SELAMA bertahun-tahun mengenal Mr. Sherlock Holmes, aku belum pernah mendengarnya menyebut-nyebut keluarganya. Demikian pula tentang masa lalunya. Sikap bungkamnya atas hal ini malah membuatku penasaran, sampai-sampai aku menganggapnya sebagai orang yang sengaja menyendiri, punya otak tapi tak punya hati, cerdik luar biasa tapi kurang simpatik. Antipatinya terhadap wanita, dan keengganannya memiliki teman-teman baru, menunjukkan sifat-sifat khasnya yang memang tak begitu banyak memberi peran pada emosinya, seperti halnya dia tak pernah menyebut-nyebut keluarganya. Aku lalu berpikir bahwa dia mungkin yatim-piatu, tanpa seorang keluarga pun yang masih hidup. Tapi suatu hari, aku dibuatnya sangat terkejut karena dia mulai menceritakan tentang saudara laki-lakinya kepadaku.

Waktu itu, kami baru saja selesai minum teh di sore hari. Kami berbincang-bincang tentang macam-macam hal, dari perkumpulan perkumpulan golf sampai ke penyebab perubahan kemiringan pada gerhana-gerhana, hingga akhirnya sampai pada masalah atavisme dan bakat-bakat turunan. Kami membahas sampai sejauh mana bakat khusus seseorang berhubungan dengan nenek moyangnya, dan sampai sejauh mana kaitannya dengan latihan yang pernah dilakukannya sendiri.

"Dalam kasusmu sendiri," kataku, "dari semua yang telah kauceritakan padaku nampak jelas bahwa bakatmu dalam hal melakukan penyelidikan dan mengambil kesimpulan disebabkan oleh latihan-latihanmu sendiri yang sistematis."

"Tidak seluruhnya," jawabnya sambil berpikir. "Nenek moyangku adalah bangsawan-bangsawan desa, yang nampaknya menjalani hidup sebagaimana layaknya orang-orang sederajat mereka. Tapi walaupun demikian, bakatku itu sudah mendarah daging, mungkin warisan dari nenekku yang adalah saudara perempuan Vernet, seniman Prancis itu. Darah seni yang menurun bisa aneh-aneh bentuknya."

"Tapi, bagaimana kau tahu kalau itu bakat turunan?"

"Karena saudara lelakiku yang bernama Mycroft juga memilikinya, malah secara lebih hebat."

Ini sungguh-sungguh berita menarik bagiku. Kalau ada orang lain di Inggris yang memiliki kemampuan khas seperti dia, mengapa kepolisian ataupun masyarakat pada umumnya tak pernah mendengar namanya? Kuajukan pertanyaan itu sambil memuji kerendahan hatinya, karena dia menganggap saudara lelakinya lebih hebat daripada dirinya. Holmes tertawa mendengar pernyataanku.

"Sobatku Watson," katanya, "aku tak setuju dengan orang yang menganggap kerendahan hati sebagai perbuatan yang terpuji. Bagi orang yang berpikir secara logis, semua harus berdasarkan kenyataan yang sebenarnya. Merendahkan diri sendiri ataupun membesar-besarkannya berarti melenceng dari kenyataan. Maka, kalau kukatakan bahwa Mycroft memiliki kemampuan menyelidiki yang lebih hebat daripadaku, memang demikianlah kenyataannya."

"Apakah dia lebih muda darimu?"

"Tujuh tahun lebih tua dariku."

"Kenapa dia tak dikenal?"

"Oh, dia cukup terkenal di lingkungannya sendiri."

"Di mana itu?"

"Yah, di Diogenes Club, misalnya."

Aku tak pernah mendengar tentang klub itu, dan mimik wajahku pasti menampakkan hal itu, karena Holmes lalu mengeluarkan jam tangannya.

"Diogenes Club merupakan klub yang paling unik di London, dan Mycroft memang salah satu dari orang-orang yang paling unik. Dia selalu ada di sana dari jam lima kurang seperempat sampai jam delapan lewat dua puluh. Sekarang jam enam. Mau jalan-jalan sebentar? Cuacanya indah sore ini, dan nanti akan kutunjukkan apa-apa yang ingin kauketahui."

Lima menit kemudian kami sudah berada di jalanan, menuju ke arah Regent Circus.

"Kau pasti ingin tahu," kata temanku, "kenapa Mycroft tak menggunakan kemampuannya untuk bekerja sebagai detektif. Dia tak bisa melakukan hal itu."

"Tapi, kupikir kau mengatakan...!"

"Aku mengatakan bahwa kemampuannya menyelidiki dan mengambil kesimpulan lebih hebat daripadaku. Kalau saja pekerjaan seorang detektif bisa dilakukan hanya dari belakang meja sambil duduk-duduk, kakakku akan menjadi agen kriminal paling hebat yang pernah ada. Sayang dia tak punya ambisi dan tak punya tenaga. Dia tak mau bersusah payah membuktikan kebenaran kesimpulannya. Dia lebih suka dianggap salah daripada repot-repot membuktikan bahwa dirinya benar. Aku sudah berkali-kali mengemukakan masalah kepadanya, dan telah menerima penjelasan darinya yang nantinya pasti terbukti kebenarannya. Tapi dia benar-benar tak mampu melakukan hal-hal praktis yang perlu dilacak sebelum suatu kasus dapat diajukan ke pengadilan."

"Jadi profesinya bukan itu, ya?"

"Bukan sama sekali. Apa yang bagiku mata pencaharian, baginya hanya hobi sampingan. Dia memiliki kemampuan yang luar biasa dalam hal mengutak-atik angka, dan dia bekerja sebagai auditor dari beberapa departemen pemerintah. Mycroft tinggal di Pall Mall, dan dia hanya perlu berjalan membelok gang untuk sampai ke Whitehall setiap pagi dan kembali ke tempat tinggalnya pada malam hari. Itu sudah dijalaninya selama bertahun-tahun. Dia tak pernah pergi ke mana-mana, kecuali ke Diogenes Club, yang letaknya berseberangan dengan pondoknya."

"Aku belum pernah mendengar nama itu."

