Ringkasan dari buku harian pribadiku yang merupakan bab terakhir telah membawa narasiku hingga tanggal 18 oktober, saat kejadian-kejadian aneh ini mulai bergerak dengan sigap menuju akhirnya yang mengerikan. Kejadian-kejadian selama beberapa hari berikutnya disajikan berdasarkan ingatanku, dan aku bisa menceritakannya tanpa bantuan catatan yang kubuat waktu itu. Kumulai dari hari setelah aku berhasil menemukan dua fakta yang sangat penting—yaitu bahwa Mrs. Laura Lyons dari Coombe Tracey telah menulis surat kepada Sir Charles Baskerville dan mengadakan janji temu dengannya di tempat dan pada waktu Sir Charles menemui ajalnya; dan bahwa orang asing yang satu lagi di rawa-rawa bisa ditemukan di antara gubuk-gubuk batu di lereng bukit. Dengan kedua fakta ini aku merasa entah kecerdasanku atau semangatku pasti turun kalau sekarang aku tidak bisa memperjelas situasinya.

Aku tidak sempat menceritakan pada Sir Henry apa yang sudah kuketahui mengenai Mrs. Lyons semalam, karena Dr. Mortimer terus bermain kartu dengannya hingga larut malam. Tapi, pada waktu sarapan, aku memberitahukan penemuanku dan menanyakan apakah ia bersedia menemaniku ke Coombe Tracey. Mula-mula ia sangat bersemangat ikut, tapi setelah mempertimbangkan kembali, kami sama-sama merasa hasilnya mungkin akan lebih baik bila aku pergi seorang diri. Semakin resmi kunjungan tersebut, semakin sedikit informasi yang bisa kami peroleh. Oleh karena itu kutinggalkan Sir Henry, bukannya tanpa kegelisahan, dan menuju ke petualanganku yang baru.

Sewaktu tiba di Coombe Tracey, kuminta Perkins mengistirahatkan kuda-kudanya. Aku bertanya ke sana kemari mengenai wanita yang hendak kuinterogasi. Aku tidak menemui kesulitan menemukan kamarnya, yang terletak di tengah dan cukup bagus. Seorang pelayan mengantarku tanpa banyak formalitas. Dan, sewaktu aku masuk ke ruang duduk, seorang wanita yang tengah duduk di depan mesin tik Remington melompat bangkit sambil tersenyum ramah. Tapi ekspresinya beruhah muram saat melihat aku seorang yang asing baginya, dan ia kembali duduk dan menanyakan tujuanku.

Kesan pertama yang dipancarkan Mrs. Lyons adalah kecantikan yang luar biasa. Mata dan rambutnya berwarna kelabu tua, dan pipinya—sekalipun berbintik-bintik cukup banyak—kemerahan segar. Tapi kesan kedua adalah kecaman. Ada sesuatu yang tidak beres pada wajahnya, sesuatu yang tidak kentara, kekasaran ekspresinya, kekerasan pancaran matanya mungkin, atau bibirnya yang kendur, yang mengurangi kecantikannya yang sempurna. Tapi, tentu saja, kekurangan itu baru kusadari setelah memikirkannya kembali. Pada saat itu aku hanya menyadari diriku sedang berada di hadapan wanita yang sangat cantik, dan ia sedang menanyakan apa tujuan kedatanganku. Baru pada saat itu kusadari betapa rumitnya misiku.

"Kebetulan," kataku, "saya mengenal ayah Anda."

Perkenalan yang ceroboh, dan wanita itu membuatku semakin merasakannya.

"Tidak ada kesamaan apa pun antara ayah saya dan saya," katanya. "Saya tidak berutang apa pun padanya, dan teman-temannya bukanlah teman-teman saya. Kalau bukan karena almarhum Sir Charles dan orang-orang baik lainnya, saya mungkin akan mati kelaparan tanpa dipedulikan ayah saya."

