"KITA hampir mendekati tujuan, akhirnya" kata Holmes saat kami melangkah bersama-sama melintasi rawa-rawa. "Benar-benar kuat orang itu! Betapa dia berhasil menenangkan diri di hadapan sesuatu yang pasti merupakan kejutan hebat ketika dia mendapati korbannya keliru. Sudah kukatakan sewaktu kita masih di London, Watson, dan sekarang kuulangi, kita belum pernah menemukan lawan yang seimbang, sampai hari ini."

"Aku menyesal dia sudah melihat dirimu."

"Aku juga begitu pada mulanya. Tapi kita tidak bisa menghindarinya."

"Menurutmu, apa pengaruh terhadap rencananya sekarang sesudah dia mengetahui kehadiranmu di sini."

"Mungkin dia akan lebih berhati-hati, atau mungkin justru mendorongnya untuk bertindak habis-habisan. Seperti sebagian besar penjahat yang pandai, dia mungkin terlalu percaya diri akan kepandaiannya dan membayangkan dirinya sudah berhasil menipu kita sepenuhnya."

"Kenapa kita tidak langsung menangkapnya?"

"Watson yang. baik, kau memang dilahirkan untuk beraksi. Nalurimu selalu mendorongmu melakukan tindakan yang energik. Tapi seandainya, sekadar berdebat, kalau kita menangkapnya malam ini, apa gunanya? Kita tidak bisa membuktikan apa pun. Itulah kecerdikannya! Kalau dia bertindak menggunakan tangan manusia lain, kita bisa mendapatkan bukti. Tapi kalau kita harus mengungkapkan keberadaan anjing besar ini, tetap saja kita tidak bisa mengaitkannya dengan majikannya "

"Jelas kita punya kasus yang bisa diajukan."

"Tapi bukan kasus yang jelas—hanya pendapat dan kesimpulan semata. Kita pasti menjadi bahan tertawaan di pengadilan kalau mengajukan cerita dan bukti seperti itu."

"Ada kematian Sir Charles."

"Ditemukan tewas tanpa tanda apa pun pada dirinya. Kau dan aku tahu dia tewas karena ketakutan semata. Dan kita juga tahu apa yang membuatnya ketakutan. Tapi bagaimana kita bisa meyakinkan dua belas orang juri mengenai hal itu? Apa tanda-tanda kehadiran anjing di sana? Di mana tanda-tanda taringnya? Tentu saja kita tahu anjing tidak akan menggigit mayat dan Sir Charles sudah tewas sebelum hewan itu sempat menyentuhnya. Tapi kita harus membuktikan semua ini, dan kita tidak mampu melakukannya sekarang."

"Well, bagaimana dengan kejadian malam ini?"

"Kita juga tidak lebih beruntung malam ini. Sekali lagi, tidak ada kaitan langsung antara anjing dan kematian orang ini. Kita tidak pernah melihat anjingnya. Kita mendengar suaranya, tapi kita tidak bisa membuktikan hewan itu mengejar orang ini. Tidak ada motifnya sama sekali. Tidak, sobat, kita harus memuaskan diri dengan fakta bahwa sekarang ini kita tidak punya kasus, dan lebih baik menunggu."

"Rencanamu bagaimana?"

"Aku sangat mengharapkan bantuan Mrs. Laura Lyons begitu kita menjelaskan posisinya dalam kasus ini. Dan aku punya rencana sendiri. Masalah sehari cukuplah untuk sehari, esok ada masalahnya sendiri, tapi kuharap pada saat hari berakhir, kita sudah mendapat kemenangan."

Aku tidak bisa mendapatkan informasi lain darinya, dan ia berjalan, tenggelam dalam pikirannya hingga tiba di gerbang Baskerville.

"Kau ikut?"

"Ya, kurasa tidak ada alasan untuk tetap menyembunyikan diri. Tapi satu hal terakhir, Watson. Jangan mengatakan apa-apa mengenai anjing itu kepada Sir Henry. Biarkan dia mengira kematian Selden seperti yang Stapleton ingin kita percayai. Sarafnya akan lebih kuat menghadapi ujian yang menghadangnya besok, saat dia diundang—kalau aku tidak salah mengingat laporanmu—makan bersama orang-orang ini."

