Kalau aku sedang memilah-milah kasus yang bisa menunjukkan kehebatan daya pikir sahabatku, Sherlock Holmes, aku selalu berusaha memilih—semaksimal mungkin—kisah-kisah yang tak menimbulkan sensasi namun menonjolkan kemahiran sahabatku. Sayangnya, perkara kriminal tak selalu bisa terlepas dari sensasi. Dan wartawan yang melaporkan berita semacam aku ini lalu menghadapi dilema: apakah aku sebaiknya menghilangkan beberapa perincian penting dari kisah yang akan kulaporkan dengan kemungkinan memberikan gambaran yang salah tentang kasus itu, ataukah aku harus mengambil kesempatan—tanpa perlu memikir-mikir—melaporkan semuanya apa adanya. Setelah kata pembukaan yang singkat ini, aku ingin mengisahkan suatu rangkaian peristiwa yang unik dan mengerikan.

Pada suatu siang di bulan Agustus, cuaca panas sekali. Baker Street bagaikan oven, dan pantulan sinar matahari pada dinding gedung di seberang sangat menyilaukan mata. Hampir tak bisa dipercaya bahwa dinding yang sama itulah yang berwama abu-abu kusam kalau tersapu kabut di musim dingin. Kerai jendela ruangan kami tertutup setengahnya, dan Holmes meringkuk di sofa sambil berulang kali membaca sepucuk surat yang diterimanya tadi pagi. Aku sendiri tak begitu terganggu cuaca panas ini, karena tugasku di India dulu telah membuatku lebih tahan panas daripada dingin. Namun koran pagi yang kubaca tak menarik perhatianku. Parlemen bergolak. Orang-orang banyak bepergian ke luar kota, dan ingin sekali rasanya aku berada di daerah New Forrest atau Southsea. Karena simpanan bankku menipis, aku harus menunda liburanku, sedangkan sahabatku ini tak pernah tertarik berlibur ke pedesaan maupun ke pantai. Dia lebih suka berada di jantung kota yang berpenduduk lima juta ini, mengendus-endus misteri yang belum terpecahkan. Baginya keindahan alam tak ada artinya, dan kalau sekali-sekali dia mau turun ke desa, ini hanya untuk memburu pelaku tindak kriminal.

Karena Holmes sedang tak ingin ngobrol denganku, aku menaruh koran yang menjemukan itu, lalu duduk menjulurkan kaki sambil membiarkan pikiranku melayang-layang tak tentu tujuan. Tiba-tiba suara sahabatku memotong lamunanku.

"Kau benar, Watson," katanya, "memang sangat tak masuk akal cara melerai pertikaian itu."

"Sangat tak masuk akal!" teriakku, dan dalam sekejap aku menyadari bahwa dia telah mengutarkan apa yang ada dalam benakku. Aku tersentak dan menatapnya dengan terheran-heran.

"Apa-apaan ini, Holmes?" teriakku. "Sungguh tak terbayangkan olehku."

Dia tertawa melihat keherananku

"Kau ingat, kan," katanya, "beberapa saat yang lalu ketika kubacakan artikel karangan Poe yang menyatakan bahwa seorang pemikir ulung bisa mengikuti pemikiran temannya walaupun tak diucapkan? Bagimu ini cuma bualan penulis, padahal aku sudah sering membuktikannya, dan selalu saja kau terheran-heran."

"Oh, tidak!"

"Kau mengatakan tidak, sobatku Watson, tapi alismu mengatakan itu benar. Maka, ketika tadi aku melihatmu menaruh koran dan melamun aku senang karena mendapat kesempatan membaca isi pikiranmu, dan akhirnya memotong lamunanmu, untuk membuktikan aku sedang mengadakan kontak dengan pikiranmu."

Aku belum puas. "Pada contoh yang ditulis di buku itu," kataku, "sang pemikir menarik kesimpulan-kesimpulan berdasarkan tingkah laku orang yang diamatinya. Kalau aku tak salah ingat, orang itu menabrak setumpuk batu, menatap bintang-bintang di langit, dan lain-lain. Aku cuma duduk termenung; petunjuk apa yang telah kaudapatkan dariku?"

"Kau berlaku tak adil kepada dirimu sendiri. Mimik wajah seseorang adalah gambaran nyata dari keadaan perasaannya. dan mimik wajahmu itu sungguh luar biasa."

"Maksudmu kau bisa membaca isi pikiranku berdasarkan mimik wajahku?"

"Mimik wajahmu, terutama matamu. Mungkin kau sendiri tak ingat dari mana lamunanmu berawal?"

"Tidak."

"Nah, aku akan mengingatkanmu. Setelah menaruh koran kau duduk terdiam selama setengah menit dengan ekspresi wajah hampa. Lalu, matamu tertuju ke foto Jenderal Gordon yang bingkainya baru itu, dan aku melihat perubahan di wajahmu. Itu tandanya kau mulai melamun. Tapi itu tak berlangsung lama. Matamu ganti menatap foto Henry Ward Beecher yang belum sempat diberi bingkai, yang kautaruh di atas tumpukan bukumu. Kemudian kau menatap dinding, dan tentu saja tindakanmu ini jelas sekali maksudnya. Kau sedang membayangkan betapa bagusnya kalau foto itu segera diberi bingkai, sehingga bisa dipasang di dinding yang masih kosong sejajar dengan foto Gordon di sebelah sana."

"Kau bisa mengikuti pikiranku dengan sangat mengagumkan!" teriakku.

"Sejauh ini memang semuanya sesuai. Tapi pikiranmu lalu kembali ke Beecher, dan kau menatapnya begitu rupa bagaikan sedang mempelajari karakternya melalui mimik wajah dalam foto itu. Lalu tatapanmu menjadi tak begitu tajam lagi, walau kau tetap menatap foto itu. Wajahmu serius. Kau pasti sedang mengingat kembali penstiwa-peristiwa yang terjadi sepanjang karier Beecher. Aku tahu kau pasti membayangkan misi yang diembannya demi rakyat Utara selama Perang Saudara. Aku ingat kau pernah menyatakan kejengkelanmu karena rakyat kita yang sedang bergolak tak begitu menghargainya ketika dia berkunjung ke sini. Kau begitu marahnya tentang hal itu, sehingga aku tahu kalau kau menatap foto Beecher, kau pasti akan mengingat insiden itu. Sejenak kemudian kulihat matamu berpaling dari foto itu. Aku menduga, pikiranmu beralih ke Perang Saudara. Kau mengatupkan bibirmu rapat-rapat, matamu berbinar, dan kedua tanganmu terkepal. Aku yakin kau sedang membayangkan keberanian yang ditunjukkan kedua belah pihak yang sedang bertikai. Lalu, wajahmu menjadi sedih kembali; kau menggeleng-gelengkan kepalamu. Kau sedang memikirkan kepedihan dan kengerian karena banyaknya korban jiwa dalam peperangan itu. Tanganmu menyentuh luka di tubuhmu, lalu kau tersenyum. Ini menunjukkan betapa menggelikannya cara yang telah dipakai untuk memecahkan masalah internasional itu, menurut anggapanmu tentunya. Pada saat itulah kukatakan aku setuju cara itu tak masuk akal, dan aku senang karena ternyata kesimpulanku benar."

