"Kenapa harus model Turki?" tanya Sherlock Holmes sambil menatap sepatu botku. Aku sedang duduk santai di kursi malas, sehingga kakiku yang terjulur menarik perhatiannya yang selalu usil.

"Model Inggris kok," jawabku heran. "Kubeli di Toko Sepatu Latimer's di Oxford Street."

Holmes tersenyum sabar, dengan ekspresi seolah dia sudah capek menghadapiku.

"Maksudku mandi!" katanya. "Mandi! Buat apa mahal-mahal mandi ala Turki, sedangkan dengan cara biasa juga tubuh sudah segar?"

Beberapa hari terakhir ini aku terserang rematik, dan aku merasa tua. Mandi ala Turki bisa menjadi obat yang menyegarkan dan membersihkan peredaran darah.

"Omong-omong, Holmes," tambahku, "aku yakin ada hubungan antara sepatu botku dan mandi ala Turki, dan aku akan sangat berterima kasih kalau kau bersedia menjelaskannya."

"Penjelasannya sederhana sekali, Watson," kata Holmes sambil mengejapkan matanya. "Kesimpulan yang kudapat masih tergolong tingkat yang paling mudah seperti kalau aku menanyakan dengan siapa kau naik kereta tadi pagi."

"Pengandaian kan bukan penjelasan," kataku dengan agak mendongkol.

"Hidup Watson! Protes yang sangat meyakinkan dan logis. Coba kulihat, hal-hal apa yang kudapat kan? Yang paling akhir dulu—soal kereta. Perhatikan bercak cipratan air di lengan kiri dan bahu jasmu. Kalau kau tadi duduk di tengah kau tak akan kecipratan. Kalaupun kecipratan, pasti bekasnya akan berpola simetris. Jadi, jelas kau duduk di salah satu sisi. Karenanya pasti ada orang lain yang sekereta denganmu."

"Penjelasannya ternyata sederhana, ya."

"Memang."

"Tapi mengenai sepatu bot dan mandi ala Turki."

"Itu juga mudah. Kau punya gaya khas kalau mengikat tali sepatu. Kulihat kali ini gayanya lain, karena ada dua lipatan simpul. Jadi pasti orang lainlah yang telah melepaskan dan mengencangkan ikatan itu kembali. Bisa saja tukang reparasi sepatu, tapi rasanya tak mungkin karena sepatumu masih baru. Jadi kemungkinannya tinggal pelayan di tempat mandi ala Turki. Tak masuk akal, ya? Tapi, lepas dari semua itu, aku punya suatu maksud yang berhubungan dengan mandi ala Turki."

"Apa gerangan?"

"Kau bilang, kau perlu mandi ala Turki untuk perubahan suasana. Bagaimana kalau aku mengusulkan perubahan suasana yang betul-betul asyik? Apakah kau berminat pergi ke Lausanne, sobatku Watson, naik pesawat terbang kelas satu dan semua pengeluaran ditanggung?"

"Hebat! Tapi ada urusan apa?"

Holmes menyandarkan punggungnya di kursi malas, dan mengambil buku catatan dari kantong bajunya.

"Salah satu jenis manusia yang paling berbahaya di dunia ini," katanya, "adalah wanita yang menganggur dan tak punya teman. Dia bisa jadi makhluk yang sangat berguna di satu pihak, tapi, di pihak lain, dia sering menjadi pemicu terjadinya tindak kriminal. Dia tak berdaya. Dia suka berpindah-pindah. Dia punya sarana bepergian dari satu negara ke negara lain, dan dari satu hotel ke hotel lain. Dia bisa lenyap begitu saja di sekian banyak losmen dan pondokan. Dia bagaikan ayam yang kebingungan di dunia yang penuh serigala. Kalau diterkam, dia tak akan mampu mengelak. Aku khawatir telah terjadi sesuatu yang mengerikan terhadap Lady Frances Carfax."

Aku lega ketika pembicaraannya tiba-tiba beralih dari sesuatu yang sangat umum ke sesuatu yang khusus. Holmes meneliti catatannya.

"Lady Frances," lanjutnya, "adalah satu-satunya keturunan langsung almarhum Earl of Rufton. Tanah dan gedung milik bangsawan ini, kalau kau masih ingat, semuanya jatuh ke ahli waris pria. Dia kebagian koleksi perhiasan perak buatan Spanyol, dan berlian yang sangat disukainya sehingga dia tak mau menyimpan benda itu di bank. Dia membawa perhiasannya ke mana pun dia pergi. Lady Frances agak pemurung namun cantik; usianya menjelang setengah baya. Hidupnya sekarang agak telantar, padahal dua puluh tahun yang lalu dia masih menjadi anggota keluarga besar bangsawan."

"Apa yang terjadi padanya?"

"Ah, apa yang terjadi pada Lady Frances? Dia masih hidup atau sudah mati? Itulah masalah kita. Dia memiliki kebiasaan-kebiasaan tertentu, dan selama empat tahun, salah satu kebiasaannya ialah setiap dua minggu sekali menulis surat kepada Miss Dobney, bekas guru lesnya yang sudah pensiun dan kini tinggal di Camberwell. Miss Dobney inilah yang datang menemuiku. Sudah hampir lima minggu dia tak menerima kabar dari Lady Frances. Surat terakhirnya dikirim dari Hotel National di Lausanne. Lady Frances tampaknya sudah meninggalkan hotel itu, tapi dia tak memberitahukan ke mana dia pergi. Sanak familinya mencemaskannya, dan karena mereka sangat kaya, biaya tak jadi masalah bagi mereka asalkan kita bisa menjernihkan masalah ini."

"Apakah Miss Dobney merupakan satu-satunya sumber informasi? Tentunya Lady Frances tak hanya menulis surat kepadanya, kan?"

"Ada satu pihak lain yang pasti sering dikirimi surat oleh Lady Frances, Watson, yaitu bank tempatnya membuka rekening. Wanita-wanita yang hidup sendirian kan perlu menghidupi dirinya, dan buku rekening banknya bisa menjadi buku harian yang padat informasi. Dia punya rekening di Bank Silvester's. Aku sudah memeriksa rekeningnya. Cek kedua terakhir menunjukkan pembayaran di Lausanne. Jumlahnya sangat besar, sehingga mungkin saat ini dia membawa uang tunai dalam jumlah yang lumayan. Sesudah itu hanya ada satu cek yang dikeluarkannya."

"Untuk siapa, dan di mana?"

"Untuk Miss Marie Devine. Tak ketahuan di mana cek itu dikeluarkan. Cek itu diuangkan di Credit Lyonnais di Montpelier kira-kira tiga minggu yang lalu. Jumlahnya lima puluh pound."

"Dan siapakah Miss Marie Devine itu?"

