PETUALANGAN di Abbey Grange sebetulnya kumaksudkan sebagai tulisan terakhir tentang kiprah Sherlock Holmes yang kupublikasikan. Hal ini bukan karena aku kekurangan materi, sebab sesungguhnya aku masih mempunyai beratus-ratus catatan tentang kasus-kasus yang pernah ditanganinya; bukan juga karena berkurangnya minat pembaca terhadap pribadi Sherlock Holmes yang nyentrik dan caranya yang unik dalam menyelesaikan kasus-kasus. Alasan pokoknya ialah karena justru Mr. Holmes merasa tidak suka kalau pengalaman-pengalamannya terus-menerus dipublikasikan. Dulu, ketika dia masih aktif menjalankan profesi detektifnya, tulisan-tulisan mengenai keberhasilannya memang cukup bermanfaat baginya, tetapi sejak dia pensiun dan tak lagi tinggal di London, dia mulai merasa enggan kalau namanya dibesar-besarkan. Waktunya kini hanya dihabiskan untuk belajar dan beternak lebah di daerah perbukitan rendah di Sussex. Dan dia memohon kepadaku agar keengganannya dalam hal di atas diperhatikan dengan sungguh sungguh. Kalau kisah Noda Kedua ini akhirnya kupublikasikan juga, itu setelah aku berdebat panjang-lebar dengannya. Kukatakan bahwa aku telah berjanji akan menuliskan kisah itu pada waktu yang tepat, bahwa kasus internasional yang amat penting itu cocok ditaruh sebagai klimaks dari serial tentang pengalamannya.

Aku berhasil mendapatkan persetujuannya, dengan syarat tidak semua hal boleh dikemukakan secara blak-blakan. Maka jika dalam penyampaian kisah ini ada beberapa rincian yang agak kabur, aku berharap publik dapat memaklumi alasanku.

Pada suatu Sabtu pagi di musim gugur—tahun maupun dekadenya tak dapat kusebutkan di sini—kami kedatangan dua tamu agung yang namanya sangat terkenal di Eropa. Yang seorang berwajah keras, hidungnya mancung, matanya lebar, dan gerak-geriknya menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang sangat berpengaruh. Tidak lain dia adalah Lord Bellinger, perdana menteri Inggris yang sudah dua kali berlurut-turut menduduki jabatannya. Sedangkan yang seorang lagi lebih muda, usianya belum mencapai setengah baya. Kulitnya gelap, postur tubuhnya bagus, dan penampilannya rapi. Pokoknya dia ini dikaruniai kesempurnaan, baik fisik maupun otak. Dia adalah the Right Honourable Trelawney Hope, sekretaris negara urusan Eropa. Dialah negarawan yang saat itu sedang paling naik daun di Inggris. Mereka duduk bersebelahan di sofa kami yang penuh dengan kertas-kertas catatan, dan melihat wajah mereka yang kusut dan cemas, tahulah kami bahwa mereka datang sehubungan dengan suatu urusan yang sangat genting. Perdana Menteri mengepalkan kedua tangannya yang kurus dan menonjol urat-uratnya pada gagang payungnya yang terbuat dari gading. Wajahnya yang tegang, kaku, dan kurus menatap kami secara bergantian. Sedangkan Sekretaris Negara menarik-narik kumisnya dan menekan-nekan rantai jamnya secara bergantian.

"Ketika saya menyadari bahwa saya telah kehilangan sesuatu pada jam delapan pagi tadi, Mr. Holmes, saya langsung melaporkannya kepada Perdana Menteri. Dan beliau menyarankan agar kami segera datang kemari."

"Apakah Anda sudah melapor ke polisi?"

"Tidak, sir," kata Perdana Menteri dengan tegas dan cepat. Beliau ini memang terkenal karena sikap tegas dan sigapnya.

"Kami belum dan tidak akan melakukan hal itu. Melapor ke polisi berarti mempublikasikan. Padahal justru itulah yang ingin kami hindari."

"Mengapa demikian, sir?"

"Karena yang hilang itu adalah dokumen yang amat sangat penting, sehingga kalau sampai masyarakat mengetahuinya, pasti akan terjadi keonaran di seluruh Eropa. Bahkan tidaklah berlebihan kalau saya mengatakan bahwa hilangnya dokumen itu bisa mempengaruhi perdamaian di Eropa. Kalau upaya pencariannya tak bisa dilakukan secara amat rahasia, itu sama saja dengan tidak memperolehnya kembali, sebab tujuan pencurinya juga agar isinya diketahui oleh khalayak raraai."

"Saya mengerti. Sekarang, Mr. Trelawney Hope, saya akan berterima kasih kalau Anda bersedia menjelaskan secara rinci bagaimana sampai dokumen itu bisa hilang."

"Baik, Mr. Holmes. Hanya membutuhkan beberapa kalimat saja untuk menjelaskan hal itu. Surat itu—dokumen itu memang berupa surat yang dikirim oleh seorang penguasa negara asing—saya terima enam hari yang lalu. Surat itu begitu pentingnya sampai-sampai saya tidak berani meninggalkannya dalam lemari besi di kantor saya. Setiap malam saya membawanya pulang ke rumah saya di Whitehall-Terrace, dan menyimpannya dalam peti khusus yang senantiasa dalam keadaan terkunci. Saya yakin surat itu masih ada di situ tadi malam, karena saya sempat membuka peti itu ketika sedang berpakaian untuk makan malam, dan saya masih melihat dokumen itu di dalamnya Tapi pagi ini surat itu sudah lenyap. Sepanjang malam, peti itu berada di samping cermin meja rias di kamar saya. Saya mudah terbangun kalau sedang tidur, demikian juga istri saya. Kami berdua berani bersumpah bahwa tak seorang pun telah masuk ke kamar tidur kami semalam. Namun nyatanya surat itu hilang."

"Jam berapa Anda makan malam?"

"Setengah delapan."

"Dan jam berapa Anda masuk kamar untuk tidur?"

"Semalam istri saya pergi menonton drama. Saya menunggu sampai dia pulang. Jam setengah dua belas, barulah kami masuk."

"Berarti ada kira-kira empat jam lamanya peti itu berada di kamar tanpa terjaga?"

"Tak seorang pun diizinkan masuk ke kamar itu kecuali pembantu rumah tangga pada pagi hari, dan pelayan khusus istri saya serta pelayan pria saya pada waktu-waktu lainnya. Kedua pelayan pribadi kami itu dapat dipercaya dan telah lama bekerja pada kami. Selain itu, mereka pasti tak akan menduga bahwa di dalam peti itu terdapat dokumen yang jauh lebih berharga dibanding dengan surat-surat resmi lainnya."

"Siapa yang mengetahui adanya dokumen itu di situ?"

"Tak seorang pun di rumah itu."

"Tentunya istri Anda tahu, kan?"

"Tidak, sir. Saya tidak mengatakan apa-apa pada istri saya sampai pagi tadi."

Perdana Menteri manggut-manggut menyetujui.

"Sudah lama saya tahu, sir, betapa tingginya nilai kepentingan publik yang Anda junjung," katanya. "Saya percaya rahasia yang mahapenting ini Anda letakkan di atas hubungan kekeluargaan yang paling intim sekalipun."

Sekretaris Negara itu membungkukkan badannya.

"Benar, sir, benar. Sampai tadi pagi, tak sepatah kata pun saya ucapkan tentang surat itu kepada istri saya."

"Mungkinkah dia menduga-duga?"

"Tidak, Mr. Holmes, dia tidak mungkin menduga-duga—demikian juga orang lain."

"Apakah ada dokumen lain yang pernah hilang sebelumnya?"

"Tidak, sir."

"Siapa saja di Inggris ini yang mengetahui akan adanya surat itu?"

"Semua anggota Kabinet diberitahu tentang surat itu kemarin. Namun Perdana Menteri sendiri telah memberikan peringatan keras agar mereka merahasiakannya. Sungguh tidak disangka bahwa beberapa jam kemudian saya kehilangan surat itu!"

Wajahnya yang ganteng menjadi 'rusak' oleh keputusasaan yang mendalam, sementara tangannya menggaruk-garuk rambutnya. Untuk sesaat, kami melihatnya sebagai sosok manusia biasa yang gampang terganggu emosinya, sangat meletup-letup, dan sensitif. Namun kemudian dia kembali tampil sebagai orang terhormat dan suaranya melembut kembali.

"Selain anggota-anggota Kabinet, ada dua atau mungkin tiga pegawai Kementerian yang mengetahui hal surat itu. Di samping mereka itu, tak ada orang lain di Inggris yang mengetahuinya, sungguh, sir."

"Tapi orang dari luar negeri?"

"Saya yakin tidak ada orang di luar negeri yang pernah melihatnya kecuali si penulisnya sendiri. Saya yakin betul bahwa menteri-menterinya—yang biasanya secara resmi pasti diajaknya berkomunikasi—kali ini pun tak tahu-menahu soal surat yang satu ini."

Holmes nampak berpikir sejenak.

"Sir, sekarang izinkan saya untuk mengajukan beberapa pertanyaan secara lebih rinci. Dokumen macam apakah itu? Dan mengapa hilangnya dokumen itu bisa menimbulkan dampak-dampak yang begitu gawat?"

Dua negarawan itu bertukar pandang, lalu Perdana Menteri mengernyitkan keningnya.

"Mr. Holmes, amplop surat itu panjang, tipis, dan berwarna biru muda, serta berstempel merah dengan simbol badan singa membungkuk. Alamatnya ditulis tangan dengan huruf-huruf besar dan jelas, dialamatkan kepada..."