"Aku juga diundang."

"Kalau begitu kau harus membuat alasan, dan dia harus datang seorang diri. Itu mudah diatur. Dan sekarang, kalau kita sudah terlambat makan malam, kurasa kita berdua siap untuk makan yang lebih larut lagi."

Sir Henry lebih merasa gembira daripada terkejut melihat Sherlock Holmes, karena sudah beberapa hari ini ia mengharapkan perkembangan baru akan membawa Holmes datang dari London. Tapi ia agak heran sewaktu mengetahui temanku tidak membawa kopor dan tidak menjelaskan apa pun tentang hal itu. Kami segera mengarang cerita untuk memuaskannya, dan sambil makan malam kami menjelaskan pengalaman kami sebanyak yang kami inginkan ia ketahui. Tapi, pertama-tama, aku mendapat tugas yang tidak menyenangkan untuk menyampaikan kabar kematian Selden kepada Barrymore dan istrinya. Bagi Barrymore berita itu mungkin melegakan, tapi istrinya menangis keras sambil menutupi wajah dengan celemek. Bagi seluruh dunia Selden mungkin pria yang kejam, separo hewan dan separo setan, tapi baginya Selden masih tetap bocah kecil yang berpegangan pada tangannya erat-erat ketika dirinya sendiri masih seorang gadis. Orang jahat adalah ia yang tidak memiliki satu pun wanita yang menangisinya.

"Aku berkeliaran sepanjang hari di rumah sejak kepergian Watson tadi pagi," kata Sir Henry. "Kurasa aku layak mendapat pujian, karena sudah menepati janjiku. Kalau belum bersumpah untuk tidak pergi seorang diri, mungkin aku akan melewati malam yang lebih menyenangkan karena aku mendapat pesan dari Stapleton untuk datang ke rumahnya."

"Aku tidak ragu lagi malammu pasti akan lebih menyenangkan," kata Holmes datar. "Omong-omong, kurasa kau tidak senang mendengar kami telah berdukacita karena mengira orang yang patah leher itu dirimu?"

Sir Henry terbelalak. "Bagaimana bisa begitu?'

"Orang yang malang ini mengenakan pakaianmu. Aku khawatir pelayanmu, yang sudah memberikan pakaian itu kepadanya, akan mendapat masalah dengan polisi."

"Kemungkinannya kecil. Tidak ada tanda-tanda di pakaian itu, sepanjang pengetahuanku."

"Untung baginya—bahkan bagi kalian, karena di mata hukum kalian semua berada di pihak yang salah. Aku tidak yakin bahwa sebagai seorang detektif sudah menjadi tugasku untuk menangkap seluruh penghuni rumah. Laporan Watson merupakan dokumen yang sangat memberatkan."

"Tapi bagaimana dengan kasusnya?" tanya sang bangsawan. "Apa kau sudah berhasil memecahkannya? Aku tidak tahu apakah Watson dan aku sudah jauh lebih paham sejak kedatangan kami kemari."

"Kurasa aku bisa menjelaskan semuanya kepadamu dalam waktu tidak lama lagi. Urusan ini sangat sulit dan paling rumit. Masih ada beberapa hal yang membingungkan kami—tapi semuanya akan terungkap."

"Ada satu hal, yang tidak ragu lagi pasti sudah diceritakan Watson kepadamu. Kami mendengar suara anjing itu di rawa-rawa, jadi aku bisa bersumpah bahwa tidak semuanya merupakan takhayul belaka. Aku pernah punya pengalaman dengan anjing sewaktu di Barat, dan aku mengenali suaranya kalau mendengarnya. Kalau kau bisa menangkap anjing yang satu itu dan merantainya, aku siap bersumpah bahwa kau detektif yang terhebat sepanjang masa."

"Kurasa aku akan menangkapnya dan merantainya kalau kau mau membantuku."