"Tentu saja. Kau tahu, kan? Ada banyak orang di London, yang karena malu atau karena tak ingin bergaul, akhirnya tak suka berteman dengan siapa pun. Tapi mereka sangat menyukai kursi-kursi empuk dan majalah-majalah terbaru. Untuk orang-orang seperti itulah Diogenes Club didirikan, dan anggotanya terdiri atas orang-orang yang tidak suka bergaul di kota ini. Setiap anggota tidak boleh memperhatikan anggota yang lain. Kecuali di ruang tamu, mereka tak diizinkan berbicara, apa pun alasannya. Kalau ini dilanggar sampai tiga kali dan dilaporkan ke pengurus, pelaku pelanggaran itu akan dicabut keanggotaannya. Kakakku adalah salah satu pendiri perkumpulan itu, dan menurutku suasana di situ memang membuat hati amat tenang dan tenteram."

Sambil berbincang-bincang akhirnya kami tiba di Pall Mall dari ujung Jalan St James. Sherlock Holmes berhenti di depan sebuah pintu tak jauh dari Carlton, dan memberi isyarat padaku untuk tidak berbicara. Kami lalu memasuki ruang depan gedung itu. Dari tiang kaca aku melihat sebuah ruangan yang besar dan mewah, di mana ada banyak orang sedang duduk-duduk atau sedang membaca koran di bilik-bilik yang masing-masing terpisah satu sama lain. Holmes menunjuk ke sebuah bilik yang menghadap ke Pall Mall dan meninggalkanku di situ. Dia pergi selama satu menit, dan kembali bersama seseorang yang kuyakin adalah kakaknya.

Dibanding Sherlock, Mycroft Holmes lebih besar dan kokoh tubuhnya. Dia amat gemuk, tapi wajahnya, walaupun lebih lebar, memancarkan kewaspadaan yang sama dengan adiknya. Matanya yang berwarna abu-abu muda menerawang jauh dan menyelidik, sama seperti pandangan Sherlock Holmes kalau dia sedang mengerahkan segenap kemampuannya.

"Saya senang bertemu dengan Anda, sir," katanya sambil mengulurkan tangannya yang lebar, bagaikan sirip anjing laut. "Saya banyak membaca tentang Sherlock karena Anda menuliskan kisah-kisahnya. Omong-omong, Sherlock, kau kutunggu-tunggu minggu lalu untuk berkonsultasi soal kasus Manor House. Kukira kau agak kewalahan."

"Tidak, sudah terselesaikan, kok," katanya sambil tersenyum.

"Adams, kan, pelakunya?"

"Ya."

"Aku sudah merasa yakin akan hal itu sejak awal." Kedua saudara itu duduk bersama di jendela rendah di depanku. "Bagi orang yang ingin mempelajari seluk-beluk manusia, inilah tempatnya," kata Mycroft. "Lihatlah macam-macam manusia yang hebat-hebat ini! Dua orang yang sedang berjalan ke arah kita itu, misalnya."

"Tukang catat permainan biliar, dan satunya lagi?"

"Tepat. Menurutmu apa pekerjaan yang satunya itu?"

Kedua orang itu berhenti di seberang jendela. Kantong baju salah satunya berlepotan bekas kapur, dan ini menunjukkan bahwa dia ada hubungannya dengan biliar. Temannya berbadan kecil, kulitnya gelap, topinya ditarik ke belakang, dan dia membawa beberapa bungkusan di bawah lengannya.

"Menurutku, dia seorang mantan tentara," kata Holmes.

"Baru saja bebas tugas," komentar kakaknya.

"Dulu tugas di India."

"Sebagai bintara."

"Di bagian artileri," kata Holmes.

"Seorang duda."

"Tapi punya satu anak."

"Lebih dari satu, adikku, lebih dari satu."

"Ayolah," kataku sambil tertawa, "kalian agak keterlaluan."

"Jelas," jawab Holmes, "tak sulit menebaknya. Kalau ada orang seperti itu, yaitu yang wajahnya memancarkan wibawa dan kulitnya terbakar matahari, dia pasti seorang tentara yang baru datang dari India, dan tak mungkin dia itu orang swasta "

"Bahwa dia baru saja bebas tugas terlihat dari sepatu anti amunisi yang masih dipakainya," Mycroft mengamati orang itu.

"Langkahnya tak mirip langkah pasukan kavaleri, tepi topinya miring sebelah sebagaimana terlihat dari sebagian dahinya yang warnanya tak segelap dahi sebelahnya. Berat badannya tak memungkinkannya bertugas di bagian pertahanan. Jadi dia pasti bertugas di bagian artileri."

"Lalu wajahnya yang sedang berkabung menunjukkan bahwa dia baru saja ditinggalkan oleh orang yang sangat dikasihinya. Dia belanja sendiri, jadi mungkin memang istrinyalah yang telah meninggal. Dia belanja keperluan anak-anak. Ada bunyi mainan bayi. Mungkin istrinya meninggal waktu melahirkan bayi itu. Ada buku bergambar di bawah lengannya, berarti ada anak lain yang juga memerlukan perhatiannya."

Aku mulai mengerti maksud temanku waktu dia mengatakan bahwa saudara lelakinya memiliki kemampuan yang lebih hebat darjpadanya. Dia memandangku sekilas sambil tersenyum. Mycroft mengambil rokok dari sebuah kotak yang terbuat dari kulit kura-kura dan menghapus rontokan tembakau di jasnya dengan saputangan sutera besar berwarna merah.

"Omong-omohg, Sherlock," katanya, "Aku ada sesuatu yang pasti menarik hatimu—masalah unik—yang diserahkan kepadaku agar aku bisa memberikan beberapa pertimbangan. Aku benar-benar tak punya energi untuk melacaknya, kecuali secara sambil lalu. Tapi kasus ini mengandung beberapa spekulasi yang menarik. Kalau kau mau mendengarkan fakta-faktanya—"

"Mycroft kakakku, dengan senang hati aku bersedia untuk itu."

Kakaknya menulis sebuah pesan di buku sakunya, dan sambil memencet bel, diserahkannya pesan itu kepada seorang pelayan.