"Tepat sekali," kataku, "meski aku masih tak habis pikir setelah kaujelaskan."

"Ah, bukan sesuatu yang luar biasa, sobatku Watson, betul. Sebenarnya aku tak berniat menarik perhatianmu lagi tentang hal ini, kalau saja waktu itu kau percaya. Tapi ini, surat yang mengabarkan adanya masalah kecil yang penanganannya bisa jadi lebih rumit daripada sekadar membaca pikiran orang. Apakah kau sudah membaca berita singkat tentang paket pos aneh yang dialamatkan kepada Miss Cushing di Cross Street, Croydon?"

"Tidak, aku tak melihat berita itu."

"Ah! Berita ini pasti terlewat olehmu. Coba, bawa kemari surat kabar itu. Nih, di sini, di bawah kolom keuangan. Mungkin ada baiknya kalau kaubacakan keras-keras."

Aku menerima surat kabar ini dari Holmes, lalu membaca berita yang dimaksudkannya. Judulnya, "Paket Mengerikan".
Miss Susan Cushing yang tinggal di Cross Street, Croydon, telah menjadi korban lelucon yang keterlaluan atau amat jahat terselubung. Pada pukul dua kemarin siang, tukang pos menyerahkan paket kecil yang terbungkus kertas cokelat. Di dalamnya terdapat kotak karton berisi garam yang masih kasar. Ketika menuangkan garam itu keluar dari kotaknya, Miss Cushing terperanjat karena menemukan dua telinga manusia yang jelas baru dipotong dari tempatnya. Paket itu dikirim dari Belfast pagi hari sebelumnya. Tak ada nama pengirim, dan yang lebih aneh lagi ada ah kenyataan bahwa Miss Cushing itu wanita lajang berusia lima puluh tahun, dan praktis sudah pensiun. Dia tak punya banyak kenalan atau sahabat pena, jadi dia tak sering menerima surat—apalagi paket—via pos. Tapi beberapa tahun yang lalu, ketika tinggal di Penge, dia menyewakan kamar-kamar di bagian paviliun kepada tiga mahasiswa kedokteran. Dia terpaksa mengusir mereka karena mereka suka gaduh dan melakukan hal yang aneh-aneh. Polisi berpendapat pengirim paket ini mungkin saja para pemuda itu. Karena marah telah diusir wanita itu, mereka ingin menakut-nakutinya dengan mengirimkan benda mengerikan yang mereka dapat dari kamar bedah. Teori itu didasarkan pada kenyataan bahwa salah satu dari ketiga mahasiswa itu memang berasal dari Irlandia Utara, tepatnya Belfast—begitu menurut Miss Cushing. Sementara itu, penyelidikan kasus ini dipercayakan kepada Mr. Lestrade, salah satu detektif terbaik yang dimiliki kepolisian kita.
"Ini yang dilaporkan Daily Chronicle," kata Holmes ketika aku selesai membaca berita itu. "Sekarang mengenai teman kita Lestrade. Tadi pagi aku menerima surat darinya yang isinya: 'Saya kira kasus ini sangat cocok untuk Anda. Kami punya harapan untuk menyelesaikan kasus ini, tapi kami menemui sedikit kesulitan untuk melakukan pelacakan. Tentu saja kami sudah menelepon ke kantor pos Belfast, tapi hari itu ada banyak sekali paket yang dikirim dan mereka tak bisa mengidentifikasi paket yang satu itu. Mereka juga tak ingat siapa yang telah mengirimkannya. Kotak informasi itu bekas kotak tembakau ukuran seperempat kilogram—hanya itulah yang bisa kami dapatkan. Teori yang mengarah kepada mahasiswa kedokteran itu tetap saya perhatikan, tapi kalau Anda ada waktu, saya akan sangat senang kalau kita bisa bertemu. Sepanjang hari ini, kalau tidak di rumah berarti saya di kantor polisi.' Bagaimana, Watson? Tahankah kau menghadapi cuaca yang panas membara seperti ini, karena kita akan segera berangkat ke Croydon untuk menangani kasus langka itu?"

"Aku memang ingin sekali melakukan sesuatu."

"Kalau begitu, baiklah. Tolong tekan bel dan minta pelayan memesan kereta. Aku akan segera siap setelah ganti pakaian dan mengisi kotak rokok."

Hujan turun ketika kami sudah berada di kereta api, dan hawa tak begitu panas di Croydon dibandingkan dengan di pusat kota. Holmes telah mengirim telegram sebelum berangkat, sehingga Lestrade yang kurus tubuhnya, necis pakaiannya, dan waspada gerak-geriknya menjemput kami di stasiun. Kami berjalan kaki selama lima menit, menuju tempat tinggal Miss Cushing di Cross Street.

Jalan itu panjang sekali. Pada kedua sisinya berjajar rapi rumah-rumah bata berlantai dua yang berdekatan. Tangga rumah-rumah itu terbuat dari baru yang telah memutih, dan ada beberapa wanita mengenakan celemek sedang bergosip di depan pintu rumah. Setelah melewati jalan itu kira-kira separonya, Lestrade berhenti dan mengetuk pintu sebuah rumah. Seorang gadis kecil pelayan membukakan pintu. Miss Cushing sedang duduk di ruang depan, dan ke situlah kami diantar masuk. Wanita itu berwajah tenang, matanya besar dan lembut, dan rambut ikalnya yang sudah memutih memenuhi kedua pelipisnya. Sebuah bantalan kursi yang sudah selesai dikerjakan tergeletak di pangkuannya, dan sekeranjang sutra warna-warni berada di kursi pendek di sampingnya.

"Isi paket yang mengerikan itu ada di paviliun," kata wanita itu ketika Lestrade memasuki ruangan. "Saya harap Anda segera membawanya pergi."

"Memang, Miss Cushing. Saya meninggalkannya di sini hanya sampai teman saya, Mr. Holmes, melihatnya di hadapan Anda."

"Mengapa harus di hadapan saya, Sir?"

"Kalau-kalau dia ingin menanyakan sesuatu."

"Untuk apa bertanya-tanya kepada saya? Bukankah telah saya katakan saya tak tahu apa-apa tentang paket itu?"

"Saya mengerti, Madam," kata Holmes dengan lembut, "tentunya Anda telah sangat terganggu dengan peristiwa ini?"

"Itu jelas, Sir. Saya suka ketenangan dan sudah pensiun. Saya benar-benar merasa aneh melihat nama saya masuk surat kabar dan polisi lalu lalang di rumah saya. Saya tak mau menyimpan benda itu di sini, Mr. Lestrade. Kalau kalian mau melihatnya, silakan menuju ke paviliun."

Paviliun kecil itu terletak di taman sempit di belakang rumah. Lestrade masuk, lalu keluar lagi membawa kotak karton kuning, secarik kertas cokelat, dan seutas tali. Ada bangku di ujung jalanan taman, dan kami semua duduk di situ sementara Holmes mengamati benda-benda itu satu per satu.