"Apa pun yang kau ingin aku lakukan, akan kulakukan."

"Bagus sekali, dan aku juga meminta agar kau melakukannya dengan membabi buta, tanpa selalu menanyakan alasannya."

"Terserah."

"Kalau kau mau melakukannya, kurasa masalah kecil kita akan segera terpecahkan. Aku tidak ragu lagi..."

Ia tiba-tiba berhenti dan terpaku menatap ke belakang kepalaku. Cahaya lampu memantul di wajahnya, ekspresinya begitu intens dan kaku sehingga ia bagai patung klasik lambang kewaspadaan dan harapan.

"Ada apa?" seru Sir Henry dan aku bersamaan.

Dapat kulihat bahwa sewaktu Holmes menunduk, ia tengah meredam gejolak emosi dalam dirinya. Ekspresinya masih tetap tenang, tapi matanya berkilau-kilau penuh semangat.

"Maafkan kekagumanku terhadap karya seni," katanya sambil melambai ke arah deretan foto yang menutupi dinding seberang. "Watson tidak bersedia mengakui bahwa aku memahami seni, tapi itu semata-mata iri hati karena pandangan kami berbeda dalam hal ini. Nah, ini benar-benar sederet foto yang luar biasa."

"Well, aku senang kau berkata begitu," kata Sir Henry sambil melirik terkejut ke arah teman kami. "Aku tidak berpura-pura tahu banyak mengenai foto-foto ini, dan aku lebih pandai menilai kuda dan kekang daripada lukisan. Aku tidak tahu kau punya waktu untuk hal-hal seperti ini."

"Aku tahu apa yang bagus kalau melihatnya, dan sekarang aku sedang melihatnya. Itu karya Kneller. Aku berani bersumpah, wanita yang mengenakan sutra biru itu, dan pria kekar yang mengenakan wig itu pasti karya Reynolds. Ini foto-foto keluarga, bukan?"

"Semuanya."

"Kau tahu nama-nama mereka?"

"Barrymore sudah pernah memberitahuku, dan kurasa aku bisa mengingat pelajaranku dengan cukup baik."

"Siapa pria yang membawa teleskop itu?"

"Itu Rear-Admiral Baskerville, yang mengabdi di bawah pimpinan Rodney di Hindia Barat. Pria bermantel biru dan membawa gulungan kertas itu Sir William Baskerville, yang menjadi Ketua Komite Parlemen Rendah di bawah pimpinan Pitt."

"Dan prajurit berkuda di depanku ini—yang mengenakan beludru hitam dan renda?"

"Ah, kau berhak mengetahui tentang dirinya. Itulah penyebab semua kekacauan ini, Hugo yang jahat, yang memulai legenda Anjing Keluarga Baskerville. Kemungkinannya kecil kami melupakannya."

Aku menatap foto itu dengan penuh minat dan agak terkejut.

"Dear me," kata Holmes, "Dia tampak seperti pria yang pendiam dan ramah, tapi berani bertaruh pandangannya memancarkan kejahatan. Dalam bayanganku dia pria yang lebih kekar dan lebih kasar."

"Keasliannya tidak diragukan, karena namanya tertulis di belakang kanvas."

Holmes mengatakan hal lainnya, tapi foto bajingan tua itu tampaknya sudah memesona dirinya, dan matanya terus terpaku ke foto itu selama makan malam. Baru kemudian, setelah Sir Henry masuk ke kamar tidurnya, aku mampu mengikuti pemikirannya. Ia mengajakku kembali ke ruangan itu, dengan membawa lilin dari kamar tidurnya dan mengacungkannya ke arah foto yang telah ternoda oleh waktu di dinding.

"Kau melihat sesuatu di sini?"

Aku memandang topi yang lebar, rambut ikalnya, kerah putih berendanya, dan wajah kaku yang terbingkai di tengah-tengahnya. Bukan wajah yang brutal, tapi keras dan tegas, dengan mulut kaku berbibir tipis dan pandangan yang dingin tanpa toleransi.

