DENGAN berat hati, aku mengambil pena dan menuliskan kisah kehebatan temanku Holmes yang termasyhur itu, untuk yang terakhir kalinya. Selama ini, aku telah berusaha untuk menuliskan pengalaman-pengalaman unik yang kulalui bersamanya sejak masa kasus A Study in Scarlet, sampai masalah Dokumen Angkatan Laut—yang berhasil mencegah kericuhan internasional yang serius. Aku tetap merasa bahwa hasil tulisan-tulisanku tak cukup baik dan mungkin agak membingungkan. Sebetulnya aku bermaksud berhenti menulis tentang Holmes sejak dua tahun yang lalu, dan biarlah peristiwa itu, yang telah mengakibatkan hidupku serasa hampa selama dua tahun terakhir ini, kusimpan saja sebagai kenangan pribadiku. Tapi, tanganku terpaksa kuayunkan untuk menuliskan kisah berikut ini, karena adanya surat-surat yang ditulis oleh Kolonel James Moriarty yang membela almarhum adiknya. Aku tak punya pilihan lain kecuali membeberkan di depan umum apa yang sebenarnya telah terjadi. Hanya aku sendirilah yang tahu kebenaran tentang itu, dan kini aku sadar tak ada gunanya lagi hal itu ditutup-tutupi. Sejauh yang aku tahu, hanya ada tiga artikel yang berhubungan dengan hal itu yang diterbitkan untuk umum: satu di Journal de Genive pada tanggal 6 Mei 1891, lalu ulasan wartawan Reuter di koran-koran Inggris pada tanggal 7 Mei 1891, dan yang ketiga surat-surat yang baru-baru ini dimuat di beberapa surat kabar seperti yang kusinggung sebelumnya tadi. Yang pertama dan kedua cuma singkat saja, sedangkan yang ketiga merupakan pemutarbalikan fakta. Merupakan tanggung jawabku untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya telah terjadi antara Profesor Moriarty dan Mr. Sherlock Holmes.

Harap diingat, bahwa sejak pernikahanku dan sejak mulai praktek dokter sendiri, hubungan eratku dengan Holmes jadi agak terganggu. Sesekali dia masih mengunjungiku kalau dia memerlukanku untuk menemaninya melakukan penyelidikan, tapi lama-lama semakin jarang dia melakukannya. Sehingga pada tahun 1890 hanya tiga kasusnya yang ada dalam arsipku. Selama musim dingin tahun itu juga sampai awal musim semi tahun 1891, aku membaca di surat-surat kabar bahwa dia telah diminta jasanya oleh pemerintah Prancis untuk menangani sebuah masalah yang sangat penting, dan aku menerima dua surat dari Holmes, satu dikirim dari Narbonne, dan satunya lagi dari Nimes. Dari kedua suratnya itu, aku berkesimpulan bahwa nampaknya dia akan tinggal lama di Prancis. Itulah sebabnya aku sangat terkejut ketika aku melihatnya berjalan menuju ke ruang praktekku pada malam hari tanggal 24 April 1891. Keterkejutanku bertambah ketika kulihat wajahnya yang pucat dan badannya yang lebih kurus dari biasanya.

"Ya, akhir-akhir ini aku lebih banyak kerja keras," komentarnya, seolah tahu apa yang membuatku terkejut. "Aku agak merasa tertekan akhir-akhir ini. Boleh kututup jendelamu?"

Satu-satunya penerangan di ruangan itu berasal dari lampu mejaku yang kupakai untuk membaca. Holmes berjalan miring sepanjang dinding, lalu ditutupnya jendela dan dikuncinya dengan saksama.

"Ada yang kautakutkan?" tanyaku.

"Yah, begitulah."

"Apa yang kautakutkan?"

"Tembakan senapan angin."

"Sobatku Holmes, apa maksudmu?"

"Kurasa kau mengerti diriku dengan baik, Watson, bahwa aku bukanlah orang yang gampang gugup. Pada saat yang sama, adalah merupakan kebodohan dan bukannya keberanian kalau kau tak bersikap waspada akan kemungkinan terjadinya bahaya di dekatmu. Bisa tolong minta apinya?" Dia mengisap rokoknya dalam-dalam seolah-olah tindakannya itu bisa menenangkan dirinya.

"Maaf, aku kemari malam-malam begini," katanya, "dan aku juga mau minta izin dulu, karena nanti kalau pulang dari sini aku akan loncat dari tembok taman belakang."

"Apa maksudmu dengan semua ini?" tanyaku.

Dijulurkannya tangannya, dan nampaklah olehku di bawah sinar lampu mejaku bahwa dua buku jarinya terluka oleh tembakan peluru dan berdarah.

"Kaulihat sendiri, aku tak main-main," katanya sambil tersenyum. "Sebaliknya, biasa, kan, kalau laki-Iaki terluka tangannya? Apakah Mrs. Watson ada di rumah?"

"Tidak, dia sedang pergi."

"Benarkah? Jadi kau sendirian?"

"Begitulah."

"Kalau begitu lebih mudahlah bagiku untuk mengajakmu pergi denganku ke Eropa selama seminggu."

"Ke mana?"

"Oh, ke mana sajalah. Tak ada bedanya bagiku."

Aneh. Tidak biasanya Holmes bepergian tanpa tujuan yang jelas, dan wajahnya yang pucat dan letih menunjukkan bahwa dia sedang mengalami tekanan batin yang luar biasa. Dia menyadari keprihatinanku dari sorot mataku dan sambil mengatupkan ujung-ujung jari kedua tangannya dan menempelkan sikunya ke lututnya, dia mulai menjelaskan keadaannya

"Kau mungkin pernah mendengar tentang Profesor Moriarry?" tanyanya.

"Tidak."

"Wah, dialah si jenius hebat di balik semua ini!" teriaknya. "Jaringannya tersebar di seluruh London, dan tak seorang pun mengenal namanya. Itulah rekor puncaknya dalam dunia kriminal. Sungguh, Watson, kalau aku berhasil mengalahkan orang ini, kalau aku berhasil membebaskan masyarakat dari cengkeramannya, aku akan merasa bahwa karierku sudah mencapai puncaknya, dan aku akan bersiap untuk memilih pekerjaan lain yang lebih tenang. Antara kau dan aku saja, ya! Kedudukan yang kuperoleh ketika menangani kasus kasus yang baru-baru ini terjadi, yang menyebabkan keluarga kerajaan Skandinavia dan pemerintah Prancis sampai meminta jasaku, pasti bisa menyediakan pekerjaan ringan yang menyenangkan untuk mencukupi kehidupanku selanjutnya, dan aku bisa memusatkan perhatianku pada riset-riset kimiaku. Tapi aku tak bisa berpangku tangan, Watson, aku tak bisa duduk tenang, kalau aku membayangkan bahwa si Profesor Moriarty ini bisa enak-enak bebas berkeliaran di London, tanpa ada seorang pun yang mampu menghalangi rencana-rencana jahatnya."