"Tali ini amat menarik," komentarnya sambil mengangkat tali itu ke arah lampu dan menatapnya dengan saksama. "Apa komentarmu, Lestrade?"

"Tali itu dilumuri ter."

"Tepat sekali. Anda juga sudah menyatakan Miss Cushing telah memotong tali ini dengan gunting, sebagaimana terlihat pada bekas di kedua ujungnya. Ini penting sekali."

"Penting bagaimana?" tanya Lestrade.

"Kenyataan simpulnya ternyata masih utuh, dan bentuk simpul ini unik sekali."

"Ikatannya memang rapi, sebagaimana saya laporkan," kata Lestrade puas.

"Kalau begitu, cukuplah sudah dengan talinya," kata Holmes sambil tersenyum. "Sekarang kertas pembungkus kotak kardus itu. Warnanya cokelat dan agak bau kopi. Apa Anda tak memperhatikannya? Saya yakin akan hal ini. Penulisan alamatnya agak semrawut: 'Miss S. Cushing, Cross Street, Croydon.' Penulis memakai pena yang ujungnya lebar, mungkin jenis J, dan tintanya murahan. Kata Croydon sebelumnya ditulis Croidon, lalu i nya diganti dengan y. Paket ini pasti dikirim seorang pria—bentuk tulisannya jenis tulisan pria—yang tak berpendidikan, dan tak tahu-menahu tentang Croydon. Sampai di sini, bagus sekali! Kotaknya kuning, bekas kotak tembakau ukuran seperempat kilo, tanpa tanda apa-apa kecuali bekas dua jempol tangah di sudut kiri bawah. Isinya garam kasar yang biasa dipakai untuk mengawetkan kulit binatang atau semacam itu. Dan di antara garam itu terdapat benda unik ini."

Sambil mengatakan ini, Holmes mengeluarkan kedua potongan telinga itu, dan menaruhnya di depan lututnya. Dia mengamatinya dengan saksama, sementara aku dan Lestrade membungkuk di samping kiri dan kanannya. Kami tak henti-hentinya berpaling dari benda yang mengerikan ini ke wajah sahabatku yang serius dan penasaran, dan sebaliknya. Akhirnya dia mengembalikan benda itu ke dalam kotak kardus, lalu terduduk diam sambil berpikir keras.

"Tentunya kalian memperhatikan," katanya pada akhirnya, "kedua telinga itu tidak berpasangan."

"Ya, saya lihat itu. Tapi, kalau ini memang lelucon gila para mahasiswa kedokteran, bukankah tak sulit bagi mereka mencuri dua telinga yang tak berpasangan?"

"Tepat sekali. Namun ini bukan lelucon gila."

"Anda yakin?"

"Dugaan saya demikian. Mayat-mayat di kamar bedah biasanya diberi suntikan cairan pengawet. Telinga-telinga ini tidak, bahkan masih baru. Dipotong dengan alat tumpul, dan ini tak mungkin dilakukan mahasiswa kedokteran. Lagi pula, mereka pasti akan memakai cairan pengawet yang mengandung karbol atau alkohol, bukannya garam kasar. Saya ulangi, ini bukan sekadar lelucon gila, tapi tindak kejahatan yang serius."

Tubuhku agak bergetar ketika aku mendengar ucapan sahabatku, karena aku melihat wajahnya yang mengeras dan memancarkan kecemasan. Penjelasan awal yang tajam ini tampaknya dilatarbelakangi sesuatu yang menakutkan aneh, dan tak mudah dipahami. Namun Lestrade hanya menggeleng lemah sebagai ungkapan keraguannya.

"Tak diragukan lagi, ini memang bukan sekadar lelucon gila," katanya, "tapi yang diutarakan Mr. Holmes pun tak beralasan. Kita tahu hidup wanita yang cukup terhormat ini tenang-tenang saja di Penge, dan dia sudah menetap di sini selama dua puluh tahun. Jadi, untuk apa gerangan seorang penjahat mengirim sesuatu yang bisa menjadi bukti kejahatannya kepada wanita ini? Sama seperti kita, saya rasa Miss Cushing memang tak tahu-menahu tentang kasus ini, kecuali kalau dengan lihainya dia bersandiwara kepada kita."

"Masalah itulah yang harus kita pecahkan," jawab Holmes, "dan bagi saya pribadi, saya akan memulainya dengan menganggap dugaan saya benar, dan telah terjadi pembunuhan terhadap dua orang. Salah satu telinga ini milik seorang wanita, bentuknya bagus, dan ada bekas lubang untuk memakai giwang. Yang satunya lagi milik seorang pria, sering berjemur di panas matahari, warnanya agak pudar, tapi juga berlubang bekas giwang. Kedua orang ini tentunya sudah mati, karena jika tidak, berita tentang hilangnya telinga mereka pasti sudah dimuat di surat kabar. Sekarang hari Jumat; paket ini dikirim pada Kamis pagi. Jadi, pembunuhan terjadi pada hari Rabu, Selasa, atau bahkan sebelumnya. Seandainya kedua orang itu dibunuh, pasti sang pembunuh itu yang telah mengirimkan hasil pembunuhannya ini ke Miss Cushing. Kita bisa menduga pengirim paket ini memang pembunuh yang kita cari. Tapi kita harus mendapatkan alasan yang kuat mengapa paket ini dikirimkan ke Miss Cushing. Apa, ya, alasan yang masuk akal? Dengan mengirimkan barang ini, tentunya sang pengirim ingin memberitahukan dia benar-benar telah melakukan pembunuhan; atau mungkin untuk mengganggu ketenteraman wanita itu. Kalau dugaan ini benar, berarti Miss Cushing tahu-menahu soal ini. Apakah dia tahu? Saya meragukan hal itu. Seandainya memang tahu, mengapa dia melaporkan hal itu kepada polisi? Dia kan bisa saja langsung mengubur kedua telinga itu. Itulah yang seharusnya dilakukannya kalau dia ingin melindungi si pelaku. Tapi seandainya dia tak bermaksud merahasiakan pelaku tindak kejahatan ini, dia tentunya akan mengatakan siapa orangnya. Ada sedikit keruwetan di sini yang perlu segera diluruskan."

Holmes mengutarakan semua ini dengan cepat dan volume suara meninggi sambil menatap kosong ke arah pagar halaman. Namun, tiba-tiba dia berdiri dengan sigap dan berjalan menuju ke rumah.

"Saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepada Miss Cushing," katanya.

"Kalau begitu, saya pamit dulu," kata Lestrade, "karena ada urusan lain yang harus saya kerjakan. Saya rasa saya sudah cukup mendapatkan infor-masi dari Miss Cushing. Sampai jumpa di kantor polisi."

"Kami akan mampir ke sana sebelum pulang naik kereta api," jawab Holmes.

Sejenak kemudian kami berdua telah berada di ruang depan Miss Cushing, tempat wanita yang tenang itu masih juga mengerjakan bantalan kursinya. Ketika melihat kami masuk, dia meletakkan pekerjaannya di pangkuannya, dan matanya yang biru menatap kami dengan pandangan polos namun penuh tanda tanya.