"Saya kemari justru karena almarhum Sir Charles Baskerville."

Bintik-bintik di wajahnya bagai menyala.

"Apa yang bisa saya ceritakan tentang dirinya?" tanyanya, dan jemarinya bermain-main gugup di atas tombol mesin tiknya.

"Anda mengenalnya, bukan?"

"Saya sudah mengatakan saya sangat berutang budi atas kebaikannya. Kalau saya bisa memenuhi kebutuhan saya, itu sebagian besar karena bantuannya."

"Apa Anda bersurat-suratan dengannya?"

Wanita itu seketika menengadah dengan pancaran kemarahan di matanya.

"Apa maksud pertanyaan itu?" tanyanya tajam.

"Tujuannya adalah untuk menghindari skandal. Lebih baik saya menanyakannya di sini daripada masalah itu berkembang di luar kendali kita."

Ia terdiam dan wajahnya masih tetap pucat pasi. Akhirnya ia menengadah dengan sikap menantang.

"Well, akan saya jawab," katanya. "Apa pertanyaan Anda?"

"Apakah Anda bersurat-suratan dengan Sir Charles?"

"Saya jelas pernah menulis satu atau dua kali untuk mengucapkan terima kasih atas kebaikan dan kedermawanannya."

"Apa Anda mengingat tanggal surat-surat itu?"

"Tidak."

"Anda pernah bertemu dengannya?"

"Ya, satu atau dua kali, sewaktu dia datang ke Coombe Tracey. Dia sudah pensiun, dan lebih suka melakukan kebaikan secara diam-diam."

"Tapi kalau Anda jarang bertemu dengannya atau menulis surat kepadanya, bagaimana dia bisa tahu masalah Anda sehingga bisa membantu Anda?"

Ia menghadapi pertanyaanku dengan kesiapan yang matang.

"Ada beberapa orang yang mengetahui kisah saya yang menyedihkan dan bersatu untuk membantu. Salah satunya Mr. Stapleton, tetangga dan teman dekat Sir Charles. Dia sangat ramah, dan melalui dirinyalah Sir Charles mengetahui masalah saya."

Aku sudah tahu Sir Charles Baskerville menjadikan Stapleton sebagai pembagi dermanya dalam beberapa kesempatan, jadi pernyataan wanita ini mengandung kebenaran

"Apa Anda pernah menulis surat kepada Sir Charles, memintanya bertemu dengan Anda?" lanjutku.

Wajah Mrs. Lyon kembali memerah karena marah.

"Yang benar saja, Sir, ini benar-benar pertanyaan yang luar biasa."

"Maafkan saya, Madam, tapi saya harus mengulanginya."

"Kalau begitu, jawaban saya jelas tidak."

"Tidak pada hari kematian Sir Charles?"

Seketika warna merah menghilang dari wajahnya, dan ekspresinya berubah sepucat mayat. Bibirnya yang kering tidak mampu mengucapkan kata "Tidak", yang lebih tepat kulihat daripada kudengar.

"Jelas ingatan Anda sudah menipu Anda," kataku. "Saya bahkan bisa mengutip sebagian dari surat Anda, Bunyinya 'Please, please, karena Anda seorang tuan terhormat, bakarlah surat ini, dan tunggulah di gerbang pada pukul sepuluh.'"

Kukira ia jatuh pingsan, tapi ia berhasil pulih dengan susah payah.

"Apa tidak ada lagi yang layak disebut orang terhormat?" katanya terperangah

"Anda sudah bersikap tidak adil kepada Sir Charles. Dia memang membakar surat itu. Tapi terkadang sebuah surat masih bisa dibaca sekalipun sudah dibakar. Jadi Anda mengakui telah menulis surat itu?"

"Ya, saya memang menulisnya," serunya, mengobral emosinya dengan serangkaian kata-kata. "Saya yang menulisnya. Kenapa saya harus mengingkarinya? Saya tidak memiliki alasan untuk merasa malu karenanya. Saya harap dia bisa membantu. Saya percaya kalau saya berbicara langsung dengannya, dia akan membantu, jadi saya minta dia menemui saya."