"Maaf, sir," kata Holmes. "Walaupun rincian yang Anda berikan ini sangat menarik dan memang penting, demi suksesnya penyelidikan yang akan saya lakukan, rinciannya haruslah sampai ke akar-akarnya. Surat macam apakah itu?"

"Isinya menyangkut rahasia negara yang sangat penting, dan saya mohon maaf karena tidak dapat mengatakannya kepada Anda. Lagi pula, saya kira hal itu tak perlu bagi Anda. Kami sudah mendengar tentang kehebatan Anda. Jika Anda berhasil menemukan amplop beserta isinya seperti yang kami maksudkan dalam penjelasan kami tadi, berarti Anda sangat berjasa bagi negara, dan Anda akan mendapat penghargaan resmi dari pemerintah dan imbalan sesuai dengan kemampuan kami untuk menganugerahkannya."

Sherlock Holmes berdiri sambil tersenyum.

"Anda berdua adalah orang-orang yang paling sibuk di negeri ini," katanya, "dan saya juga sedang banyak pekerjaan. Dengan sangat menyesal saya harus mengatakan bahwa saya tidak dapat membantu Anda dalam permasalahan ini, dan kalau pembicaraan ini dilanjutkan, saya yakin hanya akan membuang-buang waktu saja."

Bagai tersengat lebah, Perdana Menteri terlonjak berdiri. Matanya yang cekung melontarkan tatapan marah—tatapan yang membuat kecut semua menteri Kabinet.

"Sikap Anda sungguh keterlaluan, sir," ucapnya dengan marah, tetapi dia segera mengendalikan emosinya, lalu duduk kembali. Selama beberapa saat kami semua duduk tak bersuara. Kemudian, negarawan tua itu mengangkat bahunya.

"Kami terpaksa menerima persyaratan Anda, Mr. Holmes. Anda memang benar, rasanya tak masuk akal bagi kami untuk meminta Anda bertindak tanpa kami menaruh kepercayaan penuh terhadap Anda."

"Ya, saya pun setuju," kata negarawan yang lebih muda.

"Kalau begitu, saya sepenuhnya menaruh kepercayaan pada Anda dan sahabat Anda, Dr. Watson. Saya juga ingin membangkitkan rasa cinta tanah air Anda berdua, sebab saya tidak dapat membayangkan betapa besarnya bencana yang akan menimpa negara kita bila persoalan ini sampai tersebar luas."

"Kapercayaan Anda takkan kami sia-siakan."

"Surat itu berasal dari seorang penguasa asing yang merasa cemas akan perkembangan-perkembangan kolonialisme Inggris di negaranya baru-baru ini. Surat itu ditulis dengan tergesa-gesa dan seluruh isinya merupakan tanggung jawabnya secara pribadi. Pcngusutan yang telah kami lakukan menunjukkan bahwa menteri-menterinya tidak tahu apa-apa mengenai hal itu. Namun celakanya, bahasa surat itu agak meledak-ledak dan bahkan beberapa bagian kalimatnya sangat memancing amarah, sehingga jika sampai diketahui publik, tidak diragukan lagi pasti akan menimbulkan kemarahan rakyat negeri ini. Dalam waktu seminggu saja, sir, kalau sampai surat itu terpublikasikan, gejolak amarah rakyat akan mendorong pemerintah untuk memaklumatkan perang secara besar-besaran."

Holmes menulis sebuah nama pada secarik kertas dan menyerahkannya kepada Perdana Menteri.

"Tepat sekali. Dialah orangnya. Dan surat dari dia inilah—surat yang bisa menimbulkan dampak tersedotnya dana pemerintah sampai ribuan juta pound dan hilangnya nyawa ratusan ribu orang—yang telah hilang dengan cara yang sama sekali tak bisa dimengerti."

"Apakah si pengirim sudah diberitahu?"

"Ya, sir, telegram dalam huruf sandi telah kami kepadanya."

"Mungkinkah justru dia sendiri yang menginginkan surat itu diketahui publik?"

"Tidak, sir, kami mempunyai alasan kuat untuk merasa yakin bahwa dia sudah menyadari kalau perbuatannya itu tidak bijaksana dan terlalu emosional. Jika surat itu sampai bocor, dia dan negaranya sendiri akan mendapat pukulan yang lebih berat daripada kami."

"Kalau begitu, siapa kira-kira yang berminat untuk membocorkan surat itu? Dan mengapa ada orang yang ingin mencurinya dan mempublikasikannya?"

"Dalam hal ini, Mr. Holmes, Anda membawa saya ke dalam pembicaraan tentang politik internasional tingkat tinggi. Namun jika Anda menelaah situasi politik di Eropa akhir-akhir ini, Anda akan dapat mengetahui motivasinya dengan mudah. Secara keseluruhan, Eropa merupakan kemah persenjataan. Ada dua blok yang memiliki kekuatan militer yang seimbang. Kerajaan Inggris menjadi penentu perimbangan itu. Jika Inggris sampai terlibat peperangan dengan salah satu blok, blok yang satunya akan merasa unggul, baik mereka terlibat dalam perang itu atau tidak. Mengertikah Anda?"

"Ya, jelas sekali. Jadi, ada keinginan dari pihak-pihak musuh penguasa ini untuk mencuri dan mempublikasikan surat itu, agar terjadi bentrokan antara negara penguasa itu dan negara kita?"

"Ya, sir."

"Dan kepada siapa dokumen itu akan dikirim jika sampai jatuh ke tangan musuh?"

"Kepada semua pemimpin tertinggi negara-negara di Eropa. Mungkin saja sekarang ini sedang disebarluaskan secepat angin bertiup "

Mr. Trelawney Hope menundukkan kepalanya sampai ke dada sambil mengeluh keras. Perdana Menteri memegangi pundaknya dengan prihatin.

"Nasib buruk sedang menimpamu, Sobat. Tak seorang pun dapat menyalahkanmu. Kau telah berupaya semaksimal mungkin untuk melindungi surat itu. Sekarang, Mr. Holmes, Anda telah mendapatkan semua faktanya. Tindakan apakah yang ingin Anda sarankan?"

Holmes menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sedih.

"Menurut Anda, sir, kalau sampai dokumen itu tak diketemukan, perang akan pecah?"

"Saya pikir begitulah kemungkinannya."

"Kalau begitu, sir, bersiap-siaplah untuk menghadapi perang."

"Itu pernyataan yang amat keras, Mr. Holmes."

"Coba pertimbangkan fakta-faktanya, sir. Tak masuk akal kalau surat itu diambil setelah jam setengah dua belas malam, sebab Mr. Hope dan istrinya berada dalam kamar itu sampai pagi hari ketika surat itu diketahui hilang. Kalau begitu, surat itu tentunya diambil kemarin malam, antara pukul setengah delapan dan setengah dua belas. Mungkin sebelum larut malam, sebab siapapun yang mengambilnya tentu sudah tahu bahwa surat itu ada di sana dan pasti akan melaksanakan pencurian itu sedini mungkin agar lebih aman. Lalu, sir, kalau dokumen sepenting itu diambil pada waktu itu, kira-kira sampai di mana surat itu sekarang? Tentu tak ada seorang pun yang ingin menyimpannya. Surat itu pasti telah diserahkan kepada orang yang membutuhkannya. Maka kita tak mungkin memiliki kesempatan untuk mengejar atau melacak jejaknya, bukan? Nah, nampaknya alternatif ini di luar jangkauan kita."

Perdana Menteri bangkit berdiri.

"Apa yang Anda katakan itu sungguh masuk akal, Mr. Holmes. Saya rasa hal itu memang di luar jangkauan kita."

"Sekadar untuk pengandaian, coba kita perkirakan bahwa dokumen itu telah diambil oleh pelayan khusus Mrs. Hope atau pelayan pria Mr. Hope."

"Mereka berdua pelayan-pelayan tua dan kesetiaan mereka tak diragukan lagi."

"Tadi Anda menyatakan bahwa kamar tidur Anda berada di lantai atas, dan bahwa tak seorang pun dapat naik atau turun tanpa terlihat. Jadi jelas, yang mengambilnya adalah salah satu penghuni rumah. Kepada siapa surat itu akan disampaikan oleh yang mengambilnya? Kepada salah satu dari mata-mata internasional dan agen-agen rahasia yang namanya saya kenal semua dengan baik. Ada tiga yang dapat dikatakan sebagai pentolannya. Saya akan mulai usaha pencarian saya dengan mengunjungi mereka dan melihat apakah masing-masing berada di tempatnya. Jika seseorang di antaranya menghilang—khususnya sejak tadi malam—kita akan cukup memperoleh petunjuk ke mana arah perginya dokumen itu."

"Dia tidak harus pergi jauh-jauh, kan?" tanya Sekretaris Negara. "Mungkin saja dia hanya akan membawa surat itu ke sebuah kedutaan di London."

"Saya kira tidak. Agen-agen ini bekerja secara independen, bahkan sering kali hubungan mereka dengan kedutaan-kedutaan kurang baik."

Perdana Menteri mengangguk mengiyakan.

"Saya yakin Anda benar, Mr. Holmes. Dokumen yang begitu berharga pasti akan diantarkannya sendiri ke markas besarnya—tanpa perantara. Menurut pendapat saya, arah tindakan Anda sangat bagus. Sementara itu, Hope, kita tidak dapat mengabaikan tugas-tugas kita yang lain hanya karena musibah ini. Kami akan memberitahu Anda kalau nanti ada perkembangan baru, dan mohon Anda juga memberi kabar kepada kami mengenai perkembangan penyelidikan Anda."