"Itu pun sudah kuselidiki Miss Marie Devine mantan pelayan Lady Frances Carfax. Belum jelas kenapa dia memberinya cek ini. Tapi aku yakin penyelidikan-penyelidikan yang kaulakukan akan menjernihkan hal itu."

"Penyelidikan-penyelidikan yang kau lakukan?"

"Maksudku kaulah yang akan pergi ke Lausanne untuk melakukan penyelidikan—sekaligus memulihkan kesehatanmu. Kau tahu aku tak mungkin meninggalkan London, sementara Tuan dan Nyonya Abraham yang sudah tua menghadapi teror yang mengancam jiwa mereka. Tambahan pula, sebaiknya aku memang tidak ke luar negeri. Scotland Yard akan sunyi tanpa kehadiranku, dan para penjahat akan bersorak kegirangan kalau aku pergi. Jadi kau pergilah, sobatku Watson, dan kalau kau butuh berkonsultasi denganku silakan kirim telegram. Akan kunantikan telegrammu siang dan malam."

Dua hari kemudian, aku sudah berada di Hotel National di Lausanne. Aku diterima dengan sangat ramah oleh manajernya yang sangat terkenal, M. Moser. Dia memberitahuku bahwa Lady Frances pernah tinggal di situ selama beberapa minggu. Wanita itu sangat disukai orang-orang yang ditemuinya. Usianya sekitar empat puluh. Dia masih cantik, dan melihat penampilannya, dia pastilah sangat cantik pada masa mudanya. M. Moser tak tahu menahu tentang perhiasan berharga yang dimiliki wanita itu, tapi menurut para pelayan hotel, dia membawa koper yang sangat berat yang selalu dikuncinya dengan saksama. Marie Devine, pelayan wanitanya, juga populer. Dia bertunangan dengan kepala pelayan di hotel ini, sehingga tak susah mendapatkan alamatnya. Dia tinggal di Rue de Trajan Nomor 11, Montpelier. Aku mencatat semua ini, dan merasa Holmes pun tak lebih cekatan dalam mengumpulkan informasi dibandingkan dengan apa yang kini kudapatkan.

Ada satu celah yang masih gelap. Aku tak mendapatkan gambaran mengapa wanita itu tiba-tiba meninggalkan hotel. Dia senang tinggal di Lausanne, dan tampaknya dia sebenarnya bermaksud tinggal di kamar hotelnya yang mewah dan menghadap ke danau sepanjang musim ini. Kenyataannya, dia tiba-tiba pergi, dan memberitahukan rencananya kepada pihak hotel hanya sehari sebelumnya, padahal dia sudah membayar penuh sewa kamar untuk minggu itu. Hanya Jules Vibart, tunangan pelayan wanita itu, yang punya dugaan. Dia menghubungkan kepergian Lady Frances dengan kehadiran seorang pria jangkung berkulit gelap dan berjanggut di hotel itu sehari atau dua hari sebelumnya.

"Menakutkan... sangat menakutkan!" teriak Jules Vibart. Pria itu menyewa kamar di kota ini. Dia terlihat pernah berbincang-bincang serius dengan Lady Frances di jalanan di samping danau. Lalu dia menelepon Lady Frances, tapi wanita itu tak mau menemuinya. Pria itu orang Inggris, tapi tak ada yang tahu namanya. Sesudah itu Lady Frances langsung meninggalkan hotel. Jules Vibart, dan yang lebih penting—tunangannya, mengira kepergian Lady Frances disebabkan telepon itu. Hanya Jules tak mengungkapkan satu hal, yaitu mengapa Marie berhenti bekerja. Dia tak mau atau tak bisa menjelaskan. Kalau mau tahu, aku harus menemui Marie di Montpelier.

Begitulah akhir bagian pertama penyelidikanku. Bagian kedua adalah mencari tahu ke mana perginya Lady Frances setelah meninggalkan Lausanne. Tampaknya tempat tujuan Lady Frances sengaja dirahasiakan, sehingga aku jadi lebih yakin dia berniat menghilangkan jejaknya dari incaran seseorang. Kupikir itu pulalah sebabnya kopernya tak diberi label. Wanita itu bersama kopernya tiba di Baden dengan mengambil jalan memutar—informasi ini kudapatkan dari manajer kantor Cook's setempat. Aku pun berangkat ke Baden setelah mengirim kabar tentang perkembangan penyelidikanku kepada Holmes, dan menerima jawaban darinya dalam bentuk pujian yang bernada humor.

Di Baden, aku tak mengalami kesulitan mencari jejak Lady Frances. Dia sempat menginap di EngHscher Hof selama dua minggu. Ketika itulah dia berkenalan dengan seorang misionaris Amerika Selatan, Dr. Shlessinger, dan istrinya. Sebagaimana umumnya wanita-wanita yang kesepian, Lady Frances menemukan penghiburan dan kesibukan dalam kegiatan agama. Dr. Shlessinger sangat simpatik, pengabdiannya sepenuh hati, dan dia baru saja sembuh dari sakit parah yang dideritanya sementara menjalankan pelayanannya. Semuanya ini sangat menggugah hati Lady Frances. Dia menolong Mrs. Shlessinger merawat misionaris yang dalam proses penyembuhan itu. Dr. Shlessinger sedang membuat peta Tanah Suci, dengan referensi khusus tentang Kerajaan Midian yang ditulisnya dalam bentuk monografi. Akhirnya, ketika kesehatannya sudah pulih, dia dan istrinya kembali ke London, dan Lady Frances pun ikut. Ini terjadi tiga minggu yang lalu, dan sejak itu manajer hotel tak mendengar berita apa-apa lagi tentang dia. Pelayan wanita Lady Frances, Marie, telah meninggalkan hotel itu beberapa hari sebelumnya sambil menangis tersedu-sedu. Ia mengatakan kepada pelayan-pelayan yang lain bahwa dia telah berhenti bekerja. Dr. Shlessinger melunasi biaya rombongan itu sebelum dia berangkat.

"Omong-omong," kata manajer itu sebagai penutup, "Anda bukan satu-satunya teman Lady Frances Carfax yang bertanya. Kira-kira seminggu yang lalu, ada seorang pria yang kemari."

"Anda tahu siapa namanya?"

"Tidak, tapi dia orang Inggris, walaupun sosoknya agak tak biasa."

"Menakutkan?" tanyaku, teringat pada penuturan kepala pelayan di Lausanne.

"Tepat sekali. Pria itu tinggi besar, berjanggut, dan berkulit gelap. Kelihatannya dia lebih cocok berada di peternakan daripada di hotel bagus. Menurut saya, orangnya kasar dan kejam."

