"INI ada beberapa catatan," kata temanku, Sherlock Holmes, ketika kami sedang duduk berdampingan di depan perapian pada suatu malam di musim dingin, "yang kurasa, Watson, perlu sekali kau baca. Isinya dokumen dokumen kasus Gloria Scott yang luar biasa itu, dan pesan inilah yang telah menimbulkan ketakutan yang amat sangat pada Yang Mulia Hakim Trevor, ketika dia selesai membacanya."

Dia mengambil sebuah silinder yang berwarna buram lalu membuka pengikatnya. Kemudian, diserahkannya sepotong kertas berwarna abu-abu yang bertuliskan sebuah pesan.

"Semua binatang buruan telah cukup lama terbongkar tempat persembunyiannya. Hudson, penjaga hutan, membuka ratusan tempat rahasia mereka. Tolong selamatkan mereka demi nyawamu!"

Waktu aku mendongak setelah membaca pesan yang penuh teka-teki ini, kulihat Holmes tergelak melihat ekspresi wajahku.

"Kau kelihatannya agak bingung," katanya.

"Aku tak mengerti mengapa pesan seperti itu bisa menimbulkan rasa takut yang luar biasa. Menurutku, pesan itu lebih banyak anehnya daripada menakutkan."

"Nampaknya memang begitu. Tapi pada kenyataannya si pembaca, seorang pria tua yang tegap dan gagah, ternyata sangat terguncang, bagaikan sedang ditodong dengan moncong pistol."

"Wah, aku jadi penasaran," kataku. "Tapi, kenapa kaukatakan tadi bahwa ada alasan-alasan khusus mengapa aku perlu mempelajari kasus ini?"

"Karena ini kasus pertama yang kutangani."

Aku sering berupaya untuk mencari tahu apa yang telah menyebabkan temanku yang satu ini beralih ke masalah-masalah kriminal, tapi dia tak pernah mau berterus terang. Kini, dicondongkannya tubuhnya dan disebarnya dokumen-dokumen yang dimaksudkannya itu di pangkuannya. Lalu dia menyalakan pipanya dan selama beberapa saat duduk merokok sambil membalik-balik dokumen-dokumen itu.

"Kau belum pernah mendengarku bercerita tentang Victor Trevor?" tanyanya. "Dialah satu-satunya temanku ketika kuliah selama dua tahun dulu. Aku memang tak suka bergaul, Watson. Aku lebih suka mendekam di kamar dan mengutak-atik cara berpikirku. Itulah sebabnya aku tak terlalu akrab dengan teman-teman seangkatanku. Olahraga yang kuminati cuma tinju dan anggar, dan jurusan yang kuambil pun tak umum dipilih oleh teman-temanku, jadi, ya praktis putus hubungan sama sekali. Cuma Trevor yang kukenal, dan itu pun melalui kecelakaan. Anjingnya menggigit pergelangan kakiku ketika aku sedang berjalan menuju kapel pada suatu pagi.

"Kenalan saja kok secara tak mengenakkan begitu, ya? Tapi efeknya besar. Karena gigitan anjingnya itu, aku tak bisa bangun selama sepuluh hari, dan Trevor sering datang menjengukku. Pada awalnya kami cuma berbasa-basi selama satu menit, tapi pada kunjungan-kunjungan berikutnya dia makin lama makin betah ngobrol denganku, dan tak lama kemudian kami sudah berkawan akrab. Dia orang yang hangat dan penuh semangat, sangat berlawanan dengan diriku dalam banyak hal, tapi kami cocok dalam hal topik-topik pembicaraan, dan persahabatan kami jadi semakin kokoh setelah aku tahu bahwa dia pun tak punya banyak teman. Akhirnya, dia mengundangku untuk mengunjungi rumah ayahnya di Donnithorpe, Norfolk. Aku tak sampai hati menolak, dan aku pun menghabiskan liburan panjang semester berikutnya selama sebulan di situ.

"Pak Trevor tua ternyata orang kaya, hakim agung yang terpandang, dan tuan tanah. Donnithorpe itu sebuah desa kecil di sebelah utara kota Langmere, di daerah Broads. Rumah bala miliknya itu kuno, luas, dikelilingi pohon ek, dan di depannya ada jalanan bertepikan batu kapur yang rapi. Rumah itu dilengkapi dengan tempat berburu bebek yang sangat ideal, kolam tempat memancing yang mengasyikkan, dan perpustakaan yang tak seberapa besar tapi penuh buku-buku pilihan yang dibelinya dari pemilik rumah sebelumnya. Juga ada seorang tukang masak yang lumayan, sehingga sebetulnya nikmat sekali bertamu di sana.

"Trevor tua adalah seorang duda, dan temanku itu putra tunggalnya. Sebenarnya dia punya seorang putri, tapi telah meninggal karena sakit difteri ketika sedang mengunjungi Birmingham. Ayah temanku itu sangat menarik perhatianku. Dia tak begitu berpendidikan, agak kasar, baik secara fisik maupun secara mental. Dia tak banyak membaca buku, tapi sering bepergian ke luar negeri, dan dia mengingat semua yang pernah dialaminya. Badannya agak gemuk, tegap, rambutnya beruban, wajahnya coklat karena terik matahari, dan matanya yang biru berkesan agak kejam. Tapi dia dikenal oleh masyarakat sebagai orang yang baik hati dan sosial, dan cukup longgar dalam memutuskan kasus-kasus yang ditanganinya.

"Pada suatu malam, beberapa hari setelah ke datanganku, kami sedang duduk minum anggur setelah makan malam. Trevor muda mulai membuka pembicaraan tentang kegemaranku mengamati dan menyimpulkan sesuatu, walaupun waktu itu aku sendiri belum menyadari peran mereka dalam hidupku. Pak Trevor jelas sekali menganggap bahwa anaknya tcrlalu membesar-besarkan kemampuanku.

"'Cobalah sekarang, Mr. Holmes,' katanya sambil tertawa ramah 'Aku bisa jadi objek yang sempurna, silakan menarik kesimpulan dari penampilanku.'

"'Saya rasa tak banyak yang bisa saya simpulkan ' kataku. 'Benarkah Anda sedang dalam ketakutan, jangan-jangan ada seseorang yang akan menyerang Anda selama setahun terakhir ini?'

"Tawanya langsung berhenti, dan dia menatapku dengan penuh keheranan."

"'Well, itu benar,' sahutnya. 'Kau tahu, Victor,' katanya sambil menoleh kepada anaknya, 'ketika kita berhasil mengusir komplotan pemburu liar itu, mereka mengancam akan membalas dendam, dan Sir Edward Hoby telah mereka lukai. Sejak itu aku terus berhati-hati, walau tak terbayangkan olehku bagaimana Mr. Holmes bisa tahu itu.'