"Apa gerangan yang telah diperbuatnya?"

"Kariernya luar biasa. Dia dilahirkan dari keluarga baik-baik dan pendidikannya tinggi. Dia mendapat karunia alam berupa kecakapan di bidang matematika. Pada usia dua puluh satu tahun, dia menulis risalah tentang Teorema Binomial yang saat itu sedang populer di Eropa. Atas dasar itulah dia diangkat menjadi mahaguru bidang matematika pada salah satu universitas kita, dan sejak itu kariernya terus menanjak. Tapi orang ini punya kecenderungan bersikap kejam yang menurun kepadanya. Ada sifat kurang baik yang diwarisinya dari nenek moyangnya, yang melalui kecerdasannya yang luar biasa, bukannya dibelokkan menjadi hal-hal yang positif, tapi malah menjadi-jadi jahatnya. Banyak orang mengeluhkan perangainya yang buruk ini, dan akhirnya dia dipaksa untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai mahaguru dan dia pun lalu pindah ke London, dan bekerja sebagai guru matematika di ketentaraan. Hanya itulah yang diketahui orang pada umumnya, tapi aku akan menceritakan padamu apa yang telah kuselidiki lebih jauh dari orang ini.

"Seperti yang kausadari, Watson, tak ada orang yang tahu seluk-beluk dunia kejahatan tingkat tinggi di London sebaik diriku. Dengan berlalunya waktu, aku terus-menerus menyadari adanya kekuatan tersembunyi di balik tindak-tindak kejahatan yang terjadi, jaringan kekuatan yang kuat yang menghalangi ditegakkannya hukum dan melindungi para pelakunya. Dalam bermacam macam kasus yang tak terungkap—pemalsuan, perampokan, pembunuhan—aku merasakan dan mengambil kesimpulan bahwa kekuatan itulah yang berperan di belakangnya. Dan aku tak pernah dimintai bantuan untuk ikut menyelidikinya. Selama bertahun-tahun aku terus berusaha untuk menyingkapkan tabir yang menutupinya, dan setelah berputar-putar sekian lama, kini aku sudah berhasil menangkap jejak kekuatan yang tersembunyi itu yang mengarah pada seseorang bernama Profesor Moriarty yang dikenal sebagai ahli matematika itu.

"Dia itu Napoleon-nya dunia kejahatan, Watson. Dialah yang mengatur separo dari semua tindak kejahatan terselubung yang telah dan sedang terjadi di London ini. Dia seorang jenius, filsuf, pemikir yang teoretis. Otaknya cerdas sekali. Dia tinggal duduk diam, seperti labah-labah di tengah-tengah sarangnya, tapi jaringannya meluas ke mana mana, dan dia mengontrol semua perkembangannya. Dia tak perlu bekerja keras. Dia hanya mengatur rencana. Tapi agen-agennya banyak sekali dan diorganisasi dengan rapi. Kalau ada tindak kejahatan yang harus dilakukan—mencuri dokumen, merampok sebuah rumah, atau menggeser kedudukan seseorang, misalnya—pesan ini akan disampaikan ke Pak Profesor. Lalu dialah yang mengatur bagaimana sebaiknya tugas ini dijalankan. Agen yang menjalankan tugas ini bisa saja tertangkap. Kalau itu terjadi, akan diusahakan mendapatkan uang jaminan untuk melepaskan atau membelanya di pengadilan. Tapi otak kejahatan yang mempekerjakan para agen itu tak pernah tertangkap—bahkan dicurigai saja tak pernah. Begitulah kesimpulanku, Watson, dan aku sedang mengerahkan segenap kemampuanku untuk membongkar organisasi itu.

"Tapi Pak Profesor itu dijaga dengan ketat, begitu ketatnya sampai apa pun yang kulakukan, rasanya tak bisa membuktikan kejahatannya kalaupun dia sampai disidangkan. Kau kan tahu kemampuanku, Watson, tapi selama tiga bulan terakhir ini aku harus mengakui bahwa akhirnya aku menemukan juga seorang musuh yang mampu mengimbangi kecerdasanku. Walaupun aku ngeri melihat kejahatan-kejahatan yang diatur olehnya, aku juga mengagumi kelihaiannya. Tapi akhirnya dia tersandung juga. Hanya kesalahan kecil yang dibuatnya, namun itu cukup bagiku. Kumanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya, dan sejak itu aku pun telah memasang jeratku di sekelilingnya. Sekarang ini, semua upayaku akan segera berakhir. Tiga hari lagi, yaitu Senin yang akan datang, semuanya siap, dan Pak Profesor itu beserta seluruh pentolan komplotannya akan berada di tangan polisi. Lalu, akan berlangsung pengadilan kejahatan terbesar abad ini, terbongkarnya lebih dari empat puluh kasus yang selama ini merupakan misteri, dan tiang gantungan bagi mereka semua. Tapi kami tak boleh bertindak terlalu dini, sebab bisa saja mereka lolos dari genggaman kami pada detik terakhir.

"Begini, kalau saja semua yang kurencanakan ini tak diketahui oleh Profesor Moriarty, maka semua akan mudah saja jadinya. Tapi dia itu terlalu lihai, sehingga tak mungkin tak mencium setiap detail dari rencanaku. Berkali-kali dia berusaha untuk lolos, tapi dengan gigih aku terus mengejarnya. Kalau saja pertempuran diam-diam ini bisa diceritakan secara tertulis, sobat, maka itu akan menjadi karya penyelidikan yang sangat lihai dan luar biasa. Tak pernah aku begitu seriusnya dan begitu tertekannya dalam menangani seorang penjahat. Dia amat tangguh dan aku baru saja berhasil mengalahkan ketangguhannya. Pagi tadi aku melakukan langkah-langkah terakhir, dan hanya dalam waktu tiga hari lagi semuanya akan beres. Aku tadi sedang duduk sambil membayangkan hal ini, ketika pintu kamarku terbuka, dan Profesor Moriarty berdiri di hadapanku.

