SEPANJANG tahun 1895, sahabatku Holmes dalam keadaan yang sangat sehat, baik secara mental maupun fisik. Ketenaran namanya mengakibatkan praktek detektifnya menjadi sangat laris, dan tentu saja tidak etis kalau aku sampai menyebutkan nama klien-klien hebat yang datang ke tempat kami yang sederhana di Baker Street. Namun Holmes, sebagaimana seniman-seniman lainnya, tak menarik bayaran tinggi atas jasa-jasa pelayanannya yang besar kepada mereka, kecuali sekali, yaitu ketika menangani kasus Duke Holdernesse. Begitu tak mata duitannya dia itu—atau lebih tepatnya begitu seringnya tak konsisten—sehingga dia bahkan sering menolak menangani kasus-kasus dari beberapa orang yang sangat tinggi jabatannya di masyarakat atau yang sangat kaya raya, kalau menurutnya kasus-kasus itu tak menarik minatnya. Pada sisi lain, dia menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk menangani kasus klien yang tak begitu mampu, asalkan kasusnya mengandung keanehan dan keunikan yang akan menggelitik imajinasinya dan menantang kelihaiannya.

Pada tahun 1895 yang penuh kenangan ini, serentetan kasus yang unik dan memancing rasa ingin tahu orang telah ditanganinya, mulai dan kasus kematian Kardinal Tosca yang terkenal itu—yang ditanganinya atas permintaan pribadi Bapa Suci Paus—sampai keberhasilannya menangkap Wilson, penjahat terkenal yang juga berprofesi sebagai pelatih burung kenari itu, sehingga daerah East End di London terbebas dari suatu wabah kejahatan yang besar. Tak lama setelah kedua kasus besar ini, ada kasus tragedi di Woodman's Lee, yaitu kasus kematian Kapten Peter Carey yang mengandung banyak hal yang samar-samar. Kalau aku tak menulis tentang kasus unik yang kusebutkan itu, rasanya tak lengkaplah koleksi tulisanku tentang petualangan-petualangan Mr. Sherlock Holmes.

Selama minggu pertama bulan Juli, sahabatku Holmes sering sekali ke luar rumah dan mengunjungi suatu tempat yang sangat jauh dari tempat tinggal kami, sehingga aku tahu bahwa dia sedang menangani suatu kasus. Beberapa kali ada orang orang bertampang seram yang berkunjung selama dia tak di rumah, dan mereka ingin bicara dengan Kapten Basil. Tahulah aku bahwa Holmes sedang melakukan suatu penyamaran—dia memang sering memakai metode ini—sedangkan identitasnya sendiri yang tersohor itu sedang disembunyikannya. Pada saat bersamaan, paling tidak dia sedang memerankan lima penyamaran, masing-masing dengan pribadi yang berlainan, di lima tempat yang berbeda di London. Dia tak mengatakan apa-apa kepadaku tentang kegiatannya kali ini, dan aku pun tak suka bertanya-tanya. Petunjuk pertama yang diberikannya tentang arah penyelidikannya kali ini amat luar biasa. Waktu itu Holmes sudah berangkat tanpa makan pagi, dan ketika aku sedang duduk untuk menikmati makan pagi, dia tiba-tiba menyeruak masuk ke kamar kami. Dia memakai topi dan mengempit sebuah tombak panjang yang ujungnya melengkung, bagaikan mengempit sebuah payung saja.

"Ya ampun, Holmes!" teriakku. "Apakah kau tadi berkeliling kota sambil membawa benda itu?"

"Aku naik kereta ke penjual daging lalu kembali pulang."

"Penjual daging?"

"Pulang-pulang, jadinya selera makanku terbit. Sobatku Watson, ternyata benar bahwa olahraga sebelum makan pagi sangat bermanfaat. Tapi aku yakin, kau tak akan menduga olahraga macam apa yang telah kulakukan."

"Aku pun tak berniat menduga-duga."

Dia tergelak sambil menuang kopi.

"Kalau saja kau tadi sempat menengok ke bagian belakang kios daging milik Allardyce, kau akan melihat seekor babi mati tergantung di atap, dan seorang pria berpakaian lengkap yang dengan penuh semangat melemparkan tombak ke arah babi itu. Akulah pria itu, dan aku sungguh puas, karena telah berhasil menyimpulkan bahwa sekuat apa pun tenagaku, aku tak mungkin menancapkan tombak ini pada lemparan pertama. Kau mau mencoba?"

"Tidak, terima kasih saja! Tapi untuk apa kau lakukan itu?"

"Karena menurutku, itu ada kaitannya dengan misteri di Woodman's Lee. Ah, siapa yang datang ini? Hopkins, aku sudah menerima telegrammu semalam, dan aku memang sedang menunggu kedatanganmu. Silakan masuk dan mari makan pagi bersama kami."

Tamu kami ini adalah seorang pria yang sangat berhati-hati dalam bertindak, umurnya kira-kira tiga puluhan, mengenakan jas wol warna kalem, tapi penampilannya seperti seseorang yang biasa memakai seragam resmi. Aku langsung mengenalinya sebagai Stanley Hopkins, seorang inspektur polisi muda yang menurut Holmes akan cepat menanjak kariernya di masa depan. Sebaliknya, inspektur polisi yang masih belia itu sangat mengagumi dan menghormati metode-metode ilmiah yang dimiliki oleh detektif amatir yang namanya amat tersohor itu. Kening Hopkins berkerut, dan dengan wajah yang sangat muram dia mengambil tempat duduk.

"Terima kasih, sir. Saya sudah makan sebelum berangkat ke sini. Semalam saya pergi ke kota, karena saya sebenarnya perlu melaporkan sesuatu."

"Dan apa yang akan kau laporkan?"

"Bahwa saya tak mendapatkan apa-apa... benar benar gagal."

"Maksudmu, tak ada kemajuan?"

"Ya."

"Wah! Kalau begitu, aku perlu melihat kasus itu."

"Demi Tuhan, silakan, Mr. Holmes. Kasus ini kesempatan pertama bagi saya, dan saya sudah kehabisan akal. Saya mohon, tolonglah saya."

"Well, well, kebetulan aku sudah membaca semua bukti yang ada, termasuk laporan penyidikan mayat, dengan teliti. Omong-omong, apa pendapatmu tentang kantong tembakau yang ditemukan di tempat kejadian pembunuhan? Apakah itu tak merupakan suatu petunjuk?"

Hopkins terperanjat.

"Kantong tembakau itu milik korban sendiri, sir. Ada singkatan namanya di dalam kantong itu. Kantong itu terbuat dari kulit anjing laut—bukankah sejak lama pekerjaannya adalah menangkap anjing laut?"

"Tapi kok tak ditemukan pipa rokok, ya?"

"Memang tidak, sir, kami tak menemukan pipa rokok. Korban sangat jarang merokok, dan persediaan tembakaunya itu mungkin hanya untuk teman temannya yang berkunjung."

"Pasti. Aku mengemukakan hal itu karena kalau aku yang menangani kasus ini, hal itu akan kujadikan titik awal dari penyelidikanku. Tapi sobatku Watson tak tahu-menahu tentang semua ini, dan aku pun akan senang mendengarkan rangkaian kejadiannya sekali lagi. Tolong ceritakan yang penting-penting saja secara singkat."

Stanley Hopkins mengeluarkan secarik kertas dari saku celananya.

"Di sini ada beberapa data yang akan menjelaskan karier korban yang bernama Kapten Peter Carey. Dia dilahirkan pada tahun 1845—jadi umurnya sekarang lima puluh tahun. Dia dikenal sebagai penangkap ikan paus dan anjing laut yang tangguh dan berani. Pada tahun 1883, dia menjadi kapten kapal Sea Unicorn, yang berlayar dari Dundee. Sesudah itu dia berturut-turut menakhodai beberapa pelayaran dengan baik, dan pada tahun 1884 dia pensiun. Sesudah itu dia berkelana selama beberapa tahun, dan akhirnya membeli sebuah rumah kecil yang diberi nama Woodman's Lee yang terletak di dekat daerah Forest Row, Sussex. Selama enam tahun dia tinggal di sana, sampai musibah itu menimpanya seminggu yang lalu.