"Apakah mirip dengan orang yang kaukenal?"

"Ada kemiripan dengan Sir Henry pada rahangnya."

"Mungkin hanya sedikit. Tapi tunggu sebentar!" Ia berdiri di atas kursi dan, sambil memegang lilin dengan tangan kirinya, ia melengkungkan lengan kanannya menutupi topi lebar dan rambut lkal itu.

"Good heavens!" seruku tertegun.

Wajah Stapleton terpampang di kanvas itu.

"Ha, kau melihatnya sekarang. Mataku sudah terlatih untuk mengamati wajah dan bukan benda-benda di sekitarnya. Itu kualitas pertama yang harus dimiliki seorang penyelidik agar bisa mengenali samaran."

"Tapi ini luar biasa. Ini bisa saja foto dirinya."

"Ya, ini seperti sebuah kemunduran yang menarik, baik fisik maupun mental. Mempelajari foto keluarga sudah cukup untuk mengubah seseorang agar mempercayai doktrin reinkarnasi. Stapleton seorang Baskerville—itu jelas."

"Yang dirancang sebagai penerus."

"Tepat sekali. Kebetulan foto ini memberikan mata rantai yang hilang. Kita berhasil mendapatkannya, Watson, kita mendapatkannya. Dan aku berani bersumpah sebelum besok malam dia sudah akan tidak berdaya dalam jaring kita, seperti kupu-kupunya sendiri. Kita bisa menambahkan dirinya ke dalam koleksi Baker Street!" Ia tertawa terbahak-bahak seraya berpaling dari foto itu. Aku jarang sekali mendengarnya tertawa, dan tawanya selalu menimbulkan perasaan tidak enak kepada orang lain.

Aku terjaga pada waktu subuh, tapi Holmes bangun lebih awal lagi karena sewaktu berpakaian aku melihatnya tengah berjalan menyusuri jalur masuk.

"Ya, hari ini kita pasti sibuk sekali," katanya, dan ia menggosok-gosokkan tangan dengan gembira karena akan beraksi. "Jaring-jaring sudah terpasang semuanya, dan jebakan akan segera dimulai. Sebelum hari ini berakhir, kita akan tahu apakah kita berhasil menangkap buruan kita atau dia berhasil meloloskan diri."

"Kau sudah ke rawa-rawa?"

"Aku mengirim laporan dari Grimpen ke Princetown mengenai kematian Selden. Kurasa aku bisa berjanji bahwa tak satu pun dari kalian akan mendapat masalah akibat kematian itu. Dan aku juga sudah bercakap-cakap dengan Cartwright yang setia—yang pasti akan menunggu di pintu gubukku bagai anjing menunggui makam majikannya—kalau aku tidak menenangkan dirinya mengenai keselamatanku."

"Apa langkah selanjutnya?"

"Menemui Sir Henry. Ah, ini dia!"

"Selamat pagi, Holmes," kata bangsawan itu. "Kau tampak seperti jendral yang sedang menyusun rencana pertempuran dengan para kepala stafnya."

"Situasinya memang tepat seperti itu. Watson menanyakan perintah untuknya."

"Dan aku juga,"

"Bagus sekali. Kalau tidak salah, kau diundang makan malam bersama teman kita Stapleton malam ini."

"Kuharap kau juga bisa datang. Mereka orang-orang yang sangat ramah, dan aku yakin mereka pasti gembira bertemu denganmu."

"Sayangnya Watson dan aku harus ke London."

"Ke London?"

"Ya, kurasa kami lebih berguna di sana pada saat ini."

Wajah sang bangsawan seketika berubah muram.

"Kuharap kalian mau menemaniku hingga urusan ini selesai. Hall dan rawa-rawa bukanlah tempat yang menyenangkan bagi orang yang sendirian."

"Sobat yang baik, kau harus mempercayaiku sepenuhnya dan melakukan perintahku dengan setepat-tepatnya. Kau bisa memberitahu teman kita bahwa kami senang datang bersamamu, tapi ada urusan mendesak yang memerlukan kehadiran kami di kota. Kami berharap segera kembali ke Devonshire. Apa kau ingat untuk menyampaikan pesan itu?"

