KALAU aku memandang tiga tumpuk berkas yang berisi hasil pekerjaan penyelidikan kami selama tahun 1894, kuakui bahwa aku mendapatkan kesulitan untuk memilih mana di antara kekayaan bahan yang kami miliki itu yang paling menarik, tetapi juga yang paling menunjukkan kemampuan unik temanku yang sudah sangat tersohor itu. Selagi aku membalik-balik halaman halaman berkas itu, aku memperhatikan catatan-catatan yang kubuat tentang kasus lintah merah yang menjijikkan dan kasus terbunuhnya pemilik bank bernama Crosby. Aku juga menemukan catatan kasus tragedi Addleton dan kasus kereta Inggris kuno yang berisikan data-data unik. Juga kasus pergantian jabatan Smith-Mortimer, serta kasus pelacakan dan penangkapan Huret, pembunuh dari Boulevard—tindakan yang membutuhkan keberanian luar biasa sehingga Presiden Prancis sampai menulis surat ucapan terima kasih yang ditandatanganinya sendiri dan menganugerahkan Bintang Penghargaan Legiun kepada Holmes. Semua kisah ini pantas dibukukan, tetapi masih kalah unik dan menarik dibandingkan dengan episode Yoxley Old Place yang berkaitan dengan terbunuhnya pemuda Willoughby Smith. Lebih dari itu, hasil pengusutan Holmes tentang sebab-sebab kematian pemuda itu ternyata membuahkan sesuatu yang tak terduga-duga.

Pada suatu malam menjelang akhir bulan November, cuaca di luar sangat buruk dan angin bertiup kencang. Kami berdua, aku dan Holmes, duduk bersama dalam diam sepanjang malam itu. Dengan pertolongan kaca pembesarnya dia mencoba membaca tulisan-tulisan yang masih bisa terlihat dari sebuah dokumen kuno yang rumit. Sedangkan aku sendiri asyik membaca laporan dan komentar ilmiah tentang sebuah terobosan di bidang pembedahan yang baru-baru ini dilakukan. Di luar sana, di Baker Street, angin menderu kencang dan hujan turun dengan lebat sehingga mengempas-empas kaca jendela. Kami merasa aneh karena berada tepat di tengah-tengah kota, dengan macam-macam kesibukan manusia di sekeliling tempat kami berada, tapi seakan terpenjara oleh alam yang sedang bergolak tanpa kami mampu berbuat apa-apa. Kami jadi menyadari bahwa kalau sudah begini, segenap penduduk kota London ini tak lebih bagaikan tikus-tikus yang mendekam di dalam sarangnya. Aku berjalan mendekati jendela dan memandang ke luar, ke jalanan yang sunyi senyap. Kadang-kadang nampak sinar lampu di jalanan yang berlumpur dan di trotoar yang berkilauan. Sebuah kereta menerobos masuk ke Baker Street dari arah Oxford Street.

"Well, Watson, ada baiknya juga kita tak perlu keluyuran malam ini," kata Holmes sambil menaruh kaca pembesarnya dan menggulung dokumen itu. "Kali ini cukup sampai di sini dulu aku membaca. Wah, capek mataku! Sejauh ini kesimpulanku adalah bahwa dokumen ini hanya berisikan catatan-catatan dari seseorang bernama Abbey yang berasal dari pertengahan abad kelima belas. Halloa! Halloa! Halloa! Apa ini?"

Di antara deru suara angin terdengar dencing sepatu kuda dan suara ban kereta yang direm dengan susah payah. Kereta yang tadi kulihat kini berhenti di depan tempat tinggal kami.

"Mau apa dia, ya?" kataku dengan kaget ketika seorang pria keluar dari kereta itu.

"Mau apa! Tentu saja mau bertemu dengan kita. Dan itu berarti, Watson yang malang, kita perlu memakai jas hujan, syal, sepatu bot—apa sajalah yang diperlukan untuk bepergian dalam cuaca seperti ini. Tapi, coba tunggu sebentar! Keretanya pergi! Untung bagi kita. Kalau kita harus pergi dengannya, bukankah kereta itu mestinya disuruh tunggu? Silakan turun ke lantai bawah, sobatku, dan bukakan pintu untuknya karena semua penghuni lantai bawah sudah tidur."

Ketika lampu ruang depan kunyalakan, aku langsung mengenali tamu yang datang malam-malam ini. Dia adalah Detektif Stanley Hopkins yang masih muda dan yang kariernya cukup baik sehingga Holmes menaruh perhatian padanya.

"Apakah dia ada di rumah?" tanyanya dengan penuh semangat.

"Silakan naik, Sobat," kata Holmes dari atas. "Semoga saja kau tak meminta kami pergi ke suatu tempat malam ini."

Detektif itu menaiki tangga, jas hujannya berkilauan diterpa sinar lampu. Kubantu dia melepaskan jas hujannya, sementara Holmes melemparkan kayu ke perapian sehingga nyala apinya menjadi lebih besar.

"Nah, sobatku Hopkins, silakan mendekat kemari dan hangatkan kakimu," katanya. "Ini ada cerutu, dan Dokter akan membuatkanmu air jeruk panas yang sangat baik diminum pada malam hari kalau cuacanya begini. Pasti ada sesuatu yang sangat penting, sehingga kau memerlukan datang kemari dalam cuaca buruk begini."

"Memang, Mr. Holmes. Sepanjang petang tadi, saya sibuk sekali. Sudahkah Anda membaca tentang kasus Yoxley pada surat kabar terbitan paling akhir?"

"Hari ini aku hanya membaca berita dari abad kelima belas. Tak lebih dari itu."

"Well, cuma satu paragraf, dan isi beritanya salah sama sekali, jadi Anda tak rugi apa-apa kalau tak membacanya. Tapi saya tak bisa membiarkan masalah ini begitu saja. Peristiwanya terjadi di Kent, sebelas kilometer jauhnya dari Chatham ditambah lima kilometer lagi dari stasiun kereta api. Saya menerima telegram pada jam tiga lima belas, dan saya tiba di Yoxley Old Place pada jam lima. Saya lalu melakukan penyelidikan, tiba kembali di Charing Cross dengan kereta api terakhir, lalu langsung menuju kemari naik kereta kuda."

"Kukira itu berarti bahwa kasus ini tak begitu jelas bagimu?"

"Itu berarti saya tak tahu ujung pangkalnya. Masalahnya justru lebih ruwet setelah saya melakukan penyelidikan, padahal pada mulanya nampaknya sederhana saja sehingga siapa pun tak mungkin salah menyimpulkannya. Tak ada motif bagi pembunuhan itu, Mr. Holmes. Itulah yang mengganggu pikiran saya—saya tak melihat adanya motif. Ada seorang pria terbunuh—itu jelas—tapi sejauh pengamatan saya, tak ada alasan apa pun bagi seseorang untuk mencelakakannya."

Holmes menyulut cerutunya dan menyandarkan punggungnya ke kursi.

"Kami ingin mendengar tentang itu," katanya.

"Saya tahu fakta-faktanya secara cukup jelas," kata Stanley Hopkins. "Yang ingin saya ketahui sekarang ialah apa maksud dari semua ini. Kisahnya sendiri, sepanjang yang bisa saya ceritakan, adalah sebagai berikut. Beberapa tahun yang lalu, rumah pedesaan yang bernama Yoxley Old Place ini dibeli oleh seorang pria lanjut usia bernama Profesor Coram. Dia menderita cacat tubuh, sehingga lebih sering hanya berbaring di tempat tidurnya saja. Kalau tidak, dengan bantuan tongkat dia akan berjalan tertatih-tatih di sekeliling rumahnya, atau sambil duduk di kursi roda dia didorong oleh tukang kebunnya mengelilingi halaman rumahnya. Dia disukai oleh para tetangganya yang tak begitu banyak jumlahnya. Mereka sering mampir ke tempatnya, dan dia dikenal sebagai orang yang sangat terpelajar. Penghuni rumahnya terdiri atas pengurus rumah tangga yang sudah tua, namanya Mrs. Marker, dan seorang pelayan wanita bernama Susan Tarlton. Kedua wanita ini bekerja di situ sejak dia pindah ke rumah itu, dan mereka adalah orang-orang yang baik. Profesor sedang menulis sebuah buku ilmiah, dan sejak setahun yang lalu dia merasa perlu untuk mempekerjakan seorang sekretaris. Dua sekretaris yang pernah dicobanya ternyata tak memuaskan hatinya, tetapi yang ketiga, namanya Mr. Willoughby Smith, pemuda yang baru saja lulus dari universitas, nampaknya sangat cocok dengan apa yang diinginkannya. Sepanjang pagi, sekretaris itu kerjanya menuliskan apa-apa yang didiktekan oleh Profesor, dan pada malam hari dia akan membuka-buka buku referensi untuk mencari bahan yang diperlukan bagi tugas keesokan harinya. Tak ada orang yang membenci pemuda bernama Willoughby Smith ini, baik ketika dia masih sekolah di Uppingham maupun ketika dia kuliah di Cambridge. Saya sudah membaca riwayat hidupnya, dan sejak dulu dia adalah seorang yang sopan, tenang, rajin, tanpa cela sedikit pun. Namun pemuda inilah yang ditemukan telah meninggal pagi tadi di kamar baca Profesor, dan melihat keadaannya tak diragukan lagi bahwa dia telah dibunuh oleh seseorang."