"Saya yakin, Sir," katanya, "semua ini hanya masalah salah kirim, dan paket itu sebenarnya bukan untuk saya. Saya sudah mengatakan ini berkali-kali kepada polisi dari Scotland Yard itu, tapi dia cuma tertawa. Sejauh pengetahuan saya, saya tak punya seorang musuh pun di dunia. Jadi, untuk apa sang pengirim mempermainkan saya?"

"Saya juga hampir berpendapat demikian, Miss Cushing," kata Holmes sambil mengambil tempat duduk di samping wanita itu. "Saya rasa, apakah mungkin..." Dia tak melanjutkan kata-katanya. Aku terkejut ketika menoleh ke arah sahabatku, karena dia sedang menatap wanita itu dengan sangat tajam. Tak biasanya dia menatap seseorang demikian rupa. Lalu wajahnya yang penasaran sekejap memancarkan rasa terkejut dan rasa puas secara bergantian. Ketika wanita itu menoleh ke arah Holmes karena dia tiba-tiba berhenti berbicara, wajah Holmes telah kembali tenang. Aku mencoba mengamati rambut putih Miss Cushing, topi tipis yang dikenakannya, giwang mungilnya yang agak miring, profilnya yang tenang, tapi aku tak berhasil menemukan sesuatu yang aneh.

"Saya ingin mengajukan satu-dua pertanyaan...."

"Oh, saya sudah muak dengan pertanyaan!" teriak Miss Cushing kesal.

"Saya rasa Anda punya dua saudara wanita."

"Bagaimana Anda tahu itu?"

"Begitu masuk ke sini, saya langsung melihat foto kalian bertiga di atas perapian. Salah satu wanita di foto itu jelas Anda sendiri, sedangkan dua lainnya sangat mirip dengan Anda. Jadi mereka pasti saudara kandung Anda."

"Ya, Anda benar. Mereka adik-adik saya, Sarah dan Mary."

"Dan di dekat saya ada foto lain yang diambil di Liverpool. Itu foto adik Anda bersama seorang pria berseragam kelasi. Menurut pengamatan saya, adik Anda belum menikah waktu foto itu diambil."

"Anda ahli sekali dalam mengamati sesuatu."

"Memang demikianlah pekerjaan saya."

"Pengamatan Anda benar, tapi adik saya menikah dengan Mr. Browner tak lama setelah itu. Mula-mula dia bekerja di kapal yang berlayar ke Amerika Selatan, tapi karena cintanya kepada adik saya, dia lalu pindah kerja ke kapal-kapal di Liverpool dan London."

"Ah, maksud Anda Conqueror?"

"Bukan, May Day, begitulah kabar terakhir yang saya dapatkan. Jim pernah mampir kemari sekali, tapi itu sebelum dia melanggar janjinya untuk tidak menyentuh minuman keras lagi. Sesudahnya dia terus minum-minum bila tidak berlayar, padahal kalau minum sedikit saja dia jadi seperti orang gila. Ah, sayang sekali dia kembali pada kebiasaan lamanya itu! Dia tak lagi mengacuhkan saya, kemudian bertengkar dengan Sarah. Kini Mary pun tak pernah menulis surat kepada saya, sehingga saya tak tahu bagaimana keadaan mereka berdua."

Jelas sekali Miss Cushing telah mengutarakan sesuatu yang sangat mengganggu pikirannya. Sebagaimana orang-orang yang kesepian pada umumnya, pada awalnya dia enggan berbicara, namun lama-kelamaan dia menjadi sangat bersemangat. Dia banyak bercerita tentang adik iparnya, lalu tiba-tiba ceritanya melantur sampai ke mahasiswa-mahasiswa kedokteran yang menyewa paviliunnya. Dia menyebutkan nama-nama mereka, juga rumah-rumah sakit tempat mereka melakukan kuliah praktek. Holmes mendengarkan semuanya dengan saksama, sambil sekali-sekali mengajukan pertanyaan.

"Tentang adik Anda, Sarah," katanya. "Saya hanya ingin tahu, berhubung Anda berdua sama-sama tidak menikah, mengapa Anda tidak tinggal bersama saja?"

"Ah! Anda tak tahu watak Sarah! Kalau tahu, Anda tak akan menanyakan hal itu lagi. Saya pernah mencoba tinggal bersamanya ketika saya baru tiba di Croydon, dan bertahan sampai kira-kira dua bulan yang lalu. Saya tak ingin menjelek-jelekkan adik sendiri, tapi Sarah senantiasa ingin mencampuri urusan orang lain dan sangat menjengkelkan."

"Menurut Anda, dia pernah bertengkar dengan keluarga adik Anda yang di Liverpool."

"Ya, padahal mereka dulunya bersahabat dekat. Entahlah dia malah pindah ke kota itu agar bisa dekat dengan mereka. Kini dia selalu mengomel tentang Jim Browner. Selama enam bulan terakhir ini dia terus mengoceh tentang kebiasaan Jim bermabuk-mabukan dan cara hidupnya yang kurang beres. Menurut saya, Jim sempat mendengar omelannya, menegurnya, lalu sejak itulah mereka jadi bermusuhan."

"Terima kasih, Miss Cushing," kata Holmes sambil bangkit dan membungkukkan badan. "Kalau tak salah, Anda tadi mengatakan adik Anda Sarah tinggal di New Street, Wallington? Sampai jumpa lagi, dan saya minta maaf telah mengganggu Anda dengan kasus yang, seperti Anda katakan, tak ada hubungannya dengan Anda."

Ketika kami keluar dari rumah wanita itu, sebuah kereta sewaan melintas di jalan raya. Holmes memanggil kereta itu.

"Berapa jauhnya Wallington dari sini?" tanyanya.

"Kira-kira satu mil, Sir."

"Bagus sekali. Ayo naik, Watson. Kita harus bertindak sementara hangat-hangatnya. Kasus ini tampaknya sederhana, namun mengandung pelajaran-pelajaran penting. Tolong mampir sebentar ke kantor telegram dalam perjalanan kita, Pak Kusir!"

Holmes mengirim telegram singkat, lalu duduk tepekur selama perjalanan selanjutnya. Kereta berhenti di depan sebuah rumah yang sangat berbeda dengan rumah yang baru saja kami tinggalkan. Sahabatku meminta si kusir menunggu. Ketika dia baru saja hendak mengetuk, pintu rumah itu telah dibukakan oleh pria muda berpakaian hitam yang wajahnya murung. Topinya sangat mengilat.

"Miss Cushing ada?" tanya Holmes.

"Miss Sarah Cushing sakit parah," jawabnya.

"Sejak kemarin dia menderita radang otak. Sebagai dokternya, saya tak berani mengizinkan seorang pun menemuinya. Saya anjurkan Anda kembali kemari sepuluh hari lagi." Pria itu mengenakan sarung tangannya menutup pintu, lalu meninggalkan rumah itu.

"Well, kalau kita tak bisa menemui wanita itu, ya sudahlah," kata Holmes dengan gembira.

