Isa Whitney adalah seorang pecandu berat. Padahal dia itu saudara Iaki-laki almarhum Elias Whitney, D.D., Direktur Sekolah Tinggi Teologia St. George. Kejadian aneh menimpanya ketika dia masih mahasiswa, yang menyebabkannya tertarik untuk mencoba mengisap candu. Dia membaca buku karangan De Quincey, yang menggambarkan impian-impian dan perasaan-perasaan dalam kenikmatan yang melambung tinggi. Dia lalu membubuhi rokoknya dengan candu, dalam upayanya untuk menghayati impian-impian dan perasaan-perasaan yang digambarkan oleh penulis itu. Dia lalu menyadari, sebagaimana orang-orang lain yang pernah coba-coba mengisap candu, bahwa dia mulai ketagihan dan tak bisa melepaskan diri dari keinginan untuk mengisapnya secara terus-menerus. Selama bertahun-tahun dia menjadi budak obat bius itu, sampai menimbulkan rasa ngeri dan kasihan teman-teman dan keluarganya. Dapat kubayangkan penampilan Isa Whitney kini, duduk meringkuk di kursi dengan wajah pucat, kelopak dan bola mata terkulai. Orang pasti tak akan menyangka bahwa dulu dia seorang pria terhormat.

Suatu malam dalam bulan Juni 1889, bel di rumahku berdering. Saat itu sebetulnya sudah jam tidur. Aku meluruskan punggungku di tempat duduk, dan istriku menaruh sulamannya di pangkuannya. Wajahnya agak mendongkol.

"Pasien lagi!" katanya. "Berarti kau harus pergi malam malam begini?'

Aku mengeluh, karena aku baru saja kembali dari praktek seharian yang melelahkan.

Kami mendengar pintu depan dibuka, pembicaraan singkat, lalu langkah-langkah yang bergegas menuju ruang duduk kami. Pintu dibuka, dan seorang wanita berbaju dan bercadar hitam memasuki ruangan.

"Maafkan aku, karena berkunjung malam-malam begini," katanya, lalu tiba-tiba dia tak bisa menguasai dirinya. Dia lari ke depan, menjatuhkan dirinya ke pelukan istriku, dan menangis tersedu-sedu di pundaknya. "Oh! Aku sedang dalam kesulitan!" isaknya. "Aku butuh pertolongan."

"Lho," kata istriku sambil mengangkat cadar di wajah tamu kami, "Kate Whitney. Aku kaget sekali tadi, Kate! Aku tak mengenalimu."

"Aku tak tahu harus berbuat apa, maka aku langsung kemari"

Begitulah yang sering terjadi. Orang-orang yang sedang dalam kesusahan langsung berlari kepada istriku bagaikan burung yang terpikat oleh cahaya mercu suar.

"Senang sekali kau datang kemari. Nah, sebaiknya kau minum dulu, duduk yang nyaman, lalu ceritakan apa yang telah terjadi kepada kami berdua. Atau apakah James biar pergi tidur saja?"

"Oh, tidak, tidak. Aku juga perlu nasihat dan bantuannya. Ini menyangkut diri Isa. Sudah dua hari dia tak pulang. Aku sangat mencemaskan keadaannya!"

Sudah berkali-kali dia menceritakan masalah suaminya kepada kami. Aku bertindak sebagai dokter, dan istriku bertindak sebagai teman lamanya sejak di sekolah dulu. Kami menenangkan dan menghiburnya dengan segenap kemampuan kami. Apakah dia tahu di mana suaminya? Apakah kami bisa membawanya pulang?

Nampaknya bisa. Dia mendapat informasi bahwa akhir-akhir ini suaminya sering pergi ke pondok candu di ujung timur City. Sebelum ini, kalaupun suaminya sedang ketagihan, malam harinya dia pasti pulang ke rumah, walau dalam keadaan yang mengenaskan. Tapi kali ini, suaminya sudah pergi selama dua hari dua malam... terbayang olehnya sang suami tergeletak teler di antara pecandu-pecandu lainnya. Suaminya harus dijemput dari tempat bernama Emas Batangan itu, yang terletak di daerah Upper Swandam Lane. Tapi apa dayanya? Bagaimana mungkin seorang wanita muda yang lemah seperti dia, harus pergi ke tempat semacam itu untuk menarik suaminya dari antara bajingan-bajingan yang mengelilinginya?

Begitulah masalahnya, dan tentu saja hanya ada satu jalan untuk menyelesaikannya. Mungkin sebaiknya aku menemaninya pergi ke sana? Tapi kemudian aku berpikir lebih jauh, untuk apa dia ikut? Aku kan penasihat medis Isa Whitney, jadi aku mungkin bisa mengajaknya pulang. Ya, kurasa lebih baik aku pergi sendiri. Aku berjanji pada wanita itu bahwa aku akan mengirim suaminya pulang dalam dua jam ini, kalau dia benar-benar berada di tempat yang dikatakannya. Sepuluh menit kemudian aku telah meninggalkan rumah dan bergegas menuju ke arah timur dengan kereta untuk tugas yang saat itu kurasakan sangat aneh bagiku walaupun baru kemudianlah benar-benar terbukti betapa anehnya tugasku itu.

Aku tak mengalami kesulitan pada awal petualanganku. Upper Swandam Lane adalah sebuah gang kumuh yang terletak di belakang dermaga yang menjulang tinggi di sepanjang sungai sebelah utara sampai sebelah timur Jembatan London. Tempat yang kucari terletak di antara toko pakaian dan toko minuman keras. Untuk sampai ke tempat itu yang ternyata di bawah tanah aku harus melewati tangga yang sempit dan curam, lalu masuk ke celah yang gelap bagaikan mulut sebuah gua. Setelah meminta kusir kereta menunggu, aku menuruni tangga itu. Aku harus berjalan dengan hati-hati karena bagian tengahnya bolong-bolong—rupanya karena keseringan dilewati orang mabuk. Akhirnya aku sampai ke pintu masuknya. Di atasnya ada lampu minyak yang berkedip-kedip. Kubuka pintu itu, dan aku pun lalu masuk ke sebuah ruangan yang panjang beratap rendah, penuh dengan asap candu berwarna coklat, dan dipetak-petak dengan dipan kayu, bagaikan kapal bermuatan orang-orang yang hendak beremigrasi ke negara lain.

Samar-samar terlihat tubuh tubuh yang bergelimpangan dalam pose yang aneh-aneh. Ada yang bahunya melengkung ke depan, ada yang lututnya dibengkokkan, ada yang kepalanya menengadah jauh ke belakang sehingga dagunya mendongak ke atas, dan di sana-sini nampak pandangan mata yang sayu dan kelam menengok ke arah tamu yang baru datang. Di balik bayang-bayang hitam itu, berkedip-kedip bulatan bulatan merah di udara. Cahaya merah itu bersinar terahg saat pipa-pipa logam berisi candu disulut, dan meredup seiring dengan menyusutnya isi pipa. Kebanyakan pemadat yang ada di situ dalam keadaan terbaring diam, tapi ada juga yang komat-kamit berbicara tak menentu kepada dirinya sendiri, atau berbicara bersama-sama dalam suara yang aneh, rendah, dan nadanya monoton. Pembicaraan itu tak terkendali, kadang-kadang ramai, kadang-kadang tiba-tiba diam. Masing-masing mengucapkan pikirannya tanpa memperhatikan kata-kata teman di sebelahnya. Pada salah satu sudut di kejauhan, aku melihat anglo kecil berisi arang yang menyala. Di sampingnya, di sebuah kursi berkaki tiga tanpa sandaran, duduk seorang pria kurus, tua, dan tinggi. Rahangnya bertelekan pada kedua kepalan tangannya, dan dahinya bertengger di lututnya. Dia sedang menatap api di sebelahnya.

Aku melangkah lebih ke dalam. Seorang pelayan asal Malaysia yang berkulit kuning, langsung menghampiriku dengan membawa pipa dan candu, dan menunjukkan sebuah dipan kosong.

