HOLMES duduk diam selama berjam-jam, punggungnya yang kurus dan panjang membungkuk ke arah tabung kimia di hadapannya. Dia sedang meramu sesuatu yang baunya amat busuk. Kepalanya tertunduk sampai ke dada, dan dari tempatku memandangnya dia nampak bagaikan seekor burung yang kurus dan aneh, dengan bulu abu-abu lusuh dan jambul hitam.

"Jadi, Watson," katanya tiba-tiba, "kau tak berminat menanamkan uangmu di Afrika Selatan?"

Aku terkejut Walaupun aku sudah biasa menghadapi kehebatan kehebatan Holmes, komentarnya yang tiba-tiba mengenai pikiranku yang paling dalam ini benar-benar tak bisa kupahami.

"Bagaimana kau tahu tentang hal itu?" tanyaku.

Dia menoleh dari tempat duduknya sambil mengangkat tabung percobaannya. Matanya memancarkan kegembiraan yang dalam.

"Ayo, Watson, akuilah bahwa kau tercengang," katanya.

"Memang."

"Kalau begitu, sebaiknya kau mengakuinya secara tertulis."

"Kenapa?"

"Karena lima menit lagi, kau akan mengatakan bahwa semuanya itu ternyata mudah saja."

"Aku tak akan mengatakan demikian."

"Kau tahu, sobatku Watson,"—ditaruhnya tabung percobaannya di rak dan mulai menguliahiku dengan gaya seorang profesor yang sedang beraksi di depan para mahasiswa—"sebenarnya tak sulit untuk menarik sejumlah kesimpulan, yang tiap kali tergantung pada kesimpulan terdahulu. Lalu, kalau kesimpulan-kesimpulan yang di tengah kita singkirkan, dan kita utarakan saja bagian awal dan bagian akhirnya, orang lain akan tercengang. Contohnya, dengan memperhatikan lekukan di antara telunjuk dan jempol kirimu, aku tahu bahwa kau tak berminat untuk menanamkan uangmu yang cuma sedikit itu di tambang emas."

"Apa hubungannya?"

"Nampaknya tak ada, tapi mari kutunjukkan hubungan itu. Urut-urutan kaitannya begini:
  1. Kau memegang kapur di antara telunjuk dan jempol kirimu ketika kau pulang dari klub tadi malam.
  2. Kau butuh kapur untuk mengeratkan peganganmu pada tongkat kalau sedang main biliar.
  3. Kau hanya main biliar bersama Thurston.
  4. Kau bilang padaku empat minggu yang lalu bahwa Thurston sedang mempertimbangkan membeli tanah di Afrika Selatan dan dia mengajakmu untuk ikut serta.
  5. Buku cekmu ada di laciku yang terkunci, dan sampai sekarang kau tak minta kuncinya.
  6. Kau tak berminat menanamkan uangmu di sana."
"Wah, gampang sekali!" teriakku.

"Begitulah!" katanya dengan agak mendongkol. "Setiap masalah kelihatannya sepele, kalau sudah dijelaskan. Nih, ada masalah yang belum terpecahkan. Coba, bagaimana menurutmu, sobatku Watson?" Ditunjukkannya sehelai kertas di atas meja, lalu dia kembali menekuni percobaan kimianya.

Aku memandang kertas yang berisikan tulisan lambang lambang itu dengan heran.

"Apa ini, Holmes? Ini kan coretan anak kecil!" teriakku.

"Oh, begitu ya menurutmu!"

"Kalau tidak, apa lagi?"

"Itulah yang ingin diketahui oleh Mr. Hilton Cubitt, pemilik Riding Thorpe Manor di Norfolk. Teka-teki gambar sepele ini tiba lewat pos pagi, dan dia sendiri akan menyusul naik kereta api. Tuh, bel tamu berbunyi, Watson. Kukira dia yang datang."

Terdengar langkah-langkah berat di tangga, dan tak lama kemudian masuklah seorang pria jangkung—wajahnya kemerah-merahan dan janggutnya tercukur rapi. Matanya yang jernih dan pipinya yang kemerah-merahan menunjukkan bahwa rumahnya jauh dari Baker Street yang penuh kabut. Aroma udara pantai timur yang segar rasanya terbawa serta olehnya begitu dia memasuki ruangan kami. Setelah berjabat tangan dengan kami, dia berniat duduk. Tapi dia melihat kertas berisi gambar-gambar aneh yang tadi baru saja kuamati dan lalu kutaruh di atas meja.

"Nah, Mr. Holmes, apa pendapat Anda tentang gambar ini?" teriaknya. "Orang-orang mengatakan bahwa Anda berminat menangani misteri-misteri yang aneh, dan saya rasa kasus gambar ini amat aneh dibanding dengan kasus-kasus lainnya. Kertas ini saya kirim mendahului kedatangan saya agar Anda dapat mempelajarinya dulu sebelum saya sampai di sini."

"Memang agak aneh," kata Holmes. "Sepintas, nampaknya seperti olok-olok anak kecil saja. Gambarnya kecil-kecil tak beraturan. Untuk apa Anda susah-susah mempermasalahkan hal itu?"

"Bukan saya, Mr. Holmes. Tapi istri saya. Gambar itu membuatnya ketakutan setengah mati. Dia tak mengatakan apa-apa, tapi saya bisa melihatnya dari sinar matanya. Itulah sebabnya saya ingin menyelidiki hal ini sampai tuntas."

Holmes menghadapkan robekan buku tulis itu ke sinar matahari sehingga nampak jelas sekali. Coretan pensil itu bentuknya begini:
Holmes mengamatinya sesaat, lalu dilipatnya kertas itu dengan hati-hati dan dimasukkannya ke dalam buku catatannya.

"Kasus ini nampaknya sangat menarik dan unik," katanya. "Anda sudah menjelaskan beberapa hal di surat Anda, Mr. Hilton Cubitt, tapi Anda perlu menceritakannya kembali agar kawan saya, Dr. Watson, dapat memahami keadaannya."

"Saya tak pandai bercerita," kata tamu kami sambil meremas-remas tangannya yang kuat dengan gelisah. "Jadi tolong tanyakan saja kalau ada penuturan saya yang tak jelas. Saya mulai dengan saat pernikahan saya setahun yang lalu. Tapi sebelumnya, biarlah saya mengatakan bahwa walaupun saya bukan orang kaya, nenek moyang saya telah memiliki Riding Thorpe selama lima abad, dan keluarga kami sangat dikenal di daerah Norfolk. Tahun lalu, saya tinggal selama beberapa saat di London untuk menghadiri Jubileum, dan saya singgah ke sebuah rumah kos di Russell Square untuk menemui pendeta jemaat kami, Parker, yang menginap di situ. Saya berkenalan dengan seorang wanita muda Amerika di situ—namanya Elsie Patrick. Kami lalu berteman, dan belum sebulan berlalu ketika saya jatuh cinta kepadanya. Kami lalu menikah secara diam-diam di kantor catatan sipil, dan kembali ke Norfolk sebagai suami-istri. Mungkin menurut Anda tindakan saya ini gila-gilaan, Mr. Holmes, karena seorang pria dari keluarga baik-baik kok menikah dengan cara demikian, tanpa tahu-menahu masa lalu calon istrinya ataupun keluarganya. Tapi kalau Anda bertemu muka dengan Elsie, Anda akan dapat memahami tindakan saya.

"Sikap Elsie waktu itu cukup terbuka. Dia bahkan memberi saya kesempatan untuk membatalkan niat saya menikahinya. 'Aku pernah berhubungan dengan orang orang yang kurang baik,' katanya. 'Aku ingin melupakan semuanya. Aku lebih suka kalau tak usah mengungkit-ungkit masa lalu, karena itu sangat menyakitkan hatiku. Kalau kau memang mau mengambilku sebagai istri, Hilton, aku berani menjamin bahwa aku tak akan mempermalukanmu. Tapi kau harus puas dengan penjelasanku tadi, dan jangan menanyakan tentang masa laluku. Kalau syarat ini terlalu berat bagimu, silakan kembali ke Norfolk tanpa diriku. Biarlah aku kembali menikmati kesepianku.' Kata-kata itu diucapkannya hanya sehari sebelum pernikahan kami. Saya mengatakan padanya bahwa saya menyetujui syarat-syaratnya, dan saya tepati janji itu.