"Kalaupun kita berhasil menemuinya, belum tentu dia bisa atau mau bercerita banyak."

"Aku memang tak bermaksud menanyainya. Aku hanya ingin melihat keadaannya. Tapi kurasa aku sudah mendapatkan semua yang kuinginkan. Tolong antar kami ke hotel yang bagus, Pak Kusir. Kita makan siang, lalu menemui teman kita, Lestrade, di kantor polisi."

Kami makan siang dengan nikmat. Holmes dengan menggebu-gebu mengoceh tentang biola merek Stradivarius, yang harga aslinya pasti mahal sekali, namun dibelinya dengan harga hanya 55 shilling di toko loak di Tottenham Court Road. Lalu dia bercerita tentang Paganini. Kami duduk selama satu jam sambil menikmati sebotol anggur merah Prancis. Hari sudah hampir sore, dan sinar matahari tak begitu menyengat lagi ketika kami sampai di kantor polisi. Lestrade menunggu kami di pintu masuk

"Ada telegram untuk Anda, Mr. Holmes," katanya.

"Ha! Sudah ada jawabannya!" Dia merobek telegram itu, membacanya sekilas, lalu memasukkannya ke saku celananya. "Baik," katanya.

"Anda sudah menemukan sesuatu?"

"Saya sudah menemukan semuanya!"

"Apa?" Lestrade menatapnya dengan amat heran. "Anda pasti bergurau."

"Saya serius. Telah terjadi pembunuhan yang mengerikan, dan saya hanya membutuhkan beberapa perinciannya."

"Dan pembunuhnya?"

Holmes menuliskan sesuatu di balik kartu namanya, dan melemparkannya ke Lestrade.

"Itulah orangnya," katanya. "Anda baru bisa menangkapnya paling cepat besok malam. Saya lebih suka kalau nama saya sama sekali tak disebut-sebut dalam kaitannya dengan kasus ini. Saya lebih suka nama saya dikaitkan dengan kasus-kasus kejahatan yang lebih rumit penanganannya. Yuk, Watson."

Kami berdua menuju stasiun, meninggalkan Lestrade yang masih dengan gembira menatap kartu nama yang dilemparkan Holmes kepadanya.

"Kasus ini," kata Sherlock Holmes ketika malamnya kami ngobrol berdua sambil mengisap rokok di kamar kami di Baker Street, "merupakan kasus yang mengharuskan kita melangkah mundur, menelusuri mulai dari akibatnya sampai ke penyebabnya. Sudah kuminta Lestrade menyiapkan beberapa perincian yang kita butuhkan, yang akan didapatkannya setelah dia menangkap si pembunuh. Aku percaya Lestrade mampu melakukannya, karena walaupun kadang-kadang akalnya tidak jalan, dia gigih dalam menjalankan tugas. Kupikir kegigihannyalah yang mengantar Lestrade ke posisi puncak di Scotland Yard."

"Kalau begitu kasusnya belum tuntas?" tanyaku.

"Secara garis besar, sudah. Kita sudah tahu siapa di balik semua urusan yang menjijikkan ini, walaupun salah satu korbannya belum kita ketahui. Tentnya kau sendiri bisa menyimpulkan sesuatu?"

"Kurasa, orang yang kaucurigai Jim Browner, kelasi kapal Liverpool?"

"Oh! Bukan cuma kecurigaan."

"Semuanya masih kabur bagiku."

"Sebaliknya, bagiku semuanya begitu jelas. Mari kujelaskan tahap-tahapnya yang penting. Kau masih ingat, kan, kita memulai kasus ini dari nol. Yang begini malah menguntungkan; kita tak cenderung membuat teori-teori terlebih dahulu. Kita lalu melakukan pengamatan dan menarik kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan kita. Apa yang kita lihat untuk pertama kali? Seorang wanita terhormat yang tenang, yang tampaknya tak tahu apa-apa, dan foto yang menunjukkan dia punya dua adik perempuan. Langsung terbersit dalam pikiranku, jangan-jangan paket itu dimaksudkan untuk salah satu adiknya. Kusisihkan pikiran itu untuk dipertimbangkan kemudian. Kita menuju ke taman, melihat isi paket kuning yang aneh itu.

"Kualitas talinya seperti yang biasa dipakai pembuat layar di kapal-kapal, dan mengandung bau lautan yang khas. Ketika kulihat simpulnya pun model pelaut, dan paket itu dikirim dari kota pelabuhan aku merasa cukup yakin pelaku kejahatan ini dari golongan pelaut. Lebih-lebih pada potongan telinga si pria ada lubang bekas anting-anting—gaya para pelaut.

"Melihat alamatnya, paket itu ditujukan kepada Miss S. Cushing. Yang tertua dari ketiga bersaudara itu tentunya dapat disebut Miss Cushing, dan singkatan nama depannya memang 'S'. Tapi nama Miss S. Cushing bisa saja menunjuk ke adiknya. Bila benar demikian, kita harus memulai penyelidikan dari nol lagi. Aku kembali ke rumah induk dengan maksud menjelaskan hal itu. Baru saja aku hendak mengatakan kepada Miss Cushing bahwa aku pun yakin telah terjadi kekeliruan dalam pengiriman paket itu, ketika aku tiba-tiba dikejutkan sesuatu. Aku melihat sesuatu yang langsung menyempitkan lingkup penelitian kita.

"Sebagai dokter kau pasti menyadari, Watson, telinga manusia berbeda-beda. Dalam Anthropological Journal edisi tahun lalu, kau bisa menemukan dua artikel singkat yang kutulis tentang hal ini. Dengan saksama aku memeriksa kedua telinga yang ada di kotak itu, dan kuteliti ciri-cirinya. Bisa kaubayangkan betapa terkejutnya aku ketika bertemu lagi dengan Miss Cushing, dan melihat bentuk telinganya persis dengan telinga wanita yang baru saja kuteliti. Itu tak mungkin kebetulan saja. Daun telinganya agak kusut, lubang bagian luarnya berlekuk lebar, dan tulang rawannya agak bengkok. Persis semua, pokoknya.

"Pengamatanku itu sangat besar artinya. Jelas korban wanitanya ada hubungan darah dengan Miss Cushing, bahkan sangat dekat. Kami lalu berbincang-bincang mengenai keluarganya, dan dia langsung ngomong dengan gencarnya, sehingga kita mendapatkan perincian-perincian yang sangat berharga.

"Pertama-tama, adik wanitanya bernama Sarah, dan mereka pernah tinggal serumah. Baru dua bulan yang lalu Sarah keluar dari rumah kakaknya. Lalu kita mendengar tentang kelasi itu, yang menikah dengan si bungsu dari ketiga bersaudara. Pria itu pernah berhubungan akrab dengan Miss Sarah, sampai wanita itu pindah ke Liverpool agar bisa berdekatan dengannya. Tapi mereka lalu bertengkar dan berpisah. Pertengkaran ini menyebabkan hubungan terputus sama sekali selama beberapa bulan, sehingga kalau Browner kebetulan ingin mengirim paket ke Miss Sarah, dia pasti akan mengalamatkannya ke tempat tinggalnya terdahulu.