"Terima kasih, saya datang bukan untuk mengisap candu," kataku. "Ada seorang teman saya di sini. Namanya Isa Whitney, dan saya perlu bicara dengannya."

Tiba-tiba ada seseorang mendekatiku dari samping kanan sambil berteriak, Ketika kutengok, ternyata Whitney. Dia sedang menatapku. Wajahnya pucat, cekung, dan rambutnya awut-awutan.

"Ya, Tuhan! Watson," katanya. Keadaannya memelas sekali, suaranya gugup. "Katakan, Watson, jam berapa sekarang?"

"Hampir jam sebelas malam."

"Hari apa?"

"Jumat, tanggal 19 Juni."

"Astaga! Kupikir masih hari Rabu. Tapi memang Rabu kan? Untuk apa kau mcnakut nakutiku?" Ditutupinya wajahnya dengan kedua tangannya, dan dia mulai tersedu-sedu secara tak terkendalikan.

"Dengar, ini sudah hari Jumat, Bung. Istrimu menunggumu selama dua hari ini. Kau mestinya merasa malu pada dirimu sendiri!"

"Memang. Tapi kau keliru, Watson, karena aku baru beberapa jam berada di sini, cuma mengisap tiga, empat, atau berapa ya, aku lupa sih. Tapi baiklah, aku akan pulang bersamamu. Aku tak ingin membuat Kate cemas... Kate mungilku yang malang. Tolong tanganmu, aku perlu pegangan! Kaubawa kereta?"

"Ya. Ada di luar sana."

"Baiklah, aku akan pergi bersamamu. Tapi rasanya aku punya utang, Watson. Tolong cari tahu berapa utangku. Aku lemah sekali. Aku tak bisa berbuat apa-apa."

Aku berjalan melintasi orang-orang yang sedang terkapar, sambil menahan napasku dari asap candu yang menjijikkan dan memusingkan kepala itu. Aku ingin bertemu dengan manajer tempat ini. Ketika aku melewati pria tinggi yang duduk di dekat anglo, tiba-tiba celanaku ditarik oleh seseorang. Lalu terdengar suara yang rendah berbisik, "Teruslah berjalan, lalu menengoklah ke arahku." Kata-kata itu terdengar jelas di telingaku. Aku menengok. Suara tadi pasti berasal dari pria tua di sampingku, tapi kulihat dia sedang duduk dalam keadaan teler. Tubuhnya kurus sekali dan bungkuk, wajahnya penuh kerut merut. Sebuah pipa candu tergantung di antara kedua lututnya, seolah-olah telah terjatuh begitu saja dari tangannya. Aku melangkah maju dua langkah, lalu menoleh ke belakang. Aku benar-benar harus mengendalikan diriku agar tidak berteriak keheranan. Dia telah membalikkan badannya sehingga cuma aku yang dapat melihat dirinya. Wujud pria tua yang kulihat tadi sudah berubah, kerut merutnya menghilang, mata yang kuyu tadi kini jadi bersinar, dan di dekat api itu Sherlock Holmes sedang duduk sambil menyeringai melihat keterkejutanku. Dia memberi tanda agar aku mendekat kepadanya, dan dalam sekejap ketika dia menengok ke arah lain, dia kembali menjadi pria tua yang mengerikan tadi.

"Holmes!" bisikku "Apa gerangan yang kau lakukan di tempat seperti ini?"

"Bicaralah sepelan mungkin," jawabnya, "telingaku masih baik. Kalau kau bisa melepaskan diri dari temanmu yang lagi teler itu, aku perlu bicara denganmu sebentar."

"Aku ditunggu kereta di luar."

"Kalau begitu, biarlah temanmu pulang sendiri dengan kereta itu! Dia pasti akan sampai dengan selamat, karena tubuhnya terlalu lemah untuk berbuat yang tidak-tidak. Titiplah pesan kepada pengemudi kereta, katakan pada istrimu bahwa kau kebetulan bertemu denganku. Silakan tunggu di luar, akan kususul lima menit lagi."

Tak mudah bagiku untuk menolak permintaan Holmes, karena permintaannya selalu begitu tegasnya, dan bagaikan perintah yang tak bisa kuabaikan begitu saja. Lagi pula kalau Whitney sudah berada di kereta yang akan mengantarnya pulang, berarti sudah selesailah tugasku, dan selanjutnya dengan senang hati aku akan menemani Holmes bertualang. Dalam beberapa menit saja aku telah selesai menulis pesan untuk istriku, membayar utang-utang Whitney, memapahnya keluar menuju kereta, dan melihatnya menghilang di kejauhan bersama kereta itu. Sejenak kemudian, sesosok tubuh tua muncul dari pondok candu, dan aku pun lalu menemani sosok itu yang sebenarnya adalah Sherlock Holmes. Selama melewati dua gang, dia berjalan dengan punggung dibungkukkan dan langkah sempoyongan. Setelah itu, dia menoleh ke sekeliling dengan sigap, lalu menegakkan tubuhnya kembali dan tertawa terpingkal-pingkal.

"Kurasa, Watson," katanya, "kau pasti menduga bahwa aku telah terjerumus ke praktek mengisap candu sebagai lanjutan dari kebiasaan menyuntikkan kokain atau kebiasaan-kebiasaan lain yang dari segi medis amat merugikan diriku."

"Aku memang terkejut ketika melihatmu di dalam sana tadi!"

"Kaupikir aku tak terkejut ketika melihatmu?"

"Aku kan cuma mau menjemput teman."

"Dan aku cuma mau menjemput musuh."

"Musuh?"

"Ya, salah satu musuh biasa, atau lebih tepatnya, orang yang sedang kumangsa. Secara ringkas, Watson, aku sedang menjalankan penyelidikan yang besar, dan aku mengharap akan menemukan petunjuk di antara para pemabuk dan pecandu yang awut-awutan tadi, sebagaimana biasa kulakukan sebelum ini. Tapi kalau aku sampai ketahuan berada di pondok itu, pasti nyawaku sudah melayang, karena aku pernah memakai tempat itu untuk kepentingan penyelidikanku, dan si bajingan Lascar yang mengusahakan tempat itu telah bersumpah akan membalas dendam kepadaku. Di bagian belakang gedung itu, yaitu di ujung Paul's Wharf, ada pintu jebakan. Melalui pintu itulah pada malam buta dilakukan pembuangan benda benda yang sudah tak terpakai lagi."

"Apa? Maksudmu pasti bukan mayat manusia, kan?"

"Ah, ya, memang mayat, Watson. Kita bisa jadi kaya, kalau bisa menemukan mayat pecandu-pecandu yang menemui ajalnya di pondok itu dan menjualnya dengan harga seribu pound sebuahnya. Tempat itu merupakan perangkap pembunuhan yang paling keji di seluruh daerah ini, dan jangan-jangan Neville St. Clair telah masuk ke situ dan tak akan pernah muncul lagi. Nah, kereta kita ada di sana!"

Dia menaruh kedua jari telunjuk di mulutnya dan bersiul dengan nyaring. Kode ini segera dijawab dengan siulan pula dari kejauhan lalu terdengar derak kereta yang pada kedua sisinya diterangi lampu. Kereta itu mendekat ke arah kami.

"Kau mau ikut aku, tidak?"

"Hanya kalau ada gunanya."

"Oh, teman yang dapat dipercaya selalu ada gunanya. Apalagi kalau dia juga seorang penulis. Kamarku di Vila Cedars bisa untuk berdua, kok"

"Vila Cedars?"

"Ya, milik Mr. St. Clair. Aku tinggal di sana sementara melakukan penyelidikan."

"Di daerah mana itu?"

"Dekat Lee, Kent, kira-kira sebelas kilometer dari sini."

"Tapi aku sama sekali tak tahu-menahu tentang kasusmu ini."

"Tentu saja. Tapi sebentar lagi kau akan tahu semuanya. Yuk, naik sini! Baiklah, John, kami tak memerlukanmu lagi. Nih, sedikit persen untukmu. Besok pagi, ke tempatku jam sebelas, ya? Tolong arahkan kudanya! Sampai besok!"