"Ada beberapa hal unik tentang diri korban. Dalam kehidupannya sehari-hari dia adalah seorang puritan yang ketat—pendiam dan pemurung. Kecuali dirinya sendiri, penghuni lain rumahnya ialah istrinya, anak perempuannya yang berusia dua puluh tahun, dan dua pelayan wanitanya. Pelayan-pelayannya selalu silih berganti, karena kondisi kerja di rumah itu tak begitu menyenangkan, kadang-kadang rumah itu malah tak ada pelayannya. Korban adalah seseorang yang sekali-sekali mabuk, dan pada saat-saat tertentu perangainya bisa berubah benar-benar seperti iblis. Dia pernah mengusir istri dan anaknya malam-malam, sambil mencambuki mereka sampai mereka lari terbirit-birit melintasi halaman, sehingga para tetangga yang tinggal di sekitar rumah itu terbangun oleh teriakan kedua wanita itu.

"Suatu saat, dia pernah ditangkap karena menyerang pendeta yang saat itu mengunjunginya untuk menegur kelakuannya yang buruk. Singkat kata, Mr. Holmes, jarang kita menemukan orang sebahaya Peter Carey, dan saya mendengar bahwa dia juga berkelakuan seperti itu ketika menakhodai kapal. Dia dijuluki Peter si Hitam, dan julukan itu diberikan padanya bukan semata-mata karena warna kulit dan jenggot panjangnya yang hitam, tapi juga karena 'lelucon-lelucon'-nya yang sangat menakutkan siapa pun yang berada di sekitarnya. Tak perlu saya katakan bahwa semua tetangganya membenci dirinya dan mereka menghindar darinya. Tak seorang pun menyesalkan kematiannya.

"Anda tentunya sudah membaca tentang keadaan kamar korban dalam laporan hasil penyidikan, Mr. Holmes, tapi teman Anda mungkin belum mendengarnya. Dia membangun sebuah pondok kayu khusus untuknya sendiri—dia menyebut pondoknya itu kabin—di halaman rumahnya, kira-kira beberapa ratus meter jaraknya dari rumah induk, dan tiap malam dia tidur di situ. Pondok itu kecil, cuma terdiri atas satu ruangan, luasnya kira-kira lima kali tiga meter. Dia selalu mengantongi kunci kabinnya, dan dia sendirilah yang membersihkan dan mengatur tempat itu. Tak seorang pun diizinkannya memasuki kabin itu. Pada masing-masing sisi ruangan, ada beberapa jendela kecil yang senantiasa tertutup gorden; tak pernah sekali pun gorden itu dibuka. Salah satu dari jendela-jendela itu menghadap ke jalan raya, dan jika pada malam hari nampak sinar lampu dari dalam jendela itu, orang-orang di luar saling menunjuk-nunjuk dan bertanya-tanya sedang apa Peter si Hitam di dalam sana. Jendela itulah, Mr. Holmes, yang telah memberikan sedikit bukti positif pada waktu penyidikan dilakukan.

"Anda tentu masih ingat bahwa ada seorang tukang batu bernama Slater yang berjalan melewati rumah itu dari arah Forest Row pada kira-kira jam satu fajar—yaitu dua hari sebelum pembunuhan terjadi—dan dia sempat berhenti sejenak ketika sedang melewati rumah itu untuk melihat cahaya lampu yang masih bersinar di antara pepohonan di halaman. Dia bersumpah bahwa bayangan kepala pria yang menoleh ke samping yang dengan jelas dilihatnya di kerai jendela bukanlah milik Peter Carey, karena dia tak mungkin melupakan figur Peter Carey. Memang benar wajah dalam bayangan itu berjenggot, tapi pendek dan lurus ke depan. Sangat berlainan dengan jenggot sang mantan kapten. Begitu menurut dia, tapi waktu itu dia baru saja minum-minum selama dua jam di sebuah bar, dan dia berdiri di jalan raya pada jarak yang cukup jauh dari jendela yang dimaksudkannya. Lagi pula, itu semua terjadi pada hari Senin yang lalu, sedangkan pembunuhan terjadi pada hari Rabu.

"Pada hari Selasa, Peter Carey sedang dalam suasana hati yang sangat kacau, tambahan lagi dia juga menenggak minuman keras sehingga perangainya sama bahayanya dengan binatang buas. Dia mondar-mandir di dalam rumahnya, dan kedua wanita keluarganya pun lari menjauh begitu mendengar suaranya mendekat. Setelah larut malam, barulah dia pergi menuju kabinnya. Kira-kira pada jam dua fajar keesokan harinya, anak gadisnya mendengar jeritan yang sangat mengerikan dari arah kabin ayahnya melalui jendela kamarnya yang terbuka. Tapi itu pun tidak merupakan hal yang luar biasa, karena dia biasanya juga berteriak-teriak dan mengumpat-umpat kalau sedang mabuk, jadi anaknya tak menaruh curiga apa-apa. Ketika para pelayan wanita bangun pada jam tujuh pagi, mereka melihat pintu kabin tuannya dalam keadaan terbuka, tapi semua orang di rumah itu begitu takutnya kepada Peter si Hitam sehingga baru pada tengah hari ada yang berani menengok ke kabin untuk melihat keadaannya. Ketika mereka melongok melalui pintu kabin yang terbuka itu, mereka langsung berhamburan ke luar halaman dengan wajah pucat pasi. Satu jam kemudian, saya sudah berada di tempat kejadian, dan memutuskan untuk menangani kasus itu.

"Well, Anda tahu, kan, Mr. Holmes, bahwa saya ini orangnya tak gampang terkejut Tapi, sungguh, tubuh saya sempat bergetar karena ngeri begitu saya melongok ke dalam pondok kecil itu. Suara serangga dan lalat hijau yang beterbangan mendengung bagaikan musik, dan keadaan lantai dan temboknya bagaikan rumah jagal. Pemilik pondok itu menamainya kabin, dan memang begitulah kenyataannya, karena kalau Anda berada di dalam pondok itu Anda akan merasa bagaikan di kapal. Pada salah satu sudut ruangan terdapat tempat tidur sederhana, ada peti seperti yang biasa terlihat di kabin kapal, peta, denah, gambar kapal Sea Unicorn, sederetan buku jadwal perjalanan kapal di rak, semuanya persis seperti apa yang akan kita temukan di kabin seorang kapten kapal. Di tengah-tengah ruangan itu, tergoleklah sang penghuni pondok, mukanya rusak sama sekali bagaikan telah menerima siksaan neraka, dan jenggotnya yang panjang tertarik ke atas. Sebuah tombak baja menancap di bagian dadanya yang bidang, bahkan sampai menembus dinding kayu di belakangnya. Dia terjepit seperti seekor kumbang di atas selembar karton. Tentu saja dia langsung tewas setelah berteriak kesakitan pada malam buta itu.

"Saya mengerti metode-metode Anda, sir, dan saya menjalankan cara-cara kerja Anda itu. Sebelum saya mengizinkan apa pun untuk digeser posisinya, saya terlebih dahulu mengamati halaman luar dan lantai ruangan kabin itu dengan sangat teliti. Ternyata tak ada jejak kaki."

"Maksudmu, kau tak melihat jejak kaki?"

"Saya jamin, sir, benar-benar tak ada jejak kaki."

"Saudara Hopkins yang baik, aku sudah berpengalaman menyelidiki banyak perkara kriminal, tapi tak pernah sekali pun menemukan kejahatan yang dilakukan oleh makhluk yang bisa terbang. Sepanjang penjahatnya mempunyai dua kaki, pasti akan bisa ditemukan lekukan-lekukan, goresan-goresan, atau tanda-tanda lain yang sepele yang akan berhasil ditemukan oleh seorang penyelidik andal. Sungguh luar biasa, kalau dalam ruangan yang bersimbah darah seperti itu tak ditemukan jejak sedikit pun yang bisa membantu penyelidikan kita. Tapi ada beberapa hal yang tak terlewatkan olehmu, kan—menurut laporan yang kubaca?"