"Dan sekarang kasus ini dengan sendirinya mulai terurai secara menakjubkan. Kita tahu sang kelasi orangnya meledak-ledak, gampang dikuasai nafsu—kau ingat bagaimana dia meninggalkan pekerjaannya yang baik supaya bisa berdekatan dengan istrinya—juga kecenderungannya untuk mabuk-mabukan. Kita punya alasan untuk mengatakan telah terjadi pembunuhan terhadap istrinya dan pria lain yang kemungkinan besar pelaut juga, pada saat yang bersamaan. Jelas kecemburuanlah yang menjadi motif pembunuhan ganda itu. Dan mengapa bukti pembunuhan ini perlu dikirimkan ke Miss Sarah Cushing? Mungkin karena selama tinggal di Liverpool, dia punya andil atas terjadinya hal-hal yang membawa tragedi ini. Kapal-kapal biasanya berhenti di Belfast, Dublin, dan Waterford; maka, dengan asumsi Browner-lah yang melakukan pembunuhan, dan dia langsung berangkat dengan May Day, Belfast merupakan tempat pertama yang disinggahinya, tempat dia mengirimkan paket mengerikan itu.

"Sampai di sini memang ada satu kemungkinan lain, dan walaupun menurutku kemungkinan ini sangat tak masuk akal, aku harus mendapatkan penjelasannya sebelum melangkah lebih jauh. Seorang pria yang ditolak cintanya mungkin saja telah membunuh Browner dan istrinya, jadi telinga yang satunya milik sang suami. Itulah sebabnya aku lalu mengirim telegram ke temanku Algar, yang bekerja di Angkatan Laut Liverpool. Aku memintanya mengecek apakah Mrs. Browner ada di rumah, dan apakah Browner telah berangkat bersama May Day. Lalu kita melanjutkan perjalanan ke Wallington mengunjungi Miss Sarah.

"Pertama-tama, aku benar-benar ingin melihat telinga Miss Sarah, apakah dia mewarisi bentuk telinga saudaranya. Dia mungkin saja memberikan informasi penting kepada kita, tapi aku tak terlalu optimis dia bersedia melakukannya. Dia pasti sudah mendengar tentang kasus itu sehari sebelumnya, karena seluruh daerah Croydon membicarakannya. Dia pastilah menyadari kepada siapa sebenarnya paket itu ditujukan. Kalau dia memang mau membantu menegakkan hukum dia harusnya sudah menghubungi polisi. Pokoknya aku merasa wajib menemuinya, maka kita berangkat ke sana. Kita temukan berita tentang datangnya paket itu telah sangat memukulnya sehingga sejak itulah dia jatuh sakit—peradangan otak. Semakin jelaslah bagi kita dia pasti tahu tentang maksud pengiriman paket itu. Jelas juga kita harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan bantuan darinya.

"Ternyata kita sama sekali tak membutuhkan bantuannya. Jawaban atas kasus ini telah menunggu kita di kantor polisi, yaitu telegram balasan dari Algar yang memang kuminta dialamatkan ke sana. Sudah lebih dari tiga hari rumah Mrs. Browner tertutup, dan para tetangganya menyangka wanita itu pergi mengunjungi keluarganya di daerah selatan. Dikonfirmasikan juga dari kantor perkapalan, bahwa Browner memang telah berangkat bersama May Day, yang menurut perhitunganku akan mendarat di Sungai Thames besok malam. Kalau dia tiba besok malam, dia akan disambut Lestrade yang tolol tapi galak itu. Aku yakin, dengan tertangkapnya dia, kita akan mendapatkan perincian-perincian yang masih kita perlukan."

Apa yang diduga Sherlock Holmes ternyata benar. Dua hari kemudian, dia menerima amplop tebal dengan tulisan tangan singkat Lestrade dilampiri ketikan beberapa halaman folio.

"Lestrade telah menangkapnya," kata Holmes sambil menoleh ke arahku. "Mungkin kau berminat mendengar apa yang dikatakannya."
Mr. Holmes yang terhormat,

Sesuai dengan rencana kita mengecek kebenaran teori-teori kita, (tulisan "kita"-nya jelas sekali, ya, Watson?) kemarin pukul enam sore saya pergi ke Albert Dock, lalu naik ke kapal May Day, milik Perusahaan Pengiriman Paket Laut jalur Liverpool, Dublin, dan London. Ternyata di kapal itu memang ada pekerja bernama James Browner, yang selama pelayaran tingkahnya sangat aneh, sehingga kapten kapal membebaskannya dari segala tugasnya. Ketika masuk ke kamarnya, saya temukan dia sedang duduk di atas peti dengan kepala tertelungkup pada kedua tangannya, sementara tubuhnya digoyang-goyangkannya ke depan dan ke belakang. Pria itu berbadan besar dan perkasa. Wajahnya tercukur bersih dan sangat gelap—mirip si Aldridge, yang pernah membantu kita dalam kasus binatu gadungan. Dia terlompat ketika tahu untuk apa saya menemuinya, dan saya pun telah bersiap-siap dengan peluit di mulut untuk sewaktu-waktu memanggil dua polisi angkatan laut yang menunggu di dekat situ. Tapi dia tampaknya tak punya nyali sama sekali, dan dia langsung menyerahkan kedua tangannya untuk diborgol. Kami membawanya ke sel tahanan bersama petinya, berharap akan menemukan sesuatu yang berhubungan dengan kejahatannya di dalamnya. Tapi kecuali sebilah pisau besar yang biasa dimiliki pelaut, tak ada barang lain yang kami dapatkan. Syukurlah bukti lebih lanjut ternyata tak diperlukan, karena ketika dibawa menghadap Inspektur di kantor polisi, dia malah mengatakan ingin membuat pengakuan tertulis, yang tentu saja langsung disetujui dan penulisannya dilaksanakan penulis steno kami. Tiga lembar kopinya terlampir dalam surat ini. Sebagaimana saya duga sebelumnya, kasus ini ternyata sederhana saja, meski saya tetap berterima kasih karena Anda telah membantu saya dalam penyelidikannya.

Hormat saya.
G. Lestrade
"Hm! Penyelidikan kasus ini memang sepele," komentar Holmes, "tapi kurasa dia tak beranggapan demikian ketika mula-mula menghubungi kita. Nah, mari kita lihat bagaimana kejadiannya menurut Jim Browner sendiri. Inilah pengakuan tertulisnya yang dibuat di hadapan Inspektur Montgomery di Kantor Polisi Shadwell."
Ada yang ingin kukatakan? Ya, banyak sekali. Aku harus menjernihkan semuanya. Kau boleh menghukum gantung aku, atau tak percaya padaku. Aku tak peduli apa pun akan kaulakukan. Dengar, aku tak bisa tidur barang sekejap pun setelah aku melakukan itu, dan aku yakin tak akan bisa tidur sampai kapan pun, sampai bayang-bayang itu menghilang. Kadang-kadang yang datang bayangan wajah si pria, tapi lebih sering bayangan yang wanita. Salah satu dari kedua bayangan itu selalu menghantuiku. Wajah pria itu memberengut dan kehitam-hitaman, sedang wajah wanita itu seperti sangat terkejut. Ya, dia pasti terkejut melihat pancaran kematian di wajah yang biasanya penuh pancaran cinta.