Angin kembali menderu dan mengguncang jendela ruangan kami. Aku dan Holmes menarik kursi kami mendekat ke perapian, sementara inspektur polisi yang masih muda itu melanjutkan kisahnya yang unik tahap demi tahap dengan hati-hati.

"Di seluruh penjuru negeri Inggris ini," katanya, "rasanya tak ada rumah lain yang begitu serba lengkap atau yang begitu tak membutuhkan hubungan dengan pihak luar. Berminggu-minggu bisa berlalu tanpa seorang pun dari penghuni rumah itu berjalan keluar melewati pintu gerbang taman depan. Profesor asyik dengan pekerjaannya tanpa mempedulikan apa pun juga. Pemuda Smith tak kenal siapa pun di lingkungan situ, dan gaya hidupnya tak banyak berbeda dengan tuannya. Dua wanita yang melayani di rumah itu tak pernah merasa perlu untuk ke luar rumah. Mortimer, si tukang kebun, yang biasanya mendorong kursi roda tuannya, adalah pensiunan tentara—seorang yang berkebangsaan Krimea dengan sifat-sifat yang baik. Dia tidak tinggal di rumah itu, tetapi di sebuah pondok yang memiliki tiga kamar di salah satu ujung halaman rumah itu. Hanya merekalah yang akan Anda temui dalam lingkungan Yoxley Old Place. Padahal, pintu gerbang taman depannya cuma berjarak seratus meter dari jalan besar yang menuju Chatham, London. Pada pintu gerbang itu ada gerendel yang dapat dibuka dengan mudah, sehingga siapa pun bisa masuk tanpa mengalami kesulitan.

"Sekarang saya akan melaporkan kesaksian dari Susan Tarlton. Hanya dia yang mampu mengisahkan kejadian ini dengan jelas. Waktu itu belum tengah hari, antara jam sebelas dan jam dua belas. Dia sedang memasang gorden di kamar tidur sebelah depan di lantai atas. Profesor Coram masih tidur, seperti kebiasaannya kalau cuaca buruk. Pengurus rumah tangga sedang sibuk melakukan sesuatu di halaman belakang. Willoughby Smith tadinya berada di kamar tidurnya, yang juga berfungsi sebagai kamar duduknya, tetapi si pelayan wanita sempat mendengar ketika dia berjalan melewati koridor dan menuruni tangga menuju ruang baca yang terletak persis di bawahnya. Dia tidak melihat pemuda itu, tapi dia yakin tidak keliru sebab dia kenal betul gaya langkah Smith yang cekatan dan mantap. Dia tak mendengar pintu ruang baca ditutup, tetapi kira-kira satu menit kemudian dia mendengar jeritan yang mengerikan dari ruangan di bawahnya itu. Jeritan itu begitu mengenaskan dan suaranya agak aneh, antara suara pria dan wanita. Pada saat yang sama dia mendengar suara gedebuk yang amat keras sehingga mengguncangkan seisi rumah itu, lalu tenang kembali. Pelayan wanita itu berdiri ketakutan selama beberapa saat, lalu ketika keberaniannya muncul kembali, dia langsung berlari ke lantai bawah. Pintu kamar baca itu tertutup dan dia membukanya. Didapatinya pemuda Willoughby Smith tertelentang di lantai. Pada awalnya dia tak melihat adanya luka di tubuhnya, tapi ketika dia berusaha untuk mengangkat pemuda itu, dia melihat darah yang bercucuran dari bagian belakang lehernya. Ada luka kecil tapi sangat dalam di situ yang telah membelah pembuluh nadi karotidnya. Alat yang dipakai untuk menusuk tergeletak di sampingnya. Alat itu adalah pisau kecil yang biasanya ditemukan di meja-meja tulis kuno. Pegangannya terbuat dari gading dan mata pisaunya tajam sekali. Jelas bahwa pisau itu berasal dari meja tulis Profesor sendiri.

"Pada mulanya pelayan itu berpikir bahwa pemuda Smith sudah mati, tetapi ketika dia menuangkan air dari poci ke dahinya, pemuda itu membuka matanya sesaat. 'Profesor,' gumamnya, 'wanita itulah'. Pelayan wanita itu berani bersumpah bahwa kata-kata itulah yang benar-benar diucapkan oleh Smith. Dengan susah payah dia berusaha mengatakan beberapa kata lagi, sambil mengangkat tangan kanannya. Tapi, dia lalu terjatuh ke belakang dan mati.

"Sementara itu, pengurus rumah tangga sudah sampai di tempat kejadian, tapi dia tak sempat mendengar kata-kata terakhir pemuda yang hendak menemui ajalnya itu. Pembantu itu langsung meninggalkan Susan dan mayat Smith, dan berlari ke kamar majikannya. Profesor sedang terduduk di tempat tidurnya dalam keadaan sangat ketakutan, karena dia pun telah mendengar jeritan itu dan merasa yakin bahwa telah terjadi sesuatu yang mengerikan di rumahnya. Mrs. Marker berani bersumpah bahwa dia melihat Profesor masih mengenakan pakaian tidurnya, dan memang tak mungkin Profesor berganti pakaian tanpa pertolongan Mortimer yang telah diminta datang pada jam dua belas. Profesor menyatakan bahwa dia juga mendengar jeritan dari kejauhan. Itu saja yang diketahuinya. Dia tak bisa menjelaskan apa yang dimaksud dengan kata kata terakhir pemuda itu, 'Profesor... wanita itulah,' tapi dia menduga kata kata itu diucapkan oleh Smith dalam keadaan tak sadar. Dia yakin bahwa Willoughby Smith tak punya musuh seorang pun di dunia ini, dan dia tak tahu apa alasan pembunuhan itu. Tindakannya yang pertama ialah menyuruh Mortimer, tukang kebunnya, untuk melapor ke kantor polisi setempat. Tak lama kemudian, polisi kepala menyuruh saya pergi ke tempat kejadian. Ketika saya sampai di sana, semuanya masih di tempatnya semula, dan saya memerintahkan agar jangan seorang pun berjalan melewati jalanan masuk ke rumah itu. Benar-benar kesempatan istimewa untuk mempraktekkan teori-teori Anda, Mr. Sherlock Holmes. Semuanya sudah lengkap, tak ada yang ketinggalan."

"Kecuali Mr. Sherlock Holmes!" kata sobatku sambil tersenyum agak pahit. "Well, mari kita dengarkan, apa saja yang sudah Anda kerjakan sehubungan dengan peristiwa ini."

"Saya perlu minta kesediaan Anda, Mr. Holmes, untuk melihat denah sederhana ini, yang akan memberikan gambaran umum tentang letak kamar baca Profesor dan beberapa hal lainnya. Denah ini akan menolong Anda untuk mengikuti penyelidikan-penyelidikan saya."

Dia membuka denah sederhana itu dan menaruhnya di pangkuan Holmes. Denah itu terlihat sebagai berikut:
Aku berdiri dan sambil berdiri di belakang Holmes, kuperhatikan denah itu.

