BULAN Juli yang datang langsung sesudah pernikahanku tak mungkin kulupakan karena ada tiga kasus menarik yang melibatkan diriku dengan Sherlock Holmes dan gaya kerjanya. Aku menemukan catatan itu dengan judul-judul Petualangan Noda Kedua, Petualangan Dokumen Angkatan Laut, dan Petualangan Kapten yang Sudah Lelah. Kisah pertama berhubungan dengan hal-hal yang amat penting, dan menyangkut banyak keluarga kerajaan, sehingga tak mungkin mempublikasikannya saat ini. Tapi, tak ada kasus lain yang pernah ditangani Holmes, yang dengan jelas menggambarkan nilai metode-metodenya yang analitis atau yang telah begitu mengesankan orang-orang yang kenal dekat dengannya, kecuali kisah yang satu ini. Aku tetap menyimpan rapi laporan wawancara waktu temanku menjelaskan fakta-fakta kasus itu yang sebenarnya kepada Monsieur Dubuque dari Kepolisian Paris, dan kepada Fritz von Waldbaum, seorang spesialis kriminal terkenal dari Danzig. Kedua orang itu telah berusaha keras menangani kasus tersebut, tapi ternyata hanya berhasil mendapatkan fakta-fakta yang kurang penting saja. Mungkin nanti pada abad berikutnya, barulah kisah itu boleh dipublikasikan tanpa membawa dampak-dampak yang tak diinginkan. Sementara ini, aku lalu mengamati kisah kedua di daftar catatanku yang juga mengandung kejadian-kejadian unik yang menyangkut kepentingan nasional.

Waktu masih sekolah dulu, aku kenal baik dengan seorang teman sebaya bernama Percy Phelps yang dua kelas di atasku. Anak ini cerdas sekali dan selalu mendapat hadiah yang disediakan oleh sekolah kami. Dia juga berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Universitas Cambridge yang terkenal itu. Seingatku, dia berasal dari keluarga terpandang. Lord Holdhurst, politikus terkenal dari Partai Konservatif, adalah saudara lelaki ibunya. Latar belakangnya yang hebat ini tak berarti apa-apa baginya di sekolah; malah sebaliknya, kami suka menggodanya kalau sedang bermain bersama-sama dan kami pernah memukul kakinya dengan tongkat. Tapi ketika dia dewasa dan tampil di percaturan dunia, semuanya jadi lain. Samar-samar aku mendengar bahwa kemampuan dan pengaruh keluarganya telah membawa-nya menduduki jabatan penting di Kementerian Luar Negeri. Aku tak banyak tahu lagi tentang dia, sampai aku menerima sepucuk surat darinya:

Briarbrae, Woking.

Watson yang terhormat, Aku yakin kau ingat pada Phelps "si kodok kecil", yang waktu itu duduk di kelas lima, sedang kau di kelas tiga. Mungkin kau sudah mendengar juga bahwa atas pengaruh pamanku, aku mendapat jabatan penting di Kementerian Luar Negeri. Aku mendapat kehormatan dan kepercayaan. Tapi lalu tiba-tiba aku mengalami kemalangan yang menghancurkan karierku.

Aku tak perlu menjelaskan peristiwa malang itu secara rinci. Kalau kau bersedia memenuhi permintaanku, aku mungkin akan menceritakannya kepadamu. Aku baru saja sembuh dari sakit radang otak selama sembilan minggu, dan tubuhku masih amat lemah. Bisakah kau ajak temanmu Mr. Holmes kalau kau bersedia mengunjungiku? Aku mau minta pendapatnya tentang kasusku ini, walaupun yang berwajib mengatakan bahwa tak ada lagi yang bisa kulakukan. Tolong bawalah dia kemari secepatnya. Satu menit rasanya panjang sekali bagiku karena hidupku diliputi ketegangan. Katakan padanya bahwa baru sekarang aku bisa minta nasihatnya, bukan karena aku tidak menghargai kemampuannya, tetapi karena sejak peristiwa yang sangat memukulku itu, aku tak ingat apa-apa lagi. Sekarang aku sudah agak baikan, walaupun aku masih belum boleh berpikir terlalu berat karena bisa-bisa penyakitku kambuh kembali. Aku masih demikian lemahnya sampai untuk menulis surat ini saja aku mendiktekan isinya untuk dituliskan oleh orang lain. Tolong usahakan agar dia bisa mengunjungiku bersamamu.

