1

"Nah, Mrs. Warren, menurut saya tak ada alasan bagi Anda untuk gelisah dan juga tak ada alasan bagi saya—soalnya waktu saya sangat berharga—untuk ikut campur dalam urusan ini. Saya benar-benar sedang banyak urusan lain," kata Sherlock Holmes sambil kembali memperhatikan buku catatannya. Dia sedang mengatur dan memberi indeks beberapa bahan kisah petualangannya akhir-akhir ini.

Tapi sang pemilik pondokan tetap berkeras hati—sebagaimana wanita pada umumnya. Dia tak beranjak dari tempatnya berdiri.

"Anda menangani kasus seorang penyewa kami tahun lalu, kan?" katanya. "Namanya Mr. Fairdale Hobbs."

"Ah, ya—kasus sepele."

"Tapi dia terus bercerita tentang kasus itu—bagaimana baik hatinya Anda, dan cara Anda yang hebat dalam menguak misteri itu. Selalu terngiang kata-katanya pada saat saya ragu-ragu dan bingung. Saya tahu Anda pasti bisa kalau Anda mau."

Holmes memang tak tahan kalau disanjung-sanjung. Apalagi kalau kebaikan hatinya disebut-sebut. Kedua hal itu membuatnya menyerah. Dia menarik kursinya.

"Baiklah, baiklah, Mrs. Warren, mari kita dengarkan kisah Anda. Anda tak keberatan kalau saya merokok, kan? Terima kasih, Watson—tolong korek apinya juga! Jadi, Anda gelisah karena penyewa kamar Anda yang baru senangnya mengunci diri di kamarnya, dan Anda tak pernah melihat batang hidungnya. Memangnya kenapa, Mrs. Warren? Seandainya saya jadi penyewa kamar Anda, saya pun akan sering tak kelihatan selama berminggu-minggu."

"Benar, Sir, tapi yang ini lain. Saya ketakutan dibuatnya, Mr. Holmes, sampai tak bisa tidur. Soalnya saya cuma mendengar langkah-langkah kakinya mondar-mandir di dalam kamar sejak pagi sampai larut malam, tapi tak sedetik pun saya pernah melihat sosoknya. Saya tak tahan lagi. Bahkan suami saya menjadi gelisah, tapi dia kan pergi bekerja sepanjang hari, sedangkan saya tinggal di rumah seharian. Jadi sayalah yang harus menghadapinya. Untuk apa dia bersembunyi seperti itu? Apa yang telah dilakukannya? Saya di rumah sepanjang hari hanya ditemani anak gadis saya, dan saya benar-benar sudah tak tahan lagi."

Holmes menggerakkan tubuhnya ke depan, dan menepuk pundak wanita itu. Dia sepertinya mempunyai kemampuan hipnotis dalam menenangkan orang yang sedang galau. Pandangan ketakutan yang terpancar dari wajah wanita itu langsung memudar, dan sikapnya yang gelisah berangsur-angsur mereda. Dia duduk di kursi yang ditunjukkan Holmes.

"Untuk menangani kasus ini, saya harus tahu setiap perinciannya," kata Holmes. "Silakan dipikirkan sejenak. Hal sepele sekalipun bisa menjadi sesuatu yang sangat penting. Anda mengatakan pria itu mulai menyewa kamar di rumah Anda sepuluh hari yang lalu, dan membayar lunas untuk dua minggu, begitukah?"

"Dia menanyakan tarif sewanya, Sir, dan saya katakan tarifnya lima puluh shilling seminggu untuk kamar tidur berikut kamar tamu di lantai atas, termasuk makan."

"Lalu?"

"Dia mengatakan, 'Saya bersedia membayar lima pound seminggu kalau syarat-syarat saya bisa disetujui.' Saya orang miskin, Sir, dan gaji suami saya tak begitu tinggi, jadi uang sewa yang ditawarkannya sangat berarti bagi kami. Pria itu mengeluarkan uang kertas sepuluh pound dan mengibar-ngibarkannya di hadapan saya. 'Anda akan menerima sejumlah ini dua minggu sekali untuk jangka waktu lama kalau Anda setuju dengan syarat-syarat yang saya inginkan,' katanya. 'Kalau tidak, saya akan segera pamit.'"

"Apa syarat-syarat yang diajukannya?"

"Pertama: dia harus punya kunci rumah sendiri. Itu bukan masalah; memang begitulah biasanya. Kedua: dia sama sekali tak mau diganggu, apa pun alasannya."

"Itu pun tak aneh, kan?"

"Biasanya tidak, Sir, tapi kali ini lain. Dia sudah tinggal di lantai atas rumah kami selama sepuluh hari, tapi baik saya, suami saya, maupun anak kami tak pernah melihatnya. Kami hanya mendengarnya mondar-mandir dari pagi hingga malam. Dia hanya pernah keluar rumah sekali, yaitu pada malam pertama dia tinggal bersama kami."

"Oh, jadi pada malam pertama dia keluar rumah?"

"Ya, Sir, dan dia kembali larut sekali—kami semua sudah tidur. Sebelumnya dia memang sudah berpesan agar saya jangan memasang palang pintu depan. Saya mendengar ketika dia pulang dan naik ke lantai atas—waktu itu sudah lewat tengah malam."

"Bagaimana dengan makanannya?"

"Setiap kali ingin makan, dia akan membunyikan bel, lalu kami membawa makanannya ke lantai atas dan menaruhnya di kursi di luar kamar tidurnya. Kalau sudah selesai makan, dia akan membunyikan bel lagi, lalu kami mengambil peralatan makan yang ditaruhnya di kursi yang sama. Kalau membutuhkan apa-apa, dia akan menuliskannya dengan huruf cetak di secarik kertas yang ditaruhnya pada peralatan makannya."

"Ditulis dengan huruf cetak?"

"Ya, Sir, dengan huruf cetak dan menggunakan pensil. Singkat saja. Ini, saya bawa contohnya— SABUN. Lalu berikutnya—GERETAN. Pada hari pertama dia minta ini—DAILY GAZETTE. Jadi tiap hari saya mengantarkan koran itu bersama makan paginya."

"Wah, Watson," kata Holmes sambil dengan penasaran menatap potongan-potongan kertas yang diserahkan wanita itu, "ada yang aneh. Mau menyendiri bisa dimengerti, tapi menulis dengan huruf cetak? Orang biasanya segan. Kenapa tidak ditulis biasa saja? Bagaimana menurutmu, Watson?"

"Dia ingin menyembunyikan tulisan tangannya."

