"Bagi seseorang yang benar-benar mencintai seni," komentar Sherlock Holmes sambil melempar halaman iklan Daily Telegraph ke samping, "manifestasi-manifestasi yang sepele dan remeh justru yang sering dianggap memantulkan keindahan. Aku mengamati, Watson, bahwa kau pun berbuat serupa. Tulisan-tulisanmu tentang kasus-kasus yang pernah kita tangani cukup bagus, walaupun—aku perlu mengatakan hal ini—kadang-kadang kautambah-tambahi di sana-sini. Kasus-kasus terkenal dan sidang-sidang sensasional tak banyak kau kemukakan, tapi kau lebih menonjolkan insiden-insiden sepele yang telah menunjukkan keahlian khususku dalam hal menarik kesimpulan dan memadukan logika."

"Dan toh," kataku sambil tersenyum, "tulisan-tulisanku masih saja dituduh terlalu sensasional."

"Kau mungkin keliru," katanya sambil menyambar bara api dengan penjepit untuk menyalakan pipa kayunya yang panjang, yang menggantikan pipa tanah liatnya kalau suasana harinya sedang ingin berdebat dan bukannya sedang ingin bermeditasi. "Mungkin kau keliru kalau tiap kalimatmu ingin kau buat semenarik dan sehidup mungkin. Seharusnya kau kemukakan saja apa adanya penalaranku dalam memecahkan suatu kasus. Kan itu yang penting."

"Aku memang sudah berbuat begitu, kok," komentarku dengan dingin, karena aku tak suka dengan sifat mau menang sendiri yang sering ditunjukkannya.

"Tidak, aku tak bermaksud mau menang sendiri atau sombong," jawabnya, seolah tahu jalan pikiranku. "Kalau aku menuntut karya seniku ditampilkan seutuhnya, itu bukan karena aku ingin dipuji. Tindak kejahatan banyak terjadi, tapi logika jarang digunakan. Itulah sebabnya, seharusnya kau lebih banyak mengungkapkan logika daripada tindak kejahatannya sendiri. Sesuatu yang seharusnya merupakan serangkaian bahan kuliah telah kauturunkan derajatnya menjadi serial cerita dongeng."

Saat itu cuaca pagi hari sangat dingin di awal musim semi, dan kami sedang duduk bersebelahan di depan perapian di kamar tua kami di Baker Street setelah sarapan. Kabut tebal bergulung-gulung di antara deretan rumah-rumah yang berwarna suram, dan jendela-jendela di seberang kamar kami nampak bagaikan bayang-bayang gelap tanpa bentuk di tengah-tengah lingkaran kuning yang pekat. Lampu gas kami masih menyala, bersinar di atas taplak meja yang putih dan piring-mangkuk, karena meja makan itu belum dibereskan. Sepanjang pagi Sherlock Holmes lebih banyak berdiam diri, asyik mengamati kolom-kolom iklan dari beberapa koran, hingga akhirnya, setelah selesai dengan pengamatannya, dia langsung menguliahiku tentang kekurangan-kekurangan karya tulisku dengan cara yang sangat tak menyenangkan itu.

"Walaupun demikian," komentarnya setelah diam sejenak dan mengisap pipanya yang panjang sambil menatap ke arah perapian, "kau tak mungkin dituduh terlalu sensasional, karena kasus-kasus yang kau minati sebagian besar tak membahas tindak kejahatan dari segi hukum sama sekali. Masalah kecil di mana aku berusaha membantu Raja Bohemia, pengalaman unik Miss Mary Sutherland, kasus yang berhubungan dengan pria berbibir miring, dan peristiwa bangsawan muda, semuanya ini tak berhubungan dengan hukum yang berlaku. Tapi supaya kisahnya tak menjadi terlalu sensasional, kau malah hanya mengungkapkan hal-hal yang sepele saja."

"Bagian akhirnya mungkin begitu," kataku, "tapi caraku mengisahkannya cukup lihai dan menarik."

"Huh, sobatku, apa peduli para pembaca tentang segala macam analisis dan kesimpulan yang rumit-rumit? Mereka tak mau pusing-pusing soal itu. Mana mereka tahu bahwa tukang tenun bisa dikenali dari giginya, atau ahli grafis nampak dari jempol kirinya? Tapi, sungguh, aku tak menyalahkanmu kalau hasil tulisanmu agak ringan, karena zaman kasus yang berat-berat memang sudah berlalu. Orang-orang, khususnya para penjahat, telah kehilangan keberanian, dan tindakan mereka ya cuma begitu-begitu saja. Dan usahaku yang tak seberapa ini kini malah merosot mutunya menjadi semacam biro pencarian barang-barang kecil dan biro konsultasi untuk wanita-wanita muda yang kebingungan. Kupikir, usahaku akhirnya sudah sampai pada titik jenuhnya. Pesan yang kuterima tadi pagi, misalnya, menunjukkan betapa remehnya kasus yang dikonsultasikan padaku. Coba, bacalah!" Dia menyodorkan sepucuk surat kumal padaku.

Surat itu bertanggalkan kemarin malam dan dikirim dari Montague Place. Bunyinya demikian:

Mr. Holmes yang terhormat,

Saya ingin berkonsultasi dengan Anda tentang apakah saya sebaiknya menerima tawaran pekerjaan sebagai guru les privat di suatu tempat tertentu atau tidak. Saya akan datang besok jam setengah sebelas, kalau Anda tak keberatan.

Hormat saya,

VIOLET HUNTER

"Kaukenal wanita itu?" tanyaku.

"Tidak."

"Sekarang sudah jam setengah sebelas."

"Ya, pasti dia yang membunyikan bel pintu."

"Bisa jadi kasusnya lebih menarik dari apa yang kaupikirkan. Masih ingat kasus batu delima biru? Pada awalnya nampaknya cuma sepele saja, tapi ternyata membutuhkan penyelidikan yang serius. Mungkin saja kasus ini pun demikian."

"Yah, moga-moga saja! Tapi kita tak perlu merasa ragu-ragu lagi, karena, kalau tak salah, orang yang bersangkutan telah tiba."

Begitu kata katanya selesai, pintu ruangan kami terbuka. Seorang wanita muda masuk. Pakaiannya sederhana tapi rapi. Wajahnya cerah, penuh emosi, dan berbintik-binrik coklat bagaikan telur burung. Gerak-geriknya cekatan sebagaimana layaknya seorang wanita yang terbiasa hidup mandiri.

"Maaf, saya mengganggu Anda," katanya ketika temanku berdiri untuk menyambutnya, "tapi saya telah mengalami peristiwa yang aneh, dan karena saya tak punya orangtua atau famili lain yang bisa diajak berunding, saya lalu memutuskan untuk meminta nasihat Anda."

"Silakan duduk, Miss Hunter. Dengan senang hati saya akan berusaha membantu Anda."

Aku bisa merasakan bahwa Holmes sangat terkesan oleh sikap dan perkataan klien kami yang baru ini. Dia mengamati gadis itu dengan saksama, seperti biasanya kalau dia bertemu klien barunya untuk pertama kali. Lalu dia kembali duduk, mengatupkan kedua matanya dan jari-jari kedua tangannya, serta bersiap-siap untuk mendengarkan kisah gadis itu.

"Saya telah bekerja sebagai guru les privat selama lima tahun," katanya, "pada keluarga Kolonel Spence Munro. Tapi dua bulan yang lalu Kolonel bersama seluruh keluarganya pindah ke Halifax, di Nova Scotia, Amerika. Maka, saya pun kehilangan pekerjaan saya. Saya lalu memasang iklan dan melamar ke sana kemari, tapi sia-sia. Akhirnya, uang tabungan saya mulai menipis dan saya benar-benar tidak tahu apa yang harus saya lakukan.

"Ada sebuah biro penyalur guru-guru les privat vang terkenal di West End bernama PT Westaway. Ke sanalah saya pergi seminggu sekali untuk mengecek apakah ada lowongan pekerjaan yang cocok untuk saya. PT Westaway diambil dari nama pendirinya, tapi yang menjalankan usaha itu sekarang adalah seorang wanita bernama Miss Stoper. Dia mempunyai ruangan kecil sendiri, dan wanita-wanita yang mencari pekerjaan melalui biro ini banyak sekali. Mereka menunggu giliran di ruang tunggu khusus, karena mereka harus menghadap Miss Stoper satu per satu. Dia lalu akan membuka buku besarnya, dan mengecek apakah ada lowongan yang cocok untuk masing-masing pencari kerja itu.