Teman sekolahmu dulu, Percy Phelps.

Ada sesuatu yang mengharukan hatiku ketika membaca surat itu, yaitu permohonannya yang mendesak untuk membawa Holmes ke tempatnya. Aku begitu terharunya sampai-sampai seandainya sulit pun aku bertekad untuk mengupayakan agar Holmes bersedia memenuhi ajakanku. Tapi tentu saja Holmes tidak perlu dibujuk. Dia mencintai pekerjaannya dan dia pasti mau menolong kawanku. Istriku juga sepaham denganku bahwa aku harus menghubungi Holmes secepatnya. Begitulah, setelah makan pagi, aku bergegas pergi ke Baker Street

Holmes sedang duduk dan asyik melakukan suatu percobaan kimia di meja samping. Dia mengenakan pakaian rumah. Sebuah tabung kimia yang melengkung sedang dipanaskan di atas kompor Bunsen yang nyala apinya kebiru-biruan, sedang tetesan-tetesan air yang telah disuling di alirkan ke tabung berukuran dua liter. Dia tak menoleh ketika aku memasuki kamarnya. Tahulah aku, bahwa dia benar-benar sedang melakukan sebuah percobaan yang penting. Aku lalu duduk di kursi yang berlengan dan menunggu. Dia mengisi botol-botol, mengambil beberapa tetes dari tiap botol dengan pipet kaca, lalu akhirnya menaruh tabung percobaan berisi larutan di meja. Ada secarik kertas lakmus di tangan kanannya.

"Kau datang pada saat yang kritis, Watson," katanya. "Kalau kertas ini tetap berwarna biru, berarti beres. Tapi kalau warnanya berubah menjadi merah, besar artinya bagi nyawa seseorang." Dimasukkannya kertas itu ke dalam tabung percobaan, dan warnanya langsung berubah menjadi merah tua. "Hm! Sudah kuduga!", teriaknya. "Tunggu sebentar ya, Watson. Ada rokok di kotak Persia itu." Dia kembali ke mejanya dan menuliskan beberapa telegram yang lalu langsung diserahkannya kepada pesuruh. Kemudian dia menjatuhkan dirinya ke kursi di depanku. Diangkatnya kedua kakinya sehingga lututnya menyentuh dagunya yang kurus dan panjang.

"Pembunuhan biasa," katanya. "Kurasa kau punya kasus yang lebih menarik. Bukankah kau penulis kisah kriminal yang mengagumkan, Watson? Nah, kasus apa kali ini?"

Kuserahkan surat itu kepadanya, dan dia membacanya dengan penuh perhatian.

"Kok, cuma begini, ya?" komentarnya sambil mengembalikan surat itu padaku.

"Memang."

"Tapi tulisannya menarik perhatian."

"Itu bukan tulisannya."

"Tepat. Itu tulisan seorang wanita."

"Tulisan seorang pria. Aku yakin itu!" teriakku.

"Bukan, itu tulisan seorang wanita; nyentrik lagi. Coba lihat, sebagai awal penyelidikan, cukup menarik untuk diketahui bahwa klien kita ini berhubungan erat dengan seseorang yang nyentrik. Aku mulai tertarik pada kasus ini. Kalau kau sudah siap, kita akan segera berangkat ke Woking untuk menemui diplomat yang terjerat kasus berat ini dan wanita yang menuliskan suratnya."