"Tapi kenapa pada jam selarut itu?"

"Karena saya baru tahu dia akan pergi ke London keesokan harinya dan mungkin tidak akan kembali selama berbulan-bulan. Ada alasan kenapa saya tidak bisa ke sana lebih awal."

"Tapi kenapa bertemu di kebun dan bukannya di rumah?"

"Anda kira seorang wanita bisa berkunjung ke rumah seorang bujangan sendirian pada jam selarut itu?"

"Well, apa yang terjadi sewaktu Anda tiba di sana?"

"Saya tidak pernah ke sana."

"Mrs. Lyons!"

"Tidak, saya bersumpah demi semua yang saya anggap suci. Saya tidak pernah ke sana. Ada kejadian lain yang menghalangi kepergian saya."

"Apa itu?"

"Itu masalah pribadi. Saya tidak bisa menceritakannya."

"Kalau begitu Anda mengakui Anda mengadakan janji temu dengan Sir Charles pada saat dan di tempat dia menemui ajalnya, tapi Anda mengingkari bahwa Anda menepati janji temu itu."

"Itu yang sebenarnya."

Berkali-kali aku menanyainya, tapi aku tidak pernah bisa melewati titik itu.

"Mrs. Lyons," kataku sambil bangkit berdiri, mengakhiri wawancara yang panjang dan tidak selesai ini, "Anda menanggung tanggung jawab yang sangat besar dan mengambil posisi yang salah dengan tidak mengungkapkan semua yang Anda ketahui. Kalau saya terpaksa meminta bantuan polisi, Anda akan tahu seberapa jauh keterlibatan Anda. Kalau Anda tidak bersalah, kenapa tadi Anda mencoba mengingkari telah menulis surat kepada Sir Charles pada tanggal itu?"

"Karena saya takut ada yang menarik kesimpulan yang salah dari kejadian itu, dan saya mungkin akan terlibat ke dalam skandal."

"Dan kenapa Anda begitu mendesak agar Sir Charles menghancurkan surat Anda?"

"Kalau Anda membaca suratnya, Anda pasti tahu."

"Saya tidak mengatakan saya sudah membaca seluruh surat."

"Anda mengutip sebagian darinya."

"Saya mengutip pesan tambahannya. Suratnya, seperti sudah saya katakan tadi, sudah dibakar dan tidak bisa dibaca lagi. Saya tanyakan sekali lagi, kenapa Anda begitu mendesak Sir Charles agar menghancurkan surat yang diterimanya pada hari kematiannya?"

"Masalah itu sangat pribadi."

"Berarti semakin penting bagi Anda untuk menghindari penyelidikan umum."

"Akan saya ceritakan, kalau begitu. Kalau Anda sudah mendengar cerita saya yang menyedihkan, Anda pasti tahu saya sudah menikah dengan tergesa-gesa dan memiliki alasan untuk menyesalinya."

"Saya sudah mendengarnya."

"Kehidupan saya merupakan penganiayaan yang tidak henti-hentinya dari suami yang saya benci. Hukum berpihak kepadanya, dan setiap hari saya menghadapi kemungkinan dia memaksa saya tinggal bersamanya. Pada waktu menulis surat itu kepada Sir Charles, saya tahu ada kemungkinan untuk mendapatkan kembali kebebasan saya bila bisa membayar biayanya. Itu berarti segalanya bagi saya—kedamaian pikiran, kebahagiaan, kehormatan—segalanya. Saya mengetahui kedermawanan Sir Charles, dan saya pikir kalau dia mendengar ceritanya dari saya sendiri, dia akan bersedia membantu."

"Kalau begitu, kenapa Anda tidak pergi?"

"Karena saya menerima bantuan dari sumber Iain."