"Kalau kau memaksa."

"Tidak ada alternatifnya, kujamin."

Dari kemuraman ekspresi Sir Henry, aku tahu ia sangat tersinggung oleh apa yang dianggapnya sebagai tindakan "desersi".

"Kapan kalian akan berangkat?" katanya dingin.

"Segera sesudah sarapan. Kami akan menuju ke Coombe Tracey, tapi Watson akan meninggalkan barang-barangnya di sini sebagai janji dia akan kembali kemari. Watson, kirim surat kepada Stapleton bahwa kau menyesal tidak bisa datang."

"Kurasa sebaiknya aku ikut ke London bersama kalian," kata Sir Henry. "Kenapa aku harus tetap di sini seorang diri?"

"Karena inilah tugasmu. Karena kau sudah berjanji padaku untuk melakukan semua perintahku, dan kuperintahkan kau untuk tetap di sjni."

"Baiklah, kalau begitu. Aku akan tetap di sini."

"Satu perintah lagi! Kuminta kau berkereta ke Merripit House. Tapi suruh keretamu kembali, dan beritahu mereka kau berniat berjalan kaki pulang."

"Berjalan kaki melintasi rawa-rawa?"

"Ya."

"Tapi kau justru melarangku berbuat begitu."

"Kali ini kau bisa melakukannya dengan aman. Kalau aku tidak yakin dengan saraf dan keberanianmu aku tidak akan menyarankan begitu, tapi penting sekali bagimu berbuat begitu."

"Kalau begitu akan kulakukan."

"Dan kalau kau menghargai nyawamu, jangan menyeberangi rawa-rawa dari arah mana pun kecuali jalur lurus dari Merripit House ke Grimpen Road, dan itu jalan pulang yang wajar bagimu."

"Akan kupatuhi perintahmu."

"Bagus sekali. Aku akan senang pergi secepat mungkin sesudah sarapan, agar bisa tiba di London siang nanti."

Aku sangat tertegun oleh rencana itu walaupun aku ingat Holmes telah mengatakan kepada Stapleton semalam bahwa kunjungannya akan berakhir hari ini. Tapi, sama sekali tidak terpikir olehku ia akan mengajakku. Aku juga tidak mengerti bagaimana kami berdua bisa tidak hadir pada saat yang dinyatakannya sendiri sebagai saat kritis. Tapi aku hanya bisa mematuhinya, jadi kami berdua mengucapkan selamat berpisah kepada Sir Henry, dan dua jam sesudahnya kami telah berada di stasiun Coombe Tracey dan memerintahkan kereta yang mengantar kami pulang. Seorang anak lelaki tengah menanti kami di peron.

"Ada perintah, Sir?"

"Kau akan ke kota dengan kereta ini, Cartwright. Begitu tiba, kau harus mengirimkan telegram kepada Sir Henry Baskerville, atas namaku, untuk mengatakan bahwa bila dia menemukan buku saku yang tidak sengaja kujatuhkan, harap kirimkan melalui pos tercatat ke Baker Street."

"Ya, Sir."

"Dan tanyakan kepada kepala stasiun apakah ada pesan untukku."

Anak itu kembali dengan membawa telegram yang diberikan Holmes kepadaku. Bunyinya:
Telegram diterima. Datang membawa surat perintah yang belum ditandatangani. Tiba pukul lima lewat empat puluh. LESTRADE.
"Itu jawaban telegramku tadi pagi. Dia yang terbaik di antara para profesional, kurasa, dan kita mungkin membutuhkan bantuannya. Nah, Watson, kupikir kita tidak bisa memanfaatkan waktu dengan lebih baik lagi selain mengunjungi kenalanmu, Mrs. Laura Lyons."

