Ketika kubolak balik catatan yang berisi tujuh puluh kasus aneh-aneh selama delapan tahun terakhir ini, aku jadi tahu cara kerja temanku Holmes. Kasus-kasus itu ada yang tragis, unik, dan bahkan menggelikan, tapi pokoknya tidak ada yang biasa-biasa saja; karena temanku ini bekerja lebih karena dia mencintai seni menyelidiki kriminalitas daripada hanya sekadar menumpuk kekayaan. Itulah sebabnya dia menolak menangani kasus yang biasa-biasa saja. Dia maunya kasus yang fantastis. Tapi, di antara kasus yang macam-macam itu, menurutku tak ada yang lebih unik dibandingkan kasus yang berhubungan dengan keluarga Roylott dari Stoke Moran, Surrey. Peristiwa itu terjadi di awal perkenalanku dengan Holmes, yaitu ketika kami yang masih bujangan ini tinggal bersama di sebuah kamar sewaan di Baker Street. Memang sebenarnya aku bisa mencatatnya dari dulu-dulu, tapi aku sudah berjanji untuk merahasiakannya. Sebulan yang lalu wanita kepada siapa aku berjanji itu mendadak meninggal, sehingga terbebaslah aku dari janjiku. Mungkin sekaranglah saatnya untuk menuliskan kejadian yang sebenarnya, karena banyak berita burung tersiar mengenai kematian Dr. Grimesby Roylott yang bisa membuat masalah ini lebih menakutkan dibanding apa yang sebenarnya telah terjadi.

Di pagi awal bulan April 1883 itu aku terbangun dari tidurku, dan kulihat Sherlock Holmes sedang berdiri di samping tempat tidurku, sudah rapi berpakaian. Dia biasanya bangun lebih siang dariku, dan jam yang terletak di rak di atas perapian menunjukkan baru pukul tujuh lewat seperempat. Jadi, aku menatapnya dengan heran, dan juga agak jengkel, karena tidak biasanya aku bangun sepagi itu.

"Maaf aku membangunkanmu, Watson," katanya, "tapi rupanya ada 'wabah' pagi ini. Mrs. Hudson telah dipaksa bangun lebih pagi, lalu dia membangunkanku, dan aku pun lalu membangunkanmu."

"Ada masalah apa sebenarnya? Kebakaran?"

"Tidak. Ada klien datang. Nampaknya wanita muda itu begitu gelisah ketika tiba di sini, lalu bersikeras agar diizinkan untuk menemuiku. Dia sekarang menunggu di ruang duduk. Kalau seorang wanita muda berkeliaran di ibu kota pagi-pagi begini, dan memaksa orang bangun dari tidurnya, mestinya ada sesuatu yang amat mendesak yang ingin disampaikannya. Kalau kasusnya menarik, aku yakin kau mau ikut serta. Itulah sebabnya, kupikir aku sebaiknya memberitahumu dan menanyakan apakah kau akan mengambil kesempatan ini."

"Sobatku, aku tak ingin ketinggalan sedikit pun."

Tak ada yang lebih menggembirakan hatiku kecuali mengikuti penyelidikan-penyelidikan profesional yang diiakukan oleh Holmes, dan mengagumi kesimpulan-kesimpulannya yang bisa dengan begitu cepat didapatkannya seolah-olah langsung keluar dari intuisinya, tapi toh semua didukung oleh penjelasan yang logis. Begitulah cara Holmes menangani masalah yang dipercayakan padanya. Cepat-cepat aku berpakaian, dan dalam beberapa menit aku sudah siap menemani Holmes menuju ruang duduk. Seorang wanita yang tadinya duduk di dekat jendela segera bangkit ketika kami memasuki ruangan itu. Dia berpakaian hitam dan wajahnya ditutup rapat dengan cadar.

"Selamat pagi, madam," kata Holmes dengan gembira. "Nama saya Sherlock Holmes. Dan ini rekan sekerja saya, Dr. Watson, yang boleh Anda percayai untuk mendengarkan apa saja dari Anda. Syukurlah Mrs. Hudson sudah menyalakan perapian. Mendekatlah ke situ, dan akan saya pesankan secangkir kopi hangat, karena Anda menggigil."

"Saya menggigil bukan karena kedinginan," kata wanita itu dengan suara lirih sambil berpindah tempat duduk.

"Jadi karena apa?"

"Karena ketakutan, Mr. Holmes. Teror." Diangkatnya cadar yang menutupi wajahnya dan kami bisa melihat bahwa dia benar-benar sedang tercekam oleh kerisauan yang luar biasa. Wajahnya layu dan pucat, matanya memancarkan rasa ngeri, mirip mata binatang yang sedang diburu. Melihat ciri-ciri tubuhnya, umurnya mungkin sekitar tiga puluhan, tapi rambutnya sudah beruban dan air mukanya lesu dan letih. Sherlock Holmes memandanginya dengan tatapannya yang tajam dan menyelidik.

"Anda tak usah takut," katanya menghibur sambil membungkuk ke depan dan menepuk-nepuk tangan wanita itu. "Kami yakin kami akan mampu meluruskan masalah Anda dengan segera. Tadi pagi Anda datang dengan kereta api, ya?"

"Kalau begitu, Anda kenal saya?"

"Tidak, tapi saya lihat sobekan tiket kereta api di kaus tangan Anda sebelah kiri. Wah, Anda tentunya naik dokar lewat jalanan yang kasar ke stasiun kereta api pagi-pagi sekali tadi."

Wanita itu terperanjat, dan memandang temanku dengan bingung.

"Tak ada misteri apa-apa, madam," katanya sambil tersenyum. "Ada tak kurang dari tujuh percikan lumpur yang masih segar di lengan kanan jaket Anda. Hanya dokar yang memercikkan lumpur seperti itu, dan juga tentunya karena Anda duduk di sebelah kiri kusirnya."

"Anda benar sekali,'' katanya. "Saya berangkat sebelum jam enam, tiba di Stasiun Leatherhead jam enam lewat dua puluh, dan naik kereta pertama yang menuju ke Waterloo. Sir, saya tak tahan lagi menghadapi ketegangan ini. Saya bisa jadi gila, kalau terus-terusan begini. Saya tak bisa menceritakan ini pada siapa pun, ya, siapa pun. Hanya ada satu orang yang memperhatikan saya, namun sayangnya dia tak bisa banyak menolong. Saya pernah mendengar tentang Anda, Mr. Holmes, yaitu dari Mrs. Farintosh yang pernah Anda tolong. Dari dia pula saya mendapatkan alamat Anda. Oh, sir, apakah Anda bisa menolong saya juga, paling tidak menunjukkan titik terang dalam kegelapan yang mengelilingi saya? Saat ini, saya memang belum mampu membayar servis Anda, tapi satu atau dua bulan lagi saya akan menikah, dan saya akan berhak atas harta warisan saya seluruhnya. Saat itulah akan saya buktikan bahwa saya orang yang tahu berterima kasih."

Holmes pindah ke mejanya dan membuka lacinya. Dikeluarkannya buku catatan kasus-kasus yang pernah ditanganinya.

"Farintosh," katanya. "Ah, ya, sekarang saya ingat. Kasusnya berhubungan dengan tiara opal. Rasanya itu terjadi sebelum kau bersamaku, Watson. Saya hanya bisa mengatakan, madam, bahwa dengan senang hati saya akan menangani kasus Anda sebaik saya menangani kasus teman Anda. Sebagai bayarannya, pekerjaan saya itulah bayarannya, tapi silakan Anda mengganti ongkos-ongkos yang diperlukan saja dan ini pun bisa Anda lakukan kapan saja. Sekarang, silakan beberkan kepada kami apa-apa yang bisa menolong kami menangani masalah Anda."

"Aduh!" jawab tamu kami. "Yang saya takutkan ialah karena ketakutan saya nampaknya tak beralasan sama sekali, dan kecurigaan saya juga berdasarkan hal-hal sepele, yang mungkin bagi orang lain tak berarti sama sekali. Bahkan satu-satunya orang yang saya anggap bisa membantu, ketika mendengar masalah itu, menganggap saya sebagai wanita yang terlalu banyak merisaukan sesuatu. Dia memang tak mengatakan begitu, tapi saya bisa membacanya dari tanggapan-tanggapannya yang cuma menganggap enteng masalah ini dan pandangan matanya yang sering menghindar dari tatapan saya. Tapi saya dengar, Mr. Holmes, bahwa Anda bisa melihat jauh ke dalam hati orang yang merencanakan bermacam-macam kejahatan. Mungkin Anda bisa memberi saran, apa yang harus saya perbuat di tengah-tengah bahaya yang mengelilingi saya."