Inspektur polisi yang masih muda itu mengejap-kan matanya ketika mendengar komentar sahabatku Holmes yang bernada mengejek.

"Bodoh sekali saya ini tak mengajak Anda pada waktu itu, Mr. Holmes. Tapi yang sudah berlalu, sudahlah. Ya, memang ada beberapa objek di ruangan itu yang menarik perhatian saya. Salah satunya adalah tombak yang dipakai si penjahat. Tombak itu diambil dari rak yang tergantung di dinding. Dua tombak lainnya masih berada di tempatnya, sedangkan terlihat ada tempat kosong di samping kedua tombak itu. Pada pegangan tombak itu terukir kata-kata 'SS. Sea Unicorn, Dundee'. Ini menunjukkan bahwa pembunuhan itu telah dilakukan oleh seseorang yang sedang marah besar, sehingga dia langsung saja menyambar senjata yang ada di dekatnya. Pembunuhan itu terjadi pada jam dua fajar padahal Peter Carey mengenakan pakaian lengkap, jadi pertemuan itu pastilah sudah direncanakan. Hal itu terlihat pula dari ditemukannya sebotol minuman rum dan dua gelas yang sudah terpakai di atas meja

"Ya," kata Holmes, "saya rasa kedua dugaan itu bisa diterima. Apakah ada minuman keras lain selain rum di dalam kabin?"

"Ya, ada tempat minum berisi brendi dan wiski di dalam peti pelaut. Tak ada manfaatnya buat kita, kan, karena tempat minum itu keduanya masih penuh, jadi belum diminum."

"Apa pun yang ada di ruangan itu ada manfaatnya," kata Holmes. "Tetapi, baiklah, kami ingin mendengarkan penjelasan lebih lanjut tentang hal-hal yang menurutmu ada hubungannya dengan kasus ini."

"Juga ditemukan kantong tembakau ini di atas meja."

"Di sebelah mana?"

"Tepat di tengah-tengah. Kantong rokok ini terbuat dari kulit anjing laut—dari jenis yang berbulu lurus, dan pengikatnya terbuat dari kulit. Di dalam kantong, di bagian penutupnya, tertulis singkatan 'P.C' dan isinya adalah setengah ons tembakau keras yang biasa diisap orang-orang kapal."

"Bagus! Apa lagi?"

Stanley Hopkins mengeluarkan sebuah buku notes bersampul kain dari saku celananya. Bagian luarnya sudah jelek dan rusak, sedang halaman halamannya sudah berubah warna. Pada halaman pertama tertulis singkatan "J.H.N.", lalu tahun "1883". Holmes menaruh buku notes itu di atas meja, lalu mengamatinya dengan saksama sebagaimana biasa dia lakukan. Sementara itu, aku dan Hopkins saling berpandangan. Pada halaman kedua ada huruf huruf "C.P.R."; halaman-halaman lainnya penuh dengan angka-angka. Ada halaman yang berjudul Argentina, Costa Rica, San Paulo—masing-masing diikuti oleh beberapa halaman berisi kode-kode dan angka-angka.

"Apa pendapatmu tentang ini?" tanya Holmes.

"Nampaknya seperti daftar surat-surat saham. Menurut saya, 'J.H.N.' adalah singkatan nama seorang pialang, dan 'C.P.R.' itu mungkin kliennya."

"Bagaimana dengan Canadian Pacific Railway?" usul Holmes.

Gigi Stanley Hopkins bergemeretuk, lalu dipukulnya pahanya dengan kepalan tangannya.

"Betapa bodohnya saya!" teriaknya. "Tentu saja itulah maksudnya. Jadi kini tinggal singkatan 'J.H.N.' yang perlu kita cari. Saya sudah memeriksa daftar-daftar Bursa Saham tahun 1883, dan saya tak menemukan satu nama pun yang cocok dengan singkatan itu, baik di kantor pusatnya maupun di catatan para pialang yang ada. Tapi petunjuk yang sudah ada di tangan saya ini, akan sangat penting artinya. Anda pasti setuju, Mr. Holmes, bahwa ada kemungkinan singkatan itu adalah milik orang yang menemui Peter Carey malam itu—atau dengan kata lain, ya si pembunuh itulah. Saya juga berpendapat bahwa kalau kita berhasil memeriksa dokumen yang ada kaitannya dengan bursa-bursa saham yang bernilai tinggi, kita akan langsung mendapatkan indikasi tentang motif pembunuhan itu."

Ekspresi wajah Sherlock Holmes menunjukkan bahwa dia sangat terperanjat atas perkembangan baru ini.

"Aku bisa menerima kedua dugaanmu," katanya. "Aku harus mengakui bahwa buku notes ini, yang tak disebut-sebut dalam hasil penyidikan, akan mengubah pandangan apa pun yang mungkin telah terbentuk. Sebelum ini, aku sudah menyusun teori tentang pembunuhan ini, tapi tanpa mempertimbangkan bukti baru ini. Apakah kau sudah berusaha melacak surat-surat saham yang tercantum di dalam buku notes ini?"

"Rekan-rekan saya sedang meminta keterangan dari sana-sini, tapi saya kuatir daftar pemegang saham yang lengkap dari perusahaan Amerika Selatan ini hanya bisa didapatkan di Amerika Selatan, dan itu berarti akan memakan waktu berminggu-minggu untuk melacak saham-sahamnya."

Sementara itu, Holmes asyik mengamati sampul buku notes itu dengan kaca pembesarnya.

"Bagian sini dari sampul kain ini kok warnanya lain, ya?" katanya.

"Ya, sir, itu kan bekas bercak darah. Tadi sudah saya katakan bahwa saya memungut buku notes itu dari lantai."

"Bercak darahnya di bagian atas atau bawah?"

"Di bagian samping, sir."

"Kalau begitu notes ini terjatuh setelah pembunuhan itu terjadi."

"Tepat sekali, Mr. Holmes. Saya pun sudah menyimpulkan itu, dan menurut saya, si pembunuhlah yang menjatuhkannya ketika dengan tergesa-gesa meninggalkan tempat itu. Notes itu tergeletak di dekat pintu."

"Kurasa kau tak menemukan satu pun dari saham-saham yang tercantum di notes ini di kamar korban?"

"Betul, sir."

"Menurutmu, apakah ada kemungkinan telah terjadi perampokan?"

"Tidak, sir. Tak ada barang apa pun yang dijamah oleh penjahat itu."

"Wah, kasus ini sungguh-sungguh menarik. Ditemukan pula sebilah pisau di sana, bukan?"

"Pisau bersarung, dan pisaunya masih berada di dalam sarungnya. Pisau itu tergeletak di dekat kaki korban. Mrs. Carey menyatakan bahwa pisau itu benar milik suaminya."

Holmes tepekur selama beberapa saat.

"Well," katanya pada akhirnya, "kurasa aku perlu pergi ke lokasi pembunuhan untuk mengamati keadaan."

Stanley Hopkins berteriak kegirangan.

"Terima kasih, sir. Itu benar-benar akan meringankan beban pikiran saya."

Holmes menggoyang-goyangkan telunjuknya ke arah inspektur polisi itu.

"Tugas ini akan menjadi jauh lebih mudah kalau dilakukan sejak minggu yang lalu," katanya, "tapi sekarang pun kunjunganku takkan sia-sia. Watson, kalau kau ada waktu, senang sekali kalau kau bisa menemaniku. Tolong panggilkan kereta, Hopkins, kami akan siap berangkat ke Forest Row dalam seperempat jam."