Dua negarawan itu mohon diri dan meninggalkan tempat kami dengan wajah duka.

Ketika kedua tamu penting itu sudah pergi, Holmes mengambil pipanya. Dia terenyak di tempat duduknya selama beberapa saat, tenggelam dalam pemikirannya yang paling dalam. Sementara itu, aku membolak-balik surat kabar pagi dan akhirnya asyik membaca sebuah berita kejahatan sensasional yang terjadi di London tadi malam. Tak lama kemudian, Holmes berteriak sambil melompat berdiri, dan meletakkan pipanya di atas rak dekat perapian.

"Ya," katanya, "tidak ada jalan yang lebih baik untuk memulai penyelidikan ini. Situasinya amat gawat, tetapi tidak berarti tanpa harapan. Sekarang pun, jika kita dapat memastikan siapa di antara mereka yang mengambilnya, masih ada kemungkinan surat itu belum berpindah tangan. Bagaimanapun juga, yang penting bagi bajingan-bajingan itu kan uang, sedang aku didukung oleh Kementerian Keuangan Inggris. Jika si pencuri mau menjualnya, aku akan membelinya—toh itu tidak akan membuat pemerintah bangkrut. Ya mungkin saja orang itu masih menahan surat itu kalau tawaran yang datang belum sesuai dengan harapannya. Hanya ada tiga orang yang mampu melakukan permainan seberani begini, yaitu Oberstein, La Rothiere, dan Eduardo Lucas. Aku akan menemui mereka satu per satu."

Kulirik surat kabar yang tadi kubaca.

"Apakah Eduardo Lucas yang tinggal di Godolphin Street yang kaumaksudkan?"

"Ya."

"Kau tidak akan bisa menemuinya."

"Mengapa tidak?"

"Dia dibunuh di rumahnya tadi malam."

Seringnya temanku Holmes inilah yang membuatku terkejut kalau kami sedang melakukan penyelidikan, tetapi kali ini aku gembira sekali karena akulah yang berhasil membuatnya terkejut. Dia membelalakkan matanya dengan terheran-heran, kemudian menyambar surat kabar yang kupegang. Bagian surat kabar yang asyik kubaca sebelum temanku berdiri dari duduknya tadi berbunyi demikian:
PEMBUNUHAN DI WESTMINSTER
Kejahatan yang sifatnya misterius terjadi tadi malam di kompleks perumahan kuno (abad ke-delapam belas) yang letaknya agak terasing dari keramaian kota, di antara Sungai Thames dan Gereja Abbey, tepatnya di Godolphin Street Nomor 16. Lokasi tempat itu kira-kira di belakang Menara Gedung Parlemen Inggris yang termasyhur. Rumah kecil namun anggun ini sudah sejak beberapa tahun terakhir dihuni oleh Mr. Eduardo Lucas, yang dikenal masyarakat sebagai pria yang menyenangkan dan juga salah satu penyanyi tenor amatir terbaik di Inggris. Mr. Lucas belum menikah, berusia tiga puluh empat tahun, dan mempunyai seorang pengurus rumah tangga bernama Mrs. Pringle serta pelayan laki-laki bernama Mitton. Tadi malam, pengurus rumah tangga yang sudah tua itu agak awal masuk ke kamarnya di lantai atas untuk beristirahat. Sedangkan Mitton pergi mengunjungi seorang temannya di Hammersmith. Maka sejak pukul sepuluh malam Mr. Lucas sendirian saja di lantai bawah. Apa yang terjadi sesudah itu belum diketahui, tetapi ketika polisi patroli bernama Barret melewati Godolphin Street pada jam sebelas empat puluh lima, nampak olehnya pintu rumah nomor 16 itu agak terbuka. Ia kemudian mengetuk pintu pagar, tetapi tidak ada jawaban. Karena lampu ruang depan menyala, dia lalu melangkah melewati halaman menuju pintu depan rumah itu dan mengetuk lagi, namun tetap tidak ada jawaban. Maka dia mendorong pintu itu dan melangkah masuk. Ternyata ruangan itu dalam keadaan porak poranda. Semua perabotannya disingkirkan ke satu sisi, dan ada satu kursi tergeletak di tengah-tengah ruangan. Di sebelah kursi itulah penghuni rumah yang malang itu ditemukan terbaring, sudah tak bernyawa lagi. Tangannya masih menggenggam kaki kursi itu. Dia ditikam di bagian dada, dan tentunya meninggal seketika. Senjata yang dipakai dalam tindak kruninal itu adalah sebuah belati India yang melengkung, yang kemungkinan diambil dari dinding ruangan itu karena di sana banyak hiasan berupa senjata oriental lainnya. Nampaknya motif pembunuhan ini bukanlah perampokan, sebab tidak ada usaha untuk mengambil barang-barang berharga dalam ruangan itu. Mr. Eduardo Lucas dikenal baik oleh masyarakat luas, sehingga kematiannya yang tragis dan misterius pasti akan menimbulkan kesedihan dan simpati besar di kalangan teman-temannya.
"Well, Watson, apa kesimpulanmu setelah membaca berita ini?" tanya Holmes setelah lama terdiam.

"Benar-benar suatu kebetulan yang luar biasa."

"Suatu kebetulan! Dia itu salah satu dari ketiga orang yang kita curigai sebagai pelaku pencurian surat itu, dan dia menemui ajalnya secara tragis pada jam-jam pencurian itu kemungkinan berlangsung. Sangat janggal kalau yang begitu kusebut kebetulan. Tidak, sobatku Watson, dua kejadian itu berkaitan—pasti berkaitan. Nah, tugas kitalah untuk mencari kaitan yang ada di antara kedua peristiwa itu."

"Tapi itu berarti sekarang pihak kepolisian sudah mengetahui semuanya secara resmi."

"Tidak sama sekali. Mereka hanya tahu apa yang terjadi di Codolphin Street. Mereka tidak tahu dan tidak akan tahu peristiwa yang terjadi di Whitehall Terrace. Hanya kitalah yang mengetahui kedua peristiwa itu, dan hanya kita berdualah yang dapat menyelidiki hubungan yang ada di antara keduanya. Ada satu hal yang jelas mengapa aku mencurigai Lucas. Godolphin Street di daerah Westminster itu tak jauh letaknya dari Whitehall Terrace. Dengan berjalan kaki hanya akan memakan waktu beberapa menit. Sedangkan dua agen rahasia lainnya, yang namanya sudah kusebutkan tadi, tinggal jauh sekali dari Whitehall Terrace. Tentu lebih mudah bagi Lucas, dibanding dengan kedua lainnya itu, untuk mengadakan hubungan dengan atau menerima berita dari penghuni rumah Sekretaris Negara. Halloa! Siapa gerangan yang datang ini?"

Mrs. Hudson menyerahkan sebuah kartu nama seorang wanita kepada Holmes. Dia langsung membacanya, mengernyitkan dahinya, lalu menyerahkan kartu nama itu kepadaku.

"Katakan kepada Lady Hilda Trelawney Hope untuk naik ke sini, bila beliau tidak keberatan," katanya.

Tak lama kemudian, kamar sewaan kami yang sederhana itu berubah suasananya, menjadi jauh lebih semarak dengan hadirnya wanita tercantik di seluruh kota London. Aku sudah sering mendengar tentang kecantikan putri bungsu Duke Belminster itu, juga pernah melihat fotonya, tapi orangnya ternyata jauh lebih cantik. Raut wajahnya yang lembut dan halus, serta rambutnya yang berwarna pirang cerah, sungguh mempesona. Namun demikian, yang nampak jauh lebih menonjol di pagi hari musim gugur itu justru kecemasannya. Pipinya yang indah nampak pucat karena menahan emosi, matanya yang berseri nampak memancarkan kekuatiran, mulutnya yang tipis terkatup rapat, karena dia sedang berusaha keras untuk mengendalikan diri. Ketakutan—bukan kecantikan—yang langsung terbias di hadapan kami begitu tamu kami yang molek itu berdiri kaku di depan pintu masuk ruangan kami.

"Apakah suami saya tadi ke sini, Mr. Holmes?"

"Ya, madam, dia tadi ke sini."

"Mr. Holmes, saya mohon dengan sangat Anda tidak akan mengatakan kepadanya kalau saya datang ke sini."

Holmes membungkukkan badan dengan sikap dingin dan menyilakannya duduk.

"Anda menempatkan saya pada posisi yang sulit. Silakan duduk dengan tenang, dan utarakanlah maksud Anda, tapi saya kuatir saya tak bisa men janjikan apa-apa."

Dia melangkah masuk dan duduk membelakangi jendela. Penampilannya bak seorang ratu—tubuhnya semampai, anggun, dan sungguh-sungguh feminin.