Kami beruntung karena dapat mengejar kereta api pagi di Stasiun Waterloo. Tak sampai satu jam kami sudah sampai ke kota Woking yang rindang oleh pohon-pohon cemara dan tanaman-tanaman lain yang lebih pendek. Briarbrae ternyata rumah yang besar sekali dan letaknya agak terpencil dengan halaman yang amat luas. Dari stasiun kami berjalan beberapa menit untuk mencapai rumah itu. Setelah menunjukkan kartu nama, kami dipersilakan masuk ke ruang tamu yang indah. Beberapa menit kemudian seorang pria yang cukup gagah menemui kami dengan sangat ramah. Usianya mungkin hampir empat puluh, tapi pipinya yang kemerah-merahan dan matanya yang menyorotkan kegembiraan memberi kesan bagaikan seorang anak kecil yang nakal dan menggemaskan.

"Saya senang sekali Anda berdua sudah datang," katanya sambil menyalami kami dengan sangat emosional. "Percy telah menunggu-nunggu Anda sepanjang pagi ini. Ah, kasihan, dia benar-benar putus asa. Orangtuanya meminta saya untuk menemui Anda, karena mereka tak tahan setiap kali mendengar kasus anaknya dikisahkan lagi."

"Kami belum mendengar rinciannya," kata Holmes. "Anda bukan anggota keluarga di sini, kan?"

Orang yang baru kami kenal itu terkejut, namun setelah melihat ke bawah sejenak, dia tertawa.

"Oh, Anda pasti melihat singkatan J.H. di gantungan kalung saya ini," katanya. "Tadinya saya kira Anda bisa menebak dengan jitu. Nama saya Joseph Harrison, dan adik perempuan saya, Annie, adalah tunangan Percy. Jadi, kalau nanti mereka menikah, saya termasuk keluarganya juga, kan. Adik saya ada di kamarnya. Dia setia merawat Percy selama dua bulan ini. Mari, sebaiknya kita ke sana sekarang juga karena dia sudah tak sabar lagi untuk bertemu dengan Anda berdua."

Kamar itu terletak di lantai bawah. Di samping berfungsi sebagai kamar tidur, kamar itu dilengkapi pula dengan ruang duduk. Sudut-sudut ruangan itu dihiasi bunga-bunga yang indah. Seorang pria muda yang sangat lemas dan pucat terbaring di sofa dekat jendela yang terbuka. Dari situ tercium bau taman yang harum dan bau udara musim panas yang segar. Seorang wanita duduk di sebelahnya, dan dia bangkit berdiri ketika melihat kami masuk.

"Apakah sebaiknya aku pergi dulu, Percy?" tanyanya.

Percy menggenggam tangan wanita itu sebagai tanda agar dia tetap tinggal di situ. "Apa kabar, Watson?" tanyanya dengan hangat. "Wah, aku tak mengenalimu karena kumismu itu, dan kau pasti tak menyangka akan bertemu denganku. Yang bersamamu pastilah temanmu yang terkenal itu, Mr. Sherlock Holmes?"

Kuperkenalkan mereka dengan singkat, lalu kami berdua duduk. Orang yang gagah tadi sudah meninggalkan kami, tapi saudara wanitanya tetap tinggal di kamar itu, dengan tangannya tetap menggenggam tangan pria yang sakit itu. Wanita itu cantik rupawan walaupun tak begitu tinggi dan agak gemuk. Kulitnya halus berwarna terang, matanya bulat berwarna gelap yang merupakan ciri khas mata orang Italia, dan rambut hitamnya sangat lebat. Kontras sekali dengan wajah putih yang lesu dan cekung dari pria di sampingnya.

"Saya tak ingin membuang-buang waktu Anda," katanya sambil menegakkan duduknya di sofa. "Saya akan segera mengisahkan kasus saya tanpa basa-basi. Dulu, saya adalah orang yang bahagia dan sukses Mr. Holmes, dan hampir menikah, ketika nasib malang tiba-tiba menghancurkan semua harapan hidup saya.