"Saya mendengarkan Anda dengan saksama, madam."

"Nama saya Helen Stoner, dan saya tinggal bersama ayah tiri saya. Dia keturunan terakhir dari salah satu dinasti tertua di Inggris, yaitu keluarga Roylott dari Stoke Moran, di ujung sebelah barat Surrey."

Holmes mengangguk. "Saya pernah dengar nama itu," katanya.

"Dulu keluarga itu kaya raya, dan tanah milik mereka luas sekali, di sebelah utara sampai ke Berkshire, dan di sebelah barat sampai ke Hampshire. Tapi, pada abad lalu empat keturunan mereka memboroskan kekayaan mereka secara beruntun, dan pada Zaman Regency mereka malah gemar berjudi, hingga akhirnya mereka benar-benar bangkrut. Tak ada yang tersisa dari kekayaan mereka kecuali beberapa hektar tanah dan rumah berusia dua ratus tahun yang sudah digadaikan dengan nilai yang cukup tinggi. Keturunan mereka yang terakhir bersikeras tetap tinggal di rumah tua itu, walaupun dia sudah miskin sekali, tapi putra tunggalnya, yaitu ayah tiri saya, menyadari bahwa dia harus memperbaiki kehidupannya. Dia berhasil mendapat dukungan dana dari seorang saudaranya untuk biaya kuliahnya sampai dia menjadi seorang dokter. Lalu dia pergi ke Calcutta untuk praktek di sana. Prakteknya laris, karena dia memang pandai dan keras hati. Tapi, suatu saat rumahnya dirampok. Dia marah sekali pada penjaga rumahnya yang orang India asli, dan memukulnya sampai mati. Dia nyaris dihukum mati karena kekejamannya itu. Akhirnya, dia harus mendekam di penjara selama waktu yang lama. Setelah bebas, dia jadi pemurung dan dipenuhi kekecewaan yang mendalam. Lalu dia memutuskan untuk kembali saja ke Inggris.

"Ketika Dr. Roylott berada di India, dia menikah dengan ibu saya, Mrs. Stoner, yang waktu itu janda muda Mayor Jenderal Stoner, dari pasukan artileri Benggala. Saya mempunyai seorang saudara kembar, Julia, dan kami baru berumur dua tahun ketika ibu kami menikah lagi. Ibu punya cukup banyak uang, tak kurang dari seribu pound setahun, dan semuanya dia serahkan kepada Dr. Roylott sementara kami lalu tinggal bersamanya. Ibu membuat ketentuan bahwa sejumlah uang harus diberikan pada kami tiap tahunnya kalau kami sudah menikah. Belum lama kami pindah ke Inggris, Ibu meninggal dalam kecelakaan kereta api di dekat Crewe. Itu terjadi delapan tahun yang lalu. Dr. Roylott lalu berhenti mengupayakan kemungkinan praktek di London, dan mengajak kami tinggal bersamanya di rumah nenek moyangnya di Stoke Moran. Uang yang ditinggalkan ibu saya cukup untuk menghidupi kami semua, dan kelihatannya kami akan baik-baik saja.

"Tapi, perangai ayah tiri kami kemudian jadi berubah sama sekali. Dia tidak mau berteman dengan siapa pun dan juga tidak pernah berkunjung ke tetangga-tetangga, padahal dulu mereka menyambut kedatangan kami dengan gembira karena ada anggota keluarga Roylott yang kembali menghuni Stoke Moran. Dia jarang keluar rumah kecuali kalau sedang bertengkar dengan orang-orang yang melewati halaman rumah. Sifat kasar yang mendekati maniak memang menurun pada semua pria dari keluarga itu, dan pada ayah tiri saya, saya yakin sifatnya itu semakin menjadi-jadi setelah pengalaman pahitnya di India. Terjadi beberapa kali keributan, dua di antaranya berakhir di pengadilan, sehingga dia sangat ditakuti oleh seisi kampung, dan orang-orang akan segera menyingkir kalau melihat dia mendekat. Maklumlah, dia kuat sekali dan kalau sudah marah tak bisa mengendalikan diri.

"Minggu lalu dia mencemplungkan seorang pandai besi ke sungai, dan saya harus membayar banyak sekali agar kasus itu tidak dimuat di surat kabar. Dia tak memiliki teman lain kecuali orang-orang gipsi yang suka berkelana itu. Mereka diizinkannya berkemah di tanah milik keluarganya yang dipenuhi dengan semak belukar. Dia juga bersedia menerima undangan mereka untuk berkunjung ke tenda-tenda mereka, dan dia kadang-kadang berkeliaran bersama mereka selama berminggu-minggu. Dia menyukai pula binatang-binatang dari India, yang dikirimkan kepadanya oleh salah seorang kawannya. Saat ini, ada seekor macan tutul dan seekor babun yang berkeliaran dengan bebas di halaman. Binatang-binatang itu amat ditakuti oleh semua orang seperti halnya mereka takut pada pemiliknya.

"Dari kisah saya, Anda bisa membayangkan bagaimana tak nyamannya hidup Julia dan saya. Tak ada pembantu yang betah tinggal bersama kami, dan selama ini kami sendirilah yang mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Julia baru berusia tiga puluh tahun ketika meninggal, tapi rambutnya sudah mulai memutih, seperti rambut saya."

"Jadi saudara kembar Anda sudah meninggal?"

"Dia meninggal baru dua tahun yang lalu, dan kematiannya inilah yang ingin saya bicarakan dengan Anda. Anda tentunya bisa memahami bahwa dengan keadaan hidup kami seperti yang sudah saya ceritakan tadi, kami jadi jarang berhubungan dengan teman-teman seusia dan sederajat dengan kami. Untungnya, kami mempunyai seorang bibi, adik ibu saya yang tidak menikah, yaitu Miss Honoria Westphail. Dia tinggal di dekat Harrow, dan kami diizinkan untuk sesekali mengunjunginya. Julia berkunjung ke sana pada Natal dua tahun yang lalu, dan berkenalan dengan seorang mayor angkatan laut. Mereka lalu bertunangan. Ayah tiri saya diberitahu soal ini ketika Julia kembali ke rumah, dan dia tak keberatan dengan rencana pernikahan mereka. Tapi dua minggu sebelum pernikahan dilangsungkan, terjadi peristiwa yang sangat mengerikan yang menyebabkan saya kehilangan satu-satunya saudara saya."

Selama mendengarkan Miss Stoner berkisah, Sherlock Holmes berbaring di kursinya sambil memejamkan matanya, dan kepalanya berganjalkan sebuah bantal. Tapi kini, dia agak membuka matanya, dan memandang tamu kami.

"Tolong ceritakan sampai ke detail-detailnya," katanya.

"Tak sulit bagi saya untuk melakukannya, karena setiap bagian dari musibah itu benar-benar tersimpan dengan baik dalam ingatan saya. Rumah bangsawan itu, seperti yang saya katakan tadi, sudah sangat tua, dan hanya satu sayap yang kami tempati, yang terdiri dari tiga kamar tidur di lantai dasar dan ruang duduk yang letaknya tepat di bagian tengah jgedung itu. Kamar pertama adalah kamar Dr. Roylott, kamar kedua ditempati saudara kembar saya, dan kamar ketiga adalah kamar saya. Tak ada pintu penghubung di antara ketiga kamar itu, tapi koridornya sama. Apakah penuturan saya cukup jelas?"

"Amat jelas."

"Jendela ketiga kamar itu menghadap ke halaman. Pada malam yang mengerikan itu, Dr. Roylott masuk ke kamarnya agak lebih awal, tapi kami tahu bahwa dia tidak langsung tertidur. Julia menangkap bau cerutu India yang kuat, yang biasa diisapnya. Karenanya, Julia meninggalkan kamarnya dan masuk ke kamar saya selama beberapa saat. Dia banyak membicarakan tentang rencana pernikahannya yang sudah dekat. Pada jam sebelas, dia bangkit untuk kembali ke kamarnya. Dia berhenti sejenak di pintu dan menengok ke arah saya.

"'Apakah kau pernah mendengar suara orang bersiul di tengah malam, Helen?'

"'Tidak,' kata saya.

"'Tapi kau sendiri tak pernah bersiul dalam tidurmu, kan?'