"Mr. Holmes," katanya—dan sementara dia berbicara, tak henti-hentinya dia meremas-remas kedua belah tangannya yang terbungkus sarung tangan putih. "Saya akan berbicara secara jujur, dengan harapan Anda juga akan berbuat demikian. Di antara kami berdua, saya dan suami saya, ada rasa saling percaya yang kuat sekali, kecuali dalam satu hal, yaitu yang menyangkut politik. Dalam hal yang satu ini, mulutnya benar-benar terkatup; dia tak mau mengatakan apa-apa. Sekarang saya menyadari bahwa semalam di rumah kami telah terjadi sesuatu yang sangat menyedihkan. Saya tahu bahwa ada dokumen yang hilang, tetapi oleh karena itu menyangkut politik, suami saya tidak mau menjelaskannya kepada saya. Padahal adalah penting—penting sekali, saya katakan—bagi saya untuk mengetahui isi dokumen itu. Selain para politisi, cuma Anda yang mengetahui fakta-fakta yang sebenarnya. Saya mohon, Mr. Holmes, katakan kepada saya dengan sejujurnya, apa yang telah terjadi dan apa dampak-dampak hilangnya dokumen itu. Katakanlah semuanya, Mr. Holmes. Janganlah karena suami saya klien Anda, Anda jadi tak bersedia membuka mulut. Sebab, saya yakinkan Anda, demi kepentingannya jugalah saya memohon hal itu. Dokumen apa yang telah dicuri?"

"Madam, permintaan Anda benar-benar tidak mungkin saya penuhi."

Dia mengeluh sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

"Harap Anda memakluminya, madam. Kalau suami Anda sendiri memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa kepada Anda, apakah saya—yang tahu tentang hal itu berdasarkan ikatan perjanjian akan merahasiakannya—layak mengatakannya? Tak adil, bukan? Sebaiknya Anda menanyakannya sendiri kepadanya."

"Saya sudah melakukan itu, tapi dia tak bersedia menjawab. Dan saya datang kepada Anda sebagai sumber terakhir. Kalau Anda tak mau membuka rahasia, baiklah, namun tolong jelaskan satu hal saja kepada saya."

"Hal apa itu, madam?"

"Apakah karier politik suami saya mungkin akan sangat terganggu dengan adanya peristiwa ini?"

"Ya, madam, kalau dokumen itu tak ditemukan, dampaknya akan sangat merugikan kariernya."

"Ah!" Dia menarik napas panjang bagaikan telah terjawab keraguannya.

"Satu pertanyaan lagi, Mr. Holmes. Dari ucapan suami saya pada waktu mengabarkan tentang hilangnya dokumen itu, saya mendapat kesan bahwa hal ini akan menimbulkan konsekuensi yang gawat bagi masyarakat. Benarkah demikian?"

"Jika beliau mengatakan begitu, saya tentu tidak akan menyangkalnya."

"Konsekuensi yang bagaimanakah itu?"

"Wah, madam, Anda telah menanyakan lagi hal yang tidak mungkin saya jawab."

"Baiklah, saya tidak akan menyita waktu Anda lebih lama lagi. Saya tak menyalahkan Anda, Mr. Holmes, kalau Anda menolak untuk berbicara lebih banyak, dan saya yakin Anda tidak akan berprasangka buruk terhadap diri saya, karena saya hanya ingin mengetahui apa yang dicemaskan oleh suami saya, meski ini bertentangan dengan kehendaknya. Sekali lagi saya mohon agar Anda tidak menceritakan tentang kunjungan saya ini kepadanya."

Dia menoleh kepada kami sebelum menghilang dari pintu, dan aku sempat melihat wajahnya sekali lagi sebelum akhirnya dia pergi. Dia tetap nampak cantik walaupun wajahnya, matanya, dan mulutnya memancarkan ketakutan.

"Nah, Watson, wanita cantik ini adalah bagianmu," kata Holmes menggoda, ketika lambaian gaun tamu kami menghilang di balik pintu. "Permainan apa yang sedang dilakonkan olehnya? Apa pula sebenarnya yang dia inginkan?"

"Kupikir pernyataannya sudah cukup jelas dan kecemasannya wajar sekali."

"Hm! Perhatikan penampilannya, Watson—sikapnya, rasa penasarannya yang coba ditekannya, kegelisahannya, desakannya ketika mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Ingat, dia bukan berasal dari golongan masyarakat yang mudah mengumbar emosi."

"Dia tentu sangat terpukul."

"Ingat juga bagaimana sikapnya ketika meyakinkan kita bahwa demi kepentingan suaminyalah maka dia perlu tahu segalanya. Apa yang dia maksudkan dengan pernyataannya itu, he? Dan kau tentu juga memperhatikan, Watson, bagaimana dia sengaja membelakangi cahaya dari arah jendela. Dia tidak ingin kita membaca ekspresi wajahnya."

"Ya, itu sebabnya dia memilih duduk di kursi itu."

"Namun, motivasi seorang wanita memang susah diduga. Kau ingat wanita di Margate yang kucurigai seperti ini? Hidungnya tak dipoles bedak—begitulah dia bersandiwara waktu itu. Bagaimana mungkin kau bisa mengambil kesimpulan berdasarkan pengamatan sekilas saja? Kadangkala perbuatan yang nampaknya sepele dapat mempunyai arti penting, atau sebaliknya, tingkah laku yang begitu luar biasa ternyata hanya berhubungan dengan jepit atau rol rambut. Selamat pagi, Watson!"

"Kau mau pergi?"

"Ya, aku mau menemui rekan-rekan korban di Godolphin Street. Menurutku, kunci permasalahan kasus kita ini ada pada Eduardo Lucas, walaupun harus kuakui aku belum tahu dengan jelas bagaimana wujud penyelesaiannya. Adalah merupakan kesalahan besar bila kita menyusun teori sebelum mendapatkan fakta-fakta secara lengkap. Sebaiknya kau tinggal di rumah, Watson, siapa tahu akan ada tamu yang membawa berita baru. Kalau bisa, aku akan kembali pada saat makan siang."

Sepanjang hari itu, dan hari berikutnya, dan bahkan hari berikutnya lagi, suasana hati Holmes "kelabu" (sebagaimana teman-temannya mengistilahkannya) atau "muram" (menurut istilah orang lain lagi). Dia meninggalkan rumah, kembali lagi, lalu mengisap pipa tanpa putus-putusnya, memainkan biolanya, melamun, dan makan sandwich sewaktu-waktu, seenaknya saja. Dan nampaknya dia enggan menjawab pertanyaan-pertanyaan basa-basi yang kutujukan kepadanya. Jelas sekali bahwa semua penyelidikannya tidak berjalan dengan mulus. Dia tidak menjelaskan apa-apa tentang perkembangan kasus itu, jadi aku hanya bisa mempelajari berita-berita tentang pemeriksaan di tempat kejadian dan ditangkapnya John Mitton—yang tak lama kemudian dilepaskan lagi—dari surat kabar. Hasil pemeriksaan mayat korban menyatakan bahwa pembunuhan itu sudah direncanakan sebelumnya, tetapi pelakunya belum diketahui. Motivasinya juga belum jelas, karena meskipun ruangan itu berisi banyak barang berharga, tak ada satu pun yang hilang. Surat-surat berharga milik korban juga ditemukan dalam keadaan lengkap, tak ada yang diutak-utik. Dari pemeriksaan berkas-berkas pentingnya diketahui bahwa korban adalah seorang pengamat masalah politik internasional dan penulis artikel yang tak kenal lelah, ahli bahasa yang hebat, dan penulis surat yang rajin. Dia berhubungan akrab dengan politikus-politikus terkemuka dari beberapa negara asing. Namun di antara dokumen-dokumennya yang memenuhi laci-lacinya itu, tak ditemukan sesuatu pun yang luar biasa. Hubungannya dengan wanita sangat luas, dia suka berganti-ganti pasangan tetapi tidak pernah menjalin hubungan asmara yang mendalam. Tak seorang pun di antara wanita-wanita kencannya yang sungguh-sungguh dicintainya. Kebiasaan-kebiasaannya, ya umum-umum saja, perilakunya baik; tidak suka menyakiti orang lain. Maka kematiannya sungguh-sungguh merupakan misteri, sampai saat ini dan mungkin juga untuk selamanya."

Penangkapan terhadap John Mitton, pelayan korban itu, hanyalah perwujudan dari keputusasaan pihak polisi saja, suatu upaya alternatif daripada tidak berbuat apa-apa sama sekali. Sayang sekali tidak ada tuduhan yang dapat ditimpakan kepadanya. Malam itu, dia berkunjung ke tempat temannya di Hammersmith, jadi alibinya benar-benar sempurna. Menurut perhitungan memang bisa saja dia tiba di Westminster sebelum kejahatan itu diketahui polisi, tetapi dia menjelaskan bahwa sebagian perjalanan ditempuhnya dengan berjalan kaki. Cukup masuk akal, karena malam itu cuaca amat cerah. Kenyataannya, dia sampai di rumah pada pukul dua belas, dan kelihatan sangat terperanjat atas tragedi yang tak diharapkan itu. Hubungannya dengan majikannya selalu baik. Ketika di dalam lemarinya ditemukan sebuah kotak berisi beberapa pisau cukur yang nampaknya milik majikannya, dia menjelaskan bahwa barang-barang itu diberikan sendiri oleh korban kepadanya, dan si pengurus rumah tangga juga membenarkan hal itu. Mitton telah bekerja di sana selama tiga tahun. Patut dicatat bahwa Lucas tidak pernah membawa Mitton ke luar Inggris. Kadang-kadang dia pergi ke Paris selama tiga bulan, tapi Mitton ditugaskan menjaga rumah di Godolphin Street itu. Mengenai pengurus rumah tangga tua itu, tak ada keterangan yang dapat diberikannya. Ia menyatakan bahwa dia tidak mendengar apa-apa pada malam kejadian itu. Kalaupun sang majikan menerima tamu, pasti dia sendirilah yang membukakan pintu.