"'Anda selalu membawa-bawa tongkat,' jawabku. 'Dari labelnya saya tahu bahwa Anda memakainya belum lebih dari setahun. Tapi Anda telah bersusah-susah mengebor bonggolnya dan menuangkan timah cair ke lubang itu, sehingga tongkat itu juga berfungsi sebagai senjata yang cukup bisa diandalkan. Anda pasti tak akan berwaspada demikian kalau tidak sedang dalam ketakutan.'

"'Ada lagi?' tanyanya sambil tersenyum.

"'Waktu masih muda, Anda sering bertinju.'

'Betul lagi. Bagaimana kau tahu? Apakah hidungku agak melengkung akibat tonjokan?'

"'Tidak,' kataku. 'Telinga Anda itu. Agak mendatar dan menebal sebagaimana biasanya telinga seorang petinju.'

"'Ada lagi?'

"'Kulit Anda kasar, menandakan Anda pernah bekerja dalam usaha galian.'

"'Aku memang pernah mencari nafkah di pertambangan emas.'

"'Anda pernah pergi ke New Zealand.'

"'Betul lagi.'

"'Juga ke Jepang.'

"'Benar.'

"'Anda pernah dekat dengan seseorang yang namanya berinisial J.A., yang lalu benar-benar ingin Anda lupakan.'

"Mr. Trevor berdiri dengan perlahan, matanya yang besar dan biru menatapku dengan agak liar, lalu tiba-tiba dia jatuh terempas ke depan dengan wajah yang pucat pasi.

"Bisa kau bayangkan, Watson, betapa terkejutnya aku dan anaknya. Kami lalu membuka kerah bajunya, membasahi wajahnya dengan air, dan tak lama kemudian orang tua itu mulai berusaha menarik napas dengan terengah-engah dan kembali duduk.

"'Ah, anak-anak,' katanya sambil memaksakan diri untuk tersenyum, 'kuharap aku tak membuat kalian ketakutan. Walaupun badanku nampak kuat, jantungku lemah, sehingga gampang terkejut. Aku tak tahu bagaimana kau bisa tahu semua itu, Mr. Holmes, tapi ternyata kau lebih hebat dari semua detektif yang pernah kukenal. Kemampuanmu ini akan menjadi jalan hidupmu percayalah padaku, orang yang telah banyak melihat dunia.'

"Kata-katanya itulah, Watson, walaupun agak berlebihan, yang membuatku untuk pertama kalinya mempertimbangkan bahwa sebenarnya aku memang bisa berprofesi dengan kemampuanku itu, dan bukannya sekadar hobi. Tapi, waktu itu aku lebih memikirkan penyakit tuan rumahku yang tiba-tiba menyerangnya itu.

"'Semoga saya tak mengatakan sesuatu yang menyebabkan Anda sakit,' kataku.

"'Well, kau memang telah mengatakan sesuatu yang amat peka bagiku. Boleh aku tahu bagaimana dan seberapa banyak yang kauketahui?' Dia berbicara dengan setengah bergurau sekarang, namun ketakutan masih membayang di sudut matanya.

"'Sederhana sekali, kok,' kataku. 'Saya sempat melihat lengan Anda ketika sedang menarik ikan hasil tangkapan memancing. Ada tato J.A. di lengkung siku Anda. Huruf huruf itu masih kelihatan, tapi ada guratan-guratan yang pasti disebabkan oleh upaya keras Anda untuk menghilangkannya. Jadi jelaslah, inisial itu pernah sangat berarti bagi Anda tapi sekarang tidak lagi.'

"'Pengamatanmu tajam sekali!' teriaknya sambil menarik napas lega. 'Memang benar demikian. Tapi kita tak usah membicarakan hal itu lagi. Dari semua bayang-bayang yang menghantui pikiran kita, bayang-bayang mereka yang pernah sangat kita kasihilah yang paling mengerikan. Yuk, kita ke ruang biliar sambil santai-santai merokok.'

"Sejak peristiwa itu Mr. Trevor kelihatannya agak mencurigaiku, walau sikapnya tetap ramah. Bahkan anaknya sadar akan hal itu dan berkomentar, 'Kau telah mengejutkan ayahku, sehingga dia kini jadi was-was tentang apa-apa saja yang kau ketahui.' Aku yakin Mr. Trevor tidak dengan sengaja menunjukkan kecurigaannya tapi pikirannya begitu dipenuhi dengan hal itu sehingga mau tak mau terlihat. Akhirnya, merasa sungkan karena telah membuat tuan rumahku gelisah, aku memutuskan untuk segera saja mengakhiri kunjunganku. Tapi sehari sebelum aku pulang, terjadi sesuatu yang sangat penting.

"Kami bertiga sedang duduk santai di halaman, menikmati matahari sore sambil mengagumi keindahan pemandangan daerah Broads sekitar situ, ketika seorang pelayan wanita mengabarkan bahwa ada seseorang yang ingin bertemu dengan Mr. Trevor.

"'Siapa namanya?' tanya tuan rumah.

"'Dia tak mau mengatakannya.'

"'Kalau begitu, mau apa dia kemari?'

"'Dia mengatakan bahwa Anda kenal dia, dan bahwa dia hanya perlu berbicara dengan Anda sebentar saja.'

"'Antar dia kemari.' Tak lama kemudian, seorang pria kecil yang mukanya penuh keriput mengerikan berjalan terhuyung-huyung menghampiri kami. Jaket yang dikenakannya dibiarkannya terbuka, dan ada sepercik noda di lengan jaket itu. Bajunya kotak-kotak merah-hitam, celananya jengki, dan sepatunya sudah lusuh. Wajahnya berwarna coklat, kurus, dan licik. Senyum terus-menerus tersungging di bibirnya, sehingga memamerkan giginya yang kuning dan tak beraturan, dan tangannya yang penuh kerut agak terkepal seperti layaknya seorang pelaut. Ketika dia berjalan terbungkuk-bungkuk mendekati kami, aku mendengar Mr. Trevor tersedak lalu berlari ke dalam rumah. Tak lama kemudian dia keluar lagi, dan waktu dia melewatiku, aku mencium bau brendi.

"'Nah, Saudara,' katanya, 'ada perlu apa?'

"Pelaut itu menatapnya dengan mata yang menyipit dan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya itu.

"'Kau tak kenal aku?' tanyanya.

"'Oh, wah, Hudson ya?' kata Mr. Trevor dengan nada terkejut.

"'Benar, sir. Aku ini Hudson,' kata pelaut itu. 'Wah, sudah lebih dari tiga puluh tahun kita tak bertemu. Kini kau sudah mapan di rumah pribadimu, sedangkan aku masih mengais-ngais rezekiku.'

"'Uh, aku takkan pernah melupakan masa lalu,' teriak Mr. Trevor, dan sambil mendekati pelaut itu, dia membisikkan sesuatu. 'Pergilah ke dapur,' lanjutnya dengan keras, 'silakan makan dan minum. Aku pasti akan bisa memberimu pekerjaan.'