"'Tidak. Memangnya kenapa?'

"'Beberapa malam terakhir ini, kira-kira pada jam tiga dini hari, aku selalu mendengar siulan lirih dengan jelas sekali. Tidurku tak terlalu nyenyak, jadi siulan itu selalu membangunkanku. Aku tak tahu dari mana datangnya siulan itu—mungkin dari kamar sebelah, mungkin dari halaman. Maka aku ingin tahu apakah kau juga mendengarnya.'

"'Tidak, tak pernah. Mungkin gipsi-gipsi sialan di luar itu.'

"'Mungkin saja. Tapi, kalau suara itu berasal dari halaman, tentunya kau akan dengar juga.'

"'Ah, tapi aku kan tidur lebih nyenyak darimu.'

"'Yah, tak apa-apa, kok.' Dia tersenyum, menutup pintu, dan beberapa menit kemudian saya mendengarnya mengunci pintu."

"Begitu," komentar Holmes. "Anda berdua selalu mengunci pintu pada malam hari?"

"Selalu."

"Kenapa?"

"Tadi sudah saya katakan bahwa ayah tiri saya memelihara macan tutul dan babun. Kami tak pernah merasa aman kalau tak mengunci pintu."

"Saya paham. Silakan dilanjutkan kisahnya."

"Malam itu saya tak bisa tidur. Hati saya merasa tak enak, seolah-olah akan terjadi sesuatu yang mengerikan. Kami kan bersaudara kembar, dan Anda pasti tahu bahwa ada hubungan batin yang sangat kuat di antara kami. Malam itu cuaca buruk sekali. Di luar angin bertiup keras dan hujan turun dengan derasnya, menghantam jendela-jendela kami. Tiba-tiba, di tengah kebisingan hujan dan angin ribut itu, terdengar teriakan yang memilukan dari seorang wanita yang ketakutan. Saya tahu itu suara Julia. Saya segera melompat turun dari tempat tidur, mengenakan syal, dan berlari ke koridor. Begitu saya membuka pintu kamar, sayup-sayup saya mendengar suara siulan seperti yang diceritakan Julia, dan beberapa saat kemudian terdengar juga suara gemerencing, sepertinya ada logam yang jatuh. Ketika saya berlari di lorong itu, terdengar suara kunci pintu kamar Julia diputar dengan sangat pelan. Saya memandang pintu itu dengan sangat ketakutan sambil mengira-ngira apa gerangan yang sedang terjadi. Ternyata Julia yang membuka pintu itu. Wajahnya pucat karena ketakutan, tangannya menggapai-gapai mencari pertolongan, dan tubuhnya sempoyongan bagaikan orang mabuk. Saya berlari mendekatinya dan memeluknya, tapi dia keburu lemas dan jatuh ke lantai. Dia menggeliat kesakitan, dan semua anggota badannya menggigil. Pada awalnya, saya pikir dia tak mengenali saya, tapi ketika saya membungkuk di sebelahnya, tiba-tiba dia menjerit dengan suara mengerikan yang tak mungkin saya lupakan, 'Ya, Tuhan! Helen! Lilitan itu! Lilitan bintik-bintik!' Ada yang ingin dia katakan lagi, tapi dia tak mampu mengucapkannya. Hanya tangannya diangkatnya dengan susah payah dan dia menunjuk-nunjuk ke kamar ayah tiri kami. Lalu tubuhnya mengejang. Saya segera berlari menuju kamar ayah tiri kami sambil berteriak-teriak memanggilnya. Dia pun segera bergegas keluar dari kamarnya, masih mengenakan pakaian tidur. Ketika kami kembali ke tempat di mana Julia terbaring, dia sudah tak sadarkan diri, dan walaupun ayah tiri kami menuangkan brendi ke tenggorokannya, dan menyuruh seseorang memanggil dokter, semuanya sia-sia saja. Keadaan Julia menjadi gawat dengan cepatnya, dan akhirnya dia mengembuskan napasnya yang terakhir tanpa sempat sadar kembali. Begitulah akhir hidup saudara kembar saya."

"Sebentar," kata Holmes, "apakah Anda yakin telah mendengar suara siulan dan logam jatuh itu? Berani bersumpah?"

"Petugas penyidik juga telah menanyakan hal itu pada saya. Saya benar-benar yakin telah mendengar suara-suara itu, tapi berhubung saat itu hujan dan angin begitu dahsyatnya, dan rumah tua itu pasti juga berkeriang-keriut, mungkin saja saya keliru."

"Apakah saudara kembar Anda berpakaian rapi saat itu?"

"Tidak, dia hanya mengenakan pakaian tidur. Tangan kanannya menggenggam puntung korek api, dan tangan kirinya menggenggam kotaknya."

"Berarti dia sempat menyalakan korek api untuk melihat ke sekeliling kamarnya, ketika malapetaka tersebut menimpa dirinya. Itu penting. Apa kesimpulan petugas penyidik?"

"Dia menyelidiki kasus ini dengan saksama, karena kebrutalan Dr. Roylott sudah termasyhur di seluruh desa. Tapi dia tak berhasil menemukan penyebab kematian saudara kembar saya. Saya menyatakan bahwa pintu kamar Julia memang terkunci dari dalam dan jendela-jendelanya selalu terpalang dengan besi pada malam hari. Dinding-dinding dan lantai kamar juga diperiksa dengan teliti, tapi hasilnya tetap nihil. Ada cerobong asap yang lubangnya memang cukup besar, tapi telah disekat dengan empat jeruji besar. Jadi, saya yakin Julia sendirian di kamarnya ketika malapetaka itu menimpanya. Di samping itu, tak ada tanda-tanda bahwa telah terjadi penganiayaan."

"Bagaimana dengan racun?"

"Para dokter memeriksa kemungkinan itu, tapi tak ada hasilnya."

"Kalau begitu, menurut Anda, apa yang menyebabkan kemadan saudara kembar Anda?"

"Saya yakin bahwa kematiannya disebabkan oleh ketakutan dan kengeriannya yang luar biasa, tapi saya tidak tahu apa yang telah begitu menakutkannya."

"Apakah pada saat itu ada orang-orang gipsi berkemah di halaman?"

"Ya, hampir setiap saat ada orang-orang gipsi di sana."

"Ah, dan menurut Anda, apa yang dimaksudkan oleh saudara kembar Anda dengan lilitan... lilitan bintik-bintik itu?"

"Kadang-kadang, saya berpikir mungkin dia hanya mengigau saja, atau mungkinkah maksudnya iring-iringan orang gipsi di perkemahan itu? Saya tak tahu apakah saputangan bintik-bintik yang dililitkan di dahi para gipsi itu telah menimbulkan ide itu pada Julia."

Holmes menggelengkan kepalanya, nampaknya dia tak merasa puas.

"Wah, rumit sekali," katanya. "Silakan dilanjutkan ceritanya."

"Dua tahun telah berlalu sejak peristiwa itu, dan hidup saya jadi semakin sunyi. Tapi, sebulan yang lalu, seorang teman lama melamar dan mengajak saya menikah. Namanya Armitage—Percy Armitage—putra kedua Mr. Armitage yang tinggal di Crane Water, dekat Reading. Ayah tiri saya tak keberatan dengan rencana kami ini, dan pernikahan kami akan dilangsungkan pada musim semi yang akan datang. Dua hari yang lalu, tempat tinggal kami mulai diperbaiki, dan tembok kamar saya juga perlu dijebol, sehingga untuk sementara saya terpaksa mengungsi ke kamar saudara kembar saya. Jadi, saya tidur di tempat tidur yang dulu dipakai Julia, di kamar di mana Julia menemui ajalnya. Dan bayangkan, betapa terkejutnya saya ketika tadi malam, sedang saya merenungkan nasib Julia yang malang, tiba-tiba terdengar siulan lemah yang merupakan pertanda kematiannya. Saya segera meloncat dan menyalakan lampu, tapi tak terlihat apa-apa di kamar itu. Saya menjadi sangat ketakutan, dan tak ingin tidur lagi. Lalu saya berpakaian, dan begitu hari sudah agak terang, saya diam-diam menyelinap ke luar rumah, memanggil dokar di Crown Inn, dan berangkat ke Stasiun Leatherhead. Dari sana saya lalu menuju kemari untuk meminta bantuan Anda."

"Anda telah bertindak bijaksana," kata temanku. "Apakah Anda sudah menceritakan selengkapnya?"