Dicambuknya kuda itu, dan kami pun melaju menembus jalanan demi jalanan yang sepi dan suram. Jalanan makin lama makin melebar, lalu kami melewati sebuah jembatan lebar yang di bawahnya mengalir sungai yang tak jelas terlihat. Di hadapan kami terbentang bangunan-bangunan bata dan mortar, sunyi senyap menyelimuti sekeliling. Hanya kadang-kadang saja terdengar langkah polisi yang sedang patroli, atau nyanyian dan teriakan segerombolan orang yang sedang berhura-hura. Searak "buih" bergerak dengan lamban di langit, dan hanya ada satu atau dua bintang yang berkedip samar-samar di atas sana, di antara arak-arakan awan. Holmes mengendarai kereta tanpa berkata sepatah pun kepalanya tertunduk sebagaimana layaknya seorang yang sedang asyik berpikir, sementara aku duduk di sampingnya dengan penuh rasa ingin tahu. Penyelidikan macam apakah yang telah begitu menyita energinya? Aku tak berani bertanya kepadanya, karena kuatir akan mengganggu keasyikannya berpikir. Kami telah menempuh perjalanan sepanjang beberapa kilometer, dan sedang mendekati vila-vila pedesaan, ketika temanku tiba-tiba menggelengkan kepalanya, mengangkat bahunya, dan menyulut pipa, seolah-olah merasa puas karena telah melakukan sesuatu dengan sempurna.

"Kau memiliki karunia yang luar biasa untuk berdiam diri, Watson," katanya, "sehingga sebagai teman seperjalananku, kau benar-benar hebat. Betapa beruntungnya aku mempunyai teman yangbisa diajak berbincang-bincang, karena pikiranku saat ini sedang agak kacau. Apa, ya, yang nanti harus kukatakan kepada wanita mungil pemilik rumah itu, kalau dia menyambut kedatanganku?"

"Kau lupa bahwa aku sama sekali tak tahu-menahu soal kasusmu yang baru ini."

"Masih ada waktu untuk menceritakannya kepadamu sebelum kita sampai ke Lee. Kasus ini kelihatannya sepele, tapi aku tak tahu harus mulai dari mana. Ada banyak petunjuk, namun aku belum dapat memutuskan yang mana yang harus kuikuti. Sekarang, akan kuceritakan kasus ini dengan tuntas kepadamu, Watson, mungkin kau bisa menemukan sedikit titik terang."

"Silakan, kalau begitu."

"Beberapa tahun yang lalu, tepatnya pada bulan Mei 1884, seseorang yang nampaknya cukup kaya bernama Neville St. Clair menetap di Lee. Dia membeli sebuah vila yang besar, membenahi tanah sekelilingnya, dan hidup dengan tenteram. Lama-kelamaan, dia mulai berteman dengan beberapa orang di lingkungan situ, dan pada tahun 1887 dia menikah dengan putri seorang pembuat bir lokal. Mereka kini mempunyai dua anak. Dia tak punya pekerjaan, tapi tertarik pada beberapa perusahaan. Tiap pagi dia pergi ke kota, lalu kembali naik kereta api pukul 17.14 dari Cannon Street. Mr. St. Clair kini berusia tiga puluh tujuh tahun, dengan kebiasaan-kebiasaan yang umum. Dia seorang suami yang baik, ayah yang penuh kasih sayang, dan populer di antara teman-temannya. Saat ini dia memang punya utang sebanyak 88 pound 10 shilling, tapi dia punya simpanan di Capital & Counties Bank sebanyak 220 pound. Jadi, dia tak sedang menghadapi kesulitan ke-uangan.

"Pada hari Senin yang lalu, Mr. Neville St. Clair pergi ke kota agak lebih pagi dari biasanya. Sebelum berangkat, dia sempat mengatakan kepada istrinya bahwa ada dua urusan penting yang harus ditanganinya, dan berjanji akan membelikan balok-balok mainan untuk anaknya yang kecil. Nah, tak lama setelah kepergiannya, istrinya menerima telegram yang mengabarkan bahwa kiriman paket yang sudah lama ditunggu-tunggunya telah tiba, dan dia diminta mengambilnya di Aberdeen Shipping Company. Kalau kau kenal London dengan baik, maka kau akan tahu bahwa kantor perusahaan ekspedisi itu letaknya di Fresno Street, yang tak jauh dari Upper Swandam Lane, tempat kita bertemu tadi. Mrs. St. Clair lalu makan siang, berangkat ke City, belanja sebentar, menuju ke kantor perusahaan itu, mengambil paketnya, dan pada jam 16.35 berjalan melintasi Swandam Lane menuju stasiun. Sampai di sini, apakah kau bisa mengikuti kisah ini?"

"Sangat jelas."

"Kalau kau ingat hari Senin yang lalu cuacanya sangat panas, dan Mrs. St. Clair berjalan perlahan lahan dengan harapan akan ada kereta yang lewat, karena sekitar situ bukanlah lingkungan yang baik. Ketika dia berjalan melewati Swandam Lane itu, tiba tiba dia mendengar seseorang berseru. Ketika dia mendongak, alangkah terkejutnya dia, karena dia melihat suaminya sedang menatapnya dari atas, seolah-olah mengisyaratkan sesuatu. Suaminya berada di jendela lantai atas sebuah gedung. Jendela itu terbuka, dan secara samar-samar dia melihat wajah suaminya yang amat gelisah. Suaminya melambaikan tangan dengan bingung, lalu secara amat tiba-tiba menghilang dari jendela itu seolah-olah ditarik oleh sesuatu yang kuat di belakangnya. Mata wanita itu segera menangkap adanya sesuatu yang aneh pada diri suaminya. Dia masih mengenakan jas warna gelap yang dipakainya dari rumah, tapi tanpa kemeja atau dasi.

"Dia merasa yakin bahwa telah terjadi sesuatu yang tak beres pada suaminya, maka dia segera menuruni tangga—karena tempat di mana dia melihat suaminya itu adalah pondok candu yang kita kunjungi tadi—berlari melewati ruang depan, dan langsung menghampiri tangga yang menuju ke lantai atas. Tapi sesampainya di kaki tangga, dia dihadang oleh si bajingan Lascar yang telah kusebutkan tadi, bersama asistennya yang orang Denmark. Mereka lalu mendorongnya keluar. Dia menjadi semakin marah dan cemas. Dia berlari sepanjang jalan itu, dan kebetulan bertemu dengan beberapa polisi dan inspekturnya yang sedang tugas keliling di Fresno Street. Inspektur polisi dan dua bawahannya segera menemaninya kembali ke pondok candu itu, dan memaksa masuk ke ruangan di mana Mr. St. Clair terlihat olehnya tadi. Tapi sang suami tak ada dl situ. Bahkan tak ditemukan seorang pun di seluruh lantai atas itu, kecuali seorang timpang buruk rupa yang nampaknya menetap di situ. Baik Lascar maupun si timpang dengan ngotot bersumpah bahwa tak ada seorang pun yang telah naik dan berada di ruangan depan itu selama siang itu. Begitu meyakinkannya sangkalan mereka sehingga sang inspektur mulai bimbang, dan hampir saja mengira Mrs. St. Clair cuma salah lihat saja. Tapi tiba-tiba, Mrs. St. Clair berteriak dan mengambil sebuah kotak kecil yang tergeletak di atas meja. Dirobeknya pembungkusnya, dan berjatuhanlah isinya, balok-balok mainan anak-anak. Suaminya memang sudah berjanji akan membelikan mainan itu untuk anak mereka yang kecil.