"'Terima kasih, sir,' kata pelaut itu sambil menyentuh dahinya. 'Aku baru saja selesai bertugas di kapal yang kebetulan kekurangan tenaga kerja, selama dua tahun, dan aku lelah sekali. Aku sempat menimbang-nimbang apakah akan minta tolong padamu atau pada Mr. Beddoes '

"'Ah!' teriak Mr. Trevor. 'Kau tahu Mr. Beddoes tinggal di mana sekarang?'

"'Tentu saja, sir, aku tahu di mana semua teman lamaku sekarang berada,' kata pria itu dengan senyum sinis, dan dia lalu mengekor mengikuti pelayan wanita menuju ke dapur. Mr. Trevor menggumamkan sesuatu, bahwa dia dulu pernah satu kapal dengan pria itu dalam perjalanan ke pertambangan, lalu dia masuk ke rumah, meninggalkan kami berdua di halaman. Kira-kira satu jam kemudian, ketika kami masuk ke dalam, kami melihatnya sedang tersungkur dalam keadaan mabuk berat di sofa ruang makan. Semua kejadian ini sangat mengganggu pikiranku, dan aku tak menyesal ketika meninggalkan Donnithorpe keesokan harinya, karena keberadaanku di rumah itu tentunya akan membuat sahabatku merasa malu.

"Semua ini terjadi pada bulan pertama liburan semesterku yang panjang. Aku kembali ke kamar kosku di London, dan menghabiskan tujuh minggu dengan melakukan percohaan-percobaan kimia organik. Tapi pada suatu hari, saat musim gugur hampir berlalu dan liburanku menjelang akhir, aku menerima telegram dari sahabatku itu, yang memohon kehadiranku di Donnithorpe. Dia juga mengatakan bahwa dia sangat membutuhkan saran dan bantuanku. Tentu saja aku langsung berangkat ke daerah di sebelah utara Inggris itu.

"Dia menjemputku dengan kereta di stasiun, dan sekilas aku bisa merasakan bahwa dia telah mengalami banyak kesulitan selama dua bulan terakhir ini. Tubuhnya jadi lebih kurus dan tak terawat, dan perangainya yang biasanya bersemangat dan ceria tak berbekas lagi.

"'Ayahku sedang sekarat,' begitulah kata-katanya yang pertama kali dilontarkan kepadaku.

"'Tak mungkin!' teriakku. 'Apa yang terjadi?'

"'Dia menderita apopleksi. Sarafnya terpukul. Dia dalam keadaan kritis sepanjang hari. Jangan-jangan, ketika kita sampai di rumah, dia sudah meninggal.'

"Kau pasti bisa membayangkan betapa kagetnya aku mendengar berita yang tak terduga-duga ini.

"'Apa yang menyebabkannya jadi sakit begitu?' tanyaku.

"'Ah, itulah masalahnya. Masuklah ke dalam kereta, dan kita akan membicarakannya dalam perjalanan. Kau masih ingat pria yang datang ke rumah kam sehari sebelum kau pulang?'

"'Masih.'

"'Tahukah kau siapa orang yang kami persilakan masuk ke rumah kami waktu itu?'

"'Sama sekali tidak.'

"'Dia itu iblis, Holmes.' teriaknya.

"Aku menatapnya dengan penuh keheranan.

"'Ya, dia itu benar-benar iblis. Sejak dia menginjakkan kaki ke dalam rumah kami, kami jadi tak pernah merasa aman lagi. Ayahku jadi murung dan tertekan terus-menerus sejak malam itu, dan sekarang dia tak punya semangat hidup lagi dan hatinya hancur, gara-gara si Hudson terkutuk itu...'

"'Pengaruh apa yang dia miliki?'

"'Ah, justru itulah yang sangat ingin kuketahui. Ayahku yang begitu baik hati dan sosial—apa urusannya sehingga dia bisa masuk ke cengkeraman bajingan seperti itu! Tapi aku sungguh senang karena kau sudah datang, Holmes. Aku sangat mempercayai penilaian dan pemikiranmu, dan aku yakin kau akan bisa memberikan saran yang terbaik untukku '

"Kami meluncur di jalanan pedesaan yang mulus dan berwarna putih. Daerah Broads sudah berada di hadapan kami, berkilauan disinari matahari yang sedang terbenam. Dari atas semak-semak di sebelah kiri, sudah nampak olehku cerobong-cerobong asap dan tiang bendera rumah tuan tanah itu.

"'Ayahku mempekerjakan pria itu sebagai tukang kebun,' kata teman seperjalananku, 'tapi dia tak puas dengan itu, lalu dia dijadikan kepala pelayan. Rumah jadi berada dalam kekuasaannya, dia mondar-mandir dan berpolah seenak perutnya. Para pelayan wanita mengeluhkan kesukaannya mabuk-mabukan dan kata-katanya yang kasar. Ayah sampai menaikkan gaji mereka semua supaya mereka tak keberatan dengan gangguan yang dibuat oleh kepala pelayan itu. Sering dia memakai kapal dan senapan Ayah yang paling baik untuk pergi berburu. Semua itu dilakukannya sambil menyeringai seolah mengejek, membuat darahku mendidih. Ingin rasanya aku menonjoknya sampai puas, kalau saja aku tak ingat bahwa dia bukanlah orang muda seusiaku lagi. Sungguh, Holmes, selama ini aku berupaya keras untuk menahan diri, tapi aku jadi berpikir-pikir sekarang, mungkin lebih baik kalau dari dulu kuturuti saja keinginanku.

"'Well, keadaan di rumah kami makin lama makin tak keruan, dan binatang bernama Hudson ini semakin menjadi-jadi tingkahnya, sampai akhirnya, pada waktu dia menjawab pertanyaan ayahku dengan cara yang sangat kurang ajar di hadapanku, kucengkeram pundaknya dan kulempar dia ke luar ruangan. Sebelum menghilang dari pandanganku, dia sempat menatapku dengan wajah merah padam dan mata penuh ancaman. Aku tak tahu apa yang kemudian terjadi antara dia dan ayahku yang malang, tapi keesokan harinya Ayah menemuiku dan menyuruhku minta maaf kepada Hudson. Tentu saja aku menolak, dan aku bertanya kepada Ayah mengapa dia membiarkan saja bajingan itu merajalela di rumah kami.

""'Ah, anakku," katanya, "memang mudah saja bicara, tapi kau tak mengerti posisiku. Namun kau akan tahu nantinya, Victor. Kujamin kau akan mengetahuinya nanti, apa pun yang akan terjadi! Kau percaya bahwa aku sama sekali tak pernah bermaksud jelek terhadapmu, kan?" Dia sampai hampir menangis ketika mengatakan itu, lalu dia menyendiri di ruang baca seharian penuh. Dari jendela aku memperhatikan bahwa dia sibuk menulis sesuatu.