"Nah, ketika saya ke sana minggu lalu, saya pun diantar masuk ke kantor yang sempit itu, seperti biasanya. Ternyata waktu itu Miss Stoper tidak sendirian. Dia ditemani seorang pria berkacamata yang sangat gemuk dan ramah. Dagu pria itu amat lebar dan menyatu dengan lehernya yang berlipat-lipat. Dia mengamati semua pencari kerja yang masuk ke situ dengan saksama. Ketika saya masuk, dia agak terlompat dari kursinya, dan langsung berbicara kepada Miss Stoper. 'Yang ini saja,' katanya, 'dia amat cocok. Hebat! Hebat!' Dia sangat antusias dan digosok-gosokkannya kedua tangannya sebagai tanda kegembiraannya. Pria itu sangat ramah, sehingga orang pasti akan langsung menyukai kehadirannya.

"'Anda sedang mencari pekerjaan, miss?' tanyanya pada saya.

"'Ya, sir."

"'Sebagai guru les privat?'

"'Ya, sir."

"'Berapa besar gaji yang Anda minta?'

"'Terakhir kali, saya digaji empat pound seminggu di rumah keluarga Kolonel Spence Munro.'

"'Oh, wah, wah! Itu kerja rodi namanya... keterlaluan!' teriaknya sambil melambai ke udara, seakan-akan jengkel. 'Bagaimana mungkin orang menggaji sedemikian rendahnya pada seorang gadis yang menarik dan berprestasi seperti Anda?'

"'Prestasi saya, sir, mungkin tak setinggi yang Anda bayangkan," kata saya. 'Saya hanya bisa sedikit bahasa Prancis, Jerman, musik, dan menggambar...'

"'Wah, wah!' teriaknya. 'Bukan itu maksud saya. Maksud saya ialah apakah Anda memiliki penampilan seorang wanita terhormat atau tidak. Begitulah singkatnya. Kalau tidak, berarti Anda tak cocok untuk pekerjaan ini, karena Anda akan mengajar seorang anak yang suatu saat nanti akan jadi orang penting di negeri ini. Tapi kalau Anda memenuhi syarat itu, pasti siapa pun akan mau membayar Anda tak kurang dari tiga digit. Gaji Anda di tempat saya, madam, akan mulai dengan seratus pound setahunnya.'

"Anda bisa bayangkan, Mr. Holmes, betapa tawaran itu kedengarannya tak masuk akal bagi saya yang sedang kesulitan uang ini. Melihat kekagetan saya, pria itu lalu membuka sebuah buku kecil dan menuliskan sesuatu.

"'Adalah kebiasaan saya pula,' katanya sambil tersenyum dengan amat ramah, sehingga mata nya yang sipit hanya tinggal dua garis yang bersinar-sinar di antara garis-garis wajahnya yang putih, 'untuk membayar separo gaji di muka, supaya bisa dipakai untuk membayar transpor dan membeli pakaian.'

"Rasanya belum pernah saya bertemu dengan pria seramah dan sebaik dia. Karena ada beberapa tagihan yang belum saya bayar, maka sistern pembayaran di muka seperti ini akan sangat menolong saya. Tapi saya merasa ada sesuatu yang ganjil dari transaksi ini, sehingga saya lalu mengajukan beberapa pertanyaan sebelum menyatakan persetujuan saya.

"'Boleh saya tahu di mana Anda tinggal, sir?' kata saya.

"'Di daerah pedesaan Hampshire yang indah. Nama tempat kami Copper Beeches, kira-kira delapan kilometer dari Winchester. Daerah itu betul-betul indah, Nona manis, dan rumah kami adalah rumah kuno yang sangat menyenangkan.'

"'Dan, apa tugas saya, sir?'

"'Ada seorang anak—anak kecil berumur enam tahun. Oh, coba kalau Anda melihat bagaimana dia membunuh kacoak dengan sandal. Plak! Plak! Plak! Tiga kecoak langsung terkapar dalam sekejap mata!' Dia menyandar di kursinya sambil tertawa, hingga matanya kembali menghilang, berubah menjadi dua garis tipis.

"Saya kaget juga mendengar tingkah anak itu, tapi tawa sang ayah membuat saya berpikir bahwa dia cuma bergurau.

"'Jadi tugas utama saya,' tanya saya, 'adalah mengajar seorang anak?'

"'Bukan, bukan. Bukan itu yang utama, bukan itu yang utama, Nona manis,' teriaknya. 'Tugas Anda, mestinya sudah Anda duga sebelumnya, adalah menuruti perintah-perintah kecil yang diberikan oleh istri saya. Maksud saya tentunya tugas-tugas yang pantas dilakukan oleh seorang gadis terhormat. Tak sulit, kan?'

"Tentu saja saya senang kalau bisa membantu istri Anda.'

"'Baik. Dalam hal berpakaian, misalnya. Kami ini agak aneh dalam selera berpakaian—tapi kami baik hati, lho. Kalau Anda diminta untuk mengenakan pakaian tertentu, tentunya Anda tak keberatan, bukan?'

"'Tidak,' jawab saya, walaupun saya terkejut mendengar perkataannya.

"'Juga kalau kami minta Anda duduk-duduk di tempat tertentu?'

"'Oh, tidak.'

"'Atau kalau kami minta agar Anda memotong pendek rambut Anda sebelum mulai bekerja di tempat kami?'

"Saya hampir-hampir tak percaya pada apa yang baru saja saya dengar. Mungkin Anda pun telah memperhatikan, Mr. Holmes, bahwa rambut saya agak istimewa, karena warnanya yang coklat kemerah-merahan. Banyak yang mengagumi rambut saya. Tak bisa saya bayangkan saya akan rela mengorbankannya dengan begitu saja.

"'Maaf, itu tak mungkin,' kata saya. Pria itu sedang mengamati saya dengan amat penasaran. Matanya menyipit, lalu saya melihat ada kabut melintas di wajahnya setelah mendengar kata-kata saya.

"'Wah, padahal itu amat penting,' katanya. 'Masalahnya, istri saya suka berkhayal yang tidak-tidak, biasakan wanita begitu, dan bukankah khayalan wanita tidak boleh diabaikan begitu saja? Jadi, Anda keberatan memotong rambut Anda?'

"'Ya, sir. Saya benar-benar tak bisa melakukan itu,' jawab saya dengan tegas.

"'Ah, ya, sudahlah. Sayang, karena Anda sebenarnya sangat cocok untuk pekerjaan ini. Kalau begitu, Miss Stoper, lebih baik kita lanjutkan dengan yang lainnya saja.'

"Selama pembicaraan kami, wanita pimpinan biro ini sibuk sendiri dengan kertas-kertasnya dan tak sepatah kata pun diucapkannya kepada kami. Kini, dia menatap saya dengan amat jengkel, sehingga saya jadi curiga jangan-jangan penolakan saya telah menjadikannya kehilangan komisi yang cukup besar.

"'Apakah nama Anda masih perlu didaftarkan lagi?' tanyanya.

"'Ya, Miss Stoper.'

"'Yah, apakah tidak percuma saja. Ada tawaran pekerjaan yang begitu baiknya saja, Anda tolak!' katanya dengan ketus. 'Jangan harap kami akan bisa menawarkan pekerjaan dengan kondisi sebaik itu lagi. Selamat siang, Miss Hunter.' Dia lalu memukul gong yang terletak di mejanya, dan saya pun diantarkan keluar oleh penjaga pintu.

"Yah, Mr. Holmes, ketika saya pulang ke tempat kos dan menyadari bahwa saya tak punya uang lagi, sedangkan masih ada dua atau tiga tagihan yang tergeletak di meja saya, saya mulai bertanya-tanya pada diri sendiri, tidakkah keputusan saya itu bodoh sekali? Mereka memang orang aneh dan meminta orang lain untuk mematuhi perintah-perintah mereka yang aneh, tapi mereka kan bersedia membayar mahal untuk keeksentrikan mereka itu? Tak banyak orang berani membayar seratus pound setahun untuk seorang guru les privat. Lagi pula, apa gunanya rambut saya ini? Bukankah banyak wanita malah tampil lebih cantik dengan rambut pendek? Siapa tahu saya pun demikian? Keesokan harinya, saya mulai menjadi ragu-ragu, dan besoknya lagi saya malah sudah merasa yakin bahwa saya telah berbuat kesalahan. Saya hampir saja memberanikan diri untuk kembali ke biro penyalur untuk menanyakan apakah lowongan itu masih terbuka, tapi saya lalu menerima sepucuk surat dari pria itu. Ini suratnya, biar saya bacakan untuk Anda:

Copper Beeches, Winchester

Miss Hunter yang terhormat,

Miss Stoper memberitahukan alamat Anda kepada saya, dan saya menulis surat ini untuk menanyakan apakah Anda bersedia mempertimbangkan kembali tawaran pekerjaan dari kami. Istri saya sangat ingin bertemu dengan Anda, karena dia tertarik pada penjelasan saya. Kami akan menaikkan pembayaran kami menjadi tiga puluh pound per tiga bulan, atau 120 pound per tahun, karena mungkin ada hal-hal yang kurang berkenan di hati Anda yang kami minta Anda untuk melakukannya. Tak terlalu macam-macam, sebenarnya. Istri saya suka warna biru terang yang khas, dan Anda diminta untuk mengenakan baju berwarna itu selama pagi hari di rumah kami. Tapi Anda tak perlu susah-susah membeli baju seperti itu, karena kami masih punya satu, milik Alice, anak perempuan kami yang kini berada di Philadelphia, dan rasanya pas untuk Anda. Lalu mengenai tugas untuk duduk di tempat-tempat tertentu, atau melakukan sesuatu yang kami perintahkan, pastilah Anda tak keberatan. Mengenai rambut Anda, sayang sekali, karena saya pun mengakui betapa indahnya rambut Anda itu, tapi hal ini mutlak, dan saya hanya bisa berharap semoga kenaikan gaji yang kami tawarkan akan cukup menggantikan kerugian Anda dalam hal ini. Tugas Anda, sehubungan dengan anak kami yang kecil, sangatlah ringan. Nah, silakan datang ke tempat kami, dan saya akan menjemput Anda di Winchester. Harap memberi kabar, Anda mau naik kereta api yang jam berapa?

Hormat saya,

JEPHRO RUCASTLE

"Demikianlah surat yang baru saya terima, Mr. Holmes, dan saya sudah berkeputusan untuk menerima tawaran itu. Tapi saya merasa perlu untuk meminta pertimbangan Anda sebelum saya mengambil langkah terakhir."

"Yah, Miss Hunter, kalau sudah demikian keputusan Anda, tak ada masalah lagi, kan?" kata Holmes sambil tersenyum.

"Apakah Anda takkan menyarankan agar saya menolak tawaran itu?"

"Terus terang, seandainya saya punya adik perempuan, saya takkan mengizinkannya bekerja di tempat seperti itu."

"Apa maksud Anda, Mr. Holmes?"

"Ah, tapi saya tak punya data. Saya tak bisa mengatakan apa-apa. Bagaimana pendapat Anda sendiri?"

"Yah, kesan saya Mr. Rucastle ini nampaknya orang yang sangat baik dan sopan. Apakah tidak mungkin bahwa istrinyalah yang tidak waras, tapi dia ingin menyembunyikan hal itu karena tak ingin istrinya dirawat di rumah sakit jiwa? Lalu dia menuruti semua khayalan istrinya agar dia tidak kumat?"

"Bisa jadi begitu. Sejauh ini, itulah penjelasan yang paling masuk akal. Tapi bagaimanapun juga, rupanya rumah itu bukan tempat yang aman bagi seorang gadis untuk bekerja dan tinggal."

"Tapi bayarannya, Mr. Holmes, bayarannya!"

"Yah. memang benar, bayarannya tinggi—amat tinggi, malah. Justru inilah yang mengganggu pikiran saya. Mengapa dia bersedia membayar Anda 120 pound setahun, padahal sebenarnya Anda mau dibayar sepertiganya saja? Pasti ada maksud lain di balik kesediaannya itu."

"Saya rasa, nanti kalau saya sudah bekerja di sana, saya akan mengirim kabar kepada Anda tentang keadaan saya. Dan saya akan merasa lega kalau saya tahu bahwa Anda bersedia menolong saya sewaktu-waktu ada masalah."

"Oh, saya jamin itu. Saya yakin masalah Anda ini lebih menarik dibanding kasus-kasus lain yang saya tangani selama beberapa bulan terakhir ini. Ada hal-hal yang terselubung. Kalau Anda merasa ragu-ragu atau menghadapi bahaya..."

"Bahaya! Bahaya apa yang Anda bayangkan?"

Holmes menggeleng dengan serius. "Kalau saya tahu, sudah bukan bahaya lagi namanya." katanya. "Tapi, silakan mengirim telegram, dan saya akan siap membantu Anda kapan saja, tak peduli siang atau malam"

"Baiklah, kalau begitu." Dengan sigap gadis itu bangkit dari kursinya, wajahnya sudah tak cemas lagi. "Saya akan berangkat ke Hampshire dengan perasaan lega sekarang. Saya akan segera mengirim kabar pada Mr. Rucastle, memotong rambut saya nanti malam, dan berangkat ke Winchester besok pagi." Dia mengucapkan terima kasih pada Holmes, lalu permisi pulang.

"Setidak-tidaknya," kataku ketika langkah-langkah kaki gadis itu yang mantap dan cekatan terdengar menjauh menuruni tangga, "nampaknya gadis itu bisa menjaga diri."

"Dia memang harus menjaga diri dengan baik," kata Holmes dengan serius. "Aku yakin kita akan menerima surat darinya tak lama lagi."

Dugaan temanku ternyata benar. Dua minggu berlalu, dan pikiranku selalu melayang pada nasib gadis itu. Aku terus bertanya tanya pada diriku sendiri, pengalaman aneh apa yang sedang dialaminya? Bayaran yang amat tinggi, syarat-syarat yang aneh, pekerjaan yang ringan, semua ini tidak wajar adanya. Cuma sekadar ketidakwajaran ataukah ada rencana jahat di balik semua itu? Pria itu, apakah dia seorang dermawan ataukah seorang bajingan? Aku benar-benar tak mampu menjelaskannya. Sedangkan Holmes, dia sering duduk termenung selama setengah jam dengan alisnya dikerutkan dan terbuai dalam lamunannya. Tapi dia selalu menghindar sambil melambaikan tangannya ke udara kalau aku menyebut-nyebut tentang gadis itu kepadanya. "Mana datanya? Data! Data!" teriaknya dengan sengit. "Aku tak mungkin membuat bata tanpa tanah liat." Tapi toh, dia lalu akan menggumam bahwa kalau saja dia punya adik perempuan, takkan pernah diizinkannya sang adik bekerja di tempat seperti itu.

Akhirnya, kami menerima sepucuk telegram pada suatu malam yang telah larut. Saat itu aku baru saja mau pergi tidur, dan Holmes sedang asyik dengan riset kimianya. Kalau dia sedang asyik membungkuk di depan tabung percobaannya seperti itu, dia biasanya akan tahan se-malam suntuk. Dibukanya amplop kuning itu, dan dibacanya isi pesan di dalamya. Lalu di serahkannya telegram itu padaku.

"Coba cek jadwal kereta api di Bradshaw," katanya. Lalu dia kembali menekuni penyelidikan kimianya.

Berita telegram itu cukup singkat dan amat mendesak kedengarannya.

Tolong datang ke Hotel Black Swan di Winchester besok pada tengah hari. Jangan sampai tidak datang! Saya sedang kebingungan.
HUNTER

"Kau mau ikut?" tanya Holmes sambil mengangkat muka dari tabung percobaannya.

"Tentu."

"Kalau begitu coba periksa jadwalnya."

"Ada kereta jam setengah sepuluh," kataku sambil meneliti Bradshaw-ku. "Tiba di Winchester jam 11.30."

"Bagus. Nah, lebih baik kutunda saja analisis aseton ini, karena kita perlu menjaga kondisi untuk besok."

Pada jam sebelas keesokan harinya, kami sudah dalam perjalanan menuju bekas ibu kota Kerajaan Inggris itu. Sejak kereta api berangkat, Holmes asyik membaca koran-koran pagi, tapi setelah melewati perbatasan Hampshire, dia menaruh koran-koran itu ke samping dan mulai menikmati pemandangan. Saat itu sedang musim semi, langit berwarna biru terang dengan beberapa awan putih yang berarak dari barat menuju ke timur. Matahari bersinar cerah, tapi angin yang bertiup masih terasa cukup menggetarkan karena dinginnya. Sepanjang daerah pedesaan itu, sampai ke barisan bukit-bukit di Aldershot, atap-atap rumah pertanian berwarna kemerahan dan keabu-abuan menyembul di tengah-tengah pepohonan yang menghijau.

"Segar dan indah sekali, ya?" teriakku dengan antusias karena aku terbiasa dengan pemandangan yang membosankan di daerah Baker Street yang penuh kabut.

Tapi Holmes menggeleng dengan serius.

"Tahu tidak, Watson," katanya, "payah juga punya otak seperti otakku ini. Soalnya, segala sesuatu kupandang dari sudut keahlian khususku. Ketika melihat rumah-rumah itu, kau terkesan oleh keindahannya. Kalau aku sebaliknya. Melihat rumah-rumah itu, pikiranku langsung mengatakan betapa terisolirnya mereka, dan betapa bebasnya tindak kejahatan bisa dilakukan di sini."

