Sejenak aku terdiam tanpa bernapas, hampir-hampir tidak mempercayai pendengaranku. Lalu indra dan suaraku pulih kembali, sementara beban berat tanggung jawab seakan-akan seketika terangkat dari jiwaku. Suara yang dingin, tegas, dan ironis itu hanya mungkin berasal dari satu orang di seluruh dunia ini.

"Holmes!" seruku. "Holmes!"

"Keluarlah," katanya, "dan hati-hati dengan revolvernya."

Aku keluar dan menemuinya duduk di sebongkah batu, matanya yang kelabu bagai menari-nari keheranan bercampur gembira saat menatap ekspresiku yang keheranan. Ia kurus dan kusut, tapi matanya jernih dan waspada, wajahnya kecokelatan terbakar matahari dan lebih kasar karena ditempa angin. Dengan mengenakan setelan kotak-kotak dan topi kain ia tampak seperti wisatawan di rawa-rawa. Dan ia berhasil menjaga dagunya tetap halus dan kemeja linen nya sempurna, dengan kecintaan akan kebersihan diri yang bagai kucing, yang memang merupakan salah satu karakternya, sama seperti bila ia berada di Baker Street.

"Seumur hidupku belum pernah aku merasa lebih gembira dari ini karena bertemu seseorang," kataku saat meraih tangannya.

"Atau lebih heran, eh?"

"Well, harus kuakui begitu."

"Kejutannya tidak sepenuhnya satu sisi, aku yakin. Aku tidak tahu kau sudah berhasil menemukan tempat peristirahatanku, apalagi berada di dalamnya, sampai sejauh dua puluh langkah dari pintu."

"Menurutku kau menemukan jejak kakiku?"

"Tidak, Watson, sayangnya aku tidak bisa membedakan jejak kakimu dari semua jejak kaki di seluruh dunia. Kalau kau benar-benar ingin menipuku, kau harus mengganti rokokmu. Sewaktu kulihat puntung rokok bermerk Bradley, Oxford Street, aku tahu temanku Watson ada di sekitar sini. Kau bisa menemukan puntung itu di samping jalan setapak. Tidak ragu lagi, kau membuangnya pada sewaktu kau menyerbu masuk ke dalam gubuk yang kosong."

"Memang."

"Sudah kuduga—dan mengetahui ketekunanmu yang luar biasa, aku merasa yakin kau sedang bersiap-siap menyergap, dengan senjata tidak jauh dari jangkauan, menunggu kepulangan penghuninya. Jadi kau benar-benar mengira aku penjahat itu?"

"Aku tidak tahu siapa kau, tapi aku sudah membulatkan tekad untuk mengetahuinya."

"Luar biasa, Watson! Bagaimana caramu menemukan diriku? Mungkin kau melihatku, pada malam sewaktu kau memburu narapidana itu, sewaktu aku begitu ceroboh sehingga membiarkan bulan menanjak di belakangku?"

"Ya, aku melihatmu saat itu."

"Dan tidak ragu lagi kau menggeledah setiap gubuk sampai menemukan yang ini?"

"Tidak, bocah suruhanmu telah diamati, dan dengan begitu memberiku petunjuk ke mana harus mencari."

"Pria tua yang memiliki teleskop itu, tidak ragu lagi. Aku tidak bisa mengenalinya sewaktu pertama kali melihat pantulan cahaya pada lensanya." Ia bangkit berdiri dan mengintip ke dalam gubuk. "Ha, rupanya Cartwright sudah membawakan bahan makanan untukku. Kertas apa ini? Jadi kau sudah berkunjung ke Coombe Tracey?"

"Ya."

"Untuk menemui Mrs. Laura Lyons?"

"Tepat sekali."

"Bagus! Penelitian kita jelas berjalan scjajar, dan bila kita menggabungkan hasilnya kurasa kita akan mendapat pengetahuan yang cukup lengkap mengenai kasus ini."

"Well, aku gembira kau berada di sini, karena memang tanggung jawab dan misterinya menjadi semakin berlebihan bagi sarafku. Tapi bagaimana caramu kemari, dan apa yang kaulakukan di sini? Kukira kau di Baker Street menangani kasus pemerasan."

"Aku memang berharap kau berpikir begitu."