"Ya, sudah semua."

"Miss Stoner, ada yang belum. Anda menutup-nutupi tingkah laku ayah tiri Anda."

"Apa maksud Anda?"

Untuk menjawab ini, Holmes menarik kerutan renda hitam di ujung lengan baju Miss Stoner. Tampaklah noda-noda lebam di pergelangan tangannya yang putih, jelas bekas tindihan jari-jari seseorang.

"Anda diperlakukan dengan kejam oleh ayah tiri Anda," kata Holmes.

Wajah wanita itu memerah, dan dia segera menutupi pergelangan tangannya yang terluka itu.

"Dia orangnya susah dimengerti," katanya, "dan dia tak sadar akan kekuatannya."

Untuk beberapa saat kami terdiam. Holmes bertopang dagu sambil memandangi api yang berkobar-kobar.

"Kasus ini amat rumit," akhirnya dia berkata. "Ada ribuan detail yang ingin saya ketahui sebelum memutuskan harus bertindak apa. Tapi, kita tak boleh membuang waktu. Kalau kami bisa ke Stoke Moran hari ini, bisakah kami memeriksa semua kamar dan ruangan tanpa setahu ayah dri Anda?"

"Kebetulan, dia mengatakan mau ke kota hari ini karena ada urusan penting. Dia mungkin akan pergi seharian, jadi Anda tak akan terganggu. Kini kami punya seorang pembantu, tapi dia sudah tua dan agak tolol. Saya bisa mengatur agar dia keluar pada saat Anda berada di sana."

"Bagus. Kau mau ikut, Watson?"

"Dengan senang hati."

"Jadi kami berangkat berdua. Apa yang akan Anda lakukan sekarang?"

"Ada satu-dua hal yang perlu saya kerjakan di kota. Tapi saya akan pulang dengan kereta api jam dua belas, supaya saya berada di rumah kalau Anda tiba di sana."

"Kami akan tiba selewat tengah hari. Saya juga harus menyelesaikan sedikit urusan dulu. Mau tunggu di sini dan makan pagi bersama kami?"

"Tidak, saya harus pergi. Hati saya sudah agak tenteram sehabis menceritakan apa yang mengganggu saya kepada Anda. Kedatangan Anda sangat saya harapkan siang nanti." Dia menurunkan penutup mukanya, lalu meninggalkan ruangan.

"Dan, apa komentarmu atas semua ini, Watson?" tanya Sherlock Holmes sambil kembali berbaring di kursinya.

"Kasus ini nampaknya amat rumit dan menakutkan."

"Memang."

"Tapi kalau wanita tadi benar, yaitu bahwa lantai dan tembok kamarnya betul-betul kuat, dan bahwa pintu, jendela, dan cerobong asapnya tak mungkin dilewati orang, maka tak diragukan lagi bahwa saudara kembarnya hanya sendirian di dalam kamarnya waktu malapetaka itu terjadi."

"Lalu, apa maksudnya dengan siulan di malam hari itu, dan kata-katanya yang aneh menjelang ajalnya?"

"Aku tak tahu."

"Coba kalau dirangkaikan semuanya: siulan di malam hari, rombongan gipsi yang berteman baik dengan dokter tua itu, upayanya untuk mencegah pernikahan anak tirinya, terlihatnya lilitan yang mungkin menyebabkan kematian saudara kembar wanita tadi, dan akhirnya kenyataan bahwa Miss Stoner mendengar suara logam jatuh, yang mungkin sekali merupakan suara seseorang yang sedang mengembalikan salah satu palang besi yang telah dibuka sebelumnya. Kurasa misteri ini bisa ditangani dari jalur-jalur ini."

"Tapi, apa gerangan yang telah dilakukan orang-orang gipsi itu?"

"Entahlah."

"Aku keberatan dengan teori semacam itu."

"Aku juga demikian. Itulah sebabnya kita harus pergi ke Stoke Moran hari ini juga. Aku ingin membuktikan apakah keberatan-keberatan kita cukup fatal, atau ada penjelasannya. Astaga, apa itu!"

Seruan itu terlontar dari mulut temanku karena pintu ruangan tiba-tiba terbuka, dan seseorang yang tinggi besar berdiri di sana. Pakaiannya aneh, campuran antara seorang dokter dan petani. Ia memakai topi yang ujungnya berwarna hitam, mantel panjang, dan sepasang penutup kaki yang ketat. Sebuah cemeti untuk berburu tergantung di tangannya. Demikian tingginya orang itu sehingga ujung topinya menyentuh langit-langit pintu, dan lebar badannya serasa memenuhi pintu itu. Wajahnya lebar, penuh dengan kerutan, coklat terbakar matahari, dan memancarkan kejahatan. Dia memandangi kami satu per satu. Matanya yang dalam dan tajam, serta hidungnya yang tinggi tapi kurus, membuatnya mirip burung yang sedang mengintip mangsanya.

"Mana yang bernama Holmes?" tanya sosok yang tak diundang ini.

"Saya, sir, tapi saya belum tahu nama Anda," kata temanku dengan kalem.

"Aku Dr. Grimesby Roylott dari Stoke Moran."

"Begitu ya, Dokter," kata Holmes dengan sopan. "Silakan duduk."

"Tak usah. Anak tiriku tadi kemari. Aku ikuti dia. Apa saja yang diceritakannya padamu?"

"Cuacanya agak dingin. Biasanya pada musim begini tak sedingin ini," kata Holmes.

"Apa saja yang diceritakannya padamu?" teriak pria tua itu dengan marah.

"Tapi nampaknya crocus tetap akan berbunga," lanjut temanku dengan tenang.

"Ha! Tak bersedia menjawab, ya?" kata tamu kami sambil melangkah maju, dan mengguncang-guncang cemeti yang ada di tangannya. "Aku tahu kau ini siapa, bangsat! Aku mendengar banyak tentangmu. Kau Holmes si tukang ikut campur urusan orang."

Temanku tersenyum.

"Holmes yang sok sibuk!"

Senyum temanku bertambah lebar.

"Holmes boneka Scotland Yard."

Holmes tergelak. "Omongan Anda membuat hati saya gembira," katanya. "Tapi, kalau Anda mau puiang, jangan lupa tutup pintu itu, ya, soalnya anginnya kencang sekali."

"Aku baru akan pergi setelah omonganku selesai. Jangan sekali-kali kau berani mencampuri urusanku. Aku tahu Miss Stoner tadi kemari— kuikuti dia! Awas, kalau kau berani mencemarkan namaku! Lihat ini." Dia maju ke depan dengan sigap, mengambil alat pengorek api, dan menekannya dengan kedua tangannya yang besar sehingga alat baja itu jadi melengkung.

"Lebih baik kau menjauh dariku," gertaknya sambil melemparkan alat itu ke perapian. Lalu dia meninggalkan ruangan. "Ramah, ya," kata Holmes sambil tertawa. "Badanku memang tak begitu besar, tapi kalau saja dia tak keburu pulang, mungkin akan kuperlihatkan padanya bahwa tanganku tak lebih lemah dibanding tangannya." Sementara berkata demikian, dia mengambil alat pengorek api tadi, dan tiba-tiba meluruskannya kembali.

"Bayangkan sikapnya yang sangat menghina pekerjaanku. Semangatku malah terbakar karenanya. Moga-moga tamu kita yang datang lebih dulu tadi tak diapa-apakannya karena telah lancang pergi tanpa sepengetahuannya. Dan sekarang, Watson, mari kita pesan makanan pagi, lalu aku mau pergi ke Lembaga Kedokteran untuk mencari data yang mungkin berguna bagi kita dalam menyelidiki kasus ini."

Holmes kembali dari lawatannya hampir jam satu siang dengan membawa secarik kertas berwarna biru yang penuh dengan catatan dan angka-angka.