"Lalu kenapa Anda tidak menulis surat kepada Sir Charles dan menjelaskannya?"

"Saya pasti berbuat begitu seandainya tidak membaca berita kematiannya di koran keesokan harinya."

Cerita wanita itu terasa masuk akal, dan semua pertanyaanku tidak mampu mengguncangnya. Aku hanya bisa memastikannya dengan memeriksa apakah ia memang benar mengajukan perceraian kepada suaminya pada saat atau sekitar saat tragedi itu.

Kecil kemungkinan ia berani berbohong tentang pembatalan kedatangannya ke Baskerville Hall, karena jelas ia memerlukan kereta untuk sampai ke sana, dan tidak akan bisa kembali ke Coombe Tracey sebelum dini hari. Perjalanan seperti itu tidak bisa dirahasiakan. Oleh karena itu, kemungkinannya ia sudah berbicara jujur. Atau, paling tidak, sebagian di antaranya merupakan kebenaran. Aku meninggalkannya dengan perasaan bingung dan kecewa. Sekali lagi aku menghadapi jalan buntu yang tampaknya ada di setiap jalan yang kupilih untuk mencapai tujuan misiku. Meskipun demikian, semakin kupikirkan ekspresi dan sikap wanita itu, aku semakin yakin ia menyembunyikan sesuatu. Kenapa ia berubah sepucat itu? Kenapa ia berusaha keras mengingkarinya sampai harus dipaksa mengungkapkannya? Kenapa ia begitu tertutup mengenai saat-saat seputar tragedi itu? Sudah pasti penjelasan semua ini tidak sesederhana seperti yang diyakinkanriya. Untuk saat ini aku tidak bisa melanjutkan penyelidikan di arah ini, aku harus kembali ke petunjuk lain yang harus kucari di antara gubuk-gubuk batu di rawa-rawa.

Dan itu arah yang paling samar. Kusadari hal itu. dalam perjalanan pulang dan mengingat kembali bagaimana bukit demi bukit menunjukkan jejak-jejak orang-orang kuno. Satu-satunya petunjuk yang diberikan Barrymore hanyalah kemungkinan orang asing itu tinggal di salah satu gubuk yang telah ditinggalkan. Dan ratusan gubuk seperti itu tersebar di seluruh rawa-rawa. Tapi aku memiliki pengalamanku sendiri yang bisa menjadi panduan, yang memperlihatkan orang itu berdiri di puncak bukit karang hitam—Black Tor. Jadi tempat itu akan menjadi pusat pencarianku. Dari sana aku harus menggeledah setiap gubuk di rawa-rawa hingga menemukan gubuk yang tepat. Kalau orang ini ada di dalamnya, aku akan tahu dari mulutnya sendiri—di bawah todongan revolverku kalau perlu—siapa dirinya dan kenapa ia mengikuti kami selama ini. Ia mungkin berhasil meloloskan diri dalam keramaian Regent Street, tapi ia tidak akan bisa melakukannya di rawa-rawa yang sepi ini. Di sisi lain, kalau aku bisa menemukan gubuknya dan penghuninya tidak ada di dalamnya, aku harus tinggal di sana, tidak peduli berapa lama, hingga ia kembali. Holmes telah kehilangan dirinya di London. Jelas akan merupakan kemenangan bagiku kalau bisa melacak dan menangkapnya, sementara "Tuanku" gagal.

Keberuntungan telah berkali-kali menentang kami dalam penyelidikan ini, tapi sekarang akhirnya keberuntungan membantuku. Dan kurir nasib baik itu tidak lain adalah Mr. Frankland yang tengah berdiri—dengan kumis kelabu dan wajah kemerahannya—di luar gerbang kebunnya yang terbuka ke jalan raya yang kulalui.

"Selamat siang, Dr. Watson," serunya dengan selera humornya yang unik. "Kau harus mengistirahatkan kuda-kudamu dan mampir untuk segelas anggur serta memberiku ucapan selamat."