"Astaga!" seruku. "Mana ada tindak kejahatan di tempat permukiman kuno yang indah ini?"

"Pemandangan semacam ini selalu menimbulkan rasa ngeri padaku. Aku yakin, Watson, berdasarkan pengalaman, bahwa di tempat-tempat yang paling kumuh di London pun, tindak kejahatannya tak semengerikan yang terjadi di daerah pedesaan yang indah."

"Kau menakut-nakuti aku saja."

"Tapi alasannya jelas. Di kota besar, ada publik yang ikut menghakimi kalaupun hukum tak menjangkau suatu tempat. Tetangga akan segera tahu, misalnya, kalau ada seorang anak yang menjerit-jerit karena dianiaya, atau kalau ada pemabuk yang sedang mengamuk dan memukuli seseorang. Kalau ada yang berani melapor, hukum segera bertindak. Tapi, coba lihat rumah-rumah yang sunyi ini, yang masing-masing mempunyai halaman sendiri yang luas, dan penghuninya tak begitu tahu tentang hukum. Coba pikirkan kemungkinan terjadinya tindak-tindak kekejaman dan kejahatan yang tersembunyi di situ, yang mungkin terus berlanjut selama ini tanpa diketahui orang luar. Kalau saja gadis klien kita ini bekerja di Winchester, aku takkan menguatirkan keadaannya. Tapi, tempat kerjanya delapan kilometer dari situ, dan di daerah pedesaan lagi, wah, bahaya! Walaupun demikian, nampaknya bukan dirinya yang terancam."

"Ya, karena dia diperbolehkan pergi ke Winchester, sehingga bisa menemui kita."

"Begitulah, dia cukup mendapatkan kebebasan."

"Lalu, apa kira-kira masalahnya, ya? Tak bisakah kau menjelaskannya?'

"Aku punya tujuh penjelasan yang saling berlainan, masing-masing berdasarkan hal-hal yang kita ketahui sejauh ini. Tapi mana yang benar akan ditentukan oleh informasi baru yang pasti sudah menunggu kita. Yah, itu menara Katedral. Tak lama lagi kita akan mendengarkan kisah Miss Hunter."

Hotel Black Swan adalah sebuah hotel yang cukup besar yang terletak di High Street, tak jauh dari stasiun. Ketika kami sampai di sana, wanita muda itu sudah menunggu. Dia juga sudah memesan ruangan khusus untuk pertemuan ini, dan hidangan makan siang pun sudah siap di meja.

"Saya senang sekali Anda bisa datang," katanya dengan sungguh-sungguh. "Anda baik sekali, sungguh, saya sedang amat kebingungan tak tahu harus berbuat apa. Nasihat Anda akan sangat berarti bagi saya."

"Silakan ceritakan apa yang telah terjadi pada Anda."

"Segera akan saya lakukan, karena waktu saya tak banyak. Saya berjanji pada Mr. Rucastle untuk kembali sebelum jam tiga. Saya berhasil minta izin darinya tadi pagi, tapi dia tak tahu untuk apa kepergian saya ini."

"Mari kita dengarkan urutan kejadiannya." Holmes menyelonjorkan kakinya yang kurus dan panjang ke arah perapian, dan siap untuk mendengarkan.

"Pertama-tama, saya harus mengakui bahwa secara keseluruhan, perlakuan Mr. dan Mrs. Rucastle kepada saya cukup baik. Tapi saya masih tetap tak dapat mengerti mereka, dan pikiran saya terus terganggu karenanya."

"Apa yang tak dapat Anda mengerti?"

"Alasan kelakuan mereka. Coba dengarkan apa yang telah terjadi. Ketika saya tiba, Mr. Rucastle menjemput saya di sini, dan kami berangkat ke Copper Beeches bersama-sama naik kereta kuda. Seperti yang pernah dikatakannya, rumahnya terletak di daerah pedesaan yang indah. Tapi rumah itu sendiri sebenarnya tak menyenangkan, karena berupa bangunan segi empat berwarna putih yang sudah agak kotor dan pengap karena dimakan usia dan cuaca. Sekelilingnya ada halaman, lalu hutan di ketiga sisinya. Halaman depannya menurun dan membelok tajam ke arah jalan raya yang menuju Southampton, berjarak kira-kira seratus meter dari pintu masuk. Seluruh bagian tanah di depan rumah itu milik Mr. Rucastle, tapi hutan di kiri-kanan dan di belakang rumah itu milik Lord Southerton. Sederetan pohon berwarna tembaga berjejer tepat di depan ruang tamu. Itulah sebabnya rumah itu diberi nama Copper Beeches, sesuai dengan nama pohon itu.

"Saya dibawa ke situ oleh majikan saya yang ramah itu, dan malam harinya saya diperkenalkan kepada istri dan anak lelakinya. Apa yang pernah kita bayangkan sewaktu kita omong-omong di Baker Street tentang istri Mr. Rucastle ternyata keliru sama sekali. Mrs. Rucastle tidak gila. Malah orangnya pendiam, wajahnya pucat, dan jauh lebih muda dari suaminya. Saya rasa, umurnya belum sampai tiga puluh tahun. Sedangkan suaminya sudah lebih dan empat puluh lima tahun. Dari percakapan mereka, saya tahu bahwa mereka telah menikah selama tujuh tahun, dan pada waktu itu Mr. Rucastle adalah seorang duda dengan satu anak perempuan dari istrinya terdahulu. Gadis itu sekarang berada di Philadelphia. Waktu istrinya sudah pergi, Mr. Rucastle menjelaskan pada saya secara pribadi bahwa anak gadisnya tak begitu menyukai ibu tirinya itu. Putri Mr. Rucastle umurnya sekitar dua puluhan, jadi saya bisa memaklumi keengganannya mempunyai ibu tiri yang masih muda itu.

"Mrs. Rucastle nampaknya tak begitu hebat, baik penampilannya maupun kecerdasannya. Saya tak bisa menyimpulkan apakah saya menyukai dia atau tidak. Biasa-biasa saja, begitulah. Jelas sekali bahwa dia amat mencintai suami dan anak tunggalnya. Matanya yang keabu-abuan itu terus-menerus memperhatikan keduanya, siap melayani apa pun yang mereka butuhkan. Suaminya juga bersikap baik kepadanya dengan caranya yang agak berlebihan. Secara umum, mereka nampaknya pasangan yang berbahagia. Tapi, wanita ini menyimpan derita yang tersembunyi. Dia sering melamun dengan wajah sedih. Lebih dari sekali, saya terkejut karena mendapatinya sedang menangis. Kadang-kadang saya berpikir, mungkin kelakuan anak lelakinya itulah yang membuatnya sedih, karena belum pernah saya melihat anak yang sedemikian manja dan nakalnya. Tubuhnya kecil untuk anak seusianya, tapi kepalanya besar sekali, sehingga rasanya tak seimbang. Sepanjang hari dia menghabiskan waktu dengan berkelakuan liar atau merengek-rengek. Dia senang sekali menyakiti binatang-binatang kecil yang lemah, dan dia cekatan sekali kalau menangkap tikus, burung, dan serangga. Tapi sebaiknya saya tak usah menceritakan hal ini, Mr. Holmes, karena tak ada hubungannya dengan masalah saya."

"Saya senang mendengar detail-detail macam apa pun," komentar temanku, "walaupun menurut Anda nampaknya tak ada hubungannya dengan masalah Anda."

"Saya akan berusaha untuk memaparkan semua hal yang penting. Hal yang tak menyenangkan di rumah itu yang langsung mengejutkan saya ialah tingkah laku para pelayannya. Hanya ada dua pelayan, seorang pria dan istrinya. Pria berambut dan berkumis putih itu bernama Toller. Orangnya kasar, tak tahu adat, dan peminum. Dua kali sejak saya tinggal di sana, saya memergokinya dalam keadaan teler karena kebanyakan menenggak minuman keras.

Tapi Mr. Rucastle nampaknya tak memperhatikan hal itu. Istri pelayan itu amat jangkung dan kuat. Wajahnya selalu masam, pendiam seperti nyonya rumahnya, dan tak begitu ramah. Pasangan itu keduanya tak menyenangkan. Untunglah saya lebih banyak menghabiskan waktu di kamar anak dan kamar saya sendiri, yang saling bersebelahan di salah satu sudut rumah itu.

"Selama dua hari sejak kedatangan saya ke Copper Beeches, saya hidup dengan tenang. Pada hari ketiga, Mrs. Rucastle turun dari kamarnya di lantai atas dan membisikkan sesuatu kepada suaminya.