"Aku mendapatkan surat warisan istrinya yang telah meninggal," katanya. "Untuk mengerti maksudnya aku harus menyesuaikan nilai uang yang ditanamkan itu. Jumlah warisan seluruhnya, yang pada saat kematian istrinya berjumlah hampir 1.100 pound, sekarang nilainya tinggal 750 karena jatuhnya harga produk-produk pertanian. Masing-masing anak mendapat jatah 250 pada saat pernikahan mereka. Jadi jelas, kalau kedua gadis itu menikah, jumlah uang untuknya akan tinggal sangat sedikit. Bahkan kalau satu saja yang menikah, itu akan cukup mengganggu ekonominya. Kepergianku sepagian tadi tidak sia-sia, karena aku mendapatkan bukti bahwa dia punya alasan kuat untuk merintangi apa pun yang akan mengurangi pendapatannya. Dan sekarang, Watson, kita tak boleh buang-buang waktu untuk hal yang cukup serius ini, apalagi orang tua itu tahu bahwa kita bermaksud menyelidiki kasusnya. Kalau kau sudah siap, kita akan segera naik kereta ke Waterloo. Sebaiknya kaubawa pistol Eley nomor 2, siapa tahu itu akan kita perlukan kalau kita sampai bertengkar dengan orang tua yang telah membengkokkan alat pengorek api dari baja itu. Juga silakan bawa sikat gigi. Kurasa itu saja cukup."

Setibanya di Waterloo kami cukup mujur karena masih bisa menumpang kereta api yang menuju ke Leatherhead. Kami lalu menyewa kereta di penginapan stasiun, dan segera menuju ke daerah pedesaan Surrey yang indah yang berjarak sekitar tujuh atau delapan kilometer dari situ. Hari itu cerah sekali. Matahari bersinar terang, dan hanya ada beberapa awan tipis di langit. Pohon-pohon dan tanaman di sepanjang jalan baru saja menghijau, dan bau tanah yang lembap memenuhi udara. Bagiku, suasana awal musim semi yang indah ini kontras sekali dengan masalah seram yang sedang kami selidiki. Temanku duduk di depan, tangannya dilipat, topinya diturunkan sampai ke dahinya, dan dagunya melorot sampai ke dadanya. Dia sedang berpikir keras. Tapi, tiba-tiba dia menegakkan duduknya dan menepuk bahuku sambil menunjuk ke seberang padang rumput.

"Lihat di sana itu!" katanya.

Sebuah halaman yang dipenuhi kayu-kayuan memanjang sepanjang lereng, makin ke atas makin lebat. Di antara cabang cabang pepohonan itu terlihatlah sebuah gedung kuno yang besar. Dinding rumahnya berbentuk segi tiga berwarna abu-abu dan atapnya setinggi pohon.

"Stoke Moran?" tanyanya.

"Ya, sir, rumah Dr. Grimesby Roylott" jawab kusir kereta.

"Tempat itu sedang dibangun, kan?" kata Holmes. "Kami mau ke sana."

"Desa ada di sebelah situ," kata kusir kereta sambil menunjuk atap-atap rumah di sebelah kiri di kejauhan. "Tapi kalau Anda ingin masuk ke rumah itu, lebih dekat lewat tangga ini, lalu ke jalan setapak melewati ladang-ladang. Itu... yang sedang dilewati wanita itu."

"Dia tentunya Miss Stoner," Holmes mengamati sambil melindungi matanya dari sinar matahari. "Ya, saya kira kami akan melakukan apa yang Anda sarankan."

Kami turun dari kereta, membayar ongkosnya, dan kereta pun kembali ke Leatherhead.

"Kupikir," kata Holmes ketika kami menaiki tangga, "kusir ini sebaiknya menganggap bahwa kita kemari sebagai arsitek atau sedang ada suatu bisnis. Dengan demikian dia tak akan menyebarkan berita macam-macam. Selamat siang, Miss Stoner. Anda lihat, kami memenuhi janji kami."

Klien yang tadi pagi mengunjungi kami bergegas menyambut kami. Wajahnya memancarkan kegembiraan. "Saya telah menunggu-nunggu kedatangan Anda berdua," teriaknya sambil menyalami kami dengan hangat. "Semuanya beres. Dr. Roylott pergi ke kota, dan nampaknya baru akan kembali nanti malam."

"Kami telah berjumpa dengan Dr. Roylott," kata Holmes, dan dengan singkat diceritakannya apa yang telah terjadi. Miss Stoner menjadi pucat pasi ketika mendengar penuturan Holmes.

"Ya, Tuhan!" teriaknya. "Jadi dia tadi membuntuti saya."

"Nampaknya begitu."

"Dia begitu cerdik sehingga saya tak tahu kapan saya bisa melepaskan diri darinya. Apa katanya nanti kalau dia pulang?"

"Dia perlu berhati-hati, karena orang yang lebih cerdik darinya sedang membuntutinya. Anda harus menghindar darinya malam nanti. Kalau dia berbuat kasar, kami akan ungsikan Anda ke bibi Anda di Harrow. Sekarang, kami harus memanfaatkan waktu yang ada. Bisakah Anda langsung mengantar kami ke kamar-kamar yang perlu diamati?"

Gedung itu terbuat dari batu berwarna abu-abu yang sudah berlumut. Bagian tengahnya tinggi sekali, sedangkan dua bangunan sampingnya membelok ke arah berlawanan bagaikan cakar kepiting. Pada salah satu bangunan samping ini, jendelanya sudah banyak yang rusak dan dipalang di sana-sini dengan papan, sedangkan atapnya sudah agak berlubang seperti mau runtuh. Bagian tengahnya agak lumayan, dan bangunan samping sebelah kanan agak modern. Kerai-kerai yang menutupi jendela, dan asap biru yang keluar dari cerobong, menandakan bahwa bagian inilah yang berpenghuni. Beberapa perancah telah dibangun di ujung dinding, dan sebagian dinding batu telah dirobohkan, tapi tak terlihat ada tukang sedang bekerja waktu kami di situ. Holmes berjalan perlahan lahan di halaman yang tumbuhannya sudah lama tak dipangkas itu, dan mengamati bagian bagian luar jendela dengan teiliti.

"Tentunya ini jendela kamar Anda, dan yang di tengah itu jendela kamar saudara kembar Anda, sedangkan yang satunya yang dekat gedung utama milik Dr. Roylott. Betulkah?"

"Tepat sekali. Tapi sekarang saya tidur di kamar yang tengah."

"Menunggu sampai perbaikan yang dilakukan selesai, kan? Omong-omong, tembok ujung itu rasanya tak perlu diperbaiki."

"Memang tak perlu. Saya yakin itu hanya alasan saja supaya saya pindah dari kamar saya."

"Ah! Itu mencurigakan. Di sebelah sana ada koridor yang menghubungkan ketiga kamar itu. Tentunya ada jendela yang menghadap ke situ, kan?"

"Ya, tapi jendela jendela itu kecil sekali, tak mungkin dilewati orang."

"Anda berdua juga selalu mengunci pintu pada malam hari, jadi tak mungkin orang masuk dari arah koridor. Sekarang, bisakah Anda masuk ke kamar Anda dan memasang palang jendelanya dari dalam?"

Miss Stoner melakukan apa yang diminta, dan Holmes, setelah mengamati dengan saksama lewat jendela yang terbuka, mencoba membuka palang itu dengan berbagai cara, tapi sia-sia. Tak ada lubang sedikit pun yang bisa dipakai untuk menyelipkan pisau guna mengangkat palang itu. Kemudian diamatinya engsel-engsel jendela dengan lensanya, tapi ternyata semuanya terbuat dari besi yang kokoh, dan terpasang dengan kuat pula. "Hm!" katanya sambil menggaruk-garuk dagunya tanda keheranan. "Teoriku mengalami kesulitan. Jendela ini tak mungkin dilewati orang kalau sedang dipalang Yah, mari kita lihat bagian dalam kamar. Mungkin ada sesuatu yang berguna bagi penyelesaian masalah ini."

Kami memasuki koridor yang bercat putih lewat pintu samping yang kecil. Ketiga kamar itu membuka ke arah koridor ini. Holmes tak berminat mengamati kamar ketiga, maka kami langsung menuju ke kamar kedua yang kini ditempati Miss Stoner. Di kamar inilah saudara kembarnya menemui ajalnya. Kamar itu kecil dan bersahaja. Atapnya rendah dan perapiannya tak berfungsi. Benar-benar seperti layaknya sebuah kamar di rumah pedesaan kuno. Ada lemari berlaci di salah satu sudut, tempat tidur kecil berseprai putih di sudut lainnya, dan meja rias di sebelah kiri jendela. Selain dua kursi anyaman kecil, dan karpet berbentuk persegi yang terletak di tengah ruangan, tak ada lagi perabotan di kamar itu. Lantai dan lis pada dindingnya berwarna coklat muda, terbuat dari kayu ek yang sudah dimakan ulat. Sudah begitu tua usianya, mungkin telah ada sejak rumah itu dibangun. Holmes menarik sebuah kursi ke salah satu sudut kamar, lalu duduk di situ dengan tenang sambil matanya mengitari semua sudut kamar itu, mengamati setiap detail yang ada.