"Tapi, kenapa? Apa ruginya kalau induk semangnya mengetahui tulisan tangannya? Namun, pendapatmu mungkin ada benarnya. Satu pertanyaan lagi, mengapa pesan-pesannya begitu singkat?"

"Entahlah."

"Ini memberi kita peluang untuk berspekulasi secara cerdik. Hurufnya lebar-lebar, pensilnya agak keunguan—ini tak biasa. Lihat, kertasnya disobek persis di samping huruf terakhir, sehingga humf S dari kata SABUN hilang sedikit. Ini tentu ada maksudnya, bukan begitu, Watson?"

"Dia mau berhati-hati?"

"Tepat sekali. Jelas ada bercak ibu jari, mungkin bisa memberikan petunjuk tentang identitas pria itu. Nah, Mrs. Warren, Anda katakan pria ini bertubuh sedang, kulitnya gelap, dan berjanggut. Berapa kira-kira umumya?"

"Masih muda, Sir—belum tiga puluh."

"Baiklah, masih ada hal lain yang ingin Anda sampaikan?"

"Bahasa Inggrisnya bagus, Sir, padahal kalau diperhatikan aksennya, dia pastilah orang asing."

"Pakaiannya bagus-bagus?"

"Sangat bagus, Sir—mirip orang terhormat. Selalu pakai hitam—sepanjang pengetahuan kami—tak pernah warna lain."

"Dia tak pernah menyebutkan namanya?"

"Tidak, Sir."

"Dan tak pernah menerima surat atau tamu?"

"Tidak sama sekali."

"Tapi Anda atau putri Anda tepatnya pernah masuk ke kamarnya?"

"Tidak, Sir, semuanya dia tangani sendiri."

"Wah! benar-benar luar biasa. Bagaimana dengan koper-kopernya?"

"Dia membawa satu tas cokelat besar—itu saja."

"Baiklah, tampaknya tak banyak bahan yang bisa membantu kita. Benarkah Anda mengatakan, tak ada apa-apa yang telah Anda dapatkan dari kamar itu—apa pun?"

Pemilik pondokan itu mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya, lalu menuangkan isinya ke atas meja—dua batang korek api bekas dan sebuah puntung rokok.

"Barang-barang ini saya dapatkan dari baki tempat makannya tadi pagi. Saya membawanya karena saya mendengar Anda bisa mendapatkan informasi-informasi yang luar biasa dari barang-barang sepele."

Holmes mengangkat bahunya.

"Tapi barang-barang ini tak memberikan informasi apa-apa," katanya. "Dua korek api itu tentu saja bekas dipakai menyulut rokok. Itu jelas terlihat dari bentuknya. Separo batang korek dipakai untuk menyalakan pipa atau rokok. Tapi, he! Puntung rokok ini aneh sekali. Bukankah Anda mengatakan pria itu berkumis dan berjenggot?"

"Ya, Sir."

"Saya jadi heran. Menurut saya hanya orang yang tak berjenggot yang bisa merokok seperti ini. Coba, Watson, jenggotmu yang tipis saja pasti akan terbakar."

"Pakai pipa, mungkin?" komentarku.

"Tidak, tidak; puntung rokoknya kusut. Jangan-jangan ada dua orang yang menghuni kamar sewaan Anda, Mrs. Warren?"

"Tidak, Sir. Makannya hanya sedikit sampai saya senng berpikir itu bahkan tak cukup untuk konsumsi satu orang."

"Baiklah, saya rasa kita perlu menunggu sampai mendapatkan beberapa bahan lain. Toh Anda tak dirugikan, kan? Anda telah menerima pembayaran sewa kamar, dan sang penyewa tak menimbulkan masalah bagi Anda, walaupun orangnya jelas nyentrik. Dia telah membayar cukup mahal untuk kamar itu, jadi kalau dia mau bersembunyi, lebih baik Anda diamkan saja. Kita tak bisa mengganggunya sampai kita menemukan alasan yang bisa menyatakan tindakannya itu salah. Saya mau menangani kasus ini, dan saya tak akan menyepelekannya. Silakan melapor kepada saya jika ada informasi baru, dan kalau diperlukan, saya akan langsung bertindak.

"Ada beberapa hal yang menarik dari kasus ini, Watson," komentarnya ketika wanita itu sudah pergi. "Memang, bisa saja cuma sepele—seorang eksentrik saja. Tapi bisa juga jauh lebih dalam dari apa yang kelihatan. Hal pertama yang menarik ialah kemungkinan besar saat ini yang tinggal di kamar sewaan itu bukanlah si pria yang telah menemui wanita itu dan membayar biaya sewa."

"Mengapa kau berpikir demikian?"

"Dilihat dari bentuk puntung rokok itu, juga dari fakta pria itu hanya pernah keluar rumah sekali, tak lama setelah dia masuk ke kamar sewanya. Dia kembali—atau bisa saja orang lain yang kembali—waktu semua saksi sudah tidur. Kita tak punya bukti apakah orang yang kembali ke situ sama dengan orang yang keluar dari situ. Bahasa Inggris pria yang menyewa kamar itu bagus, sedang si penghuni kamar menulis "geretan", bukannya "korek api" yang lebih umum dipakai. Jadi, kuduga dia mendapatkan kata itu dari kamus yang memang memberikan beberapa alternatif terjemahan dan arti suatu kata, lalu dia comot salah satu di antaranya. Gaya pesannya yang singkat-singkat itu mungkin dimaksudkan untuk menyembunyikan kemampuan bahasa Inggrisnya yang terbatas. Ya, Watson, ada alasan-alasan kuat untuk mencurigai terjadinya pertukaran penghuni."

"Tapi untuk apa mereka berbuat begitu?"

"Ah! Di situlah letak masalah kita. Pokoknya aku telah mendapatkan jalur penyelidikan yang cukup jelas."

Dia mengambil buku besar berisi potongan-potongan berita keluarga dari semua koran di London, lalu meletakkannya di meja.