Tiga hari berlalu dan misteri itu tetap tak tersingkapkan. Itu sejauh yang kuketahui dari berita-berita di surat kabar. Tetapi Holmes pastilah mengetahui setiap perkembangan yang terjadi, karena menurutnya Inspektur Lestrade telah mempercayakan kasus ini sepenuhnya kepadanya. Pada hari keempat, muncullah sebuah telegram panjang dari Paris yang nampaknya akan menyibakkan misteri itu.
Menurut surat kabar Daily Telegraph, pihak kepolisian Paris telah berhasil menyingkap tabir yang menutupi nasib tragis Mr. Eduardo Lucas yang meninggal karena pembunuhan pada hari Senin malam yang lalu di Godolphin Street, Westminster. Para pembaca surat kabar tentu masih ingat bahwa pria muda yang menjadi korban itu ditemukan tertikam di ruang depan rumahnya sendiri, dan bahwa kecurigaan jatuh pada pelayan laki-lakinya. Kecurigaan ini ternyata dipatahkan sehubungan adanya alibi yang kuat dari tersangka. Kemarin, yang berwajib menerima laporan dari beberapa pembantu rumah tangga seorang wanita terhormat yang dikenal dengan nama Mme. Henri Fournaye, dan bertempat tinggal di sebuah Vila kecil di Rue Austerlitz. Mereka mengatakan bahwa majikan mereka itu gila. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata bahwa wanita itu memang mengidap sejenis penyakit jiwa yang berbahaya dan menahun. Dan dari hasil penyelidikan selanjutnya, polisi mengetahui bahwa Mme. Henri Fournaye ini baru saja kembali dari perjalanannya ke London pada hari Selasa yang lalu, dan mendapatkan bukti-bukti bahwa ada hubungan antara dia dan tindak kriminal di Westminster. Pemeriksaan terhadap foto-foto M. Henri Fournaye akhirnya menunjukkan bahwa M. Henri Fournaye dan Mr. Eduardo Lucas itu sebetulnya sama. Jadi korban mempunyai kehidupan ganda, satu di London dan satu di Paris. Mme. Fournaye yang keturunan suku bangsa Creole itu jiwanya memang sangat mudah bergejolak, dan sejak lama mengidap rasa cemburu yang menumpuk sedemikian rupa sehingga menyebabkannya terserang penyakit jiwa. Diduga, dalam keadaan yang demikian itulah dia melakukan tindak kriminal yang telah menggemparkan kota London itu. Gerak-geriknya pada hari Senin malam itu belum seluruhnya diketahui, tetapi tidak diragukan lagi bahwa dia telah menarik perhatian banyak orang di Stasiun Charing Cross pada Selasa paginya karena penampilannya yang liar dan tingkah lakunya yang kasar. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tindakan kriminal itu dilakukannya ketika dia sedang 'kumat', atau justru setelah melakukan tindakan kejam itulah dia kehilangan pikiran warasnya. Saat ini dia belum dapat memberikan keterangan yang jelas tentang kejadian itu, dan menurut para dokter tidak ada harapan lagi untuk memulihkan pikirannya. Ada seseorang yang menyatakan bahwa dia telah melihat seorang wanita, yang mungkin adalah Mme. Fournaye, sedang mengawasi rumah di Godolphin Street itu selama berjam-jam pada Senin malam.
"Bagaimana menurutmu, Holmes?" tanyaku setelah membacakan telegram itu, sementara dia melahap sarapannya.

"Sobatku Watson," katanya sambil berdiri dari kursinya dan berjalan mondar-mandir dalam ruangan itu, "kau telah bersikap sangat sabar selama tiga hari ini. Tapi kalau selama ini aku tak mengatakan apa-apa, itu memang karena tak ada yang dapat kuceritakan. Bahkan saat ini pun, laporan dari Paris ini tak banyak menolong kita."

"Tapi laporan ini akan menjawab misteri kematian pria itu."

"Kematian Lucas hanyalah kejadian kecil—suatu episode yang tak berarti—dibandingkan dengan tugas kita yang sebenarnya, yaitu melacak dokumen yang hilang itu dan menyelamatkan Eropa dari malapetaka. Selama tiga hari ini tidak ada suatu perkembangan pun yang terjadi. Hampir setiap jam aku menerima laporan dari pihak pemerintah, dan jelas sekali bahwa tidak ada tanda-tanda kerusuhan di seluruh Eropa. Masalahnya sekarang, jika surat itu hilang—tidak, tidak mungkin hilang—tapi jika tidak hilang, di manakah gerangan surat itu berada? Siapa yang memilikinya? Mengapa dirahasiakan? Pertanyaan-pertanyaan itu memukul-mukul kepalaku bagaikan palu. Apakah memang kebetulan saja Lucas menemui ajalnya pada malam yang sama dengan hilangnya surat itu? Apakah surat itu pernah sampai ke tangannya? Bila ya, mengapa tak ditemukan di antara berkas-berkasnya? Mungkinkah surat itu dibawa oleh istrinya yang gila itu? Kalau ya, apakah disimpan di rumahnya di Paris? Bagaimana aku dapat melacaknya ke sana tanpa menimbulkan kecurigaan polisi Paris? Dalam kasus ini, Watson, peraturan-peraturan hukum sama berbahayanya dengan pelaku-pelaku tindak kriminal bagi kita. Setiap pihak sepertinya memusuhi kita, padahal persoalan kita ini menyangkut kepentingan internasional yang sangat luas. Kalau nanti aku berhasil menyelesaikan kasus ini, pasti akan merupakan puncak karierku. Ah, ini ada berita yang paling baru!" Dibacanya catatan singkat yang baru saja diterimanya. "Halloa! Lestrade nampaknya mendapatkan sesuatu yang menarik untuk diamati. Kenakan topimu, Watson, dan mari kita berangkat ke Westminster."

Ini merupakan kesempatan pertama bagiku berada di tempat kejadian pembunuhan itu—sebuah rumah yang tinggi, kokoh, suram dan beratap sempit, sebagaimana gambaran arsitektur pada abad yang melahirkannya. Inspektur Lestrade yang bertubuh kekar sedang memandang ke luar jendela ruang depan, dan dia menyambut kami dengan hangat ketika seorang polisi lain yang berbadan besar membukakan pintu dan menyilakan kami masuk. Ruangan yang kami masuki adalah tempat pembunuhan itu terjadi, tetapi sudah tidak terlihat bekas-bekas peristiwa tragis itu lagi kecuali sebuah noda yang bentuknya tidak menentu pada karpet. Karpet itu letaknya di tengah-tengah ruangan, dikelilingi lantai kayu antik yang dipelitur dengan indah sekali. Dinding di atas perapian dihiasi dengan banyak senjata antik; satu di antaranya adalah yang dipakai untuk menikam korban pada malam yang tragis itu. Di dekat jendela terdapat sebuah meja tulis yang indah, dan semua benda di ruangan itu: gambar-gambar, karpet, dan hiasan hiasan dindingnya, lebih memancarkan selera mewah seorang wanita.

"Sudah membaca berita dari Paris?" tanya Lestrade.

Holmes mengangguk.

"Agaknya polisi-polisi Prancis tak keliru kali ini. Penjelasan mereka benar-benar meyakinkan. Wanita itu mengetuk pintu depan—kunjungan kejutan, saya kira, sebab Lucas sangat merahasiakan hidupnya yang di sini—kemudian Lucas mempersilakannya masuk, karena tak mungkin dia membiarkan wanita itu di luar, bukan? Wanita itu lalu menjelaskan bagaimana dia telah membuntutinya, dan memarahinya. Pertengkaran pun terjadi dan setelah meraih sebilah pisau yang ada di dekatnya, wanita itu menikam suaminya. Pergulatan mereka tentunya berlangsung cukup lama, karena kursi-kursi di ruangan ini sempat terguling dan korban sempat memegangi sebuah kursi, mungkin untuk melindungi diri. Begitu jelasnya sampai seolah-olah kita sedang menyaksikan adegan itu."

Holmes mengernyitkan keningnya.

"Kalau begitu untuk apa kau memanggilku ke sini?"

"Ah, ya, ada hal lain yang ingin saya tunjukkan—sesuatu yang sepele tapi aneh, yang mungkin akan menarik perhatian Anda. Tapi hal ini pasti tak ada kaitannya dengan fakta utama."

"Lalu, apakah itu?"

"Well, Anda tahu kan, bahwa setelah kejadian itu, kami menjaga semua perabotan dengan sangat hati-hati agar tetap berada pada posisinya semula. Tak ada satu barang pun yang dipindahkan. Petugas keamanan berjaga di sini siang-malam. Pagi ini, setelah korban dikebumikan dan penyelidikan dinyatakan berakhir, kami pikir sebaiknya ruangan ini sedikit dirapikan. Anda lihat sendiri bahwa karpet ini tidak menempel erat pada lantai, tapi hanya digelar saja di atasnya. Kami sempat mengangkatnya dan kami mendapati..."

"Ya? Kau mendapati..."

Wajah Holmes nampak tegang.

"Well, saya yakin Anda tak akan pernah menyangka apa yang kami dapati. Anda lihat noda di atas karpet itu? Tentu banyak yang merembes ke bawah, kan?"

"Ya, tentu saja."

"Nah, Anda pasti terkejut mendengarnya, karena ternyata tak ditemukan noda apa pun pada lantai kayu di bawahnya."

"Tidak ditemukan noda! Tapi, seharusnya kan ada..."