"Memang amat sederhana, karena hanya memuat tempat tempat yang menurut saya ada kepentingannya. Sedangkan yang lain-lainnya akan Anda lihat sendiri nanti. Nah, pertama-tama, dengan anggapan bahwa pembunuhnya berasal dari luar, dengan cara bagaimana dia masuk? Tentu saja melalui jalanan di taman dan pintu belakang, karena dari sana akan langsung sampai ke kamar baca. Jalan lain akan lebih rumit. Lalu lannya pasti juga lewat jalan yang dia lalui ketika masuk, karena dua pintu keluar lainnya, satunya dilalui oleh Susan ketika dia Ian menuruni tangga menuju. lantai bawah, dan satunya lagi langsung menuju kamar tidur Profesor. Itulah sebabnya, saya langsung memusatkan perhatian ke jalanan di taman itu yang becek karena habis hujan dan pasti akan ketahuan kalau ada jejak kaki di sana.

"Pengamatan saya menunjukkan bahwa pembunuhnya adalah seorang penjahat yang ulung dan sudah berpengalaman. Tak diketemukan jejak kaki di jalanan taman itu, tapi bisa saja dia berjalan di sepanjang rumput pembatas supaya jejaknya tak terlihat jelas. Rumputnya memang terinjak-injak dan pastilah si pembunuh itu, karena tidak ada orang lain yang telah lewat di situ pagi itu, padahal hujan baru turun malam harinya."

"Sebentar," kata Holmes. "Jalanan di taman itu menuju ke mana?"

"Ke jalan raya."

"Berapakah panjangnya?"



"Kira-kira seratus meter."

"Di tempat jalanan itu sampai di pintu gerbang depan, tentunya kau menemukan jejak kaki?"

"Sayang sekali, di situ jalanannya sudah dilapisi batu bata."

"Well, mungkin di jalan raya?"

"Tidak ada, sudah terinjak-injak orang banyak yang lewat di situ."

"Tut, tut! Well, kalau begitu tinggal jejak yang ada di rerumputan—jejak kakinya menuju rumah atau meninggalkan rumah?"

"Sulit dikatakan. Polanya tak terlihat"

"Kakinya besar atau kecil?"

"Tak bisa dibedakan."

Holmes terlonjak saking tak sabarnya. "Sejak peristiwa itu, hujan terus turun dan angin ribut terus bertiup," katanya. "Kasus ini akan lebih sulit dibaca dibandingkan dengan dokumen kuno yang sedang kupelajari. Well, well, apa boleh buat. Lalu apa yang kaulakukan, Hopkins, setelah kau memastikan bahwa tak ada sesuatu pun yang bisa kaupastikan?"

"Ada beberapa hal yang bisa saya pastikan, Mr. Holmes. Saya tahu bahwa seseorang telah masuk ke rumah itu dengan sangat hati-hati. Saya lalu memperhatikan bagian koridor yang dialasi dengan tikar daun kelapa. Tak ada jejak kaki. Saya pergi ke kamar baca. Kamar itu hampir-hampir tak ada perabotannya. Yang ada cuma meja tulis besar dan lemari. Lemari ini ada dua lacinya. Kedua laci itu terbuka, tapi bagian lemarinya terkunci. Kedua laci itu nampaknya selalu dalam keadaan terbuka, dan tak ada barang berharga di dalamnya. Ada beberapa surat penting di dalam lemari, tapi tak ada tanda-tanda bahwa lemari itu telah dibuka dengan paksa, dan Profesor menyatakan bahwa tak ada barang yang hilang dari lemari itu. Jadi jelas bukan perampokan yang telah terjadi.

"Sekarang tentang mayat pemuda itu. Diketemukan di dekat lemari, di sebelah kirinya, sebagaimana ditandai di denah itu. Tusukannya ada di sebelah kanan leher dan dari arah belakang ke depan, jadi hampir tak mungkin kalau korban sendiri yang melakukannya."

"Kecuali dia terjatuh ke belakang dan tanpa sengaja pisau itu menusuk lehernya," kata Holmes.

"Tepat. Saya pun sempat berpikir demikian. Tapi kami menemukan pisau itu beberapa meter dari tubuhnya, jadi hal itu nampaknya tidak mungkin. Lalu, tentu saja, kata-kata terakhir yang diucapkan pemuda itu. Dan akhirnya, bukti yang diketemukan tergenggam di tangan kanan pemuda itu."

Stanley Hopkins mengeluarkan sebuah bungkusan dari sakunya. Dibukanya bungkusan itu dan diperlihatkannya sepasang kacamata berwarna keemasan dengan tali sutera hitam pada kedua ujungnya.

"Penglihatan Willoughby Smith masih sangat baik," tambahnya. "Jelas sekali bahwa barang ini telah direnggutnya dari si pembunuh."

Sherlock Holmes mengambil kacamata itu dan mengamatinya dengan saksama. Dipasangnya kacamata itu di hidungnya, lalu dia berusaha membaca sesuatu dengan bantuan kacamata itu. Kemudian dia pergi ke jendela dan menatap ke arah jalan raya, lalu mengamati kacamata itu kembali langsung di bawah sinar lampu. Akhirnya sambil tergelak dia duduk di meja dan menuliskan beberapa baris kalimat di secarik kertas yang lalu diberikannya kepada Stanley Hopkins.

"Hanya ini yang bisa kulakukan untukmu," katanya. "Mungkin ada gunanya."

Detektif muda yang terkejut itu membaca catatan yang diberikan oleh Holmes dengan suara keras. Begini bunyinya:
Dicari, seorang wanita yang tinggal di daerah yang baik, dan berpakaian seperti wanita bangsawan. Berhidung tebal, kedua mata berdekatan dengan pangkal hidung. Ada kerutan di dahi, sorot matanya tajam, dan bahu bulat. Selama beberapa bulan terakhir paling sedikit dua kali mengunjungi ahli kacamata. Karena kacamatanya tebal sekali, dan tak banyak ahli kacamata, tak akan sulit untuk melacaknya.
Holmes tersenyum melihat ekspresi wajah Hopkins yang terperanjat, demikian juga diriku.

"Tentu saja kesimpulan-kesimpulanku ini sangat sederhana," katanya. "Tak sulit menarik kesimpulan dari sebuah kacamata, apalagi yang jenis luar biasa macam begini. Dari kelembutan bahannya, aku menarik kesimpulan bahwa pemiliknya seorang wanita, dan juga, tentu saja, berdasarkan kata-kata terakhir yang diucapkan oleh pemuda yang malang itu. Sedangkan mengenai lokasi rumah dan gaya berpakaiannya, terlihat dari lapisan emas murni di bingkai kacamata ini. Seseorang yang memakai kacamata seperti itu pastilah juga hebat dalam hal-hal lain. Kalian lihat bahwa jepitannya terlalu lebar untuk hidung kalian. Ini menunjukkan bahwa hidung wanita itu sangat lebar di bagian pangkalnya. Hidung seperti ini biasanya pendek dan kasar, tapi tentu saja tidak selalu begitu. Wajahku sendiri sempit, tapi aku tetap tak bisa menempatkan mataku pada fokus kacamata ini. Jadi mata wanita itu pasti terletak dekat sekali dengan hidungnya. Kau akan melihat, Watson, bahwa lensa kacamata ini cekung dan sangat tebal. Cacat mata seperti itu tentulah akan berpengaruh pada penampilan si penderita, yaitu pada dahi, kelopak mata, dan bahunya."

"Ya," kataku, "aku bisa mengerti semua argumentasimu. Tapi kuakui bahwa aku tetap belum paham bagaimana kau bisa menyimpulkan bahwa dia pernah mengunjungi ahli kacamata sebanyak dua kali."

Holmes menaruh kacamata itu di telapak tangannya.

"Coba lihat," katanya, "jepitan-jepitan kacamata ini dilapisi semacam gabus agar tak terlalu menekan hidung pemakainya. Salah satu gabus pelapis sudah berubah warna dan sudah agak rusak, sedangkan yang satunya lagi masih baru. Jelas bahwa salah satu gabus itu lepas, lalu diganti dengan yang baru. Sedangkan yang lama pun baru berusia kira-kira beberapa bulan. Karena kedua gabus itu bentuknya sama persis, pastilah wanita itu pergi ke ahli kacamata yang sama. Berarti dua kali dia menemui ahli kacamatanya dalam bebe-rapa bulan terakhir ini."