"Wah!" katanya sambil membalik-balik halaman buku itu. "Isinya rintihan, tangisan, dan teriakan melulu! Bingung aku jadinya, banyak benar kejadian unik di London! Namun sangat menarik untuk dipelajari! Penghuni kamar itu sendirian, dan tak bisa dikirimi surat karena dia ingin merahasiakan keberadaannya. Jadi, bagaimana kalau ada orang yang ingin mengirimkan pesan kepadanya tanpa mengusik rahasianya? Jelas melalui iklan di surat kabar. Rasanya tak ada jalan lain, dan untungnya kita hanya perlu memperhatikan iklan-iklan dari satu koran. Ini, potongan-potongan iklan Daily Gazette selama dua minggu terakhir. 'Wanita dengan mantel bulu hitam di Klub Ski Prince'—itu kita lewatkan saja. 'Jimmy jelas tak akan menyakiti hati ibunya'—yang ini tak ada hubungannya sama sekali. 'Wanita yang pingsan di bus yang menuju ke Brixton'—aku tak tertarik. 'Setiap hari hatiku merindukan..,' Bohong, Watson—bohong besar! Ah! Yang ini agak lebih mungkin. Coba dengarkan, 'Bersabarlah. Akan dicari cara berkomunikasi yang lebih baik. Sementara ini, lewat kolom ini. —G.' Ini dipasang dua hari setelah sang penyewa masuk ke rumah wanita itu. Kedengarannya masuk akal, kan? Orang lain yang masih menjadi misteri ini pasti mengerti bahasa Inggris, walaupun mungkin dia tak bisa menulis dalam bahasa Inggris. Coba kita lihat apakah kita bisa melacak jejak selanjutnya. Ya, ada lagi—tiga hari kemudian. 'Sedang mengatur segalanya. Bersabarlah dan bertindaklah bijaksana. Mendung akan segera berlalu. —G.' Sesudah itu tak ada kabar apa-apa selama seminggu. Lalu muncul berita yang penuh kepastian, 'Jalan mulai mulus. Kalau aku punya kesempatan, kirim berita via kode yang telah disepakati—satu: A, dua: B, dan seterusnya. Jawaban takkan lama. —G." Iklan ini dimuat di koran kemarin, dan hari ini tak ada berita apa-apa. Benar-benar cocok dengan keadaan penyewa kamar Mrs. Warren. Kalau kita bersedia menunggu sejenak, Watson, kasus ini pasti akan menjadi lebih jelas."

Apa yang dikatakan Holmes memang terbukti, karena keesokan harinya kudapati sahabatku berdiri membelakangi perapian sambil tersenyum penuh kemenangan.

"Bagaimana dengan ini, Watson?" teriaknya sambil mengambil koran dari meja. "'Gedung tinggi merah dengan tembok bata putih. Lantai tiga. Jendela kedua sebelah kiri. Selewat petang. —G.' Cukup jelas, bukan? Kurasa kita perlu mengamati rumah Mrs. Warren dan sekitarnya setelah makan siang. Ah, Mrs. Warren datang, ada berita apa pagi-pagi begini?"

Klien kami memasuki ruangan dengan tergopoh-gopoh, menandakan telah terjadi perkembangan bam yang sangat penting.

"Kita harus lapor polisi, Mr. Holmes!" teriaknya. "Saya tak tahan lagi! Dia harus segera enyah dari rumah saya berikut semua barangnya. Saya tadi berniat lari ke atas untuk mengatakan hal ini, lalu terpikir untuk minta pendapat Anda terlebih dahulu. Habis sudah kesabaran saya, apalagi kalau sampai memukul suami saya...."

"Memukul Mr. Warren?"

"Pokoknya bertindak kasar terhadapnya."

"Tapi siapa yang bertindak kasar terhadap suami Anda?"

"Ah! Justru itu yang ingin kami ketahui! Kejadiannya tadi pagi, Sir. Suami saya bekerja sebagai pengawas di perusahaan Morton & Waylight, di Tottenham Court Road. Dia harus berangkat kerja sebelum jam tujuh. Pagi tadi ketika dia baru berjalan beberapa langkah, dua orang mengikutinya. Mereka menyekap muka suami saya dengan jas, lalu mendorongnya masuk ke kereta yang sudah menunggu di ujung jalan. Mereka membawanya berkeliling selama satu jam, lalu membuka pintu kereta dan mendorongnya keluar. Suami saya tergeletak di jalanan dalam keadaan sangat ketakutan, sehingga tak sempat memperhatikan ke mana larinya kereta itu. Ketika sadar, dia segera berdiri dan ternyata berada di Hampstead Heath. Dia pulang naik bus, dan sampai sekarang masih berbaring di sofa di rumah kami sementara saya menuju kemari untuk mengabarkan kejadian ini kepada Anda."

"Menarik sekali," kata Holmes. "Apakah suami Anda mengenali kedua orang yang membekuknya—atau apakah dia mendengar mereka mengatakan sesuatu?"

"Tidak, dia betul-betul kaget. Yang dia tahu hanyalah dia telah diculik lalu dilepaskan lagi seolah-olah oleh kekuatan gaib. Paling sedikit ada dua orang atau mungkin tiga di dalam kereta itu selain dirinya."

"Dan Anda menghubungkan penculikan ini dengan penyewa kamar Anda?"

"Yah, kami sudah tinggal di rumah im selama lima belas tahun dan tak pernah mengalami hal seperti ini. Saya sudah tak tahan lagi menghadapi si penyewa. Uang bukanlah segala-galanya. Saya akan memintanya keluar dari rumah saya hari ini juga."

"Tunggu sebentar, Mrs. Warren. Jangan terburu-buru. Saya mulai berpikir kasus ini mungkin jauh lebih serius dari apa yang kelihatan pada awalnya. Kini jelas ada bahaya yang sedang mengancam penyewa kamar di rumah Anda. Juga jelas musuh-musuhnya, yang menantikannya di dekat rumah Anda, telah salah menangkap orang, yaitu suami Anda, dalam keremangan pagi yang berkabut. Ketika menyadari mereka telah keliru, mereka membebaskan suami Anda. Apa yang akan mereka lakukan seandainya mereka tidak salah menangkap orang, kita hanya bisa menduga-duga."

"Apa yang harus saya lakukan, Mr. Holmes?"

"Saya sangat ingin melihat penyewa kamar di rumah Anda ini, Mrs. Warren."

"Saya tak tahu bagaimana itu bisa dilakukan kecuali dengan mendobrak pintu kamarnya. Begitu saya menuruni tangga setelah menaruh nampan makannya, saya selalu mendengarnya membuka kunci pintu."

"Dia harus keluar untuk mengambil nampan itu, kan? Nah, kita akan bersembunyi dan mengintip-nya ketika dia keluar kamar."

Wanita itu berpikir sejenak.

"Baiklah, Sir. Di seberang kamarnya ada kamar lain. Saya bisa menyediakan kaca, dan kalau Anda bersembunyi di belakang pintu..."

"Bagus sekali!" kata Holmes. "Jam berapa makan siangnya?"

"Sekitar jam satu, Sir."