"Mungkin Watson sudah menceritakan pada Anda, bahwa saya bekerja di Kementerian Luar Negeri, dan atas pengaruh paman saya, Lord Holdhurst, karier saya maju dengan pesat dan saya berhasil memegang jabatan penting. Ketika paman saya menjadi menteri luar negeri, dia mempercayakan beberapa tugas penting kepada saya, dan karena saya selalu sukses menjalankannya, akhirnya dia mulai bergantung pada kemampuan dan kelihaian saya.

"Kira-kira sepuluh minggu yang lalu—tepatnya pada tanggal 23 Mei—dia mengundang saya ke kamar pribadinya, dan setelah memuji keberhasilan tugas-tugas saya selama ini, dia memberitahu saya bahwa ada tugas penting lagi yang akan dipercayakannya pada saya.

"'Ini,' katanya sambil mengambil sebuah gulungan kertas berwarna abu-abu dari lemarinya, 'adalah berkas asli berisikan perjanjian rahasia antara Inggris dan Italia. Sayangnya, desas-desus tentang hal ini sudah sampai ke tangan wartawan. Jadi untuk selanjutnya tak boleh sampai bocor. Ingat itu! Kedutaan Rusia atau Prancis akan bersedia membayar mahal untuk mendapatkan isi berkas ini. Sebetulnya berkas ini tak boleh keluar dari lemari saya, tapi sekarang saya amat membutuhkan salinannya. Ada meja tulis di kamarmu?'

"'Ada, sir.'

"'Nah, ambillah berkas ini dan simpan di tempat terkunci di kamarmu. Akan kuatur supaya kau tetap tinggal sementara pegawai-pegawai lain sudah pulang, supaya kau bisa menyalin berkas itu dengan aman, tanpa risiko dilihat seseorang. Kalau sudah selesai, baik berkas asli maupun salinannya harus kausimpan dengan baik pula di tempat terkunci, lalu serahkan padaku secara langsung besok pagi.'

"Saya terima berkas itu, dan..."

"Sebentar," kata Holmes, "apakah tak ada orang lain di kamar pamanmu ketika pembicaraan ini berlangsung?"

"Saya jamin tak ada."

"Besarkah kamar itu?"

"Tiap sisi panjangnya kira-kira sembilan meter."

"Anda berdua berada di tengah ruangan?"

"Ya, kira-kira begitulah."

"Dan bicaranya pelan-pelan?"

"Suara paman saya memang tak pernah keras. Sedangkan saya tak banyak bicara."

"Terima kasih," kata Holmes sambil menutup matanya "silakan dilanjutkan."

"Saya melakukan apa yang dimintanya, dan menunggu sampai pegawai-pegawai lainnya meninggalkan kantor. Salah satu pegawai di ruangan saya yang saat itu tinggal adalah Charles Gorot karena masih ada tugas yang harus diselesaikannya. Saya lalu meninggalkannya untuk pergi makan malam. Ketika saya kembali, dia sudah pulang. Saya bergegas mengerjakan tugas saya karena Joseph, pria yang menemui Anda berdua tadi, datang ke London, dan dia akan pergi ke Woking dengan kereta api jam sebelas malam, dan saya ingin sekali pulang bersamanya.

"Ketika saya memperhatikan berkas perjanjian itu, sadarlah saya bahwa berkas itu memang amat penting. Pantaslah paman saya sampai memperingatkan saya agar ekstra hati-hati. Secara garis besar, berkas itu menunjukkan posisi Inggris Raya dalam Aliansi Tiga Negara dan memberikan bayangan tentang kebijaksanaan negara ini dalam peristiwa perebutan jajahan Italia di Laut Tengah oleh armada Prancis. Pernyataan-pernyataan perjanjian itu hanya menyangkut angkatan laut, yang ditandatangani oleh pejabat pejabat tinggi di akhir perjanjian itu. Setelah melihat berkas itu sekilas, saya lalu memutuskan untuk segera mulai membuat salinannya.