Setibanya kami di stasiun kereta api di sebuah kota kecil, kami melanjutkan perjalanan dengan kereta sewaan sepanjang beberapa kilometer melewati puing-puing hutan. Daerah ini dulunya adalah sebagian dari hutan yang amat luas yang selama puluhan tahun menjadi benteng kerajaan Inggris terhadap serangan bangsa-bangsa lain. Banyak bagiannya telah rata dengan tanah, karena tempat ini adalah pusat penghasil barang-barang besi yang pertama di Inggris. Pohon-pohonnya banyak yang ditebang sebab orang-orang di situ memerlukan tempat untuk melebur bijih besi. Tapi sekarang tempat yang lebih menguntungkan untuk usaha seperti itu telah berpindah ke Inggris bagian utara, sehingga daerah ini pun ditinggalkan orang. Yang tersisa hanyalah semak belukar yang porak poranda dan goresan-goresan di tanah, bekas sepak terjang mereka. Ketika kami sampai ke lereng bukit yang landai dan kehijauan, nampak di depan kami sebuah rumah batu yang rendah tapi memanjang. Tak jauh dari rumah itu, ada jalanan melengkung yang memotong halamannya. Di dekat jalan raya, berdiri rumah pondok yang pintu dan salah satu jendelanya menghadap ke arah kami. Di situlah pembunuhan itu terjadi.

Stanley Hopkins mengajak kami mengunjungi rumah induk terlebih dahulu, dan memperkenalkan kami kepada seorang wanita kurus ceking yang rambutnya berwarna abu-abu—janda korban. Wajahnya yang penuh keriput dan matanya yang cekung memancarkan ketakutan yang dalam yang berusaha disembunyikannya. Sekeliling pinggiran matanya berwarna merah. Penampilannya sungguh-sungguh menunjukkan betapa wanita ini telah menanggung banyak kesulitan dan penderitaan selama bertahun-tahun. Dia ditemani oleh anak perempuannya. Gadis itu berambut pirang dan berwajah pucat, namun matanya yang menantang menatap kami dengan berapi-api ketika dia mengatakan kepada kami betapa gembiranya dia karena ayahnya telah mati dan betapa dia berterima kasih kepada orang yang telah menombak ayahnya hingga tewas. Alangkah mengerikan keluarga yang telah dibangun oleh Peter si Hitam, dan kami benar-benar merasa lega ketika kami beranjak keluar dari rumah itu dan menikmati sinar matahari di halaman sambil berjalan melewati jalanan yang selama ini sering dilalui korban.

Pondok di luar rumah induk itu sangat sederhana, dindingnya dari kayu, atapnya cuma selapis, dengan dua jendela—satu di dekat pintu dan satunya lagi di seberang ruangan. Stanley Hopkins mengeluarkan kunci dari sakunya. Dia memasukkan kunci itu ke lubangnya, namun kemudian dia terhenti sejenak dan wajahnya memancarkan ke waspadaan dan, keheranan.

"Ada orang yang merusak kunci ini," katanya.

Memang benar apa yang dikatakannya. Rangka kayunya telah dipotong, dan ada goresan-goresan cat putih yang nampaknya masih baru. Sementara itu Holmes pergi untuk mengamati jendela dengan saksama.

"Ada yang mencoba membuka jendela ini dengan paksa pula, tapi gagal. Orang itu pasti belum berpengalaman menjadi pencuri."

"Sangat luar biasa," kata Inspektur "Saya berani bersumpah bahwa apa yang kita temukan sekarang ini belum ada kemarin malam."

"Mungkin ulah tetangga yang penasaran," aku mengemukakan pendapatku.

"Kecil kemungkinannya. Tak banyak orang yang berani menginjakkan kakinya ke tempat ini, apalagi mendobrak masuk ke kabin. Bagaimana menurut Anda, Mr. Holmes?"

"Menurutku, kita bernasib mujur."

"Maksud Anda, orang yang telah bikin ulah ini akan kemari lagi?"

"Bisa jadi. Semalam dia kemari dengan harapan akan menemukan pintu dalam keadaan terbuka. Dia mencoba untuk membuka pintu itu dengan menggunakan pisau lipat kecil, dan dia tak berhasil. Lalu, apa yang akan dilakukannya?"

"Ya mencoba untuk membukanya lagi dengan alat yang lebih sempurna."

"Aku pun berpendapat demikian. Jadi, kita akan bersalah kalau tak bersiap-siap untuk menangkapnya. Sementara ini, aku ingin melihat isi kabin."

Bekas-bekas pembunuhan telah dibereskan, tapi letak perabotannya tak ada yang diubah. Selama dua jam, Holmes mengamati satu per satu barang yang ada di ruangan itu dengan sangat teliti, namun dari ekspresi wajahnya aku tahu bahwa pencariannya tak membuahkan hasil yang berarti. Suatu saat, dia berhenti sejenak dari upaya pencariannya.

"Apakah ada sesuatu dari rak ini yang kauambil, Hopkins?"

"Tidak, saya tak menjamah apa-apa."

"Ada barang yang telah diambil oleh seseorang. Bekas debu di ujung rak ini tak setebal di tempat lain. Mungkin sebelumnya ada buku yang ditaruh di sini. Mungkin juga kotak. Well, well, tak ada yang bisa kulakukan lagi. Mari kita berjalan-jalan di hutan cantik di luar sana, Watson, sambil memperhatikan burung-burung dan bunga-bunga. Kami akan menemuimu kembali di sini, Hopkins, dan coba nanti kita lihat, apakah kita bisa menangkap basah orang yang berkunjung kemari tengah malam buta tadi malam."

Sudah jam sebelas malam lewat ketika kami mulai mengatur strategi penyergapan kami. Hopkins, berpendapat sebaiknya pintu kabin dibiarkan dalam keadaan terbuka, tapi menurut Holmes itu akan menimbulkan kecurigaan orang yang sedang kami incar. Toh, kunci kabin itu dari jenis yang amat sederhana, dan pisau yang agak kuat akan mampu membobolnya. Holmes juga menyarankan agar kami menunggu di luar kabin, bukan di dalamnya, yaitu di balik semak-semak yang tumbuh mengelilingi jendela satunya. Dengan cara begitu, kami akan dapat memperhatikan buruan kami kalau dia membawa alat penerangan, dan kami akan tahu barang apa yang akan diambilnya secara mencuri-curi begini.

Tugas pengintaian kami benar-benar lama dan tak mengasyikkan, tapi membuat kami penasaran sebagaimana yang dirasakan oleh seorang pemburu ketika dia mengintip mangsanya yang sedang mendekat. Makhluk jahat macam apakah yang mengendap-endap di malam hari seperti itu? Apakah dia jagoan penjahat sehingga untuk menangkapnya pasti kami akan terlibat pertarungan seru dengannya? Atau apakah dia itu ternyata cuma penjahat tak berbahaya yang suka menyelinap, dan tak terlalu berbahaya? Dalam kesunyian yang mencekam kami merunduk di antara semak belukar, sambil menanti apa yang akan terjadi. Pada mulanya terdengar oleh kami langkah langkah kaki orang-orang yang terlambat pulang dari pekerjaan mereka, atau suara-suara lainnya dari desa. Hanya itulah yang menjadi hiburan dalam penantian kami. Tapi hiburan ini pun lama kelamaan tak lagi terdengar, dan akhirnya suasana di sekitar kami benar-benar sunyi senyap, kecuali bunyi lonceng gereja di kejauhan, yang menolong kami untuk menyadari waktu yang sedang merayap, serta gemercik air hujan yang jatuh di atap daun-daunan kering yang menjadi tempat kami berteduh.

Waktu merangkak menjadi pukul setengah dua, dan pada jam sebegitu itulah alam sedang dalam keadaan paling gelap sebelum fajar menjelang. Pada saat itu kami dikejutkan oleh bunyi "klik" dari arah pintu gerbang. Seseorang telah memasuki jalanan di halaman. Lalu sunyi lagi selama waktu yang cukup lama, dan aku sudah hampir menyangka bahwa yang kami dengar tadi adalah suatu kebetulan saja, ketika terdengar langkah yang mengendap-endap dari seberang kabin. Tak lama kemudian disusul dengan suara "klik-klik" berkali-kali. Orang itu sedang berusaha mencongkel kunci pintu kabin! Kali ini dia berhasil menjebol kunci itu, mungkin karena dia sudah menjadi lebih pandai dari malam sebelumnya, atau alatnya lebih andal. Lalu dia menyalakan korek api untuk menyalakan lilin di dalam kabin, sehingga menerangi ruangan pondok itu. Lewat gorden yang tipis, kami melihat apa yang terjadi di dalam ruangan.