"Ditemukannya mainan itu dan kebingungan yang jelas terlihat di wajah si timpang, menyadarkan inspektur bahwa masalah ini cukup serius. Kamar-kamar di lantai atas itu lalu diperiksa. Mereka kemudian menyimpulkan bahwa nampaknya telah terjadi tindak kriminal yang cukup mengerikan di situ. Kamar depannya berfungsi sebagai kamar duduk yang sederhana, dan langsung bersebelahan dengan kamar tidur kecil. Kamar tidur ini menghadap ke bagian belakang dermaga. Di antara dermaga dan jendela kamar tidur itu terbentang daratan sempit, yang kering pada saat pasang surut, tapi dipenuhi air paling tidak setinggi 135 sentimeter pada saat pasang naik. Jendela kamar tidur itu lebar, dan cara membukanya dengan menariknya dari bawah ke atas. Selama pemeriksaan, ditemukan noda darah di ambang jendela dan juga di lantai papan kamar tidur itu. Di balik gorden kamar depan ditemukan pakaian Mr. Neville St. Clair—sepatu, kaus kaki, topi, dan jamnya, tapi jas luarnya tak ada di situ. Tak nampak adanya tanda-tanda penganiayaan pada pakaian ini, tapi Mr. Neville St. Clair tetap tak ditemukan. Rupanya dia telah menghilang dari jendela besar di kamar tidur itu, karena tak ada jalan keluar lain, namun noda darah di ambang jendela membuat mereka pesimis. Kecil kemungkinannya dia bisa berenang menyelamatkan diri, karena pada saat tragedi ini terjadi, air sedang tinggi-tingginya.

"Kini kita sampai pada nasib bajingan-bajingan yang ada di situ. Lascar memang sudah terkenal sebagai keturunan penjahat yang keji, tapi—sebagaimana dikisahkan oleh Mrs. St., Clair—dia ada di kaki tangga hanya beberapa detik setelah korban terlihat di jendela kamar depan. Jadi paling-paling dia hanya bisa dituduh membantu terlaksananya tindak kejahatan itu, bukan sebagai pelaku utamanya. Dia menyangkal keras akan keterlibatannya dan mengatakan bahwa dia tak tahu menahu apa saja yang dilakukan oleh Hugh Boone, penyewa lantai atas itu. Dia juga tak mengerti bagaimana pakaian pria yang hilang itu bisa sampai ke situ.

"Sampai di sini saja cerita tentang manajer bernama Lascar. Sekarang tentang orang timpang aneh yang tinggal di lantai atas pondok candu itu, dan yang tentu saja tadi melihat Neville St. Clair di situ. Namanya Hugh Boone. Wajahnya yang menyeramkan dikenal oleh orang-orang yang sering ke City. Dia seorang pengemis, walaupun untuk menghindari polisi dia pura-pura berjualan korek api. Tiap hari dia duduk dengan kaki disilangkan di suatu pojok di Threadneedle Street. Korek apinya ditaruhnya di pangkuannya. Siapa pun yang lewat dan melihatnya pasti akan merasa kasihan padanya, dan mereka lalu melemparkan uang ke topi kulit yang ditaruh di trotoar di hadapannya. Aku sudah pernah melihat orang itu beberapa kali sebelumnya, bahkan pernah berkenalan dengannya. Aku terkejut sekali karena penghasilannya dari mengemis ternyata sangat besar, padahal dia cuma 'praktek' beberapa jam sehari. Penampilannya memang benar-benar menarik perhatian; orang pasti menengok kalau melewatinya. Rambutnya berwarna jingga, wajahnya pucat, dan ada bekas luka yang mengerikan, yang menyebabkan pinggiran bibir atasnya tertarik ke atas kalau wajahnya sedang bergerak-gerak. Dagunya seperti bulldog, dan matanya yang gelap dan tajam sangat kontras dengan warna rambutnya. Pokoknya dia lain dari pengemis-pengemis pada umumnya, lagi pula dia cukup jenaka. Dia selalu membalas setiap cemoohan yang dilontarkan kepadanya oleh orang-orang yang lewat. Orang inilah yang menyewa kamar di lantai atas pondok candu itu, dan yang terakhir melihat Mr. Neville St. Clair."

"Tapi, dia kan cacat!" kataku. "Apa yang bisa dilakukannya melawan seseorang yang masih kuat begitu?"

"Dia cacat, dalam arti jalannya pincang, tapi dalam hal-hal lain, dia masih cukup sehat dan kuat. Sebagai seorang dokter, tentunya kau tahu, Watson, bahwa kelemahan salah satu anggota badan sering kali terkompensasi dengan kekuatan ekstra anggota badan lainnya."

"Silakan dilanjutkan kisahnya."

"Mrs. St. Clair pingsan ketika melihat darah di jendela itu, dan dia diantar puiang oleh polisi, karena kehadirannya tak banyak membantu penyelidikan mereka. Inspektur Barton yang menangani kasus ini, mengamati tempat itu dengan teliti, tapi tak menemukan sedikit petunjuk pun atas masalah ini. Dia membuat satu kesalahan besar, karena tidak langsung menangkap Boone. Ada beberapa menit terlewatkan, yang mungkin digunakan Boone untuk berbicara dengan Lascar. Tapi kesalahan ini akhirnya langsung disadari. Boone segera ditangkap dan digeledah, tapi tak ditemukan sesuatu yang bisa menyudutkannya. Memang ada noda darah di lengan bajunya sebelah kanan, tapi dia mengatakan bahwa itu berasal dari jari manisnya yang terluka, sambil menambahkan bahwa dia tadi mendekat ke jendela, jadi noda darah di jendela itu pun menurutnya pasti berasal dari luka di jarinya. Dia menyangkal keras bahwa dia tadi melihat Mr. Neville St. Clair, dan bersumpah bahwa dia tak tahu-menahu bagaimana sampai pakaian pria itu bisa berada di kamarnya. Mengenai pernyataan Mrs. St. Clair bahwa dia telah melihat suaminya di jendela atas itu, dia memberi komentar bahwa wanita itu pasti sudah gila atau sedang melamun. Walaupun dia memprotes dengan keras, dia dibawa juga ke kantor polisi, sementara Inspektur Barton tetap tinggal di tempat itu dengan harapan akan menemukan suatu petunjuk kalau air laut di bawah jentdela itu surut.

"Dan benarlah. Mereka menemukan sesuatu di pinggiran situ, walaupun bukan yang dikuatirkan sebelumnya. Yang ditemukan ialah jas Mr. Neville St. Clair, bukan orangnya. Jas itu terlihat tergeletak di daratan yang tadi dipenuhi air. Dan, coba tebak, apa yang mereka temukan di saku-saku jas itu?"

"Entahlah."

"Benar, kau tak mungkin bisa menebak. Tiap sakunya penuh dengan uang logam—421 penny dan 270 half penny! Itulah sebabnya jas itu tak terseret air. Tapi tubuh manusia kan ringan. Ada putaran air yang ganas di antara dermaga dan rumah itu. Mungkin jas yang berat ini terlepas ketika pemakainya tersedot ke laut."

"Tapi bukankah pakaian-pakaiannya yang lain ditemukan di kamar itu? Apakah orang yang malang itu cuma memakai jas luarnya saja?"

"Entahlah, tapi fakta-fakta ini cukup menolong. Seandainya Boone yang melempar Neville St. Clair lewat jendela, takkan ada satu saksi mata pun yang melihat kejadian itu, bukan? Lalu, apa yang akan dia lakukan? Dia pasti harus melenyapkan pakaian-pakaian korban. Waktu mau melempar jasnya, dia mungkin teringat bahwa jas itu akan mengapung. Padahal waktunya sudah sangat mendesak, karena dia mendengar istri korban berteriak-teriak ingin masuk ke atas, dan mungkin dia juga sudah mendengar dari temannya, si Lascar, bahwa polisi sedang menuju ke tempatnya, Dia lalu bergegas mengambil uang simpanannya dan memasukkan koin-koin itu ke saku-saku jas, agar jas itu bisa tenggelam kalau dibuang ke air. Setelah membuang jas, dia berniat membuang pakaian-pakaian yang lain, tapi dia keburu mendengar langkah-langkah yang memburu mendekati kamarnya. Dia hanya sempat menutup jendela sebelum polisi memasuki kamarnya."

"Bisa jadi begitu."