Perasaanku terhadapnya jauh dari ramah setelah mendengar caranya memperlakukan putrinya, tapi aku sangat ingin menyuruh Perkins dan keretanya pulang, dan ini jelas kesempatan bagus. Aku turun dari kereta dan meninggalkan pesan untuk Sir Henry bahwa aku akan pulang berjalan kaki tepat pada waktunya untuk makan malam. Lalu kuikuti Frankland ke ruang makannya.

"Ini hari yang hebat bagiku, Sir—salah satu hari terbesar seumur hidupku," serunya sambil tertawa-tawa. "Aku berhasil memenangkan dua kejadian. Aku bermaksud mendidik orang-orang di kawasan ini bahwa hukum adalah hukum, dan ada di antara mereka yang tidak takut melanggarnya. Aku berhasil menetapkan keberadaan jalan melintasi tengah-tengah taman milik Middleton tua, melintang, Sir, sekitar seratus meter dari pintu depan rumahnya. Apa pendapatmu? Kita akan mengajari para jutawan ini untuk tidak melupakan hak-hak rakyat kecil! Dan aku sudah menutup hutan yang biasa digunakan keluarga Fernworthy berpiknik. Orang-orang ini tampaknya mengira tidak ada yang namanya hak properti, dan bahwa mereka bisa berbuat sesuka hati dengan uang dan minuman mereka. Kedua kasus sudah diputuskan, Dr. Watson, dan keduanya kumenangkan. Aku belum pernah mengalami hari seperti ini sejak berhasil mengalahkan Sir John Morland dengan tuntutan melanggar batas karena dia berburu di padangnya sendiri."

"Bagaimana caramu melakukannya?"

"Carilah di buku-buku, Sir. Ada gunanya untuk dibaca—Frankland melawan Morland, Pengadilan Queen's Bench. Aku harus mengeluarkan 200 pound untuk itu, tapi berhasil memenangkan kasusnya."

"Adakah gunanya bagimu?"

"Tidak ada, Sir, tidak ada. Aku bangga mengatakan aku tidak mendapat keuntungan dari kasus-kasus ini. Aku bertindak sepenuhnya karena kewajiban sebagai warga negara. Aku tidak ragu, misalnya, bahwa keluarga Fernworthy siap membakar patungku malam ini. Sudah kukatakan kepada polisi saat terakhir kali mereka melakukannya bahwa mereka seharusnya menghentikan pameran memalukan itu. Kepolisian Wilayah benar-benar lembaga yang memalukan, Sir, dan sama sekali tidak memberikan perlindungan yang selayaknya kudapatkan. Kasus Frankland melawan Regina akan menarik perhatian masyarakat. Sudah kukatakan mereka akan menyesali perlakuan mereka terhadapku, dan kata-kataku sudah menunjukkan kebenaran."

"Bagaimana caranya?" tanyaku.

Pria tua itu memancarkan ekspresi sok tahu.

"Karena aku tahu apa yang sangat ingin mereka ketahui, tapi takkan ada yang bisa mendorongku membantu para keparat itu."

Semula aku sudah mulai mencari-cari alasan untuk menghindari gosipnya, tapi sekarang aku ingin mendengar lebih banyak lagi. Aku sudah melihat cukup banyak sifat bertentangan dalam dirinya untuk memahami bahwa tanda ketertarikan yang kuatlah yang bisa menghentikan ocehannya.

"Perburuan gelap?" kataku dengan sikap tak acuh.

"Ha, ha, Nak, ini jauh lebih penting dari itu! Bagaimana kalau narapidana di rawa-rawa?"

Aku terkejut. "Maksudmu kau tahu di mana dia berada?" tanyaku.

"Aku mungkin tidak tahu tepatnya, tapi aku cukup yakin bisa membantu polisi menangkapnya. Pernahkah terlintas dalam benakmu bahwa cara menangkap orang itu adalah dengan mengetahui dari mana dia mendapatkan makanannya dan lalu melacaknya?"