Misteri yang kutangani mulai terkuak dengan sendirinya. Lady Frances, wanita yang baik dan saleh, ternyata dikejar-kejar seorang lelaki jahat yang tak kenal menyerah. Jelas wanita itu sangat ketakutan; kalau tidak, dia tak akan melarikan diri dari Lausanne. Tapi orang yang mengejarnya tetap membuntutinya. Cepat atau lambat, orang itu akan berhasil menemukannya. Apakah dia sudah menemukannya? Itukah sebabnya tak ada kabar berita lagi tentang Lady Frances? Dapatkah kawan-kawannya—suami-istri misionaris itu—melindunginya dari ancaman pria bertampang kejam itu? Maksud dan rencana apa yang terselubung di balik pengejaran yang tak henti-hentinya ini? Inilah masalah yang harus kupecahkan.

Aku mengirim telegram kepada Holmes mengabarkan bahwa aku telah menemukan akar permasalahannya. Holmes membalas telegramku, memintaku memberikan penjelasan tentang telinga kiri Dr. Shlessinger. Guyonan Holmes memang kadang kadang aneh, jadi aku tak mengacuhkan permintaannya. Lagi pula telegramnya baru kuterima di Montpelier, ketika aku sibuk melacak mantan pelayan Lady Frances.

Aku tak mengalami kesulitan menemukan gadis itu, dan dia pun langsung menceritakan semua yang ingin kuketahui. Gadis itu jelas pelayan yang setia. Dia berhenti bekerja karena yakin nyonyanya telah mendapatkan teman seperjalanan yang baik, dan karena dia sendiri akan segera menikah. Dia mengakui sang nyonya memang agak jengkel kepadanya ketika mereka berada di Baden, dan pernah sekali Lady Frances menanyainya macam-macam seolah-olah curiga atas kejujurannya. Hal ini malah membuatnya merasa lebih ringan ketika harus meninggalkan sang nyonya. Lady Frances memberinya lima puluh pound sebagai hadiah pernikahan. Seperti aku, Marie juga sangat curiga kepada orang asing yang membuat nyonyanya pergi dari Lausanne. Dia melihat sendiri ketika pria itu mencengkeram pergelangan tangan Lady Frances di pinggir danau. Pria itu bertampang kejam dan mengerikan. Dia yakin ketakutanlah yang mendorong Lady Frances menerima tawaran suami-istri Shlessinger untuk bersama-sama berangkat ke London. Nyonyanya tak pernah membicarakan hal itu, tapi dari gerak-geriknya jelas terlihat dia gelisah. Kisah gadis itu sampai di sini, ketika tiba-tiba dia berdiri dari kursinya. Ekspresinya kaget dan takut.

"Lihat!" teriaknya. "Bajingan itu ada di sini!"

Lewat jendela ruang tamu, aku melihat seorang pria berkulit gelap yang tinggi besar, dengan janggut hitam yang kasar. Dia berjalan pelan-pelan sambil melongok ke nomor-nomor rumah di sekitarnya. Rupanya dia juga sedang melacak mantan pelayan Lady Frances. Dengan spontan aku berlari ke luar.

"Anda orang Inggris, kan?" tanyaku.

"Kalau ya, memangnya kenapa?" tanyanya dengan pandangan marah yang memancarkan kekejaman.

"Boleh tahu nama Anda?"

"Tidak! Tidak boleh," jawabnya ketus.

Situasinya tak menguntungkan, tapi jalan pintas kadang-kadang besar manfaatnya.

"Di mana Lady Frances Carfax?" tanyaku.

Dia menatapku dengan kaget.

"Kauapakan dia? Mengapa kau mengejarnya? Aku minta jawaban sekarang juga," perintahku.

Pria itu menggeram dan menerkamku bagaikan singa. Aku sudah sering berkelahi, tapi cengkeraman pria itu sekuat besi dan kemarahannya benar-benar memuncak. Tangannya mencekik leherku dan aku hampir pingsan dibuatnya. Tiba-tiba seorang buruh Prancis berkemeja biru berlari terbirit-birit ke arahku dari restoran di seberang jalan. Ia memukulkan tongkatnya ke lengan pria yang menyerangku, sehingga aku terbebas dari cekikannya. Dia terperangah dan ragu-ragu sejenak, lalu dengan penuh kemarahan meninggalkanku, masuk ke rumah yang baru saja kukunjungi. Aku menoleh untuk mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah menolongku, yang berdiri tak jauh dariku.

"Well, Watson," katanya, "tindakanmu ceroboh sekali. Sebaiknya kau kembali ke London bersamaku malam ini juga."

Satu jam kemudian, setelah berpakaian dan bersikap sebagaimana biasanya, Sherlock Holmes duduk di hadapanku di kamar hotel. Dia menjelaskan mengapa tiba-tiba muncul dan bahkan sempat menyelamatkan jiwaku. Urusannya di London sudah beres, maka dia menyusulku sambil menyamar sebagai buruh.

"Penyelidikanmu betul-betul konsisten kaulaksanakan, sobatku Watson," katanya. "Tak ada satu langkah pun yang keliru. Tujuannya memang untuk menimbulkan kesiagaan di mana-mana, tapi, tak menghasilkan apa-apa."

"Seandainya kau yang melakukan penyelidikan ini, hasilnya pun belum tentu lebih baik," jawabku dengan mendongkol.

"Itu tak perlu dipertanyakan lagi. Hasil penyelidikanku memang lebih baik. Ini dia, the Hon. Philip Green, yang barangkali bisa menjadi langkah awal penyelidikan yang lebih berhasil."

Sebuah kartu nama diantarkan kepada kami, diikuti bajingan berjanggut yang tadi menerkamku di jalanan. Dia terkejut ketika melihatku.

"Apa-apaan ini, Mr. Holmes?" tanyanya. "Saya menerima surat Anda, lalu saya datang kemari. Tapi apa hubungan orang ini dengan kasus kita?"

"Perkenalkan rekan kerja dan sahabat saya, Dr. Watson, yang membantu kita dalam masalah ini."

Pria itu mengulurkan tangannya yang besar dan berwarna gelap karena terbakar sinar matahari, sambil menggumamkan beberapa kata permintaan maaf.

"Saya harap Anda tak terluka. Anda tadi menuduh saya telah melukai Lady Frances sehingga saya naik pitam. Sungguh, tingkah laku saya sangat menakutkan akhir-akhir ini. Saraf saya tegang, saya tak mampu lagi menanggung semua ini. Tapi saya benar-benar penasaran Mr. Holmes, bagaimana Anda tahu tentang diri saya?"

"Saya menghubungi Miss Dobney, mantan guru Lady Frances."

"Susan Dobney tua yang selalu memakai topi kuno! Saya masih ingat dia."

"Dia pun masih ingat Anda. Waktu itu Anda belum berangkat ke Afrika Selatan."