"'Mulai malam itu nampaknya kami akan bebas, sebab Hudson memberitahu kami bahwa dia akan pergi. Dia masuk ke kamar makan sementara kami sedang duduk-duduk setelah santap malam, dan dengan suaranya yang berat karena dia sedang agak mabuk mengumumkan niatnya.

""'Aku sudah bosan tinggal di Norfolk," katanya. "Aku mau menjumpai Mr. Beddoes di Hampshire. Aku berani jamin dia juga pasti akan menerimaku dengan senang hati sebagaimana kalian di sini."

""'Semoga kepergianmu tak membawa rasa sakit hati, Hudson," kata ayahku dengan begitu lembutnya sehingga darahku menggelegak.

""'Anakmu belum minta maaf," katanya bersungut-sungut sambil menoleh ke arahku.

""'Victor, akuilah bahwa kau sudah bersikap agak kasar kepada pria yang berbudi ini," kata Ayah kepadaku

""'Sebaliknya, kurasa kita berdua sudah terlalu sabar terhadapnya," jawabku.

""'Oh, begitu, ya?" geramnya. "Baiklah. Kita lihat saja nanti!" Sambil terbungkuk-bungkuk dia meninggalkan ruangan dan setengah jam kemudian dia meninggalkan rumah kami. Sepeninggalnya, Ayah justru menjadi amat gelisah. Malam demi malam kudengar dia mondar-mandir di kamar tidurnya, dan baru saja dia berangsur menjadi tenang kembali, pukulan terakhir menimpanya.'

"'Bagaimana?' aku bertanya dengan penasaran. 'Caranya sangat unik. Ada sepucuk surat untuk ayahku kemarin malam, cap posnya dari Fordingbridge. Ayah membacanya, lalu memukul kepalanya dengan kedua belah tangannya, dan mulai berlari-lari mengelilingi ruangan sambil berputar-putar seperti orang hilang ingatan. Ketika aku akhirnya berhasil menuntunnya agar berbaring di sofa, mulut dan kelopak matanya mengerut ke salah satu sisi wajahnya, dan sadarlah aku bahwa dia telah terkena stroke. Aku langsung memanggil Dr. Fordham dan Ayah kami baringkan di tempat tidur, tapi kelumpuhannya telah menjalar, dan tak ada tanda-tanda bahwa dia akan bisa sadar kembali. Jangan-jangan sekarang dia malah sudah tiada.'

"'Aku jadi ngeri, Trevor!' teriakku. 'Apa isi surat itu yang telah menyebabkannya sekarat seperti itu?'

"'Tak ada apa-apa. Justru itulah yang membuatku heran. Pesannya cuma sepele dan tak masuk akal. Oh, Tuhan, apa yang kutakutkan menjadi kenyataan!'

"Belum habis kata-katanya, kereta kami membelok dari jalan raya dan nampak oleh kami semua kerai jendela di rumah itu telah diturunkan. Wajah temanku langsung berubah muram. Ketika kami berlari ke pintu depan, seorang pria berpakaian hitam menyongsong kedatangan kami.

"'Kapan meninggalnya, Dokter?' tanya Trevor.

"'Tak lama setelah Anda pergi.'

"'Apakah dia sempat sadarkan diri?'

"'Cuma sekejap, sebelum mengembuskan napasnya yang terakhir.'

"'Ada pesan untuk saya?'

"'Dia hanya menggumam bahwa surat-surat ada di laci belakang lemari model Jepang.'

"Bersama dokter itu, temanku langsung naik ke kamar ayahnya, sementara aku menunggu di ruang baca sambil memikirkan masalah ini dengan prihatin. Ada apa dengan masa lalu Pak Trevor ini? Bukankah dia cuma seorang petinju yang sering bepergian dan pekerja tambang emas? Bagaimana sampai dia bisa terjerat dalam cengkeraman pelaut berwajah muram itu? Juga, mengapa dia sampai pingsan waktu aku mengatakan tentang inisial yang hampir pudar di sikunya itu, dan mengapa pula dia menjadi sangat ketakutan ketika menerima surat dari Fordingbridge? Kemudian aku ingat bahwa Fordingbridge itu terletak di daerah Hampshire, dan bahwa Mr. Beddoes yang akan dikunjungi pelaut itu setelah dia meninggalkan Mr. Trevor tinggal di Hampshire. Maka ada dua kemungkinan: surat itu berasal dari pelaut bernama Hudson yang mengatakan bahwa dia telah berkhianat tentang sesuatu yang seharusnya dirahasiakan, atau bisa juga berasal dari Beddoes—memperingatkan teman lamanya tentang kemungkinan pengkhianatan semacam itu. Sejauh ini begitulah penjelasannya. Tapi, mengapa anaknya tadi mengatakan bahwa isi surat itu cuma sepele dan tak masuk akal? Pasti dia salah mengartikannya. Jika demikian, surat itu berisi pesan dengan bahasa sandi khusus yang hanya dimengerti di antara mereka, sedangkan kalau terbaca oleh orang lain akan berarti lain. Aku harus melihat surat itu. Kalau ada arti tersembunyi, aku yakin akan mampu membongkarnya. Selama satu jam aku duduk sambil merenung-renung dalam kegelapan, sampai seorang pelayan wanita yang tersedu-sedu masuk membawa lampu, diikuti oleh temanku Trevor. Dia masih pucat tapi sudah agak tenang, dan dia membawa setumpuk surat yang kini dapat kau lihat di pangkuanku. Dia duduk di hadapanku, mendekatkan lampu, dan menunjukkan secarik catatan pendek di kertas berwarna abu-abu. 'Semua binatang hunian telah cukup lama terbongkar tempat persembunyiannya. Hudson, penjaga hutan, membuka ratusan tempat rahasia mereka. Tolong selamatkan mereka demi nyawamu!'

"Aku berani katakan bahwa ketika pertama kali membaca catatan itu, ekspresi wajahku pun tak jauh berbeda denganmu. Aku lalu membacanya kembali dengan saksama. Seperti yang kuperkirakan, jelas bahwa pesan itu mengandung kode tersembunyi. Atau, mungkinkah sudah ada kesepakatan antara penulis dan penerima surat itu tentang makna kata-kata tertentu, seperti binatang buruan dan penjaga hutan? Kalau demikian halnya, kata-kata itu bisa berarti apa saja dan tak mungkin aku memecahkan teka-teki ini. Tapi kurasa tidak begitu, dan adanya kata Hudson menunjukkan bahwa maksud surat itu memang seperti yang kuperkirakan, dan kemungkinan besar pesan itu berasal dari Beddoes, bukan dari si pelaut. Aku mencoba membacanya secara terbalik, tapi kalimatnya malah tak jalan. Lalu kucoba untuk menghilangkan kata-kata genap—kata kedua, keempat, dan seterusnya—, namun belum juga ada maknanya.