"'Oh, ya,' kata Mr. Rucastle sambil menoleh ke arah saya, 'kami sangat berterima kasih karena Anda bersedia memotong rambut Anda, Miss Hunter. Dan ternyata itu tak mengganggu penampilan Anda. Kami sekarang ingin agar Anda mengenakan gaun berwarna biru terang itu. Sudah kami siapkan di tempat tidur Anda, dan kami akan sangat berterima kasih kalau Anda bersedia mengenakannya.'

"Gaun yang saya temukan warnanya biru aneh. Bahannya bagus, tapi sudah bekas, dan ternyata pas sekali di tubuh saya seolah-olah memang sudah diukur untuk saya. Mr. dan Mrs. Rucasde sangat puas melihat penampilan saya dengan gaun itu. Mereka menunggu saya di ruang tamu yang amat luas, karena terbentang dari ujung yang satu sampai ke ujung lainnya pada bagian depan rumah itu. Ada tiga jendela besar yang sampai ke lantai panjangnya. Sebuah kursi ditaruh di dekat jendela yang tengah, membelakangi jendela itu. Di situlah saya diminta untuk duduk, lalu Mr. Rucastle mulai menceritakan kisah yang lucu-lucu sambil berjalan mondar-mandir di bagian lain ruang tamu itu. Dia lucu sekali, dan saya pun tertawa-tawa sampai kelelahan. Tapi Mrs. Rucastle nampaknya tak punya rasa humor, karena tak sedikit pun dia tersenyum, melainkan hanya duduk saja dengan tenang sambil menaruh tangannya di pangkuannya. Wajahnya bahkan memancarkan kesedihan dan kecemasan. Setelah kira-kira satu jam lamanya, tiba-tiba Mr. Rucastle berkata bahwa sudah waktunya bagi saya untuk melanjutkan pekerjaan saya, dan saya diperbolehkan untuk berganti pakaian sebelum bergabung dengan si kecil Edward di kamar anak.

"Dua hari kemudian, adegan ini berulang lagi, persis seperti sebelumnya. Saya harus berganti pakaian, duduk di dekat jendela, dan terbahak-bahak mendengarkan kisah-kisah lucu yang diceritakan oleh majikan saya dengan begitu andalnya. Lalu dia menyerahkan sebuah novel bersampul kuning, dan dipindahkannya kursi tempat duduk saya agak ke pinggir supaya bayangan saya tak menutupi buku itu. Lalu dimintanya saya membacakan novel itu dengan keras kepadanya. Saya membaca selama kira-kira sepuluh menit, mulai di bagian tengah, dan tiba-tiba ketika kalimat yang saya baca belum selesai, dia menyuruh saya untuk berhenti dan menukar pakaian saya.

"Anda pun pasti bisa membayangkan, Mr. Holmes, betapa penasarannya diri saya. Untuk apa adegan yang aneh ini? Saya perhatikan bahwa mereka benar-benar menjaga supaya saya tak menoleh ke belakang. Rasa ingin tahu saya semakin terbakar... ada apa sebenarnya di belakang saya itu? Mulanya rasanya saya tak mungkin bisa tahu, tapi saya lalu mendapat akal. Kaca tangan saya jatuh dan pecah berkeping-keping. Saya lalu mengambil satu keping pecahan kaca itu dan menyembunyikannya di dalam saputangan saya. Pada kesempatan lain ketika acara aneh itu dilakukan lagi, dan ketika saya sedang tertawa terbahak-bahak, saya menaikkan saputangan saya, dan dengan sedikit akal saya berhasil melihat ke belakang saya. Saya kecewa, karena tak ada apa-apa di sana.

"Paling tidak, begitulah kesan saya untuk pertama kalinya. Tapi, ketika saya menengok ke kaca itu untuk kedua kalinya, saya melihat ada seorang pemuda berdiri di jalan raya, seorang pemuda kecil berjanggut yang mengenakan jas abu-abu. Dia nampaknya sedang melihat ke arah saya. Jalan raya itu cukup ramai, dan biasanya banyak orang lalu-lalang. Tapi pemuda ini bersandar pada jeruji besi yang memagari halaman rumah dan sedang memperhatikan dengan saksama. Saya lalu menurunkan saputangan saya, dan ketika saya menengok ke arah Mrs. Rucastle, dia sedang menatap saya dengan pandangan yang sangat menyelidik. Dia tak berkata apa-apa, tapi saya yakin dia tahu bahwa saya menyembunyikan kaca di dalam saputangan saya untuk melihat ke belakang. Seketika itu juga dia langsung berdiri.

"'Jephro,' katanya, 'ada pemuda kurang ajar di jalanan yang memperhatikan Miss Hunter.'

"'Teman Anda, Miss Hunter?' tanya majikan saya.

"'Tidak, saya tak punya kenalan di sekitar sini.' .

"'Wah! Kurang ajar sekali! Silakan membalikkan badan, dan beri tanda supaya dia pergi.'

"'Apakah tak lebih baik dibiarkan saja?'

"'Jangan, jangan, nanti dia akan berlama-lama bersandar di situ. Silakan membalikkan badan, dan lambaikan tangan Anda untuk mengusirnya, nih, seperti ini.'

'Saya ikuti perintah mereka, dan pada saat bersamaan nyonya rumah saya menurunkan kerai jendela. Ini terjadi minggu yang lalu, dan sejak itu acara duduk di dekat jendela tak pernah dilakukan lagi. Saya juga tak pernah lagi diminta untuk memakai gaun biru itu, atau melihat pemuda di jalan raya itu."

"Silakan dilanjutkan," kata Holmes. "Kisah Anda sangat menarik."

"Anda mungkin akan merasa bahwa kisah berikut ini tak ada hubungannya dengan yang sudah saya ceritakan pada hari pertama saya berada di Copper Beeches, Mr. Rucastle mengajak saya ke bangunan kecil yang terletak dekat pintu dapur. Ketika kami mendekati tempat itu, saya mendengar gemerencing rantai, dan suara seekor binatang besar yang sedang mondar-mandir.

"'Lihatlah ke dalam sini!' kata Mr. Rucastle sambil menunjuk ke sebuah celah di antara dua batang kayu. 'Bagus, ya?'

"Saya mengintip, dan terlihatlah dua mata yang menyala-nyala milik seekor binatang, apa itu saya tak begitu jelas, yang sedang meringkuk dalam kegelapan.

"'Jangan takut,' kata tuan rumah saya sambil tertawa melihat keterkejutan saya. Itu si Carlo, anjing-penjaga rumah ini. Dia milik saya, tapi hanya si tua Toller, pelayan yang juga merawat kuda-kuda saya itu, yang berani mendekatinya. Kami memberinya makan sehari sekali tak terlalu banyak memang, supaya dia tetap gesit. Toller melepaskannya kalau malam hari, dan tak seorang pun berani mendekati halaman kami kalau melihatnya. Jadi saya peringatkan Anda, jangan pernah coba-coba untuk keluar rumah pada malam hari, karena nyawa Anda taruhannya.'

"Peringatan itu tak main-main. Dua malam berikutnya saya kebetulan sempat melongok dari jendela saya pada jam dua fajar. Malam itu bulan bersinar di angkasa, dan halaman di depan rumah bermandikan cahaya keperakan dan terang benderang bagaikan siang hari. Ketika saya sedang berdiri sambil mengagumi keindahan pemandangan itu, saya lalu menyadari bahwa ada sesuatu yang bergerak-gerak di bawah bayangan pepohonan di depan ruang tamu. Kemudian sesuatu itu terlihat jelas karena dia bergerak ke tempat yang diterangi sinar bulan. Ternyata makhluk itu adalah seekor anjing raksasa, sebesar anak sapi, bulunya berwarna coklat kekuningan, rahangnya menggelantung, moncongnya hitam, serta tulangnya besar dan menonjol. Binatang itu berjalan pelan-pelan menyeberangi halaman dan menghilang di bagian lain halaman yang luas itu. Binatang yang mengerikan itu membuat jantung saya amat berdebar-debar. Bahkan kalau saya waktu itu memergoki pencuri, tak akan saya merasa sengeri itu.

"Dan sekarang, saya akan menceritakan pengalaman saya yang sangat aneh. Sebagaimana Anda ketahui, saya telah memotong rambut saya di London, dan potongan rambut itu saya simpan di bagian paling bawah koper saya. Pada suatu malam, ketika anak asuhan saya sudah tidur, saya mulai tertarik untuk memperhatikan semua perabotan di dalam kamar saya, serta bermaksud membenahi beberapa barang bawaan saya. Ada sebuah lemari berlaci yang sudah kuno. Dua laci paling atas kosong dan bisa dibuka, tapi yang bawah dikunci. Saya menaruh barang-barang saya pada kedua laci yang terbuka itu, tapi ternyata tak cukup untuk semuanya. Saya pun jadi penasaran ingin membuka laci yang ketiga. Mungkin saja tuan dan nyonya rumah saya lupa membuka laci yang seharusnya diperuntukkan bagi barang-barang saya ini. Saya lalu mencoba membukanya dengan kunci-kunci yang saya miliki. Dan langsung berhasil pada upaya pertama. Laci itu cuma berisi satu macam barang, tapi saya yakin Anda takkan menduga barang apa itu. Yang ada di situ adalah potongan rambut saya.