"Aku bukan orang yang gampang terkejut, Watson, tapi terus terang waktu itu aku terkejut melihat orang yang sedang memenuhi pikiranku berdiri di kamarku. Aku sudah mengenalnya. Sosoknya kurus tinggi, dahinya amat menonjol ke depan sehingga membentuk lengkungan, dan kedua matanya amat tenggelam ke dalam. Wajahnya tercukur bersih, pucat, dan bagaikan pertapa. Dia masih tampak seperti seorang profesor sungguhan. Bahunya agak bungkuk karena terlalu banyak membaca, dagunya menonjol ke luar, dan dia selalu menoleh ke kiri dan ke kanan dengan tenang, bak seekor reptil yang sedang mengawasi sekelilingnya. Matanya yang mengerut menatapku dengan amat penasaran.

"'Tindakan Anda agak lamban, padahal saya kira Anda bisa lebih cekatan,' katanya pada akhirnya. 'Berbahaya sekali menggenggam pistol yang berisi peluru di dalam saku baju tidur Anda.'

"Memang, waktu dia masuk tadi, aku langsung menyadari kemungkinan bahaya yang mengancamku. Satu-satunya kemungkinan lolos baginya ialah dengan membunuhku. Dalam sekejap aku menyambar pistol dari laci dan menyelipkannya di saku bajuku. Aku membalas komentarnya dengan mengeluarkan pistolku yang sudah terkokang itu dan menaruhnya di meja. Dia masih tersenyum dan mengedip-ngedipkan matanya, tapi pandangan matanya serasa agak lain. Untunglah, pistol itu telah kutaruh di meja.

"'Anda ternyata tak mengerti diri saya,' katanya.

"'Sebaliknya,' jawabku, 'saya rasa saya sangat mengenal Anda. Silakan duduk. Kalau Anda ingin menyampaikan sesuatu, silakan. Saya punya waktu lima menit.'

"'Apa yang ingin saya sampaikan pasti sudah ada di benak Anda,' katanya.

"'Kalau begitu jawaban saya juga mungkin sudah ada di benak Anda,' jawabku.

"'Anda tetap ngotot?'

"'Tentu saja.'

"Dimasukkannya salah satu tangannya ke sakunya, dan aku pun langsung menyambar pistol yang ada di meja. Tapi ternyata dia cuma mengeluarkan sebuah buku catatan kecil yang berisi coretan tanggal-tanggal.

"'Anda menginjakkan kaki ke tempat saya pada tanggal 4 Januari,' katanya. 'Tanggal 23 berikutnya Anda menyusahkan saya; pertengahan Februari Anda juga mengganggu saya; akhir Maret Anda menghalangi rencana-rencana saya; dan sekarang, akhir April, gangguan Anda menyebabkan saya hendak ditangkap. Saya tak mungkin membiarkan hal ini berlarut-larut.'

"'Apakah ada saran yang ingin Anda kemukakan?' tanyaku.

"'Anda harus menghentikan semua ulah Anda, Mr. Holmes,' katanya sambil menggoyang-goyangkan wajahnya. 'Anda benar-benar harus menghentikannya, mengerti?'

"'Sesudah hari Senin,' kataku.

"'Wah, wah!' katanya. 'Saya yakin orang secerdas Anda pasti tahu apa yang akan terjadi dengan ulah Anda ini. Anda benar-benar harus mengundurkan diri. Anda sudah mengatur segalanya sedemikian rupa sehingga hanya ada satu jalan keluar bagi kami. Saya merasa mendapat kehormatan karena dapat mengamati cara kerja Anda, dan dengarlah, saya tak main-main kalau saya katakan bahwa saya sebenarnya tak menginginkan mengambil langkah-langkah kekerasan. Anda tersenyum, sir, tapi memang begitulah keadaannya.'

"'Bahaya adalah bagian dari pekerjaan saya,' komentarku.

"'Maksud saya bukan sekadar bahaya,' katanya, 'tapi penghancuran yang tak bisa dihindari. Anda tidak sedang berhadapan dengan seseorang, tapi dengan suatu organisasi yang besar. Bagaimanapun cerdasnya Anda, Anda takkan dapat melihat seberapa besarnya organisasi itu. Jadi, Anda harus minggir, Mr. Holmes, atau akan terinjak-injak.'

"'Maaf,' kataku sambil berdiri, 'saya sampai terlena dalam pembicaraan ini, sehingga saya hampir saja mengesampingkan sesuatu yang penting yang harus saya kerjakan di tempat lain.'

"Dia juga berdiri dan menatapku tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sedih.

"'Yah, yah,' katanya pada akhirnya. 'Sayang sekali. Tapi saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Saya tahu apa pun yang akan Anda lakukan. Tak ada yang bisa Anda lakukan sebelum hari Senin. Ini adalah pertarungan antara Anda dan saya, Mr. Holmes. Anda ingin memenjarakan saya. Dengar, itu tak mungkin. Anda juga ingin mengalahkan saya, tapi itu pun tak mungkin. Kalau Anda merencanakan untuk menghancurkan saya, saya pun akan menghancurkan Anda.'

"'Anda telah banyak memuji saya, Mr. Moriarty,' kataku. 'Saya akan membalasnya dengan mengatakan bahwa kalau yang pertama bisa terjadi, saya pun akan rela bila hal yang Anda ucapkan terakhir kali itu sampai terjadi, demi kepentingan orang banyak.'

"'Saya jamin hanya satu yang akan terjadi, bukan yang satunya lagi,' dia menjawab dengan geram lalu membalikkan badan dan pergi sambil menengok-nengok ke sekeliling kamarku

"Begitulah pembicaraanku yang unik dengan Profesor Moriarty. Kuakui pikiranku sangat terganggu karenanya. Gaya bicaranya yang tenang dan tepat menunjukkan bahwa dia bersungguh-sungguh, bukan sekadar mengancam. Tentu saja kau akan mengatakan, 'Mengapa tak minta bantuan polisi untuk melawannya?' Alasannya ialah karena aku yakin bahwa agen-agennyalah yang akan mengerjaiku. Aku punya bukti-bukti yang menguatkan hal itu."

"Kau sudah pernah diserang?"