Tamu tak diundang itu ternyata masih muda, kurus, dan lemah, dengan kumis hitam yang sangat kontras dengan kulit wajahnya yang pucat. Usianya pasti baru sekitar dua puluhan. Tak pernah sebelumnya aku melihat wajah seseorang yang begitu dicekam ketakutan; giginya jelas sekali gemeretuk dan seluruh tubuhnya gemetaran. Pakaiannya bagus, jas model Norfolk dan celana setinggi lutut. Dia memakai penutup kepala. Kami melihat ketika dia menatap sekeliling dengan mata yang dipenuhi ketakutan. Lalu di menaruh tempat lilin di atas meja dan menghilang dari pandangan kami karena dia menuju salah satu sudut dalam ruangan itu. Dia kembali sambil membawa sebuah buku besar, salah satu buku laporan kapal yang berjajar di rak. Sambil bersandar di meja, dengan cepat dia membuka buka halaman buku itu, sampai akhirnya dia menemukan halaman yang diinginkannya. Lalu, sambil mengepalkan tangannya dengan marah, dia menutup buku itu, dan mengembalikannya ke tempatnya semula. Kemudian dia mematikan lilin. Dia baru saja hendak meninggalkan pondok itu ketika tangan Hopkins mencengkeram kerah bajunya, dan aku sempat mendengar teriakan ketakutannya yang terucap dengan keras ketika dia menyadari bahwa seseorang memergokinya. Lilin kembali dinyalakan, dan kami bisa melihat dengan jelas tawanan kami yang gemetaran dan ketakutan dalam cengkeraman Hopkins. Dia terduduk di atas peti kapal, dan menatap kami satu per satu dengan putus asa.

"Nah, Sobat," kata Stanley Hopkins, "siapakah kau ini, dan apa yang kaucari di sini?"

Pemuda itu berusaha menenangkan dirinya lalu menghadapi kami dengan ketenangan yang dipaksakan.

"Kalian ini detektif, ya?" katanya. "Dan kalian mengira saya ada hubungannya dengan kematian Kapten Peter Carey? Percayalah, bukan saya pelakunya."

"Kami akan tahu tentang hal itu nanti," kata Hopkins. "Tapi, coba kaukatakan dulu siapa namamu?"

"Nama saya John Hopley Neligan."

Kulihat Holmes dan Hopkins saling bertukar pandang secara sekilas.

"Apa yang kaulakukan di sini?"

"Bisakah saya berbicara secara rahasia?"

"Tentu saja tidak."

"Lalu, mengapa saya harus mengatakannya kepada Anda?"

"Karena kalau tidak, kau akan mendapat kesulitan di pengadilan nanti."

Pemuda itu mengejapkan matanya.

"Kalau begitu, baiklah akan saya katakan," katanya. "Lagi pula, mengapa tidak? Walaupun saya menyesal kalau memikirkan bahwa skandal lama ini akan mencuat kembali. Pernah dengar tentang Dawson and Neligan?'

Ekspresi wajah Hopkins menunjukkan bahwa dia belum pernah mendengar nama itu, tapi Holmes kelihatan sangat tertarik.

"Maksudmu para bankir dari West Country?" katanya. "Mereka mengalami kebangkrutan, menghancurkan ekonomi separo masyarakat Cornwall, dan Neligan sendiri menghilang."

"Tepat sekali. Neligan adalah ayah saya."

Akhirnya kami mendapatkan sesuatu yang positif, tapi tetap masih jauh dari apa yang kami harapkan, karena apa gerangan hubungan antara seorang bankir yang menghilang dan terjepitnya Kapten Peter Carey di dinding ditusuk tombak miliknya sendiri? Kami mendengarkan penuturan pemuda itu dengan saksama.

Sebetulnya ayah sayalah yang lebih berurusan dengan semua ini. Dawson telah pensiun. Waktu itu saya baru berusia sepuluh tahun, tapi saya sudah ikut merasakan betapa malu dan takutnya karena peristiwa itu. Orang-orang tahunya ayah sayalah yang mencuri semua surat saham yang amat berharga itu, lalu menghilang. Padahal tidak demikian. Dia yakin bahwa kalau saja dia diberi waktu untuk menjual saham-saham itu, semuanya akan beres dan setiap orang yang berhak atas penarikan uang akan dibayarkan uangnya. Dia berangkat ke Norwegia dengan kapal pesiarnya yang kecil, beberapa waktu sebelum surat penangkapan atas dirinya dikeluarkan. Saya masih ingat malam itu ketika Ayah berpamitan kepada Ibu. Dia meninggalkan daftar berisi surat-surat saham yang dibawanya, dan dia berjanji akan kembali dengan kehormatan yang dipulihkan, dan bahwa orang-orang yang telah mempercayainya tak akan dirugikan apa-apa. Well, ternyata setelah itu tak terdengar kabar beritanya Ayah dan kapal pesiarnya menghilang bak ditelan angin. Kami, Ibu dan saya, percaya bahwa dia telah tenggelam di dasar laut bersama kapal dan surat-surat saham yang dibawanya. Tapi, kami punya seorang teman pengusaha yang bisa kami percayai, dan beberapa waktu yang lalu dia mendapati bahwa beberapa surat saham yang dibawa Ayah ternyata muncul kembali di pasar bursa London. Kalian bisa membayangkan betapa terkejutnya kami. Selama berbulan-bulan saya berupaya melacak surat-surat saham itu, dan akhirnya setelah melewati banyak rintangan, saya menemukan bahwa penjual tangan pertama surat-surat saham itu adalah Kapten Peter Carey, pemilik pondok ini.

"Itulah sebabnya saya mencari informasi tentang orang ini. Saya jadi tahu bahwa dia pernah menakhodai sebuah kapal yang kembali dari Samudera Arktik bersamaan dengan ketika ayah saya menyeberang ke Norwegia. Pada musim gugur tahun itu, angin bertiup dengan sangat kencang, bahkan secara berturut-turut bertiup badai angin selatan. Mungkin saja kapal ayah saya tertiup ke utara, lalu di sana bertemu dengan kapal Kapten Peter Carey. Kalau benar demikian yang terjadi, bagaimana nasib ayah saya? Yang penting, kalau saya bisa membuktikan bagaimana sampai surat-surat saham itu bisa terjual di pasar bursa, saya akan bisa menjelaskan bahwa bukan ayah sayalah yang telah menjualnya, dan bahwa ternyata ayah saya tak berniat mengambil keuntungan bagi dirinya sendiri ketika pergi dengan membawa surat-surat saham itu.

"Saya lalu pergi ke Sussex dengan niat menemui kapten kapal itu, tapi kedatangan saya bertepatan dengan musibah pembunuhan yang menimpanya. Dari laporan hasil penyidikan yang saya baca di koran, saya mengetahui bahwa buku-buku catatan pelayaran Kapten Carey di masa lalu masih tersimpan di dalam kabinnya. Saya amat tersentak dengan adanya penjelasan ini, karena kalau saya bisa mengetahui apa yang terjadi pada bulan Agustus 1883 di kapal Sea Unicorn, mungkin saja saya akan dapat menguakkan misteri hilangnya ayah saya. Tadi malam saya sudah mencoba untuk melihat buku-buku catatan tersebut, tapi saya tak berhasil membuka pintu kabin. Malam ini saya mencoba lagi, dan berhasil; tapi ternyata halaman-halaman yang memuat catatan pada bulan yang saya maksudkan, telah dirobek dari buku itu. Pada saat itulah kalian menangkap saya."

"Sudah selesai?" tanya Hopkins.