Rencananya mulai bisa kumengerti. Ia akan menggunakan Sir Henry untuk meyakinkan Stapleton bahwa kami benar-benar telah pergi, padahal kami sebenarnya kembali pada saat kehadiran kami dibutuhkan. Telegram dari London itu, bila dinyatakan Sir Henry kepada Stapleton, pasti menyingkirkan kecurigaan terakhir dari benak mereka. Aku merasa mulai melihat jaring kami merapat pada buruan kami.

Mrs. Laura Lyons berada di kantornya, dan Sherlock Holmes memulai wawancaranya dengan sikap terus terang yang cukup membuatnya tertegun.

"Saya menyelidiki situasi yang berkaitan dengan kematian almarhum Sir Charles Baskerville," katanya. "Teman saya ini, Dr. Watson, sudah memberitahu saya mengenai apa yang Anda sampaikan kepada almarhum, dan juga apa yang Anda rahasiakan sehubungan dengan masalah ini."

"Apa yang saya rahasiakan?" tanya Mrs. Lyons dengan sikap menantang.

"Anda sudah mengakui bahwa Anda meminta Sir Charles menunggu di gerbang pada pukul sepuluh. Kami tahu bahwa di tempat itu dan pada saat ltulah dia tewas. Anda merahasiakan kaitan antara kedua kejadian itu."

"Tidak ada kaitannya."

"Kalau begitu pasti sangat kebetulan. Tapi saya rasa kita pasti bisa menemukan kaitannya. Saya ingin bersikap jujur sepenuhnya kepada Anda, Mrs. Lyons. Kami menganggap kasus ini sebagai pembunuhan, dan bukti-bukti yang ada mungkin bukan saja melibatkan temanmu, Mr. Stapleton, tapi juga istrinya."

Wanita itu melompat bangkit dari kursinya.

"Istrinya!" serunya.

"Fakta itu bukan lagi rahasia. Wanita yang mengaku sebagai adiknya. sebenarnya adalah istrinya."

Mrs. Lyons kembali duduk. Tangannya mencengkeram lengan kursi, dan aku melihat kuku-kukunya yang merah muda telah memutih karena kuatnya cengkeramannya.

"Istrinya!" serunya lagi. "Istrinya! Dia belum menikah."

Sherlock Holmes mengangkat bahu.

"Buktikan! Buktikan itu! Dan kalau Anda bisa...!" Kemurkaan yang terpancar di matanya melebihi kata-kata.

"Saya sudah siap untuk membuktikannya," kata Holmes sambil mengeluarkan sejumlah dokumen dari sakunya. "Ini foto pasangan itu yang diambil di York empat tahun yang lalu. Di sini disebut "Mr. dan Mrs. Vandeleur,' tapi Anda pasti tidak menemui kesulitan mengenali yang pria. Dan juga yang wanita bila Anda pernah bertemu dengannya. Ini tiga penjabaran tertulis dari para saksi yang bisa dipercaya tentang Mr. dan Mrs. Vandeleur, yang pada saat itu mengelola sekolah swasta St, Oliver. Bacalah, dan lihat apakah Anda bisa meragukan identitas orang-orang ini."

Laura Lyons membaca dokumen-dokumen tersebut sekilas dan menengadah memandang kami dengan ekspresi kaku seorang wanita yang putus asa.

"Mr. Holmes," katanya, "pria ini melamar saya dengan syarat saya bercerai dari suami saya. Dia sudah membohongi saya, penjahat ini, dalam segala hal. Tak satu pun kebenaran dari semua yang disampaikannya kepada saya. Dan kenapa—kenapa? Saya membayangkan semuanya demi kebaikan saya sendiri. Tapi sekarang saya melihat diri saya tidak lebih dari alat baginya. Kenapa saya harus mempertahankan kesetiaan kepadanya, yang tidak pernah setia kepada saya? Kenapa saya berusaha melindunginya dari konsekuensi perbuatan jahatnya sendiri? Tanyakan apa pun yang ingin Anda tanyakan, dan tidak ada apa pun yang akan saya rahasiakan. Satu hal saya bersumpah pada Anda, yaitu bahwa pada waktu menulis surat itu saya tidak pernah bermimpi menyakiti pria tua itu, yang sudah menjadi teman saya yang terbaik."