"Begitulah, kami sudah menjalani pernikahan selama satu tahun, dan kami sangat berbahagia. Tapi kira-kira sebulan yang lalu, di akhir bulan Juni, saya mulai melihat gejala gejala yang mengganggu ketenteraman kami. Suatu hari istri saya menerima surat dari Amerika. Ini terlihat dari prangkonya. Dia menjadi pucat pasi. Dibacanya surat itu, lalu dibuangnya ke perapian. Dia tak berkomentar apa-apa setelah itu, jadi saya pun tak menanyakan apa-apa padanya. Janji tetap janji. Tapi, sejak itu dia selalu gelisah. Wajahnya selalu dipenuhi ketakutan—seolah-olah dia sedang menunggu sesuatu. Kalau saja dia mau mempercayai saya, saya akan menjadi teman terbaiknya. Tapi kalau dia tak ingin membicarakannya dengan saya, saya pun tak bisa berbuat apa-apa. Harap diingat bahwa dia orangnya jujur, Mr. Holmes, dan kalau pun ada masalah dengan masa lalunya, pasti itu bukan kesalahannya. Saya hanyalah seorang bangsawan Norfolk yang tak berarti, tapi saya sangat menjunjung tinggi kehormatan keluarga saya. Dia tahu hal ini, juga sebelum menikah dengan saya. Dia tak mungkin menodai kehormatan keluarga saya—saya yakin akan hal itu.

"Kini sampailah saya ke bagian yang paling aneh dari kisah saya. Kira-kira seminggu yang lalu—waktu itu hari Selasa—saya menemukan beberapa gambar orang menari, seperti yang tertulis di kertas itu, di salah satu ambang jendela rumah. Digambar pakai kapur. Saya pikir petugas kuda kamilah yang melakukannya, tapi dia bersumpah bahwa dia tak tahu menahu soal itu. Pokoknya, coretan itu dibuat pada malam hari. Saya lalu menyuruh orang untuk membersihkan ambang jendela itu, baru setelah itu saya menceritakannya pada istri saya. Herannya, reaksinya cukup serius, dan dia mohon agar diberitahu kalau ada coretan seperti itu lagi. Seminggu berlalu tanpa insiden coretan apa-apa, lalu kemarin pagi saya menemukan kertas ini tergeletak di atas jam matahari di taman. Saya tunjukkan kertas itu kepada Elsie, dan dia jatuh pingsan ketika melihatnya. Sejak itu, dia menjadi seperti bayang-bayang, agak linglung dan matanya selalu memancarkan ketakutan. Itulah sebabnya saya lalu mengirim kertas itu kepada Anda, Mr. Holmes. Saya tak mungkin membawanya ke polisi, karena mereka pasti akan menertawakan saya. Tapi Anda pasti bisa membentahukan apa yang harus saya lakukan. Saya bukan orang kaya, tapi kalau ada bahaya yang mengancam istri saya, saya bersedia menghabiskan seluruh milik saya untuk melindunginya."

Penampilan pria keturunan bangsawan Inggris kuno ini sungguh menawan. Orangnya sederhana, terbuka, dan lembut. Matanya biru cemerlang dan memancarkan kesungguhan hati. Wajahnya lebar dan tampan. Nyata sekali bahwa dia sangat mencintai dan mempercayai istrinya. Holmes mendengarkan dengan amat saksama, dan kini dia duduk terdiam selama beberapa saat.

"Mr. Cubitt," katanya kemudian, "apakah tidak lebih baik kalau Anda menanyakannya secara langsung kepada istri Anda?"

Kepala Hilton Cubitt yang besar menggeleng. "Janji tetap janji, Mr. Holmes. Kalau Elsie berniat berbicara kepada saya, silakan. Kalau tidak, saya tak akan memaksanya untuk berbuat begitu. Tapi saya akan berupaya sendiri—sungguh."

"Kalau demikian, saya akan menolong Anda dengan segala kemampuan yang ada pada saya. Pertama, pernahkah Anda dengar kedatangan orang asing di daerah sekitar rumah Anda?"

"Tidak."

"Saya kira rumah Anda terletak di daerah yang tenang. Apakah kalau ada orang baru tinggal di situ pasti orang-orang akan membicarakannya?"

"Yah, sebatas tetangga yang berdekatan saja. Tapi ada beberapa sumber air kecil tak jauh dari situ, dan para petani yang mengambil air di situ menyewakan sebagian kamar mereka kepada tamu tamu yang ingin menginap."

"Jelas bahwa coretan yang mirip huruf-huruf Mesir kuno ini ada artinya. Kalau lambang-lambang ini ditulis secara sembarangan, kita takkan mungkin mengartikannya. Tapi seandainya itu sistematis, saya yakin kita akan mampu memecahkannya. Sayang contoh ini terlalu pendek, sehingga tak bisa saya anahsis. Dan fakta-fakta yang sudah Anda utarakan banyak yang tak begitu jelas, sehingga kurang cukup meyakinkan untuk memulai penyelidikan. Saya sarankan Anda kembali dulu ke Norfolk, dan lakukanlah pengamatan dengan saksama, dan salinlah dengan tepat kalau ada tulisan seperti itu lagi. Sayang sekali, coretan kapur di ambang jendela sudah dihapus. Juga, carilah informasi dengan diam-diam kalau-kalau ada orang asing yang tinggal di sekitar rumah Anda. Kalau Anda sudah memiliki bukti-bukti baru, datanglah kemari lagi. Demikianlah saran terbaik yang bisa saya berikan, Mr. Hilton Cubitt. Kalau terjadi perkembangan mendadak, saya akan segera mengunjungi Anda di rumah Anda di Norfolk."

Setelah percakapan itu Sherlock Holmes terus memeras otaknya, dan pada hari-hari berikutnya aku melihat dia beberapa kali mengambil kertas dari dalam buku catatannya itu, dan mengamati gambar orang-orang menari yang tertulis di kertas itu dengan sungguh-sungguh. Tapi dia tak mengatakan apa-apa sehubungan dengan kasus itu, sampai pada suatu siang kira-kira dua minggu kemudian. Aku sedang mau pergi ke luar, ketika dia memanggilku.

"Lebih baik kau jangan pergi, Watson."

"Kenapa?"

"Karena aku menerima telegram dari Hilton Cubitt pagi tadi—kau masih ingat Hilton Cubitt dengan kasus tulisan berbentuk orang menari itu? Dia akan tiba di Liverpool Street pada jam satu lewat dua puluh menit. Dia akan segera sampai kemari. Dari telegramnya aku menyimpulkan bahwa telah terjadi beberapa insiden baru yang penting."

Kami tak perlu menunggu lama, karena bangsawan Norfolk itu langsung secepatnya menuju ke tempat kami dengan kereta setibanya di stasiun kereta api. Dia nampak kuatir dan tertekan, matanya letih dan dahinya berkerut

"Kasus ini benar-benar merepotkan saya, Mr. Holmes," katanya sambil membenamkan dirinya di kursi berlengan bagaikan orang yang sangat kecapekan. "Bayangkan, ada seseorang yang tak kelihatan dan tak saya kenal berada di sekitar kami, dan dia sedang merencanakan sesuatu terhadap diri kami, serta apa pun tindakannya itu telah secara perlahan tapi pasti membunuh istri saya. Saya tak tahan lagi. Istri saya sangat tersiksa karenanya—tersiksa di depan mata saya."

"Apakah istri Anda sudah mengatakan sesuatu pada Anda sehubungan dengan hal itu?"

"Belum, Mr. Holmes. Kadang-kadang wanita malang itu nampaknya ingin mengatakan sesuatu pada saya, tapi dia tak punya keberanian untuk melakukannya. Saya sudah mencoba menolongnya, tapi mungkin cara saya menolongnya agak canggung, sehingga dia malah membatalkan niatnya untuk berbicara. Dia banyak membicarakan tentang nenek moyang saya, reputasi mereka di daerah kami, dan kebanggaan kami atas kehormatan yang selama ini tak tercela sedikit pun. Saya merasa bahwa pembicaraannya ini akan menuju masalah yang sebenarnya, tapi selalu terputus sebelum sampai di sana."