"Ya Tuhan, hebat sekali!" teriak Hopkins terkagum-kagum. "Semua bukti ternyata ada di tangan saya, hanya saja saya tak menyadarinya! Tapi saya memang sudah berniat untuk melacak ke semua ahli kacamata yang ada di London."

"Ya, aku yakin kau akan melakukan itu. Nah, masih adakah hal lain yang ingin kausampaikan kepada kami tentang kasus ini?"

"Tidak ada, Mr. Holmes. Saya rasa Anda sudah tahu semua yang saya ketahui—malah mungkin lebih dari itu. Kami sudah menanyai beberapa orang tentang apakah mereka melihat seorang asing di jalan-jalan raya kota kecil itu atau di stasiun kereta api pada malam kejadian itu. Mereka menyatakan tak melihat seorang pun. Yang memusingkan saya ialah untuk apa pembunuhan itu dilakukan? Tak ada motif apa pun yang melatarbelakanginya."

"Ah! Aku tak bisa membantumu dalam hal ini. Tapi tentunya kau akan mengajak kami pergi ke tempat kejadian besok pagi?"

"Kalau Anda tak keberatan, Mr. Holmes. Ada kereta dari Charing Cross ke Chatham pada jam enam pagi, dan kita akan tiba di Yoxley Old Place antara jam delapan dan jam sembilan."

"Baiklah, kalau begitu. Kasusmu ini benar-benar menarik perhatian, dan dengan senang hati aku akan ikut menyelidikinya. Well, sudah hampir jam satu malam, sebaiknya kita tidur dulu sebentar. Aku yakin kau tak keberatan tidur di sofa depan perapian itu, kan? Nanti akan kunyalakan lampu spiritus, dan besok kita akan minum kopi dulu sebelum berangkat."

Angin ribut sudah berhenti bertiup keesokan harinya, tetapi cuaca tetap buruk pagi itu ketika kami berangkat. Sinar matahari musim dingin yang tipis menyembul dari rawa-rawa Sungai Thames dan dari daerah-daerah di kejauhan yang suram yang mengingatkanku pada petualangan kami ketika melacak seorang penduduk pedalaman Pulau Andaman pada awal karier detektif kami. Setelah menempuh perjalanan yang jauh dan melelahkan kami turun di sebuah stasiun kecil beberapa kilometer jauhnya dari Chatham. Sementara kereta kuda yang akan kami sewa sedang disiapkan di sebuah penginapan setempat, kami cepat-cepat menyantap sesuatu untuk makan pagi. Setelah itu kami pun siap untuk berangkat ke Yoxley Old Place. Seorang polisi menemui kami di pintu gerbang.

"Well, Wilson, ada berita apa?"

"Tidak ada, sir, tidak ada apa-apa."

"Tidak ada yang melapor telah melihat seseorang?"

"Tidak, sir. Mereka yang di stasiun juga merasa yakin bahwa tak ada orang asing yang datang atau meninggalkan kota ini kemarin."

"Sudah menanyai orang-orang di hotel dan penginapan-penginapan?"

"Sudah, sir, tak ada seorang pun yang pantas dicurigai."

"Well, Chatham tak jauh dari sini. Mungkin saja ada tamu asing yang menginap atau naik kereta api dari sana tanpa diketahui siapa pun. Inilah jalanan taman yang saya jelaskan kepada Anda, Mr. Holmes. Saya bersumpah tak ada jejak kaki di situ kemarin."

"Jejak-jejak yang Anda temukan di rerumputan, di sebelah manakah itu?"

"Di sebelah sini, sir. Di barisan rumput yang terletak antara jalanan dan pohon-pohon bunga itu. Sekarang saya tak bisa melihat jejak-jejak itu, tetapi kemarin cukup jelas."

"Ya, ya, memang seseorang telah lewat situ," kata Holmes sambil membungkukkan badan ke bagian rerumputan itu. "Wanita itu pandai memilih langkah, ya, sebab kalau dia melangkah di jalanan jejaknya pasti dapat dilacak, apalagi kalau di pohon-pohon bunga itu."

"Benar, sir, tentunya dia seorang penjahat ulung."

Aku melihat wajah Holmes menjadi tegang.

"Kaubilang dia pulangnya juga lewat sini?"

"Ya, sir, tak ada jalan lain."

"Melalui barisan rumput ini?"

"Tentu saja, Mr. Holmes."

"Hum! Tindakan yang luar biasa—sangat luar biasa. Well, saya rasa kita sudah cukup meneliti jalanan ini. Mari kita lanjutkan penyelidikan kita. Pintu taman itu biasanya selalu terbuka, kan? Jadi tamu tak diundang itu bisa masuk begitu saja? Mulanya dia tak bermaksud membunuh seseorang, karena kalau memang demikian dia pasti sudah membawa senjata, dan bukannya mengambil pisau dari meja tulis Profesor. Dia lalu melewati koridor ini tanpa meninggalkan jejak karena lantainya beralaskan tikar. Lalu dia masuk ke ruang baca. Berapa lamakah dia berada di situ? Belum bisa diduga, ya?"

"Tak lebih dari beberapa menit, sir. Saya lupa mengatakan pada Anda bahwa Mrs. Marker, si pengurus rumah tangga, masih membereskan kamar baca itu kira-kira seperempat jam sebelum peristiwa itu terjadi."

"Well, kalau begitu sudah ada batas waktu tertentu. Wanita itu masuk ke ruangan ini, lalu apa yang dilakukannya? Dia menuju meja tulis. Mencari apa dia? Pasti bukan sesuatu yang tersimpan di laci. Apa pun yang dicarinya pastilah tersimpan dengan baik dan terkunci. Tidak, bukan sesuatu yang ada di laci! Tetapi sesuatu yang tersimpan di lemari kayu itu. Halloa! Goresan apa itu di pintu lemari? Tolong bawa korek api, Watson. Mengapa kau tak menceritakan tentang ini kepadaku, Hopkins?"

Goresan yang sedang diamati oleh Holmes ini berawal dari bagian kuningan sebelah kanan lubang kunci, dan terus sampai kira-kira sepanjang sepuluh sentimeter, sehingga menggores pernis di permukaan pintu lemari itu.

"Saya memang sudah melihatnya kemarin, Mr. Holmes. Tapi biasa kan kalau ada goresan macam begitu di sekitar lubang kunci?"

"Yang ini masih baru—sangat baru. Coba lihat kuningannya bersinar di tempat yang tergores itu. Kalau sudah lama, pasti bukan demikian. Coba kita lihat melalui kaca pembesar. Itu serbuk-serbuk pernisnya, menempel di kanan-kiri goresan. Apakah Mrs. Marker ada di dekat sini?"

Seorang wanita tua yang wajahnya sedih memasuki ruangan.

"Apakah Anda membersihkan debu dari lemari ini kemarin pagi?"

"Ya, sir."

"Apakah waktu itu Anda melihat goresan ini?"

"Tidak, sir. Saya tak melihatnya."

"Saya yakin Anda tak melihatnya, karena alat pembersih debu pasti akan juga melenyapkan serbuk pernis itu. Siapa yang menyimpan kunci lemari ini?"

"Profesor. Dia menggantungkannya di rantai jamnya."

"Apakah kunci itu jenis yang sederhana?"

"Tidak, sir, mereknya Chubb."

"Bagus sekali. Mrs. Marker, Anda boleh pergi sekarang. Nah, kita sudah mendapat sedikit kemajuan. Wanita itu masuk ke ruangan ini, kemudian menuju lemari, lalu membukanya atau berusaha membukanya. Ketika dia sedang melakukan ini, pemuda Willoughby Smith masuk. Dengan tergesa-gesa wanita itu menarik kunci sehingga menimbulkan goresan di pintu lemari. Smith menangkapnya, dan dia lalu menggapai apa saja yang ada di dekatnya, yang ternyata sebilah pisau. Dia menusukkan pisau itu kepada Smith dalam upayanya untuk melepaskan diri. Ternyata tusukan itu berakibat fatal. Pemuda itu terjatuh dan dia lalu melarikan diri. Dia mungkin sudah berhasil mendapatkan apa yang dicarinya, tapi mungkin juga belum. Apakah Susan si pelayan ada di dekat sini? Bisakah seseorang melarikan diri melewati pintu itu beberapa saat setelah Anda mendengar jeritan, Susan?"