"Ah, kalau begitu Anda tahu semuanya tentang saya. Saya tak perlu menyembunyikan apa pun. Saya bersumpah, Mr. Holmes, saya mencintai Lady Frances dengan segenap hati saya. Dulu saya memang pemuda yang urakan, sedangkan pikiran Frances masih sangat murni. Dia tidak bisa menerima tindakan apa pun di luar norma-norma yang berlaku. Jadi, ketika mendengar tingkah polah saya di luaran, dia memutuskan hubungan dengan saya. Tapi dia tetap mencintai saya—itulah anehnya! Begitu besar cintanya kepada saya sehingga dia tak mau menikah dengan pria lain. Kini belasan tahun telah berlalu, saya berhasil mengumpulkan uang selama bekerja di Barberton. Saya berniat mencarinya dan melunakkan hatinya. Saya mendengar dia masih belum menikah. Akhirnya saya temukan dia di Lausanne, dan saya berusaha melunakkan hatinya dengan segala cara. Rasanya, hatinya menjadi agak lunak, tapi kemauannya tetap keras. Ketika saya meneleponnya lagi, dia telah meninggalkan kota itu. Saya mengejarnya ke Baden, lalu saya mendengar pelayan wanitanya tinggal di sini. Saya memang pria yang kasar, karena baru saja kembali dari kehidupan yang keras, dan ketika Dr. Watson berbicara kepada saya seperti itu, saya jadi mata gelap. Tapi, demi Tuhan, tolong katakan kepada saya apa yang telah terjadi terhadap Lady Frances."

"Itulah yang hendak kami cari jawabnya," kata Sherlock Holmes dengan serius. "Di mana alamat Anda di London, Mr. Green?"

"Hotel Langham."

"Kalau begitu, saya sarankan Anda kembali saja ke sana dan bersiagalah kalau-kalau kami memerlukan Anda. Saya tak ingin memberikan harapan-harapan yang belum jelas, tapi Anda boleh yakin kami akan berupaya semaksimal mungkin demi keselamatan Lady Frances. Ini kartu nama kami kalau-kalau Anda perlu menghubungi kami. Nah, Watson, kemasilah barang-barangmu sementara aku mengirim telegram kepada Mrs. Hudson, agar dia menyiapkan makan malam istimewa bagi dua pengembara kelaparan pada jam setengah delapan besok malam."

Sebuah telegram telah menanti ketika kami tiba di kamar kami di Baker Street. Holmes membacanya dengan penuh semangat, lalu melemparkannya kepadaku. Bergerigi atau terbelah-belah, begitu bunyi telegram yang dikirim dari Baden.

"Apa artinya?" tanyaku.

"Segalanya-galanya," jawab Holmes. "Kau pasti ingat ketika aku bertanya tentang bentuk telinga kiri Dr. Shlessinger. Pertanyaan yang aneh, ya? Kau tak membalas telegramku."

"Waktu itu aku sudah meninggalkan Baden, jadi tak sempat cari tahu tentang hal itu."

"Tepat. Itulah sebabnya aku lalu mengirim salinan telegram itu ke Manajer Englischer Hof, dan beginilah jawabannya."

"Apa maksudnya?"

"Maksudnya, sobatku Watson, kita berurusan dengan seseorang yang sangat lihai dan berbahaya. Pendeta Dr. Shlessinger, misionaris dari Amerika Selatan itu, ternyata Holy Peters, salah satu bandit yang sangat tersohor di Australia. Keahlian khususnya ialah memperdaya wanita-wanita yang kesepian dengan menggugah perasaan keagamaan mereka. Dan yang mengaku sebagai istrinya, wanita Inggris bernama Fraser, adalah komplotannya. Ciri khas taktiknya membuatku mengenalinya, dan ciri fisiknya ini—dia pernah berkelahi di sebuah bar di Adelaide pada tahun 1889 dan telinganya digigit lawannya—menguatkan kecurigaanku. Wanita malang ini berada di tangan pasangan yang berbahaya, yang tega melukai orang tanpa alasan apa pun, Watson. Ada kemungkinan Lady Frances sudah mati. Kalau tidak, dia pasti dikurung, sehingga tak bisa menulis surat kepada Miss Dobney atau teman-temannya yang lain. Ada dua kemungkinan, dia dibawa ke London atau ke tempat lain. Rasanya alternatif kedua kecil sekali kemungkinannya karena tak mudah bagi orang asing berkeliaran di negeri ini tanpa sepengetahuan polisi Inggris yang ketat itu. Jadi menurutku, dia masih berada di London, tapi karena saat ini kita tak tahu tepatnya di mana, kita hanya bisa mengambil langkah-langkah yang jelas, makan malam dulu, dan berpikir dengan tenang sesudahnya. Nanti malam, aku mau jalan-jalan dan menemui Lestrade di Scotland Yard."

Ternyata baik Holmes maupun Lestrade tak punya informasi yang bisa menjernihkan misteri ini. Ketiga orang yang kami cari itu bagaikan raib begitu saja di antara berjuta-juta penduduk London. Kami memasang iklan. Tak ada hasil. Kami melacak petunjuk-petunjuk yang kami terima. Tak ada hasil. Semua sarang penjahat yang mungkin disinggahi Shlessinger kami selidiki. Tak ada hasil. Kami mengawasi semua teman lama Shlessinger. Tak ada yang berhubungan dengannya. Tiba-tiba, setelah seminggu penuh tegang karena tak menghasilkan apa-apa, kami menemukan secercah cahaya. Sebuah liontin perak yang sangat indah dengan desain Spanyol kuno telah digadaikan di rumah gadai Bevington di Westminster Road. Penggadainya seorang pria tinggi besar yang berpenampilan rapi. Nama dan alamatnya jelas palsu. Pemilik rumah gadai tak memperhatikan bentuk telinga pria itu, tapi dari penuturannya jelaslah si pegawai adalah Shlessinger.

Teman baru kami yang tinggal di Hotel Langham telah tiga kali mengunjungi kami untuk menanyakan perkembangan kasus ini. Kunjungan ketiga dilakukannya sejam setelah perkembangan baru yang kami temukan. Philip Green tampak jauh lebih kurus, pakaiannya kedodoran. Kecemasan benar-benar telah menggerogotirrya. "Kalau saja Anda memberi suatu tugas yang bisa saya lakukan!" begitu terus teriaknya. Akhirnya Holmes mengabulkan permintaannya.

"Shlessinger mulai menggadaikan perhiasan. Kita akan menangkapnya sekarang."

"Apakah ini berarti telah terjadi sesuatu terhadap Lady Frances?"

Holmes menggeleng dengan sangat lemah.

"Seandainya mereka menawannya sampai kini, jelas mereka tak akan sedetik pun melepaskannya, karena itu berarti kehancuran mereka. Kita harus bersiap menghadapi hal yang paling buruk."