"Tapi Anda telah menemukan sesuatu?"

"Banyak, Mr. Holmes. Saya menemukan lagi beberapa gambar orang menari. Silakan Anda mengamatinya. Dan yang lebih penting, saya sudah melihat orang yang berbuat macam-macam itu."

"Apa? Orang yang membuat tulisan-tulisan ini?"

"Ya, saya melihatnya waktu dia sedang beraksi. Tapi biarlah saya ceritakan urutannya. Ketika saya pulang dari sini dulu itu, keesokan harinya saya langsung menemukan serangkaian gambar orang menari, yang ditulis dengan kapur di pintu gudang penyimpanan alat-alat yang berwarna hitam. Gudang itu terletak di samping halaman depan dan terlihat dengan jelas kalau jendela depan dibuka. Saya segera menyalinnya, dan ini hasilnya." Dia membuka lipatan secarik kertas dan menaruhnya di atas meja. Salinan itu bergambar demikian:
"Bagus!" kata Holmes. "Bagus! Silakan dilanjutkan."

"Sesudah menyalin, saya hapus tulisan itu. Tapi dua hari kemudian, muncul tulisan baru. Ini salinannya."
Holmes mengusap-usap tangannya dan tergelak dengan riang.

"Bahan kita terus bertambah," katanya.

"Tiga hari kemudian sepucuk surat tergeletak di atas jam matahari, ditindihi kerikil. Ini suratnya. Gambarnya persis sama dengan yang terakhir saya salin. Sesudah itu saya terus menunggu dan bersiaga. Saya bawa pistol dan duduk menunggu di ruang baca yang menghadap ke halaman dan taman depan. Dalam kegelapan pada jam dua dini hari, ketika saya duduk di jendela dan hanya diterangi sinar bulan dari luar, saya mendengar langkah-langkah di belakang saya. Ternyata itu istri saya, masih dalam pakaian tidurnya. Dia menyuruh saya agar pergi tidur saja. Saya katakan padanya dengan jujur bahwa saya ingin melihat siapa yang telah mempermainkan kami selama ini. Dia mengatakan bahwa semua ini cuma gurauan, dan sebaiknya saya tak usah mempedulikannya.

"'Kalau ini mengganggumu, Hilton, kita bisa untuk sementara waktu pergi saja untuk menghindari gangguan ini.'

"'Apa? Pergi dari rumah sendiri hanya karena gurauan orang lain?' kata saya. 'Wah, seluruh penduduk di daerah ini akan menertawakan kita!'

"'Kalau begitu, yuk tidur saja,' katanya, 'dan mari kita bicarakan hal ini besok pagi.'

"Tiba-tiba ketika dia masih berbicara, dalam sinar bulan saya lihat wajahnya yang pucat menjadi semakin pucat, dan tangannya mencengkeram pundak saya. Ada sesuatu bergerak dalam bayangan gudang alat-alat. Saya lihat seseorang mengendap-endap dari ujung sana dan berjongkok di depan pintu gudang. Saya mengeluarkan pistol dan hendak berlari keluar, tapi istri saya memeluk dan menghalangi niat saya dengan segenap kekuatannya. Saya berusaha melepaskan diri, tapi dia tetap saja menghalangi saya dengan sungguh-sungguh. Akhirnya saya berhasil melepaskan diri, tapi ketika saya membuka pintu dan sampai di sana, bayangan itu sudah lenyap. Tapi, bekas kehadirannya jelas terlihat, karena serangkaian gambar orang menari yang persis sama dengan dua gambar sebelumnya yang pernah saya salin, tertulis di pintu gudang itu. Saya berusaha mengejarnya ke segala arah, tapi tanpa hasil. Anehnya, ketika saya mengamati pintu gudang itu lagi pada keesokan paginya, tulisan itu telah bertambah panjang dari yang saya lihat malam sebelumnya. Bukankah itu berarti dia ada di dekat situ sepanjang malam?"

"Apakah Anda menyalin tulisan tambahan itu?"

"Ya. Singkat sekali, ini."

Dia mengeluarkan secarik kertas lagi. Kali ini bentuk tariannya seperti ini:
"Katakan pada saya," kata Holmes—dan matanya terlihat sangat antusias—"apakah yang terakhir ini cuma tambahan dari yang terdahulu, ataukah terpisah sama sekali?"

"Memang ditulis di bagian lain dari pintu gudang itu."

"Baik! Ini hal yang paling penting untuk rencana kita. Ada harapan. Sekarang, Mr. Hilton Cubitt, silakan lanjutkan penjelasan Anda yang menarik ini."

"Tak ada yang perlu dikatakan lagi, Mr. Holmes. Hanya saja, saya sangat marah kepada istri saya malam itu, karena kalau saja dia tak menghalangi langkah saya, saya pasti sudah menangkap bajingan yang mengendap-endap itu. Dia berkata bahwa dia sangat menguatirkan keselamatan saya. Untuk sejenak terlintas di benak saya bahwa dia sebenarnya menguatirkan keselamatan pria itu, karena saya yakin dia tahu siapa orang ini dan apa maksudnya dengan tanda-tanda aneh yang ditulisnya. Tapi menilik nada suara dan tatapan istri saya, Mr. Holmes, keraguan saya jadi sirna, dan memang keselamatan sayalah yang dikuatirkannya. Begitulah kisahnya, dan sekarang saya ingin minta saran apa sebaiknya yang saya lakukan. Kalau menuruti emosi, mau rasanya saya menaruh sebanyak mungkin pekerja ladang saya untuk bersembunyi di semak-semak, dan bila orang itu datang lagi biarlah mereka memukulinya sehingga dia kapok."

"Saya rasa penyelesaiannya takkan semudah itu," kata Holmes.

"Berapa lama Anda tinggal di London?"

"Saya harus pulang hari ini juga. Saya benar-benar tak bisa meninggalkan istri saya sendirian di malam hari. Dia sangat gelisah dan meminta saya segera pulang."

"Anda benar. Namun seandainya Anda bisa tinggal lebih lama, saya sebetulnya bisa berangkat bersama Anda dalam satu atau dua hari. Tapi, yah, kertas-kertas ini Anda tinggalkan di sini, kan? Saya kira saya akan mengunjungi Anda dalam waktu dekat ini untuk memecahkan masalah Anda."

Sherlock Holmes tetap menunjukkan sikap tenangnya yang profesional sampai tamu kami meninggalkan ruangan, padahal aku tahu bahwa dia sangat antusias. Begitu punggung lebar Hilton Cubitt menghilang di balik pintu, temanku segera menuju meja, menaruh semua lembaran kertas yang bergambarkan orang menari itu di depannya, dan mulailah dia tenggelam dalam hitungan-hitungan yang ruwet dan teliti.

Selama dua jam kulihat dia mencoret-coret angka dan huruf. Begitu asyiknya dia dengan tugasnya itu, sehingga tak sedetik pun dia menyadari kehadiranku di dekatnya. Kadang-kadang dia mencapai kemajuan, dan dia lalu bersiul dan bersenandung dalam kerjanya. Kadang-kadang dia termangu-mangu sambil menerawang ke depan dengan dahi berkerut dan pandangan mata kosong. Akhirnya dia beranjak dari kursinya sambil berteriak puas, lalu mondar-mandir di ruangan itu sambil menggosok-gosokkan kedua belah tangannya. Kemudian dia menulis telegram yang cukup panjang. "Kalau jawaban atas telegram ini seperti yang kuharapkan, kau akan menambah koleksi kasusmu dengan sesuatu yang amat menarik, Watson," katanya. "Kurasa kita sebaiknya pergi ke Norfolk besok pagi untuk mengabari teman kita tentang rahasia yang selama ini mengganggunya."

Kuakui hatiku dipenuhi oleh rasa ingin tahu, tapi aku sadar bahwa Holmes baru mau menjelaskan semua ini kalau menurutnya waktunya sudah tepat, dan dia pun akan menjelaskan dengan caranya yang khas. Itulah sebabnya aku hanya bisa menunggu.