"Tapi sekejap kemudian, kunci teka-teki itu sudah berada di tanganku. Begini: Kita ambil kata pertama, kemudian setiap kata ketiga. Demikian seterusnya sampai kudapatkan sebuah pesan yang jelas saja membuat Pak Trevor ketakutan.

"Kubacakan peringatan yang singkat dan jelas itu kepada temanku:

"'Semua telah terbongkar. Hudson membuka rahasia. Selamatkan nyawamu.'

"Victor Trevor menutupi wajahnya dengan kedua tangannya yang gemetaran. Kurasa memang begitu,' katanya. 'Sungguh lebih mengerikan dari kematian itu sendiri, karena akan mengakibatkan terbongkamya borok Ayah di masa lalu. Tapi, apa artinya "binatang buruan" dan "penjaga hutan"?'

"'Untuk pesan itu sendiri tak ada artinya, namun mungkin saja akan sangat berarti bagi kita kalau kita mengalami kesulitan menemukan siapa pengirim surat itu. Dia pasti menulis suratnya dengan cara seperti ini, 'Semua... telah... terbongkar, dan seterusnya. Kemudian barulah dia mengisi bagian-bagian yang kosong itu. Dia pasti akan langsung memakai kata yang pertama kali diingatnya, dan dari pilihan katanya jelas terlihat bahwa penulis surat itu orang yang senang berburu. Adakah yang kau ketahui tentang si Beddoes ini?'

"'Yah, mendengar kata-katamu,' katanya, 'aku jadi ingat bahwa ayahku yang malang memang sering diundangnya untuk berburu di hutan pribadinya setiap musim gugur.'

"'Kalau begitu tak diragukan lagi bahwa surat ini berasal darinya,' kataku. 'Sekarang kita tinggal mencari tahu rahasia apa yang ada dalam genggaman si pelaut Hudson, sampai kedua pria yang kaya dan terhormat ini begitu takut padanya.'

"'Oh, Holmes, aku takut rahasia itu amat memalukan dan menyedihkan!' teriak temanku. 'Tapi aku tak mau merahasiakan apa-apa terhadapmu. Ini surat pernyataan yang ditulis Ayah ketika dia menyadari bahwa bahaya yang dibawa Hudson tak terelakkan lagi. Kutemukan surat ini di lemari model Jepang, sebagaimana dipesankannya kepada Pak Dokter. Ambillah dan bacakanlah untukku, karena aku tak punya cukup kemampuan dan ke beranian untuk melakukannya sendiri.'

"Inilah surat pernyataan yang dimaksudkannya itu, Watson, dan akan kubacakan kepadamu sebagaimana aku membacakannya kepada temanku malam itu. Sebagaimana bisa kaulihat, bagian depannya berjudul: Beberapa rincian perjalanan Kapal Gloria Scott, sejak meninggalkan Falmouth pada tanggal 8 Oktober 1855, sampai ke tempat meledaknya di 15° 20' lintang utara, 25° 14' bujur barat, pada tanggal 6 November. Bentuknya seperti surat, dan bunyinya sebagai berikut:

"Anakku sayang, sekarang ini, karena aib telah mendekat dan membuat gelap tahun-tahun terakhir hidupku, aku merasa perlu untuk menuliskan semuanya dengan penuh kebenaran dan kejujuran. Selama ini, yang membuat aku merahasiakan hal ini bukanlah karena aku takut dihukum, atau takut posisiku di masyarakat akan terancam, tapi semata-mata karena aku tak ingin kau merasa kecewa—sebab kau sangat mengasihi dan menghormatiku. Kalau malapetaka yang kutakutkan itu menimpa diriku, aku ingin kau membaca surat ini supaya kau tahu seberapa jauh kesalahanku dari penuturanku sendiri secara langsung. Sebaliknya, kalau semuanya baik-baik saja—semoga Tuhan Yang Mahabaik mengizinkan hal ini!—dan surat ini sempat jatuh ke tanganmu, aku mohon, demi nama semua orang suci yang kau sembah, demi kenangan kepada ibumu tersayang, dan demi kasih kita selama ini, langsung bakar saja surat ini dan jangan dipikirkan lagi.

"Jadi, kalau kau sampai membaca bagian ini, aku tahu bahwa rahasiaku pasti sudah terbongkar dan aku diseret dari rumah. Atau kemungkinan lain—kau tahu jantungku lemah—, aku sudah terbujur tak bernapas lagi. Apa pun yang terjadi, jelas aku tak dapat lagi merahasiakan riwayat masa laluku, dan apa yang akan kuceritakan ini adalah yang sebenar-benarnya; aku bersumpah untuk itu saat ini sambil memohon pengampunan.

"Namaku yang sebenarnya, Nak, bukanlah Trevor, tapi James Armitage. Itulah sebabnya kau bisa mengerti betapa kagetnya aku ketika beberapa minggu yang lalu teman kuliahmu mengatakan sesuatu yang seolah menyiratkan bahwa dia tahu rahasiaku. Sebagai Armitage muda itulah aku bekerja di sebuah bank di London, dan melakukan sesuatu yang melanggar hukum. Aku harus menjalani hukuman dibuang ke luar negeri. Jangan keburu merasa jijik terhadapku, Nak. Waktu itu aku cuma mau membalas utang kehormatan, begitulah, dan aku terpaksa menggunakan uang yang bukan milikku, dengan keyakinan bahwa aku akan mampu mengembalikannya sebelum ketahuan. Tapi, sial sekali bagiku. Aku gagal mendapatkan uang yang kuperhitungkan akan kuterima, dan pemeriksaan pembukuan dilaksanakan agak awal, sehingga perbuatanku terbongkar. Zaman sekarang ini, kasus semacam itu bukanlah kasus yang berat. Tapi tidak demikian halnya pada tiga puluh tahun yang lalu. Maka pada usia dua puluh tiga tahun, aku mendapati diriku menjadi tawanan bersama tiga puluh tujuh penjahat lain, digiring ke Kapal Gloria Scott untuk dibuang ke Australia.

"Waktu itu tahun 1855, Perang Krimea sedang seru-serunya dan kapal yang biasa dipakai mengangkut para tahanan telah dimanfaatkan sebagai kapal angkut di Laut Hitam. Maka pemerintah terpaksa menggunakan kapal-kapal yang lebih kecil dan kurang cocok untuk mengirim para tahanan. Gloria Scott tadinya dipakai untuk mengangkut teh dari Tiongkok, tapi kapal itu telah tua sekali, berat haluannya, lebar-lebar tiangnya, dan kalah cepat dibandingkan kapal-kapal yang lebih modern. Beratnya lima ratus ton, dan mengangkut awak kapal sebanyak dua puluh enam orang, delapan belas tentara, seorang kapten dan tiga asistennya, seorang dokter, seorang pendeta, empat orang sipir, serta tiga puluh delapan tahanan. Seluruhnya hampir seratus orang yang diangkut kapal itu, ketika kami bertolak dari Falmouth."