Tapi semua ini gara-gara Sarah, dan semoga kutukan yang berasal dari seorang pria yang hancur hatinya menimpa dirinya. Terkutuklah dia, dan semoga aliran darahnya membusuk. Bukannya aku mau membela diri, aku memang kembali mabuk-mabukan. Tapi istriku pasti bisa memaafkan, dia akan tetap di sampingku, kalau saja wanita sialan itu tidak ikut campur. Sarah Cushing mencintaiku—itulah penyebab utamanya. Dia mencintaiku, dan cintanya berubah menjadi kebencian yang menggelegak ketika dia tahu jejak istriku di lumpur masih lebih berharga daripada seluruh jiwa raganya.

Mereka bertiga bersaudara. Yang pertama orang baik, yang kedua jahatnya luar biasa, dan yang ketiga bagaikan malaikat. Sarah berusia 33, sedangkan Mary 29 ketika kami menikah. Kami membangun rumah tangga yang bahagia. Tak ada wanita sebaik Mary di seluruh Liverpool. Lalu kami mengundang Sarah tinggal bersama kami selama seminggu. Berikutnya lagi, dia tinggal bersama kami sebulan penuh, dan begitulah akhirnya dia seterusnya tinggal bersama kami.

Saat itu aku sedang mujur, dan kami bisa menabung sedikit-sedikit. Pokoknya semuanya baik baik saja. Ya Tuhan! Siapa mengira akan jadi begini? Siapa pernah memimpikan hal seperti ini?

Biasanya aku berada di rumah pada akhir minggu, tapi kadang-kadang kalau kapal tertunda berangkatnya karena menunggu muatan, aku tinggal di rumah sepanjang minggu. Pada saat-saat seperti itulah aku banyak bertemu dengan kakak iparku Sarah. Dia wanita yang jangkung dan cukup menarik, sigap dan galak, kulitnya agak gelap, gaya kepalanya angkuh, dan matanya bagaikan perak yang berkilauan. Tapi, dibandingkan dengan si mungil Mary, dia sama sekali tak ada artinya. Aku berani bersumpah sedikit pun aku tak pernah memikirkan dirinya.

Kadang-kadang aku merasa dia sengaja mengambil kesempatan untuk berduaan saja denganku atau memintaku berjalan-jalan bersamanya, namun sejauh ini tak pernah kutanggapi. Pada suatu malam, barulah mataku benar-benar terbuka. Aku pulang dari kapal, dan istriku sedang pergi. Tapi Sarah ada di rumah. "Ke mana Mary?" tanyaku. "Oh, dia pergi membayar beberapa rekening." Aku jadi gelisah, berjalan mondar-mandir di ruangan itu. "Tak bisakah kau tenang sejenak tanpa Mary, Jim?" katanya. "Aku tersinggung, lho, kalau kau tak senang bersamaku." "Bukan begitu maksudku," kataku sambil menepuk tangannya untuk menunjukkan bahwa aku baik-baik saja terhadapnya. Dia menggenggam tanganku dengan kedua tangannya yang hangat. Benar, tangannya terasa hangat sekali. Aku memandang matanya—yang memancarkan gairah yang menggelegak. Dia tak perlu mengutarakannya dalam bentuk kata-kata, aku pun demikian. Aku langsung menghindar dari tatapannya dan melepaskan tanganku dari genggamannya. Dia terpaku di sampingku selama beberapa saat, lalu mengangkat tangannya dan menepuk pundakku. "Tenang saja, Jim tua!" katanya sambil tertawa mengejek. Dia keluar dari ruangan itu.

Sejak itu Sarah membenciku. Dia melampiaskan kebenciannya dengan sangat lihai. Bodoh sekali aku telah mengizinkannya tinggal bersama kami—benar-benar bodoh—tapi aku tak pernah mengatakan apa-apa kepada Mary, karena aku tahu dia akan sedih mendengarnya. Kehidupan kami terus berjalan sebagaimana biasanya, namun setelah beberapa saat aku menyadari sikap Mary agak berubah. Dia jadi aneh dan gampang curiga, selalu bertanya dari mana saja aku sebelum pulang ke rumah dan apa saja yang telah kulakukan siapa-siapa yang menulis surat padaku dan ada apa di dalam sakuku. Semakin lama, dia semakin rewel dan senewen, dan kami sering bertengkar karena hal-hal sepele. Aku sangat bingung. Sarah selalu menghindari pertemuan denganku, tapi dia sangat dekat dengan Mary. Rupanya dia meracuni pikiran istriku agar membenci diriku. Waktu itu aku tak menyadarinya, aku malah mulai mabuk mabukan lagi. Mary menghindar dariku, dan semakin hari hubungan kami semakin renggang. Lalu muncul pria bernama Alec Fairbairn, dan semuanya jadi serba semrawut.

Ketika pertama kali berkunjung ke rumahku dia sebenarnya mau menemui Sarah, tapi lalu bersahabat dengan kami semua karena dia pandai sekali bergaul. Pria ini benar-benar menawan, tampan, dan berambut ikal, pernah mengelilingi hampir separo dunia, dan pandai bercerita tentang apa-apa yang telah dilihatnya Dia kawan bicara yang mengasyikkan, dan sopan santunnya sungguh tak biasa bagi seorang pelaut. Selama sebulan dia sering datang ke rumah, dan aku tak curiga apa-apa. Lalu terjadi sesuatu yang membuatku mencurigainya, dan sejak itu aku tak pernah merasa damai sedetik pun.

Sebenarnya cuma hal sepele. Aku masuk ke ruang tamu rumahku secara tak disangka-sangka, dan ketika aku masuk, istriku menyambut dengan wajah yang sangat manis. Tapi ketika dia menyadari siapa yang masuk, dia memalingkan wajahnya dengan kecewa. Cukuplah bagiku! Pastilah dia menyangka Alec Fairbairn yang masuk. Kalau saja pria itu ada di situ waktu itu, aku pasti langsung membunuhnya, karena aku bagaikan orang gila kalau sedang marah. Mary melihat mataku yang penuh kemarahan, lalu dia berlari maju sambil mencengkeram lengan bajuku. "Jangan, Jim, jangan!" katanya. "Di mana Sarah?" tanyaku. "Di dapur," jawab istriku. "Sarah!" teriakku sambil masuk ke dapur. "Si Fairbairn tak boleh kemari lagi!"

"Kenapa?" tanyanya.

"Karena begitulah perintahku!"

"Oh!" katanya. "Kalau teman-temanku tak boleh berkunjung kemari, sebaiknya aku pun tak tinggal di sini."

"Silakan lakukan apa yang kauinginkan," kataku, "tapi kalau si Fairbairn berani muncul lagi, akan kukirim sebelah telinganya untuk kausimpan sebagai kenang-kenangan!" Kurasa dia ketakutan melihat ekspresi wajahku, karena dia lalu membisu, dan malam itu juga dia meninggalkan rumah kami.