"Saya dan Dr. Watson akan datang sebelumnya. Nah, Mrs. Warren, sampai nanti."

Pada pukul setengah satu siang, kami sudah menaiki tangga rumah Mrs. Warren—rumah bata tinggi dan sempit di Great Orme Street, gang kecil di timur laut British Museum. Letak rumah itu sendiri hampir di sudut gang, sehingga dari situ bisa terlihat Howe Street yang penuh dengan rumah mewah. Sambil tergelak Holmes menunjuk ke salah satu flat mewah yang menjulang tinggi sehingga sangat mencolok mata.

"Kaulihat, Watson!" katanya-. "Gedung tinggi merah dengan tembok batu putih. Kita tahu tempatnya, kita tahu kodenya; jadi tugas kita pastilah sepele saja. Ada tanda 'Disewakan' di jendelanya. Flat itu pastilah tak berpenghuni dan di situlah rekan si penyewa menunggu. Well, Mrs. Warren, bagaimana sekarang?"

"Saya sudah siapkan ruangannya untuk Anda. Tolong tanggalkan sepatu Anda sebelum naik. Mari."

Kamar yang sudah disiapkan wanita ini bagus sekali untuk tempat persembunyian. Kacanya diletakkan sedemikian rupa sehingga kami yang duduk di dekatnya dalam gelap dapat melihat pintu kamar seberang dengan jelas. Mrs. Warren langsung meninggalkan kami karena samar-samar terdengar suara bel yang dibunyikan penghuni kamar seberang yang misterius ini. Tak lama kemudian Mrs. Warren rauncul membawa baki, menaruhnya di kursi dekat pintu yang terus tertutup itu, lalu meninggalkan tempat itu dengan langkah-langkah yang sangat keras terdengar. Sambil merunduk-runduk di sudut pintu, kami terus memandang ke arah kaca. Tiba-tiba, ketika langkah-langkah Mrs. Warren sudah tak terdengar lagi, terdengar suara kunci dibuka, lalu pegangan pintu diputar, dan tampaklah dua tangan kurus terjulur untuk mengangkat baki berisi makanan itu. Sejenak kemudian, baki itu sudah dikembalikan, dan sekilas aku melihat bayangan sesosok wajah cantik dan ketakutan menatap ruangan tempat kami bersembunyi yang sedikit terbuka pintunya. Pintu seberang ditutup lagi, dikunci, dan keadaan sunyi kembali. Holmes menggapai lengan bajuku, dan kami berdua menyelinap menuruni tangga.

"Saya akan kemari lagi nanti malam," katanya kepada pemilik rumah yang telah menunggu kami dengan penuh rasa ingin tahu. "Kurasa, Watson, lebih baik kita membicarakan kasus ini di rumah."

"Dugaanku benar," katanya sambil membenamkan diri di kursi goyang. "Yang tinggal di kamar itu ternyata orang lain. Yang tak kusangka adalah dia wanita—istimewa lagi, Watson."

"Dia sempat melihat kita."

"Well, dia melihat sesuatu yang mengganggunya. Itu pasti. Rangkaian kejadiannya jelas, bukan? Sepasang suami-istri melarikan diri ke London. Mereka melarikan diri dari bahaya yang mengerikan; ini terlihat dari sikap mereka yang sangat hati-hati. Ada urusan yang harus diselesaikan sang suami, sementara dia ingin meninggalkan istrinya di tempat yang aman. Itu jadi masalah rumit baginya, tapi dia bisa mengatasinya dengan caranya yang unik, dan begitu lihainya dia sampai kehadiran istrinya bahkan tak diketahui pemilik rumah. Jelaslah kini pesan-pesan yang ditulis dengan huruf cetak itu dimaksudkan agar rahasia sang istri tak terbongkar melalui tulisan tangannya yang biasa. Sang suami tak bisa dekat-dekat dengan istrinya, karena musuh-musuhnya akan mencium tempat persembunyian itu. Karena tak bisa berhubungan dengan istrinya secara langsung, dia memanfaatkan kolom keluarga di surat kabar. Sejauh ini semuanya jelas."

"Tapi apa yang menyebabkan semua ini?"

"Ah, ya, Watson—kau sangat praktis, sebagaimana biasanya! Apa penyebab semua ini? Kasus Mrs. Warren yang sepele makin berkembang menjadi sesuatu yang rumit. Hanya sejauh inilah bisa kita katakan: jelas ini bukan kasus kawin lari biasa. Kau sendiri melihat reaksi di wajah wanita itu ketika dia mencurigai adanya bahaya. Dan kita sudah mendapatkan berita tentang penyerangan yang dilakukan terhadap suami Mrs. Warner, yang dikira penyewa kamar itu. Kedua hal ini, ditambah dengan keberadaan mereka yang sangat dirahasiakan menunjukkan bahwa mereka sedang dihadang masalah yang menyangkut hidup-mati mereka. Penyerangan terhadap Mr. Warren lebih jauh menunjukkan bahwa pihak musuh, siapa pun mereka, tidak tahu penghuni kamar sewa itu sudah berganti. Kasus ini sangat unik dan rumit, Watson."

"Untuk apa kau menangani kasus ini? Imbalan apa yang akan kaudapatkan?"

"Imbalan apa? Semata-mata demi seni yang kukuasai, Watson. Kurasa, ketika kau memutuskan untuk menjadi dokter pun, kau pernah mempelajari kasus-kasus penyakit tertentu tanpa memikirkan apakah itu akan menghasilkan uang atau tidak, ya, kan?"

"Itu kan demi pendidikanku, Holmes."

"Pendidikan tak pernah berhenti, Watson. Pendidikan adalah rangkaian pelajaran yang semakin lama malah semakin tinggi nilainya. Kasus ini juga menjadi pelajaran bagiku. Memang tak menghasilkan uang atau penghargaan, tapi aku toh ingin menyelesaikannya. Menjelang senja nanti, kita akan mendapatkan perkembangan dalam penyelidikan kita."

Ketika kami kembali ke rumah Mrs. Warren, nuansa kelabu menyelimuti kota London. Maklumlah, malam itu musim dingin. Seluruh kota berwarna kelabu, hanya diseling sinar lampu kuning dari jendela-jendela rumah dan cahaya remang-remang lampu gas. Ketika kami mengintip dari ruang tamu rumah sewa itu, tampak sinar lampu kecil samar-samar di gedung seberang jalan.