"Dokumen yang ditulis dalam bahasa Prancis itu cukup panjang, berisikan dua puluh enam artikel yang terpisah-pisah. Saya menyalin secepat mungkin, tapi ketika waktu menunjukkan jam sembilan malam saya baru selesai menyalin sembilan artikel. Berarti tak mungkin saya akan bisa pulang dengan kereta api seperti yang saya rencanakan sebelumnya. Saya merasa ngantuk dan bingung. Mungkin akibat makan malam dan tugas hari itu yang amat melelahkan. Saya membutuhkan secangkir kopi untuk menyegarkan pikiran saya. Seorang satpam tinggal di kantor itu sepanjang malam. Pos jaganya berupa sebuah ruangan kecil yang terletak di kaki tangga. Biasanya dia membuat kopi untuk pegawai-pegawai yang bekerja lembur. Saya lalu membunyikan bel untuk memanggilnya.

"Herannya, yang datang malah seorang wanita tua yang gemuk dan berwajah kasar yang mengenakan celemek. Dia memperkenalkan dirinya sebagai istri Satpam, dan dia siap melayani saya. Saya lalu memesan kopi.

"Saya melanjutkan menulis dua artikel lagi, tapi karena tak tahan rasa ngantuk yang amat sangat, saya berdiri dan berjalan sekeliling ruangan untuk melemaskan kaki. Kopi yang saya pesan tak kunjung tiba, dan saya ingin tahu apa sebabnya. Saya membuka pintu dan mulai menyusuri lorong. Ada lorong lurus yang gelap di luar kamar saya dan itulah satu-satunya jalan keluar. Lorong itu berakhir di belokan menuju tangga, dan ruangan satpam ada tepat di bawah tangga itu. Tangga ini terdiri dari dua bagian. Di tengahnya ada jalan ke kanan yang dilanjutkan dengan tangga sempit menuju ke pintu samping yang dipakai oleh para pelayan dan pegawai yang ingin memotong jalan dari Charles Street. Ini denah tempat itu."

"Terima kasih. Saya bisa mengikuti kisah Anda," kata Sherlock Holmes.

"Ada hal sangat penting yang perlu Anda ketahui. Setelah saya menuruni tangga dan sampai di bawah, saya menemukan Satpam sedang tidur di kamarnya, sedangkan ceret airnya berbunyi nyaring sekali karena airnya sudah mendidih dan bersemburan ke lantai. Saya baru saja mau membangunkannya dari tidurnya yang amat nyenyak itu, ketika bel di atas kepalanya berbunyi dan dia terbangun karena kaget.

"'Mr. Phelps, sir!' teriaknya sambil memandang kepada saya dengan terkejut.

"'Saya kemari untuk menanyakan apakah kopi saya sudah siap.'

"'Saya tadi sedang mendidihkan air, dan saya lalu tertidur, sir.' Dia memandang saya dan bel yang bergetar itu secara bergantian dengan penuh keheranan.

"'Kalau Anda berada di sini, sir, lalu siapa yang memencet bel?' tanyanya.

"'Bel!' kataku. 'Bel dari kamar siapa itu?'

"'Dari kamar Anda.'

"Jantung saya terasa dijepit oleh sebuah tangan yang dingin. Jadi, seseorang berada di kamar kerja saya. Padahal berkas yang amat bcrharga itu juga tergeletak di meja kamar itu. Bagai dikejar setan saya segera berlari menaiki tangga. Tak ada seorang pun di koridor atas, Mr. Holmes. Dan tak ada seorangpun di kamar saya. Semuanya seperti tadi ketika saya tinggalkan, kecuali berkas yang dipercayakan pada saya. Seseorang telah mengambilnya dari meja saya. Salinannya masih ada. Yang diambil berkas aslinya."

Holmes menegakkan duduknya dan mengusap-usap kedua tangannya. Aku tahu bahwa masalah ini menarik hatinya.

"Lalu, apa yang Anda lakukan?" gumamnya.

"Saya langsung menyadari bahwa pencurinya pasti telah masuk dari pintu samping di lantai bawah itu. Karena kalau dia lewat pintu satunya, pasti berpapasan dengan saya."