"Aku minta Mr. Melas untuk datang kemari," katanya. "Dia tinggal di gedung yang sama denganku, tapi di lantai yang lebih atas. Aku pernah berkenalan dengannya, dan itulah sebabnya dia menghubungiku waktu menghadapi masalah ini. Sejauh pengetahuanku, Mr. Melas itu keturunan Yunani, dan seorang ahli bahasa yang terkenal. Dia bekerja sebagai penerjemah di pengadilan-pengadilan dan juga sebagai pemandu wisata bagi tamu-tamu kaya dari negara Timur yang menginap di hotel-hotel di daerah Northumberland Avenue. Kupikir, sebaiknya dia sendiri saja yang nanti menceritakan pengalamannya yang luar biasa."

Beberapa menit kemudian seorang lelaki yang pendek kekar bergabung dengan kami. Wajahnya yang kekuning-kuningan dan rambutnya yang berwarna hitam kelam menunjukkan bahwa dia berasal dari Selatan, walaupun bahasanya bagus sekali sebagaimana layaknya seorang Inggris yang terpelajar. Dia menjabat tangan Sherlock Holmes dengan penuh semangat, dan matanya yang hitam berkilauan oleh rasa gembira ketika dia tahu bahwa spesialis kriminal itu ingin mendengar kisahnya.

"Saya yakin polisi tak akan menanggapi ini... pasti," katanya dalam suara yang memelas. "Hanya karena mereka tak pernah menghadap peristiwa seperti itu sebelumnya, mereka langsung saja mengatakan bahwa hal itu tak mungkin terjadi. Tapi saya tak akan merasa tenteram sebelum saya tahu apa yang terjadi pada pria yang mukanya ditempeli plester itu."

"Saya mendengarkan Anda," kata Sherlock Holmes.

"Sekarang Rabu malam," kata Mr. Melas, "yah, peristiwa ini terjadi Senin malam—hanya dua hari yang lalu, kan? Saya seorang penerjemah, sebagaimana mungkin telah dijelaskan oleh tetangga saya ini kepada Anda. Saya menerjemahkan semua bahasa—atau lebih tepatnya hampir semua bahasa—tapi karena saya kelahiran Yunani dan nama saya juga masih nama Yunani, saya lebih sering diminta untuk menerjemahkan bahasa Yunani. Selama bertahun-tahun, sayalah penerjemah bahasa Yunani yang paling utama di London, dan nama saya dikenal di hotel-hotel.

"Sering juga saya diminta menjadi penerjemah pada jam-jam yang aneh oleh orang-orang asing yang menemui kesulitan, atau oleh tamu-tamu yang tiba larut malam dan memerlukan jasa saya saat itu juga. Itulah sebabnya, saya tak terkejut ketika pada Senin malam Mr. Latimer, seorang pria muda yang sangat keren pakaiannya, datang ke tempat saya dan mengajak saya pergi dengan taksi yang sudah menunggu di luar. Dia bilang, seorang rekan usaha dari Yunani telah datang kepadanya untuk urusan bisnis, dan karena dia tak bisa berbahasa lain kecuali bahasa ibunya, jasa seorang penerjemah tak bisa dielakkan. Dia menjelaskan bahwa rumahnya agak jauh, di Kensington, dan dia nampaknya sangat terburu-buru. Dia mendorong saya dengan cepat untuk masuk ke taksi begitu kami keluar ke jalan.

"Saya pikir kendaraan itu taksi, tapi kemudian saya menyadari bahwa kendaraan yang membawa saya itu lebih tepat disebut kereta pribadi. Kereta itu jelas lebih lebar dari kereta roda empat yang biasa ditemukan di London, dan perlengkapannya pun nampak mewah. Mr. Latimer duduk di depan saya, dan kami berangkat melewati Charing Cross menuju ke Shaftesbury Avenue. Kami baru saja melewati Oxford Street, dan saya baru saja mau berkomentar kenapa harus putar-putar kota kalau memang tujuannya hendak ke Kensington, ketika teman seperjalanan saya tiba-tiba melakukan hal-hal yang ganjil.

"Dia mulai dengan menarik tongkat pemukul yang nampaknya berat dari sakunya, lalu menggerak-gerakkannya ke depan dan belakang beberapa kali seolah-olah sedang menguji kekuatan dan beratnya. Tanpa berkata apa-apa, tongkat itu lalu diletakkannya di sampingnya. Sesudah itu dia lalu menutup semua jendela kereta, dan saya pun jadi terkejut karena jendela-jendela itu berlapiskan kertas sehingga saya tak bisa melihat ke luar.

"'Maaf, Anda tak bisa melihat ke luar, Mr. Melas,' katanya. 'Memang Anda tak boleh tahu ke mana kita akan pergi. Mungkin akan merugikan saya kalau Anda bisa kembali ke tempat yang akan kita tuju ini.'

"Bayangkan! Saya sangat terkejut mendengarnya. Rekan seperjalanan saya itu masih muda, kekar, dan lebar pundaknya. Walaupun misalnya dia tak bersenjata, saya tetap takkan menang kalau berkelahi melawan dia.

"'Wah, kelakuan Anda aneh sekali, Mr. Latimer,' saya berkata dengan tergagap. 'Sadarkah Anda bahwa tindakan Anda ini melanggar hukum?'

"'Memang saya agak lancang,' katanya, 'tapi kami akan menebusnya nanti. Namun saya peringatkan Anda, Mr. Melas, jangan coba-coba membuat ulah yang bertentangan dengan kehendak saya, karena akibatnya bisa serius. Ingat, tak boleh ada seorang pun tahu Anda sedang berada di mana, dan selama Anda berada di kereta ini atau di rumah saya, Anda berada di bawah kekuasaan saya.'

"Dia mengucapkan itu dengan tenang, tapi mengandung ancaman. Saya duduk diam, sambil bertanya tanya dalam hati untuk apa dia menculik saya dengan cara yang aneh ini. Apa pun alasannya, saya menyadari bahwa saya tak bisa menghindar, dan bahwa saya hanya bisa menunggu untuk melihat apa yang akan terjadi.