"Pemisah antara satu sel tahanan dengan sel tahanan lainnya sangat tipis dan rapuh, lain dengan pemisah dalam kapal-kapal khusus tahanan yang terbuat dari kayu ek tebal. Orang yang menghuni sel di sebelahku, yaitu yang di dekat buritan, adalah seseorang yang sangat menarik perhatianku ketika kami digiring menuruni dermaga. Pria itu masih muda; kulit wajahnya terang dan bersih, hidungnya kurus dan mancung, dan gerahamnya kuat. Gaya jalannya angkuh, dengan kepala mendongak ke atas, dan badannya luar biasa tinggi. Kami semua di kapal itu paling-paling hanya setinggi pundaknya sehingga tingginya paling tidak dua meter. Aku merasa heran melihat penampilannya yang penuh semangat dan teguh padahal para tahanan lainnya bermuka sedih dan letih. Kehadirannya jadi bagaikan api di tengah badai salju. Itulah sebabnya aku merasa gembira ketika ternyata dialah tetanggaku, dan lebih gembira lagi ketika pada tengah malam kudengar dia berbisik kepadaku sambil mengatakan bahwa dia telah berhasil membuat lubang di dinding pembatas ruangan kami.

"'Halo, sobat!' katanya. 'Siapa namamu, dan mengapa kau sampai berada di kapal ini?'

"Aku menjawab pertanyaannya sambil juga menanyakan siapa dirinya.

"'Aku Jack Prendergast.' katanya, 'dan demi Tuhan, nama itu akan mengubah hidupmu!'

"Aku memang pernah mendengar kasus yang berhubungan dengannya, karena telah menimbulkan sensasi besar di seluruh negeri ini beberapa saat sebelum aku sendiri tertangkap. Dia berasal dari keluarga baik baik dan pandai, tapi dia mempunyai kebiasaan-kebiasaan jahat yang tak bisa diperbaiki. Dengan kelicikannya dia berhasil menipu para pedagang besar di London, dan menghasilkan uang dalam jumlah yang amat banyak.

"'Ah, ah. Kau ingat kasusku?' katanya dengan bangga.

"Ingat sekali.'

"'Kalau begitu, kau mungkin mencium sesuatu yang aneh dalam kasus itu?'

"'Apa, ya?'

"'Aku berhasil memperoleh hampir sejumlah seperempat juta pound, ya, kan?'

"'Begitulah yang kudengar.'

"'Dan tak sepeser pun berhasil ditemukan?'

"'Ya.'

"'Nah, menurutmu di mana uang itu?' tanyanya.

"'Entahlah,' kataku.

"'Nih, tepat di antara jari telunjuk dan jempolku,' teriaknya. "Demi Tuhan, jumlah uangku lebih banyak dibandingkan jumlah rambut di kepalamu. Dan kalau seseorang punya uang, sobat, dan tahu bagaimana cara memanfaatkan dan mengembangkannya, dia bisa berbuat apa saja! Nah, bukankah tak masuk akal kalau seseorang yang bisa berbuat apa saja sampai sudi-sudinya menjadi penghuni kapal busuk bulukan yang penuh tikus dan bagaikan peti mati ini? Sama sekah tak masuk akal, sobat. Orang semacam dia akan menjaga dirinya dan sobat-sobatnya. Yakinlah! Percayakan hidupmu padanya, dan demi Tuhan, dia akan menjamin hidupmu.'

"Begitulah gaya bicaranya dan pada awalnya aku berpikir dia cuma membual saja. Tapi beberapa lama kemudian, setelah dia percaya kepadaku—aku diujinya dan disuruhnya bersumpah—, dia membeberkan rencananya untuk menguasai kapal yang kami tumpangi itu. Kira-kira selusin tahanan telah bergabung dalam komplotan itu sejak sebelum mereka menaiki kapal. Prendergast pimpinannya karena dia punya banyak uang.

"'Aku punya rekan sekomplotan,' katanya, 'seorang yang luar biasa baiknya. Dialah yang akan memasang umpan, dan kau tahu siapa orang ini? Tak lain tak bukan adalah si pendeta! Dia naik ke kapal ini dengan jas hitam dan surat-surat lengkap, plus satu tas uang. Para awak kapal adalah anak buahnya. Dia bisa merekrut mereka dengan gampang karena imbalan uang. Dia juga telah menyogok dua orang sipir, dan Mercer, salah satu asisten kapten kapal. Kalau perlu, kapten kapal pun bisa di belinya.'

"'Apa yang akan kita lakukan?' tanyaku.

"'Menurutmu bagaimana?' dia balik bertanya. 'Kita akan menyerang para tentara itu.'

"'Tapi mereka bersenjata,' kataku.

"'Demikian juga kita, sobat. Masing-masing kita akan dilengkapi dengan sepasang pistol, dan kalau kita tak berhasil mengambil alih kapal ini padahal semua awaknya sudah berada dalam kekuasaan kita, lebih baik kita dikirim ke sekolah kepandaian putri saja. Nanti malam, bicaralah dengan tetanggamu yang di sebelah kiri itu, dan coba pertimbangkan apakah dia bisa dipercaya '

"Aku melakukan apa yang ditugaskan kepadaku. Tetanggaku yang satu lagi ini masih muda dan posisinya sama dengan diriku, yaitu dihukum karena telah melakukan penggelapan. Namanya Evans, tapi dia kemudian berganti nama, seperti juga diriku. Sekarang ini, dia telah menjadi orang yang kaya dan makmur dan tinggal di selatan Inggris. Ternyata dia pun bersedia berkomplot dengan kami, karena memang itulah satu-satunya jalan kalau kami mau selamat. Akhirnya, tinggal dua tahanan yang tak tahu-menahu mengenai rencana rahasia ini. Yang satu karena pikirannya lemah sehingga kami tak berani mempercayakan rahasia ini kepadanya, dan yang satunya lagi sedang sakit kuning sehingga tak akan berguna bagi kami.

"Sejak dari permulaan tak ada kesulitan apa-apa untuk menguasai kapal itu. 'Semua awaknya adalah penjahat, yang memang sengaja dipilih untuk pekerjaan ini. Pendeta palsu itu mendatangi sel kami untuk 'berkhotbah' sambil membawa tas hitam yang seharusnya berisikan traktat rohani. Begitu rajinnya dia mengunjungi kami sehingga pada hari ketiga masing-masing telah menerima sebuah kikir, sepasang pistol, sebungkus mesiu, dan dua puluh peluru, yang semuanya kami sembunyikan di kolong tempat tidur. Dua dari para sipir di kapal itu adalah komplotan Prendergast, dan salah satu asisten kapten adalah tangan kanannya. Jadi yang perlu kami hadapi cuma kapten kapal, dua asistennya, dua sipir, Letnan Martin dan kedelapan belas tentaranya, serta dokter kapal. Walaupun nampaknya aman kami memutuskan untuk bertindak dengan penuh perhitungan, dan akan melakukan penyerangan secara mendadak pada malam hari. Penyerangan itu ternyata terlaksana lebih cepat dari waktu yang sudah kami rencanakan semula dan beginilah rinciannya.