"Kalau begitu kau memanfaatkan diriku, dan tidak mempercayai aku!" seruku getir. "Kupikir aku layak mendapat kepercayaan lebih, Holmes."

"Temanku yang baik, kau sudah sangat berharga bagiku dalam kasus ini sebagaimana dalam kasus-kasus lainnya, dan kumohon kau sudi memaafkan diriku bila tampaknya aku sudah mengelabuimu. Sebenarnya, aku terpaksa melakukannya, sebagian demi keselamatanmu sendiri. Dan karena memperhatikan bahaya yang akan kauhadapilah, aku datang kemari dan memeriksa masalah ini sendiri. Seandainya aku bersama-sama Sir Henry dan dirimu, aku yakin sudut pandangku akan sama dengan sudut pandangmu, dan kehadiranku akan memperingatkan lawan kita agar waspada. Dengan cara ini aku mampu berkeliaran lebih bebas daripada bila aku tinggal di Hall, dan aku tetap menjadi faktor tidak dikenal dalam urusan ini, siap menerjunkan diri sepenuhnya pada saat-saat kritis."

"Tapi kenapa merahasiakannya dariku?"

"Karena kalau kau mengetahuinya, itu tidak akan membantu kita dan mungkin justru membongkar keberadaanku. Kau pasti ingin menceritakan sesuatu padaku, atau karena kebaikanmu kau pasti membawakan sesuatu untuk membuat hidupku di sini lebih nyaman atau lainnya. Dengan begitu kita mengambil risiko yang tidak perlu. Aku sudah mengajak Cartwright bersamaku—kau ingat bocah kecil dari kantor layanan pesan—dan dia yang menangani kebutuhanku: roti dan kemeja bersih. Apa lagi yang diinginkan seseorang? Dia sudah memberikan sepasang mata tambahan di atas sepasang kaki yang sangat aktif, dan keduanya sangat tak ternilai."

"Kalau begitu semua laporanku sia-sia!" Suaraku gemetar mengingat susah payah dan kebanggaan yang kulalui saat menyusunnya.

Holmes mengeluarkan setumpuk kertas dari sakunya.

"Ini laporan-laporanmu, Sobat, dan sudah dipelajari dengan baik, kujamin. Aku sudah membuat pengaturan yang luar biasa, dan laporan-laporan ini hanya tertinggal satu hari. Harus kupuji kau untuk ketekunan dan kecerdasan luar biasa yang sudah kautunjukkan dalam kasus yang sangat sulit ini."

Aku masih jengkel atas muslihat yang dilakukannya padaku, tapi kehangatan pujian Holmes berhasil mengusir kemarahan dari benakku. Aku juga merasa kata-katanya benar dan merupakan yang terbaik bagi tercapainya tujuan kami.

"Itu lebih baik," katanya, melihat kemuraman telah tersingkir dari wajahku. "Dan sekarang ceritakan hasil kunjunganmu ke Mrs. Laura Lyons—tidak sulit bagiku untuk menebak kau pergi menemuinya karena aku tahu dia satu-satunya orang di Coombe Tracey yang mungkin bisa membantu kita. Malah kalau kau tidak pergi hari ini, kemungkinan sangat besar aku sendiri yang akan pergi besok."

Matahari telah terbenam dan senja menguasai rawa-rawa. Udara bertambah dingin dan kami masuk ke dalam gubuk untuk mendapatkan kehangatan. Di sana, duduk bersama sama dalam keremangan senja, kuceritakan percakapanku dengan wanita itu kepada Holmes. Ia begitu tertarik sehingga aku terpaksa mengulangi beberapa bagian sampai ia puas.

"Ini yang paling penting," katanya sesudah aku selesai melapor. "Dengan begini aku berhasil mengisi celah-celah yang tidak mampu kujembatani dalam kasus yang paling rumit ini. Mungkin kau sudah menyadari ada keakraban antara wanita ini dengan Stapleton?"

"Aku tidak mengetahuinya."

"Tidak diragukan lagi. Mereka bertemu, mereka saling kirim surat, ada pengertian mendalam di antara mereka. Nah, dengan begini kita mendapatkan senjata yang sangat kuat. Kalau saja aku bisa menggunakannya untuk memisahkan istrinya..."