"Yah, sementara ini hipotesisnya begitu, sampai kita mendapatkan yang lebih baik. Tadi kukatakan bahwa Boone ditangkap dan dibawa ke kantor polisi. Tapi catatan tentang dirinya bersih sekali. Memang sudah bertahun-tahun dia dikenal sebagai pengemis, tapi hidupnya tenang-tenang saja dan dia tak pernah berbuat kejahatan. Begttulah masalahnya saat ini, dan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab adalah: Sedang apa Neville St. Clair di pondok candu waktu itu? Apa yang telah terjadi padanya? Di mana dia sekarang? Dan, apa peran Hugh Boone atas menghilangnya Mr. St. Clair? Kuakui, seingatku, baru kali inilah aku menghadapi masalah yang secara sepintas sepele, tapi yang ternyata rumit sekali."

Selama Sherlock Holmes berkisah, kami melaju melewati pinggiran kota, sampai deretan rumah-rumah yang tak beraturan itu lenyap dari pandangan, dan sampailah kami ke kota kecil yang rumah-rumahnya berpagarkan tanaman pedesaan yang khas. Setelah penuturan Holmes selesai, kami masih harus melewati dua desa lagi, sampai akhirnya kami melihat beberapa lampu yang masih menyala di jendela-jendela rumah di kejauhan.

"Kita hampir sampai di Lee," kata temanku. "Kita telah melewati tiga kabupaten selama perjalanan kita yang tak berapa jauh ini, mulai dari Middlesev-Surrey, dan Kent. Kaulihat lampu di antara pepohonan itu? Itulah Vila Cedars, dan di samping lampu itu duduk seorang wanita yang pasti telah mendengar dencing kereta kita."

"Mengapa tak kautangani kasus ini di Baker Street saja?" tanyaku.

"Karena ada banyak penyelidikan yang harus kulakukan di sini. Mrs. St Clair telah berbaik hati menyediakan dua kamar atas permintaanku dan kau tak perlu merasa sungkan menginap di sana bersamaku. Wanita itu pasti akan menerima rekan sekerjaku dengan senang hati. Rasanya aku tak tega menemuinya tanpa membawa kabar apa-apa tentang suaminya. Nah, kita sudah sampai. Hus, belok ke sana, hus!"

Kami berhenti di depan sebuah vila yang besar, dengan halaman luas di sekelilingnya. Seorang bocah tukang kuda berlari menyambut kami, dan setelah turun dari kereta, aku mengikuti Holmes berjalan melewati jalanan berkerikil yang menuju ke rumah itu. Ketika kami hampir sampai, pintu depan langsung terbuka, dan seorang wanita mungil berambut pirang berdiri di ambang pintu. Bajunya terbuat dari sutera lembut, dihiasi bulu-bulu berwarna merah jambu pada leher dan ujung lengannya. Dalam latar belakang cahaya lampu yang terang benderang, postur tubuhnya yang ramping terlihat dengan jelas. Salah satu tangannya bersandar di pintu, sedang tangannya yang lain agak terangkat karena rasa penasarannya, sehingga tubuh, kepala, dan wajahnya agak menyorong ke depan. Matanya penuh rasa ingin tahu, bibirnya terbuka siap untuk menanyakan sesuatu.

"Bagaimana?" teriaknya. "Bagaimana?"

Ketika dia menyadari bahwa ada dua orang yang mendekatinya, dia sempat berteriak kegirangan, tapi segera berubah menjadi keluhan karena temanku menggeleng dan mengangkat bahu.

"Tak ada kabar baik?"

"Belum."

"Kabar buruk?"

"Belum juga."

"Syukurlah Silakan masuk, Anda pasti capek seharian tadi."

"Ini teman saya, Dr. Watson. Dia telah banyak menolong saya dalam beberapa kasus yang lalu, dan saya sungguh beruntung karena dia bisa menemani saya dalam penyelidikan ini."

"Senang bertemu dengan Anda," katanya sambil menjabat tanganku dengan hangat. "Saya mohon maaf apabila ada kekurangan dalam pelayanan kami. Maklumlah, kami sedang mengalami pukulan yang sangat tak terduga."

"Madam," kataku, "saya pernah tugas militer dan biasa hidup seadanya. Kalaupun tidak, jelas Anda tak perlu minta maaf. Saya siap membantu Anda dan teman saya, kapan saja."

"Nah, Mr. Sherlock Holmes," kata wanita itu ketika kami memasuki ruang makan yang juga bermandikan cahaya. Di atas meja sudah tersaji hidangan santap malam. "Saya ingin mengajukan satu atau dua pertanyaan sederhana, dan mohon dijawab dengan sejujur-jujurnya."

"Pasti, madam."

"Tak usah mencemaskan perasaan saya. Saya bukan wanita histeris atau yang gampang pingsan kalau mendengar sesuatu yang mengejutkan. Jadi harap terus terang saja."

"Tentang apa, ya?"

"Jauh di lubuk hati Anda, apakah menurut Anda Neville masih hidup?"

Sherlock Holmes kelihatannya malu mendengar pertanyaan ini.

"Jujurlah kepada saya!" ulang wanita itu sambil berdiri di permadani dan memandangnya dengan tajam. Ketika itulah temanku menjatuhkan dirinya ke sebuah kursi rotan.

"Kalau saya harus jujur, madam, jawabnya adalah tidak."

"Menurut Anda dia sudah mati?"

"Ya."

"Dibunuh orang?"

"Saya tidak mengatakan demikian, tapi mungkin saja."

"Dan, kapan tepatnya dia meninggal?"

"Hari Senin yang lalu."

"Kalau begitu, Mr. Holmes, bisakah Anda menjelaskan surat yang saya terima darinya tadi?"

Sherlock Holmes berdiri dari duduknya bagaikan orang yang tersengat aliran listrik.

"Apa!" tanyanya dengan suara menggelegar.

"Ya, surat ini baru saya terima hari ini." Dia berdiri sambil tersenyum. Dilambaikannya sepucuk surat di udara.

"Boleh saya lihat?"

"Silakan."

Disambarnya surat itu dari tangan wanita itu dengan penasaran. Lalu ditaruhnya di meja, didekatkannya lampu, dan diamatinya surat itu dengan saksama. Aku pun berdiri di belakangnya, ikut memperhatikan surat itu. Amplopnya murahan, dan cap posnya dari Gravesend, bertanggalkan hari itu juga, atau hari sebelumnya tepatnya, karena saat itu telah lewat tengah malam.

"Tulisannya jelek sekali!" gumam Holmes. "Pasti bukan tulisan suami Anda, madam."

"Bukan, tapi isinya berasal dari dia."

"Menurut saya, orang yang menulis alamat di amplop ini telah menanyakan alamat yang harus ditulisnya pada orang lain."

"Bagaimana Anda tahu hal itu?"

"Lihatlah, tulisan namanya jelas sekali dengan tinta hitam yang mengering dengan sendirinya. Selanjutnya tak begitu jelas, karena telah dibubuhi kertas isap tinta. Seandainya penulisnya langsung menulis nama dan alamat, lalu baru dibubuhi kertas isap, pasti takkan ada bagian setebal tulisan nama itu. Jadi penulisnya menuliskan nama dulu lalu dia berhenti karena tak tahu kemana surat itu harus dikirim, dan harus bertanya pada orang lain. Sepele, ya? Tapi yang sepele-sepele itu biasanya penting sekali. Sekarang, mari kita lihat isi surat ini! Ha! Ada sesuatu di dalamnya!"

"Ya, cincin. Cincin stempel milik suami saya."

"Dan Anda yakin ini tulisan tangan suami Anda?"

"Salah satunya."

"Salah satunya?"

"Ya, tulisannya begitu kalau dia sedang menulis dengan terburu-buru. Memang tak seperti tulisannya yang biasa, tapi saya yakin itu tulisannya."
Sayang, jangan takut. Semuanya akan beres. Ada kekeliruan besar yang perlu diluruskan. Dan ini membutuhkan waktu. Tunggulah, dan bersabarlah.—Neville.