"Dihubungkan ke mana bel itu?" tanyanya pada akhirnya sambil menunjuk tali bel yang tebal yang tergantung di samping tempat tidur. Ujung tali bel itu tergeletak di bantal.

"Ke kamar pembantu rumah tangga."

"Nampaknya belum lama dipasang?"

"Ya, baru dipasang dua tahun yang lalu."

"Saudara kembar Andakah yang minta dipasangi itu?"

"Tidak, dia bahkan tak pernah mempergunakannya. Kami biasa melakukan apa-apa sendiri."

"Oh, begitu. Jadi, rasanya tali bel yang bagus itu sebenarnya tak perlu ada di situ. Maaf, saya ingin mengamati lantai ini sebentar." Dia mem-bungkuk dengan membawa lensa pembesar di tangannya. Lalu dia merangkak ke sana kemari dengan cepat, mengamati semua celah yang ada di lantai papan itu. Kemudian diperiksanya dengan teliti lis kayu pada dindingnya. Akhirnya dia berjalan ke tempat tidur dan memperhatikannya selama beberapa saat sambil matanya juga memandangi tembok, ke atas dan ke bawah beberapa kali. Lalu diambilnya tali bel itu dan ditariknya keras-keras.

"Lho, bel ini cuma bohongan," katanya.

"Tak berbunyi?"

"Tidak, bahkan tak ada sambungan listriknya. Wah, ini menarik sekali. Lihatlah, tali ini diikat-kan ke cantelan tepat di atas lubang ventilasi itu."

"Aneh sekali! Saya tak pernah memperhatikannya sebelumnya."

"Ya, aneh sekali!" gumam Holmes sambil menarik tali itu. "Ada beberapa keganjilan di kamar ini. Misalnya, tukangnya pasti tolol sekali karena telah membuat lubang ventilasi yang membuka ke kamar lain, padahal seharusnya membuka ke udara luar!"

"Lubang ventilasi itu juga belum lama dibuat-nya," kata wanita itu.

"Hampir bersamaan dengan tali bel ini?" komentar Holmes.

"Ya, waktu itu ada beberapa bagian rumah yang diubah."

"Menarik sekali... tali bel bohongan dan lubang ventilasi yang salah penempatannya. Kalau Anda mengizinkan, Miss Stoner, mari kita lanjutkan penyelidikan kita ke kamar sebelah."

Kamar Dr. Grimesby Roylott lebih luas dibanding kamar anak tirinya, tapi perabotannya sama bersahajanya. Terlihat ada tempat tidur lipat, rak kayu yang penuh dengan buku-buku kedokteran, kursi berlengan di samping tempat tidur, kursi kayu biasa di dekat dinding, meja bundar, dan lemari besi yang besar. Holmes berjalan pelan-pelan mengitari kamar itu dan mengamati setiap barang yang ada di situ dengan penuh minat.

"Apa isinya ini?" tanyanya sambil mengetuk lemari besi.

"Surat-surat bisnis ayah tiri saya."

"Oh! Kalau begitu Anda pernah melihat isi lemari besi ini?"

"Hanya sekali, beberapa tahun yang lalu. Saya ingat isinya penuh dengan surat-surat."

"Tak ada kucing di dalamnya, misalnya?"

"Tentu tidak. Anda kok aneh-aneh saja."

"Tapi, coba lihat ini!" Dia mengangkat semangkuk kecil susu yang terletak di atas lemari besi itu.

"Tidak, kami tak memelihara kucing. Hanya macan tutul dan babun."

"Ah, ya, tentu saja! Yah, macan tutul memang sebangsa kucing, tapi menurut saya, semangkuk kecil susu tak akan cukup untuknya. Ada satu hal yang ingin saya pastikan." Dia berjongkok di depan kursi kayu itu, dan mengamati bagian tempat duduknya dengan penuh perhatian.

"Terima kasih. Sudah cukup sekarang," katanya sambil bangkit berdiri dan menaruh lensanya kembali ke sakunya. "Hai! Ada sesuatu yang menarik dl sini!"

Yang menarik perhatiannya adalah cambuk kecil yang tergantung di salah satu ujung tempat tidur. Tapi cambuk itu tergulung dan diikat bagaikan pusaran air.

"Apa pendapatmu tentang cambuk itu, Watson?"

"Cambuk biasa saja. Cuma aku tak tahu, kenapa mesti diikat begitu."

"Biasanya tak diikat, ya? Ah, aku ini! Dunia penuh dengan kejahatan, dan kalau orang pintar berpikiran jahat, alangkah mengerikan jadinya. Saya kira cukup sampai di sini pengamatan saya, Miss Stoner, dan izinkanlah saya pulang melalui halaman yang berumput itu."

Tak pernah aku melihat wajah temanku begitu muram, atau keningnya begitu gelap, begitu dia selesai dengan penyelidikannya kali ini. Kami telah mengitari padang rumput itu beberapa kali. Baik Miss Stoner maupun aku sendiri tak ada yang berani mengajaknya bicara, karena kami tak ingin mengganggu pikirannya yang sedang bekerja.

"Saya minta, Miss Stoner," katanya, "Anda betul-betul bersedia mengikuti nasihat saya sampai yang sekecil-kecilnya."

"Saya bersedia."

"Masalah ini amat serius, sehingga tak boleh ada keragu-raguan sedikit pun. Hidup Anda tergantung pada ketaatan Anda menjalankan petunjuk saya."

"Saya menjamin bahwa saya akan menuruti apa pun perintah Anda."

"Pertama, saya dan teman saya harus tinggal di kamar Anda malam ini."

Kami berdua memandangnya dengan heran.

"Ya, harus begitu. Biar saya jelaskan. Saya rasa, di seberang ada penginapan, kan?"

"Ya, Penginapan Crown."

"Baik. Jendela Anda terlihat dari sana?"

"Betul."

"Kalau ayah tiri Anda kembali, Anda masuk dan tinggal saja di dalam kamar, pura-pura sakit kepala. Kalau dia sudah tidur, bukalah jendela Anda, taruhlah lampu di jendela itu sebagai tanda bagi kami. Lalu pindahlah ke kamar Anda sendiri dengan membawa perlengkapan-perlengkapan yang Anda butuhkan. Saya yakin, walaupun kamar itu sedang diperbaiki, Anda pasti bisa menggunakannya untuk semalam saja."

"Oh, ya. Gampang."

"Selanjutnya, semuanya urusan kami."

"Tapi, apa yang akan Anda berdua lakukan?"

"Kami akan tinggal di kamar Anda, dan menyelidiki dari mana datangnya suara yang telah mengganggu Anda itu."

"Mr. Holmes, Anda pasti telah menarik kesimpulan," kata Miss Stoner sambil memegang lengan temanku.

"Mungkin saja."

"Kalau begitu, saya mohon katakanlah apa yang menyebabkan kematian saudara kembar saya."

"Lebih baik dibuktikan dulu kebenarannya sebelum saya berkata apa-apa."

"Paling tidak, katakanlah apakah perkiraan saya benar, bahwa Julia meninggal karena rasa terkejut yang amat sangat."

"Menurut saya, tidak. Saya rasa ada sebab lain yang lebih masuk akal. Sekarang, Miss Stoner, kami permisi dulu, karena kalau Dr. Roylott kembali dan melihat kami, maka perjalanan kami kemari akan jadi sia-sia. Sampai nanti, dan jangan takut, karena kalau Anda kerjakan yang saya pesankan, percayalah, Anda akan terhindar dari segala bahaya yang meng-ancam Anda."

Kami tak menemui kesulitan untuk mendapatkan kamar yang ada ruang duduknya di Penginapan Crown. Kamar itu terletak di lantai atas, dan dari jendela kamar itu kami bisa melihat pintu masuk dan bagian gedung Stoke Moran yang dihuni. Pada petang hari, kami melihat Dr. Grimesby Roylott lewat berkereta di jalan, tubuhnya yang besar sangat kontras dengan tubuh pemuda yang menjadi kusirnya. Anak muda itu mengalami sedikit kesulitan waktu hendak membuka pintu gerbang besi yang berat itu, dan kami mendengar suara serak dokter itu yang marah-marah kepadanya sambil mengepal-ngepalkan tinjunya. Kereta itu segera berlalu, dan beberapa menit kemudian kami melihat cahaya lampu di antara pohon-pohon, bersamaan dengan dinyalakannya lampu di salah satu ruang duduk rumah besar itu.