"Sobatku Watson, Profesor Moriarty bukanlah orang yang suka membuang-buang waktu. Aku pergi keluar tadi siang karena ada urusan di Oxford Street. Ketika aku melewati belokan dari Bentinck Street dan menuju persimpangan jalan di Welbeck Street, sebuah kereta yang dihela dua ekor kuda tiba-tiba menerjangku dengan kecepatan tinggi. Aku melompat ke trotoar dan kalau terlambat sedetik saja, aku pasti sudah terlindas oleh kereta yang berasal dari Marylebone Lane itu. Dalam sekejap mata kereta itu menghilang. Aku lalu berjalan di trotoar saja sesudah itu, Watson, tapi ketika aku sedang melewati Vere Street, sebuah batu bata terjatuh dari atap sebuah rumah dan jatuh berkeping-keping di kakiku. Aku memanggil polisi dan tempat itu pun diperiksa. Di atas atap rumah itu memang ditemukan tumpukan kayu dan batu bata untuk persiapan perbaikan rumah itu, dan mereka meyakinkanku bahwa tadi pasti ada tiupan angin yang telah menyebabkan batu bata itu tergeser dan jatuh menimpa kakiku. Tentu saja aku tak percaya itu, tapi aku tak bisa membuktikan pendapatku. Aku lalu memanggil taksi dan pergi menemui kakakku di Pall Mall. Seharian aku tinggal di tempatnya. Sekarang, aku menemuimu di sini, dan tadi dalam perjalanan seseorang menghantamku dengan tongkat pemukul. Aku berhasil memukulnya kembali, dan polisi lalu meringkusnya, tapi menurutku, tertangkapnya cecunguk yang kutinju gigi depannya itu, takkan menunjukkan jejak ke arah bekas guru matematika yang sedang merancang semuanya ini dari tempat yang jauh. Itulah sebabnya kau tak perlu heran, Watson, kenapa aku langsung menutup jendelamu begitu aku masuk ke sini tadi, dan aku harus minta izin untuk nanti pulang tidak lewat pintu depan."

Sebelum ini aku sering mengagumi keberanian temanku yang satu ini, tapi sekarang lebih-lebih lagi. Hebat sekali dia bisa dengan tenang membahas insiden-insiden menakutkan yang terjadi sepanjang hari itu!

"Kau mau menginap di sini?" tanyaku.

"Tidak, sobat, kehadiranku akan sangat membahayakanmu. Aku sudah punya rencana sendiri, dan semuanya akan baik-baik saja. Sudah banyak yang kulakukan, dan penangkapan terhadap komplotan itu bisa dilaksanakan tanpa bantuanku, walaupun nantinya kehadiranku dibutuhkan juga sebagai saksi. Tapi, yah, sebaiknya aku pergi selama beberapa hari ini, biarlah polisi yang menindaknya. Itulah sebabnya aku akan sangat senang kalau kau bisa menemaniku pergi ke Eropa."

"Praktekku sedang sepi," kataku, "dan ada tetangga yang bisa mengawasi rumahku. Dengan senang hati aku akan menemanimu."

"Dan bisa berangkat besok pagi?"

"Kalau memang perlu begitu, oke saja."

"Oh, ya, sangat perlu. Kalau begitu, dengarkan apa-apa yang harus kaulakukan, dan kumohon dengan sangat, sobatku Watson, laksanakanlah dengan tepat sampai ke hal yang sekecil-kecilnya, karena kita akan terlibat permainan yang sangat merepotkan melawan penjahat paling cerdik dan sindikat penjahat paling kuat di seluruh Eropa. Sekarang, dengarkan! Suruhlah seseorang yang bisa kaupercaya untuk mengirimkan koper bawaanmu tanpa diberi label alamat ke Victoria malam ini juga. Besok pagi, suruh seseorang lagi untuk memanggil kereta, tapi jangan sampai dia membawa kereta pertama atau kedua yang menawarkan diri. Lalu berangkatlah ke Lowther Arcade di ujung Jalan Strand. Tuliskan alamat yang akan kautuju itu di secarik kertas, dan berikan pada pengendara kereta itu sambil berpesan agar kertas itu jangan sampai hilang. Siapkan ongkos kereta, dan begitu kereta berhenti di ujung Jalan Strand itu, larilab menyeberangi Lowther Arcade, dan perhatikan jam tanganmu. Kau harus sampai di seberang pada jam sembilan lewat seperempat. Di sana kau akan menemukan sebuah kereta lain yang lebih kecil, sedang menunggu di pinggir jalan. Pengendaranya berjubah hitam dan berkerah warna merah. Masuklah ke dalam kereta itu, dan kau akan diantar ke Victoria. Sampai di sana, bergegaslah naik kereta api cepat Continental."

"Di mana aku akan menemuimu?"

"Di stasiun itu. Gerbong kedua dari kelas utama sudah dipesan untuk kita."

"Jadi kita berjanji akan bertemu di gerbong kelas utama itu, ya?"

"Ya."

Aku tak berhasil membujuk Holmes agar menginap saja di rumahku. Jelas sekali bahwa dia merasa akan membawa malapetaka bagi rumah dan keluarga yang diinapinya. Karena itulah, dia pun bersikeras menolak menginap di rumahku. Sambil dengan tergesa-gesa mengingatkanku akan rencana kami besok pagi, dia bangkit dan aku mengantarnya sampai ke taman belakang. Lalu kulihat dia memanjat tembok belakang yang menuju ke Mortimer Street. Kudengar dia langsung bersiul memanggil kereta untuk membawanya pergi.

Keesokan harinya, aku melaksanakan apa yang dipesankan Holmes sampai ke hal-hal yang sekecil-kecilnya. Aku mendapatkan kereta dengan amat berhati hati dan setelah benar-benar yakin bahwa kereta itu bukanlah yang disediakan untuk kami sebagai perangkap. Setelah makan pagi, aku langsung berangkat ke Lowther Arcade, lalu menyeberanginya sambil berlari secepat mungkin. Sebuah kereta lain sudah menunggu. Pengendaranya berbadan besar dan mengenakan jubah hitam. Begitu aku melangkah masuk, pengendaranya langsung memecut kudanya, dan kereta pun langsung melaju dengan kencang menuju Stasiun Victoria. Begitu aku turun, pengendara kereta itu langsung memutar keretanya dan pergi meninggalkanku tanpa menoleh sedikit pun kepadaku.