"Apa yang bisa saya lakukan?"

"Pasangan ini tak pernah melihat Anda, kan?"

"Tidak."

"Dia mungkin akan pergi ke rumah gadai lain. Bila demikian, kita harus mulai melakukan pelacakan. Di samping itu, dia telah mendapatkan harga yang bagus tanpa ditanyai macam-macam di rumah gadai Bevington, jadi dia mungkin akan kembali ke sana. Saya akan menulis surat kepada pemilik rumah gadai itu, supaya Anda diizinkan menunggu di situ. Kalau pria itu datang, buntuti dia. Tapi jangan bertindak sembrono, dan yang paling penting tak boleh terjadi kekerasan. Saya percaya Anda tak akan mengambil langkah apa pun tanpa sepengetahuan dan seizin saya."

Selama dua hari tak ada berita dari the Hon. Philip Green. (Aku lupa menyebutkan bahwa dia putra laksamana terkenal bernama serupa yang memimpin Armada Laut Azof pada waktu Perang Krim.) Pada malam ketiga dia berlari ke tempat kami, mukanya pucat, badannya gemetaran, seluruh ototnya bergetar karena menahan emosi.

"Kita bisa menangkap dia! Kita bisa menangkap dia!" teriaknya.

Begitu bersemangatnya dia sehingga kata-katanya tak terdengar dengan jelas. Holmes menenangkannya, dan mendudukkannya di kursi malas.

"Ayo, langsung saja, berikan perintah untuk segera bertindak," katanya. "Kali ini yang datang sang istri. Baru sejam yang lalu. Dia membawa pasangan liontin yang sebelumnya. Wanita itu jangkung, pucat, dan matanya seperti mata musang."

"Benar," kata Holmes.

"Ketika dia meninggalkan rumah gadai, saya mengikutinya. Dia menelusuri Kennington Road, dan saya terus menguntit di belakangnya. Lalu dia pergi ke yayasan pemakaman, Mr. Holmes."

Sobatku terlonjak. "Lalu?" tanyanya dengan suara lantang yang menunjukkan gejolak jiwa di balik wajahnya yang dingin dan tenang.

"Dia berbicara dengan pengurus yayasan. 'Terlambat,' saya dengar dia berkata. Si pengurus lalu meminta maaf, 'Seharusnya sudah tiba sebelum ini. Memakan waktu lebih lama karena tak seperti biasanya.' Kedua wanita itu berhenti berbicara lalu melihat ke arah saya, sehingga saya pura-pura tanya ini-itu sebelum meninggalkan tempat itu."

"Anda telah melaksanakan tugas dengan baik. Apa yang terjadi kemudian?"

"Wanita itu keluar, sementara saya bersembunyi di balik pintu. Saya rasa dia curiga, karena dia menoleh-noleh ke sekeliling. Dia lalu memanggil kereta. Saya beruntung langsung mendapatkan kereta juga sehingga bisa membuntutinya. Akhirnya dia turun di Poultney Square Nomor 36, Brixton. Saya menyuruh kusir melaju terus, dan baru turun dari kereta setelah membelok di ujung jalan. Saya lalu mengamati rumah itu."

"Anda melihat seseorang di rumah itu?"

"Semua jendelanya gelap, kecuali satu yang terletak di lantai bawah. Kerai jendelanya tertutup, dan saya tak bisa melihat ke dalam. Jadi, saya berdiri saja sambil bertanya-tanya apa yang akan saya lakukan selanjutnya. Pada saat itulah ada mobil van yang tertutup berhenti di depan rumah itu. Dua pria turun dari van itu, lalu mengeluarkan sesuatu dari mobil mereka. Mereka menggotong barang itu memasuki rumah, dan ternyata yang mereka bawa peti mati."

"Ah!"

"Hampir saja saya menerobos masuk. Pintu rumah itu dibuka untuk memberi jalan bagi kedua orang itu. Ketika itulah wanita tadi melihat saya, dan saya rasa dia mengenali saya. Dia tampak terkejut, dan dengan cepat menutup pintu. Saya ingat janji saya kepada Anda, jadi saya langsung kemari."

"Anda telah melakukan tugas Anda dengan baik sekali," kata Holmes sambil menuliskan beberapa kata di secarik kertas. "Kita tak bisa berbuat apa-apa tanpa surat geledah, dan Andalah yang paling pantas menyerahkan catatan ini ke pihak yang berwajib untuk mendapatkan surat geledah yang kita butuhkan. Anda mungkin akan mengalami kesulitan, tapi menurut saya kesaksian Anda tentang penggadaian perhiasan itu cukup kuat. Lestrade akan mengurus semua detailnya."

"Tapi mereka mungkin akan membunuhnya sementara ini. Apa maksud peti mati itu kalau bukan untuk Lady Frances?"

"Kami akan berusaha sebaik mungkin, Mr. Green. Jangan buang-buang waktu. Percayakan yang lainnya kepada kami. Sekarang, Watson," tambahnya begitu klien kami sudah pergi, "dia akan bertindak bersama yang berwajib, sedangkan kita, sebagaimana biasa, akan bertindak dengan cara kita sendiri. Situasinya begitu genting sehingga kita harus yakin akan langkah-langkah kita. Tak boleh buang-buang waktu sedetik pun, ayo segera berangkat ke Poultney Square."

"Mari kita menyusun kembali situasinya," katanya dalam perjalanan kami melewati Gedung Parlemen dan Jembatan Westminster. "Pasangan penjahat ini membawa Lady Frances ke London, setelah memisahkan dia dari pelayannya yang setia. Kalaupun wanita itu sempat menulis surat, suratnya tak pernah mereka kirim. Melalui komplotannya yang lain, mereka berhasil menyewa rumah. Begitu masuk ke rumah itu, mereka menyekapnya, dan merampas perhiasan yang sejak dulu mereka incar. Mereka sudah berhasil menjual sebagian dari perhiasan itu dengan aman, karena mereka pikir tak ada orang yang memedulikan nasib wanita itu. Kalau dibebaskan, wanita itu akan menjadi saksi mata kejahatan mereka. Tapi mereka pun tak mungkin menyekapnya selamanya. Jadi, mereka merencanakan membunuhnya."

"Jelas sekali."