Aku tak tahu apakah kedengkian semata yang membuatnya melakukan itu, ataukah dia mengira dapat membuatku membenci istriku dengan mendorongnya berhubungan dengan pria lain. Pokoknya, dia pindah ke rumah yang jaraknya hanya dua blok dari rumah kami, dan dia menyewakan kamar-kamar kepada para pelaut. Fairbairn termasuk salah satu yang menyewa kamar di situ dan Mary jadi sering berkunjung ke sana untuk minum teh bersama kakaknya dan pria itu. Aku tidak tahu berapa sering istriku pergi ke sana, tapi suatu hari aku menguntitnya, dan ketika aku menampakkan diriku di pintu rumah itu, Fairbairn langsung kabur dengan melompati tembok taman belakang. Benar-benar pengecut dia. Aku mengancam istriku bahwa aku akan membunuhnya kalau kutemukan dia bersama pria itu lagi. Kutarik dia pulang bersamaku. Dia menangis, wajahnya pucat pasi dan tubuhnya gemetaran. Sudah tak ada cinta lagi di antara kami. Kusadari dia membenci sekaligus takut sekali padaku. Kalau kemelut ini memenuhi pikiranku, aku lari ke minuman keras. Lalu giliran istriku yang mengumpatku.

Sarah tak kerasan lagi di Liverpool, dia kembali ke Croydon dan tinggal bersama kakaknya. Rumah tangga kami berangsur-angsur tenang. Namun minggu lalu, terjadilah bencana yang menghancurkan hidupku.

Begini kejadiannya. Kami berlayar dengan kapal May Day selama serninggu, tapi lalu ada drum minyak yang tumpah sehingga membakar salah satu anjungan. Kami harus mendarat selama dua belas jam. Aku meninggalkan kapal dan pulang ke rumah, membayangkan istriku pastilah terkejut dan gembira menyambut kedatanganku yang lebih awal. Itulah yang memenuhi pikiranku ketika aku membelok ke jalan tempat rumahku berada. Tepat pada saat itu lewat sebuah kereta, dan di dalamnya ada istriku, duduk di samping Fairbairn. Keduanya sedang bersenda gurau dengan asyiknya sehingga tak melihatku yang berdiri memperhatikan mereka dari pinggir jalan.

Sejak itu aku kehilangan kontrol atas diriku, dan kalau aku mengingatnya kejadian itu bagaikan mimpi saja. Sampai sekarang kepalaku masih sakit, bagaikan dipalu-palu, dan waktu itu sepertinya Air Terjun Niagara menderu-deru di telingaku.

Aku berlari menguntit kereta itu. Aku mengambil tongkat kayu yang berat. Semua di hadapanku tampak serba merah. Sarnbil berlari aku sempat berpikir, betapa konyolnya aku berlari macam begitu, padahal mereka tak tahu aku sedang memburu mereka. Jadi aku pun santai saja. Mereka berhenti di stasiun kereta api. Banyak orang antre membeli karcis, jadi aku menguntit tak jauh dari mereka. Mereka membeli tiket ke New Brighton. Aku pun melakukan hal yang sama tapi aku memilih tempat duduk pada gerbong ketiga di belakang mereka. Ketika kami sampai di tempat tujuan, mereka berjalan melewati daerah Parade, dan aku terus menguntit mereka dalam jarak tak lebih dari seratus meter. Akhirnya aku melihat mereka menyewa perahu dan mulai mendayung. Saat itu udara memang panas sekali, tak heran kalau mereka berperahu di sungai.

Sepertinya mereka telah diserahkan ke genggaman tanganku. Cuaca sedikit berkabut, sehingga orang tak dapat melihat jauh. Aku menyewa perahu dan mengejar mereka. Samar-samar aku bisa melihat mereka, namun perahu mereka ternyata melaju dengan cepat. Setelah jauh ke tengah sungai barulah aku bisa mengejar mereka. Kabut memenuhi sekeliling kami bertiga bagaikan selimut. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat siapa yang berada di perahu yang sedang mendekati mereka. Istriku berteriak nyaring; teman kencannya mulai menyerangku dengan dayung. Aku berkelit dari pukulannya, dan berhasil menghantam kepalanya dengan tongkat yang kubawa. Segila apa pun keadaanku waktu itu, sebenarnya aku tak bermaksud membunuh istriku. Tapi dia lalu memeluk pria yang tergeletak itu, meraung-raung sambil menyebut-nyebut, "Alec!" Habislah sudah akal sehatku. Kuhantam dia, sehingga dia pun terkapar di samping pria itu. Aku seperti binatang buas yang baru saja mendapatkan kesempatan mencicipi darah segar. Seandainya Sarah ada di situ, dia pun akan jadi mangsa keberingasanku. Aku mengeluarkan pisau belati, dan... yah, begitulah! Kurasa cukup sudah penuturanku. Aku sempat merasa senang ketika membayangkan bagaimana perasaan Sarah ketika menerima kirimanku, akibat campur tangannya dalam keluarga kami. Aku mengikat kedua mayat itu ke perahu mereka, menyalakan sebatang kayu untuk membakar perahu itu, dan berdiri di pinggir laut sampai perahu yang terbakar itu tenggelam. Aku yakin pemilik perahu akan menyangka perahunya hilang karena kabut tebal dan telah hanyut ke lautan luas. Aku lalu membersihkan diri, kembali ke daerahku, dan ikut berlayar tanpa menimbulkan kecurigaan seorang pun. Malamnya aku mengepak paket yang kualamatkan ke Sarah Cushing itu, dan keesokan harinya kukirimkan dari Belfast.

Nah, kau sudah mendengar semuanya. Silakan kalau mau menggantungku atau apa. Semua hukuman itu tak seberapa dibandingkan dengan hukuman yang telah kuterima. Aku tak bisa memicingkan kedua mataku tanpa melihat kedua wajah mereka yang menatap tajam ke arahku—seperti ketika perahuku mendekati mereka setelah menguak kabut tebal itu. Aku membunuh mereka dengan begitu cepatnya, tapi mereka membunuhku perlahan-lahan. Aku tak mampu melanjutkan hidupku barang semalam pun. Aku pasti akan menjadi gila atau mati kaku sebelum fajar tiba. Tolong jangan tempatkan aku di penjara seorang diri, ya? Kasihanilah aku, jangan sampai aku ditempatkan di kamar tahanan sendirian. Semoga ada orang yang akan menolongmu kalau kau mengalami kepahitan hidup, sebagaimana kau kini menolongku.
"Untuk apa semua ini, Watson?" kata Holmes dengan serius sambil menaruh lembar ketikan itu di meja. "Mengapa sampai timbul lingkaran kepahitan hati, kekejaman, dan ketakutan yang demikian? Pasti ada tujuannya, karena kalau tidak masa dunia kita dikuasai kebetulan-kebetulan yang sama sekali tak terjangkau pikiran kita? Tapi untuk apa semua ini? Ternyata tetap saja ada misteri besar dalam hidup ini yang tak bisa dijelaskan nalar manusia."