"Ya, semua sudah saya ceritakan." Matanya memandang ke tempat lain ketika dia mengatakan hal itu.

"Benarkah tak ada hal lain lagi yang ingin kausampaikan kepada kami?"

Dia bimbang. "Tidak, cuma itu saja."

"Kau tidak kemari sebelum kemarin malam?"

"Tidak."

"Lalu bagaimana kau akan menjelaskan ini?" teriak Hopkins sambil mengacungkan buku notes yang bertuliskan singkatan nama tawanan kami di halaman pertama, dan ada bercak darah di sampul nya.

Pemuda yang putus asa itu sangat terpukul. Ditutupinya wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dan seluruh anggota badannya gemetaran.

"Di mana kalian menemukannya?" tanyanya sambil merintih. "Saya tak tahu apa-apa tentang buku notes itu, karena saya kira sudah hilang ketika saya menginap di hotel."

"Cukup!" teriak Hopkins dengan ketus. "Apa pun yang ingin kaukatakan setelah ini, sebaiknya nanti saja di pengadilan. Sekarang aku akan membawamu ke kantor polisi. Well, Mr. Holmes, saya sangat berterima kasih kepada Anda dan teman Anda atas segala bantuannya. Kehadiran Anda ternyata tak diperlukan, sebab saya toh akan mencapai sukses seperti ini walaupun seandainya Anda tidak ada. Tapi bagaimanapun juga, saya amat berterima kasih kepada Anda. Kami telah menyediakan kamar buat Anda di Hotel Brambletye, jadi mari kita berjalan ke sana bersama-sama "

"Well, Watson, bagaimana menurutmu?" tanya Holmes dalam perjalanan pulang keesokan paginya.

"Rasanya kok kau belum merasa puas."

"Oh, tidak, Watson, aku malah sudah benar-benar merasa puas. Namun cara kerja Stanley Hopkins sungguh kusayangkan. Aku kecewa padanya. Mestinya dia bisa berbuat lebih baik lagi. Setiap orang perlu selalu membuka diri terhadap kemungkinan lain dan bukannya malah menutup kemungkinan itu. Ini hukum pertama yang harus dipatuhi kalau seseorang melakukan penyelidikan kriminal."

"Apa kemungkinan lainnya yang kau maksudkan?"

"Jalur penyelidikan yang saat ini sedang kutelusuri. Memang bisa saja tak menghasilkan apa-apa; aku sendiri pun belum tahu bagaimana nantinya. Tapi paling tidak, aku akan melakukannya sampai benar-benar tuntas."

Beberapa surat sudah menunggu Holmes setibanya kami di Baker Street. Diambilnya salah satu, dibukanya, lalu dia tertawa penuh kemenangan.

"Bagus sekali, Watson. Kemungkinan yang kau tanyakan tadi telah mengalami perkembangan. Kau punya formulir untuk mengirim telegram? Tolong tuliskan beberapa kalimat berikut ini: 'Sumner, Shipping Agent, Ratcliff Highway. Kirim tiga orang, tiba jam sepuluh pagi besok.—Basil.' Basil adalah namaku di daerah sana. Tolong tuliskan satu telegram lagi, begini: 'Inspektur Stanley Hopkins, 46 Lord Street, Brixton. Datanglah untuk makan pagi jam setengah sepuluh. Penting. Beri kabar kalau berhalangan.—Sherlock Holmes.' Nah, Watson, kasus keparat ini telah menghantuiku selama sepuluh hari. Dengan telegram-telegram ini, aku akan segera mengakhirinya dengan tuntas. Aku yakin, besok pagi semuanya akan berakhir untuk selama-lamanya.

Tepat pada jam yang diminta, Inspektur Stanley Hopkins muncul di kamar kami. Kami bertiga lalu duduk bersama menyantap makan pagi lezat yang telah disiapkan Mrs. Hudson. Detektif muda itu sedang dalam suasana hati yang marak atas keberhasilannya.

"Kau sungguh merasa bahwa kesimpulanmu benar?" tanya Holmes.

"Saya rasa itu tak perlu diragukan lagi."

"Menurutku kesimpulanmu itu agak kurang kuat"

"Saya jadi heran, Mr. Holmes. Apa lagi yang perlu dipermasalahkan?"

"Apakah kau yakin tak ada hal yang terlewatkan dalam penjelasanmu?"

"Jelas tidak. Saya sudah cek, ternyata pemuda Neligan itu tiba di Hotel Brambletye pada hari yang sama dengan terjadinya pembunuhan itu. Dia datang pura-pura mau main golf. Dia mendapatkan kamar di lantai dasar, jadi dia bisa keluar masuk hotel semaunya sendiri. Pada malam harinya, dia pergi ke Woodman's Lee, dilihatnya Peter Carey berada di pondoknya. Mereka bertengkar, dan dia membunuh Peter Carey dengan tombak. Lalu, karena ketakutan menyadari apa yang telah dilakukannya, dia berlari keluar dari pondok itu, dan ketika itulah buku notesnya—yang dibawanya sebagai bahan untuk menanyakan beberapa hal kepada Peter Carey tentang surat-surat saham itu— terjatuh. Mungkin Anda pun memperhatikan bahwa ada beberapa bagian dari angka-angka dalam notes itu yang ditandai, sedangkan lainnya tidak. Yang ditandai itu adalah yang beredar di bursa saham, sedangkan yang lainnya mungkin masih berada di tangan Carey. Si Neligan itu, menurut penuturannya sendiri, sangat ingin mendapatkan surat-surat saham sisanya itu agar bisa dia kembalikan kepada orang-orang yang dulu meminjamkannya kepada ayahnya. Setelah dia melarikan diri, pastilah dia tak berani mendekat ke pondok itu selama beberapa saat; tapi akhirnya, dia memaksakan diri untuk kembali ke sana guna mendapatkan informasi yang dia perlukan. Jelas dan sederhana sekali, kan?"

Holmes tersenyum dan menggeleng.

"Menurutku, masih ada satu kekurangan, Hopkins, yaitu bahwa hal itu pada hakikatnya tak mungkin terjadi. Pemahkah kau menancapkan tombak pada tubuh seseorang? Belum, kan? Tut, tut, Tuan yang terhormat, coba perhatikan ini dengan saksama. Teman saya Watson menjadi saksi bagaimana sepagian saya mencoba melakukannya. Ternyata tak mudah, dan membutuhkan lengan yang kuat dan sudah terlatih. Lemparan tombak ke tubuh Peter Carey itu sedemikian kuatnya, sehingga ujung tombaknya sampai menembus dinding. Bisakah kaubayangkan pemuda loyo itu melakukan serangan yang begitu dahsyatnya? Benarkah dia juga yang sempat menenggak rum bersama Peter si Hitam pada malam buta begitu? Apakah bayangan wajah yang dilihat seseorang dua hari sebelum musibah itu terjadi adalah bayangan wajahnya? Tidak, Hopkins, tidak; yang perlu kita kejar adalah orang lain yang jauh lebih brutal."

Wajah detektif muda itu makin lama makin kelabu sementara Holmes berbicara. Harapan dan ambisinya ternyata hancur berkeping-keping di hadapan matanya. Tapi dia masih merasa perlu untuk bersitegang.

"Anda toh tak bisa mengingkari kenyataan bahwa Neligan ada di sana ketika musibah terjadi, Mr. Holmes. Buku notes itu menjadi buktinya. Saya rasa saya punya bukti yang cukup kuat untuk meyakinkan hakim, walaupun ada lubangnya. Di samping itu, Mr. Holmes, saya sudah berhasil menangkap orang yang saya tuduh. Sedangkan orang brutal yang Anda maksudkan itu, mana dia orangnya?"

"Tuh, kurasa dia sedang menaiki tangga dan menuju kemari," kata Holmes dengan tenang. "Watson, sebaiknya kauambil pistol yang berada di dekatmu." Holmes bangkit dan menaruh selembar kertas di meja samping. "Sekarang kita siap," katanya.