"Ditulis dengan pensil pada kertas sobekan dari buku ukuran kecil, tanpa cap. Diposkan di Gravesend hari ini oleh seseorang yang ibu jarinya kotor sekali. Ha! Dan kalau saya tak salah, tutup amplopnya dilem dengan ludah oleh orang yang suka mengunyah tembakau. Anda benar-benar yakin ini tulisan suami Anda, madam?"

"Ya. Surat ini ditulis oleh Neville."

"Dan diposkan tadi pagi di Gravesend. Yah, Mrs. St. Clair, sudah mulai ada titik terang, walaupun saya belum berani mengatakan bahwa bahaya sudah lewat."

"Tapi bukankah ini berarti bahwa dia masih hidup, Mr. Holmes?"

"Kecuali kalau telah terjadi pemalsuan yang lihai untuk mengelabui kita. Cincin itu tak membuktikan apa-apa. Bisa saja telah diambil dari tangannya."

"Tidak, tidak, tulisan ini benar-benar tulisannya!"

"Baiklah. Mungkin saja ditulis hari Senin yang lalu dan baru diposkan tadi pagi."

"Ya, mungkin saja begitu."

"Kalau demikian halnya, banyak hal bisa terjadi setelah itu."

"Oh, jangan membuat saya putus asa, Mr. Holmes. Saya yakin dia baik baik saja. Hubungan kami begitu dekatnya, hingga saya pasti merasakan kalau dia mengalami musibah. Waktu terakhir dia berada di rumah, dia terluka ketika bercukur, dan saya yang waktu itu sedang berada di ruang makan bisa langsung berlari menemuinya karena merasa ada sesuatu yang telah terjadi. Kalau untuk musibah yang sepele itu saja saya bisa merasakannya, apalagi kalau yang menyangkut nyawanya."

"Saya memang sudah sering mengalami bahwa perasaan wanita lebih berharga daripada kesimpulan analitis seorang pemikir. Dan surat ini menguatkan pandangan Anda. Tapi kalau memang suami Anda masih hidup dan bisa menulis surat pada Anda, mengapa dia tak segera pulang?"

"Entahlah, saya benar-benar tak tahu alasan-nya."

"Dan pada hari Senin yang lalu apakah suami Anda tak pesan apa-apa sebelum berangkat?"

"Tidak."

"Dan Anda terkejut melihatnya berada di Swandam Lane?"

"Sangat terkejut"

"Apakah waktu itu jendelanya terbuka?"

"Ya."

"Jadi, dia seharusnya bisa memanggil Anda?"

"Bisa."

"Nyatanya dia hanya meneriakkan sesuatu yang tak Anda mengerti maksudnya?"

"Ya."

"Menurut Anda, mungkin dia minta tolong?"

"Ya. Dia melambaikan tangannya."

"Itu bisa juga berarti bahwa dia pun terkejut karena tanpa disangka-sangka melihat Anda disitu?"

"Mungkin juga."

"Dan menurut Anda, dia lalu ditarik ke belakang oleh seseorang?"

"Pokoknya, tiba-tiba saja dia menghilang."

"Mungkin saja dia sendiri yang melompat ke belakang. Apakah Anda melihat orang lain di kamar itu?"

"Tidak, tapi orang yang berwajah menakutkan itu bersumpah bahwa dia ada di sana, sedangkan Lascar ada di kaki tangga."

"Begitu, ya. Waktu Anda lihat suami Anda, apakah dia berpakaian lengkap?"

"Ya, tapi tanpa kemeja dan dasi. Secara samar samar saya melihat lehernya yang terbuka."

"Pernahkah dia menyinggung-nyinggung tentang Swandam Lane?"

"Tidak."

"Apakah ada tanda tanda dia pernah mengisap candu?"

"Tidak."

"Terima kasih, Mrs. St. Clair. Hal-hal itulah yang ingin saya ketahui dengan jelas. Kami mau makan sekarang, lalu istirahat. Besok pagi, kami akan sibuk sekali."

Sebuah kamar tidur besar dengan dua tempat tidur telah disiapkan untuk kami, dan aku segera meringkuk di bawah selimut. Aku capek sekali sehabis bertualang sepanjang malam ini. Tapi Sherlock Holmes lain. Kalau sedang menghadapi masalah yang belum terpecahkan dia bisa tahan berhari-hari, bahkan seminggu tanpa istirahat sama sekali. Dia akan terus memikirkan kasus itu, membolak-balik fakta-faktanya, mengujinya dari setiap sudut pandang, sampai dia berhasil mengerti pokok permasalahannya, atau menyadari bahwa datanya kurang lengkap.

Saat ini misalnya, aku tahu dia pasti tak akan tidur semalaman. Dia akan duduk tepekur saja. Dia menanggalkan mantel dan jasnya, mengenakan pakaian tidur warna biru yang kedodoran, lalu mulai mengambil bantal dari tempat tidurnya dan juga dari sofa dan kursi kursi lain.

Dengan bantal-bantal ini dibuatnya semacam dipan, dan dia pun duduk dengan kaki menyilang di atasnya. Di depannya tersedia potongan tembakau dan sekotak korek api. Dalam keremangan cahaya lampu, kulihat dia duduk di sana, dengan pipa tergantung di bibirnya, matanya menatap ke sudut langit langit dengan pandangan kosong. Asap berwarna biru melingkar-lingkar ke atas. Dia duduk diam, tanpa bergerak, cahaya menyinari sosoknya yang bagaikan rajawali. Begitulah kulihat dia sampai akhirnya aku tertidur.

Aku terbangun dengan gelagapan pada keesokan harinya mendengar seruan yang tiba-tiba meluncur dari bibir Holmes. Matahari musim panas bersinar menerangi kamar kami. Pipa temanku masih tergantung di bibirnya, masih terlihat asap melingkar-lingkar ke atas, dan kamar kami dipenuhi oleh asap tembakau pekat. Onggokan tembakau di depannya yang kulihat tadi malam sudah tak tersisa lagi.

"Sudah bangun, Watson?" dia bertanya.

"Ya."

"Siap berangkat?"

"Tentu."

"Kalau begitu, bergegaslah. Nampaknya seisi rumah belum ada yang bangun, tapi aku tahu letak kamar bocah petugas kuda, dan kita bisa memintanya untuk mengeluarkan kereta kita." Dia tergelak ketika berbicara, matanya berkilat, dan sikapnya lain sekali dari yang kulihat tadi malam.

Sambil berpakaian, aku menengok ke jam tanganku. Pantas, belum ada yang bangun. Baru jam empat lewat dua puluh lima menit di pagi hari! Aku hampir selesai berpakaian ketika Holmes mengabarkan bahwa keretanya sudah siap.

"Aku ingin menguji sebuah teoriku yang sederhana," katanya sambil mengenakan sepatu larsnya. "Kurasa, Watson, kau kini sedang berdiri di hadapan salah satu manusia yang paling bodoh di Eropa. Aku pantas ditendang keluar dari rumah ini. Tapi kupikir aku sudah menemukan kunci dari masalah ini."

"Kau dapat dari mana kunci itu?" tanyaku sambil tersenyum.

"Dari kamar mandi," jawabnya. "Oh, ya, aku tak bergurau," lanjutnya ketika melihat rasa tidak percaya yang terpancar di mataku. "Baru saja kuambil dari sana, dan kutaruh di tas ini. Ayolah, sobat, dan kita akan segera melihat apakah kunci ini cocok atau tidak."

Kami menuruni tangga dengan hati-hati, lalu meninggalkan rumah itu. Di luar, di jalanan. yang bermandikan sinar matahari pagi, kereta kuda kami telah siap dengan bocah petugas kuda menunggu di sampingnya. Pakaian bocah itu masih awut-awutan. Kami segera menaiki kereta itu, dan langsung berangkat menuju London. Beberapa gerobak pedesaan terlihat melaju di jalanan, memuat sayur-sayuran untuk dibawa ke kota, tapi vila-vila di sepanjang jalan masih sepi, bagaikan kota dalam mimpi.