"Ada orang yang sedang mondar-mandir di sana," bisik Holmes sambil mencondongkan wajahnya ke pinggir jendela. "Ya, aku bisa melihat bayangannya. Nah, kelihatan lagi! Pria itu membawa lilin. Sekarang dia menatap ke rumah ini. Dia ingin meyakinkan dirinya bahwa istrinya ada di sini. Sekarang dia mulai menyorotkan lilinnya. Tolong kau juga berusaha menangkap pesannya, Watson, nanti kita bandingkan hasil kita berdua. Satu kali—pasti maksudnya A. Berikutnya, berapa yang bisa kautangkap? Dua puluh. Aku juga. Berarti T. AT—cukup jelas? Lalu T lagi. Yang ini pasti awal kata kedua. Lalu—TENTA. Berhenti. Pasti masih ada lagi, Watson! ATTENTA tak ada maksudnya. Dipecah jadi tiga kata pun—AT. TEN. TA tak berarti apa-apa, kecuali kalau T.A. merupakan singkatan nama orang. Nah, mulai lagi! Bagaimana bunyinya? ATTE—lho, pesannya sama dengan yang tadi. Aneh, Watson, sangat aneh! Sekarang berhenti lagi! AT—malah diulangi untuk ketiga kalinya. ATTENTA—tiga kali berturut-turut! Berapa kali lagi dia akan mengulangi pesannya? Tidak, tampaknya dia sudah selesai. Dia sudah pergi dari jendela. Bagaimana menurutmu, Watson?"

"Pesan sandi rahasia, Holmes."

Sahabatku tiba-tiba tergelak karena berhasil mengartikan pesan itu. "Sandinya tak begitu sulit, Watson," katanya. "Bahasa Italia! A berarti pesan itu ditujukan kepada seorang wanita. 'Waspada! Waspada! Waspada!' Bagaimana, Watson?"

"Aku yakin kau benar."

"Pasti! Pesan yang sangat mendesak karena diulang sampai tiga kali. Waspada terhadap apa? Tunggu sebentar; pria itu menuju jendela lagi."

Sekilas kami melihat bayangan seorang pria yang merunduk-runduk dan sorot lilin di jendela seberang, lalu pesannya diperbarui, lebih cepat dari sebelumnya—begitu cepatnya sampai kami kewalahan mengikutinya.

"PERICOLO—Pericolo—Eh, apa maksudnya, Watson? Bahaya, kan? Aduh, dia mengirimkan tanda bahaya! Lihat, dia mengulanginya lagi! PERI. Wah, apa..."

Sorot lilin im tiba-tiba menghilang, sehingga jendela di lantai tiga itu gelap kembali. Tanda bahaya yang terakhir tiba-tiba terhenti. Kenapa, dan siapa yang menghentikan? Kami berdua berpikiran sama. Holmes langsung berlari dari tempatnya mengintip di jendela.

"Ini serius, Watson," teriaknya. "Sedang terjadi tindak kriminal di sana! Mengapa pengiriman pesan itu bisa berhenti mendadak? Mestinya aku menghubungi Scotland Yard, tapi waktunya sudah terlalu mendesak."

"Bagaimana kalau aku saja yang memanggil polisi?"

"Kita perlu memperjelas situasi dulu. Bisa jadi kenyataannya tak seburuk yang kita duga. Yuk, Watson, kita pergi ke seberang untuk melihat apa yang terjadi.

2

Ketika kami berjalan dengan tergesa-gesa mehntasi Howe Street, aku menengok ke gedung yang baru saja kami tinggalkan. Di jendela lantai atas, sekilas aku melihat bayangan kepala—kepala seorang wanita yang sedang menatap ke luar dengan tegang, menunggu kiriman pesan yang tiba-tiba terpotong itu. Di ujung Howe Street, kami bertemu dengan seseorang yang mengenakan jas panjang dan syal, bersandar ke pagar. Dia menatap kami ketika kami sudah berada di dekatnya.

"Holmes!" teriaknya.

"Lho, Gregson!" balas temanku sambil menyalami detektif Scotland Yard itu. "Kisah berakhir dengan bertemunya dua sejoli. Mengapa Anda ada di sini?"

"Saya kira alasannya sama dengan Anda," kata Gregson. "Sedangkan bagaimana sampai Anda terkait dengan kasus ini, itu saya tak mengerti."

"Alur kita tak sama, tapi masalahnya sama. Saya telah mendapatkan pesan-pesan yang dikirimkan tadi."

"Pesan?"

"Ya, asalnya dari jendela itu, tapi tiba-tiba terhenti. Kami kemari untuk mencari tahu apa sebabnya. Tapi karena sudah Anda tangani, sebaiknya saya tak melanjutkannya."

"Tunggu sebentar!" teriak Gregson dengan penasaran. "Terus terang, Mr. Holmes, saya lebih mantap menangani suatu kasus kalau bersama Anda. Hanya ada satu jalan keluar dari flat ini, jadi kita pasti bisa mengamankan orang itu."

"Siapa dia?"

"Well, well, kali ini kami lebih unggul dari Anda, Mr. Holmes. Anda harus memberi selamat kepada kami." Dia memukulkan tongkatnya dengan keras ke tanah dan muncullah seorang kusir dari kereta yang diparkir agak jauh dari tempat kami berdiri. "Boleh saya perkenalkan Anda kepada Mr. Sherlock Holmes?" katanya kepada kusir itu. "Ini Mr. Leverton, dari Agen Amerika Pinkerton."

"Pahlawan dalam kasus Misteri Gua di Long Island?" kata Holmes. "Sir, senang sekali berkenalan dengan Anda."

Pria Amerika yang pendiam dan formal itu dagunya mulus tercukur, wajahnya tenang. Dia berkata dengan penuh rasa hormat, "Saya dalam kesulitan, Mr. Holmes," katanya. "Kalau saya bisa menangkap Gorgiano..."

"Apa? Gorgiano tokoh Geng Lingkaran Merah?"

"Oh, dia terkenal di Eropa rupanya, ya? Well, kami sudah mempelajari latar belakangnya di Amerika. Kami tahu dia terlibat dalam lima puluh kasus pembunuhan, namun kami tak punya bukti positif untuk menangkapnya. Saya sudah mengejarnya sejak di New York, dan selama seminggu ini saya sudah amat dekat dengannya, sambil menunggu kesempatan unmk menangkapnya. Saya dan Mr. Gregson mengejarnya ketika dia masuk ke gedung tinggi ini, dan berhubung hanya ada satu pintu untuk keluar masuk dia tak mungkin lolos kali ini. Sudah ada tiga orang yang keluar dari gedung ini sejak dia masuk, tapi jelas bukan dia."