"Istrinya?"

"Sekarang aku memberikan sejumlah informasi padamu, sebagai balasan informasi yang kauberikan kepadaku. Wanita yang mengaku sebagai Miss Stapleton itu sebenarnya istrinya."

"Demi Tuhan, Holmes! Kau yakin dengan ucapanmu? Bagaimana mungkin Mr. Stapleton bisa membiarkan Sir Henry jatuh cinta pada istrinya?"

"Masalah jatuh cintanya Sir Henry tidak akan merugikan siapa pun kecuali Sir Henry sendiri. Mr. Stapleton sangat berhati-hati agar Sir Henry tidak bercinta dengannya, seperti sudah kauamati sendiri. Kuulangi bahwa wanita itu istrinya, bukan adiknya."

"Tapi kenapa dia berbuat begitu?"

"Karena dia sudah memperkirakan istrinya akan jauh lebih berguna baginya dalam posisi sebagai wanita bebas."

Semua naluriku yang tidak terucapkan, kecurigaanku yang samar, tiba-tiba terbentuk dan memusat pada si pencinta alam itu. Dalam diri pria yang pasif tanpa warna itu, dengan topi jerami dan jaring kupu kupunya aku merasa sudah melihat sesuatu yang mengerikan—makhluk dengan kesabaran dan keterampilan luar biasa, dengan wajah penuh senyum dan hati yang mampu membunuh.

"Kalau begitu dialah musuh kita—diakah yang mengikuti kita di London?"

"Kalau aku tidak salah memahami teka-teki ini."

"Dan peringatan itu—pasti berasal dari istrinya!"

"Tepat sekali."

Sosok penjahat yang besar, setengah terlihat, setengah ditebak, menjulang dalam kegelapan yang telah mengurungku sekian lama.

"Tapi apa kau yakin akan hal ini, Holmes? Dari mana kau tahu wanita ini istrinya?"

"Karena dia telah terlepas bicara saat menceritakan sedikit otobiografinya sewaktu kalian pertama kali bertemu. Dan berani bertaruh dia telah berulang kali menyesalinya sejak itu. Dia memang pernah menjadi kepala sekolah di kawasan utara Inggris. Nah, tidak ada yang lebih mudah untuk dilacak selain kepala sekolah. Ada lembaga-lembaga sekolah yang salah satunya mengidentifikasi siapa pun yang pernah menjalani profesi tersebut. Penyelidikan kecil menunjukkan memang ada sekolah yang ditutup karena mengalami bencana, dan pemiliknya—namanya lain—menghilang bersama istrinya. Penjabarannya sesuai. Sewaktu kuketahui orang yang hilang itu sangat menyukai entomologi, identifikasinya pun lengkap."

Kegelapan semakin terungkap, tapi masih banyak yang tersembunyi dalam bayang-bayang.

"Kalau wanita ini memang istrinya, lalu di mana posisi Mrs. Laura Lyons?" tanyaku.

"Itu satu hal yang berhasil diungkap penelitianmu sendiri. Wawancaramu dengan wanita ini sudah sangat memperjelas situasinya. Aku tidak mengetahui rencana perceraian antara dirinya dan suaminya. Dalam hal ini, mengingat Stapleton sebagai seseorang yang tidak menikah, tidak ragu lagi Laura Lyons berharap menjadi istrinya."

"Dan kalau dia sudah tahu dirinya tertipu?"

"Why, dengan begitu kita bisa mendapatkan bantuan darinya. Tugas pertama kita adalah menemuinya—kau dan aku—besok. Menurutmu, Watson, apa kau tidak terlalu lama meninggalkan tanggung jawabmu? Kau seharusnya berada di Baskerville Hall."

Berkas-berkas cahaya kemerahan yang terakhir telah memudar di barat dan malam telah turun mehngkupi rawa-rawa. Beberapa bintang remang-remang telah bersinar di langit ungu.

"Satu pertanyaan lagi, Holmes," kataku sambil bangkit berdiri. "Jelas tidak perlu ada rahasia apa pun antara kau dan aku. Apa artinya semua ini? Apa yang dikejar Mr. Stapleton?"

Suara Holmes melemah saat menjawab.