"Saya mempercayai Anda sepenuhnya, Madam," kata Sherlock Holmes. "Rangkaian kejadian ini pasti sangat menyakitkan bagi Anda, dan mungkin akan lebih mudah kalau saya menceritakan apa yang sudah terjadi, dan Anda bisa memperbaiki cerita itu bila ada yang tidak benar. Pengiriman surat ini Anda lakukan atas saran Stapleton?"

"Dia yang mendiktekannya."

"Saya menduga alasan yang diberikannya adalah Anda akan mendapat bantuan dari Sir Charles untuk mengurus perceraian Anda?"

"Tepat sekali."

"Dan sesudah Anda mengirimkan surat itu, dia membujuk Anda agar tidak menepati janji pertemuan itu?"

"Dia mengatakan harga dirinya akan tersinggung bila ada pria lain yang menyediakan uang untuk hal itu, dan meskipun miskin dia bersedia menggunakan hingga uangnya yang terakhir untuk menyingkirkan halangan di antara kami."

"Dia tampaknya pria yang sangat konsisten. Lalu Anda tidak mendengar kabar apa pun sampai Anda membaca laporan mengenai kematian Sir Charles di surat kabar?"

"Benar."

"Dan dia memaksa Anda bersumpah tidak mengatakan apa-apa mengenai janji pertemuan Anda dengan Sir Charles?"

"Benar. Katanya kematian Sir Charles sangat misterius, dan menurutnya saya jelas akan menjadi tersangka bila surat saya sampai ketahuan. Dia menakut-nakuti saya agar menutup mulut."

"Begitu. Tapi Anda merasa curiga?"

Ia ragu-ragu dan menunduk.

"Saya mengenalnya," katanya. "Tapi kalau dia tetap setia pada saya, saya pasti akan setia padanya."

"Saya rasa secara keseluruhan Anda beruntung bisa meloloskan diri," kata Sherlock Holmes. "Anda menguasainya dan dia tahu itu, tapi Anda masih hidup. Anda sudah berada di ambang bahaya selama beberapa bulan terakhir. Kami harus minta diri sekarang, Mrs. Lyons, dan ada kemungkinan Anda akan mendapat kabar dari kami dalam waktu dekat."

"Kasus kita semakin lengkap, dan kesulitan demi kesulitan berhasil disingkirkan dari depan kita," kata Holmes saat kami berdiri menunggu tibanya kereta ekspres dari kota. "Tidak lama lagi aku akan bisa mengungkapkan kejahatan paling aneh dan sensasional di zaman modern ini. Para murid kriminologi akan mengingat kejadian yang mirip di Godno, di Rusia Kecil, pada tahun '66, dan tentu saja pembunuhan Anderson di Carolina Utara. Tapi kasus ini memiliki beberapa segi yang sepenuhnya unik. Bahkan sekarang kita tidak bisa menuntut pria licik ini. Tapi aku akan sangat terkejut kalau tidak bisa membereskannya sebelum kita pergi tidur nanti malam."

Kereta ekspres London meraung-raung tiba di stasiun. Dan seorang pria kecil tapi kekar melompat turun dari gerbong kelas satu. Kami semua berjabatan tangan, dan aku melihat dari ekspresi wajah Lestrade—saat ia memandang Holmes—bahwa ia telah banyak belajar sejak hari mereka pertama kali bekerja sama. Aku bisa mengingat dengan baik puluhan teori yang digunakan untuk memuaskan pria yang berpikiran praktis ini.

"Ada kabar bagus?" tanyanya.

"Yang terbesar selama bertahun-tahun," jawab Holmes. "Kita punya waktu dua jam sebelum memulai. Kurasa sebaiknya kita menggunakannya untuk mencari makan malam dan kemudian, Lestrade, kami akan menyingkirkan kabut London dari tenggorokanmu dengan memberimu udara malam murni rawa-rawa Dartmoor. Belum pernah ke sana? Ah, well, kurasa kau tidak akan melupakan kunjungan pertamamu."