"Mr. Holmes tadi mengatakan tentang pesan," kata Gregson, "saya rasa, sebagaimana biasanya, dia tahu banyak hal yang tak kita ketahui."

Dengan singkat dan jelas Holmes menceritakan situasinya menurut pengamatan kami. Orang Amerika itu memukulkan kedua tangannya dengan terkejut.

"Dia berhasil mengelabui kita!" teriaknya.

"Mengapa Anda berpikir demikian?"

"Well, kenyataannya begitu, kan? Dia ada di sini, mengirimkan pesan kepada komplotannya— memang ada beberapa anggota gengnya di London. Lalu tiba-tiba, sebagaimana penuturan Anda, dia memberi tanda bahwa ada bahaya mendekat, sehingga dia langsung berhenti. Tentunya, dari jendela dia melihat kami di jalanan atau pokoknya dia mencurigai adanya bahaya yang mendekat, dan dia harus segera bertindak kalau ingin menghindar dari kami. Bagaimana menurut Anda, Mr. Holmes?"

"Sebaiknya kita secepatnya naik dan melihat apa yang terjadi."

"Tapi kita tidak mempunyai surat perintah untuk menangkapnya."

"Dia berkeliaran di rumah kosong dan tingkah lakunya mencurigakan," kata Gregson. "Itu sudah cukup untuk sementara. Kalau dia tertangkap, akan kita lihat apakah New York mampu membantu. Sayalah yang saat ini memegang tanggung jawab untuk menangkapnya."

Detektif Scotland Yard ini mungkin agak kurang inteligensinya, tapi dia tak pernah kurang dalam keberanian. Gregson naik untuk menangkap pembunuh yang sudah terperangkap itu, dengan sikap tenang dan formal seolah-olah dia sedang menaiki tangga di kantornya di Scotland Yard. Agen Amerika itu mencoba mendahuluinya, tapi Gregson menahannya di belakang. Bahaya yang mengancam London merupakan tanggung jawab kepolisian London.

Pintu flat lantai ketiga dalam keadaan terbuka. Gregson mendorong pintu itu lebih lebar lagi. Di dalamnya gelap dan sunyi senyap. Aku menyalakan korek api, dan menyalakan lampu yang dibawa Gregson. Begitu lampu menerangi ruangan itu, kami semua berteriak tertahan. Pada lantai kayu terdapat ceceran darah yang masih segar, membelok ke ruangan di bagian dalam yang pintunya tertutup. Gregson membuka pintu ruangan itu dan menerawangkan lampunya ke depan, sementara kami semua melongok dengan penasaran lewat bahunya.

Di tengah ruangan kosong itu, tergeletak sesosok tubuh. Dagunya tercukur rapi, wajahnya yang gemuk menyeringai mengerikan, dan kepalanya berlumuran darah. Lututnya terangkat, kedua tangannya terkapar ke samping, dan sebilah pisau menancap di tenggorokannya. Walaupun tubuhnya besar, dia ambruk juga oleh tusukan yang begitu telak. Di samping tangan kanannya terdapat pisau bermata dua yang sangat besar dan tangkainya terbuat dari tanduk, serta sarung tangan hitam.

"Ya Tuhan! Dia kan Gorgiano sendiri!" teriak si detektif Amerika. "Seseorang telah mendahului kita."

"Dan ini ada lilin di jendela, Mr. Holmes," kata Gregson. "Lho, Anda sedang apa?"

Holmes telah melangkah menyeberangi ruangan, menyalakan lilin, lalu mengayun-ayunkannya di dekat daun jendela. Dia mengintip ke seberang, mematikan lilin itu, dan melemparkannya ke lantai.

"Menurut saya, apa yang saya lakukan akan menolong kita," katanya. Dia bergabung dengan yang lain, dan berdiri sambil berpikir keras, sementara kedua detektif lainnya mengamati mayat itu. "Anda mengatakan ada tiga orang yang keluar dari flat ini ketika Anda menunggu di bawah," katanya pada akhirnya. "Apakah Anda mengamati mereka dengan saksama?"

"Ya."

"Apakah di antara ketiga orang itu ada seorang pria berusia sekitar tiga puluh, berjenggot hitam, kulitnya kehitaman, dan tubuhnya berukuran sedang?"

"Ya, dialah yang terakhir lewat."

"Menurut saya, dialah pembunuhnya. Saya bisa memberikan ciri-cirinya, dan kita memiliki jejak kakinya. Cukup bagi Anda, kan?"

"Tidak, Mr. Holmes, di antara jutaan penduduk London."

"Mungkin memang tidak mudah. Itulah sebabnya saya memanggil wanita ini."

Kami semua berpaling ke pintu mendengar kata-katanya. Di pintu masuk berdiri seorang wanita cantik dan semampai—penghuni kamar sewaan di Bloomsbury. Perlahan-lahan dia melangkah maju, wajahnya pucat dan ketakutan, matanya menatap tajam mayat yang tergeletak di lantai.

"Kalian telah membunuhnya!" dia berkomat-kamit. "Oh, Dio mio, kalian telah membunuhnya!" Dia menarik napas panjang, melompat sambil berteriak kegirangan. Dia berputar-putar di ruangan itu sambil menari-nari, bertepuk tangan, matanya yang gelap bersinar kegirangan, dan rentetan kata dalam bahasa Italia meluncur deras dari mulutnya. Mengerikan dan mengagetkan sekali melihat seorang wanita begitu gembiranya atas apa yang dijumpainya di kamar ini. Tiba-tiba dia berhenti dan menatap kami semua dengan pandangan penuh tanda tanya.

"Tapi... kalian polisi, kan? Kalian yang membunuh Giuseppe Gorgiano, kan?"

"Kami memang polisi. Madam."

Wanita itu melihat sekeliling ruangan.

"Kalau begitu, di mana Gennaro?" tanyanya. "Suami saya, Gennaro Lucca. Nama saya Emilia Lucca, dan kami berdua dari New York. Di mana Gennaro? Baru saja dia memanggil saya lewat jendela, sehingga saya langsung lari kemari."

"Sayalah yang memanggil Anda," kata Holmes.

"Anda? Bagaimana mungkin Anda yang memanggil saya?"

"Kode sandi Anda tak sulit dipahami, Madam. Kehadiran Anda di sini sangat diperlukan. Saya tahu hanya perlu mengirim kode 'Vieni' dan Anda pasti datang."

Wanita Italia yang cantik itu menatap sahabatku dengan kagum.