"Begini, Watson," kata Holmes ketika kami duduk berdua dalam kegelapan, "kurasa sebaiknya kau tak usah ikut malam ini. Tugas ini mengandung bahaya."

"Apakah kehadiranku bisa membantu?"

"Sangat berarti."

"Kalau begitu aku harus berangkat."

"Kau baik sekali."

"Kau katakan ada bahaya. Kau pasti telah melihat lebih banyak di kamar kamar tadi dan padaku."

"Tidak juga, tapi aku mungkin lebih banyak membuat kesimpulan. Sebetulnya apa yang kulihat sama dengan apa yang kaulihat."

"Rasanya tak ada yang istimewa kecuali tali bel tadi, tapi untuk apa barang itu ada di situ, aku tak bisa membayangkan."

"Kau juga lihat lubang ventilasi itu, kan?"

"Ya, tapi kurasa kalau ada lubang macam begitu di antara dua kamar, itu kan biasa saja. Lubang itu kecil sekali. Tikus saja susah melewatinya."

"Sebelum kita pergi ke Stoke Moran, aku sudah tahu bahwa kita akan menemukan lubang ventilasi."

"Ya ampun, Holmes!"

"Oh, ya, aku tak bohong. Kauingat ketika Miss Stoner mengatakan bahwa saudara kembarnya mencium bau cerutu Dr. Roylott. Itu menunjukkan bahwa pasti ada celah di antara kedua kamar itu. Tentunya amat kecil, karena kalau lubang itu besar pasti sudah ditanyakan oleh petugas penyidik desa. Begitulah kenapa aku sampai menyimpulkan adanya lubang ven-tilasi."

"Kejahatan apa yang bisa dilakukan melalui lubang sekecil itu?"

"Yah, paling tidak ada beberapa kebetulan soal waktu. Dibuatnya lubang ventilasi, digantungkannya tali, dan meninggalnya wanita yang tidur di tempat tidur itu. Apakah kebetulan-kebetulan ini tak mengherankanmu?"

"Aku tak melihat hubungannya."

"Apakah kauperhatikan bahwa tempat tidur itu agak aneh?"

"Tidak."

"Tempat tidur itu diikat ke lantai. Pernahkah kau melihat tempat tidur diikat seperti itu?"

"Memang tak pernah."

"Jadi wanita itu tidak bisa menggeser tempat tidurnya. Posisinya terhadap lubang ventilasi dan tali bel itu akan selalu begitu, karena jelas bahwa tali itu memang tak dimaksudkan untuk membunyikan bel."

"Holmes," teriakku, "aku mulai mengerti arah pembicaraanmu. Kalau begitu, kita datang tepat pada waktunya untuk mencegah terjadinya kejahatan yang licik dan mengerikan."

"Cukup licik dan cukup mengerikan. Kalau seorang dokter tak beres hidupnya, dia akan langsung jadi penjahat. Dia punya keberanian dan keahlian untuk itu. Contohnya Palmer dan Pritchard yang sebenarnya adalah dokter-dokter terkenal. Dokter yang satu ini malah melakukan sesuatu yang lebih canggih dari mereka. Tapi, Watson, kurasa kita akan bisa melakukan sesuatu yang jauh lebih canggih lagi. Kita akan melewati malam yang cukup menakutkan nanti, jadi ayolah santai sejenak dengan mengisap pipa sambil memikirkan hal-hal yang menyenangkan."

Kira-kira pukul sembilan malam, cahaya di antara pepohonan lenyap, dan rumah bangsawan itu diselimuti kegelapan. Waktu terasa berlalu dengan lambat sekali. Dua jam kemudian, ketika jam berdentang sebelas kali, sepercik sinar kecil bercahaya tepat di depan kami.

"Itu tanda untuk kita," kata Holmes sambil bersiap pergi. "Cahaya lampu itu berasal dari jendela kamar yang di tengah."

Ketika kami hendak keluar, dia menjelaskan kepada pemilik penginapan bahwa kami akan mengunjungi saudara kami dan mungkin baru kembali esok hari. Sejenak kemudian kami sudah berada di jalan yang gelap gulita. Angin dingin berembus menerpa wajah kami, dan hanya sinar kecil di depan kami itulah yang menuntun kami menuju tugas yang tak menyenangkan ini.

Kami mengalami sedikit kesulitan ketika memasuki halaman, karena ada reruntuhan tembok di sebagian halaman. Setelah melewati pepohonan, kami tiba di halaman yang berumput. Kami menyeberang, dan tibalah saatnya untuk masuk lewat jendela. Tiba-tiba dari semak-semak, muncul sesosok tubuh yang mengerikan—mirip anak kecil. Ia menjatuhkan diri ke rerumputan dan menggeliat-geliat, lalu berlari menghilang di kegelapan.

"Ya, Tuhan!" bisikku. "Kaulihat?"

Untuk sesaat Holmes juga terperanjat seperti diriku. Tangannya mencengkeram tanganku dengan erat karena kagetnya. Kemudian dia tertawa tertahan, dan mendekatkan bibirnya ke telingaku.

"Rumah yang menyenangkan," gumamnya. "Tadi itu si babun."

Aku lupa bahwa dokter itu memelihara binatang-binatang aneh. Masih ada macan tutul juga. Jangan-jangan malah tiba-tiba melompat ke bahu kami. Kuakui betapa leganya hatiku setelah mengikuti Holmes melompati jendela, dan masuk ke kamar itu. Dengan hati-hati temanku mengembalikan palang jendela, memindahkan lampu ke meja, dan mengamati sekeliling ruangan. Semuanya masih tetap sama seperti yang kami lihat tadi siang. Kemudian dia mendekatiku dan berbisik begitu perlahannya sehingga aku harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk dapat menangkap kata-katanya, "Suara sedikit saja akan membuyarkan rencana kita."

Aku mengangguk untuk menyatakan bahwa aku mendengar bisikannya.

"Mari kita duduk, dan lampu harus dimatikan, karena dia bisa melihat sinarnya dari lubang ventilasi."

Kembali aku mengangguk.

"Jangan sampai tertidur. Ini mempengaruhi hidup matimu. Siapkan pistolmu, siapa tahu kita akan membutuhkannya. Aku akan duduk di samping tempat tidur, dan kau di kursi sana."

Kukeluarkan pistolku dan kutaruh di ujung meja. Holmes membawa pula sebuah tongkat panjang pipih yang diletakkannya di tempat tidur di sampingnya bersama sekotak korek api dan sebatang lilin. Kemudian dimatikannya lampu dan tinggallah kami dalam kegelapan.

Bagaimana mungkin aku bisa melupakan tugas jaga yang mengerikan itu? Tak ada suara terdengar, bahkan helaan napas sekalipun Tapi aku tahu bahwa temanku sedang duduk dalam keadaan siaga di pos jaganya, dan dia pun dalam keadaan tegang seperti diriku. Kami menunggu dalam kegelapan. Dari luar sesekali terdengar teriakan burung malam, dan suatu saat terdengar suara semacam geraman kucing yang panjang, yang menunjukkan bahwa macan tutul itu memang dibiarkan berkeliaran di luar. Di kejauhan, kami mendengar suara jam desa yang berdentang tiap seperempat jam. Betapa lamanya tiap seperempat jam itu berlalu! Jam dua belas, jam satu, jam dua, dan jam tiga. Kami masih tetap duduk dalam diam menantikan sesuatu terjadi.

Tiba-tiba, ada sekilas cahaya di arah lubang ventilasi. Tapi cuma sekejap, lalu cahaya itu padam lagi, dan digantikan dengan bau minyak menyala dan logam panas yang tajam. Penghuni kamar sebelah telah menyalakan sebuah lentera. Terdengar suara seseorang yang bergerak dengan amat hati-hati dan lalu sunyi lagi, tapi bau itu semakin menyengat. Selama setengah jam aku duduk sambil menyiagakan telingaku. Lalu tiba-tiba terdengar suara lain—suara menenangkan sesuatu yang amat lembut, seperti suara uap yang terlepas dari ceret air yang kita panaskan. Pada saat suara itu terdengar, Holmes meloncat dari tempat tidur, menyalakan korek, dan memukulkan tongkatnya dengan geram ke tali bel di tempat tidur itu.

"Kaulihat, Watson?" teriaknya. "Kaulihat?"