"Sekarang kita akan memperhatikan pertimbangan lain. Kalau kau punya dua pemikiran secara bersamaan, Watson, kau akan memperoleh titik temu mendekati kebenaran. Sekarang kita akan memulai penyelidikan bukan dari Lady Frances, tapi dari peti mati itu, lalu menarik kesimpulan secara mundur. Kurasa, peti mati itu jelas menunjukkan Lady Frances telah mati. Maka tentunya diperlukan surat keterangan kematian dari dokter dan upacara penguburan. Kalau wanita itu jelas-jelas dibunuh, mereka pasti akan menguburnya begitu saja di taman belakang rumah itu. Tapi mereka ternyata membeli peti mati dan mengurus segalanya secara terbuka. Apa artinya itu? Barangkali mereka telah membunuhnya sedemikian rupa sehingga dokter yang memeriksa tertipu, kemudian menyimpulkan kematian wanita itu disebabkan hal-hal yang alamiah—keracunan, misalnya. Tapi rasanya tak mungkin mereka mengizinkan dokter mendekati Lady Frances, kecuali kalau dokter itu komplotannya—ini pun kemungkinannya kecil sekali."

"Mungkinkah mereka memalsukan surat keterangan dokter itu?"

"Berbahaya, Watson, sangat berbahaya. Tidak, sangat kecil kemungkinannya mereka berani bertindak demikian. Berhenti sebentar, Pak Kusir! Di sinilah tempat yayasan pemakaman itu, setelah lewat rumah gadai. Kau saja yang masuk, Watson. Penampilanmu lebih meyakinkan. Tanyakan jam berapa akan dilaksanakan pemakaman di Poultney Square besok pagi."

Pengurus yayasan memberikan informasi tanpa ragu-ragu. Pemakaman akan dilaksanakan pukul delapan pagi besok.

"Nah, kan, Watson, tak ada yang disembunyikan; semuanya biasa-biasa saja! begitu juga surat-surat kematian yang diperlukan, pasti sudah beres semua, sehingga tak ada yang perlu mereka takutkan. Well, yang bisa kita lakukan hanyalah penyerangan secara langsung. Kau bawa senjata?"

"Cuma tongkat!"

"Well, well, itu pun sudah cukup kuat. 'Orang yang berkelahi demi kebenaran akan mendapat kekuatan tiga kali lipat dari senjata yang dimilikinya.' Kita tak bisa menunggu polisi, atau menunggu hukum menuntaskan masalah ini. Tolong lebih cepat, Pak Kusir. Sekarang, Watson, kita berdua akan mengadu untung seperti biasanya."

Dengan keras ditekannya bel sebuah rumah besar yang gelap di tengah Poultney Square. Pintu langsung terbuka, dan di hadapan kami berdiri seorang wanita jangkung.

"Mau apa kalian?" tanyanya ketus sambil menatap kami dalam kegelapan.

"Saya ingin ketemu dengan Dr. Shlessinger," kata Holmes.

"Tak ada yang bernama Dr. Shlessinger di sini," jawabnya sambil berusaha menutup pintu, tapi Holmes menghalanginya dengan kakinya.

"Pokoknya saya mau ketemu dengan orang yang tinggal di sini, siapa pun namanya," kata Holmes dengan teguh.

Wanita itu ragu-ragu, lalu merabuka pintu lebar-lebar. "Kalau begitu, masuklah!" katanya. "Tak ada yang ditakuti suami saya." Dia menutup pintu depan itu, dan membawa kami ke ruang tamu. Dia menghidupkan lampu gas sebelum meninggalkan kami. "Mr. Peters akan segera menemui Anda," katanya.

Kami belum sempat melongok-longok ke sekeliling ruangan yang penuh debu dan ngengat ini ketika pintu terbuka, dan seorang pria tinggi besar berjalan memasuki ruangan dengan langkah-langkah ringan. Pria itu berkepala botak dan berjanggut rapi. Wajahnya lebar kemerahan, pipinya menggantung, dan penampilannya tampak ramah walaupun mulutnya memancarkan kekejaman dan kelicikan.

"Pasti telah terjadi kekeliruan, Tuan-tuan," katanya dengan tenang. "Saya yakin Anda salah alamat. Jika Anda terus ke sebelah sana, Anda mungkin..."

"Sudahlah, kami tak punya banyak waktu," kata sahabatku dengan tegas. "Nama Anda Henry Peters, asal dari Adelaide, mantan Pendeta Dr. Shlessinger, dari Baden dan Amerika Selatan. Saya yakin akan hal ini sebagaimana saya yakin nama saya sendiri Sherlock Holmes."

Peters, begitulah sebaiknya kupanggil dia, tampak agak terkejut. Dia menatap orang yang memburunya dengan tajam "Saya kira nama Anda tak membuat saya takut, Mr. Holmes," katanya dengan dingin. "Kalau hati nurani seseorang begitu entengnya, Anda tak bisa menggertaknya. Ada urusan apa sampai Anda datang ke tempat saya?"

"Saya ingin tahu apa yang telah Anda lakukan terhadap Lady Frances Carfax yang telah Anda ajak bergabung sejak dari Baden."

"Saya justru yang akan senang kalau Anda bisa mengatakan kepada saya di mana wanita itu berada," Peters menjawab. "Ada tagihan sejumlah hampir seratus pound yang harus dibayarnya, sedang dia hanya meninggalkan sepasang liontin yang tak seberapa harganya. Dia sendiri yang ingin bergabung dengan Mrs. Peters dan saya di Baden—memang saya pakai nama lain waktu itu—dan dia terus bersama kami sampai di London. Saya yang menanggung semua biaya perjalanannya. Begitu sampai di London, dia menghilang, dan sebagaimana saya katakan, dia hanya meninggalkan perhiasan kunonya sebagai pembayar utangnya. Kalau Anda bisa menemukan wanita itu, Mr. Holmes, saya akan sangat berutang budi."

"Saya memang bermaksud menemukannya," kata Sherlock Holmes. "Saya akan geledah rumah ini sampai saya menemukannya."

"Mana surat izin geledah Anda?"

Holmes mengeluarkan pistol dari sakunya. "untuk sementara inilah izin geledah yang saya miliki, yang lebih sah akan segera menyusul."

"Anda perampok kalau begitu."

"Terserah apa penilaian Anda," kata Holmes dengan gembira. "Rekan saya ini juga penjahat yang berbahaya, dan kami berdua akan menjarah rumah ini."

Lawan kami membuka pintu.

"Panggil polisi, Annie!" katanya. Terdengar gemeresik gaun wanita di gang, dan pintu depan dibuka lalu ditutup lagi.

"Waktu kita amat sempit, Watson," kata Holmes. "Jangan coba-coba menghalangi kami, Peters, atau Anda akan terluka. Di mana peti mati yang kemarin dikirim kemari?"

"Memangnya Anda mau apa? Peti itu ada isinya."

"Saya mau lihat mayat itu."

"Tak bisa, tanpa izin saya."