"Pada suatu malam, kira-kira tiga minggu setelah kapal bertolak, si dokter mengunjungi sel kami untuk memeriksa seorang tahanan yang sakit, dan tanpa sengaja tangannya merogoh ke dasar tempat tidur pasiennya. Saat itulah dia memergoki pistol di kolong tempat tidur itu. Kalau saja dia tetap tinggal diam, dia mungkin malah bisa membuyarkan rencana kami. Tapi dokter bcrtubuh kecil itu ternyata orangnya gugupan, dia langsung berteriak dan menjadi pucat pasi, sehingga pasiennya menyadari apa yang sedang terjadi dan dalam sekejap berhasil meringkus dokter itu sebelum dia sempat membunyikan tanda bahaya. Dia lalu diikat di samping tempat tidur. Ketika masuk ke sel tadi, dokter itu telah membuka kunci pintu yang menuju geladak, dan kami semua langsung berlari dengan cepat ke arah itu. Kami menembak jatuh dua prajurit jaga, juga seorang kopral yang berlari ke arah kami untuk melihat apa yang sedang terjadi. Ada dua tentara lagi di pintu kabin, dan senapan mereka nampaknya tak berisi peluru karena mereka tak menembaki kami. Mereka tertembak jatuh ketika sedang berusaha memasang bayonet. Kami lalu berlari ke kabin kapten, tapi ketika kami baru saja mendorong pintunya, terdengar bunyi letusan senapan dari dalam. Si kapten telah jatuh tertelungkup di atas peta Samudera Atlantik yang menempel di mejanya, sementara sang pendeta palsu berdiri di sampingnya dengan pistol yang masih berasap. Dua asisten kapten telah ditangkap oleh awak kapal, dan semuanya nampaknya beres-beres saja.

"Kabin penumpang ada di sebelah kabin kapten, dan kami langsung menuju ke situ dan menjatuhkan diri di bangku-bangku sambil berteriak-teriak, karena kami merasa sangat lega atas kebebasan yang kami dapatkan. Ada banyak lemari di kabin itu, dan Wilson, si pendeta palsu, membuka salah satunya dengan paksa dan mengeluarkan selusin anggur merah. Kami memecahkan leher botol itu, menumpahkan isinya ke cangkir, dan sedang me nenggaknya dengan lahap ketika tiba-tiba kami mendengar suara tembakan beruntun. Ruangan itu penuh asap dan sekeliling kami menjadi kabur. Ketika suara berondongan tembakan itu berhenti keadaan ruangan itu amat kacau balau. Wilson dan delapan orang lainnya saling bertumpukan di lantai, dan pemandangan genangan darah dan anggur merah di sekitar meja sangat menjijikkanku bahkan sampai sekarang kalau aku mengingat hal itu. Kami sangat ketakutan dan rasanya aku kepingin menyerah saja. Tapi Prendergast membuatku berubah pikiran. Dia berteriak lantang memberi semangat kepada kami dan berlari ke arah pintu bagaikan banteng yang terluka, dan komplotannya yang selamat langsung mengekor di belakangnya. Kami berlari keluar, dan di buritan sudah bersiaga Pak Letnan beserta sepuluh tentaranya. Jendela di atas meja kabin itu agak terbuka dan dari situlah mereka menembaki kami tadi. Kami berhasil mendekati mereka sebelum mereka sempat mengisi peluru lagi, dan mereka menghadapi kami dengan gagah berani, tapi karena kami berada di atas angin, dalam lima menit kami berhasil membereskan mereka. Ya, Tuhan! Betapa kapal itu telah menjadi rumah jagal yang sangat mengerikan! Prendergast bagaikan kesetanan, dan dia mengangkat para tentara dengan begitu mudahnya sepertinya mereka itu cuma seberat anak-anak kecil, lalu dilemparkannya mereka satu per satu, baik yang sudah menjadi mayat maupun yang masih hidup, ke laut yang menggelora. Ada seorang sersan yang terluka parah, tapi toh masih mampu berusaha berenang selama beberapa saat sebelum seseorang di kapal itu menembaknya. Ketika pertempuran itu usai, musuh kami tinggal kedua sipir, kedua asisten kapten, dan si dokter.

"Kami sempat bertengkar bebat tentang nasib tawanan kami ini. Kami memang merasa gembira atas kemenangan kami itu, tapi ada di antara kami yang sebenarnya bukan pembunuh. Mereka tak keberatan kalau harus memukul tentara bersenjata yang sedang berjaga untuk membela diri, tapi mereka merasa sangat keberatan kalau tawanan yang tak berdaya itu harus dibintai begitu saja. Ada delapan orang, lima tahanan dan tiga pelaut, yang tak ingin pembantaian itu dilakukan. Tapi Prendergast dan beberapa pengikut yang setuju dengannya tak bergeming sedikit pun, Menurutnya, satu-satunya kesempatan bagi kami untuk selamat adalah dengan membunuh mereka semua; dia tak ingin membiarkan sebuah mulutpun yang mungkin nanti akan bisa memberikan kesaksian. Kami yang tidak menyetujui pembantaian itu hampir saja dijadikan tawanan pula, tapi akhirnya dia mengatakan bahwa kalau kami mau kami boleh mengambil sebuah perahu dan meninggalkan kapal itu. Kami menerima tawaran itu dengan gembira, karena kami sudah muak dengan tindakan-tindakannya yang haus darah itu, dan kami merasa kekejaman yang lebih mengerikan lagi akan terjadi di kapal itu. Kami masing-masing diizinkan memakai seragam pelaut, diperlengkapi dengan satu tong air minum, dua peti minuman keras, satu peti pakaian bekas, satu peti biskuit, dan sebuah kompas. Prendergast juga melemparkan selembar peta, memberitahu kami agar kami mengaku sebagai pelaut yang mengalami musibah dan kapal kami tenggelam di posisi 15° 1intang utara dan 25° bujur barat. Dia lalu memotong tali yang menghubungkan perahu kami dengan kapal itu dan membiarkan kami pergi.