Sejauh ini semua berjalan dengan lancar. Koper bawaanku sudah menungguku di situ, dan aku tak mengalami kesulitan mendapatkan gerbong kereta yang dimaksudkan oleh Holmes, lebih-lebih karena cuma gerbong itulah yang diberi tanda "terpakai". Kecemasanku satu-satunya ialah ketidakhadiran Holmes. Jam di stasiun sudah menunjukkan tinggal tujuh menit lagi kereta akan berangkat. Kucari-cari sosok temanku yang sigap itu di antara orang-orang yang berkerumun dan lalu lalang di sekitar situ, tapi sia-sia belaka. Dia tak kelihatan di mana-mana. Aku malah merasa perlu menolong seorang pastor Italia yang anggun yang sedang berupaya menjelaskan kepada porter kereta, dalam bahasa Inggris yang terpatah-patah, agar bagasinya dikirimkan ke Paris. Lalu, setelah melongok-longok ke sekeliling sekali lagi, aku kembali ke gerbong. Ternyata porter tadi telah mempersilakan pastor tua Italia itu naik ke gerbongku, padahal tempat itu telah diberi tanda "terpakai". Kurasa tak ada gunanya menjelaskan bahwa dia sebetulnya salah masuk, karena kemampuanku berbahasa Italia tak lebih baik dibanding kemampuannya berbahasa Inggris. Jadi, aku pun hanya mengangkat bahu dan lalu melanjutkan mencari-cari temanku dengan khawatir. Ketakutan mulai merayapi diriku, jangan-jangan sesuatu yang mengerikan telah menimpanya tadi malam. Pintu-pintu kereta telah ditutup, dan peluit pun dibunyikah, lalu...

"Sobatku Watson," sebuah suara menegurku, "kenapa kau tak mengucapkan selamat pagi?"

Aku menoleh dengan sangat terkejut. Pastor tua di sampingku menoleh ke arahku. Dalam sekejap, kerut-kerut di wajahnya itu telah hilang, hidung yang tadinya hampir menempel ke dagu itu pun kini sudah normal lagi, bibir bawahnya tak dimajukan lagi, mata yang tadi sayu sekarang bersinar-sinar, dan profil tubuhnya yang tadi lunglai sekarang ditegakkan. Pokoknya kini penampilannya lain sekali, dan ternyata dia itu temanku Holmes.

"Astaga!" seruku. "Kau benar-benar mengejutkanku!"

"Aku harus hati-hati," bisiknya. "Aku punya alasan untuk menduga bahwa mereka sedang mengikuti jejak kita. Ah, itu dia Moriarty."

Kereta sudah mulai bergerak ketika Holmes mengatakan itu. Aku menoleh ke belakang dan tampaklah olehku seorang pria jangkung sedang berjalan dengan tergesa-gesa di antara kerumunan orang dan melambai-lambaikan tangannya seolah-olah ingin menghentikan kereta itu. Tapi tentu saja dia terlambat, karena kereta sudah berangkat, dan sekejap kemudian sudah keluar dari stasiun.

"Dengan segala upaya kita yang penuh kewaspadaan, lihatlah, semua berjalan dengan lancar," kata Holmes sambil tertawa. Dia bangkit dari duduknya, dan dilepaskannya kostum penyamarannya yang berupa jubah dan topi hitam, lalu disimpannya di tasnya.

"Sudah baca koran pagi, Watson?"

"Belum."

"Kau belum dengar tentang Baker Street, kalau begitu?"

"Baker Street?"

"Kamar kita dibakar semalam. Tapi kerusakannya tak seberapa."

"Ya Tuhan, Holmes! Ini sudah keterlaluan."

"Mereka pasti kehilangan jejakku sama sekali setelah penjahat yang membawa tongkat pemukul itu tertangkap. Kalau tidak, mana mungkin mereka mengira aku kembali ke rumah. Tapi mereka lalu mengalihkan perhatian mereka dengan mengawasimu. Itulah sebabnya Moriarty bisa sampai ke Victoria. Kau tadi tak membawa kekeliruan apa-apa, kan?"

"Semua yang kaupesankan telah kulaksanakan dengan cermat."

"Kau menemukan kereta kecil itu?"

"Ya, waktu aku sampai di tempat itu, kereta itu sudah menungguku."

"Kaukenal siapa yang mengendarai kereta itu?"

"Tidak."

"Mycroft, kakakku. Dalam situasi seperti ini, sebaiknya kita tak meminta bantuan orang upahan yang bisa membahayakan keadaan kita. Sekarang, kita harus memutuskan apa yang akan kita lakukan terhadap Moriarty."

"Yang membawa kita ini kan kereta ekspres setelah itu kita langsung naik kapal. Kukira dia takkan bisa mengejar kita."

"Sobatku Watson, kau pasti tak mengerti maksudku ketika kukatakan bahwa orang ini benar-benar sama cerdasnya denganku. Kalau aku yang jadi pihak pengejar, kau pasti yakin, bahwa aku takkan menyerah begitu saja. Kenapa kau begitu meremehkan dia?"

"Apa lagi yang bisa dia lakukan?"

"Apa yang akan aku lakukan kalau aku berada dalam keadaan seperti itu."

"Coba katakan, apa itu?"

"Menyewa kereta api khusus."

"Tapi, toh tak mungkin akan mendahului kita?"

"Siapa bilang? Kereta ini berhenti di Canterbury, dan baru seperempat jam kemudian kapal berangkat. Dia akan menangkap kita disana."

"Kok, malah dia yang mengejar-ngejar kita, sepertinya kitalah penjahatnya. Kita minta polisi untuk menangkapnya saja di sana nanti."

"Itu akan menghancurkan jerih payahku selama tiga bulan. Kita dapatkan kakapnya, namun teri-terinya lolos. Besok Senin, semuanya pasti tertangkap. Jadi sekarang ini, dia jangan ditangkap dulu."

"Lalu apa yang harus kita lakukan?"

"Kita akan turun dari kereta di Canterbury."

"Lalu?"

"Yah, kita akan melakukan perjalanan lintas negara ke New Haven, lalu ke Dieppe. Tindakan Moriarty selanjutnya dapat kuduga. Dia akan melanjutkan perjalanan ke Paris, mengamati koper-koper kita, dan menunggu di tempat penyimpanan bagasi selama dua hari. Sementara itu, kita beli saja dua tas baru, agar produsennya senang, dan kita menuju ke Swiss dengan santai, lewat Luxemburg dan Basle."