"Perjalanan sudah hampir selama dua jam, tapi saya masih tetap tak tahu sedang menuju ke mana kami ini. Kadang-kadang terdengar gemeretak suara batu-batuan yang menunjukkan bahwa kami sedang melewati jembatan, dan kadang-kadang terasakan jalanan beraspal yang halus sehingga deru kereta itu nyaris tak terdengar. Hanya itu yang saya ketahui. Kertas yang menutupi jendela benar-benar tak tembus cahaya, dan layar berwarna biru menutupi kaca depan. Kami meninggalkan Pall Mall jam tujuh lewat seperempat, dan ketika kereta yang membawa kami itu akhimya berhenti arloji saya menunjukkan jam sembilan kurang sepuluh menit. Rekan saya menurunkan jendela dan nampaklah oleh saya pintu masuk rendah yang melengkung, yang di atasnya terdapat lampu yang menyala. Ketika saya keluar dari kereta, pintu itu langsung terbuka, dan saya lalu sudah berada di dalam rumah. Waktu mau masuk tadi, sekilas tampak oleh saya ada lapangan rumput dan pepohonan di samping kiri dan kanan. Tapi saya tetap tak bisa mengatakan apakah tempat itu milik pribadi atau bukan.

"Di dalam rumah itu, ada lampu gas warna-warni yang sinarnya dibuat sedemikian redupnya, sehingga saya nyaris tak bisa melihat apa-apa kecuali bahwa ruangan itu luas dan banyak foto tergantung di dindingnya. Juga bahwa orang yang membuka pintu tadi adalah seorang pria kecil setengah baya yang pundaknya bulat dan nampak kejam. Ketika dia menoleh ke arah kami, terlihatlah bahwa dia memakai kacamata.

"'Diakah Mr. Melas, Harold?' tanyanya.

"'Ya.'

"'Bagus! Bagus! Saya harap tak akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan, Mr. Melas, tapi kami memang memerlukan jasa Anda. Kalau Anda bisa melaksanakan tugas dengan baik, Anda tak akan menyesal nantinya; tapi kalau Anda coba-coba membuat ulah, awas!'

"Gaya bicaranya gugup dan tersendat-sendat, diiringi tawa cekikikan, tapi cukup membuat saya ketakutan.

"'Apa yang Anda inginkan dari saya?' saya bertanya.

"'Hanya untuk mengajukan beberapa pertanyaan dan berusaha mendapatkan jawaban dari seorang Yunani. Tapi jangan sekali-kali mengatakan apa yang tidak diminta untuk dikatakan, atau'—dia cekikikan lagi—'Anda akan menyesal karena telah dilahirkan di dunia ini.'

"Sambil berkata demikian dia membuka pintu dan mengantar saya ke ruangan yang penuh perabot mewah—tapi di sini pun penerangannya sangat redup. Kamar itu jelas besar, dan kaki saya bisa merasakan tebalnya karpet di lantai. Sekilas tampak oleh saya kursi-kursi beludru, rak di atas perapian yang terbuat dari batu pualam berwarna putih, dan sepertinya ada setelan baju baja buatan Jepang tergantung di sana. Ada sebuah kursi di bawah lampu, dan orang tua itu menunjuk agar saya duduk di situ. Orang yang lebih muda tadi sudah meninggalkan ruangan, tapi tiba-tiba dia masuk lagi lewat pintu yang lain bersama seseorang. Orang itu mengenakan kimono yang kedodoran dan berjalan ke arah kami dengan perlahan. Ketika dia sudah lebih dekat ke lampu sehingga saya bisa melihatnya dengan jelas, saya tersentak melihat penampilannya. Wajahnya sangat pucat dan kurus. Matanya berkobar-kobar dan menonjol ke luar yang menandakan bahwa semangatnya lebih besar daripada tenaganya. Tapi yang lebih mengejutkan saya di samping penampilan fisiknya yang lemah adalah wajahnya yang penuh tempelan plester bersilang-silang, termasuk mulutnya.

"'Mana papan tulisnya, Harold?' teriak orang tua itu, begitu orang yang aneh tadi menjatuhkan diri di sebuah kursi. 'Apakah tangannya sudah dilepas ikatannya? Kalau sudah, beri dia alat tulis. Anda akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, Mr. Melas, dan dia akan menuliskan jawabannya. Pertama, tanyakan apakah dia sudah siap untuk menandatangani surat-surat?'

"Mata orang yang wajahnya penuh plester itu melotot, menandakan kemarahan yang amat sangat.

"'Tak akan pernah kulakukan,' tulisnya di papan tulis dalam bahasa Yunani.

"'Tak ada syarat yang ingin dikemukakan?' tanya saya atas perintah orang tua yang kejam itu.

"'Hanya ada satu syarat, yaitu saya melihat dengan mata kepala sendiri gadis itu menikah di hadapan seorang pendeta Yunani yang saya kenal.'

Si tua terkekeh, kedengarannya mengerikan sekali.

"'Jadi, kau tahu apa yang akan terjadi pada dirimu?'

"'Aku tak peduli pada diriku sendiri.'

"Kira-kira begitulah tanya-jawab yang aneh itu terjadi. Berkali-kali saya diminta mengulang pertanyaan sehubungan dengan kesediaannya untuk menandatangani dokumen, kalau-kalau dia berubah pikiran. Tapi dia tetap bersikeras menolak. Tiba-tiba saya mendapat ide. Saya mulai menambah-nambahi pertanyaan yang harus saya terjemahkan dengan kalimat-kalimat pendek—mula-mula kalimat kalimat sepele, untuk mengecek apakah yang lain mengerti artinya. Ketika saya yakin bahwa tak ada yang tahu, saya lalu mulai melakukan permainan yang lebih berbahaya. Tanya-jawabnya lalu berlangsung seperti ini:

"'Anda membahayakan diri sendiri kalau tetap keras kepala seperti ini. Siapa Anda?'

"'Peduli amat. Saya orang asing di London ini.'

"'Keputusan Anda menentukan nasib Anda. Sudah berapa lama Anda berada di sini?'

"'Biar saja. Tiga minggu.'

"'Kekayaan ini tak mungkin menjadi milik Anda. Apa yang mengganggu Anda?'

"'Tak akan saya serahkan ke tangan bandit. Mereka membuat saya kelaparan.'

"'Anda akan dilepaskan kalau mau menandatangani. Rumah apa ini?'

"'Saya tak akan pernah mau menandatangani. Saya tidak tahu.'

"'Anda tak ingin berbuat baik demi gadis itu? Siapa nama Anda?'

"'Biarlah dia sendiri yang mengatakan itu pada saya. Kratides.'

"'Anda akan bertemu dengan dia kalau Anda mau menandatangani. Anda berasal dari mana?'