Ia jelas tampak semakin tidak nyaman saat mendekati kebenaran. "Tidak ragu lagi," kataku, "tapi dari mana kau tahu dia berada di rawa-rawa?"

"Aku tahu karena aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri orang yang mengantarkan makanannya."

Aku seketika mengkhawatirkan Barrymore. Masalahnya bisa gawat bila jatuh ke tangan orang tua sok sibuk ini. Tapi komentarnya yang berikut mengangkat beban dari benakku.

"Kau akan terkejut kalau tahu makanannya diantar oleh seorang anak. Aku melihat bocah itu setiap hari melalui teleskopku di atap. Dia melewati jalan yang sama pada jam yang sama, dan kepada siapa dia mengirimkannya kalau bukan kepada narapidana itu?"

Ini yang namanya keberuntungan! Namun aku berusaha keras tidak menunjukkan ketertarikanku. Seorang anak! Barrymore pernah mengatakan bahwa orang asing di bukit karang mendapat pasokan dari anak laki-laki. Frankland tanpa sengaja menemukan jejak orang asing itu, bukan jejak si narapidana. Kalau aku bisa mendapatkan informasi tentangnya, mungkin aku tidak perlu bersusah payah mencari-cari. Tapi ketakacuhan dan ketidakpedulian adalah kartu terbaikku.

"Menurutku lebih mungkin itu putra salah satu penggembala di rawa-rawa yang mengirimkan makan malam untuk ayahnya." Bantahanku bagai menampar wajah aristokrat tua itu. Matanya memandangku kejam, dan kumisnya yang beruban bergerak-gerak bagai kumis kucing yang marah.

"Yang benar saja, Sir!" katanya sambil menunjuk ke arah rawa-rawa yang terbentang luas. "Kau lihat Black Tor di sana itu? Lalu kau lihat bukit rendah di baliknya yang dipenuhi semak duri? Itu kawasan paling berbatu-batu di seluruh rawa-rawa. Menurutmu ada penggembala yang menggembalakan ternaknya di tempat itu? Pendapatmu, Sir, konyol sekali."

Dengan merendahkan diri kujawab aku telah berbicara tanpa mengetahui semua faktanya. Sikapku membuatnya senang dan menyebabkan ia melanjutkan celotehnya.

"Kau boleh yakin, Sir, aku memiliki dasar yang kuat sebelum menyusun pendapat itu. Aku sudah melihat bocah itu berulang-ulang membawa buntalannya. Setiap hari, dan terkadang dua kali sehari, aku bisa—tunggu sebentar, Dr. Watson. Apa mataku sudah menipuku, atau memang ada gerakan di lereng bukit di scbelah sana itu?"

Lereng itu beberapa mil jauhnya, tapi aku bisa melihat dengan jelas bintik hitam kecil di permukaannya yang hijau dan kelabu pudar.

"Ayo, Sir, ayo!" seru Frankland sambil bergegas menaiki tangga. "Kau akan melihat dan menilainya sendiri."

Teleskopnya, terpasang pada sebuah kaki tiga, berdiri di bagian atap yang datar. Frankland menempelkan matanya ke sana dan berseru penuh kepuasan.

"Cepat, Dr. Watson, cepat, sebelum dia melewati bukit!"

Memang benar, bocah kecil itu ada di sana membawa buntalan di bahunya, perlahan-lahan mendaki bukit. Sewaktu tiba di puncaknya kulihat sosok kecil itu sekilas dengan latar belakang langit biru yang dingin. Anak itu memandang sekitarnya dengan sikap hati-hati dan diam-diam, seperti orang yang khawatir diikuti. Lalu ia menghilang di balik bukit.

"Well! Aku benar, bukan?"

"Jelas, bocah itu tampaknya sedang melaksanakan tugas rahasia."