Aku sudah sering bepergian, sehingga kehilangan koper tidak terlalu merepotkanku, tapi aku sebal karena kami harus bersembunyi gara-gara seorang penjahat yang dosanya sudah tak terhitung lagi. Namun nampaknya Holmes lebih paham akan situasi kami daripada diriku. Jadi kami pun turun di Canterbury, dan harus menunggu selama satu jam sebelum kereta yang membawa kami ke New Haven berangkat.

Aku sedang memandangi, dengan agak sedih, gerbong yang membawa pergi barang-barangku, ketika Holmes menarik lengan bajuku dan menunjuk ke atas.

"Betul, kan?" katanya.

Di atas hutan wilayah Kent itu, terlihat asap mengepul. Satu menit kemudian sebuah lokomotif yang menarik satu gerbong melaju ke arah stasiun. Dengan spontan kami bersembunyi di balik tumpukan bagasi ketika kereta api itu lewat di depan kami dengan bunyi mesinnya yang memekakkan telinga dan menyemprotkan udara panas ke wajah kami. Wah, nyaris!

"Dia telah pergi," kata Holmes ketika kami memperhatikan kereta itu melesat dan menghilang di kejauhan. "Kaulihat, ternyata kecerdikan musuh kita itu ada batasnya. Dia sebenarnya bisa lebih berhasil seandainya saja dia tahu bahwa aku bisa menduga rencananya, dan kemudian bertindak sessuai dengan itu."

"Apa yang akan dilakukannya kalau dia berhasil menyusul kita?"

"Dia pasti akan berusaha membunuhku. Kalau dia nekat begitu, dua-duanya, aku dan dia sendiri, bisa tewas bersamaan. Sekarang, apakah sebaiknya kita makan siang agak lebih pagi di sini, atau nanti saja di New Haven?"

Kami melanjutkan perjalanan ke Brussel malam itu dan tinggal di situ selama dua malam. Hari berikutnya, kami menuju ke Strasbourg. Pada Senin pagi, Holmes mengirim telegram ke Kepolisian London, dan malamnya kami mendapat jawaban. Holmes membuka telegram itu, dan sambil menyumpah-nyumpah dilemparkannya telegram itu ke perapian.

"Seharusnya aku tahu," keluhnya. "Dia melarikan diri!"

"Moriarty?"

"Mereka telah berhasil menangkap semua jaringannya, tapi dia sendiri lolos. Dia berhasil mengecoh para polisi itu. Tentu saja, begitu aku tak berada di negeri kita, tak ada yang sanggup menanganinya. Tapi waktu itu kupikir aku sudah mengatur semuanya untuk mereka, dan mereka hanya tinggal bertindak saja. Kurasa sebaiknya kau kembali ke Inggris, Watson."

"Kenapa?"

"Karena kini jiwamu akan ikut terancam, kalau kau berada di dekatku. Orang itu sudah kehilangan pekerjaan, dan dia akan ditangkap kalau kembali ke London. Kalau dugaanku benar, dia kini akan berupaya semaksimal mungkin untuk membalas dendam kepadaku. Dia mengancamku demikian waktu dia berkunjung ke tempatku dulu itu. Dan kurasa dia tak main-main. Maka, kumohon kau kembali praktek lagi saja."

Kalau Anda menjadi teman karibnya, tegakah Anda meninggalkannya dalam keadaan terancam demikian? Kami duduk di sebuah rumah makan di Strasbourg dan bertengkar soal ini selama setengah jam, tapi akhirnya kami berdua melanjutkan perjalanan ke Jenewa.

Selama seminggu yang menggembirakan kami berjalan-jalan di Bukit Rhone, kemudian membelok ke Leuk, lalu ke Gemmi Pass yang masih bersalju tebal. Kami terus melewati Interlaken, dan menuju ke Meiringen. Perjalanan kami menyenangkan. Saat itu kalau kami melayangkan pandangan ke bawah, tampaklah hamparan musim semi yang menghijau dengan indahnya, sedangkan kalau kami melihat ke atas, tampaklah hamparan putih musim dingin. Tapi pikiran Holmes terus menerawang. Waktu kami berada di desa di kaki Pegunungan Alpen atau ketika kami sedang di daerah pegunungan yang sepi, matanya selalu memperhatikan setiap orang yang kami jumpai dengan tajam. Dia begitu yakinnya, bahwa ke mana pun kami pergi, bahaya senantiasa menguntit langkah-langkah kami.

Aku teringat, pada suatu saat ketika kami baru saja melewati perbatasan Gemmi, dan sedang berjalan memasuki daerah Daubensee, sebuah batu besar menggelinding dari bukit di sebelah kanan jalan dan nyelonong masuk ke danau di belakang kami. Dalam sekejap, Holmes langsung berlari ke lereng itu dan melongok-longok ke semua arah. Percuma saja pemandu kami menjamin bahwa jatuhnya batu semacam itu sering terjadi pada musim semi seperti saat ini di tempat itu. Dia terdiam, tapi dia tersenyum ke arahku dengan gaya seseorang yang telah membuktikan kebenaran dugaannya.

Dan, toh, dia tak merasa tertekan walaupun dia sedang dalam keadaan waspada begitu. Sebaliknya, belum pernah kulihat dia dalam keadaan yang sedemikian gembira. Berkali-kali dia mengulang ucapannya bahwa nanti kalau masyarakat benar-benar terbebas dari Profesor Moriarty, dengan senang hati dia akan mengakhiri kariernya

"Paling tidak bisa kukatakan, Watson, bahwa hidupku tidak sia-sia belaka komentarnya. Seandainya catatan mengenai penyelidikanku berakhir nanti malam, aku masih bisa meninjaunya kembali dengan tenang. London telah menjadi tempat yang lebih menyenangkan karena kehadiranku. Lebih dari seribu kasus pernah kutangani, dan rasanya aku tak pernah memakai kemampuanku secara tidak benar. Akhir-akhir ini, aku lebih suka melihat masalah-masalah yang alamiah daripada masalah-masalah sepele yang disebabkan oleh keadaan masyarakat yang serba palsu. Catatanmu akan berakhir, Watson, kalau harinya tiba ketika aku menghentikan karierku dengan tertangkapnya atau tewasnya penjahat paling berbahaya dan paling cerdik di Eropa."

Biarlah kusingkat saja kisah ini, tanpa menyimpang dari fakta yang sebenarnya. Aku sebenarnya tak ingin menceritakan kisah ini, tapi aku sadar, aku harus melakukannya tanpa menyisakan setitik detail pun.