"Pembunuhan, Watson—pembunuhan yang halus, berdarah dingin, terencana. Jangan menanyakan perinciannya padaku. Jaring-jaringku mulai merapat pada dirinya sementara jaring-jaringnya sendiri mulai mengurung Sir Henry. Dan dengan bantuanmu aku hampir berhasil menangkapnya. Hanya ada satu bahaya yang mengancam kita, yaitu dia menyerang sebelum kita siap menangkapnya. Dan satu hari lagi—dua paling lama—aku akan melengkapi kasusku, tapi sebelum itu lakukan tanggung jawabmu seketat seorang ibu yang menyayangi putranya yang sakit. Misimu hari ini tidak salah, tapi aku hampir-hampir berharap kau tidak meninggalkan Sir Henry seorang diri. Tunggu!"

Jeritan mengerikan—lolongan ketakutan yang panjang merobek kesunyian rawa-rawa. Jerit ketakutan itu bagai mengubah darah dalam pembuluhku menjadi es.

"Oh, Tuhan!" Aku tersentak. "Apa itu? Apa artinya itu?"

Holmes telah melompat berdiri, dan aku melihat sosoknya yang gelap dan atletis di pintu gubuk, bahunya membungkuk, kepalanya terulur ke depan, wajahnya mengarah ke kegelapan. "Ssst!" bisiknya. "Ssst!"

Jeritan itu sangat keras, berasal dari dataran remang-remang di kejauhan. Tapi sekarang jeritan itu seakan-akan meledak di telinga kami, lebih dekat, lebih keras, dan lebih mendesak daripada sebelumnya.

"Dari mana asalnya?" bisik Holmes, dan aku tahu dari getaran suaranya bahwa ia, si manusia besi, terguncang jiwanya. "Dari mana asalnya, Watson?"

"Kurasa dari sana." Aku menunjuk ke kegelapan.

"Tidak, dari sana!"

Sekali lagi jeritan mengerikan itu menembus kesunyian malam, lebih keras dan lebih dekat lagi. Dan terdengar suara lain menimpalinya, gemuruh yang dalam, berirama tapi mengancam, naik-turun bagai gumaman laut yang konstan dan pelan.

"Anjing itu!" seru Holmes. "Ayo, Watson, ayo! Great heavens, jangan sampai terlambat!"

Ia berlari dengan sigap melintasi rawa-rawa, dan aku mengikutinya tepat di belakang. Tapi sekarang, dari suatu tempat di depan kami, terdengar teriakan putus asa yang terakhir, disusul debuman pelan dan berat. Kami berhenti dan mendengarkan. Tidak terdengar suara lain dalam kesunyian malam yang tidak berangin ini.

Aku melihat Holmes memegang keningnya, bagai orang yang teringat sesuatu. Ia mengentakkan kakinya ke tanah.

"Dia sudah mengalahkan kita, Watson. Kita terlambat."

"Tidak, tidak, pasti tidak!"

"Bodoh sekali aku berdiam diri begitu saja. Dan kau, Watson, lihat akibatnya karena meninggalkan tanggung jawabmu! Tapi, demi langit, kalau yang terburuk sudah terjadi, kita akan, membalaskan dendamnya!"

Dengan membabi buta kami berlari menerobos keremangan, melewati bongkahan-bongkahan batu besar, menerobos semak-semak, terengah-engah mendaki bukit dan bergegas menuruni lerengnya, terus menuju ke arah sumber suara-suara mengerikan itu. Di setiap tanjakan Holmes memandang sekitarnya dengan penuh semangat, tapi kegelapan di rawa-rawa begitu pekat, dan tidak ada yang bergerak di permukaannya yang kering.

"Kau melihat sesuatu?"

"Tidak."

"Apa itu?"

Erangan pelan menyusup ke telinga kami. Lalu terdengar lagi dari sebelah kiri! Di sebelah sana terdapat tonjolan batu yang berujung pada tebing yang berlereng penuh bongkahan bebatuan. Di permukaannya yang tidak rata tergeletak benda gelap yang bentuknya tidak beraturan.