"Saya heran bagaimana Anda bisa tahu hal-hal seperti itu," katanya. "Giuseppe Gorgiano... bagaimana sampai dia..." Wanita itu tak melanjutkan kata-katanya, wajahnya tiba-tiba bersinar bangga dan gembira. "Sekarang saya mengerti. Gennaro-ku tersayang! Gennaro-ku yang tampan dan hebat, yang senantiasa melindungiku dari segala kejahatan, dialah yang melakukannya, dia sendirilah yang telah membunuh monster ini dengan tangannya yang kuat! Oh, Gennaro, betapa hebatnya engkau! Betapa bangganya wanita yang menjadi milikmu!"

"Well, Mrs. Lucca," kata Gregson dengan caranya yang menyebalkan, sambil mencengkeram lengan wanita itu seolah-olah dia pembuat kerusuhan di Stadion Notting Hill. "Belum begitu jelas bagi saya siapa dan apa kedudukan Anda sebenarnya, tapi dari ucapan-ucapan Anda jelaslah Anda perlu kami bawa ke Scotland Yard."

"Sebentar, Gregson," kata Holmes. "Saya rasa wanita ini ingin memberikan informasi yang kita butuhkan. Tahukah Anda, Madam, suami Anda akan ditangkap dan diadili atas tuduhan pembunuhan terhadap orang yang terkapar dihadapan kita ini? Apa yang Anda katakan bisa dijadikan bukti. Tapi jika Anda merasa suami Anda melakukannya karena motif-motif yang baik, Anda mungkin dapat menolongnya dengan mengisahkan semuanya kepada kami."

"Berhubung Gorgiano sudah mati, tak ada lagi yang kami takutkan," kata wanita itu. "Dia ini iblis sekaligus monster, dan takkan ada hakim di bumi ini yang akan menghukum suami saya karena telah membunuhnya."

"Kalau begitu," kata Holmes, "saya sarankan kita tinggalkan saja kamar ini sebagaimana adanya, lalu kita kunci. Kita pergi ke pondokan wanita ini untuk mendengarkan penuturannya supaya kita bisa memberikan pendapat kita untuk tindakan selanjutnya."

Setengah jam kemudian kami berempat duduk di ruang tamu Signora Lucca yang sempit. Kami mendengarkan kisahnya yang luar biasa, yang ber-kaitan dengan peristiwa-peristiwa mengerikan yang akhirnya malah sempat kami saksikan. Dia berkisah dengan lancar walaupun bahasa Inggrisnya agak kacau.

"Saya dilahirkan di Posilippo, dekat Naples," katanya, "dan ayah saya bernama Augusto Barelli, pernah menjabat sebagai kepala jaksa. Gennaro bekerja pada ayah saya, lalu saya jatuh cinta kepadanya. Dia tak punya banyak uang, juga tak punya posisi—dia tak punya apa-apa kecuali wajah tampan, tubuh kuat, dan semangat tinggi. Ayah saya tak menyetujui percintaan kami, maka kami melarikan diri dan menikah di Bari. Saya menjual semua perhiasan saya untuk mengongkosi perjalanan kami ke Amerika. Ini terjadi empat tahun yang lalu, dan setelah itu kami menetap di New York.

"Pada awalnya kami cukup beruntung. Gennaro bekerja pada seorang Italia yang pernah diselamatkannya dari para penjahat di daerah Bowery. Nama pria Italia itu Tito Castalotte dan dia pemilik perusahaan patungan besar bernama Castalotte & Zamba, pengimpor buah-buahan terbesar di New York. Signor Zamba penyandang cacat, dan teman baru kami Castalotte-lah yang memegang kekuasaan penuh di perusahaan yang jumlah pegawainya lebih dari tiga ratus itu. Dia meminta suami saya bekerja di perusahaannya sebagai kepala bagian, dan senantiasa bersikap baik kepadanya. Signor Castalotte masih bujangan, dan dia telah menganggap Gennaro seperti anaknya sendiri. Kami berdua pun mengasihinya. Kami berhasil membeli rumah kecil di Brooklyn, dan masa depan kami tampaknya terjamin, ketika tiba-tiba awan hitam muncut dan langsung mengacaukan hidup kami.

"Pada suatu malam sepulang kerja Gennaro membawa serta seorang teman Namanya Gorgiano, juga berasal dari Posilippo. Sebagaimana kalian lihat sendiri, dia itu tinggi besar. Bukan hanya tubuhnya yang raksasa, tingkah polahnya pun persis raksasa dan sangat menakutkan. Suaranya bagaikan geledek di rumah kami yang kecil. Kalau dia bicara gerakan tangannya saja hampir merobohkan rumah kami. Pikirannya, perasaannya, kesukaan-kesukaannya, semuanya serba "wah" dan aneh-aneh. Matanya menghunjam ke arah pendengarnya dan Anda hanya bisa berdoa semoga dia tak melukai Anda. Dia sungguh mengerikan. Syukurlah dia sudah mati!

"Dia sering datang ke rumah kami, tapi saya menyadari lama kelamaan Gennaro, sebagaimana saya juga, tak suka akan kehadirannya. Suami saya hanya bisa terduduk lesu, dengan wajah pucat, mendengarkan ceracau kisah kisah politik dan sosial yang disampaikan tamu kami. Gennaro tak berkata sepatah pun, tapi saya yang tahu benar tentang dirinya, bisa membaca ekspresi wajahnya.

Pada awalnya, saya mengira itu rasa tidak suka. Tapi lama-kelamaan, saya sadar ini lebih dari sekadar rasa tak suka. Itu ekspresi rasa takut—ketakutan terpendam yang menggerogoti hidupnya. Malam itu saya memeluknya, dan meminta dia menjelaskan mengapa sampai pria raksasa itu menghantuinya demikian rupa.

"Dia menceritakan apa adanya, dan jantung saya menjadi sedingin es ketika saya mendengarkan penuturannya Gennaro ternyata memiliki masa lalu yang pahit. Ketika seluruh dunia sepertinya memusuhinya dan pikirannya menjadi setengah gila karena mengalami perlakuan tidak adil dalam hidupnya, dia ikut dalam perkumpulan Neapolitan, Geng Lingkaran Merah, yang bersekutu dengan Geng Carbonari yang terkenal. Sumpah dan rahasia bagi anggota-anggota geng ini sangat menakutkan, dan kalau seseorang masuk menjadi anggota, dia tak mungkin meloloskan diri. Ketika kami melarikan diri ke Amerika, Gennaro mengira sudah terlepas dari gengnya untuk selamanya. Itulah sebabnya dia begitu ketakutan ketika bertemu dengan orang yang membawanya masuk ke geng ini di Naples, sang raksasa Gorgiano, orang yang terkenal sebagai 'Pembawa Kematian' di Italia Selatan. Dia berada di New York karena sedang dikejar polisi Italia, dan dia telah membangun jaringan Geng Lingkaran Merah di tempat tinggalnya yang baru di New York. Begitulah yang dikisahkan Gennaro kepada saya. Dia lalu menunjukkan kepada saya surat panggilan yang diterimanya hari itu juga, bercapkan Lingkaran Merah di bagian atas kertas suratnya. Akan diadakan pertemuan pada waktu yang telah ditetapkan, dan mereka memintanya, lebih tepatnya menyuruhnya, hadir.