"'Biarlah saya tak akan pernah bertemu dengan dia lagi. Athena.'

"'Kalau saja tanya-jawab itu dilanjutkan lima menit lagi, Mr. Holmes, tentunya saya akan berhasil mendapatkan kisahnya secara lengkap di depan hidung para bandit itu. Pertanyaan saya berikutnya mungkin akan menjelaskan segala-galanya, tapi pada saat itu pintu terbuka dan seorang gadis masuk ke ruangan itu. Yang nampak oleh saya hanyalah bahwa gadis itu jangkung dan anggun, rambutnya hitam, dan mengenakan gaun putih yang longgar.

"'Harold!' teriaknya dalam bahasa Inggris yang terputus-putus, 'Aku tak mau tinggal di atas sana lagi. Sepi sekali, hanya ada... oh, Tuhan, itu kan Paul!'

"Kata-katanya yang terakhir diucapkan dalam bahasa Yunani, dan pada saat yang bersamaan, dengan segenap kekuatannya, orang yang dipanggil Paul tadi merobek plester yang menutupi mulutnya dan berteriak, 'Sophy! Sophy!' dan berlari memeluk gadis itu. Tapi peristiwa ini tak berlangsung lama, karena bandit yang lebih muda segera menarik gadis itu ke luar ruangan, sementara si tua menyeret korbannya lewat pintu yang lain. Untuk sejenak saya ditinggal sendirian di ruangan itu, dan saya segera berdiri agar bisa mendapatkan petunjuk rumah macam apa ini. Untung sekali saya tak melangkahkan kaki, karena bandit yang lebih tua ternyata sedang berdiri di pintu mengawasi saya.

"'Sudah cukup, Mr. Melas,' katanya. 'Anda tahu bahwa kami mempercayai Anda untuk urusan yang amat pribadi. Kami tak ingin menyusahkan Anda, kalau saja teman kami yang bisa berbahasa Yunani dan yang telah memulai perundingan ini tak terpaksa pulang ke Timur. Itulah sebabnya, kami mencari seseorang untuk menggantikannya, dan kami beruntung karena mendengar tentang Anda.'

"Saya membungkukkan badan.

"'Nih, Lima keping emas,' katanya sambil berjalan mendekati saya, 'semoga cukup untuk membayar jasa Anda. Tapi ingat,' dia terkekeh sambil menepuk ringan dada saya, 'kalau Anda berani menceritakan ini pada orang lain—seorang saja, dengar—yah, moga-moga Tuhan mengasihani nyawa Anda!'

"Tak bisa saya lukiskan betapa benci dan takutnya saya pada orang tua yang jelek wajahnya ini. Saat itu saya bisa melihatnya dengan lebih jelas karena sinar lampu menyorot ke wajahnya. Wajahnya kurus sehingga tulang-tulangnya menonjol, dan kulitnya berwarna pucat. Janggut kecilnya mendongak seperti benang kusut dan tak terurus. Dicondongkannya wajahnya ke depan kalau dia sedang berbicara, dan bibir dan kelopak matanya terus-menerus berkedut-kedut persis mimik orang yang sedang berdansa gila-gilaan. Saya pun lalu berpendapat bahwa cekikikannya yang aneh dan amat mengganggu pendengaran itu juga merupakan tanda penyakit saraf. Tapi yang paling mengerikan adalah matanya. Mata itu berwarna abu-abu gelap dan menyorotkan pandangan yang dingin dan kejam sekali.

"'Kami akan tahu kalau Anda bercerita mengenai pengalaman Anda ini pada orang lain,' katanya. 'Kami punya sumber-sumber berita. Nah, sekarang kereta dan teman saya sudah siap untuk mengantar Anda pulang.'

"Saya segera diantar ke ruang depan, lalu masuk ke kereta, sekali lagi sempat sekilas memandang pepohonan dan taman. Mr. Latimer mengawal saya dengan ketat, lalu duduk di depan saya tanpa berkata sepatah pun. Selama perjalanan, kami cuma berdiam diri saja, dengan jendela-jendela yang ditutup. Akhirnya kereta berhenti setelah lewat tengah malam.

"'Silakan Anda turun di sini, Mr. Melas,' kata rekan seperjalanan saya. 'Maaf, karena masih jauh dari tempat tinggal Anda, tapi saya tak punya pilihan lain. Jangan coba-coba mengikuti kereta ini. Anda akan celaka.'

"Sambil berkata demikian dia membuka pintu kereta, dan begitu saya melompat keluar, kereta itu langsung berlari menjauh. Dengan terheran-heran saya menengok ke sekeliling saya. Saya berada di lapangan terbuka yang dipenuhi semak belukar. Di kejauhan nampak sederetan rumah, beberapa di antaranya diterangi lampu pada jendela atasnya. Ketika saya menengok ke arah yang berlawanan saya melihat lampu petunjuk pintu kereta api.

"Kereta yang membawa saya tadi telah hilang dari pandangan mata. Saya tetap berdiri sambil terus menengok-nengok ke sekeliling dan bertanya-tanya dalam hati berada di mana saya ini. Lalu saya melihat seseorang berjalan mendekati saya dalam kegelapan. Ketika dia sudah dekat ternyata orang itu penjaga pintu kereta api.

"'Tolong tanya, apa nama tempat ini?' saya bertanya.

"'Wandsworth Common,' katanya.

"'Adakah kereta menuju kota yang bisa saya tumpangi?'

"'Silakan berjalan sejauh kira-kira satu setengah kilometer ke Persimpangan Clapham,' katanya, 'dan mungkin Anda akan masih keburu menumpang kereta api terakhir yang menuju Victoria.'

"Begitulah akhir petualangan saya, Mr. Holmes. Saya tidak tahu waktu itu saya diajak ke mana, atau dengan siapa saja saya sudah berbicara. Apa yang saya tahu sudah saya ceritakan semua kepada Anda. Tapi saya yakin di sana itu sedang terjadi suatu tindak kejahatan, dan kalau bisa saya ingin menolong lelaki yang diplester wajahnya itu. Keesokan paginya saya menceritakan pengalaman saya ini kepada Mr. Mycroft Holmes, lalu kepada polisi."

Kami semua terdiam selama beberapa saat setelah mendengar kisahnya yang luar biasa ini. Lalu Sherlock menoleh ke kakaknya.