Saat kami berlari mendekatinya, bentuk benda itu semakin jelas. Sosok seorang pria yang tertelungkup kaku di tanah, dengan kepala terlipat ke sudut yang mengerikan, bahunya membungkuk dan tubuhnya meringkuk seakan-akan hendak melakukan salto. Begitu mengerikan sikap tubuhnya sehingga aku tidak segera menyadari bahwa erangannya itu merupakan pertanda kematiannya. Sekarang tidak terdengar bisikan apa pun, gemeresik apa pun, dari sosok gelap di bawah kami. Holmes menyentuhnya dan seketika menarik kembali tangannya sambil berseru ngeri. Cahaya dari korek api yang dinyalakannya memantul pada jari-jarinya yang membeku dan pada genangan mengerikan yang melebar perlahan-lahan di bawah tengkorak korban yang remuk. Dan cahaya itu memantul pada benda lain yang menyebabkan jantung kami nyaris berhenti berdetak dan hampir jatuh pingsan—mayat Sir Henry Baskerville!

Tidak mungkin salah satu dari kami melupakan setelan kotak-kotak kasarnya—setelan yang dikenakannya pada pagi hari pertama kami bertemu dengannya di Baker Street. Kami melihatnya dengan jelas sebelum korek api bergoyang-goyang dan padam, sama seperti padamnya harapan dari dalam diri kami. Holmes mengerang, dan wajahnya tampak memucat dalam kegelapan.

"Brengsek! Brengsek!" seruku dengan tangan terkepal. "Oh, Holmes, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri karena telah membiarkan dia mengalami nasib seperti ini."

"Aku lebih layak disalahkan daripada dirimu, Watson. Untuk melengkapi kasusku, aku sudah menyia-nyiakan nyawa klienku. Ini pukulan terhebat yang pernah menimpaku sepanjang karierku. Tapi bagaimana aku bisa tahu—bagaimana aku bisa tahu—bahwa dia akan mempertaruhkan nyawanya dengan berada seorang diri di rawa-rawa, walaupun sudah kuperingatkan?"

"Kita sudah mendengar jeritannya—ya Tuhan, jeritannya!—tapi tidak mampu menyelamatkannya! Di mana anjing yang menyebabkan kematiannya? Hewan itu mungkin sedang mengintai di antara bebatuan saat ini. Dan Stapleton, di mana dia? Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya."

"Pasti. Aku akan memastikannya. Paman dan keponakan telah tewas terbunuh—yang satu tewas ketakutan melihat makhluk buas yang disangkanya supranatural, yang lain tewas karena melarikan diri darinya. Tapi sekarang kita harus membuktikan hubungan antara korban dan hewan itu. Terlepas dari apa yang kita dengar, kita bahkan tidak bisa bersumpah bahwa hewan itu ada, karena Sir Henry jelas tewas karena jatuh. Tapi, demi langit, meskipun licik, orang itu akan kutangkap sebelum esok hari berakhir!"

Kami berdiri dengan perasaan pahit di kedua sisi tubuh yang terlipat itu, dikuasai oleh musibah yang tiba-tiba dan tidak bisa diputar balik, yang telah mengakhiri usaha kami yang lama dan melelahkan. Lalu saat bulan menanjak, kami mendaki ke puncak karang dari mana teman kami yang malang telah jatuh. Dan dari puncaknya kami memandang ke rawa-rawa yang remang-remang, separo keperakan separo gelap. Di kejauhan, bermil-mil dari tempat kami, ke arah Grimpen, terlihat cahaya kekuningan yang memancar dengan mantap. Cahaya itu hanya mungkin berasal dari tempat tinggal Stapleton yang terpencil. Sambil memaki pahit kukepalkan tinjuku ke sana.

"Kenapa kita tidak menangkapnya sekarang juga?"

"Kasus kita belum lengkap. Orang itu waspada dan licin sekali. Ini bukan soal apa yang kita ketahui, tapi apa yang bisa kita buktikan. Kalau kita mengambil satu langkah yang salah, bajingan itu bisa melarikan diri."

"Apa yang bisa kita lakukan?"

"Banyak yang harus kita lakukan besok. Malam ini kita hanya bisa mengurus teman kita yang malang."