Tapi jawaban telegram itu agak terlambat. Dua hari kami menunggu dengan rasa tak sabar, dan selama itu Holmes terus menyiagakan telinganya begitu bel pintu berbunyi. Pada malam hari kedua, sepucuk surat dari Hilton Cubitt tiba. Dia mengabarkan bahwa tak ada perkembangan apa-apa, hanya pagi tadi ditemukannya pesan gambar orang menari yang panjang di atas jam matahari. Salinannya dilampirkan dalam surat itu, yang berbunyi demikian:
Holmes membungkuk mengamati gambar yang aneh itu selama beberapa menit, dan kemudian tiba-tiba dia terlonjak kaget sambil berteriak. Wajahnya membayangkan kekuatiran.

"Kita telah membiarkan urusan ini berlarut-larut," katanya. "Apakah ada kereta api yang menuju North Walsham malam ini?"

Aku melihat jadwal keberangkatan. Kereta api yang terakhir baru saja berangkat.

"Kalau begitu kita akan makan pagi lebih awal besok, dan berangkat dengan kereta paling pagi," kata Holmes. "Kehadiran kita sangat diperlukan. Ah, ini dia telegram yang kita tunggu-tunggu. Sebentar, Mrs. Hudson—mungkin saya perlu memberikan balasan. Tidak, semuanya sesuai dengan yang kuharapkan. Telegram ini semakin meyakinkanku bahwa kita harus secepatnya memberitahu Hilton Cubitt mengenai duduk persoalannya, karena dia sedang terjerat dalam permasalahan yang unik dan berbahaya."

Ucapan Holmes ternyata terbukti, padahal tadinya kupikir kasus itu cuma agak ganjil dan kekanak-kanakan. Sewaktu menuliskan ini, serasa kualami kembali kecemasan dan kengerian yang kurasakan saat itu. Sebenarnya aku ingin memberikan akhir yang lebih menggembirakan bagi para pembaca, namun sayang fakta-faktanya mengatakan lain. Beginilah akhir rangkaian peristiwa aneh dan menyedihkan yang menjadikan Riding Thorpe Manor buah bibir di seluruh Inggris.

Kami baru saja mau turun dari kereta api di North Walsham dan bermaksud mengatakan tempat tujuan kami, ketika kepala stasiun berlari ke arah kami. "Anda berdua detektif dari London itu, kan?" katanya.

Holmes kelihatan agak jengkel. "Mengapa Anda berpikir demikian?"

"Karena Inspektur Martin dari Norwich baru saja lewat. Atau Anda ahli bedah, ya? Wanita itu tidak mati—tepatnya belum, menurut laporan terakhir. Mungkin Anda masih bisa menyelamatkan jiwanya—walaupun cuma untuk dihukum gantung."

Dahi Holmes menunjukkan kekuatiran yang amat sangat.

"Kami mau pergi ke Riding Thorpe Manor," katanya, "tapi kami tak mendengar apa-apa mengenai yang baru saja terjadi di sana."

"Mengerikan," kata kepala stasiun. "Kedua suami-istri itu tertembak. Mrs. Hilton Cubitt menembak suaminya, lalu dia menembak dirinya sendiri—begitu kata para pembantu mereka. Mr. Cubitt meninggal, dan istrinya dalam keadaan sekarat. Wah, wah! Tak disangka hal begitu bisa terjadi pada salah satu keluarga tertua di Norfolk dan sangat terhormat lagi."

Tanpa berkata sepatah pun Holmes bergegas memanggil kereta, dan selama perjalanan sepanjang sebelas kilometer dia hanya membisu. Jarang sekali aku melihatnya dalam keadaan demikian. Sepanjang perjalanan kereta api pagi tadi dia memang gelisah, dan dia membolak-balik surat kabar dengan penuh perhatian. Tapi, kini nampaknya dia menyadari bahwa apa yang paling ditakutkannya telah terjadi, dan dia merasa amat sedih. Dia duduk sambil membenamkan punggungnya, dan pikirannya melayang entah ke mana. Padahal pemandangan di sekitar kami sangat indah, karena kami sedang melewati pedesaan yang khas Inggris, dengan beberapa rumah kecil yang masih dihuni. Di sana-sini terlihat bangunan gereja bermenara segi empat yang tinggi-tinggi berdiri dengan gagahnya pada tanah yang menghijau, yang menjadi bukti kebesaran dan kemakmuran daerah Inggris Timur pada zaman dahulu. Akhirnya, tepian Samudera Jerman yang berwarna ungu muncul dari pinggir pantai Norfolk yang kehijauan, dan dengan cambuknya, kusir kereta menunjuk ke arah dua atap rumah yang terbuat dari kayu dan bata di balik pepohonah. "Itulah Riding Thorpe Manor," katanya.

Ketika kami mendekat ke pintu depannya yang berpilar, aku menoleh ke sebelah lapangan tenis, ke tempat-tempat yang ada hubungannya dengan kasus ini menurut apa yang selama ini kami dengar, yaitu gudang alat-alat yang bercat hitam dan bangunan jam matahari. Seorang pria kecil yang berjenggot dan berpakaian rapi dengan sikap serba awas, baru saja turun dari sebuah dokar yang tinggi. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Inspektur Martin dari Kepolisian Norfolk, dan dia agak terkejut ketika mendengar nama temanku.

"Wah, Mr. Holmes, pembunuhan itu baru saja terjadi jam tiga pagi tadi! Bagaimana mungkin Anda sudah mendengarnya di London dan kini sudah tiba di sini bersamaan dengan saya?"

"Saya sudah menduganya. Saya datang sebenarnya untuk mencegah terjadinya pembunuhan itu."

"Berarti Anda punya bukti-bukti kuat yang tidak kami miliki karena menurut kata orang mereka merupakan pasangan yang sangat harmonis."

"Saya hanya punya bukti dalam bentuk tulisan bergambar orang menari," kata Holmes. "Saya akan menjelaskan hal itu nanti. Sementara ini, karena tragedinya sudah terjadi, saya ingin sekali menggunakan pengetahuan saya untuk menjamin bahwa keadilan ditegakkan. Apakah Anda mau membantu penyelidikan saya, atau Anda lebih suka bertindak sendiri?"

"Saya akan merasa bangga kalau kita dapat bekerja bersama, Mr. Holmes," kata inspektur itu dengan sungguh-sungguh.

"Kalau begitu, saya ingin sekarang juga mendengar bukti-bukti dari Anda, lalu pergi mengamati tempat kejadian."

Inspektur Martin membiarkan temanku bertindak menurut caranya sendiri, dan dia hanya mencatat hasil-hasil pengamatan Holmes dengan saksama. Ahli bedah yang sudah tua dan rambutnya putih itu baru saja turun dari kamar Mrs. Hilton Cubitt, dan dia melaporkan bahwa luka-luka yang diderita pasiennya cukup parah, tapi tidak fatal. Peluru itu melewati bagian depan otaknya, dan akan memakan waktu cukup lama sebelum dia sadar kembali. Ketika ditanya apakah Mrs. Cubitt ditembak oleh orang lain atau menembak dirinya sendiri, dia tak berani mengemukakan pendapatnya. Yang jelas, peluru itu telah ditembakkan dari jarak yang sangat dekat. Hanya satu pistol ditemukan di ruangan tempat kejadian, dengan dua peluru yang sudah ditembakkan. Mr. Hilton Cubitt tertembak jantungnya. Bisa jadi dialah yang menembak istrinya lalu dirinya sendiri atau istrinyalah penembaknya, karena pistol itu tergeletak di lantai di tengah-tengah mereka.

"Apakah mayat Mr. Cubitt sudah dipindahkan?" tanya Holmes.

"Kami belum memindahkan apa-apa kecuali wanita itu. Kami kan tak bisa membiarkannya terbaring di lantai, terluka begitu rupa."

"Sudah berapa lama Anda berada di sini, Dokter?"

"Sejak jam empat pagi."

"Ada yang lain?"

"Ya, ada seorang polisi di sini."

"Dan Anda belum menjamah apa-apa?"

"Belum."

"Anda telah bertindak dengan sangat hati-hati. Siapa yang memanggil Anda?"

"Pelayan bernama Saunders."

"Apakah dia juga yang pertama kali mengetahui peristiwa itu?"

"Dia dan Mrs. King, tukang masak."

"Di mana mereka sekarang?"

"Di dapur, tentunya."

"Sebaiknya saya mendengar cerita mereka sekarang juga."