"Tidak bisa, sir, tak mungkin. Sebelum saya menuruni tangga, saya pasti akan melihat kalau ada seseorang di koridor. Di samping itu, kalau seandainya pintu dibuka, saya pasti akan mendengar."

"Jadi jalan keluar dari sini tak perlu kita perhitungkan. Jelas bahwa wanita itu keluarnya lewat rute jalan masuknya. Saya diberitahu bahwa koridor yang satunya itu hanya menuju kamar tidur Profesor. Tak ada jalan keluar lewat situ?"

"Tidak ada, sir."

"Mari kita ke sana dan berkenalan dengan Profesor. Halloa^ Hopkins! Ada sesuatu yang penting, nih, sangat penting malah. Ternyata koridor kamar tidur Profesor juga beralaskan tikar."

"Well, sir, memangnya kenapa?"

"Tak terpikirkah olehmu hubungannya dengan kasus ini? Well, well, aku tak memaksa, kok. Pasti akulah yang salah duga. Tapi, nampaknya dugaanku cukup kuat. Mari ikut aku, dan perkenalkan aku kepada Profesor."

Kami melewati koridor itu, yang panjangnya sama dengan koridor satunya yang menuju taman. Di akhir ujung itu ada tangga pendek yang menuju sebuah pintu. Pengantar kami mengetuk pintu itu, lalu mengantar kami memasuki kamar tidur Profesor.

Kamar itu besar sekali dan dipenuhi rak-rak yang terisi penuh dengan buku-buku tebal. Buku-buku juga berserakan di semua ujung ruangan itu, atau dibiarkan menumpuk begitu saja di bawah lemari-lemari. Tempat tidur berada di tengah ruangan dan pemilik rumah sedang duduk bersandarkan beberapa bantal di tempat tidur itu. Tak pernah sebelumnya aku melihat pehampilan seseorang yang seperti dia. Wajah yang menoleh ke arah kami itu benar-benar kurus kering dengan mata berwarna gelap yang amat cekung melotot ke arah kami. Rambutnya berwarna putih, jenggotnya juga putih tapi agak kekuning-kuningan di sekitar mulutnya. Sebatang rokok menyembul dari mulutnya, dan udara di kamar itu pengap oleh bau asap rokok yang menyengat. Ketika tangannya terulur ke arah Holmes, aku memperhatikan bahwa tangan itu juga berwarna kuning karena nikotin.

"Anda merokok, Mr. Holmes?" katanya dalam bahasa Inggris yang baik namun diwarnai sedikit aksen aneh. "Silakan mengambil rokok, dan Anda, sir? Rokok yang saya tawarkan ini secara khusus diramu oleh Ionides dari Alexandria. Sekali mengirim, jumlahnya seribu batang, dan saya memesan tiap dua minggu. Payah, sir, payah sekali, tapi orang tua seperti saya ini kan perlu menyenangkan diri sendiri. Rokok dan pekerjaan—hanya itu yang mengisi hidup saya."

Holmes menyalakan sebatang rokok dan melemparkan pandangannya ke sekeliling kamar itu.

"Rokok dan pekerjaan, tapi kini tinggal rokok saja yang bisa mengisi hidup saya," teriak pria tua itu. "Aduh, kejadian fatal itu telah mengganggu hidup saya! Siapa menduga akan terjadi tragedi mengerikan seperti itu? Padahal pemuda itu sangat berharga bagi saya! Sungguh. Setelah melalui masa latihan beberapa bulan, dia benar-benar asisten yang hebat. Apa pendapat Anda tentang kasus ini, Mr. Holmes?"

"Saya belum membuat kesimpulan."

"Saya akan sangat berterima kasih kalau Anda bisa menguakkan misteri pembunuhan ini. Bagi seorang kutu buku yang cacat tubuh seperti saya, peristiwa ini sungguh mengejutkan. Rasanya saya kehilangan daya pikir. Tapi Anda bisa bergerak—seseorang yang banyak menangani kasus-kasus, jadi ini sudah menjadi pekerjaan Anda sehari-hari. Kalau suatu saat terjadi sesuatu terhadap diri Anda, Anda tak begitu terguncang. Kami sungguh beruntung karena Anda bersedia menangani kasus ini."

Holmes mondar-mandir di salah satu sisi kamar sementara profesor tua itu berbicara. Kuperhatikan bahwa dia mengisap rokoknya dengan sangat cepat. Jelas bahwa dia pun merasakan nikmatnya rokok dari Alexandria itu.

"Ya, sir, musibah ini sungguh memukul saya," kata pria itu kemudian. "Itu harta karun saya—tumpukan kertas di meja samping sana. Isinya analisis saya terhadap dokumen-dokumen yang diketemukan di biara-biara Coptik di Syria dan Mesir—hasil karya yang akan mengungkap tuntas rahasia agama wahyu. Dengan kesehatan saya yang rapuh begini saya tidak tahu apakah saya akan mampu menyelesaikannya, apalagi asisten saya telah tiada. Wah, Mr. Holmes, Anda merokoknya lebih cepat dari saya!"

Holmes tersenyum.

"Saya memang ahli dalam hal yang satu ini," katanya, lalu mengambil sebatang rokok lagi dari kotak—untuk keempat kalinya—kemudian menyalakannya dengan api dari puntung rokoknya. "Saya tak ingin menyusahkan Anda dengan pemeriksaan yang berlangsung lama, Profesor Coram, karena saya tahu bahwa Anda berada di tempat tidur pada saat pembunuhan terjadi, jadi pastilah Anda tak tahu-menahu tentang hal itu. Saya hanya ingin menanyakan satu hal. Menurut Anda, apa yang dimaksud oleh pemuda yang malang itu dengan kata-kata terakhirnya, 'Profesor... wanita itu'?"

Profesor menggelengkan kepalanya.

"Susan itu gadis desa," katanya, "dan Anda tahu, kan, bagaimana lugunya dia. Menurut saya, pemuda yang malang itu hanya meracau, lalu oleh Susan ditafsirkan sebagai berita yang tak bermakna itu."

"Oh, begitu. Apakah ada penjelasan yang ingin Anda sampaikan tentang pembunuhan itu?"

"Mungkin saja kecelakaan, mungkin juga—di antara kita saja, ya—bunuh diri. Para pemuda biasanya menyembunyikan masalah-masalah pribadinya—yang menyangkut cinta, misalnya. Saya lebih cenderung menganggapnya begitu daripada pembunuhan."

"Tapi, bagaimana dengan kacamata itu?"

"Ah! Saya ini tak berpengalaman—bisanya cuma membayang-bayangkan. Saya tak bisa menjelaskan hal-hal praktis yang terjadi dalam kehidupan ini. Tapi, toh, kita menyadari, Teman, bahwa masalah percintaan orang muda itu bisa aneh-aneh bentuknya. Mari, silakan ambil rokok lagi. Saya merasa senang karena ada yang menyukainya. Kipas, sarung tangan, kacamata—atau benda apa saja yang sangat berkesan baginya, bisa saja dibawa-bawa oleh seseorang menjelang akhir hidupnya. Saudara kita ini menyatakan adanya jejak kaki di rerumputan, tapi bisa saja itu tak berarti apa-apa. Sehubungan dengan pisau itu, mungkin terlempar agak jauh ketika pemuda yang malang itu terjatuh. Saya ini bicaranya kekanak-kanakan, ya? Tapi menurut saya, Willoughby Smith nampaknya tewas karena dia sendirilah yang menikam dirinya."

Holmes sangat terkejut atas teori yang baru saja dikemukakan Profesor, dan dia melanjutkan mondar-mandir di kamar itu selama beberapa saat, sambil memutar otak dan merokok tak henti-hentinya.

"Coba katakan, Profesor Coram," katanya pada akhirnya, "apa isi lemari di ruang baca?"

"Bukan barang yang akan diminati pencuri. Cuma dokumen keluarga, surat-surat dari istri saya yang malang, dan ijazah-ijazah perguruan tinggi. Ini kuncinya. Silakan, kalau Anda mau melihat."

Holmes menerima kunci itu dan memperhatikannya sesaat, kemudian mengembalikannya.