"Adakah langkah-langkah yang telah diambil?" tanyanya.

Mycroft memungut koran Daily News yang tergeletak di meja.

"Kalau ada orang yang bisa memberi informasi ada di mana seorang pria Yunani bernama Paul Kratides yang berasal dari Athena dan tak bisa berbahasa Inggris, akan diberi hadiah. Hadiah juga akan diberikan kepada siapa saja yang bisa memberi informasi tentang seorang gadis Yunani yang nama depannya Sophy. X 2473. Iklan itu tercantum di semua koran, tapi sejauh ini belum ada yang menanggapi."

"Bagaimana dengan Kedutaan Yunani?"

"Saya sudah menanyakan ke sana. Mereka tak tahu-menahu."

"Bagaimana kalau menghubungi kepala kepolisian Yunani?"

"Di keluarga kami, Sherlock-lah yang mampu melakukan hal-hal seperti ini," kata Mycroft sambil menoleh padaku. "Nah, silakan ambil alih kasus ini. Kabari aku kalau ada kemajuan."

"Pasti," jawab temanku sambil bangun dari duduknya. "Aku akan mengabarimu dan juga Mr. Melas. Sementara itu, Mr. Melas, sebaiknya Anda berjaga-jaga karena melalui iklan-iklan ini, para bandit itu pasti jadi tahu bahwa Anda mengkhianati mereka."

Ketika kami berjalan pulang Holmes mampir di kantor telegraf untuk mengirim beberapa pesan.

"Kau tahu, Watson," komentarnya, "malam ini tidak kita lewatkan dengan sia-sia. Aku mendapatkan beberapa kasusku yang amat menarik melalui Mycroft dengan cara seperti ini. Masalah yang baru saja kita dengar, walaupun penjelasannya amat singkat, tapi mengandung beberapa segi yang istimewa."

"Kau memiliki harapan untuk menyelesaikannya?"

"Yah, dari apa yang sudah kita ketahui, aneh kalau kita tak bisa menemukan informasi berikutnya. Kau sendiri tentunya sudah punya teori untuk menjelaskan fakta-fakta yang kita dengar tadi."

"Samar-samar, ya."

"Bagaimana menurutmu?"

"Nampaknya cukup jelas bahwa gadis Yunani itu telah dilarikan oleh pria Inggris bernama Harold Latimer Itu."

"Dilarikan dari mana?"

"Dari Athena, mungkin."

Sherlock Holmes menggeleng. "Pria muda ini tak bisa berbicara dalam bahasa Yunani sedikit pun, padahal gadis itu lumayan bahasa Inggris-nya. Kesimpulannya, gadis itu telah tinggal di Inggris selama beberapa saat, tapi pria itu belum pernah ke Yunani."

"Kalau begitu, kita anggap saja bahwa gadis itu datang ke Inggris, lalu si Harold ini berhasil membujuknya untuk melarikan diri bersamanya."

"Begitu lebih mungkin."

"Lain kakak laki-laki gadis itu—begitulah kurasa hubungan antara keduanya—datang dari Yunani untuk ikut campur. Secara tak sengaja dia terperangkap oleh kedua penjahat itu. Mereka menangkapnya dan memaksanya menandatangani beberapa surat untuk mengalihkan kekayaan gadis itu—yang mungkin diatasnamakan dirinya-—kepada mereka. Dia menolak melakukan hal itu. Untuk dapat berunding dengannya, mereka membutuhkan penerjemah, dan mereka menculik Mr. Melas, setelah menggunakan jasa penerjemah lain sebelumnya. Gadis itu tak diberitahu tentang kedatangan kakaknya, dan secara tak sengaja menemukannya."

"Hebat, Watson," teriak Holmes. "Aku sungguh yakin bahwa pendapatmu tak jauh dari kebenaran. Kaulihat bahwa kita ada di pihak yang menguntungkan, dan kita hanya perlu waspada akan adanya tindak kekerasan dari pihak mereka. Kalau mereka memberi waktu pada kita, kita harus memanfaatkannya."

"Tapi bagaimana kita akan menemukan rumah itu?"

"Yah, kalau dugaan kita benar, dan nama gadis itu benar Sophy Kratides, takkan sulit untuk menelusurinya. Itulah harapan kita yang terutama, karena kakaknya tentu saja tak dikenal sama sekali di sini. Jelas ada tenggang waktu yang cukup lama—mungkin beberapa minggu—antara perkenalan Harold dengan gadis itu dan kedatangan kakaknya ke Inggris. Kalau selama ini mereka tinggal di rumah yang sama, mungkin kita akan mendapat tanggapan dari iklan yang dipasang oleh Mycroft."

Tak terasa sambil bercakap-cakap kami tiba di kediaman kami di Baker Street. Holmes menaiki tangga duluan dan ketika dia membuka pintu kamar kami, dia berteriak kaget. Aku melongok dari atas bahunya. Aku pun terkejut juga. Kakak temanku, Mycroft, sedang duduk di dalam kamar itu sambil merokok.

"Masuk saja, Sherlock! Masuk, sir," katanya dengan sopan. Dia tersenyum melihat kekagetan kami. "Kau tak menyangka aku akan kemari, kan, Sherlock? Tapi, kasus ini menarik perhatianku."

"Kau naik apa kemari?"

"Aku tadi menyusul naik kereta kuda."

"Sudah ada perkembangan?"

"Ada yang menanggapi iklanku."

"Ah!"

.

"Ya, kuterima beberapa menit setelah kau pergi."

"Apa artinya bagi kita?"

Mycroft Holmes mengeluarkan secarik kertas.

"Nih," katanya, "ditulis dengan pena model J di kertas surat berwarna krem yang mewah. Penulisnya seorang pria setengah baya yang bertubuh lemah. 'Sir,' katanya, 'menanggapi iklan Anda hari ini, saya mau memberi informasi bahwa saya kenal gadis itu dengan baik. Silakan datang ke rumah saya, dan saya akan menceritakan kisahnya yang menyedihkan. Dia sekarang tinggal di The Myrtles, Beckenham.-—Hormat saya, J. Davenport'.

"Dia menulis dari Lower Brixton," kata Mycroft Holmes. "Bagaimana kalau kita ke sana sekarang, Sherlock, dan mendengarkan penjelasannya?"