"Ada beberapa hal yang unik dalam kasus ini," kata Holmes sambil memecut kuda. "Kuakui, aku telah buta selama ini. Tapi bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?"

Sesampai di daerah Surrey, orang-orang baru bangun dari tidur mereka, dan jendela-jendela rumah baru mulai dibuka. Setelah melewati Jembatan Waterloo, kami menuju Wellington Street, lalu belok kanan ke Bow Street, di mana kantor polisi berada. Sherlock Holmes dikenal baik oleh kepolisian, dan dua orang polisi yang berjaga di pintu depan memberi hormat padanya. Salah satunya memegangi kepala kuda kami, dan yang satunya lagi mengantarkan kami masuk ke dalam.

"Siapa yang sedang bertugas?" tanya Holmes.

"Inspektur Bradstreet, sir."

"Ah, Bradstreet, apa kabar?" Seorang polisi tinggi besar telah menyambut kami di lorong berdinding batu itu. Dia mengenakan topi tinggi dan jas panjang. "Saya ingin berbicara sejenak dengan Anda, Bradstreet."

"Tentu, Mr. Holmes. Silakan masuk ke kamar kerja saya, di sini."

Kamar kerjanya seperti ruangan kantor kecil. Di meja tergeletak buku yang amat besar, dan ada sebuah telepon yang dipasang menempel di dinding. Inspektur Bradstreet duduk di depan mejanya.

"Apa yang bisa saya bantu, Mr. Holmes?"

"Saya datang sehubungan dengan pengemis bernama Boone—yang ditahan dalam kasus lenyapnya Mr. Neville St. Clair dari Lee."

"Ya. Dia ditahan di sini untuk diselidiki lebih lanjut."

"Begitulah yang saya dengar. Dia ada di sini?"

"Ada di sel."

"Apa dia tenang-tenang saja?"

"Oh, dia tak menjadi masalah. Tapi dia itu bajingan yang jorok sekali."

"Jorok?"

"Ya, menyuruhnya cuci tangan saja susah sekali, dan mukanya betul betul dekil. Yah, kalau kasusnya sudah jelas, seluruh tubuhnya perlu digosok sampai bersih. Memang, dia benar-benar perlu dimandikan."

"Saya ingin sekali bertemu dengannya."

"Oh, ya? Gampang. Mari saya antar. Anda bisa meninggalkan tas Anda di sini."

"Tidak, sebaiknya saya bawa saja."

"Baiklah. Mari, silakan."

Dia mengantarkan kami melewati sebuah lorong, membuka pintu yang dipalang, menuruni tangga putar, lalu sampailah kami ke koridor yang bercat putih. Pada kedua sisi koridor itu banyak pintu-pintu. Di sinilah kiranya sel yang dimaksud.

"Dia berada di sel ketiga sebelah kanan," kata Inspektur Bradstreet "Di sini."

Dengan hah-hati dia mengangkat semacam penutup di bagian atas pintu, lalu menengok ke dalam.

"Dia masih tidur," katanya. "Coba lihatlah sendiri,"

Kami berdua mengintip dari lubang di pintu itu. Sang tahanan sedang terbaring tidur, wajahnya menghadap ke arah kami, napasnya lambat dan berat. Orang itu tingginya sedang-sedang saja, pakaiannya compang-camping, berupa baju berwarna yang nongol dari jas bututnya yang robek. Sebagaimana dikatakan oleh Inspektur Bradstreet tadi, penampilannya benar-benar jorok, dan kotoran yang memenuhi wajahnya benar-benar menjijikkan. Ada guratan bekas luka yang lebar dari mata sampai ke dagunya, dan kalau wajahnya bergerak, maka bibir atas nya tertarik, sehingga tiga giginya kelihatan menyeringai. Warna merah rambutnya amat menyala, menjuntai sampai ke dahinya.

"Tampan, bukan?" kata Inspektur Bradstreet.

"Dia benar-benar perlu dicuci sampai bersih," komentar Holmes. "Begitu menurut saya, dan secara sukarela saya telah membawa alat untuk membersihkan badannya."

Dia membuka tas yang dibawanya dan dikeluarkannya spons mandi yang sangat besar. Aku terperangah.

"He! He! Anda ini ada-ada saja." Inspektur Bradstreet tergelak.

"Nah, kalau Anda tidak keberatan membuka pintu itu dengan hati-hati, akan kita benahi penampilannya."

"Yah, mengapa tidak?" kata Inspektur Bradstreet. "Dia memalukan penjara Bow Street, bukan?"

Dibukanya pintu, dan dengan perlahan-lahan kami masuk ke dalam sel itu. Tahanan yang sedang tidur itu membalikkan badan sekejap, lalu kembali tidur dengan nyenyak. Holmes membungkuk di depan tempat air, membasahi sponsnya, lalu menggosokkannya ke wajah tahanan itu dua kali dengan sekuat tenaga.

"Saya perkenalkan kepada Anda," teriaknya, "Mr. Neville. St. Clair yang berasal dari Lee, di daerah Kent."

Aku terperanjat sekali menyaksikan adegan di depanku yang tak pernah kualami seumur hidupku. Wajah orang itu mengelupas bagaikan kulit kayu pada pepohonan. Wajah yang gelap mengerikan itu kini lenyap. Lenyap pula guratan bekas luka dan bibir yang miring ke atas, yang selama ini membuat wajahnya terlihat begitu menjijikkan! Dengan satu sentakan, rambut berwarna merah jingga itu pun tercabut, dan dia terjaga dari tidurnya dan terduduk di tempat tidurnya. Wajahnya pucat, sedih, dan sopan. Rambutnya hitam, kulitnya halus. Orang itu menggosok-gosok matanya dan memandang ke sekehlingnya dengan bingung, karena masih mengantuk. Kemudian, ketika dia menyadari bahwa penyamarannya terbongkar, tiba-tiba dia berteriak, dan menjatuhkan dirinya dengan wajahnya menutup ke bantal.

"Ya, Tuhan!" teriak Inspektur Bradstreet. "Memang dia orang yang dinyatakan hilang itu. Saya masih mengenali wajahnya dari foto."

Sang tahanan menoleh dengan pasrah. "Begitulah," katanya. "Dan tuduhan apa yang akan Anda tuntut dari saya?"

"Tuduhan telah melenyapkan Mr. Neville St.... oh, wah, Anda tak mungkin dituduh begitu, kecuali mungkin diganti dengan tuduhan percobaan bunuh diri," kata Inspektur Bradstreet sambil menyeringai. "Yah, selama dua puluh tujuh tahun bertugas di kepolisian, baru kali ini saya menjumpai kasus seperti ini."

"Karena saya sendirilah Mr. Neville St. Clair, maka jelas tak ada kejahatan yang telah saya lakukan. Maka berarti, telah terjadi salah tangkap terhadap saya, kan?"

"Memang bukan kejahatan, tapi kesalahan yang sangat besar," kata Holmes. "Untuk apa Anda mengelabui istri Anda?"

"Masalahnya bukan pada istri saya, tapi anak anak saya," rintih tahanan itu. "Semoga Tuhan menolong saya, agar mereka tak merasa malu atas realitas tentang ayahnya. Ya, Tuhan! Betapa menyakitkannya, kalau sampai mereka tahu! Apa yang harus saya lakukan?"

Sherlock Holmes duduk di sampingnya dan menepuk-nepuk bahunya dengan lembut.

"Seandainya Anda melimpahkan masalah ini ke pengadilan, tentu saja nama Anda akan jadi bahan berita. Tapi, kalau Anda bisa meyakinkan pihak yang berwenang bahwa Anda memang tak berbuat suatu kejahatan pun, maka tak ada alasan untuk menggembar-gemborkan masalah ini, kan? Saya yakin Inspektur Bradstreet bersedia mencatat pengalaman Anda untuk di serahkan ke pihak yang berwenang nantinya. Kasus ini malah mungkin tak perlu masuk ke pengadilan sama sekali."