"Tidak usah, menurut saya tak akan banyak membantu," katanya. "Lebih baik saya menyelidiki taman Anda dan berusaha memikirkan kasus ini. Saya penasaran tentang teori bunuh diri yang Anda kemukakan tadi. Kami minta maaf karena telah mengganggu Anda, Profesor Coram, dan saya berjanji tak akan mengganggu Anda lagi, paling tidak sampai setelah makan siang. Jam dua nanti kami akan kemari lagi untuk melaporkan apa saja yang kami dapatkan."

Holmes benar-benar tak peduli terhadap sekelilingnya, dan kami mondar-mandir di jalanan taman selama beberapa saat sambil berdiam diri.

"Sudah dapat petunjuk?" tanyaku pada akhirnya.

"Tergantung dari rokok-rokok yang kuisap tadi," katanya. "Aku bisa saja salah total. Rokok-rokok itu akan memberi petunjuk kepadaku."

"Sobatku Holmes," teriakku, "apa gerangan..."

"Well, well, nanti akan kaulihat sendiri. Kalau ternyata salah, toh tak ada yang dirugikan. Kita memang bisa mendapatkan petunjuk dari ahli kacamata, tapi kalau bisa aku mau lewat jalur cepat saja. Ah, Mrs. Marker yang baik hati ada di sini! Mari kita berbincang-bincang sejenak dengannya."

Sebelum ini, aku mungkin sudah pernah mengatakan bahwa kadang-kadang kalau lagi suka, Holmes bisa bersikap aneh untuk mengambil hati wanita, dan dia melakukannya dengan sangat meyakinkan. Tak diperlukan waktu lama, dia sudah bisa merebut simpati pengurus rumah itu, dan asyik berbincang-bincang dengannya bagaikan sudah lama mengenalnya.

"Ya, Mr. Holmes, memang benar apa yang Anda katakan, sir. Profesor itu perokok berat. Sepanjang hari, bahkan kadang-kadang sepanjang malam, sir. Pernah suatu pagi saya melihat kamar nya—well, sir, bagaikan tertutup kabut kota London yang tebal. Kasihan Mr. Smith yang masih muda itu, dia juga perokok, tapi tak seberat Profesor. Tentang kesehatannya... well, saya tak tahu apakah dengan merokok begitu akan membaik atau memburuk."

"Ah," kata Holmes, "yang jelas itu telah membunuh selera makannya."

"Well, saya tak tahu-menahu soal itu, sir."

"Profesor tentunya cuma makan sedikit sekali, ya?"

"Well, tak tentu juga. Begitulah dia itu."

"Dia pasti tak pernah makan pada pagi hari, dan tak akan makan siang sebelum menghabiskan rokok-rokoknya "

"Well, Anda salah tentang hal ini, sir, karena tadi pagi dia makan banyak sekali. Tidak pernah sebelumnya dia makan sebanyak itu, dan dia juga memesan agar masakan dagingnya diperbanyak siang ini. Saya kaget juga karena sejak saya masuk ke ruang baca kemarin dan mendapati Mr. Smith tergeletak di lantai seperti itu, saya sendiri malah tak berselera sedikit pun. Well, orang memang lain-lain, ya, dan bagi Profesor peristiwa itu ternyata tak mempengaruhi nafsu makannya."

Kami menghabiskan sepanjang pagi itu dengan mondar-mandir di halaman. Stanley Hopkins pergi ke desa untuk mendapatkan keterangan mengenai desas-desus adanya seorang wanita asing yang telah terlihat oleh beberapa anak kecil di Chatham Road kemarin pagi. Sedangkan temanku, tak seperti biasanya, kelihatan tak bersemangat. Tak pernah sebelumnya dia bersikap seperti itu kalau sedang menangani suatu kasus. Bahkan ketika Hopkins kembali dengan membawa kabar bahwa dia berhasil menemui anak-anak yang telah melihat seorang wanita yang persis seperti yang dijelaskan Holmes, dan juga memakai kacamata, Holmes tak menunjukkan minat sama sekali. Dia baru agak bersemangat ketika Susan, yang melayani makan siang kami, memberikan informasi bahwa dia melihat Mr. Smith pergi berjalan-jalan kemarin pagi, dan dia baru kembali setengah jam sebelum tragedi itu terjadi. Aku tak tahu apa makna kejadian ini, tapi jelas Holmes berusaha mengaitkannya dengan rancangan yang ada di otaknya. Tiba-tiba dia bangkit dari duduknya, dan melihat jam tangannya.

"Jam dua, Saudara-saudara," katanya. "Mari ke atas, kita ada janji untuk bertemu lagi dengan saudara kita Profesor."

Profesor tua itu baru saja menyelesaikan makan siangnya, dan jelas terlihat bahwa selera makannya baik sekali karena tak tersisa sedikit pun hidangannya. Ada yang aneh dari penampilannya ketika dia menoleh dan menatap ke arah kami dengan matanya yang bersinar-sinar. Selalu ada rokok yang menempel di mulutnya. Dia telah berganti pakaian dan sedang duduk di kursi berlengan di dekat perapian.

"Well, Mr. Holmes, apakah Anda sudah berhasil memecahkan misteri ini?" Dia mengambil kaleng besar yang berisi rokok dari meja di sampingnya dan menyodorkannya kepada temanku. Bersamaan dengan itu Holmes mengulurkan tangannya, sehingga tangan mereka berbenturan dan kaleng itu terjatuh. Kami segera berjongkok sambil memunguti rokok-rokok yang jatuh bertebaran. Ketika kami bangkit kembali aku memperhatikan bahwa mata Holmes berbinar-binar dan pipinya memerah. Hanya kalau dalam keadaan krisislah tanda-tanda seperti itu muncul.

"Ya," katanya, "saya telah memecahkannya."

Aku dan Stanley Hopkins saling berpandangan dengan penuh keheranan. Profesor yang kurus kering itu tersenyum menyeringai.

"Betulkah? Di taman?"

"Tidak, di sini."

"Di sini! Kapan?"

"Baru saja."

"Anda pasti bergurau, Mr. Sherlock Holmes. Saya harus mengatakan bahwa masalah ini terlalu serius untuk ditangani dengan gurauan."

"Saya sudah membuktikan setiap rangkaian pemikiran saya, Profesor Coram, dan saya yakin bahwa pemikiran saya ini benar adanya. Apa motif Anda, atau peran apa yang Anda mainkan dalam kasus yang unik ini, saya belum bisa mengatakannya. Sebentar lagi saya akan mendengarnya dari bibir Anda sendiri. Sementara itu, saya akan merekonstruksi apa yang telah terjadi, supaya Anda tahu informasi apa yang masih saya butuhkan.

"Kemarin, seorang wanita masuk ke kamar baca Anda. Dia datang untuk mengambil beberapa dokumen yang berada di lemari Anda. Dia memiliki kunci sendiri. Saya sempat memperhatikan kunci yang ada pada Anda, dan ternyata tidak ada perubahan warna yang mestinya diakibatkan oleh goresan pada pintu lemari itu. Jadi saya menarik kesimpulan bahwa bukan itu kunci yang dipakainya. Berarti wanita itu datang tanpa sepengetahuan Anda."

Profesor mengembuskan asap rokoknya. "Menarik sekali," katanya. "Ada yang ingin Anda tambahkan? Berhubung Anda sudah bisa melacak tentang wanita itu sampai sejauh ini, tentunya Anda bisa mengatakan juga apa yang terjadi pada wanita itu selanjutnya."

"Saya akan sampai ke situ nanti. Tapi pertama-tama, wanita itu tertangkap oleh sekretaris Anda, dan dia menusuknya agar bisa melarikan diri. Musibah ini tetap saya anggap sebagai kecelakaan yang menyedihkan, karena saya yakin wanita itu sebetulnya tak punya niat untuk melukai siapa pun. Seorang pembunuh tak akan masuk ke rumah orang tanpa senjata. Ketakutan menyadari apa yang telah dilakukannya, wanita itu berlari meninggalkan tempat itu. Sayangnya, dia telah kehilangan kacamatanya pada waktu berusaha melepaskan diri dari Smith, padahal dia tak begitu jelas melihat, bahkan nyaris tak bisa berbuat apa-apa, tanpa kacamatanya. Dia hanya terus berlari, melewati koridor yang disangkanya adalah koridor yang tadi dilewatinya ketika dia memasuki rumah ini—karena koridor yang ini juga beralaskan tikar—dan ketika dia menyadari bahwa dia telah salah jalan, sudah terlambat baginya untuk kembali karena ada seseorang menuju ke koridor itu. Apa yang harus dilakukannya? Dia tak mungkin mundur. Dia juga tak mungkin berdiri saja di tempatnya. Jadi dia harus terus berlari. Maka itulah yang dilakukannya. Dia menaiki tangga, membuka pintu, dan mendapati dirinya berada di kamar Anda ini."