"Saya ambil potongan rambut itu dan saya amati baik warna mau pun ketebalannya persis sama. Tapi rasanya tak mungkin. Bagaimana bisa potongan rambut saya berada di dalam laci yang terkunci itu? Dengan tangan gemetar saya bongkar koper saya, semua isinya saya keluarkan, dan saya cari-cari potongan rambut yang saya taruh di bagian paling bawah. Ternyata masih ada di situ. Lalu saya bandingkan dengan yang saya dapatkan dari laci tadi. Ternyata keduanya persis sama. Aneh, bukan? Saya betul-betul bingung... saya tak bisa mengerti apakah artinya semua ini. Saya kembalikan rambut aneh itu ke dalam laci seperti semula, dan saya tak mengatakan apa-apa kepada tuan dan nyonya rumah, karena saya merasa bersalah telah membuka laci yang terkunci itu.

"Saya ini kalau mengamati apa-apa selalu cermat dan teliti, Mr. Holmes. Dalam sekejap, seluruh bagian rumah itu telah saya hafal. Ada satu bagian rumah di lantai atas yang nampaknya tak dihuni sama sekali. Pintunya berhadapan dengan pintu kamar Mr. dan Mrs. Toller, dan selalu dalam keadaan terkunci. Tapi suatu hari ketika saya sedang menaiki tangga, saya lihat Mr. Rucastle keluar dari pintu itu dengan membawa beberapa kunci di tangannya. Air mukanya sangat berbeda dengan pria peramah yang saya kenal sebelumnya. Pipinya merah, alisnya mengerut karena menahan amarah dan urat-urat di dahinya menonjol dengan jelas. Dia mengunci pintu itu, dan berjalan melewati saya tanpa memandang saya atau berkata sepatah pun.

"Saya jadi penasaran, maka ketika keesokan harinya saya berjalan-jalan di halaman dengan anak didik saya, saya memakai kesempatan ini untuk mengajaknya menuju ke bagian rumah yang tak dihuni itu. Saya lihat ada empat jendela berderetan di bagian itu. Tiga di antaranya agak kotor, dan satunya terpalang. Benar-benar tak terawat. Ketika saya mondar-mandir di sekitar situ, sambil sesekali menoleh ke jendela-jendela itu, tiba-tiba Mr. Rucastle keluar dari rumah dan menuju ke arah saya. Wajahnya sudah kembali ramah dan menyenangkan.

"'Ah!' katanya. 'Maaf, kemarin saya telah berbuat kasar dengan berjalan melewati Anda tanpa menegur, Nona manis. Waktu itu saya sedang pusing dengan urusan bisnis saya.'

"Saya meyakinkannya bahwa saya sama sekali tak tersinggung atas sikapnya itu. 'Omong-omong,' kata saya, 'nampaknya ada kamar-kamar yang tak dihuni di atas sana, dan salah satu jendelanya terpalang.'

"'Salah satu hobi saya adalah memotret,' katanya. 'Kamar itu saya pakai sebagai ruang gelap. Tapi, wah! Anda ini benar-benar gadis yang serba ingin tahu. Siapa yang menduga? Siapa pernah menduga?' Nada bicaranya bergurau, tapi matanya yang menatap saya dengan tajam tak sedang bergurau. Lebih tepat kalau dikatakan bahwa mata itu memancarkan kecurigaan dan rasa tak suka, bukan gurauan.

"Yah, Mr. Holmes, sejak saat itulah saya menyadari bahwa ada sesuatu di bagian rumah di atas itu yang tak boleh saya ketahui. Saya malah bertekad untuk menyelidikinya. Saya bukan sekadar ingin tahu saja, tapi saya merasa ada dorongan kewajiban—rasanya akan ada manfaatnya kalau saya bisa masuk ke tempat itu. Saya pernah dengar tentang naluri seorang wanita; ya, mungkin itulah yang saya rasakan. Pokoknya dorongan itu ada, dan saya mencari kesempatan agar bisa masuk melalui pintu terlarang itu.

%

"Kesempatan itu tiba kemarin. Ternyata yang keluar-masuk ruangan itu bukan cuma Mr. Rucastle, tapi Mr. dan Mrs. Toller juga. Suatu kali, saya melihat Mr. Toller membawa tas kain hitam yang besar masuk ke ruangan itu. Akhir-akhir ini dia sering minum-minum sampai mabuk, begitu pula kemarin malam. Ketika saya naik ke atas, ternyata kunci pintu itu tergantung di sana. Rupanya Toller lupa mencabutnya. Mr. dan Mrs. Rucastle sedang berada di lantai bawah, dan anak asuhan saya juga sedang bersama mereka, sehingga kesempatan itu benar-benar tak boleh saya lewatkan. Pelan-pelan saya putar kunci itu, lalu pintunya saya buka, dan saya pun menyelinap masuk.

"Ada lorong sempit di depan saya, dindingnya tak berlapis, dan lantainya tak berkarpet. Lorong ini membelok ke kanan di ujungnya. Setelah membelok, saya melihat ada tiga pintu yang berjejer. Pintu pertama dan ketiga bisa dibuka, dan ruangan-ruangannya pun kosong dan penuh debu. Pada ruangan- pertama terdapat dua jendela, sedang pada ruangan ketiga hanya terdapat satu jendela. Dalam keremangan cahaya malam hari, nampak dengan jelas debu di ruangan itu amat tebal. Pintu yang kedua dipalang dengan batang besi yang salah satu ujungnya diikatkan ke sebuah lingkaran di tembok, sedang ujung satunya lagi diikat erat dengan tali yang tebal. Pintunya terkunci, dan kuncinya tak ada di situ. Pintu yang terpalang erat ini jelas menuju ke kamar yang jendelanya terpalang yang saya lihat dari luar kemarin, tapi sekilas saya bisa melihat adanya seberkas cahaya dari lantai di bawah pintu itu, jadi kamar ini tidak dalam kegelapan sama sekali. Pasti cahaya itu masuk dari atap kaca. Ketika saya sedang berdiri di lorong sambil menatap pintu yang aneh itu dan bertanya-tanya pada diri sendiri rahasia apa yang terselubung di dalamnya, tiba-tiba saya mendengar suara langkah orang di dalam ruangan yang terkunci itu, dan dari celah di bawah pintu, nampaklah bayangarmya mondar-mandir di dalam sana. Saya langsung menjadi sangat ketakutan melihat bayangan itu, Mr. Holmes. Tiba-tiba saya tak dapat mengontrol diri saya lagi, dan saya lalu berbalik dan berlari—berlari secepat mungkin, seolah-olah ada tangan mengerikan yang sedang mengejar di belakang saya dan sedang berusaha menarik bagian bawah gaun saya. Saya berlari sepanjang lorong itu, dan menubruk Mr. Rucastle yang sedang berdiri di luar pintu masuk ke bagian rumah itu.

"'Jadi,' katanya sambil tersenyum, 'ternyata Andalah yang ada di dalam situ. Sudah saya duga, begitu saya lihat pintu ini terbuka.'

"'Oh, saya takut sekali!' teriak saya, terengah-engah.

"'Nona manis! Nona manis!' Sikapnya sangat lembut dan menenangkan. 'Apa yang telah menakutkan Anda, Nona manis?'

"Tapi suaranya terdengar agak aneh. Dia terlalu melebih-lebihkan sikapnya. Saya sadar bahwa saya perlu waspada terhadap kemungkinan-kemungkinan yang tak menguntungkan diri saya.

"'Bodoh sekali saya telah masuk ke kamar kosong itu,' jawab saya. 'Tapi kamar itu begitu sunyi dan menakutkan dalam cahaya yang cuma remang-remang, sehingga saya ketakutan dan lari keluar. Oh, benar-benar mengerikan di dalam sana!'

"Cuma begitu?' katanya sambil menatap saya dengan penuh rasa ingin tahu.

"'Kenapa, memangnya. Apa yang Anda bayangkan?' tanya saya.

"'Menurut Anda, kenapa saya kunci pintu ini?'

"'Saya tak tahu.'

"'Agar orang yang tak berkepentingan tak perlu masuk ke sana. Mengerti?' Dia masih tersenyum ramah.

"'Ya. Kalau saja saya tahu...'