Bersama-sama kami menuruni lereng yang licin dan berbahaya itu, mendekati mayat yang hitam dan tampak jelas di bebatuan yang keperakan. Penderitaan yang dialami tubuh yang terlipat itu menyebabkan hatiku sakit dan air mata menggenang mengaburkan pandanganku.

"Kita harus mencari bantuan, Holmes! Kita tidak bisa membawanya ke Hall berdua saja. Demi langit, apa kau sudah sinting?"

Holmes berseru singkat dan membungkuk di atas mayat itu. Sekarang ia menari-nari dan tertawa-tawa dan menjabat tanganku. Mungkinkah ini temanku yang tegas dan mampu menahan diri itu? Ia memang menyimpan semangat tersembunyi!

"Janggut! Janggut! Orang ini berjanggut!"

"Janggut?"

"Dia bukan bangsawan—dia—why, ini tetanggaku, si narapidana itu!"

Tergesa-gesa kami membalik mayat itu, dan janggutnya pun menunjuk ke bulan yang dingin dan jernih. Tidak mungkin ragu lagi mengenai keningnya, matanya yang cekung bagai mata hewan. Ia memang orang yang memelototiku dalam cahaya lilin di atas batu—wajah Selden, si penjahat.

Lalu seketika itu juga segalanya menjadi jelas bagiku. Aku ingat Sir Henry pernah mengatakan bahwa ia telah memberikan pakaian-pakaian lamanya kepada Barrymore. Barrymore memberikan pakaian-pakaian tersebut kepada Selden untuk membantunya melarikan diri Sepatu bot, kemeja, topi—semuanya milik Sir Henry. Tragedi ini masih gelap, tapi orang ini setidaknya layak tewas karena telah melanggar hukum. Kuceritakan masalahnya kepada Holmes sementara jantungku bagai meledak oleh rasa syukur dan sukacita.

"Kalau begitu, pakaian inilah yang menyebabkan kematian penjahat malang ini," katanya. "Jelas anjing itu telah mencium benda-benda milik Sir Henry—sangat mungkin sepatu bot yang menghilang dari hotel—dan karenanya memburu pria ini. Tapi ada satu hal yang sangat aneh. Bagaimana Selden, dalam kegelapan, bisa tahu anjing itu memburunya?"

"Dia mendengar suaranya."

"Mendengar suara anjing di rawa-rawa tidak akan menyebabkan orang yang keras seperti si narapidana begitu ketakutan sehingga mengambil risiko tertangkap kembali dengan menjerit-jerit minta tolong. Dari jeritannya dia pasti sudah berlari cukup lama begitu tahu hewan itu memburunya. Dari mana dia tahu?"

"Menurutku, misteri yang lebih besar lagi adalah kenapa anjing ini, seandainya semua anggapan kita benar..."

"Aku tidak menganggap apa pun."

"Well, kalau begitu, kenapa anjing ini dilepaskan malam ini. Kurasa hewan ini tidak selalu berkeliaran bebas di rawa-rawa. Stapleton tidak akan melepaskannya kecuali dia punya alasan untuk mengira bahwa Sir Henry ada di sini."

"Kesulitanku jauh lebih besar dari keduanya, karena kurasa kita akan segera mendapat penjelasan mengenai kebingunganmu, sementara kebingunganku akan tetap menjadi misteri. Pertanyaannya sekarang, apa yang harus kita lakukan dengan mayat ini? Kita tidak bisa meninggalkannya di sini, menjadi mangsa rubah dan burung gagak."

"Kusarankan kita meletakkannya di salah satu gubuk sampai kita bisa menghubungi polisi."

"Tepat sekali. Kita pasti bisa membawanya sejauh itu. Halloa, Watson, apa ini? Tersangka itu sendiri, benar-benar luar biasa dan berani! Jangan mengatakan kecurigaanmu sedikit pun—sepatah kata pun jangan, atau rencanaku akan hancur berantakan."

Seseorang tengah berjalan mendekati kami di rawa-rawa, dan aku melihat cahaya kemerahan bara cerutu. Bulan bersinar meneranginya, dan aku bisa mengenali sosok dan langkah si pencinta alam. Ia berhenti sewaktu melihat kehadiran kami, lalu melanjutkan langkahnya.