Pria tua itu duduk dengan mulut terbuka sambil menatap Holmes dengan tajam. Keheranan dan ketakutan terpancar dari wajahnya. Lalu dengan susah payah dia mengangkat bahu dan tertawa sinis.

"Bagus, Mr. Holmes," katanya. "Tapi biasanya teori yang hebat bagaimanapun pasti ada kekurangannya. Saya waktu itu sedang berada di kamar saya, dan saya tidak keluar-keluar sepanjang hari itu."

"Saya tahu itu, Profesor Coram."

"Anda mau mengatakan bahwa saya waktu itu berbaring di tempat tidur tanpa menyadari bahwa seorang wanita telah memasuki kamar saya?"

"Saya tak mengatakan demikian. Anda tahu ketika wanita itu memasuki kamar Anda. Anda sempat omong-omong dengannya. Anda kenal siapa wanita itu. Anda bahkan membantunya untuk melarikan diri."

Profesor kembali tergelak dengan suara tinggi. Dia berdiri, dan matanya bersinar bagaikan bara api.

"Anda gila!" teriaknya. "Omongan Anda ngelantur. Saya membantu dia melarikan diri? Di mana dia sekarang?"

"Dia ada di sana," kata Holmes sambil menunjuk lemari buku tinggi di sudut kamar itu.

Kulihat Profesor melemparkan kedua lengannya ke atas, dan wajahnya yang liar tiba-tiba berubah dengan drastis lalu dia terjatuh di kursinya. Pada saat yang bersamaan, lemari buku yang tadi ditunjuk oleh Holmes terbuka pintunya, dan seorang wanita keluar dan berlari ke tengah ruangan.

"Anda benar," teriaknya dengan logat asing yang aneh kedengarannya "Anda benar! Saya ada di sini."

Sekujur tubuhnya berwarna coklat karena debu dan kotoran yang menempel di dinding tempat persembunyiannya. Wajahnya coreng-moreng dan dia memang bukan seorang wanita cantik; ciri-ciri wajahnya persis seperti yang dijelaskan Holmes, malah lebih parah lagi karena dagunya panjang dan kekar. Karena penglihatannya memang buruk, dan baru keluar dari gelap menuju terang, wanita itu hanya berdiri terbengong-bengong sambil mengejap-ngejapkan mata untuk melihat sekelilingnya dan siapa kami ini. Walaupun banyak kekurangannya secara fisik, sikap wanita ini memancarkan keanggunan, yaitu dagu dan kepalanya yang terangkat sehingga kami pun langsung menunjukkan sikap hormat dan penghargaan. Stanley Hopkins telah menggaet tangan wanita itu dan menyatakan bahwa dia kini menjadi tawanannya, tetapi dengan lembut wanita itu menepiskan tangan sang polisi, dan Hopkins menuruti kemauan wanita itu. Profesor terduduk saja di kursinya, wajahnya memancarkan kegugupan, matanya menatap wanita itu dengan pandangan kesal.

"Ya, sir, saya memang tawanan Anda," kata wanita itu, "Dari tempat saya berdiri di persembunyian tadi, saya sudah mendengar semuanya, dan saya tahu bahwa semua yang Anda katakan benar adanya. Saya mengakuinya. Sayalah yang membunuh pemuda itu. Tapi Anda benar ketika mengatakan bahwa itu terjadi semata-mata karena kecelakaan. Saya bahkan tak tahu bahwa yang saya pegang itu pisau, karena dalam kepanikan saya hanya sembarangan saja memungut sesuatu dari meja tulis, lalu menghantamkannya ke pemuda itu agar saya bisa terbebas dari cengkeramannya. Apa yang saya utarakan ini adalah yang sebenar-benarnya."

"Madam," kata Holmes, "saya percaya bahwa Anda mengatakan yang sebenarnya. Saya kuatir Anda dalam keadaan kurang sehat saat ini."

Wajah wanita itu memang sangat pucat, kontras sekali dengan coreng-moreng debu di wajahnya. Dia duduk di salah satu sisi tempat tidur, lalu melanjutkan penuturannya.

"Saya tak punya banyak waktu," katanya, "tapi saya ingin menjelaskan semuanya. Saya adalah istri pria ini. Dia bukan orang Inggris. Dia orang Rusia. Tak perlu saya sebutkan namanya."

Untuk pertama kalinya Profesor bereaksi. "Tuhan memberkati engkau, Anna!" teriaknya. "Tuhan memberkati engkau!"

Wanita itu menoleh ke arahnya dengan pandangan menghina. "Mengapa kaupertahankan mati-matian hidupmu yang celaka itu, Sergius?" katanya. "Sudah banyak orang yang hancur hidupnya karena itu—bahkan juga dirimu sendiri. Tapi memang bukan hakku untuk menarik benang tipis itu sebelum waktu yang ditentukan oleh Tuhan sendiri. Dosaku sudah cukup berat sejak menginjakkan kaki di rumah terkutuk ini. Tapi aku perlu bicara sebelum terlambat.

"Tadi sudah saya katakan, Tuan-tuan, bahwa saya adalah istri pria ini. Dia berusia lima puluh tahun dan saya masih gadis ingusan berusia dua puluh ketika kami menikah di sebuah kota di Rusia, di sebuah universitas—tak perlu saya sebutkan namanya."

"Tuhan memberkati engkau, Anna!" gumam Profesor lagi.

"Waktu itu kami berdua adalah aktivis reformasi—revolusioner—kaum nihilis, kalian tahu, kan? Dia, saya, dan banyak lagi lainnya. Suatu ketika timbul kerusuhan, seorang perwira polisi terbunuh, dan banyak di antara kami yang ditangkap. Lalu diperlukan bukti-bukti. Dan suami saya ini tega-teganya mengkhianati istri dan kawan-kawannya agar dia sendiri bisa selamat dan mendapat penghargaan tinggi. Ya, kami semua ditangkap karena pengakuannya. Beberapa di antara kami dihukum gantung dan beberapa dikirim ke Siberia. Saya adalah salah satu yang dikirim ke Siberia, tetapi tidak untuk seumur hidup. Suami saya lalu pindah ke Inggris dengan membawa semua penghasilan yang didapatnya melalui pengkhianatannya itu, dan hidup tenang di sini. Tapi dia pun menyadari bahwa kalau sampai ada seorang anggota Gerakan yang tahu di mana dia tinggal, saat itu juga dia akan mendapat ganjaran yang setimpal."

Profesor tua itu mengambil rokok dengan tangannya yang gemetaran. "Nyawaku ada dalam tanganmu, Anna," katanya. "Kau selalu baik kepadaku."

"Saya belum sampai ke bagian kejahatannya yang paling hebat!" kata wanita itu. "Di antara kawan-kawan gerakan kami itu ada seseorang yang sangat dekat dengan saya. Pria ini baik hatinya, tak egois, penuh kasih—pokoknya serba kebalikannya dari suami saya. Dia tak suka kekerasan. Kami semua bersalah—kalau apa yang kami lakukan itu memang bisa dianggap salah—tapi dia sama sekali tidak terlibat. Dia malah sering menyurati saya dan menyarankan agar kami jangan mengambil jalan kekerasan. Surat-surat ini sebenarnya bisa membebaskannya dari semua tuduhan. Juga buku harian saya, karena di dalamnya saya tiap hari menuliskan perasaan saya terhadap dirinya dan pandangan kami yang saling bertentangan. Suami saya menemukan surat-surat itu dan buku harian saya, lalu menyembunyikannya. Dia berusaha sekuat tenaga untuk menyeret kawan saya itu ke tiang gantungan, tapi tak berhasil. Alexis dibuang ke Siberia dan dipekerjakan di tambang gararn. Coba pikir, he, bajingan, he, bajingan; bayangkanlah, bayangkanlah! Alexis, pria yang namanya saja tak pantas kausebutkan, saat ini dipekerjakan dan hidup sebagai budak, dan aku yang harusnya bisa menghabisi hidupmu, malah membiarkanmu bebas!"