"Kalau begitu, tak perlu izin." Dengan cepat Holmes mendorong pria itu ke samping lalu berjalan ke ruang muka. Di hadapan kami ada sebuah pintu yang setengah terbuka. Kami masuk ke ruangan itu. Ternyata ruang makan. Peti mati itu terletak di atas meja makan diterangi lilin yang temaram Holmes menyalakan lampu gas dan membuka tutup peti mati itu. Di dalamnya tergeletak sosok yang kerempeng. Sinar lampu menerangi wajah yang sudah tua dan keriput. Sekalipun telah mengalami kekejaman kelaparan, atau penyakit, tak mungkin mayat ini mayat Lady Frances yang masih cantik. Wajah Holmes memancarkan keheranan yang berbaur dengan kelegaan.

"Syukurlah!" gumamnya. "Mayat orang lain."

"Anda salah tebak kali ini, Mr. Sherlock Holmes," kata Peters yang mengikuti kami.

"Mayat siapa itu?"

"Kalau Anda mau tahu, dia pengasuh istri saya, namanya Rose Spender, yang kami temukan di Rumah Sakit Jompo Brixton. Kami membawanya kemari, memeriksakannya ke Dr. Horsom yang tinggal di Firbank Villas Nomor 13—boleh Anda catat alamatnya, Mr. Holmes—dan merawatnya dengan penuh kasih, sebagaimana layaknya orang Kristen yang baik. Pada hari ketiga setelah tinggal di sini, dia mati—surat keterangan dokter menyebutkan karena sakit tua, tapi Anda mungkin punya pendapat lain? Kami mengatur agar pemakamannya diurus Toko Stimson & Co., yang di Kennington Road, dan rencananya pemakaman akan dilaksanakan jam delapan pagi besok. Adakah sesuatu yang salah, Mr. Holmes? Anda telah membuat kesalahan konyol, dan Anda akan tanggung risikonya. Saya rela membayar berapa pun untuk memiliki foto Anda sewaktu mengangkat tutup peti, lalu dengan sangat terkejut Anda melihat wajah wanita tua berumur sembilan puluh tahun, dan bukannya Lady Frances Carfax."

Ekspresi wajah Holmes tenang-tenang saja walaupun dia diledek lawannya, tapi tangannya yang terkepal menunjukkan betapa jengkelnya dia saat itu.

"Saya akan menggeledah rumah Anda," katanya.

"Anda nekat, ya!" teriak Peters ketika terdengar suara wanita dan langkah-langkah di gang. "Coba saja kita lihat. Kemari, Pak Polisi. Kedua orang ini masuk ke rumah kami secara paksa, dan saya tak bisa mengusir mereka. Tolong saya agar mereka segera pergi dari rumah ini."

Dua polisi berdiri di pintu. Holmes menunjukkan kartu namanya.

"Ini nama dan alamat saya. Dan ini rekan saya, Dr. Watson."

"Syukurlah, Sir, kami kenal Anda dengan baik," kata si sersan, "tapi memang Anda tak bisa melanjutkan operasi Anda tanpa membawa surat geledah."

"Tentu saja. Saya tahu itu."

"Tangkap dia," teriak Peters.

"Kami tahu ke mana harus mencari beliau, kalau beliau memang dibutuhkan," kata si sersan dengan anggun, "tapi Anda sebaiknya meninggalkan rumah ini, Mr. Holmes."

"Ya, Watson, kita harus pergi."

Semenit kemudian kami sudah berada di jalanan. Sikap Holmes sangat dingin, tapi aku merasa sangat marah dan terhina. Si sersan mengikuti kami.

"Maaf, Mr. Holmes, tapi begitulah hukumnya."

"Tepat, Sersan, saya tak menyalahkan Anda."

"Tentunya ada alasan yang kuat mengapa Anda masuk ke rumah itu. Kalau ada yang bisa saya bantu..."

"Kasus wanita yang hilang, Sersan, dan menurut kami, dia ada di rumah itu. Saya mau minta surat geledah sekarang juga."

"Kalau begitu, saya akan mengawasi penghuni rumah itu, Mr. Holmes. Kalau ada sesuatu, saya pasti akan mengabari Anda."

Waktu itu baru pukul sembilan, dan kami sangat bersemangat untuk langsung melakukan pelacakan. Pertama-tama, kami pergi ke Rumah Sakit Jompo Brixton, pihak rumah sakit membenarkan pengakuan Peters. Sepasang suarni-istri yang sangat baik hati telah datang ke situ beberapa hari sebelumnya dan membawa pulang wanita tua pikun yang mereka akui sebagai mantan pembantu mereka. Tak ada yang kaget ketika kami memberitahukan bahwa wanita tua itu telah meninggal.

Berikut kami mengunjungi dokter yang disebut oleh Peters. Memang dia telah dipanggil dan memang benar wanita tua itu meninggal karena sakit tua, bahkan dia menyaksikan ketika wanita itu mengembuskan napasnya yang terakhir. Dia yang menandatangani surat keterangan kematian. "Saya jamin semuanya normal dan tak ada permainan apa pun dalam hal itu," katanya. Tak ada yang mencurigakan dokter itu di rumah Peters, kecuali bahwa biasanya orang sekelas mereka punya pembantu rumah tangga, sedangkan mereka tidak.

Akhirnya, kami menuju Scotland Yard. Kami menemui kesulitan dalam prosedur mendapatkan surat izin geledah yang kami inginkan, sehingga kami tak bisa mendapatkannya dengan cepat. Tanda tangan hakim baru bisa kami dapatkan keesokan harinya. Holmes diharapkan datang sekitar pukul sembilan dan mengurusnya bersama Lestrade. Begitulah hari itu berakhir.

Tetapi menjelang tengah malam sersan sahabat baru kami datang. Dia melihat lampu berkedip-kedip di beberapa jendela rumah besar yang gelap gulita itu, tapi tak ada seorang pun yang masuk atau keluar dari rumah itu. Dengan kesabaran yang dipaksakan kami menunggu datangnya esok hari.

Sherlock Holmes sangat uring-uringan, sehingga tak mungkin diajak bicara. Dia juga sangat gelisah, sehingga sulit tidur. Ketika aku meninggalkannya, dia sedang tak henti-hentinya merokok, sementara kedua alisnya mengerut menjadi satu garis dan jari-jarinya yang panjang dan gelisah mengetuk-ngetuk pinggiran kursi malas. Dia sedang berpikir keras untuk menyelesaikan misteri ini. Beberapa kali semalaman itu, aku mendengar langkahnya mondar-mandir di sekeliling rumah.

Aku baru saja terbangun keesokan paginya, ketika dia bergegas memasuki kamarku. Dia mengenakan baju tidur, tapi wajahnya yang kuyu dan matanya yang menatap kosong menunjukkan dia tak tidur semalaman.