Ruang depan yang kuno, berdinding kayu, dan berjendela tinggi-tinggi itu, diubah menjadi ruang pemeriksaan. Holmes duduk di kursi kuno yang besar, matanya bercahaya. Aku tahu dia sedang mengupayakan untuk membalas dendam atas nama kliennya yang tidak berhasil diselamatkannya itu. Inspektur Martin yang rapi, ahli bedah yang rambutnya sudah beruban, aku sendiri, dan polisi desa yang pendiam melengkapi isi ruang pemeriksaan itu.

Kedua wanita itu menceritakan kisah mereka dengan cukup jelas. Mereka terbangun dari tidur karena mendengar suara tembakan, yang semenit kemudian terulang lagi. Kamar tidur mereka bersebelahan, dan Mrs. King berlari ke kamar Saunders. Mereka berdua lalu menuruni tangga. Pintu ruang baca terbuka dan sebatang lilin terpasang di atas meja. Mr. Cubitt tertelungkup di tengah ruangan. Dia sudah mati. Di dekat jendela istrinya meringkuk, kepalanya tersandar di dinding.

Dia terluka parah dan sebagian wajahnya berlumuran darah. Dia bernapas dengan susah payah, dan tak mampu berkata apa-apa. Lorong dan ruangan itu penuh asap dan bau mesiu. Jendela tertutup dan dikunci dari dalam. Kedua wanita itu yakin akan hal itu. Mereka langsung memanggil dokter dan polisi. Lalu, dengan bantuan petugas-petugas kuda, mereka memindahkan nyonya mereka yang terluka ke kamarnya. Kamar itu biasanya dipergunakan bersama suaminya. Mrs. Cubitt berpakaian lengkap—suaminya masih dalam pakaian tidur. Belum ada yang dipindahkan dari ruang baca itu. Menurut pengamatan mereka, sejauh ini tuan dan nyonya mereka tidak pernah bertengkar. Mereka selalu terlihat sebagai pasangan yang amat harmonis.

Demikianlah hal-hal penting dari kesaksian kedua pelayan itu. Atas pertanyaan Inspektur Martin mereka memastikan bahwa semua pintu terkunci dari dalam sehingga kalaupun ada orang asing di dalam rumah itu, dia pasti tak bisa keluar. Menjawab pertanyaan Holmes, mereka berdua masih ingat bahwa mereka mencium bau mesiu sejak mereka keluar dari kamar mereka di lantai atas. "Saya mohon fakta ini Anda perhatikan dengan saksama," kata Holmes kepada rekan sekerjanya. "Dan sekarang, sebaiknya kita memeriksa ruang tempat kejadian."

Ruang baca itu tak seberapa besar, ketiga sisi dindingnya penuh dengan buku, dan ada meja tulis yang menghadap jendela ke arah taman. Perhatian kami langsung tertuju pada mayat bangsawan yang malang itu. Tubuhnya yang besar tertelungkup di tengah ruangan. Pakaiannya yang acak-acakan menunjukkan bahwa dia tadi tergesa-gesa bangun dari tidurnya. Dia ditembak dari arah depan, dan pelurunya tersangkut di dalam tubuhnya setelah menembus jantung. Dia langsung mati tanpa rasa sakit sedikit pun. Tak terlihat tanda bekas mesiu di pakaian maupun di tangannya. Menurut ahli bedah, ditemukan cipratan noda di muka istrinya, tapi tidak di tangannya.

"Tidak ditemukannya noda di tangan wanita itu sama sekali tak ada artinya. Tapi kalau sebaliknya, mungkin akan sangat besar artinya," kata Holmes. 'Kecuali kalau pelurunya tak terpasang dengan baik sehingga terbalik lepasnya, biasanya tak ada bekas apa-apa walaupun seseorang menembakkan peluru beberapa kali. Sebaiknya mayat Mr. Cubitt dipindahkan saja sekarang. Dokter, tentunya Anda belum menemukan peluru yang melukai wanita itu, kan?"

"Belum. Harus melalui operasi yang cukup besar. Tapi, masih ada empat peluru di pistol itu. Jadi ada dua yang ditembakkan, dan memang ada dua orang yang terkena, begitulah kira-kira penjelasannya."

"Begitulah kelihatannya," kata Holmes. "Mungkin Anda bisa juga menjelaskan peluru yang menghantam bagian bawah jendela itu?"

Dia segera berbalik, dan telunjuknya yang kurus panjang menunjuk ke sebuah lubang pada bingkai jendela, jaraknya kira-kira hanya dua setengah sentimeter dari bawah.

"Astaga!" teriak Inspektur. "Kok Anda bisa melihatnya?"

"Karena saya mencarinya."

"Hebat!" kata dokter bedah itu. "Anda benar, sir. Jadi ada tembakan ketiga, dan tentunya ada pula orang ketiga. Tapi siapa? Dan bagaimana caranya dia melarikan diri?"

"Itulah yang harus kita cari jawabnya," kata Sherlock Holmes. "Anda ingat, Inspektur Martin, ketika kedua pelayan tadi mengatakan bahwa mereka sudah mencium bau mesiu sejak mereka keluar dari kamar mereka, saya katakan bahwa penjelasan ini penting sekali?"

"Ya, sir. Tapi saya akui saya tak mengerti maksud Anda."

"Itu berarti bahwa pada saat penembakan terjadi, jendela dan pintu ruang baca terbuka. Kalau tidak, asap letusan peluru itu tak akan menjalar begitu cepatnya ke seluruh rumah. Pasti ada udara yang mengalir dari ruang itu. Tapi baik jendela maupun pintu ruang itu hanya terbuka sekejap saja."

"Bagaimana Anda tahu?"

"Karena bekas lilinnya menunjukkan hal itu."

"Hebat!" teriak Inspektur. "Hebat!"

"Saya merasa yakin bahwa jendela itu terbuka pada saat tragedi itu terjadi. Itulah sebabnya saya menduga pasti ada orang ketiga, yang berdiri di muka jendela dan menembak dari situ. Tembakan balasan yang diarahkan kepada orang itu bisa saja mengenai bagian bawah bingkai jendela. Saya lalu mengamati, dan betul saja, saya temukan bekas peluru di sana!"

"Tapi bagaimana bisa jendela itu akhirnya tertutup dan terkunci?"

"Naluri wanita itu mungkin membuatnya langsung menutup dan mengunci jendela. Tapi, he! Apa ini?"

Sebuah tas wanita tergeletak di meja tulis—tasnya kecil dan apik terbuat dari perak dan kulit buaya. Holmes membuka tas itu dan mengeluarkan semua isinya Ada dua puluh lembar uang kertas lima puluh pound dari Bank of England yang terikat dengan karet gelang—itu saja.

"Ini harus diamankan untuk bukti di pengadilan," kata Holmes sambil menyerahkan tas itu beserta ismya kepada Pak Inspektur. "Sekarang mari kita selidiki peluru ketiga ini, yang jelas sekali telah ditembakkan dari dalam ruangan. Saya mau bertanya kepada Mrs. King, tukang masak itu, lagi... Mrs. King, Anda tadi mengatakan bahwa Anda terbangun karena mendengar suara tembakan yang keras. Apakah maksud Anda tembakan itu lebih keras suaranya daripada tembakan yang Anda dengar untuk kedua kalinya?"

"Yah, sir, suara tembakan itu membangunkan saya, jadi agak susah mengatakannya. Tapi memang keras sekali kedengarannya."

"Atau mungkinkah itu suara dua tembakan sekaligus?"

"Wah, saya tak tahu, sir."

"Saya yakin begitulah yang sebenarnya terjadi. Inspektur Martin, kita sudah mendapatkan semua yang kita perlukan dari ruangan ini. Mari kita menuju ke taman, dan mengamati apakah ada bukti lain yang bisa kita dapatkan di sana."

Taman bunga itu panjangnya sampai ke bawah jendela ruang baca, dan kami semua berteriak ketika kami tiba di sana. Beberapa bunganya terinjak-injak, dan tanahnya yang lunak penuh bekas kaki. Nampaknya itu jejak seorang pria yang telapak kakinya besar dan jari-jari kakinya panjang-panjang. Holmes mengikuti jejak itu di antara rerumputan dan dedaunan bagaikan mencari seekor burung yang terluka. Kemudian, sambil berteriak dengan penuh kemenangan, dia membungkuk ke depan dan menjumput sebuah selongsong peluru kecil terbuat dari kuningan.