"Ya, begitu menurut Anda, bukan? Namun kenyataannya tak ada."

Lestrade mengangkat ujung karpet itu dan membalikkannya, untuk membuktikan ucapannya.

"Tapi," kata temanku, "noda itu merembes sampai ke bagian belakang karpet. Seharusnya bekasnya tertinggal pada lantai kayu itu."

Lestrade tertawa girang karena telah membuat bingung pakar detektif yang terkenal itu.

"Sekarang akan saya jelaskan. Di lantai memang ditemukan noda kedua, tapi bukan tepat di bawah noda pada karpet. Coba, silakan lihat sendiri," katanya sambil membalikkan ujung lain karpet itu. Dan benar, di lantai pada bagian itu terdapat noda merah.

"Apa kesimpulan Anda, Mr. Holmes?"

"Sederhana saja. Noda di lantai itu sebenarnya rembesan dari yang di karpet, tapi karpetnya telah diputar. Karena bentuknya bujur sangkar dan tidak menempel pada lantai, hal ini mudah saja dilakukan."

"Polisi tidak memerlukan Anda, Mr. Holmes, kalau hanya untuk mengatakan bahwa karpet itu telah diputar. Itu cukup jelas, karena noda-noda itu saling bertumpangan jika digelar macam begini. Apa yang ingin saya ketahui ialah siapa yang telah memutar letak karpet ini, dan untuk apa gerangan dia melakukannya?"

Aku dapat membaca bahwa wajah Holmes yang nampaknya tegang dari luar itu, ternyata sedang bersorak gembira di dalamnya.

"Coba kemari, Lestrade," katanya, "apakah polisi di halamanmu yang berjaga-jaga di sini sepanjang waktu?"

"Ya."

"Baik, dengarkan saranku. Periksalah dia dengan saksama tanpa sepengetahuan kami. Kami akan menunggu di sini. Kauajak dia masuk ke ruang belakang. Dia akan lebih mudah mengaku jika kau menanyainya sendirian. Tanyakan kepadanya mengapa dia berani-beraninya mengizinkan orang masuk dan meninggalkannya sendirian di ruangan ini. Jangan bersikap seolah-olah itu cuma kemungkinan; anggaplah itu sudah pasti. Katakan saja bahwa kau tahu seseorang telah masuk ke ruangan ini. Pojokkan dia. Katakan juga bahwa kesalahannya akan dimaafkan kalau dia mau mengaku. Lakukan persis seperti yang kuminta, ya!"

"Demi Tuhan, jika dia tahu-menahu soal ini, saya pasti akan membuatnya mengakui perbuatannya!" teriak Lestrade. Dengan bergegas dia menuju halaman dan tak lama kemudian suaranya yang keras terdengar dari ruang belakang.

"Sekarang, Watson, sekarang!" seru Holmes dengan kegembiraan yang menggelora. Seluruh energinya yang tersembunyi di balik sikapnya yang tak acuh itu meledak keluar secara luar biasa. Dia menarik karpet itu dengan cepat sekali dan dalam sekejap dia sudah merangkak sambil mencakari tiap sudut lantai kayu yang ada di bawah karpet tadi. Salah satu bagian lantai itu terbuka bagaikan tutup sebuah kotak ketika kukunya mencungkil ujungnya, dan di bawahnya menganga lubang kecil yang gelap. Holmes segera memasukkan tangannya ke dalam lubang itu dan menggeram dengan kecewa karena lubang itu ternyata kosong.

"Cepat, Watson, cepat! Kembalikan karpet itu ke tempatnya semula!"

Tepat setelah penutup lubang itu dikembalikan ke tempatnya dan karpet itu diluruskan seperti semula, suara Lestrade terdengar di lorong. Holmes menyandarkan tubuhnya dengan lesu pada dinding perapian, tak berkata sepatah pun, bagaikan seseorang yang dengan penuh kesabaran sedang menunggu sesuatu sambil berusaha menyembunyikan kantuknya.

"Maaf, Anda harus menunggu agak lama, Mr. Holmes. Saya tahu Anda pasti merasa bosan sekali dengan seluruh kejadian ini. Dia benar-benar telah mengaku, Mr. Holmes. Kemari kau, MacPherson, dan jelaskan kepada tuan-tuan ini tentang perbuatanmu yang sangat keterlaluan itu."

Polisi yang bertubuh besar dan kuat itu berjalan mendekati kami dengan wajah malu dan penuh penyesalan.

"Saya tidak bermaksud jelek, sir, sungguh! Wanita muda itu datang kemari tadi malam—katanya salah alamat. Kemudian kami bercakap-cakap. Sungguh sepi kalau bertugas sendirian di sini sepanjang hari."

"Lalu apa yang terjadi?"

"Dia ingin melihat tempat pembunuhan itu—sudah membaca beritanya di surat kabar katanya. Dia seorang wanita terhormat, masih muda, dan halus tutur katanya, sir, dan saya pikir tidak ada jeleknya mengizinkan dia melihat ke dalam sejenak. Ketika dia melihat noda di atas karpet itu, segera dia jatuh di lantai dan terkulai seakan-akan tak bernyawa lagi. Saya lari ke belakang dan mengambil sedikit air, tapi saya tidak berhasil menyadarkannya. Kemudian saya berlari ke ujung jalan, ke Toko Ivy Plant untuk membeli brendi, namun sebelum saya menyerahkan brendi itu kepadanya, wanita muda itu sudah pulih dan berdiri kembali—dengan malu-malu, saya kira, dan tidak berani memandang ke arah saya."

"Bagaimana sampai karpet itu bisa berubah posisinya?"

"Begini, sir, karpet itu agak lecek, berkerut-kerut ketika saya tiba kembali dari toko. Itu tentu karena wanita itu jatuh ke atasnya padahal karpet itu tidak dipantek. Maka saya pun lalu meluruskannya kembali."

"Ini pelajaran bagimu, MacPherson, bahwa kau tidak mungkin menipuku," kata Lestrade dengan penuh wibawa. "Kaupikir pelanggaranmu takkan pernah terbongkar, heh? Padahal, dengan memandang karpet itu sekilas saja aku sudah yakin bahwa seseorang telah masuk ke sini. Kau masih beruntung karena tidak ada barang yang hilang. Andaikata sebaliknya yang terjadi, kau akan mendapati dirimu diinterogasi di Queer Street. Saya mohon maaf, Mr. Holmes, karena saya telah mengundang Anda hanya untuk urusan sepele ini. Tadinya saya pikir ditemukannya noda kedua yang tidak bertumpangan dengan yang pertama itu akan menarik perhatian Anda."

"Oh, itu memang sangat menarik. Apakah wanita itu hanya datang kemari sekali, Mr. MacPherson?"

"Ya, sir, hanya sekali."

"Siapakah wanita itu?"

"Saya tidak tahu namanya, sir. Katanya, dia sedang mencari alamat sebuah iklan tentang tenaga mengetik dan ternyata telah tiba ke alamat yang keliru. Orangnya masih muda, menyenangkan, dan sangat sopan, sir."

"Tinggi? Cantik?"

"Benar, sir, wanita itu sepertinya keturunan bangsawan dan menurut saya cantik jelita. Siapa pun pasti akan mengakui kecantikannya. 'Oh, Pak, tolong izinkan saya mengintip sebentar saja!' katanya. Dia pandai mengambil hati orang, dan waktu itu saya pikir tidak ada salahnya memperkenankan dia menengok ke dalam sejenak."

"Bagaimana pakaiannya?"

"Kalem, tidak mencolok, sir—memakai mantel panjang sampai sebatas kaki."

"Jam berapa waktu itu?"

"Pada saat itu senja baru mulai turun. Lampu-lampu jalan mulai menyala ketika saya kembali dari membeli brendi."

"Baiklah, kalau begitu," kata Holmes. "Mari, Watson, kurasa kita mempunyai pekerjaan yang lebih penting di tempat lain."

Lestrade tinggal di ruang depan itu sementara kami diantarkan keluar oleh petugas polisi yang penuh penyesalan itu. Di tangga, Holmes menoleh kepada polisi muda itu sambil menunjukkan sesuatu. Polisi itu melotot.

"Astaga, sir!" teriaknya dengan wajah terheran-heran. Holmes menaruh telunjuknya di bibir, lalu mengembalikan benda itu ke dalam sakunya. Tawanya meledak ketika kami sampai di jalan raya.

"Bagus sekali!" katanya. "Ayo, sobatku Watson, silakan naikkan layar untuk memainkan adegan terakhir. Kau akan merasa lega kalau mendengar bahwa tak akan ada bahaya perang, bahwa the Right Trelawney Hope tak akan hancur karier politiknya yang cemerlang, bahwa dia tak akan dipersalahkan atas kecerobohannya, bahwa Perdana Menteri tidak akan menghadapi kekacauan di Eropa, dan bahwa dengan sedikit kebijaksanaan dan penyelesaian dari pihak kita, tak seorang pun akan menderita akibat hilangnya surat yang mahapenting itu."

Benakku dipenuhi rasa kagum terhadap orang yang luar biasa ini.

"Kau telah mendapatkan jalan keluarnya!" teriakku.

"Tak semudah itu, Watson. Ada beberapa hal yang masih kabur. Tapi kita sudah memperoleh banyak fakta, sehingga kalau sampai kita tidak berhasil menyelesaikan kasus ini, betapa gobloknya kita ini! Yuk, kita pergi ke Whitehall Terrace untuk menyempurnakan penyelidikan kita."