Waktu itu tanggal 3 Mei, ketika kami sampai di desa kecil bernama Meiringen. Kami menginap di sebuah penginapan yang dikelola oleh si tua Peter Steiler. Pemilik penginapan itu cerdik, dan bisa berbahasa Inggris dengan baik, karena dulu pernah bekerja selama tiga tahun di Hotel Grosvenor, di London. Atas sarannya, pada sore hari tanggal 4 Mei kami berdua pergi untuk mendaki perbukitan dan akan menginap di desa kecil bernama Rosenlaui. Kami telah diperingatkan supaya kalau kami mau lewat Air Terjun Reichenbach, yang letaknya kira-kira di tengah tengah perbukitan itu, kami harus melewati jalan yang mengitari air terjun itu.

Tempat itu memang mengerikan. Semburan airnya deras sekali, ditambah dengan cairnya salju jatuh memecah ke jurang yang amat dalam dan luas, membentuk semburan-semburan yang bergulung-gulung naik ke atas bagaikan asap dari sebuah rumah yang sedang terbakar. Semburan air itu lalu masuk ke sebuah terowongan raksasa yang pinggirnya terbuat dari batu-batuan gelap yang berkilauan. Terowongan yang kedalamannya tak bisa diukur dan mengecil di bagian belakangnya ini dipenuhi oleh luapan air yang memecah-mecah ke arahnya sehingga membentuk gerigi pada bibir terowongan itu. Limpahan air berwarna kehijau-hijauan yang terus-menerus tumpah ke bawah dengan suara menderu-deru itu, dan pekikan pecahan-pecahan air yang balik menyembur ke atas, membuat orang merasa bergidik dan pusing. Kami berdiri di sebuah sudut sambil menatap air terjun di bawah sana, nun di kejauhan. Terdengar oleh kami pantulan gemuruh air terjun itu yang berasal dari arah jurang

Jalan yang mengitari air terjun itu terputus di tengah-tengahnya, agar orang bisa melihat air terjun itu secara menyeluruh. Tapi jalan itu tiba-tiba berakhir, sehingga kami harus membalik kalau mau meninggalkan tempat itu. Setelah puas dengan apa yang kami lihat, kami pun berbalik untuk meninggalkan tempat itu, namun seorang bocah berkebangsaan Swiss berlari ke arah kami dengan membawa sepucuk surat di tangannya. Kertas suratnya adalah kertas surat hotel yang baru saja kami tinggalkan, dan dialamatkan kepadaku. Pengirimnya adalah pemilik hotel itu. Rupanya, beberapa menit setelah kami berangkat, seorang wanita Inggris tiba pula di hotel itu dalam keadaan sakit parah. Dia baru saja menghabiskan musim dingin di Davos Platz, dan sedang dalam perjalanan untuk menemui temannya di Lucern. Tapi tiba-tiba dia mengalami perdarahan hebat. Nampaknya dia takkan bertahan hidup lebih lama lagi, tapi alangkah baiknya kalau dia bisa mendapat pertolongan dari seorang dokter Inggris, dan aku dimohon untuk kembali ke hotel itu dan menolongnya, dan seterusnya, dan seterusnya. Steiler yang baik hati itu menambahkan sebuah catatan kaki yang mengatakan bahwa dia akan sangat menghargai kehadiranku, karena wanita itu menolak untuk dibawa ke dokter setempat, padahal dia merasa bertanggung jawab.

Kita tak bisa menyepelekan permintaan semacam itu, bukan? Tak mungkin kita bisa menolak memberi pertolongan pada seorang wanita setanah air yang sedang sekarat di negeri orang. Sebaliknya, aku pun merasa berat untuk berpisah dari Holmes. Tapi akhirnya kami mencapai kata sepakat. Holmes akan melanjutkan perjalanan dengan ditemani bocah Swiss itu sebagai pemandu, sedangkan aku akan kembali ke Meiringen. Temanku itu ingin tinggal lebih lama lagi untuk menikmati air terjun itu, begitu katanya, dan sesudah itu ia akan berjalan pelan-pelan mendaki bukit menuju Rosenlaui. Aku akan menyusulnya di sana. Ketika aku meninggalkannya, aku sempat menoleh ke arahnya. Kulihat dia sedang bersandar pada sebuah batu, tangannya menyilang, sambil menatap deru air di bawahnya. Itulah untuk terakhir kalinya kulihat dia berada di dunia ini.

Ketika aku sudah hampir sampai di bawah bukit, aku menengok kembali. Tapi dari situ air terjun tadi sudah tak nampak lagi. Yang nampak olehku hanyalah jalan yang berkelok di punggung bukit yang menuju ke air terjun itu. Seingatku, aku melihat seorang pria sedang berjalan dengan bergegas di jalan itu. Sosoknya yang gelap terlihat dengan jelas dalam latar belakang yang serba hijau itu. Aku memperhatikannya dan tertarik pada ketergesaannya itu, tapi aku segera melupakannya begitu aku bergegas memenuhi panggilanku.

Lebih dari satu jam kemudian barulah aku sampai di Meiringen. Pak tua Steiler sedang berdiri di serambi depan hotelnya.

"Yah," kataku sambil bergegas menemuinya, "semoga wanita itu tak semakin buruk keadaannya."

Dia agak terkejut, dan ketika dia mulai menggerak-gerakkan alisnya, jantungku pun serasa mau berhenti berdetak.

"Bukan Anda yang menulis surat ini?" tanyaku sambil menunjukkan surat yang kuambil dari sakuku. "Tak ada wanita yang sedang sakit parah di hotel ini?"

"Tidak ada," teriaknya. "Tapi, kok, pakai kertas surat hotel ini! Ha! Pasti orang Inggris yang jangkung tadi, yang kemari setelah Anda berdua berangkat. Dia mengatakan..."

Aku tak memerlukan penjelasan pemilik hotel itu lagi. Dengan penuh ketakutan aku segera berlari menuju jalan yang baru saja kuturuni tadi. Waktu turun tadi aku membutuhkan waktu satu jam. Walaupun aku telah berusaha sekuat tenaga, perjalananku kembali naik ke atas sampai tiba di Air Terjun Reichenbach ini memakan waktu dua jam. Tongkat penyangga milik Holmes kulihat masih tersandar di batu yang disandari temanku tadi.