"Anakku, kini aku akan menceritakan bagian yang paling mengejutkan dari kisah ini. Layar perahu itu telah ditarik ke belakang ketika berada di atas kapal, tapi begitu perahu itu diturunkan ke laut, maka layarnya pun kami kembangkan. Waktu itu angin bertiup lemah dari arah utara dan timur sehingga perahu kami pun segera bergerak menjauhi kapal. Kami terombang-ambing oleh ombak panjang yang bergulung-gulung. Aku dan Evans, sebagai yang paling terpelajar di antara rombongan itu, duduk di lantai perahu untuk mempelajari posisi kami dan merencanakan pantai mana yang akan kami tuju. Tak mudah untuk memutuskan, sebab Semenanjung Verde masih berjarak lima ratus mil di sebelah utara kami, dan pantai Afrika kira-kira tujuh ratus mil di sebelah timur. Secara keseluruhan, karena angin berputar ke arah utara, kami kira Sierra Leone yang paling baik, maka kami pun mengarahkan perahu kami ke sana. Saat itu kapal yang baru saja kami tinggalkan makin lama makin mengecil dari pandangan kami. Tiba-tiba kami melihat asap hitam yang pekat membubung dari badan kapal itu, menggantung di angkasa bagaikan sebuah pohon raksasa. Beberapa detik kemudian menyusul suara ledakan yang memekakkan telinga kami. Ketika asap mulai menipis, Gloria Scott sudah tak terlihat lagi. Kami segera memutar arah perahu kami dan mengayuh dengan segenap kekuatan, mendekati tempat musibah yang masih berasap itu.

"Sejam kemudian barulah kami sampai di situ, dan kami mengira pastilah tak ada korban yang masih hidup. Kami melihat serpihan-serpihan badan kapal, beberapa peti kayu, dan tiang-tiang kapal yang telah patah berkeping-keping. Semuanya terapung-apung naik-turun di dekat lokasi musibah itu. Tak terlihat tanda-tanda adanya korban yang masih hidup, dan dengan putus asa kami pun lalu berniat meninggalkan tempat itu. Tapi tiba-tiba kami mendengar teriakan, dan dan dari kejauhan kami melihat seseorang tertelungkup di atas sebuah serpihan kayu. Ketika kami berhasil menariknya ke dalam perahu, ternyata dia adalah pelaut muda yang bernama Hudson. Tubuhnya penuh luka bakar dan keadaannya sangat payah sehingga dia tidak bisa langsung bercerita tentang apa yang telah terjadi. Baru pada keesokan harinya dia mampu berkisah.

"Nampaknya, setelah kepergian rombongan kami, Prendergast dan komplotannya langsung ingin membunuh kelima tawanan yang tersisa itu. Ditembaknya kedua sipir dan dibuangnya mayat mereka ke laut, menyusul giliran salah satu asisten kapten. Prendergast lalu turun ke lantai bawah dan dipancungnya sendiri leher dokter yang malang itu. Maka hanya tinggal seorang tawanan yang masih hidup, yaitu asisten kapten yang satu lagi. Orang ini pemberani dan bersemangat. Ketika dilihatnya napi yang bagaikan tukang jagal itu sedang menghampiri dirinya dengan pisau berlumuran darah, dia bergulat dengan sekuat tenaga dan berhasil melepaskan tali yang mengikat dirinya. Dia lalu berlari turun ke geladak dan menerjang masuk ke gudang penyimpanan barang.

"Para tahanan lain yang mengejarnya dengan pistol di tangan, akhirnya mendapatinya sedang duduk di samping peti mesiu dengan korek yang sudah menyala di tangannya. Di antara muatan kapal itu memang terdapat seratus peti mesiu. Asisten kapten mengancam akan meledakkan kapal itu kalau ada yang menyakiti dirinya. Sekejap kemudian terdengar bunyi ledakan. Menurut Hudson, ledakan itu disebabkan oleh peluru nyasar yang ditembakkan salah seorang tahanan dan bukan oleh nyala korek api asisten kapten itu. Apa pun penyebabnya, ledakan itulah yang mengakhiri riwayat Gloria Scott dan semua jahanam yang menguasai kapal itu.

"Demikianlah sejarah singkat dari kasus mengerikan yang melibatkan diriku ini, anakku. Pada hari berikutnya kami ditolong oleh Kapal Hotspur yang sedang berlayar menuju Australia. Kapten kapal itu langsung percaya pada penuturan kami, bahwa kami adalah penumpang sebuah kapal yang telah tenggelam. Kapal Gloria Scott dinyatakan hilang oleh Departemen Angkatan Laut Inggris, dan sejak itu tak ada yang tahu-menahu tentang nasib kapal itu yang sebenarnya. Hotspur menurunkan kami di Sydney, dan di tempat yang baru inilah aku dan Evans lalu mengganti nama dan mencari nafkah di pertambangan. Di tempat itu banyak pendatang dari berbagai negara, sehingga tak sulit bagi kami untuk mengubur identitas kami yang sebenarnya.

"Kisah selanjutnya sebenarnya tak susah ditebak. Kami menjadi kaya, kami bepergian ke mana-mana, lalu kembali ke Inggris dan membeli tanah di pedesaan. Selama lebih dari dua puluh tahun kami hidup dengan aman dan sejahtera, dan kami mengharap masa lalu kami akan terkubur selamanya. Dapat kaubayangkan bagaimana perasaanku ketika aku mengenali pelaut yang mendatangi kita itu. Dialah orang yang telah kami selamatkan dari musibah Gloria Scott itu! Entah dengan cara bagaimana dia berhasil menemukan kami dan bertekad untuk memeras kami. Kini kau pasti mengerti mengapa aku sangat berupaya untuk berbaik hati padanya, bahkan kau mungkin akan bersimpati atas ketakutan yang sekarang sedang kutanggung. Dia memang telah meninggalkanku untuk mengejar korban lain, tapi ancamannya tak dapat dianggap enteng."

"Di bagian bawah surat itu ada catatan tambahan yang ditulis dengan tangan yang amat gemetaran sehingga tulisannya tak begitu jelas, 'Beddoes menulis dengan bahasa kode bahwa H. telah membuka rahasia. Ya, Tuhan Yang Maha Pengasih, kasihanilah kami!'

"Begitulah isi surat yang kubacakan kepada pemuda Trevor malam itu, dan kurasa, Watson, kisahnya cukup dramatis. Pemuda yang baik hati itu sangat terpukul mendengar semuanya. Dia lalu meninggalkan rumah dan bekerja di perkebunan teh Terai. Kudengar dia cukup sukses di sana. Sedangkan mengenai sang pelaut dan Beddoes, tak kudengar berita lagi tentang mereka sejak surat peringatan itu ditulis. Mereka menghilang begitu saja. Tak ada tuntutan terhadap Mr. Trevor dan Beddoes yang dilaporkan ke polisi, jadi kukira Beddoes telah salah sangka. Hudson sebetulnya baru menggertak, belum benar-benar membongkar rahasia mereka. Ada saksi mata yang melihat Hudson mengintai Beddoes, dan polisi berpendapat dia telah membunuh pria itu lalu melarikan diri. Menurutku, justru sebaliknyalah yang terjadi. Beddoes-lah—terdorong oleh rasa putus asanya sebab ia mengira nama baiknya sudah dirusak Hudson— yang membalas dendam kepada si pelaut. Dia lalu pergi meninggalkan Inggris membawa semua uangnya. Begitulah fakta-fakta dari kasus ini, Dokter, dan kalau menurutmu akan berguna kelak, silakan kau simpan."