"Seperti yang saya duga sebelumnya," katanya, "pistolnya dilengkapi ejector dan ini dia selongsong peluru yang ketiga. Saya rasa kasus kita hampir terselesaikan, Inspektur Martin."

Inspektur polisi desa itu terheran-heran melihat proses penyelidikan Holmes yang cepat dan hebat itu. Sebelumnya dia sempat berlagak untuk membanggakan kedudukannya, tapi kini dia dipenuhi rasa kagum, dan mau mengikuti apa pun yang dikatakan Holmes.

"Siapa yang Anda curigai?" tanyanya.

"Nanti akan ketahuan Ada beberapa hal yang belum bisa saya utarakan pada Anda sekarang ini. Sementara ini sebaiknya saya melanjutkan langkah-langkah penyelidikan saya, lalu menyelesaikan masalah ini secara tuntas dan menyeluruh."

"Terserah Anda saja, Mr. Holmes, asalkan pembunuhnya tertangkap nanti"

"Saya tak ingin bersikap misterius, tapi saat ini tak mungkin bagi saya untuk menjelaskan panjang-lebar. Rahasia masalah ini semua ada di tangan saya. Bahkan jika wanita itu takkan pernah sadar lagi, kita masih bisa menjelaskan peristiwa tadi malam sedetail-detailnya dan memperjuangkan agar keadilan ditegakkan. Pertama, saya ingin tahu apakah ada penginapan di sekitar sini yang bernama Elrige's?"

Para pelayan ditanyai, tapi mereka tak pernah mendengar nama itu. Petugas kuda memberikan titik terang dengan mengatakan bahwa dia ingat ada seorang petani bernama Elrige tinggal beberapa kilometer jauhnya dari tempat itu ke arah East Ruston.

"Apakah ladang tempat tinggalnya sepi?"

"Sangat sepi, sir."

"Mungkin orang yang tinggal di sekitar situ belum mendengar apa yang terjadi di sini semalam?"

"Mungkin belum, sir."

Holmes berpikir sejenak, lalu tersenyum penuh arti.

"Berangkatlah, anak muda," katanya, "untuk mengantarkan sepucuk surat ke Elrige's Farm." Diambilnya lembaran-lembaran kertas yang bertuliskan gambar orang menari dari sakunya, lalu dia menuju meja tulis di ruang baca untuk menulis sesuatu. Akhirnya diserahkannya sepucuk surat kepada petugas kuda yang masih muda itu, dan dijelaskannya bahwa surat itu harus diserahkannya sendiri kepada nama yang tertera di situ dan dilarangnya dia menjawab pertanyaan apa pun yang mungkin ditanyakan padanya. Bagian luar surat itu terlihat olehku. Tulisannya coret-moret, tak seperti tulisan Holmes yang biasanya rapi. Surat itu dialamatkan kepada Mr. Abe Slaney, Elrige's Farm, East Ruston, Norfolk.

"Saya rasa, Inspektur," komentar Holmes, "Anda perlu segera mengirim telegram untuk meminta tenaga bantuan, karena kalau perhitungan saya benar, tak lama lagi Anda akan bertugas menangkap seorang penjahat yang cukup membahayakan untuk Anda serahkan ke penjara daerah ini. Petugas kuda yang saya mintai tolong mengantar surat ini bisa sekalian mengirim telegram Anda. Dan, kita akan pulang dengan kereta api sore yang menuju ke kota, Watson, karena ada percobaan kimia yang harus kuselesaikan, sedangkan penyelidikan di sini sudah hampir selesai."

Ketika anak muda pembawa surat itu sudah berangkat Sherlock Holmes memberikan beberapa instruksi kepada para pelayan. Kalau ada tamu datang ingin menemui Mrs. Cubitt agar jangan diberitahu tentang keadaan wanita itu, tapi agar dipersilakan langsung masuk ke ruang tengah. Dia menegaskan instruksi ini dengan sungguh-sungguh, lalu berjalan menuju ruang tengah sambil berkomentar bahwa kini urusannya sudah bukan urusan kami lagi. Kami hanya tinggal menunggu untuk melihat perkembangannya. Dokter telah pergi untuk menengok kedua pasiennya, jadi hanya tinggal kami bertiga yaitu Holmes, Inspektur, dan aku sendiri.

"Sementara kita harus menunggu sekitar satu jam, saya punya kegiatan menarik," kata Holmes sambil menarik kursi dan menaruh lembaran-lembaran kertas bertuliskan gambar orang menari di meja di hadapannya. "Dan kau, sobatku Watson, maaf aku telah membiarkan rasa ingin tahumu sekian lama. Bagi Anda, Inspektur, kejadian ini mungkin akan merupakan penyelidikan yang patut dicatat. Pertama-tama, saya perlu menceritakan tentang konsultasi Mr. Hilton Cubitt yang dilakukannya beberapa kali di Baker Street sebelum peristiwa ini terjadi." Dia lalu menceritakan semuanya secara singkat.

"Inilah salinan bukti-bukti itu. Orang mungkin akan menertawakan gambar-gambar ini, padahal gambar-gambar inilah yang mengawali tragedi yang mengerikan itu. Saya tahu banyak tentang tulisan-tulisan sandi, dan saya pernah menulis makalah tentang itu, dengan menganalisis seratus enam puluh bentuk tulisan sandi yang berlainan. Tapi jenis tulisan ini memang baru sama sekali bagi saya. Tulisan ini dipakai dengan maksud mengirim kabar, tapi kalau sampai ada orang yang tak berkepentingan menemukannya, dia akan mengira bahwa itu hanyalah coretan gambar anak kecil yang tak perlu diperhatikan.

"Tapi, begitu saya tahu bahwa tiap simbol menunjukkan satu huruf, dan setelah mencocokkan dengan cara-cara yang lazim dipakai dalam huruf sandi, semuanya jadi tak begitu sulit. Isi pesan surat pertama yang saya terima begitu pendek, sehingga tak mungkin saya menganalisisnya kecuali hanya menduga-duga simbol mana yang menunjukkan huruf E. Kalian tahu bahwa E adalah huruf yang paling umum dan paling sering dipakai dalam bahasa Inggris, sehingga sependek apa pun kalimatnya, pasti mengandung beberapa huruf E. Pada surat pertama ada lima belas simbol, empat di antaranya sama bentuknya, jadi mungkin empat yang sama ini masing-masing menunjukkan E. Memang, kadang-kadang huruf ini bertanda bendera di ujungnya, kadang-kadang tidak. Mungkin ini untuk menunjukkan pemotongan kata-kata. Sementara itu, demikianlah hipotesis saya, jadi huruf E disimbolkan dengan
"Lalu saya mendapat kesulitan. Tidak ada susunan tertentu dalam bahasa Inggris setelah huruf E, dan kecenderungan yang nampak dalam suatu tulisan, bisa saja terbalik kalau kalimatnya pendek. Misalnya, menurut angka biasanya huruf-huruf susunannya begini: T, A, O, I, N, S, H, R, D, dan L. Tapi T, A, O, dan I bisa saling berdekatan, dan akan sangat melelahkan kalau setiap kombinasi dicoba hanya untuk mendapatkan sebuah arti pada kata yang terbentuk. Itulah sebabnya, saya menunggu sampai ada salinan tulisan berikutnya. Pada kedatangannya yang kedua, Mr. Hilton Cubitt menyerahkan dua kalimat pendek lain dan sebuah pesan yang nampaknya berwujud satu kata saja karena tak ada simbol yang bertanda bendera. Simbolnya begini:

"Pada kata yang terdiri atas lima huruf itu ada dua huruf E, yaitu gambar kedua dan keempat. Kata itu mungkin sever, lever, atau never. Jelas kata ketigalah yang artinya paling mengena karena bisa merupakan jawaban atas permintaan, dan mungkin wanita itulah yang menuliskannya. Kalau itu benar, kita bisa mengatakan bahwa simbol
adalah N, V, dan R secara berturutan.