Tapi dia tak kelihatan. Aku berteriak-teriak memanggilnya, tapi sia-sia. Hanya pantulan teriakanku dari jurang-jurang di sekelilingku yang terdengar sebagai balasannya.

Tongkat temanku itu membuatku takut dan sedih. Itu berarti, dia belum sempat pergi ke Rosenlaui. Saat musuhnya menghampirinya, dia masih berada di jalanan sempit ini, yang salah satu sisinya berpagarkan dinding batu yang terjal dan sisi lainnya jurang yang curam. Bocah yang mengantar surat tadi pun tak kelihatan. Dia mungkin orang upahan Moriarty, dan begitu kedua orang itu bertemu, dia lalu diminta untuk pergi. Lalu apa yang terjadi? Siapa yang bisa menjelaskan apa yang telah terjadi?

Aku berdiri sambil termenung sejenak untuk menenangkan diri, karena ketakutan telah memenuhi diriku. Lalu aku mulai menggunakan metode Holmes untuk mencoba memahami tragedi yang menimpa kami ini. Ternyata kesimpulannya mudah saja; Holmes telah tiada! Waktu kami bercakap-cakap tadi, kami belum sampai di ujung jalanan ini, dan persis di tempat tongkatnya berada itulah kami berdiri. Tanah di bawahnya yang kehitaman senantiasa dalam keadaan gembur, karena terus terusan terkena cipratan semburan air, sehingga jejak kaki burung pun akan terlihat dengan jelas sekali. Dua alur jejak kaki terlihat di depanku, menuju ke air terjun, tapi tak ada jejak kaki ke arah yang berlawanan. Beberapa meter di akhir jalanan itu, tanahnya malah sudah jadi lumpur bekas terinjak-injak, serta semak-semak dan paku-pakuan yang tumbuh di sepanjang pinggiran jurang itu terserak-serak dan bercampur baur dengan lumpur. Aku menelungkup-dan mengamati daerah sekitar situ dengan saksama. Cipratan air langsung membasahi sekujur badanku. Hari sudah mulai gelap, dan yang tampak olehku hanyalah kemilau air pada dinding-dinding yang menghitam di sekitar situ, serta air terjun di bawah sana, nun di kejauhan. Aku berteriak-teriak memanggil temanku; tapi, seperti sebelumnya tadi, cuma gaung suaraku yang kembali terdengar.

Tapi rupanya bisa juga aku memperoleh salam perpisahan dari sobat kental dan rekan seperjuanganku ini. Tadi kukatakan bahwa tongkatnya tertinggal di batu yang menjorok di pinggir jalanan itu. Tiba-tiba, ada sesuatu yang berkilauan di atas batu ini, dan ketika kuraih benda itu, ternyata kotak rokok perak milik temanku. Ketika kotak itu kuambil, sepucuk surat yang terletak di bawah kotak rokok itu melayang jatuh. Ketika kubuka surat yang tertulis pada tiga lembar buku notes temanku itu, ternyata kepadakulah surat itu dialamatkan. Begitulah ciri seseorang yang terbiasa melakukan segala sesuatu dengan cermat. Tulisannya jelas dan rapi, seolah-olah waktu menuliskan nya, dia sedang dalam keadaan santai di ruang bacanya.

Sobatku Watson, katanya,

Aku menulis surat ini atas kebaikan hati Mr. Moriarty yang bersedia memberiku waktu sejenak sebelum kami membicarakan masalah yang ada di antara kami. Dia telah menceritakan padaku bagaimana caranya sampai dia bisa meloloskan diri dari polisi Inggris dan bagaimana dia tahu di mana kita berada. Aku benar-benar salut atas kemampuannya. Aku merasa gembira, karena sebentar lagi aku akan membebaskan masyarakat kita dari cengkeramannya, walaupun dengan harga yang sangat mahal yang mungkin akan membuat sedih hati teman-temanku, khususnya engkau, sobatku Watson. Tapi, aku kan pernah mengatakan padamu, bahwa karierku sudah mencapai garis akhir, dan aku senang sekali karena dengan cara beginilah karierku berakhir. Perkenankanlah aku mengaku padamu, sebenarnya aku sudah yakin bahwa surat dari Meiringen yang memintamu kembali ke sana itu palsu, tapi aku mendiamkan hal ini supaya kau bisa segera meninggalkanku, karena aku sudah mencium apa yang bakal terjadi di sini. Tolong katakan pada Inspektur Patterson bahwa surat-surat yang diperlukannya sebagai bukti untuk menghukum komplotan ini di pengadilan dapat diambilnya di kotak surat bertanda M, dalam amplop biru dengan tulisan "Moriarty''. Aku sudah mengurus harta milikku sebelum meninggalkan Inggris, dan semuanya kuwariskan pada kakakku Mycroft. Sampaikan salamku kepada Mrs. Watson, dan percayalah, kau adalah satu-satunya sobatku yang sejati.

Salamku, Sherlock Holmes.

Kisah selanjutnya hanya pendek saja. Penyelidikan yang dilakukan meyakinkan dugaanku yaitu telah terjadi perkelahian antara kedua orang itu, yang menyebabkan keduanya jatuh ke dalam jurang. Upaya pencarian tubuh mereka tak menghasilkan apa-apa, dan rupanya di bawah sanalah, di kawah yang dipenuhi air yang bergulung-gulung dengan ganasnya itulah, terkubur tubuh penjahat paling berbahaya dan tubuh pahlawan penegak hukum terbaik pada zaman itu, untuk selama-lamanya. Bocah Swiss yang mengantarkan surat padaku itu tak pernah ditemukan jejaknya. Dia itu pastilah salah satu dari begitu banyak agen yang dipekerjakan oleh Moriarty. Sedangkan sehubungan dengan komplotan yang dikendalikan oleh Moriarty itu, masyarakat kami tak akan pernah melupakan jasa-jasa sahabatku Holmes yang telah berhasil mengumpulkan dan meninggalkan kepada kami bukti-bukti tentang praktek-praktek kejahatan mereka, yang semuanya terpaparkan di pengadilan. Sayang peranan Moriarty sendiri tak banyak terungkap dalam persidangan, dan akhir-akhir ini ada beberapa orang yang mencoba membersihkan nama penjahat itu dengan balik menyerang Holmes. Kuharap fakta yang telah kutuangkan dalam tulisan ini dapat membuka mata umum, agar tak keliru menilai Sherlock Holmes—orang paling bijaksana dan paling baik hati yang pernah ku kenal di dunia ini.