"Kau memang berbudi luhur, Anna," kata profesor tua itu sambil mengepulkan asap rokoknya ke udara.

Wanita itu sudah berdiri, tapi ia lalu menjatuhkan diri lagi sambil menangis tertahan dengan pilunya.

"Saya belum selesai," katanya. "Ketika saya sudah dibebaskan dari hukuman saya, saya lalu bertekad untuk mendapatkan buku harian dan surat-surat itu, karena kalau saya kirim itu ke pemerintah Rusia, kawan saya pasti akan dibebaskan. Saya tahu bahwa suami saya sudah pindah ke Inggris. Selama berbulan-bulan saya berusaha mencari tahu di mana dia tinggal, akhirnya saya berhasil. Saya tahu dia masih menyimpan buku harian saya, karena ketika saya masih di Siberia, sekali saya menerima surat darinya yang memaki-maki saya sambil mengutip beberapa kalimat dari buku harian saya. Tapi saya pun yakin, mengingat sifatnya yang pendendam, tak mungkin dia memberikan buku harian itu kalau saya memintanya secara langsung. Karena itu saya menyewa seorang detektif swasta, yang berhasil masuk ke rumah suami saya dengan berpura-pura jadi sekretarisnya—dia sekretarismu yang kedua, Sergius, yang tak lama bekerja untukmu. Dia menemukan bahwa surat-surat itu tersimpan di lemari, dan dia membuatkan aku kunci palsu, tapi dia tak bersedia menolongku lebih lanjut. Dia hanya memberikan denah rumah ini dan mengatakan bahwa menjelang tengah hari ruang baca itu selalu kosong, karena sekretarismu membantumu di atas sini. Maka aku pun memberanikan diri untuk mengambil dokumen itu sendiri. Aku berhasil mendapatkannya, tapi betapa mahal harganya!

"Saya baru saja mengambil dokumen itu dan sedang mengunci lemari kembali, ketika pemuda itu menangkap saya. Saya sudah pernah melihatnya sebelumnya, yaitu pada pagi harinya. Dia berpapasan dengan saya di jalan, dan ketika saya bertanya di mana tempat tinggal Profesor Coram, saya sama sekali tak menduga bahwa dia adalah sekretarisnya."

"Tepat! Tepat!" kata Holmes. "Si sekretaris lalu pulang dan menceritakan pertemuannya dengan Anda. Lalu, menjelang ajalnya, dia berusaha untuk mengatakan bahwa pelakunya adalah wanita yang baru saja dibicarakannya dengan majikannya."

"Biar saya bicara dulu," kata wanita itu dengan nada memerintah. Wajahnya mengernyut seakan-akan menahan sakit. "Ketika dia terjatuh, saya berlari keluar dari ruangan itu, tetapi lewat rute yang salah dan malah masuk ke kamar suami saya. Dia mengatakan bahwa dia akan melaporkan saya ke polisi. Saya membalas bahwa kalau dia melakukan hal itu, nyawanya sendiri terancam. Kalau dia menyerahkan saya kepada yang ber wajib, saya juga akan menyerahkan dia kepada Gerakan. Bukannya saya mau menyelamatkan diri sendiri, tapi saya sudah bertekad untuk menuntaskan misi saya. Dia tahu bahwa saya bersungguh-sungguh, dan dia menyadari bahwa nasib kami saling terkait. Karena itulah, ya, hanya karena nyawanya terancam itulah, dia lalu membantu menyembunyikan saya. Dia menyuruh saya bersembunyi di balik lemari buku yang gelap itu. Hanya dia sendirilah yang tahu kalau ada rongga kosong di situ. Dia minta agar makanannya dikirim ke kamar ini, sehingga saya pun bisa makan. Menurut perjanjian, kalau polisi sudah meninggalkan rumah ini, saya akan melarikan diri pada malam hari dan tak akan pernah kembali lagi. Tapi entah dengan cara bagaimana Anda ternyata mengetahui rencana kami ini."

Wanita itu mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari balik gaunnya. "Ini pesan terakhir saya," katanya, "di dalam bungkusan ini terdapat surat-surat yang bisa membebaskan Alexis. Saya percayakan ini kepada Anda yang saya yakin sependapat dengan saya bahwa keadilan harus ditegak kan. Ambillah! Tolong kirim ke Kedutaan Rusia. Nah, selesailah sudah tugas saya, dan..."

"Hentikan dia!" teriak Holmes. Dia melompat menyeberangi kamar itu dan merebut botol kecil yang sejak tadi dipegang oleh wanita itu.

"Terlambat!" kata wanita itu sambil merebahkan dirinya di tempat tidur. "Terlambat! Saya sudah meminum racun itu sebelum saya keluar dari tempat persembunyian, Aduh, kepala saya berputar-putar! Saya mohon pamit! Jangan lupa, sir, bungkusan tadi."

"Kasus yang sederhana, namun mengandung pelajaran yang mendalam," komentar Holmes dalam perjalanan kami pulang ke kota. "Sejak awal jawabannya tergantung pada kacamata itu. Untung saja, korban sempat menarik kacamata itu. Kalau tidak, belum tentu kita berhasil menyelesaikan kasus ini. Jelas sekali bagiku dari tebalnya lensa bahwa pemiliknya pasti tak bisa berbuat apa-apa tanpa kacamata itu. Ketika kau mengatakan kepadaku bahwa wanita itu keluar lewat barisan rumput yang sempit itu tanpa salah langkah sedikit pun, komentarku adalah—tentunya kau masih ingat—bahwa tindakan wanita itu sungguh-sungguh luar biasa. Sebetulnya aku beranggapan bahwa tindakannya itu bukan cuma luar biasa melainkan tak mungkin dilakukan, kecuali kalau wanita itu punya kacamata cadangan. Tapi kemungkinan terakhir ini kan kecil sekali. Maka aku terpaksa melihat kemungkinan bahwa dia masih berada di dalam rumah. Menyadari bahwa ada dua koridor yang persis sama bentuknya, aku menyimpulkan besar kemungkinannya dia telah salah jalan, dan kalau benar demikian, berarti dia memasuki kamar tidur Profesor. Aku memasang mata untuk mencari bukti-bukti yang bisa mendukung hal ini. Kuamati dengan saksama kamar Profesor, memperkirakan di mana kira-kira ada tempat persembunyian. Tak ada sambungan di karpetnya, juga dipaku dengan kuat, maka tak mungkin ada pintu di balik karpet itu. Kemungkinan lain ialah rongga di belakang buku-buku yang banyak sekali itu. Kau pun tahu bahwa yang seperti itu banyak terdapat di perpustakaan-perpustakaan kuno. Aku melihat ada banyak buku yang bertebaran di seluruh penjuru kamar itu, kecuali di depan lemari buku tertentu. Jadi mungkin itulah pintunya. Tapi aku tak berhasil mendapatkan petunjuk apa pun. Untungnya, karpetnya berwarna kalem, jadi bisa kuamati. Aku mengisap banyak-banyak rokok yang luar biasa nikmatnya itu, dan abunya kujatuhkan di bagian lantai yang berdekatan dengan lemari buku yang kucurigai. Taktik yang sederhana, tapi amat efektif. Aku lalu pergi ke lantai bawah, dan mencari kepastian di depanmu, Watson—hanya saja kau tak mengerti ke mana arah pembicaraanku dengan Mrs. Marker itu—bahwa nafsu makan Profesor Coram memang benar 'bertambah besar' sejak tragedi itu, porsi makanannya cukup untuk dua orang. Kita lalu kembali ke kamarnya, dan aku pura-pura tak sengaja menjatuhkan kaleng rokoknya, sehingga aku bisa mengamati lantai dengan leluasa dan saksama. Dari jejak-jejak yang terlihat di atas abu rokok, aku menjadi yakin bahwa orang yang kita cari telah keluar dari tempat persembunyiannya ketika kita tak berada di kamar itu. Well, Hopkins, kita sudah sampai di Charing Cross. Kuucapkan selamat karena kau telah menyelesaikan kasus ini dengan sukses. Tentunya kau akan langsung menuju kantor polisi. Mari, Watson, kita pergi ke Kedutaan Rusia."