"Bahkan sejauh ini, saya masih menemui kesulitan. Tapi tiba-tiba saya mendapat ide, sehingga saya berhasil menemukan beberapa huruf lagi. Saya menduga bahwa kalau permintaan-permintaan ini berasal dari seseorang yang pernah berhubungan erat dengan wanita itu, kombinasi huruf yang berisi dua E dengan sisipan tiga huruf lainnya, maksudnya mungkin saja ELSIE. Ketika saya amati, ternyata bahwa kombinasi huruf seperti itu tiga kali dipakai untuk mengakhiri pesan-pesan yang disampaikan. Jadi itu pasti permintaan yang ditujukan kepada Elsie. Dengan demikian L, S, dan I sudah ketahuan simbolnya. Tapi, apa isi permintaan itu? Kata yang mendahului 'Elsie' hanya terdiri atas empat huruf dan huruf akhirnya E. Pasti maksudnya COME. Saya mencoba semua kata yang terdiri atas empat huruf dan berakhir dengan E, tapi tak ada yang lebih cocok lagi. Jadi C, O, dan M sudah ketahuan simbolnya, dan saya lalu berusaha menerjemahkan pesan yang pertama sekali lagi dengan menganalisis kata per kata dan menandai tiap simbol yang belum ketahuan hurufnya. Dengan demikian, saya menghasilkan:

.M .ERE ..E SL.NE.

"Huruf pertama hanya mungkin A, dan ini sangat menolong, karena simbol itu dipakai lebih dari tiga kali dalam kalimat yang pendek ini, dan huruf yang masih kosong di kata kedua pastilah H. Sekarang jadi:

AM HERE A.E SLANE.

Atau, kalau yang kosong itu diisi jadilah nama seseorang:

AM HERE ABE SLANEY

Saya, sudah mengetahui cukup banyak huruf, sehingga saya bisa melanjutkan menerjemahkan pesan kedua, yang hasilnya begini:

A. ELRI.ES

"Di sini, menurut saya, hanya bisa disisipkan huruf T dan G, dan mungkin menyatakan nama rumah atau penginapan tempat penulis pesan ini tinggal."

Aku dan Inspektur Martin mendengarkan penjelasan temanku yang panjang lebar dengan penuh perhatian. Jadi, begitulah jawaban atas kesulitan kami selama ini.

"Apa yang Anda lakukan kemudian, sir?" tanya Inspektur.

"Saya merasa yakin bahwa Abe Slaney ini orang Amerika, karena Abe itu singkatan khas Amerika dan karena sepucuk surat dari Amerika-lah yang menjadi awal semua masalah ini. Saya juga menduga adanya bau kriminal dalam kasus ini. Soalnya wanita itu sangat merahasiakan masa lalunya dan bahkan tak bisa mempercayai suaminya sendiri. Saya lalu mengirim telegram ke teman saya, Wilson Hargreave, dari Biro Kepolisian New York, yang pernah memanfaatkan jasa saya beberapa kali. Saya bertanya padanya apakah dia pernah mendengar nama Abe Slaney, dan inilah jawabannya: 'Penjahat paling berbahaya di Chicago.' Pada sore harinya, Hilton Cubitt mengirim salinan pesan terakhir dari Slaney, yang berbunyi:

ELSIE .RE.ARE TO MEET THY GO.

Dengan menambah huruf-huruf P dan D, lengkaplah bunyi pesan itu yang menunjukkan bahwa penjahat itu melangkah lebih lanjut dari membujuk menjadi mengancam, dan berdasarkan apa yang saya ketahui tentang penjahat-penjahat di Chicago, Slaney pasti tak akan menunggu lama untuk melaksanakan ancamannya. Saya lalu segera berangkat ke Norfolk bersama teman dan rekan sekerja saya, Dr. Watson. Tapi sayang, kami terlambat. Pembunuhan itu sudah terjadi."

"Sungguh merupakan kehormatan bagi saya dapat bekerja sama dengan Anda dalam menangani suatu kasus," kata Inspektur dengan hangat "Tapi maaf, saya harus berterus terang kepada Anda. Anda memang hanya bertanggung jawab terhadap diri Anda sendiri, tapi saya bertanggung jawab kepada atasan saya. Kalau Abe Slaney ini, yang kini tinggal di Elrige's, benar-benar pembunuhnya, dan temyata dia bisa melarikan diri sementara saya duduk-duduk di sini, saya pasti akan menghadapi kesulitan besar."

"Tak perlu gelisah. Dia tak akan mencoba melarikan diri."

"Bagaimana Anda tahu itu?"

"Kalau dia lari, itu berarti dia mengakui bahwa dirinya bersalah."

"Kalau begitu, sebaiknya kita tangkap saja dia."

"Sebentar lagi dia akan kemari."

"Untuk apa dia kemari?"

"Karena saya memintanya."

"Tapi ini tak mungkin, Mr. Holmes! Masakan dia akan mau memenuhi permintaan Anda? Apakah permintaan Anda itu tidak malah membuatnya curiga, sehingga dia akan melarikan diri?"

"Saya rasa surat itu sudah saya atur sedemikian rupa sehingga dia tak akan bisa menolaknya," kata Sherlock Holmes. "Kelihatannya, kalau saya tak salah, itu orangnya sudah datang."

Dari luar seseorang melangkah menuju pintu masuk. Orangnya tinggi, tampan, dan kulitnya kehitam-hitaman. Jas flanelnya berwarna abu-abu, dan dia mengenakan topi Panama. Wajahnya berjanggut hitam, hidungnya besar dan melengkung, dan dia berjalan dengan tongkat. Dia melewati halaman seolah-olah dia sudah terbiasa mondar-mandir di situ, lalu kami mendengarnya memencet bel dengan keras.

"Saya rasa," kata Holmes dengan tenang, "sebaiknya kita berdiri di belakang pintu. Kalau berurusan dengan orang macam dia, kita harus hati-hati. Harap menyiapkan borgol, Inspektur, dan sayalah yang akan berbicara kepadanya."

Kami semua menunggu dalam diam selama satu menit—satu menit yang tak akan pernah terlupakah dalam hidup seseorang. Kemudian pintu ruangan terbuka, dan pria itu masuk. Dalam sekejap Holmes menempelkan pistol ke kepalanya, dan Martin memborgol tangannya. Begitu cepat dan cekatannya mereka bertindak, sehingga pria itu tak langsung menyadari bahwa dia sedang ditangkap. Dia menatap kami secara bergantian dengan sepasang mata hitamnya yang nyalang. Lalu dia tertawa dengan nada pahit.

"Yah, Tuan-tuan, Anda berhasil menangkapku kali ini. Rupanya kalian cukup lihai. Tapi aku datang kemari atas undangan Mrs. Hilton Cubitt. Jangan bilang dia bersekongkol untuk menjebak diriku?"

"Mrs. Hilton Cubitt terluka parah, dan sedang sekarat."

Pria itu berteriak dengan pilu. Suaranya yang kasar terdengar di setiap sudut rumah.

"Kalian gila!" teriaknya dengan garang "Pria itu yang terluka, bukan dia. Siapa yang tega menyakiti si mungil Elsie? Aku memang mengancamnya, tapi aku tak mungkin mencederainya sedikit pun. Cabut kembali perkataanmu! Katakan bahwa dia tak terluka!"

"Dia ditemukan dalam keadaan luka parah di samping mayat suaminya."

Pria itu lalu menjatuhkan dirinya ke sebuah bangku sambil merintih, ditutupnya wajahnya dengan kedua tangannya yang terbelenggu. Selama lima menit dia terdiam, lalu diangkatnya kembali wajahnya, dan dengan dingin dia berbicara dengan nada suara yang putus asa.

"Aku tak ingin menyembunyikan apa-apa lagi terhadap kalian, Tuan-tuan," katanya. "Aku menembak pria itu karena dia menembakku terlebih dahulu, dan itu bukan pembunuhan, kan? Tapi kalau kalian kira akulah yang mencederai wanita itu, itu berarti kalian tak kenal siapa sebenarnya dia dan siapa sebenarnya aku. Kuakui saja, aku mencintainya lebih dari pria mana pun di dunia ini mampu mencintainya. Aku berhak atas dirinya. Bertahun-tahun yang lalu aku sudah ditunangkan dengannya. Siapa gerangan pria Inggris ini yang berani-beraninya menghalangi hubungan kami? Jadi, karena akulah yang pertama kali berhak atas dirinya, aku pun hanya menuntut hakku ini."