"Jam berapa upacara pemakamannya? Jam delapan, ya?" tanyanya dengan penuh semangat "Sekarang sudah jam 07.20. Ya Tuhan, Watson, betapa bodohnya aku! Cepat, sobat, cepat! Ini masalah hidup atau mati—kesempatan hidupnya satu dibanding seratus. Aku tak akan memaafkan diriku, tak akan, kalau kita sampai terlambat.

Tak sampai lima menit kemudian kami sudah melaju melintasi Baker Street. Walau kereta dipacu secepat-cepatnya, sudah pukul 07.35 ketika kami melewati Big Ben, dan tepat pukul delapan ketika kami memasuki Brixton Road. Syukurlah, ternyata rombongan pemakaman pun terlambat. Pukul 08.10, kereta jenazah masih berada di depan rumah, dan tepat ketika kereta kami berhenti di situ, peti mati yang diusung tiga orang muncul di ambang pintu. Holmes melompat ke depan dan menghalangi langkah mereka.

"Kembalikan!" teriaknya sambil mendorong pengusung yang terdepan. "Kembalikan peti mati ini sekarang juga!"

"Apa-apaan kau ini? Sekali lagi aku mau tanya, mana surat izin geledahmu?" teriak Peters dengan marah, wajah merahnya yang lebar menatap dari belakang peti mati.

"Suratnya dalam perjalanan kemari. Peti mati ini akan tetap tinggal di dalam rumah sampai surat itu tiba."

Ketegasan suara Holmes mempengaruhi ketiga orang yang mengusung peti mati itu. Secara tiba-tiba Peters rnenghilang ke dalam rumah, sehingga mereka menuruti perintah Holmes. "Cepat, Watson, cepat! Nih obengnya!" teriaknya ketika peti mati itu sudah diletakkan di atas meja. "Nih, ada satu lagi untukmu, teman! Satu koin emas kalau bisa membuka tutup peti ini dalam satu menit! Jangan tanya macam-macam—cepat lakukan! Ya, begitu, bagus! Satu lagi! Dan satu lagi! Nah, sekarang angkat bersama-sama! Ya, begitu! Ya, begitu! Ah, berhasil akhirnya!"

Bersama-sama kami membongkar tutup peti mati itu. Ketika itulah bau kloroform yang kuat dan memabukkan merebak dari dalam peti. Sesosok tubuh tergolek di dalamnya, kepalanya tertutup kain wol katun yang telah dicelup ke obat keras itu. Holmes menyibakkan kain penutup itu dan tampaklah wajah kaku seorang wanita cantik berusia setengah baya. Dalam sekejap dirangkulnya tubuh itu dan diangkatnya sampai ke posisi duduk.

"Apakah dia sudah meninggal, Watson? Masih adakah harapan? Pastilah kita tak terlambat!"

Selama setengah jam kami berupaya, tampaknya kami sudah terlambat. Napasnya yang tersumbat ditambah dengan uap kloroform beracun yang mengelilinginya, membuat Lady Frances tampaknya tak bernyawa lagi. Tapi akhirnya, setelah ditolong dengan pernapasan buatan, dengan injeksi eter, dan dengan daya upaya sebisanya, mulai ada tanda kehidupan. Kelopak matanya mulai bergerak, wajahnya yang kaku mulai melemas... Terdengar derak kereta di luar. Holmes menyibakkan kerai jendela. "Lestrade datang membawa surat izin geledah," katanya. "Buruannya ternyata sudah melarikan diri. Dan berikutnya," tambahnya ketika mendengar langkah-langkah berat berlari di gang, "adalah orang yang lebih berhak merawat Lady Frances dibandingkan dengan kita. Selamat pagi, Mr. Green, sebaiknya kita secepatnya memindahkan Lady Frances dari peti mati ini. Sementara itu, silakan melanjutkan upacara pemakaman untuk wanita tua yang masih ada di bagian bawah peti. Semoga dia beristirahat dengan damai."

"Kalau kau merasa perlu menuliskan kasus ini, sobatku Watson," kata Holmes malam itu, "ini akan menjadi contoh yang baik untuk menunjukkan keterbatasan otak manusia. Sehebat apa pun otak kita, sekali waktu bisa saja memudar. Kita harus menyadari hal ini dan berusaha memperbaikinya. Sehubungan dengan proses perbaikan yang kumaksud, aku mungkin bisa memberikan sedikit penjelasan. Semalam aku dihantui keyakinan bahwa pasti telah ada petunjuk, baik dalam bentuk kalimat ataupun kejanggalan yang sempat kulihat, tapi yang lalu tak kuperhatikan sehingga kulupakan begitu saja. Lalu, secara tiba-tiba, menjelang fajar, aku mengingat kata-kata yang diucapkan pengurus yayasan pemakaman sebagaimana dilaporkan kepadaku oleh Philip Green. Si pengurus mengatakan, 'Seharusnya sudah tiba sebelum ini. Memakan waktu lebih lama karena tak seperti biasanya.' Dia membicarakan peti mati yang dipesan. Peti itu tidak seperti biasanya. Artinya, peti itu dibuat menurut ukuran yang khusus. Kenapa demikian? Kenapa? Dalam sekejap, aku ingat akan kedalaman peti itu, dan mayat kurus di dalamnya. Untuk apa peti mati itu dibuat begitu dalam padahal mayatnya begitu kecil? Jawabannya hanyalah, supaya ada tempat untuk mayat lain. Keduanya akan dimakamkan dengan satu surat keterangan kematian. Begitu jelasnya, kalau saja ketajaman otakku tak memudar. Lady Frances akan dimakamkan jam delapan pagi. Kita harus mencegah peti itu dibawa keluar rumah.

"Sungguh kesempatannya kecil sekali untuk menemukan Lady Frances dalam keadaan hidup, tapi toh tetap ada, sebagaimana terbukti kemudian. Sejauh ini, pasangan itu memang tak pernah melakukan pembunuhan. Bisa saja mereka enggan mengakhiri hidup Lady Frances secara langsung. Mereka bisa menguburnya tanpa perlu menyaksikan bagaimana korbannya menemui ajalnya. Bahkan bila kubur itu nantinya dibongkar mereka masih punya kesempatan mengelak dari tuduhan. Kuharap begitulah pertimbangan mereka. Kita bisa mereka-reka kejadiannya. Kau sudah melihat ruangan di lantai atas tempat Lady Frances disekap. Pasangan itu masuk ke sana, membiusnya dengan kloroform, memboyongnya ke bawah, menuangkan kloroform lagi ke peti mati untuk meyakinkan jangan sampai Lady Frances terbangun, lalu menyekrup tutup peti itu. Cara yang sangat pintar, Watson. Sesuatu yang baru bagiku dalam dunia kriminal. Kalau mantan misionaris dan pasangannya ini tak tertangkap oleh Lestrade, aku bisa mengharap akan mendengar kejahatan yang hebat-hebat di masa yang akan datang."