"Mycroft kakakku, nyawa kakaknya lebih berharga daripada kisah tentang gadis itu. Kurasa kita harus pergi ke Scotland Yard untuk menemui Inspektur Gregson, lalu langsung ke Beckenham. Kita tahu bahwa seseorang sedang menemui ajalnya, dan setiap detik mungkin bisa amat berarti."

"Sebaiknya kita jemput Mr. Melas juga," aku menyarankan, "kita mungkin perlu penerjemah."

"Bagus!" kata Sherlock Holmes. "Minta disiapkan kereta segera, dan kita akan langsung berangkat." Sambil berkata demikian dia membuka laci meja, dan kulihat dia menyelipkan pistol di sakunya. "Ya," katanya ketika dilihatnya aku memperhatikannya, "dari apa yang kita dengar, kita akan berurusan dengan komplotan penjahat yang cukup berbahaya."

Ketika kami tiba di pondokan Mr. Melas di Pall Mall, hari sudah hampir gelap. Seseorang baru saja berkunjung ke tempatnya dan dia lalu pergi.

"Ke mana perginya?" tanya Mycroft Holmes.

"Saya tidak tahu, sir," jawab wanita yang membukakan pintu. "Yang saya tahu hanyalah bahwa dia pergi naik kereta bersama tamunya itu."

"Kau tahu nama tamunya itu?"

"Tidak, sir."

"Apakah orangnya tinggi, tampan, dan berkulit gelap?"

"Oh, tidak, sir, orangnya kecil, pakai kacamata, wajahnya kurus, tapi sangat menyenangkan, karena dia tertawa sambil berbicara."

"Ayo!" teriak Sherlock Holmes tiba-tiba. "Kasus ini tambah genting!" jelasnya ketika kami menuju Scotland Yard. Penjahat-penjahat itu telah menangkap Mr Melas lagi. Tubuhnya tak begitu kuat dan mereka pasti tahu itu. Penjahat itu tentu menterornya begitu mereka bertemu. Memang mereka membutuhkan jasanya sebagai penerjemah, tapi setelah itu mereka pasti ingin menghukumnya karena telah mengkhianati mereka."

Kami berharap bisa tiba di Beckenham lebih dulu dari kereta mereka. Itu sebabnya kami akan pergi dengan kereta api. Tapi ketika kami tiba di Scotland Yard, kami harus menunggu selama lebih dari satu jam sebelum berjumpa dengan Inspektur Gregson, untuk mendapatkan surat-surat resmi agar kami bisa masuk ke rumah yang akan kami tuju. Waktu menunjukkan jam sepuluh kurang seperempat ketika kami sampai di London Bridge, dan pada jam setengah sebelas barulah kami tiba di Stasiun Beckenham. Kami naik taksi ke The Myrtles—sebuah rumah yang besar, gelap, dan luas pekarangannya, berdiri agak jauh dari jalan raya. Di sini kami turun dari taksi, lalu mendekati rumah itu.

"Jendela jendelanya gelap semua," komentar Pak Inspektur, "Kelihatannya tak ada orang di dalamnya."

"Buruan kita telah minggat dan rumahnya kosong," kata Holmes.

"Kok, Anda bisa berkata begitu?"

"Kereta yang sarat muatan telah lewat di sini kira-kira sejam yang lalu."

Pak Inspektur tertawa. "Saya memang melihat bekas roda kereta dekat penerangan pintu masuk tadi, tapi dari mana Anda tahu soal muatan itu?"

"Kalau Anda teliti lagi, maka ada bekas seperti itu yang menuju kemari. Tapi roda kereta yang menuju ke luar, membekas lebih dalam di tanah amat dalam malah, sehingga kereta itu pasti memuat beban yang amat berat."

"Wah, Anda sedikit lebih unggul dariku dalam hal ini," kata Pak Inspektur sambil mengangkat bahu. "Pintunya susah dibuka dengan paksa tapi mari kita mencoba mengetuk. Siapa tahu ada orang di dalam yang akan mendengar kita."

Dia mengetuk dengan keras, memencet bel, tapi tak ada jawaban. Holmes telah menyelinap pergi, dan beberapa menit kemudian dia kembali. "Saya berhasil membuka jendela," katanya.

"Syukurlah Anda berdiri di pihak hukum dan bukan sebaliknya, Mr. Holmes," komentar Pak Inspektur ketika dia memperhatikan cara Holmes yang cerdik ketika mencantol kaitan jendela itu. "Saya kira kita boleh masuk ke dalam tanpa permisi."

Kami satu per satu masuk ke ruangan besar itu, yang ternyata adalah kamar yang pernah dimasuki Mr. Melas. Pak Inspektur menyalakan senter yang dibawanya, sehingga kami bisa melihat kedua pintu ruangan itu, gorden, lampu, dan pakaian baja buatan Jepang seperti yang telah diutarakannya. Ada dua gelas, botol brendi yang sudah kosong, dan sisa makanan di meja.

"Apa itu?" tanya Holmes tiba-tiba.

Kami semua berdiri terpaku dan mendengarkan. Suara rintihan yang lemah terdengar dari sebelah atas ruangan itu. Holmes berlari ke pintu lalu ke ruangan depan. Suara itu berasal dari lantai atas. Dia lari ke atas. Aku dan Pak Inspektur mengikuti di belakangnya, sedangkan Mycroft juga berusaha berlari sekuat tenaganya.

Ada tiga pintu di lantai dua, dan suara rintihan yang timbul tenggelam itu berasal dari pintu yang di tengah. Pintu itu dikunci, tapi kuncinya tergantung di luar. Holmes segera membukanya dan berlari masuk, tapi langsung keluar lagi sambil memegangi tenggorokannya.

"Arang!" teriaknya. "Biarkan sebentar, nanti juga akan hilang."

Ketika kami mengintip ke dalam, kami melihat bahwa satu-satunya penerangan di situ berasal dari nyala api kecil berwarna biru, yang berkedip-kedip dari sebuah tempat api kecil dari kuningan berkaki tiga di tengah ruangan. Dari api itu mengepul asap yang melingkar-lingkar berwarna kelabu yang aneh ke arah lantai, sementara dalam bayang-bayang kami melihat samar-samar ada dua orang yang meringkuk ke arah dinding. Dari pintu yang terbuka tadi berembuslah asap beracun yang berbau busuk, sehingga kami semua menjadi sesak napas dan terbatuk-batuk. Holmes berlari ke ujung tangga untuk menghirup udara segar, lalu dia berlari masuk ke kamar itu lagi untuk membuka jendela dan melemparkan tempat api itu ke taman.

