertelut, dahinya menempel pada pinggiran kotak itu sedangkan kedua lengannya terkapar ke samping. Posisi ini mcngakibatkan semua darah beku dalam tubuhnya tertarik ke wajah, sehingga wajah itu tak dapat lagi dikenali. Tapi dari tinggi badannya, pakaiannya dan rambutnya, klienku langsung yakin bahwa itu memang mayat kepala pelayannya yang menghilang. Dia sudah menjadi mayat sejak beberapa hari yang lalu, tapi tak ada luka atau bekas goresan di tubuhnya yang menandai sebab-sebab kematiannya. Ketika mayat itu sudah diangkat dari gudang bawah tanah, kami masih menghadapi masalah yang tak kalah peliknya dibandingkan dengan sebelumnya.

"Kuakui, Watson, sampai sejauh itu aku masih tetap tak puas dengan penyelidikanku. Sebelumnya aku memperhitungkan bahwa kalau aku menemukan lokasi yang dimaksud, masalahnya pun akan selesai. Tapi saat itu aku sudah menemukan lokasinya, dan masih tetap tak mendapat jawaban tentang apa sebenarnya yang disembunyikan nenek moyang keluarga ini dengan begitu telitinya. Memang benar aku telah menemukan Brunton, tapi kini aku harus mencari tahu apa yang menyebabkan kematiannya, dan apa peranan pelayan wanita yang juga menghilang itu. Aku duduk di atas sebuah tong di salah satu sudut ruangan itu dan memikirkan masalah itu secara keseluruhan.

"Kau kan tahu caraku bertindak dalam kasus-kasus semacam itu, Watson? Aku membayangkan diriku menjadi Brunton, dan setelah menaksir seberapa hebat kira-kira kecerdasannya, aku mencoba membayangkan apa yang akan kulakukan pada situasi yang sedang dihadapinya. Dalam hal ini, masalahnya menjadi lebih sederhana karena Brunton betul-betul cerdas, sehingga tak sulit bagiku untuk menempatkan diri pada posisinya. Nah, dia tahu bahwa ada sesuatu yang amat berharga yang dirahasiakan tempat penyimpanannya. Dia sudah berhasil menemukan lokasinya, namun dia tak mampu menarik batu penutup di atas lubang persembunyian itu seorang diri. Apa yang akan dilakukannya? Kalau dia minta bantuan dari luar, misalnya seseorang yang dipercayainya, dia harus melewati pintu-pintu di dalam rumah dan besar kemungkinan dia akan ketahuan. Jadi lebih baik kalau dia minta tolong seorang rekan pelayan di dalam rumah itu. Tapi siapa yang kira-kira diminta untuk membantunya? Pelayan wanita itu pernah sangat mencintainya. Seorang pria biasanya beranggapan bahwa bila seorang gadis pernah mencintainya, maka cinta itu tak akan pernah hilang, walaupun dia pernah mengecewakan gadis itu. Dia berusaha menarik simpati gadis Howells itu lagi, lalu mengajaknya berkomplot. Mereka pergi ke gudang bawah tanah pada malam hari, dan mereka berdua bersama-sama menarik batu besar itu. Sampai di situlah aku mengikuti skenario mereka yang nampak begitu jelas dalam anganku bagaikan aku telah melihat tindakan mereka dengan mata kepalaku sendiri.

"Tapi karena mereka cuma berdua, dan salah satunya seorang wanita, tentu tak mudah bagi mereka untuk menggeser batu itu. Aku bersama seorang polisi bertubuh kekar saja harus dengan susah payah melakukannya. Apa yang mereka lakukan untuk membantu upaya mereka? Mungkin sesuatu yang akan kulakukan juga apabila aku berada dalam posisi mereka. Aku bangkit dan mengamati potongan-potongan kayu yang berserakan di lantai dengan saksama. Aku langsung menemukan apa yang kucari. Salah satu potongan kayu yang panjangnya kira-kira 90 sentimeter, ujungnya bengkok, sedangkan beberapa lainnya menjadi gepeng akibat tergencet sesuatu yang amat berat. Jelas sekali bahwa mereka telah berusaha mengungkit batu itu dengan bantuan potongan-potongan kayu, sampai batu itu tergeser ke samping dan lubang yang menganga di hadapan mereka cukup bagi mereka untuk menyusup ke bawah. Mereka mengganjal batu itu dengan sepotong kayu yang panjang agar selama mereka berada di bawah, lubang itu tetap dalam keadaan terbuka. Itulah sebabnya potongan kayu itu sampai menjadi bengkok ujungnya. Sejauh ini, kurasa aku benar.

"Dan sekarang, bagaimana kelanjutan drama malam hari itu? Jelas bahwa lubang di bawah itu hanya cukup untuk satu orang, dan pasti Brunton lah yang masuk ke situ. Si pelayan wanita menunggu di atas. Brunton lalu membuka kotak itu, menyerahkan isinya mungkin—karena waktu kami temukan isi kotak itu sudah tak ada di tempat nya—lalu... lalu, apa yang terjadi selanjutnya?

"Mungkin saja tiba-tiba terlintas dalam benak wanita Wales yang pemberang ini untuk membalas dendam terhadap pria yang telah mengecewakan hatinya itu—mumpung dia mempunyai kesempatan. Dia dengan sengaja menyenggol kayu penahan itu sehingga batu tersebut meluncur dan menutup lubang kembali. Atau apakah potongan kayu itu kebetulan saja terlepas dan kesalahan si wanita hanyalah karena dia merahasiakan nasib bekas kekasihnya? Apa pun yang terjadi, aku mempunyai bayangan bagaimana wanita itu lalu mendekap harta temuannya erat-erat dan langsung berlari menaiki tangga, tanpa mempedulikan teriakan ataupun gedoran bekas kekasihnya yang tak setia itu.