Tapi aku tak melihat apa-apa. Ketika Holmes menyalakan korek kudengar dengan jelas suara siulan rendah, tapi sinar yang tiba-tiba menyala menyilaukan mataku sehingga aku tak bisa mengatakan apa yang tadi dipukuli oleh temanku. Tapi aku bisa melihat tampangnya yang pucat pasi, penuh dengan rasa ngeri dan jijik.

Dia sudah berhenti memukul dan matanya memandang dengan nyalang ke arah lubang ventilasi. Tiba-tiba terdengar teriakan yang amat memilukan di tengah keheningan malam. Tak pernah aku mendengar teriakan sengeri itu sebelumnya. Teriakan itu makin lama makin keras, antara lolongan kesakitan, ketakutan, dan kemarahan yang bercampur menjadi satu. Orang-orang mengatakan bahwa pekikan itu terdengar sampai di kejauhan, bahkan sampai di rumah pendeta di ujung desa, dan orang-orang pun terbangun dari tidur mereka. Jantung kami berdetak lebih keras, dan aku berdiri sambil memandang Holmes. Dia pun sedang memandangku, sampai akhirnya pekikan itu berhenti dan keheningan kembali merajai sekeliling kami.

"Apa artinya semua ini?" kataku dengan napas sesak.

"Artinya semuanya telah selesai," jawab Holmes. "Dan mungkin, memang sebaiknya begini. Bawa pistolmu, dan mari masuk ke kamar Dr. Roylott."

Dengan wajah angker dinyalakannya lampu, lalu dia berjalan di depanku di sepanjang koridor. Dua kali diketuknya pintu kamar Dr. Roylott, tapi tak ada sahutan dari dalam. Dia lalu memutar pegangan pintu dan masuk ke kamar itu. Aku mengekor di belakangnya dengan pistol siap di tangan.

Sungguh pemandangan yang menyeramkan yang kami lihat! Di meja terdapat lentera yang penutupnya masih setengah terbuka, dan cahayanya menyinari lemari besi yang pintunya terbuka. Di samping meja, terlihat Dr. Grimesby Roylott dalam pakaian tidurnya yang panjang terduduk di kursi kayu. Kedua pergelangan kakinya tersembul ke bawah, dan kakinya terdesak masuk ke sandal Turki-nya yang berwarna merah. Di pangkuannya tergeletak tongkat pendek dan cambuk panjang yang telah kami lihat siang tadi. Dagunya mendongak ke atas, dan matanya melotot ke pojok atap ruangan. Pada keningnya terdapat lilitan berwarna kuning yang aneh. Lilitan itu berbintik-bintik coklat, dan nampaknya terikat dengan erat di kepalanya. Ketika kami memasuki ruangan, dia tak bersuara ataupun bergerak.

"Lilitan itu! Lilitan bintik-bintik!" bisik Holmes.

Aku maju selangkah. Lilitan di kepalanya tiba-tiba bergerak, dan dari rambutnya tersembul sebuah kepala ular berbentuk segi empat yang menjijikkan.

"Ular rawa yang berbisa!" teriak Holmes. "Jenis ular yang paling mematikan di India. Dia pasti sudah mati dalam sepuluh detik setelah digigit. Begitulah jadinya, kekejaman akan dibalas dengan kekejaman, dan orang yang merencanakan kekejaman ini telah jatuh ke perangkapnya sendiri yang sebenarnya ditujukan untuk orang lain. Mari kita kembalikan binatang ini ke kandangnya, lalu kita ungsikan Miss Stoner ke tempat yang aman, dan biarlah polisi setempat mengetahui apa yang telah terjadi."

Setelah berkata begitu, dia mengambil cambuk panjang di pangkuan orang mati itu, dan dilemparkannya simpulnya ke leher ular itu. Lalu ditariknya ular itu dari tempatnya bertengger, dan dilemparkannya ke dalam lemari besi yang lalu segera ditutupnya.

Begitulah akhir hidup Dr. Grimesby Roylott dari Stoke Moran. Kurasa aku tak perlu memperpanjang ceritaku yang sudah cukup panjang ini dengan mengisahkan bagaimana kami mengabarkan berita menyedihkan ini kepada wanita yang sedang ketakutan itu, bagaimana kami mengantarnya dengan kereta api pagi ke rumah bibinya yang baik hati di Harrow, tentang betapa lamanya proses penyidikan resmi yang akhirnya menyimpulkan bahwa dokter itu telah menemui ajalnya ketika sedang bermain-main dengan binatang peliharaannya yang berbahaya itu. Ketika kami dalam perjalanan pulang keesokan harinya, Holmes menceritakan beberapa hal yang belum kuketahui kepadaku.

"Semula aku membuat kesimpulan yang sangat keliru, Watson," katanya. "Itu menunjukkan, betapa bahayanya menyimpulkan sesuatu dari data yang kurang lengkap. Kehadiran para gipsi, dan kata 'lilitan' yang dipakai wanita malang itu untuk menggambarkan ular yang hanya sekilas dilihatnya, menempatkan aku pada alur yang salah. Aku baru menimbang-nimbang kembali kesimpulanku setelah kulihat bahwa bahaya yang telah menimpa penghuni kamar itu, apa pun bentuknya, tak mungkin masuk dari jendela atau pintu kamar. Perhatianku langsung terarah kepada lubang ventilasi dan tali bel yang tergantung sampai di tempat tidur itu, seperti yang pernah kukatakan kepadamu. Kenyataan bahwa bel itu cuma bohongan, dan bahwa tempat tidurnya terikat ke lantai, langsung menimbulkan kecurigaanku. Jangan-jangan tali itu digunakan untuk jalan lewat sesuatu melalui lubang ventilasi menuju tempat tidur. Aku lalu mendapat ide bahwa sesuatu itu mungkin seekor ular, apalagi setelah menyadari bahwa sang dokter memclihara banyak binatang dari India. Maka aku semakin yakin akan dugaanku. Ide untuk memanfaatkan gigitan ular berbisa yang tak mungkin dideteksi oleh tes kimia apa pun itu, pasti hanya mungkin dilakukan oleh seseorang yang pandai sekaligus kejam, yang pernah tinggal di negeri Timur. Baginya cara kerja racun ular yang amat cepat itu amat menguntungkannya. Hanya petugas penyidik mayat yang amat jeli yang bisa mengenali adanya dua bekas tusukan berwarna hitam yang menunjukkan bagian tubuh mana yang telah digigit oleh ular itu. Kemudian aku memikirkan soal siulan itu. Tentu saja, sang dokter harus memanggil ular itu kembali sebelum sinar pagi menerangi kamar. Dia telah dilatihnya untuk kembali ke termpatnya bila dipanggil, mungkin dengan imbalan susu yang pernah kita lihat sebelumnya. Makhluk itu ditaruhnya di lubang ventilasi pada saat yang tepat menurut perkiraannya, lalu tentunya dimaksudkan agar dia merayap turun melalui tali bel, menuju tempat tidur. Mungkin dia menggigit penghuni tempat tidur itu... mungkin pula tidak. Selama seminggu bisa saja si gadis selamat, tapi suatu saat dia pasti akan jadi korban gigitan ular itu.

"Aku sudah menduga hal ini bahkan sebelum masuk ke kamar sang dokter. Kursi di kamarnya menunjukkan bahwa dia sering berdiri di atasnya agar dapat menggapai lubang ventilasi. Ketika kulihat lemari besi itu, mangkuk susu, dan ikatan cambuk, yakinlah aku akan dugaan-dugaanku. Bunyi logam jatuh yang didengar oleh Miss Stoner pastilah bunyi pintu lemari besi, yang ditutup oleh ayah tirinya dengan tergesa-gesa. Setelah mengambil keputusan aku lalu mengatur rencana untuk membuktikannya. Kau sendiri tahu langkah-langkah apa yang kuambil. Aku mendengar waktu ular itu mendesis kau juga pasti mendengarnya, dan aku langsung menyalakan korek dan memukulnya

"Sehingga ular itu kembali melalui lubang ventilasi."

"Dan akibatnya dia menggigit tuannya sendiri. Pukulanku-pukulanku menyebabkan ular itu marah, sehingga dia menyerang siapa saja yang ditemuinya untuk pertama kali. Dengan demikian, secara tak langsung aku bertanggung jawab atas kematian Dr. Grimesby Roylott tapi anehnya, hati nuraniku tak terusik sedikit pun."