"Dia menghindar darimu ketika dia tahu orang macam apa kau," kata Holmes dengan ketus. "Dia melarikan diri dari Amerika agar dapat melepaskan diri darimu, dan dia menikah dengan seorang pria terhormat di Inggris. Kau menguntitnya, dan membuat hidupnya sengsara. Kau menyuruhnya meninggalkan suami yang dicintai dan dihormatinya, lalu melarikan diri bersamamu. Padahal dia takut dan tidak suka padamu. Akibat ulahmu, pria bangsawan itu mati dan istrinya bunuh diri. Demikianlah peranmu dalam kasus ini, Mr. Abe Slaney, dan kau harus mempertanggungjawabkan semuanya di pengadilan."

"Kalau Elsie sampai mati, aku tak peduli lagi dengan hidupku," kata pria Amerika itu. Dia membuka salah satu tangannya dan memperhatikan sepucuk surat kumal di genggamannya. "Lihatlah ini, Tuan," teriaknya dengan tatap mata yang penuh rasa curiga, "kau tak ingin menakut-nakutiku, kan? Kalau wanita itu terluka parah seperti yang kau katakan, siapa yang menulis surat ini?" Ditaruhnya surat itu di atas meja.

"Kutulis surat itu agar kau mau datang kemari."

"Kau yang menulis surat itu? Tak ada orang lain di luar Joint yang tahu rahasia tulisan bergambar orang menari itu. Bagaimana mungkin kau yang menulisnya?"

"Apa yang bisa diciptakan oleh seseorang, bisa saja ditemukan oleh orang lain," kata Holmes. "Kereta yang akan mengantarmu ke Norwich sebentar lagi tiba, Mr. Slaney. Tapi sementara itu, masih ada kesempatan kalau kau ingin sedikit memperbaiki kerusakan yang telah kaubuat. Sadarkah kau bahwa Mrs. Hilton Cubitt dicurigai telah membunuh suaminya? Untung aku datang kemari dan kebetulan pula aku tahu banyak tentang latar belakang peristiwa ini, sehingga dia terhindar dari tuduhan itu. Satu-satunya yang bisa kaulakukan untuk agak menebus akibat kebrutalanmu ialah dengan memberikan kesaksian kepada semua orang bahwa dia tak bertanggung jawab atas kematian suaminya yang tragis, baik secara langsung maupun secara tak langsung."

"Baiklah," kata pria Amerika itu. "Kurasa tak ada yang lebih baik bagiku saat ini kecuali membeberkan apa yang sebenarnya telah terjadi."

"Kuingatkan kau, bahwa pengakuanmu ini akan dipakai untuk memberatkanmu di pengadilan," teriak Inspektur. Demikianlah hukum yang berlaku di Inggris bagi para pelaku tindak kejahatan.

Slaney mengangkat bahunya.

"Akan kulihat nanti," katanya. "Tapi aku ingin kalian tahu bahwa aku sudah kenal wanita itu sejak dia masih kecil. Kami bertujuh membentuk geng di Chicago, dan ayah Elsie adalah pemimpinnya. Dia orang yang pandai, si tua Patrick itu. Dialah yang menciptakan simbol tulisan itu, yang bagi orang yang tak mengerti artinya akan dianggap sebagai coretan anak kecil saja. Yah, tentu saja Elsie tahu sebagian cara hidup kami, tapi dia tak tahan melihat bisnis kami. Dia memiliki sedikit uang yang didapatnya sendiri secara halal, jadi dia melepaskan diri dari kami dan pergi ke London. Dia sudah ditunangkan denganku, dan seharusnya kami sudah menikah kalau saja aku berpindah profesi. Tapi, dia tak mau berhubungan dengan apa pun yang agak menyimpang dari peraturan. Aku baru tahu di mana dia berada setelah dia menikah dengan pria Inggris ini. Aku menulis surat padanya, tapi tak pernah dibalas. Lalu aku datang kemari dan karena tak ada gunanya mengirim surat, aku menuliskan pesan-pesanku di tempat-tempat yang akan terbaca olehnya.

"Yah, sampai sekarang aku sudah tinggal di dekat sini, di rumah pertanian itu, selama satu bulan. Aku menyewa kamar dan bebas keluar masuk setiap malam tanpa ada seorangpun yang tahu, Aku telah berusaha keras membujuk Elsie agar mau melarikan diri denganku. Aku tahu dia pasti membaca pesan-pesanku, karena dia pernah menuliskan jawaban di bawah salah satu pesanku. Lama-lama habislah kesabaranku, dan aku mulai mengancamnya. Dia lalu mengirim sepucuk surat, memohon dengan sangat agar aku segera meninggalkannya, dan dia mengatakan bahwa hatinya akan hancur kalau sampai ada skandal yang menimpa suaminya. Dia berkata bahwa dia bersedia berbicara padaku lewat jendela paling ujung pada jam tiga keesokan paginya sementara suaminya masih tidur, dengan syarat aku akan meninggalkan tempat ini dan membiarkannya hidup tenang. Dia memenuhi janjinya dan dia juga membawa sejumlah uang, mencoba menyuapku agar aku mau pergi. Aku menjadi sangat marah. Kutangkap lengannya dan kutarik dia keluar dari jendela. Pada saat itulah suaminya berlari memasuki ruangan dengan pistol di tangan. Elsie terjatuh ke lantai, sehingga suaminya dan diriku jadi saling berhadapan. Aku bersiap untuk melarikan diri sambil mengacungkan pistolku kepadanya untuk menakut-nakutinya. Dia menembakku, tapi tak kena. Pada saat yang hampir bersamaan aku juga menarik pelatuk pistolku, dan dia terjatuh. Aku berlari menyeberangi taman, dan masih sempat kudengar jendela di belakangku ditutup oleh seseorang. Begitulah sebenarnya, Tuan-tuan, dan aku tak mendengar apa-apa lagi tentang hal itu sampai aku terjeblos ke dalam perangkap kalian."

Sementara pria Amerika tadi berkata-kata, sebuah kereta mendekat. Ada dua orang polisi di dalamnya. Inspektur Martin bangkit berdiri dan menepuk pundak tawanannya.

"Mari kita berangkat"

"Bisa aku menengoknya sebentar?"

"Tidak, dia tak sadarkan diri. Mr. Sherlock Holmes, kalau ada kasus yang rumit lagi, saya ingin menanganinya bersama Anda." .

Kami melihat dari jendela ketika kereta meninggalkan tempat itu. Ketika aku berbalik, aku melihat surat yang ditaruh di meja oleh tawanan tadi, yang berisi pesan yang ditulis oleh Sherlock Holmes.

"Coba, bisakah kau membacanya, Watson?" katanya sambil tersenyum.

Tak ada tulisan di surat itu, hanya sebaris gambar orang menari seperti ini:
"Kalau kaupakai kode-kode yang telah kujelaskan," kata Holmes, "kau akan membaca pesan yang berbunyi 'Come here at once.' Aku yakin undangan ini tak akan ditolaknya, karena dia pasti menduga bahwa yang menulis surat adalah wanita itu. Jadi, sobatku Watson, kita akhirnya berhasil memanfaatkan gambar orang menari yang selama ini telah sering dijadikan alat kejahatan, dan kurasa aku telah memenuhi janjiku untuk memberimu bahan tulisan yang unik. Kereta api yang akan kita tumpangi berangkat jam tiga empat puluh, sehingga kita akan tiba kembali di Baker Street tepat pada waktu makan malam."

Sepatah kata penutup.

Pria Amerika bernama Abe Slaney itu dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan musim dingin di Norwich. Tapi kemudian karena ada keringanan berdasarkan kepastian bahwa Hilton Cubitt telah terlebih dulu menembaknya, hukumannya diubah menjadi hukuman kerja paksa.

Sedangkan mengenai Mrs. Hilton Cubitt, aku hanya mendengar bahwa dia akhirnya berhasil sembuh total. Dia tak menikah lagi, dan hidupnya diabdikan untuk menolong orang-orang miskin dan mengurus harta milik suaminya.