"Bahkan polisi desa pun bisa menebak tugas apa itu. Tapi mereka tidak akan mendengar sepatah kata pun dariku, dan kuminta kau juga merahasiakannya, Dr. Watson. Tidak sepatah kata pun! Kau mengerti!"

"Tentu saja."

"Mereka sudah memperlakukan diriku dengan cara yang memalukan—memalukan. Pada saat fakta-fakta kasus Frankland melawan Regina terungkap, aku berani menduga gelombang rasa malu akan menyapu seluruh negeri. Tidak ada apa pun yang bisa mendorongku membantu polisi, dengan cara apa pun. Bagi mereka lebih baik aku yang terbakar, dan bukannya patungku. Jelas kau tidak akan pergi! Kau akan membantuku menghabiskan isi guci minuman untuk menghormati kesempatan besar ini!"

Tapi kutolak semua tawarannya dan berhasil membujuknya untuk tidak menemaniku berjalan kaki pulang. Aku tetap menyusuri jalan sejauh ia menatapku, lalu aku menyeberang ke rawa-rawa dan menuju ke perbukitan batu tempat bocah tadi menghilang. Segala sesuatu berjalan dengan baik, dan aku bersumpah aku tidak akan kehilangan kesempatan hanya karena aku kekurangan tenaga atau ketekunan.

Matahari telah terbenam sewaktu aku tiba di puncak bukit, dan lereng panjang di bawahku berwarna hijau keemasan di satu sisi dan kelabu suram di sisi lain. Kabut menggantung rendah di kaki langit seberang, tempat sosok-sosok Belliver dan Vixen Tor yang fantastis mencuat. Di sana tidak terdengar suara atau terlihat gerakan apa pun. Seekor burung kelabu besar, albatros atau curlew, membubung di langit biru. Burung itu dan aku tampaknya merupakan satu-satunya makhluk hidup di antara lengkungan raksasa langit dan padang di bawahnya. Pemandangan yang kering kerontang itu, rasa kesepian, dan kemisteriusan serta pentingnya tugasku, menyebabkan aku menggigil. Si bocah tidak terlihat di mana pun. Tapi di ceruk bukit di bawahku terdapat lingkaran gubuk-gubuk batu tua, dan di bagian tengahnya terdapat satu gubuk yang atapnya masih cukup utuh untuk berlindung dari cuaca. Jantungku bagai terlonjak saat melihatnya. Ini pasti gubuk orang asing itu. Akhirnya kakiku menginjak tempat persembunyiannya—rahasianya telah berada dalam genggaman tanganku.

Saat mendekati gubuk itu, melangkah hati-hati seperti Stapleton sewaktu ia mendekatkan jaringnya ke kupu-kupu yang tengah bertengger, kudapati tempat itu memang telah dihuni. Jalan setapak samar di antara bebatuan membentang hingga ke celah reyot yang berfungsi sebagai pintu. Suasana di dalam sunyi sepi. Orang asing itu mungkin mengintai di sana, atau tengah berkeliaran di rawa-rawa. Sarafku bagai bergetar karena petualangan ini. Setelah membuang rokokku, kugenggam tangkai revolverku dan, setelah dengan lincah mendekati pintu, memandang ke dalam. Tempat itu kosong.

Tapi terdapat banyak tanda yang menunjukkan aku tidak mengikuti jejak yang salah. Jelas orang itu tinggal di sini. Ada beberapa helai selimut yang tergulung dalam wadah anti-air yang tergeletak di kepingan batu besar, tempat manusia neolitikum dulunya tidur. Abu sisa-sisa api unggun menggunung di perapian kasar. Di sampingnya tergeletak sejumlah peralatan masak dan ember yang separo terisi air. Kaleng-kaleng kosong yang berserakan menunjukkan tempat ini telah cukup lama dihuni. Dan, saat mataku mulai terbiasa dengan keremangan, kulihat sebotol minuman keras yang separo terisi berdiri di sudut ruangan. Di tengah-tengah gubuk terdapat sekeping batu datar yang berfungsi sebagai meja, dan di atasnya mengonggok buntalan kain kecil—tidak ragu lagi itu buntalan yang dibawa bocah yang kulihat melalui teleskop tadi. Buntalan itu berisi sepotong roti, lidah kalengan, dan dua kaleng buah peach. Saat meletakkannya kembali sesudah memeriksanya, jantungku terlonjak menemukan sehelai kertas di bawahnya yang berisi tulisan. Kuangkat kertas itu, dan inilah yang kubaca, ditulis tangan dengan pensil: "Dr. Watson pergi ke Coombe Tracey."