Ketika kami tiba di kediaman Sekretaris Negara itu, barulah aku tahu bahwa Sherlock Holmes ternyata bermaksud menemui Lady Hilda Trelawney Hope. Kami diantar ke ruang duduk yang biasa dipergunakan pada pagi hari.

"Mr. Holmes!" sapa nyonya rumah dengan wajah agak memerah karena berang. "Anda benar-benar tidak adil dan tidak menenggang rasa. Bukankah sudah saya katakan waktu itu agar Anda merahasiakan kunjungan saya ke tempat Anda, supaya jangan sampai suami saya berpikir bahwa saya turut campur dalam urusannya? Namun Anda malah mendatangkan masalah terhadap diri saya dengan datang ke sini, seolah-olah hendak sengaja menunjukkan bahwa ada hubungan kerja di antara kita."

"Sayang sekali, madam, saya tidak mempunyai pilihan lain. Saya ditugaskan untuk mengambil surat pemerintah yang mahapenting itu. Jadi, saya mohon kepada Anda, madam, untuk dengan senang hati menyerahkannya kepada saya."

Wanita terhormat itu melompat berdiri, wajahnya yang cantik seketika menjadi pucat pasi. Matanya berkaca-kaca, tubuhnya terhuyung-huyung—kurasa dia hendak pingsan. Kemudian, dengan segenap kemampuannya dia berusaha untuk mengembalikan kekuatannya, dan air mukanya memancarkan keheranan yang luar biasa berbaur dengan kemarahan.

"Anda... Anda menghina saya, Mr. Holmes."

"Ayolah, madam, surat itu tak berguna bagi Anda. Serahkanlah kepada saya."

Dia segera mendekati bel.

"Penjaga pintu akan mengantar kalian keluar."

"Jangan tekan bel itu, Lady Hilda. Kalau Anda melakukannya, semua usaha keras saya untuk menghindari tersebar luasnya sebuah skandal akan sia-sia. Serahkan saja surat itu, dan segalanya akan beres. Kalau Anda bersedia bekerja sama dengan saya, saya akan mengatur semuanya. Sebaliknya, jika Anda menentang saya, saya akan membeberkan semuanya tentang Anda."

Wanita itu berdiri dengan sikap menantang, figurnya benar-benar bak seorang ratu, dan matanya menatap mata Holmes seakan-akan dia mampu menyelami jiwanya. Jari-jarinya sudah berada di atas bel, tetapi dia belum membunyikannya.

"Anda mencoba menakut-nakuti saya, ya. Sungguh tindakan yang tidak jantan, Mr. Holmes, datang kemari untuk menggertak seorang wanita. Anda mengatakan bahwa Anda mengetahui tentang diri saya. Apa yang Anda ketahui?"

"Silakan duduk, madam. Anda akan melukai diri sendiri kalau sampai terjatuh di situ. Saya tidak akan bicara kecuali Anda bersedia duduk dulu. Terima kasih."

"Saya beri waktu lima menit, Mr. Holmes."

"Satu menit pun cukup, Lady Hilda. Saya tahu bahwa Anda berkunjung ke rumah Eduardo Lucas, bahwa Andalah yang menyerahkan dokumen itu kepadanya, bahwa Anda lalu datang kembali ke tempatnya dengan cara yang cerdik kemarin malam dan mengambil surat itu kembali dari tempat persembunyiannya di bawah karpet."

Wanita itu menatap Holmes dengan tajam. Wajahnya menjadi pucat seketika dan dia menelan air liumya sampai dua kali sebelum akhirnya berbicara.

"Anda gila, Mr. Holmes... Anda gila!" jeritnya. Holmes mengeluarkan sepotong kecil kertas karton dari sakunya. Potongan kertas itu berisi gambar wajah seorang wanita yang digunting dari sebuah foto.

"Saya membawa ini sebab saya pikir akan ada gunanya," katanya. "Dan polisi penjaga rumah itu mengenali wajah ini."

Wanita itu mendesah dan kepalanya terjatuh ke sandaran kursi.

"Mari, Lady Hilda. Surat itu ada pada Anda. Persoalan ini masih bisa diatur. Saya tidak bermaksud mencelakakan Anda. Tugas saya berakhir kalau saya sudah mengembalikan surat yang hilang itu kepada suami Anda. Dengar nasihat saya, dan jujurlah kepada saya. Ini merupakan satu-satunya kesempatan Anda."

Keberanian wanita itu mengagumkan sekali. Bahkan sampai detik itu pun dia tidak mau menyerah kalah.

"Sekali lagi saya katakan, Mr. Holmes, bahwa Anda dipengaruhi ilusi yang bukan-bukan."

Holmes bangkit dari kursinya.

"Maaf, Lady Hilda. Saya telah mengusahakan yang terbaik bagi Anda, tapi saya rasa semuanya sia-sia belaka."

Dia membunyikan bel. Petugas penjaga pintu pun masuk.

"Apakah Mr. Trelawney Hope ada di rumah?"

"Sebentar lagi beliau akan pulang, sir, yaitu pada jam satu kurang seperempat."

Holmes melihat ke jam tangannya.

"Masih seperempat jam lagi," katanya. "Baiklah, akan saya tunggu saja."

Begitu petugas itu menutup pintu, Lady Hilda langsung berlutut di kaki Holmes; wajahnya menengadah, tangannya direntangkan, air matanya bercucuran.

"Oh, jangan hancurkan hidup saya, Mr. Holmes! Jangan hancurkan hidup saya!" dia memohon dengan sangat. "Demi Tuhan, jangan katakan kepadanya! Saya amat mencintainya! Saya tidak pernah berniat menyusahkan hidupnya, dan kalau dia sampai tahu tentang hal ini, pastilah hatinya yang mulia akan hancur."

Holmes menariknya agar berdiri.

"Saya bersyukur, madam, karena kini Anda telah sadar, walau nyaris saja terlambat! Sekarang, jangan sia-siakan waktu lagi. Di mana surat itu?"

Wanita itu cepat-cepat menyeberangi ruangan dan menghampiri meja tulis, membuka kuncinya, dan mengeluarkan sebuah amplop panjang berwarna biru.

"Ini, Mr. Holmes. Betapa saya berharap saya tak pernah melihat benda terkutuk ini!"

"Bagaimana sebaiknya kita mengembalikannya?" Holmes berkomat-kamit pada dirinya sendiri. "Cepat, cepat, kita harus mendapatkan cara untuk mengembalikan surat ini! Di mana kotak tempat menyimpan dokumen ini?"

"Masih ada di dalam kamar tidurnya."

"Sungguh beruntung kita! Cepat, madam, bawa kotak itu kemari!"

Sebentar kemudian wanita itu muncul kembali dengan sebuah kotak merah di tangannya.

"Bagaimana Anda membukanya waktu itu? Apakah Anda mempunyai kunci duplikat? Ya, Anda pasti punya. Nah, sekarang bukalah!"

Dari balik bajunya, Lady Hilda mengeluarkan sebuah kunci kecil. Kotak itu pun lalu dibukanya. Isinya berkas-berkas penting. Holmes memasukkan amplop biru itu jauh ke dalam, di antara surat-surat lainnya. Kemudian kotak itu ditutup, dikunci, dan dikembalikan ke kamar pemiliknya.

"Sekarang, kita siap menemuinya," kata Holmes. "Masih ada waktu sepuluh menit. Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk melindungi Anda, Lady Hilda. Sebagai imbalannya, saya harap Anda bersedia menjelaskan dengan sejujurnya, apa arti kejadian yang luar biasa ini."

"Baiklah, Mr. Holmes, akan saya ceritakan semuanya," kata Lady Hilda. "Oh, Mr. Holmes, lebih baik tangan kanan saya dipotong daripada saya harus mendukakan hati suami saya. Tidak ada wanita lain di seluruh kota London yang mencintai suaminya seperti saya, namun kalau dia sampai tahu apa yang telah saya lakukan—dan bagaimana saya telah terpaksa melakukannya—dia pasti tak akan memaafkan saya. Dia sangat menjunjung tinggi kehormatannya, sehingga tak mungkin dia akan melupakan atau memaafkan kekhilafan semacam itu. Tolong saya, Mr. Holmes! Kebahagiaan saya, kebahagiaannya, kehidupan kami berdua sedang dalam bahaya!"

"Cepat sedikit, madam, waktunya hampir habis!"

"Begini, Mr. Holmes, sumber masalahnya adalah sepucuk surat, surat yang agak sembrono yang saya tulis sebelum saya menikah—surat konyol yang dibuat oleh seorang gadis remaja yang sedang dimabuk cinta. Saya tidak bermaksud jelek, tapi suami saya pasti akan menganggapnya sebagai suatu kesalahan fatal. Seandainya dia sempat membaca surat itu, pastilah kepercayaannya terhadap saya akan hancur selama-lamanya. Surat itu saya tulis bertahun-tahun yang lalu. Saya pikir sudah tak menjadi masalah lagi. Lalu beberapa waktu yang lalu, saya mendapat kabar dari orang yang bernama Lucas ini bahwa surat cinta saya berada di tangannya, dan dia mengancam akan membeberkannya kepada suami saya. Saya memohon belas kasihannya. Dia berkata dia akan mengembalikan surat itu dengan imbalan dokumen tertentu yang menurutnya ada dalam kotak tempat surat-surat penting suami saya. Dia mempunyai mata-mata di kantor suami saya yang memberinya informasi mengenai dokumen itu. Dia meyakinkan saya bahwa hilangnya dukomen itu tidak akan membahayakan suami saya. Coba bayangkan, Mr. Holmes, seandainya Anda berada dalam posisi saya! Apa yang harus saya lakukan?"