"Why, Dr. Watson, itu kau, bukan? Kau orang terakhir yang kukira akan kutemui di rawa-rawa pada jam selarut ini. Tapi, dear me, apa ini? Ada yang terluka? Bukan—jangan katakan kalau itu teman kita Sir Henry!" Ia bergegas melewatiku dan membungkuk di atas mayat itu. Kudengar tarikan napas tertahannya dan cerutunya jatuh dari sela-sela jemarinya.

"Si... siapa ini?" tanyanya.

"Selden, orang yang melarikan diri dari Princetown."

Stapleton berpaling memandang kami dengan wajah pucat, tapi dengan usaha keras ia berhasil mengatasi keheranan dan kekecewaannya. Ia menatap tajam ke arah Holmes lalu kepada diriku.

"Dear me. Benar-benar mengejutkan! Bagaimana dia tewas?" ,

"Tampaknya lehernya patah karena jatuh ke batu-batu ini. Temanku dan aku tengah berjalan-jalan di rawa-rawa sewaktu kami mendengar jeritan."

"Aku juga mendengar jeritan. Itu yang membawaku kemari. Aku merasa gelisah mengenai Sir Henry."

"Kenapa harus Sir Henry?" aku tidak mampu menahan diri untuk tidak bertanya.

"Karena aku sudah mengundangnya ke rumahku. Sewaktu dia tidak muncul, aku terkejut, dan sewajarnya merasa khawatir akan keselamatannya sewaktu kudengar jeritan dari rawa-rawa ini. Omong-omong"—pandangannya kembali beralih ke wajah Holmes—"apa kalian mendengar suara lain selain jeritan?"

"Tidak," kata Holmes. "Kau sendiri?"

"Tidak."

"Apa maksudmu, kalau begitu?"

"Oh, kau tahu cerita para petani mengenai anjing setan, dan semacamnya. Katanya suara hewan itu bisa didengar di rawa-rawa di malam hari. Aku penasaran apakah ada suara seperti itu malam ini."

"Kami tidak mendengarnya," kataku.

"Apa teorimu mengenai kematian orang yang malang ini?"

"Aku tidak ragu bahwa kekhawatiran tertangkap telah menyebabkan dia kehilangan kendali. Dia bergegas melintasi rawa-rawa dan akhirnya jatuh di sini dan mematahkan lehernya."

"Itu tampaknya teori yang paling masuk akal," kata Stapleton. Ia mendesah, yang kuterima sebagai tanda kelegaan. "Menurutmu bagaimana, Mr. Sherlock Holmes?"

Temanku membungkuk mendengar pujian itu.

"Kau cepat mengenali," katanya.

"Kami sudah menantikan kedatanganmu sejak Dr. Watson tiba. Kau datang tepat pada waktunya untuk menyaksikan tragedi ini."

"Ya, memang. Aku tidak ragu bahwa penjelasan temanku sudah mencakup seluruh faktanya. Aku akan membawa kenangan yang tidak menyenangkan ini ke London besok."

"Oh, kau kembali besok?"

"Itu niatku."

"Kuharap kunjunganmu berhasil mengungkap kejadian-kejadian yang membingungkan kami ini."

Holmes mengangkat bahu.

"Orang tidak bisa selalu berhasil seperti yang diharapkannya. Seorang penyelidik membutuhkan fakta dan bukannya legenda atau isu. Kasus ini kurang memuaskan."

Temanku berbicara dengan nada jujur dan sikap tidak peduli sedikit pun. Stapleton masih menatapnya tajam. Lalu berpaling memandangku.

"Aku bisa saja menyarankan membawa mayat ini ke rumahku, tapi adikku pasti akan sangat ketakutan sehingga kurasa tindakan itu tidak benar. Menurutku, kalau kita menutupi wajahnya dengan sesuatu kita bisa meninggalkannya sampai pagi."

Jadi begitulah. Setelah menolak undangan Stapleton, Holmes dan aku kembali ke Baskerville Hall, meninggalkan si pencinta alam itu pulang seorang diri. Saat berpaling, kami melihat sosoknya berjalan perlahan-lahan di seberang rawa-rawa yang luas, dan di belakangnya tampak onggokan kehitaman di lereng keperakan yang menunjukkan tempat berbaring pria yang menemui ajalnya dengan cara yang mengerikan itu.