Selama semenit aku berdiri dengan memegangi kertas itu, memikirkan arti pesan singkat ini. Kalau begitu, akulah yang diikuti orang misterius ini, dan bukan Sir Henry. Ia tidak mengikutiku sendiri, tapi sudah mengatur seorang agen—mungkin bocah itu—untuk melacakku. Dan ini adalah laporannya. Mungkin seluruh kegiatanku di rawa-rawa ini sudah diamati dan dilaporkan.

Selalu ada perasaan akan hadirnya kekuatan yang tidak kasat mata, jaring-jaring halus yang ditebarkan di sekeliling kami dengan keahlian dan kehati-hatian luar biasa, mencengkeram kami dengan begitu lembutnya sehingga hanya pada saat-saat puncak sajalah seseorang menyadari bahwa dirinya telah tertangkap.

Kalau ada satu laporan, mungkin ada laporan lain, jadi aku mencari-cari dalam gubuk itu. Tapi tidak ada laporan lain, dan aku juga tidak menemukan tanda-tanda apa pun yang mungkin menunjukkan karakter atau niat orang yang menghuni tempat yang aneh ini, kecuali ia memiliki kebiasaan yang sangat sedikit dan tidak memedulikan kenyamanan hidup. Sewaktu memikirkan hujan lebat dan menengadah memandang atap yang ternganga, kusadari betapa kuat dan tidak tergoyahkannya tujuan yang telah menahan orang ini di gubuk yang tidak ramah ini. Apakah ia musuh kami, atau kebetulan ia justru malaikat pelindung kami? Aku bersumpah tidak meninggalkan tempat ini sebelum mengetahuinya.

Di luar matahari terus terbenam semakin rendah dan kaki langit barat berwarna kemerahan dan keemasan. Cahayanya terpantul kembali oleh kubangan-kubangan lumpur di tengah-tengah Grimpen Mire. Dari tempat ini tampak kedua menara Baskerville Hall, dan juga asap samar di kejauhan yang menandakan Desa Grimpen. Di antara keduanya, di balik bukit, terletak rumah keluarga Stapleton. Suasananya terasa sendu dan damai di bawah cahaya keemasan senja, namun saat memandangnya, jiwaku tidak merasakan kedamaian alam, melainkan justru kengerian akan wawancara yang sebentar lagi akan berlangsung. Dengan saraf gemetar tapi tekad bulat, aku duduk dalam kegelapan gubuk dan menunggu dengan sabar kepulangan penghuninya.

Pada akhirnya kudengar kedatangannya. Dari kejauhan terdengar dentingan tajam sepatu bot menghantam kerikil. Lalu lagi dan lagi, semakin lama semakin dekat. Aku menyurut ke sudut yang paling gelap dan mengokang pistol di sakuku, membulatkan tekad untuk tidak menunjukkan diri sampai mendapat kesempatan memperhatikan orang asing itu. Timbul kesunyian yang cukup lama, yang menunjukkan orang asing itu berhenti. Lalu sekali lagi terdengar suara langkah kaki mendekat disusul bayang-bayang jatuh melewati ambang pintu gubuk.

"Malam yang indah, Watson," kata seseorang yang sangat kukenal. "Menurutku kau akan merasa lebih nyaman di luar daripada di dalam."