Di luar, terdengar suara-suara yang kasar dan keras, dan Mrs. Hudson lalu membuka pintu ruangan kami sambil mengatakan bahwa ada tiga orang yang mencari seseorang bernama Kapten Basil.

"Tolong silakan mereka masuk satu per satu," kata Holmes.

Orang pertama yang masuk adalah seseorang yang bertubuh kecil dan kerempeng dengan pipi kemerahan dan janggut putih di kedua sisi wajahnya. Holmes mengeluarkan sepucuk surat dari sakunya.

"Siapa nama Anda?" tanyanya.

"James Lancaster."

"Saya minta maaf, Lancaster, lowongan kerja yang diiklankan itu telah terisi. Tapi, biarlah saya memberi sedikit ganti rugi karena telah merepotkan Anda. Silakan tunggu sebentar di kamar sebelah."

Orang kedua yang masuk tubuhnya jangkung dan ceking. Rambutnya panjang dan pipinya pucat. Namanya Hugh Pattins. Seperti rekannya yang pertama masuk, dia pun dipersilakan menunggu di kamar sebelah setelah menerima sejumlah imbalan.

Orang ketiga yang masuk benar-benar luar biasa penampilannya. Wajahnya bak anjing bulldog yang garang, dipenuhi dengan rambut dan jenggot yang kusut masai. Kedua matanya yang besar dan hitam bersinar-sinar di balik alisnya yang amat tebal dan lebat hingga sampai menggantung ke atas matanya. Dia memberi hormat dan berdiri dengan sikap seorang pelaut, sambil memutar-mutar topi yang dipegangnya.

"Nama Anda?" tanya Holmes.

"Patrick Cairns."

"Ahli menombak ikan?"

"Ya, sir. Dua puluh enam kali berlayar."

"Bertolak dari Dundee, ya?"

"Ya, sir."

"Dan sekarang siap untuk berlayar lagi dengan kapal penjelajah?"

"Ya, sir."

"Berapa bayaran yang Anda minta?"

"Delapan pound sebulan."

"Bisa mulai sekarang juga?"

"Langsung setelah saya menyiapkan perlengkapan saya."

"Ada surat-surat izin yang diperlukan?"

"Ya, sir." Dia mengeluarkan beberapa formulir yang acak-acakan dari sakunya. Holmes memeriksanya sejenak, lalu mengembalikannya lagi.

"Anda benar-benar orang yang saya inginkan," katanya. "Surat perjanjiannya ada di meja samping sana. Silakan tanda tangani, dan semuanya akan beres."

Pelaut itu beringsut menyeberangi ruangan dan mengeluarkan pulpennya.

"Di sinikah saya harus membubuhkan tanda tangan saya?" tanyanya sambil membungkuk ke arah meja samping yang agak rendah itu.

Holmes menelungkupkan badannya di belakang pelaut itu dan menjeratkan kedua tangannya ke leher orang itu.

"Nah, baiknya begini saja," kata Holmes.

Aku mendengar suara baja diceklikkan dan suara orang melenguh keras bagaikan banteng yang kesetanan. Saat berikutnya, Holmes dan pelaut itu bergulingan di lantai. Pelaut itu begitu kuatnya sehingga walaupun pergelangan tangannya telah diborgol oleh Holmes dengan gesit, dia pastilah akan dengan gampang melumpuhkan temanku. Maka Hopkins dan aku segera berlari menolong Holmes. Barulah ketika aku menempelkan pistolku ke pelipisnya, pelaut itu menyadari bahwa tak ada gunanya dia memberontak. Kami mengikat pergelangan kakinya dengan tali, lalu kami pun bangkit dengan terengah-engah karena pergulatan tadi.

"Aku sungguh minta maaf, Hopkins," kata Holmes, "jangan-jangan telur dadarnya sudah dingin. Tapi kau pasti akan menikmati kelanjutan makan pagi yang sempat tertunda ini, kan? Karena kasusmu benar-benar berhasil kali ini."

Stanley Hopkins diam seribu bahasa karena kebingungan.

"Saya tak tahu harus mengatakan apa, Mr. Holmes," dia menggumam pada akhirnya, wajahnya merah padam. "Nampaknya saya memang telah bertindak bodoh sejak semula. Kini saya mengerti, sesuatu yang seharusnya tak boleh sekejap pun saya lupakan, bahwa saya ini tak ada apa-apanya dibandingkan dengan Anda yang sudah begitu hebat. Bahkan sekarang ketika saya menyaksikan apa yang telah Anda Iakukan, saya masih tidak tahu bagaimana Anda bisa melakukan itu, atau bagaimana menjelaskannya."

"Well, well," kata Holmes dengan ramah. "Kita semua belajar melalui pengalaman, dan pelajaran yang kaudapatkan kali ini ialah jangan sekali-kali meremehkan kemungkinan-kemungkinan lain. Kau begitu asyiknya mencecar pemuda Neligan, sehingga tak memikirkan pembunuh Peter Carey yang sesungguhnya, yaitu Patrick Cairns."

Pelaut tawanan kami memotong pembicaraan kami dengan suaranya yang parau.

Coba dengar, mister," katanya, "saya tak keberatan ditangkap dengan cara begini, tapi saya ingin Anda hati-hati bicara. Anda bilang saya membunuh Peter Carey; saya bilang saya hanya membela diri. Keduanya sangat berbeda, kan? Mungkin Anda tak percaya pada kata-kata saya; mungkin Anda pikir saya memutarbalikkan fakta."

"Sama sekali tidak," kata Holmes. "Silakan menceritakan kisah Anda."

"Akan segera saya lakukan, dan, demi Tuhan, kata-kata saya benar adanya. Saya kenal benar sepak terjang Peter si Hitam, dan begitu dia mencabut pisaunya, saya pun langsung melemparkan tombak itu ke arahnya, karena saya benar-benar menyadari, kalau bukan dia yang mati, ya saya. Begitulah kejadiannya bagaimana dia menemui ajalnya. Bisa jadi Anda tetap menganggap itu sebagai pembunuhan. Yah, lebih baik saya mati di tiang gantungan daripada di tangan Peter si Hitam."

"Bagaimana sampai Anda berada di tempat itu?"

"Akan saya ceritakan mulai dari awal. Cuma, tolong saya dipindah ke posisi duduk supaya saya dapat berbicara dengan lebih mudah. Kejadiannya dimulai pada tahun 1883—tepatnya bulan Agustus. Peter Carey menjadi nakhoda Sea Unicorn, dan saya menjadi penombak ikan di kapal itu. Suatu saat kapal kami baru saja melewati bongkahan-bongkahan es dalam perjalanan pulang. Angin bertiup kencang dan badai angin selatan menimpa kapal kami selama seminggu. Saat itu kami melihat sebuah kapal kecil yang telah terembus badai sampai ke utara. Penumpangnya cuma seorang—dan bukan pelaut. Rupanya para awak kapal meninggalkan dia karena mereka kuatir kapal kecil itu akan tenggelam. Mereka naik sampan menuju pantai Norwegia dan akhirnya malah tenggelam semua. Nah, kami menaikkan orang itu ke kapal dan dia banyak berbincang-bincang dengan nakhoda. Satu-satunya barang yang dibawanya adalah sebuah kotak terbuat dari timah. Setahu saya, nama orang itu bahkan tak pernah disebut-sebut, dan pada malam kedua setelah bersama kami di kapal, orang itu menghilang begitu saja bagaikan tak pernah muncul di antara kami. Berita yang tersiar mengatakan bahwa mungkin dia sendirilah yang sengaja terjun ke laut, atau tanpa sengaja tercebur ke laut akibat cuaca buruk yang sedang melanda kapal. Hanya saya yang tahu apa yang sebenarnya terjadi pada orang itu, karena dengan mata kepala sendiri saya melihat bagaimana nakhoda mendorong orang itu hingga tercebur ke laut pada tengah malam buta, dua hari sebelum kami melihat lampu lampu kota Sherland.