"Ceritakan semuanya kepada suami Anda."

"Tidak bisa, Mr. Holmes, tidak bisa! Saya meng-hadapi dilema. Di satu pihak, akibatnya sudah jelas—rumah tangga saya akan berantakan. Di pihak lain, walaupun mencuri itu perbuatan tercela, akibatnya toh urusan politik yang tak saya mengerti. Sedangkan urusan cinta dan kepercayaan saya paham betul, Mr. Holmes! Akhirnya pilihan kedua itulah yang saya lakukan! Saya menjiplak kuncinya. Lucas memesankan duplikatnya. Saya membuka kotak dokumen suami saya, mengambil surat itu, dan membawanya ke Godolphin Street."

"Apa yang terjadi di sana, madam?"

"Saya mengetuk pintu perlahan-lahan seperti yang telah kami sepakati. Lucas membukakan pintu itu. Saya mengikuti dia masuk ke ruang depan sementara pintu saya biarkan terbuka sedikit sebab saya takut berada sendirian dengan lelaki itu. Saya ingat ada seorang wanita di luar ketika saya masuk. Kami segera membereskan urusan kami. Surat saya terletak di mejanya, saya menyerahkan dokumen itu kepadanya, kemudian dia lalu mengembalikan surat saya. Pada saat itulah terdengar suara di dekat pintu masuk, yang disusul dengan langkah-langkah kaki di lorong rumah itu. Lucas cepat-cepat menyingkap karpet, memasukkan dokumen itu ke dalam tempat persembunyian di bawahnya, dan menutupnya kembali.

"Apa yang terjadi setelah itu adalah seperti mimpi buruk yang sangat menakutkan. Saya melihat bayangan gelap dengan wajah garang dan mendengar suara wanita yang menjerit-jerit dalam bahasa Prancis, 'Tidak sia-sia penantianku. Akhirnya, akhirnya aku berhasil memergokimu dengan perempuan itu!' Kemudian terjadilah perkelahian seru. Saya melihat Lucas memegang kursi sedangkan sebilah pisau berkilatan di tangan wanita itu. Cepat-cepat saya menjauhi pemandangan yang mengerikan itu dan melarikan diri dari rumah itu. Baru keesokan paginya saya tahu tentang akhir peristiwa yang amat menakutkan itu, dari surat kabar. Malam itu saya merasa gembira karena saya telah mendapatkan surat saya kembali, tanpa menyadari apa yang kemudian akan terjadi.

"Pagi hari berikutnya barulah saya menyadari bahwa saya telah menukar satu kesulitan dengan kesulitan lain. Kedukaan suami saya atas hilangnya dokumen itu amat menyayat hati saya. Hampir saja saya tidak dapat menahan diri untuk berlutut di hadapannya dan mengakui perbuatan saya. Tapi kemudian saya sadar, itu berarti akan mengungkit-ungkit masa lalu saya. Itulah sebabnya pagi itu saya datang ke tempat Anda untuk mendapatkan kepastian tentang dampak perbuatan saya. Begitu saya tahu bahwa itu akan mengganggu karier suami saya, saya langsung memeras otak bagaimana saya bisa mengambil kembali dokumen suami saya itu. Tentu dokumen itu masih berada di tempat Lucas menyembunyikannya sebelum wanita buas itu menyerbu masuk. Kalau bukan karena kehadiran wanita itu, saya malah tidak akan tahu di mana Lucas menyimpan dokumen itu. Bagaimana caranya supaya saya bisa masuk ke ruangan itu? Selama dua hari saya mengamati rumah itu, tapi pintunya tidak pernah dibiarkan terbuka. Kemarin malam, akhirnya saya melancarkan aksi saya. Apa yang saya lakukan dan bagaimana saya berhasil mendapatkan surat itu kembali sudah Anda ketahui. Saya berniat untuk memusnahkan dokumen itu, sebab saya tidak tahu bagaimana harus mengembalikannya tanpa mengakui kesalahan saya kepada suami saya. Astaga, itu langkah-langkahnya di tangga!"

Sekretaris Negara menghambur ke dalam ruangan dengan penuh semangat.

"Ada berita apa, Mr. Holmes, ada berita apa?" teriaknya.

"Saya melihat ada harapan."

"Ah, syukurlah!" Wajahnya berseri-seri. "Perdana Menteri akan makan siang bersama saya. Bolehkah beliau ikut mendengarkan harapan yang ingin Anda sampaikan? Sarafnya memang bagaikan baja, tapi saya tahu bahwa beliau sulit tidur sejak kejadian gawat ini. Jacobs, tolong antarkan Perdana Menteri kemari. Dan kau, istriku tercinta, maaf sebentar, ya, berhubung ini menyangkut urusan politik. Kami akan segera menyusul ke ruang makan."

Sikap Perdana Menteri tampak tenang, namun dari sorot mata dan entakan-entakan tangannya yang kurus aku dapat menyimpulkan bahwa dia turut merasakan kegembiraan rekannya yang masih muda itu.

"Saya dengar Anda ingin melaporkan sesuatu, Mr. Holmes?"

"Sebenarnya masih negatif seperti sebelumnya," jawab sahabatku. "Saya telah menyelidiki setiap kemungkinan yang ada, dan saya merasa yakin bahwa tak ada bahaya apa pun yang perlu ditakutkan."

"Tapi, itu tidak cukup, Mr. Holmes. Kami tidak akan dapat hidup tenang sementara ada risiko gunung berapi yang sewaktu-waktu bisa meletus. Kami perlu mendapat kepastian."

"Saya pikir saya dapat memberikan kepastian itu. Itulah sebabnya saya berada di sini. Semakin saya memikirkan persoalan ini, semakin yakin saya bahwa surat itu tak pernah dibawa keluar dari rumah ini."

"Mr. Holmes!"

"Kalau memang dibawa keluar, pasti isinya sudah tersiar sekarang."

"Tapi untuk apa orang mencurinya, kalau kemudian hanya ditaruh di rumah ini?"

"Saya tak yakin ada orang yang mencuri surat itu."

"Lalu bagaimana surat itu bisa meninggalkan kotak penyimpanannya?"

"Saya tak yakin bahwa surat itu telah meninggalkan kotak penyimpanannya."

"Mr. Holmes, gurauan ini sangat memuakkan. Waktu itu saya sudah meyakinkan Anda bahwa surat itu tidak ada lagi dalam kotaknya."

"Apakah Anda pernah memeriksa isi kotak itu setelah hari Selasa yang lalu?"

"Tidak. Untuk apa?"

"Mungkin saja terlewatkan oleh Anda."

"Itu tidak mungkin."

"Saya tak yakin akan hal itu. Saya tahu hal seperti ini sering terjadi. Dugaan saya ialah pasti ada surat-surat lain di dalam kotak itu. Nah, mungkin saja tercampur-aduk dengan surat-surat lainnya itu."

"Saya taruh surat itu di tumpukan paling atas."

"Seseorang mungkin telah mengguncang-guncangkan kotak itu sehingga posisinya berubah."

"Tidak, tidak, waktu itu saya sempat membongkar seluruh isi kotak."

"Begini saja, Hope," kata Perdana Menteri menengahi. "Kita periksa kotak itu bersama-sama."

Sekretaris Negara segera menekan bel.

"Jacobs, ambilkan kotak dokumenku dan bawa kemari. Menggelikan sekali dan membuang-buang waktu saja. Namun untuk meyakinkan dan memuaskan kalian semua, baiklah kita coba lihat. Terima kasih, Jacobs, taruh di sini saja. Saya selalu menggantungkan kuncinya pada rantai jam saya. Nah, silakan kalian lihat, inilah berkas-berkas penting saya. Surat dari Lord Merrow, laporan dari Sir Charles Hardy, memo dari Belgrade, catatan mengenai pajak padi-padian Russo Jerman, surat dari Madrid, catatan dari Lord Flowers—ya Tuhan! Apa ini? Lord Bellinger! Lord Bellinger!"

Perdana Menteri langsung menyambar amplop biru itu dari tangan Sekretaris Negara.

"Ya, betul, ini suratnya—masih utuh lagi. Hope, kuucapkan selamat."

"Terima kasih! Aduh, betapa leganya hati saya. Namun ini sungguh-sungguh tak terbayangkan—sesuatu yang tak mungkin. Mr. Holmes, Anda ini tukang sihir, tukang sihir! Bagaimana Anda bisa tahu kalau surat ini ada di dalam sini?"

"Sebab saya tahu bahwa surat itu tidak berada di tempat tempat lain."

"Saya tak percaya pada apa yang saya lihat ini!"

Dia berlari pontang-panting menuju pintu.

"Mana istri saya? Saya harus segera memberi tahu dia bahwa semuanya sudah beres. Hilda! Hilda!" suaranya terdengar di tangga.

Perdana Menteri menatap Holmes dengan mata berbinar-binar.

"Ayolah, sir," katanya. "Pasti ada sesuatu di balik semua yang kelihatan oleh mata ini. Bagaimana caranya surat itu dapat kembali ke dalam peti?"

Holmes menoleh ke arah lain, menghindari tatapan Perdana Menteri yang menyelidik dengan kritis itu, sambil tersenyum.

"Kami juga mempunyai rahasia-rahasia diplomatik," jawabnya sambil mengambil topinya lalu berjalan ke arah pintu.