"'Nah, sekarang Anda tahu. Dan kalau Anda berani melangkahkan kaki ke sana lagi—' senyumnya menghilang ketika dia mengucapkan itu, berubah menjadi seringai kemarahan, dan dia menatap saya dengan wajah seperti setan— 'akan saya lemparkan Anda ke kandang si Carlo.'

"Saya menjadi begitu ketakutan, sehingga saya tak ingat lagi apa yang saya lakukan kemudian. Mungkin saya langsung berlari meninggalkannya dan segera masuk ke kamar saya. Saya tak ingat apa-apa lagi sampai ketika tersadar, saya sedang berbaring dengan seluruh badan saya gemetaran di tempat tidur saya.

Lalu saya teringat pada Anda, Mr. Holmes. Saya benar-benar membutuhkan nasihat Anda. Saya sekarang selalu dihantui rasa takut, takut pada rumah itu, takut pada tuan dan nyonya rumahnya, takut pada para pelayan, dan bahkan takut pada anak asuhan saya. Mereka semua tampak mengerikan bagi saya. Kalau saja Anda bisa menemani saya, saya akan merasa aman. Memang saya bisa saja segera minggat dari rumah itu, tapi rasanya kok masih penasaran. Malam itu juga, saya lalu menyelinap keluar rumah untuk mengirim kabar kepada Anda. Saya pergi ke kantor telegrap yang jaraknya sekitar satu kilometer dari rumah itu. Ketika kembali dari sana, saya merasa agak tenang. Tapi saya lalu merasa ragu-ragu ketika mendekati pintu masuk rumah itu, jangan-jangan anjing raksasa itu sudah dilepas di halaman. Namun saya kemudian ingat bahwa Toller sedang dalam keadaan mabuk, sehingga dia mungkin lupa melepaskan anjing itu. Hanya dia yang berani dekat-dekat pada anjing yang mengerikan itu. Begitulah, saya berhasil masuk lagi dengan selamat, dan tak bisa langsung tidur karena sangat ingin bertemu dengan Anda. Pagi tadi, saya tak mengalami kesulitan ketika minta izin untuk pergi ke Winchester, tapi saya harus kembali sebelum jam tiga, karena Mr. dan Mrs. Rucastle hendak pergi mengunjungi seseorang malam nanti. Jadi, saya harus menjaga anaknya. Nah, begitulah petualangan saya, Mr. Holmes, dan saya harap Anda bisa menjelaskan apa artinya semua itu, dan yang lebih penting lagi, menyarankan apa yang harus saya lakukan."

Kami berdua terpana mendengar kisah yang luar biasa ini. Temanku lalu berdiri, dan berjalan mondar-mandir di ruangan itu. Kedua tangannya dimasukkannya ke saku celananya, wajahnya sangat serius.

"Apakah Toller masih dalam keadaan mabuk?" tanyanya.

"Ya. Saya tadi mendengar istrinya melapor kepada Mrs. Rucastle bahwa dia angkat tangan terhadap suaminya itu."

"Bagus. Dan tuan serta nyonya rumah bepergian malam ini?"

"Ya."





"Apakah ada gudang bawah tanah yang bisa dikunci dengan kuat?"

"Ada, gudang tempat penyimpanan anggur."

"Wah, Anda benar-benar gadis yang berani dan penuh akal, Miss Hunter. Bisakah Anda melakukan sesuatu yang nekat lagi? Saya minta Anda berbuat ini karena saya tahu Anda gadis yang luar biasa."

"Akan saya coba. Apa yang harus saya lakukan?"

"Kami, saya dan teman saya, akan berada di Copper Beeches pada jam tujuh malam. Pada saat itu tuan dan nyonya rumah Anda pasti sudah berangkat, dan kami harap Toller sedang teler. Hanya tinggal Mrs. Toller yang mungkin akan menjadi masalah bagi kita. Kalau Anda bisa mengajaknya ke gudang itu, misalnya untuk mengambil sesuatu, lalu Anda menguncinya di dalam sana, itu akan sangat menolong kami."

"Akan saya lakukan."

"Bagus! Kita nanti akan menyelidiki masalah ini dengan saksama. Tentu saja hanya ada satu penjelasan yang bisa diterima. Anda dibawa ke situ untuk berperan sebagai orang lain, dan orang itu disekap di kamar atas. Ini jelas sekali. Dan siapa gerangan orang itu? Saya tak ragu lagi, dia pasti putri tuan rumah Anda, Miss Alice Rucastle, yang kalau saya tak salah ingat, dikatakan sedang berada di Amerika. Anda dipilih karena Anda sangat mirip dengannya. Ya tinggi badannya, ya bentuk tubuhnya, ya warna rambutnya. Rambut gadis malang itu mungkin telah dipotong karena suatu penyakit yang diidapnya, dan tentu saja rambut Anda pun perlu dipotong karenanya. Secara tak sengaja Anda menemukan potongan rambutnya di laci. Pemuda di jalan raya itu pasti temannya—mungkin tunangannya—dan karena Anda memakai gaun si gadis dan begitu mirip dengannya, dan ketika si pemuda melihat Anda, Anda sedang terbahak bahak, maka dia lalu berkesimpulan bahwa Miss Rucastle memang dalam keadaan bahagia dan tak lagi membutuhkan perhatiannya. Anjing itu dilepas pada malam hari agar dia tak bisa berhubungan dengan gadisnya. Sejauh ini, begitulah penjelasannya. Hal yang paling serius adalah tingkah laku anak kecil itu."

"Apa gerangan hubungannya dengan kasus ini?" aku tersentak.

"Sobatku Watson, kau seorang dokter, tentu kau tahu bahwa kecenderungan seorang anak dapat terlihat dengan mengamati kedua orang tuanya. Nah, sebaliknya juga bisa. Aku sudah sering mendapatkan pengetahuan tentang watak orangtua dari tingkah laku anaknya. Kelakuan anak ini benar-benar tak wajar, kejam, betul-betul kejam. Apakah dia mewarisinya dari ayahnya yang suka tersenyum, sebagaimana kecurigaanku, ataukah dari ibunya, hal itu menunjukkan bahwa gadis yang mereka sekap itu sering diperlakukan dengan kejam."

"Saya yakin Anda benar, Mr. Holmes," seru klien kami.

"Ada ribuan peristiwa yang dapat saya ingat, dan semuanya mendukung pendapat Anda. Oh, cepat kita tolong gadis yang malang itu."

"Kita harus amat berhati-hati, karena kita berhadapan dengan orang yang sangat cerdik. Kita tak bisa berbuat apa-apa sampai jam tujuh nanti. Pada saat itulah kami akan berada di rumah itu bersama Anda, untuk kemudian memecahkan misteri ini."

Seperti yang direncanakan, kami tiba di Copper Beeches pada jam tujuh malam tepat. Kereta yang kami sewa kami tinggalkan di sebuah kedai minuman di dekat situ. Deretan pepohonan dengan daun berwarna gelap yang bersinar bagaikan logam yang menyala dalam cahaya matahari yang hampir terbenam, cukup meyakinkan kami akan lokasi rumah itu, bahkan kalau Miss Hunter tak sedang berdiri sambil tersenyum di depan pintu masuknya.

"Semua beres?" tanya Holmes.

Terdengar suara seseorang menggedor-gedor pintu dari suatu tempat di lantai bawah tanah.

"Itu suara Mrs. Toller di gudang bawah tanah," kata gadis itu. "Suaminya tergeletak mendengkur di karpet dapur. Nih, kuncinya yang merupakan duplikat dari yang dipegang oleh Mr. Rucastle."

"Anda hebat sekali!" seru Holmes dengan penuh semangat. "Sekarang tunjukkanlah tempatnya, dan akan segera kita akhiri urusan yang mengerikan ini."

Kami naik ke lantai atas, membuka kunci pintu ke bagian rumah yang tak dihuni itu, melewati lorongnya, dan tibalah kami di pintu yang dipalang seperti yang digambarkan oleh Miss Hunter. Holmes memotong tali pengikat pintu itu dan mengangkat palang besinya. Lalu dia mencoba membuka pintu itu dengan kunci-kunci yang dibawanya, tapi tak ada yang cocok. Tak terdengar suara sedikit pun dari dalam, dan karenanya wajah Holmes menjadi agak prihatin.

"Semoga kita tak terlambat," katanya. "Saya rasa, Miss Hunter, sebaiknya Anda tak usah ikut masuk ke kamar itu. Sekarang, Watson, doronglah pintu ini dengan bahumu sampai terbuka."

Pintu itu sudah tua dan lapuk, dan tak memerlukan banyak tenaga untuk membukanya dengan paksa. Kami lalu berlari masuk ke kamar itu. Ternyata kamar itu kosong. Tak ada satu perabot pun di dalam situ, kecuali tempat tidur yang dilengkapi dengan kasur jerami, meja kecil, dan sekeranjang pakaian. Atap kaca di atas terbuka, dan orang yang disekap di situ sudah tak ada lagi.