"Inilah yang menjadi rahasia mengapa wajahnya pucat pasi, badannya gemetaran, lalu ledakan tawa histerisnya pada keesokan paginya. Tapi apa isi kotak itu? Dan apa yang telah dilakukannya? Tentu saja harta karun yang kami cari-cari itu adalah potongan logam kuno dan bebatuan berwarna kusam yang dikeruk temanku dari dasar danau. Wanita itu melemparkannya ke danau begitu ada kesempatan untuk menutupi tindakan jahatnya.

"Selama dua puluh menit aku duduk tak bergerak sambil memikirkan masalah itu. Musgrave cuma berdiri bengong dengan wajah yang masih pucat sambil mengayun-ayunkan lentera dan sesekali mengintip lagi ke dalam lubang itu.

"'Ini koin zaman Raja Charles I,' katanya sambil mengamati kepingan-kepingan logam yang didapatnya dari dalam kotak kayu itu. 'Perkiraan kami tentang kapan dimulainya ritual keluarga kami itu ternyata tak meleset.'

"'Mungkin malah ada lagi peninggalan Raja Charles I yang akan kita temukan,' teriakku ketika aku tiba-tiba mendapatkan arti dari kedua pertanyaan pertama dalam ritual itu. 'Coba kulihat barang-barang yang kaudapatkan dari danau.'

"Kami menaiki tangga dan menuju ruang belajarnya, lalu ditunjukkannya barang-barang yang kumaksudkan itu. Melihat jenis barangnya yang cuma berupa logam hitam dan batu-batuan kusam yang tak menarik, aku bisa mengerti mengapa dia menganggapnya tak penting. Kuambil salah satu batu, lalu kugosokkan ke lengan kemejaku. Ternyata, batu itu menjadi berkilauan. Potongan logam itu sebenarnya berbentuk lingkaran ganda, tapi telah bengkok dan berubah dari bentuk aslinya.

"'Kau harus ingat,' kataku, 'bahwa keluarga kerajaan masih berkuasa di Inggris bahkan setelah kematian sang Raja, dan bahwa ketika akhirnya mereka meninggalkan Inggris mereka mungkin meninggalkan banyak barang berharga yang dipendam di suatu tempat, dengan harapan mereka akan bisa mengambilnya kembali setelah keadaan menjadi aman.'

"'Nenek moyangku, Sir Ralph Musgrave, adalah anggota pasukan berkuda kerajaan yang hebat, dan menjadi tangan kanan Raja Charles II kalau beliau mengadakan perjalanan,' kata temanku.

"'Ah, begitu, ya!' jawabku. 'Mata rantai terakhir telah kita temukan kalau begitu. Nah, kuucapkan selamat kepadamu, karena kaulah pewaris suatu barang peninggalan yang amat tinggi nilai sejarahnya, walaupun untuk itu kau harus mengalami hal-hal yang agak tragis .'

"'Benda apa gerangan itu?' tanyanya tercekat

"'Tak lain tak bukan adalah mahkota kuno Raja-raja Inggris.'

"'Mahkota! Yang itu!'

"Benar. Perhatikan apa yang dikatakan dalam ritual itu. Bagaimana bunyinya? "Milik siapakah itu?" "Milik dia yang telah tiada." Itu menunjukkan bahwa Charles I telah dihukum mati. Lalu, "Siapa yang akan mewarisinya?" "Dia yang berikutnya." Maksudnya Raja Charles II yang kedatangannya sudah diramalkan. Kurasa, tak diragukan lagi bahwa mahkota yang sudah rusak bentuknya ini dulu menghiasi kepala Dinasti Stuart.'

"'Bagaimana sampai benda ini berada di dasar danau?'

"'Ah, jawaban atas pertanyaan itu membutuhkan waktu.'

"Aku lalu mulai membeberkan kepadanya semua rentetan dugaanku dan bukti-bukti yang kudapatkan. Ketika penuturanku selesai, senja telah lewat dan bulan mulai bersinar dengan terangnya di langit.

"'Lalu mengapa Raja Charles II tak berhasil menemukan mahkotanya ketika dia bertakhta?' tanya Musgrave sambil mengembalikan barang warisan itu ke dalam tas kainnya.

"'Ah, itu satu hal yang mungkin tak akan pernah bisa dijelaskan. Mungkin saja nenek moyangmu yang tahu akan rahasia itu telah meninggal sebelum sang Raja tiba, dan karena kekhilafannya dia mewariskan ritual itu tanpa memberitahukan arti sebenarnya. Sejak itu, ritual tersebut lalu diturunkan dari generasi ke generasi, sampai akhirnya jatuh ke tangan seseorang yang berhasil membongkar rahasianya tapi yang telah kehilangan nyawanya dalam upaya itu.'

"Begitulah kisah Ritual Keluarga Musgrave, Watson. Mereka lalu menyimpan mahkota itu di Hurlstone—walaupun pada mulanya pemerintah melarang hal itu. Mereka akhirnya harus membayar sejumlah uang tertentu sebelum diizinkan untuk memiliki benda-benda peninggalan itu. Aku yakin, kalau kau menyebutkan namaku, kau pasti akan diizinkan untuk melihat benda-benda itu. Tentang wanita itu, tak ada kabar beritanya lagi. Dia mungkin melarikan diri dari Inggris sambil membawa serta kenangan pahit masa lalunya, bahwa dia pernah membunuh seseorang di suatu negeri di seberang lautan."