"Kita bisa masuk sebentar lagi," katanya tersendat, ketika dia berada di luar kamar lagi. "Apakah ada lilin? Saya tak yakin kita bisa menyalakan korek api dalam udara semacam itu. Pegang senternya di pintu, Mycroft, dan kita akan menarik mereka ke luar. Sekarang juga!"

Dengan bergegas kami mendekati orang-orang yang keracunan itu dan menarik mereka ke luar. Bibir mereka berdua sudah membiru dan keduanya dalam keadaan pingsan. Muka mereka bengkak dan mata mereka melotot. Keadaan tubuh mereka benar-benar amat mengerikan, sehingga kami sulit mengenali mereka. Untung salah satunya berjanggut hitam dan bertubuh gemuk, sehingga dia pastilah si penerjemah bahasa Yunani yang telah pergi dari Diogenes Club mendahului kami beberapa jam sebelumnya. Tangan dan kakinya terikat erat dan pada salah satu matanya terdapat bekas pukulan yang hebat. Korban satunya lagi, yang juga diikat seperti itu, adalah seorang pria yang tinggi dan sangat kurus. Wajahnya penuh plester yang malang melintang. Rintihannya berhenti ketika kami membaringkannya di lantai, dan dalam sekejap kami menyadari bahwa perlolongan kami terlambat baginya. Tapi Mr. Melas masih hidup. Tak sampai satu jam kemudian, setelah diberi brendi dan amoniak, dia membuka matanya. Tak terbayangkan betapa leganya hatiku, karena akulah yang telah menariknya dari kamar maut itu.

Dia lalu mengisahkan segalanya. Semuanya membenarkan dugaan-dugaan kami. Tamunya tadi langsung mengeluarkan senjata dari lengan bajunya begitu memasuki tempat tinggalnya dan mengancam akan membunuhnya, sehingga dia menurut saja ketika diculik untuk kedua kalinya. Bandit yang cekikikan itu betul-betul membuatnya sangat ketakutan, sehingga ahli bahasa yang malang ini gemetar tangannya dan pucat pasi pipinya setiap kali dia menyebut namanya. Dia langsung dibawa ke Beckenham, dan bertindak sebagai penerjemah dalam tanya-jawab yang lebih dramatis dari sebelumnya. Saat itu, kedua orang Inggris itu mengancam akan membunuh tawanannya kalau dia menolak menuruti kehendak mereka. Akhirnya, karena dia tak mempan diancam macam-macam, mereka mengembalikannya lagi ke tempat tahanannya, dan setelah memaki-maki Melas karena mengkhianati mereka, yang mereka baca di iklan-iklan surat kabar, mereka menghajarnya dengan tongkat, dan dia tak ingat apa-apa lagi sampai dia menemukan kami berjongkok di sisinya.

Demikianlah kasus penerjemah bahasa Yunani yang unik itu. Penjelasannya masih tetap mengandung suatu misteri. Setelah menghubungi orang yang menanggapi iklan itu, kami jadi tahu bahwa gadis yang malang itu memang benar berasal dari keluarga Yunani yang kaya raya. Dia mengunjungi beberapa temannya di Inggris. Dia lalu bertemu dengan pemuda bernama Harold Latimer yang lalu mempengaruhinya dan membujuknya untuk melarikan diri bersamanya. Teman-teman gadis itu tentu saja merasa terpukul dengan kejadian itu, sehingga mereka lalu mengirim kabar ke kakak gadis itu di Athena. Mereka lalu cuci tangan dari masalah ini. Begitu tiba di London, kakak gadis itu langsung dijemput oleh Latimer dan komplotannya yang ternyata bernama Wilson Kemp—penjahat turunan yang amat kejam. Kedua bandit ini lalu menjadikannya tawanan yang tak berdaya karena dia tak bisa berbahasa Inggris sedikit pun. Dia diperlakukan dengan sangat kejam dan tak diberi makan agar dia mau menandatangani surat-surat yang menyatakan bahwa dia menyerahkan kekayaannya dan kekayaan adiknya kepada kedua bandit itu. Mereka menahannya di tempat itu tanpa sepengetahuan adiknya, dan tempelan-tempelan plester itu dimaksudkan agar kalau sampai adiknya melihatnya, dia tak akan dikenali. Tapi naluri kewanitaan sang adik telah langsung mengenali wajah di balik plester itu begitu dia melihatnya, bersamaan dengan kehadiran si penerjemah itu. Gadis yang malang itu juga ternyata dijadikan tawanan, karena tak ada orang lain lagi di situ kecuali pria yang berperan sebagai kusir kereta itu, dan istrinya. Mereka berdua bersekongkol dengan kedua bandit itu. Ketika mereka tahu bahwa rahasia mereka telah terbongkar dan bahwa tawanannya tak bisa dipaksa melakukan kehendak mereka, kedua bandit itu melarikan diri dengan membawa serta gadis itu, beberapa jam sebelum kami tiba di rumah mewah yang mereka sewa itu. Sebelum mereka kabur, mereka sempat membalas dendam kepada kedua orang yang telah menentang dan mengkhianati mereka itu.

Beberapa bulan kemudian kami menerima sebuah guntingan surat kabar dari Budapest. Berita itu mengatakan bahwa dua orang Inggris yang bepergian dengan seorang wanita telah mengakhiri nasib mereka secara tragis. Nampaknya mereka telah ditikam berkali-kali dengan senjata tajam, dan menurut polisi Hungaria kejadian itu tentunya karena mereka telah saling bertengkar sehingga mengakibatkan kematian mereka sendiri. Tapi Holmes berpikir lain, dan sampai saat kisah ini ditulis dia tetap berpendapat bahwa kalau saja gadis Yunani itu bisa ditemukan, orang mungkin akan tahu bagaimana dia membalas dendam pada kedua penjahat yang telah menghancurkan hidupnya dan hidup kakaknya itu.