"Sungguh pertanda buruk, tapi yang lebih buruk pun tengah mengintai. Saya perhatikan ketika Gorgiano berkunjung ke rumah kami sebagaimana biasa dilakukannya pada malam hari, kalau sedang berbicara matanya lebih banyak terarah kepada saya. Bahkan kalau kata-katanya ditujukan kepada suami saya, matanya yang buas dan mengerikan selalu berpaling ke arah saya. Suatu malam, rahasianya terbongkar. Rupanya saya telah membangkitkan rasa 'cinta' dalam dirinya—cinta yang brutal dan bernafsu binatang. Gennaro belum pulang kerja ketika sang raksasa datang berkunjung. Dia memaksa masuk, memeluk saya dengan kasar, dan membujuk saya untuk melarikan diri bersamanya. Saya berontak sambil berteriak-teriak, dan pada saat itulah Gennaro masuk dan langsung memukulnya. Tapi dia balas menghantam Gennaro hingga tak berdaya, lalu meninggalkan rumah kami. Sejak itu dia tak pernah muncul lagi, tapi kami telah membuka permusuhan yang mematikan dengannya.

"Beberapa hari kemudian, berlangsung pertemuan geng. Dari ekpresi wajah Gennaro sepulang dari pertemuan itu, saya langsung bisa menebak telah terjadi sesuatu yang gawat. Keuangan perkumpulan itu berasal dari pemerasan terhadap orang-orang Italia kaya. Sahabat baik dan penolong kami Castalotte pun sudah didekati. Dia menolak permintaan mereka dan telah melaporkan pemerasan itu kepada polisi. Lalu diputuskan untuk memberi pelajaran kepada Castalotte, supaya korban-korban pemerasan lain tak akan berani menolak permintaan mereka. Pada pertemuan itu diputuskan untuk meledakkan rumah beserta penghuninya. Pembagian tugas pun sudah dibuat. Gennaro melihat wajah musuhnya yang kejam tersenyum licik ketika dia memasukkan tangannya ke dalam kantong undian. Jelas sudah diatur sedemikian rupa sehingga dialah yang mendapatkan tugas itu. Dia ditugaskan membunuh teman baiknya, atau dia dan saya akan dibasmi anggota-anggota lain geng itu. Begitulah salah satu cara mereka yang kejam itu, yaitu menghukum anggota yang mereka takuti atau yang mereka benci dengan cara menyakiti bukan saja orang yang bersangkutan, tapi juga orang-orang yang sangat dikasihi dan dicintainya. Kesadaran akan kekejaman mereka inilah yang memenuhi pikiran Gennaro, keprihatinan dan ketakutannya hampir-hampir tak tertahankan lagi.

"Sepanjang malam itu kami duduk bersama, berpelukan, berusaha saling menguatkan hati masing-masing terhadap kesulitan yang menghadang di depan kami. Rencana peledakan itu ditetapkan esok malamnya. Siangnya, saya dan suami melarikan diri ke London setelah memberitahukan rencana peledakan im kepada Castalotte, bahkan juga melaporkannya kepada polisi agar penolong kami itu mendapatkan perlindungan penuh.

"Selanjutnya, Tuan-tuan, kalian sudah tahu semua. Kami yakin orang-orang yang memusuhi kami akan mengejar ke mana pun kami pergi. Gorgiano punya alasan pribadi untuk membalas dendam, dan kami menyadari betapa kejam dan tak kenal ampunnya dia. Kejahatannya telah tersebar di seluruh Italia dan Amerika. Dan saat ini kejahatannya mencapai puncaknya. Suami saya telah mencarikan tempat perlindungan yang aman untuk saya selama beberapa hari. Tak ada bahaya apa pun yang mengancam saya selama saya berlindung. Sedangkan dia sendiri, dia ingin bebas di luar untuk mencari hubungan dengan kepolisian Amerika dan Italia. Saya sendiri tak tahu di mana dia tinggal dan bagaimana keadaannya. Saya hanya menunggu berita yang dipasangnya dikolom surat kabar. Tapi suatu saat, ketika saya menengok dari jendela kamar sewa saya, saya melihat dua orang Italia sedang mengamati rumah ini, dan saya langsung menyadari Gorgiano telah menemukan tempat perlindungan saya. Akhirnya Gennaro memberitahu saya, melalui surat kabar juga, bahwa dia akan mengirim pesan lewat sebuah jendela. Dan ketika pesan itu disampaikannya, semua beritanya adalah peringatan akan adanya bahaya, yang lalu terpotong secara tiba-tiba. Jelas dia tahu Gorgiano berada tak jauh darinya. Syukurlah dia sudah siap menghadapinya. Nah, Tuan-tuan, saya ingin bertanya kepada Anda semua, apakah ada yang patut kami takuti kalaupun kami harus berhadapan dengan hukum, atau apakah ada hakim di bumi ini yang akan menghukum Gennaro unmk apa yang telah dilakukannya?"

"Well, Mr. Gregson," kata detektif Amerika sambil menatap detektif Scotland Yard di depannya, "saya tak tahu bagaimana hukum di Inggris, tapi saya rasa kalau di New York, apa yang dilakukan suami wanita ini justru akan mendapat ucapan terima kasih."

"Dia tetap harus ikut saya untuk menghadap Kepala Polisi," jawab Gregson. "Jika apa yang diucapkannya ternyata benar, saya rasa dia ataupun suaminya tak perlu cemas. Tapi yang tetap tak saya mengerti adalah bagaimana gerangan Anda bisa terlibat dalam kasus ini, Mr. Holmes?"

"Pendidikan, Gregson, pendidikan. Soalnya saya masih mau belajar dan menimba ilmu. Well, Watson, kau mendapat satu bahan lagi untuk koleksimu. Omong-omong, belum jam delapan, yuk nonton drama di Covent Garden! Kalau bergegas, kita akan kebagian babak keduanya."