"Telah terjadi tindak kejahatan di sini," kata Holmes. "Bajingan itu telah mencium rencana Miss Hunter, lalu segera memindahkan tawanannya."

"Tapi bagaimana caranya?"

"Lewat atap kaca itu. Kita akan segera tahu bagaimana dia melakukannya." Dia meloncat ke atap kamar itu. "Ah, ya," serunya. "Ini tangga yang dipakainya tadi. Jadi dari sinilah dia mengambil tawanannya."

"Tapi, tak mungkin," kata Miss Hunter. "Tangga itu tak ada di situ waktu Mr. dan Mrs. Rucastle berangkat."

"Dia kembali lagi untuk melaksanakan rencananya. Dengar, dia orang yang cerdik dan berbahaya. Saya tak heran kalau langkah-langkah kakinyalah yang sekarang sedang menaiki tangga. Kurasa, Watson, sebaiknya kau siapkan pistolmu."

Kata-kata Holmes baru saja berakhir, ketika seorang pria yang sangat gemuk muncul di pintu kamar itu. Dia membawa tongkat pemukul di tangannya. Miss Hunter menjerit dan merapatkan tubuhnya ke dinding kamar ketika melihatnya, tapi Sherlock Holmes langsung menyerbu ke depan dan berdiri di hadapan pria itu.

"Kau, bajingan," hardik temanku, "di mana putrimu?"

Pria gemuk itu menyebarkan pandangannya ke seluruh kamar, lalu ke atap kaca di atas yang terbuka.

"Akulah yang seharusnya menanyakan hal itu!" teriaknya. "Pencuri! Mata-mata dan pencuri! Kalian tertangkap basah sekarang! Akan kuhajar kalian. Dia berbalik dan berlari menuruni tangga secepat mungkin.

"Dia akan melepaskan anjingnya!" teriak Miss Hunter.

"Pistol saya sudah siap," kataku.

"Lebih baik pintu depan itu kau tutup," teriak Holmes, dan kami pun berlari bersama menuruni tangga. Kami belum sampai ke ruang tamu, ketika kami mendengar raungan anjing, lalu jeritan mengerikan yang amat menyayat hati. Seorang pria tua yang wajahnya merah padam dan tangannya gemetaran berjalan terhuyung-huyung dari pintu samping.

"Ya, Tuhan!" teriaknya. "Seseorang telah melepaskan anjing itu. Sudah dua hari dia tak diberi makan. Cepat, cepat, atau kita terlambat!"

Aku dan Holmes berlari keluar, dan membelok ke samping rumah itu. Toller mengikuti kami di belakang. Di situlah kami melihat makhluk buas yang kelaparan itu, moncongnya yang hitam menghunjam ke leher Rucastle, sementara pria itu menjerit-jerit dan tubuhnya menggeliat-geliat kesakitan. Sambil berlari kutembak kepala binatang itu, dan tubuhnya lalu jatuh ke samping. Taring-taringnya yang putih masih menancap di leher Rucastle. Dengan susah payah kami memisahkan mereka, lalu menggotong pria itu ke dalam rumah. Dia masih hidup, tapi terluka parah. Kami membaringkannya di sofa ruang tamu, dan setelah menyuruh Toller, yang kini sudah tak mabuk lagi, untuk mengabarkan kejadian ini pada Mrs. Rucastle, aku pun berusaha mengobatinya semampu mungkin. Kami berdiri di sekeliling orang yang sedang sekarat itu. Tiba-tiba, seorang wanita tinggi besar memasuki ruangan.

"Mrs. Toller!" seru Miss Hunter.

"Ya, miss. Mr. Rucastle telah melepaskan saya ketika dia pulang tadi sebelum dia naik ke atas menemui kalian. Ah, miss, sayang sekali Anda tak memberitahu saya tentang rencana ini, karena saya pasti akan memberitahukan bahwa semua upaya Anda ini akan sia-sia belaka."

"Ha!" kata Holmes sambil menatap wanita itu dengan tajam. "Jelas, bahwa Mrs. Toller lebih banyak tahu tentang semua ini dibanding orang lain."

"Ya, sir, dan saya bersedia menceritakan kepada Anda semua yang saya ketahui."

"Kalau begitu, silakan duduk, supaya kami bisa mendengar penuturan Anda. Saya akui masih ada beberapa hal yang tidak saya ketahui."

"Segalanya akan segera menjadi jelas," katanya. "Pasti sudah sejak tadi saya ceritakan, kalau saja saya tak disekap di gudang bawah tanah itu. Kalau masalah ini sampai dibawa ke pengadilan, ingatlah bahwa saya berpihak pada Anda, dan juga bahwa saya adalah teman Miss Alice.

"Dia tak pernah merasa bahagia, Miss Alice itu, sejak ayahnya menikah lagi. Dia tersisihkan begitu saja, tapi dia tak pernah berkata apa-apa. Dan sejak dia berkenalan dengan Mr. Fowler di rumah temannya, timbullah masalah. Setahu saya, Miss Alice punya hak waris, tapi dia gadis yang amat pendiam dan penyabar sehingga dia tak pernah menanyakan tentang hal warisan itu dan mempercayakan semuanya ke tangan Mr. Rucastle. Sikapnya ini sangat melegakan ayahnya. Tapi ketika dilihatnya kemungkinan bahwa putrinya akan segera menikah, dia tahu sang calon suami pastilah akan menuntutkan warisan yang menjadi hak calon istrinya. Maka dia pun mencoba untuk menggagalkan rencana pernikahan itu. Dia meminta putrinya menandatangani surat perjanjian yang menyatakan bahwa baik dia masih single ataupun sudah menikah, ayahnya berhak memakai uang warisannya. Ketika putrinya menolak melakukan hal itu, dia terus menakut-nakutinya, sampai gadis itu menderita radang otak. Selama enam minggu dia terbaring sekarat. Lalu keadaannya membaik, tapi dia masih sangat lemah dan tak bersemangat hidup lagi, serta rambutnya telah dipotong oleh ayahnya. Namun semua itu tak membuat kekasihnya meninggalkannya. Mr. Fowler tetap berusaha menjumpainya. Pemuda hebat, dia itu."

"Ah," kata Holmes, "masalahnya sudah jelas sekarang. Selanjutnya bisa saya simpulkan sendiri. Mr. Rucastle lalu menyekap gadis itu, kan?"

"Ya, sir."

"Kemudian mempekerjakan Miss Hunter dari London ini untuk mengelabui Mr. Fowler."

"Begitulah, sir."

"Tapi Mr. Fowler yang memiliki ketabahan hati bak pelaut itu mengawasi rumah ini terus-menerus, lalu berhasil menemui Anda. Dia meyakinkan Anda bahwa Anda pun mempunyai niat yang sama dengannya, begitukah?"

"Mr. Fowler pemuda yang amat baik dan murah hati," kata Mrs. Toller dengan tenang.

"Lalu dia minta agar Anda membuat mabuk suami Anda, dan memasang tangga begitu majikan Anda pergi."

"Anda sudah tahu apa yang terjadi, sir."

"Kami perlu minta maaf kepada Anda, Mrs. Toller," kata Holmes. "Terima kasih Anda telah menjelaskan hal-hal yang selama ini menjadi teka-teki bagi kami. Nah, dokter setempat dan Mrs. Rucastle telah tiba. Kurasa, Watson, sebaiknya kita menemani Miss Hunter pulang ke Winchester, karena kehadiran kita di sini mungkin tak ada gunanya lagi."

Begitulah akhir dari misteri rumah seram yang berhiaskan pohon-pohon copper beeches di depan pintu masuknya. Mr. Rucastle berhasil sembuh dari luka-lukanya, tapi sejak itu semangat hidupnya sangat lemah, dan berada dalam perawatan penuh istrinya yang setia. Mereka tetap tinggal bersama kedua pelayannya itu, yang mungkin sudah tahu banyak tentang riwayatnya, sehingga dia merasa berat untuk mengusir mereka. Mr. Fowler dan Miss Rucastle menikah dengan surat nikah khusus di Southampton, sehari setelah mereka melarikan diri. Mr. Fowler kini bertugas di Kepulauan Mauritius sebagai pejabat pemerintah. Yang membuatku kecewa ialah sikap temanku Holmes terhadap Miss Violet Hunter. Dia tak berminat melanjutkan hubungannya dengan gadis itu setelah kasus ini berakhir. Miss Hunter kini menjabat sebagai pimpinan sebuah sekolah swasta di Walsall. Kurasa hidupnya cukup sukses.