"Tuhan memberkati Anda," seru tahanan itu dengan terharu. "Lebih baik saya dipenjara, atau bahkan dihukum mati, daripada anak-anak saya sampai mengetahui rahasia saya yang sangat memalukan ini.

"Kalian bertiga adalah yang pertama kali tahu tentang kisah keluarga saya. Ayah saya seorang kepala sekolah di Chesterfield. Saya pun bersekolah di sana. Waktu masih muda saya sering bepergian, pernah main sandiwara, dan akhirnya menjadi wartawan sebuah koran sore di London. Suatu hari atasan saya ingin mendapatkan artikel tentang para pengemis di London, dan saya menyatakan kesediaan untuk mencari informasi untuk penulisan artikel tersebut. Itulah awal petualangan saya. Saya harus terjun menjadi pengemis amatir agar mendapatkan fakta-fakta untuk artikel saya. Karena pernah menjadi pemain sandiwara, tentu saja saya tahu rahasia memoles wajah, dan saya memang pernah menjadi ahli rias wajah di belakang panggung. Keahlian itu ternyata kini bisa saya manfaatkan. Saya mencat wajah saya, dan meriasnya sedemikian rupa sehingga kelihatan mengenaskan. Saya bubuhkan bekas luka dan saya buat efek miring ke atas pada bibir saya dengan bantuan plester kecil. Ditambah dengan rambut palsu warna merah menyala dan pakaian yang sesuai, saya duduk di sebuah tempat di bagian paling sibuk City, pura-pura menjual korek api tapi sebenarnya menjadi pengemis. Saya menjalankan usaha ini selama tujuh jam, dan coba bayangkan, saya berhasil membawa puiang tak kurang dari 26 shilling dan empat penny.

"Saya lalu menuliskan semua fakta yang saya dapatkan, dan mulai melupakan petualangan saya itu. Tapi kemudian, saya harus membayar utang sebanyak 25 pound kepada seorang teman. Saya tak tahu harus berbuat apa untuk mendapatkan uang sejumlah itu, lalu tiba-tiba saya punya ide. Saya minta waktu dua minggu untuk membayar utang itu, mengambil cuti, dan kembali mengemis! Saya berhasil mengumpulkan uang itu dalam sepuluh hari, lalu lunaslah utang saya.

"Nah, coba bayangkan. Pekerjaan saya yang resmi hanya menghasilkan dua pound seminggu. Padahal dengan mencat wajah, menaruh topi terbalik di pinggir jalan, dan duduk-duduk saja, saya bisa mendapatkan sejumlah itu dalam sehari. Saya sempat bergumul antara gengsi dan uang, tapi uanglah yang menang. Maka saya pun berhenti bekerja sebagai wartawan, dan beralih profesi menjadi pengemis di sudut jalan yang telah saya pilih. Dengan mengandalkan rasa iba orang yang lewat, uang pun bergelimang masuk ke saku saya. Hanya satu orang yang tahu tentang rahasia saya, yaitu pemilik pondok yang saya sewa di Swandam Lane. Di situlah saya berganti peran. Setiap pagi saya keluar dari situ menjadi seorang pengemis jembel, tapi pada malam harinya saya keluar lagi dari situ sebagai seorang pria perlente. Saya membayar sewa kamar kepada pemilik pondok bernama Lascar ini dengan cukup mahal, supaya dia menyimpan rahasia saya.

"Nah, tak lama kemudian saya sudah mempunyai simpanan yang cukup banyak. Memang tak semua pengemis bisa menghasilkan 700 pound setahun seperti halnya yang saya alami, namun saya memiliki kelebihan. Rias wajah dan kemampuan saya berkomunikasi dengan orang-orang yang lewat, membuat saya makin dikenal di City. Sepanjang hari, uang logam dan bahkan kadang-kadang uang perak dilemparkan orang kepada saya. Paling sial, saya mendapatkan dua pound sehari.

"Dengan bertambah kaya, saya jadi semakin ambisius. Saya membeli rumah di desa, dan menikah, tanpa ada orang yang mempermasalahkan apa sebenarnya pekerjaan saya. Istri saya tahu bahwa saya punya pekerjaan di City, tapi tak tahu pekerjaan macam apa itu.

"Hari Senin yang lalu saya sudah selesai mengemis, dan sedang berganti pakaian di kamar lantai atas pondok candu itu. Ketika itu, saya kebetulan menoleh ke luar jendela. Saya terkejut setengah mati melihat istri saya sedang berjalan di bawah jendela itu. Dia pun terbelalak melihat saya. Saya berteriak kaget, mengangkat tangan untuk menutupi wajah saya, lalu segera berlari menemui Lascar agar dia mencegah siapa pun yang ingin menjumpai saya. Saya mendengar suara istri saya di bawah sana, dan saya tahu dia tak diizinkan naik ke atas. Dengan cepat saya melepas pakaian saya yang perlente, lalu mengenakan pakaian pengemis dan menyamar lagi.

"Saya yakin istri saya sendiri pun takkan mengenali saya. Tapi saya menyadari bahwa kamar saya mungkin akan digeledah dan pakaian saya yang perlente itu bisa membuka rahasia saya. Saya lalu membuka jendela. Karena tergesa-gesa, jari saya yang terluka pagi harinya berdarah lagi. Lalu saya mengambil jas saya yang masih penuh dengan uang logam, karena perolehan saya hari itu baru saja saya masukkan ke situ. Saya lempar jas itu beserta isinya ke luar jendela. Lega rasanya menyaksikan benda tersebut menghilang ditelan arus Sungai Thames. Baru saja saya mau membuang pakaian yang lain, terdengar suara langkah-langkah polisi di tangga menuju ke kamar saya. Beberapa menit kemudian, saya akui bahwa saya malah menjadi lega, karena mereka tak mengenali saya sebagai Mr. Neville St. Clair, tetapi malah menahan saya dengan tuduhan telah membunuh pria itu.

"Begitulah penjelasan saya. Saya lalu memutuskan untuk terus menyamar dengan muka buruk seperti itu selama mungkin. Karena istri saya mungkin sangat mencemaskan keadaan saya, saya lalu mencopot cincin saya, dan menyerahkannya pada Lascar pada saat polisi sedang lengah dalam mengawasi saya. Juga saya sempat menulis pesan dengan tergesa-gesa, yang isinya untuk menenteramkan hati istri saya dan berpesan agar dia tak usah merasa cemas."

"Pesan Anda baru tiba kemarin," kata Holmes.

"Ya, Tuhan! Betapa dia telah menderita selama satu minggu penuh."

"Polisi memata-matai Lascar," kata Inspektur Bradstreet, "jadi saya bisa mengerti bahwa dia tak mungkin pergi mengeposkan surat itu tanpa terlihat oleh polisi. Dia mungkin menitipkan surat itu kepada salah seorang pelaut langganannya, yang baru ingat untuk mengirimkannya beberapa hari kemudian."

"Tepat," kata Holmes sambil menganggukkan kepala tanda setuju. "Ya, tak diragukan lagi. Selama mengemis, tak pernahkah Anda ditangkap polisi?"

"Sering, tapi saya selalu bisa bebas kembali setelah membayar denda."

"Anda harus menghentikan kegiatan mengemis Anda sampai di sini," kata Inspektur Bradstreet. "Kalau Anda mengharap agar polisi mengubur masalah ini, maka pengemis bernama Hugh Boone harus lenyap pula."

"Saya sudah bersumpah takkan mengemis lagi, sungguh!"

"Kalau begitu, masalahnya selesai sampai di sini. Tapi kalau Anda sampai tertangkap sedang mengemis lagi, semua kisah Anda akan dibeberkan kepada publik. Mr. Holmes, kami amat berutang budi kepada Anda, karena Anda telah membuat masalah ini menjadi jelas. Bolehkah saya mendapatkan penjelasan, bagaimana caranya Anda bisa sampai pada kesimpulan seperti ini?"

"Dengan duduk di atas lima bantal dan melahap habis satu ons tembakau irisan," kata temanku. "Kurasa, Watson, sudah waktunya bagi kita untuk kembali ke Baker Street untuk makan pagi."