"Well, saya tak menceritakan hal ini kepada siapa pun dan dengan rasa ingin tahu menunggu perkembangan selanjutnya. Ketika kami kembali ke Skotlandia, masalah itu dengan gampang saja ditutup-tutupi, dan tak ada orang yang bertanya. Seorang asing menumpang kapal kami lalu tewas karena kecelakaan—begitulah beritanya, dan orang-orang pun tak peduli lagi. Tak lama setelah itu Peter Carey pensiun dari tugas kapal, tapi baru bertahun-tahun kemudian saya menemukan alamatnya. Saya menduga dia pastilah sudah menikmati banyak keuntungan dari isi kotak timah itu, maka tentunya sekarang dia akan bersedia membayar sejumlah uang kepada saya karena tindakan tutup mulut saya selama ini.

"Saya mendapatkan alamatnya dari seorang pelaut yang pernah bertemu dengannya di London, maka saya lalu berniat menemuinya untuk memerasnya. Pada kunjungan saya yang pertama, dia cukup bisa diajak berunding, dan menyatakan bersedia memberikan sejumlah uang kepada saya yang akan cukup untuk menopang hidup saya apabila kelak saya pensiun dari pekerjaan saya di kapal. Kami sepakat untuk melaksanakan transaksi itu dua malam berikutnya. Ketika saya menemuinya pada waktu yang telah ditentukan, dia dalam keadaan hampir mabuk dan perangainya sangat buruk. Kami berdua lalu duduk dan minum-minum, sambil mengingat-ingat masa lalu kami. Tapi semakin banyak dia minum, semakin mengerikan ekspresi wajahnya. Saat itulah saya melihat tombak yang tergantung di dinding, dan saya langsung merasa memerlukan tombak itu kalau tak ingin celaka. Lalu dia mulai marah-marah dan mengata-ngatai saya. Jelas bahwa dia ingin membunuh saya waktu itu karena di tangannya tiba-tiba sudah tergenggam sebilah pisau. Namun belum sempat dia mengeluarkan pisau itu dari sarungnya, saya sudah secara spontan melemparkan tombak ke arahnya. Ya Tuhan! Betapa kerasnya jeritan yang keluar dari mulutnya; dan ekspresi wajahnya yang menyeramkan ketika menanggung rasa sakit, sejak itu menghantui tidur saya! Saya berdiri kaku di situ, darahnya muncrat dengan deras sampai mengenai tubuh saya, dan saya menunggu sejenak; tapi sekeliling saya tetap sunyi senyap, maka keberanian saya timbul kembali. Saya memandang sekeliling, dan nampaklah oleh saya kotak timah itu di atas rak. Saya merasa ikut berhak atas kotak itu, jadi saya ambil kotak itu lalu saya meninggalkan pondok. Namun betapa bodohnya saya, karena kantong tembakau saya tertinggal di atas meja.

"Sekarang, saya akan menceritakan bagian yang paling aneh dari seluruh kisah saya ini. Belum sampai saya keluar dari halaman rumah itu, saya mendengar ada orang datang, maka saya cepat-cepat bersembunyi di antara semak belukar. Seorang pria mengendap-endap masuk ke pondok itu, lalu berteriak ngeri bagaikan telah melihat hantu, dan langsung lari dengan terbirit-birit. Saya sama sekali tak tahu siapa dia dan apa yang diinginkannya. Setelah itu, saya lalu berjalan kaki sejauh enam belas kilometer, naik kereta api di Tunbridge Wells sampai ke London, tanpa seorang pun mencurigai saya.

"Well, ketika saya memeriksa kotak itu, ternyata tak ada uang atau barang berharga lain di dalamnya, cuma ada kertas-kertas. Saya tak punya keberanian untuk menjual kertas-kertas itu. Saya telah kehilangan Peter si Hitam dan sekarang terlunta-lunta di London tanpa uang sepeser pun. Hanya kemampuan sayalah yang bisa saya andalkan. Lalu saya melihat iklan lowongan kerja yang membutuhkan tenaga pelempar tombak, maka saya pergi ke agen kapal yang terdekat dan mereka menyuruh saya datang kemari. Hanya itu yang saya ketahui, dan saya ulangi lagi bahwa kalau memang saya dianggap telah membunuh Peter si Hitam, hukum malah seharusnya berterima kasih kepada saya, karena mereka jadi menghemat biaya pembelian sebuah tali gantungan."

"Pernyataan Anda jelas sekali," kata Holmes sambil bangkit dari tempat duduknya dan menyalakan pipa rokoknya. "Kurasa, Hopkins, kau tak perlu buang-buang waktu lagi untuk membawa tahananmu ke tempat yang aman. Ruangan ini tak pernah dimaksudkan untuk menjadi kamar tahanan, dan badan Mr. Patrick Cairns memakan terlalu banyak tempat"

"Mr. Holmes," kata Hopkins, "saya tak tahu bagaimana harus menyatakan rasa terima kasih saya. Sampai detik ini, saya masih tak mampu memahami bagaimana Anda bisa menghasilkan hal seperti ini."

"Ah, cuma kebetulan saja aku mendapatkan petunjuk yang benar sejak dari awal. Kemungkinan besar, seandainya aku tahu tentang buku notes itu sebelumnya, aku pun bisa saja berpikir lain, seperti kau. Tapi dari apa yang kudengar waktu itu, kesimpulanku langsung mengarah kepada seseorang. Kekuatan yang luar biasa, keahlian melemparkan tombak, minuman keras dan air, kantong tembakau dari kulit anjing laut yang berisi tembakau jenis keras—semuanya ini kan dimiliki seorang pelaut, dan secara khusus yang biasa menangkap ikan paus dengan tombak. Aku yakin benar bahwa singkatan 'P.C.' yang tertera di kantong tembakau itu kebetulan saja sama dengan singkatan Peter Carey, tapi kantong itu sebenarnya bukan miliknya. Mengapa demikian? Karena Peter Carey jarang sekali merokok, bahkan pipa rokok saja tak ditemukan di pondoknya. Kau ingat ketika aku bertanya apakah ada wiski dan brendi di kabin itu? Kau mengatakan ada. Kalau bukan pelaut, pasti dia akan lebih suka minum wiski dan brendi, bukannya rum. Jadi aku tak ragu lagi, bahwa tamu malam buta itu pastilah seorang pelaut."

"Dan bagaimana Anda menemukan dia?"

"Itu gampang sekali! Seandainya dia itu benar seorang pelaut, pastilah dia pernah bersama-sama Peter Carey di kapal Sea Unicorn. Sejauh pengetahuanku, Peter Carey selalu berlayar dengan kapal itu. Aku mengirim telegram ke Dundee, dan tiga hari kemudian mendapat daftar nama awak Sea Unicorn dalam pelayaran tahun 1883. Begitu aku menemukan nama Patrick Cairns di antara penangkap ikan di kapal itu, maka penelitianku pun sudah mendekati titik akhir. Aku berpendapat bahwa mungkin saja orang itu berada di London, dan dia mungkin merasa perlu untuk menghilang selama beberapa saat. Itulah sebabnya, aku lalu meluangkan beberapa hari di daerah East End, merancang-rancang rencana pelayaran menjelajahi Samudera Arktik, dan memasang iklan lowongan kerja yang menggiurkan tentang dibutuhkannya ahli-ahli melempar tombak yang akan dipekerjakan oleh Kapten Basil—dan lihatlah bagaimana hasilnya!"

"Hebat!" teriak Hopkins. "Hebat!"

"Kau harus mengusahakan agar pemuda Neligan secepatnya dilepaskan dari tahanan," kata Holmes. "Kurasa kau juga perlu meminta maaf. Kotak timah itu harus diserahkan kepadanya, tapi surat-surat saham yang telah dijual oleh Peter Carey tentu saja tak bisa diperolehnya kembali. Tuh, ada kereta lewat Hopkins, bawalah tawananmu. Kalau kau memerlukan kesaksianku di persidangan, hubungi aku dan Watson di Norwegia—alamat lengkapnya akan kukirimkan kemudian."