"Menurut Anda, dia tak mungkin bersembunyi di kamar Anda atau di koridor yang gelap itu sebelumnya?"

"Hal itu tak mungkin. Tikus saja pasti akan kelihatan kalau bersembunyi di situ. Tak ada tempat untuk bersembunyi sama sekali."

"Terima kasih. Silakan dilanjutkan."

"Satpam, ketika menyadari dari wajah saya yang pucat bahwa ada sesuatu yang saya takutkan, langsung mengikuti saya ke atas. Kami berdua berlarian sepanjang koridor lalu menuruni tangga sempit yang menuju ke Charles Street. Pintu di lantai bawah itu tertutup tapi tak dikunci. Kami menerobos pintu itu dan berlari keluar. Samar-samar saya ingat bahwa saat itu lonceng gereja di dekat situ berdentang tiga kali yang menunjukkan jam sepuluh kurang seperempat."

"Fakta itu penting sekali," kata Holmes sambil mencatatnya di manset lengan bajunya.

"Malam itu gelap sekali dan sedang hujan rintik-rintik. Tak terlihat ada orang di Charles Street, tapi lalu lintasnya sibuk sekali seperti biasanya di daerah Whitehall. Kami berlari di trotoar, kehujanan, sampai kami menjumpai seorang polisi yang sedang berdiri di sudut jalan.

"'Ada perampokan,' kata saya tersengal-sengal. 'Sebuah dokumen yang amat penting telah dicuri dari kantor Kementerian Luar Negeri. Apakah Anda melihat ada orang lewat di sini?'

"'Saya sudah berdiri di sini selama seperempat jam, sir,' katanya, 'yang lewat hanya seorang wanita tua tinggi yang memakai syal dari bahan wol.'

"'Ah, itu kan istri saya,' teriak Satpam 'Ada orang lain yang lewat?'

"'Tak ada.'

"'Kalau begitu pencurinya pasti lewat arah satunya,' teriaknya sambil menggamit lengan saya.

"Tapi saya menjadi ragu, dan upayanya untuk mengajak saya mengejar ke arah lain malah menambah kecurigaan saya.

"'Menuju ke mana wanita tadi?' tanya saya sambil berteriak.

"'Saya tak tahu, sir. Saya hanya melihat dia lewat, tapi saya tak memperhatikannya. Tampaknya dia tergesa-gesa tadi.'

"'Sudah berapa lamakah sejak Anda lihat dia?'

"'Oh, baru beberapa menit yang lalu.'

"'Lima menit?'

"'Yah, tak lebih dari lima menit yang lalu.'

"'Anda hanya buang-buang waktu, sir, sedangkan tiap menit bisa sangat berarti,' teriak Satpam. 'Percayalah, istri saya tak ada hubungahnya dengan pencurian ini, dan mari kita coba mengejar ke arah lain. Yah, kalau Anda keberatan, saya akan lakukan sendiri saja.' Sambil berkata demikian, dia berlari ke arah yang lain.

"Saya segera menyusulnya dan menangkap lengan bajunya.

"'Di mana rumahmu?' tanya saya.

"'Di Jalan Ivy Lane Nomor 16, Brixton,' jawabnya, 'tapi jangan salah sangka, Mr. Phelps. Mari ke ujung jalan ini dulu, siapa tahu kita bisa mendapatkan sesuatu.'

"Ya, tak ada ruginya mengikuti sarannya. Bersama dengan polisi tadi kami berlari sampai ke ujung jalan, tapi kami tak menemukan apa-apa kecuali lalu lintas yang sibuk di malam yang basah itu. Tak ada orang yang dapat memberitahu kami tentang siapa yang terlihat lewat di situ.

"Kami lalu kembali ke gedung Kementerian, lalu memeriksa tangga dan koridor tanpa hasil apa-apa. Lantai koridor yang menuju kamar kerja saya terbuat dari linoleum yang mudah sekali menunjukkan jejak. Kami mengamatinya dengan saksama, tapi kami tak menemukan jejak kaki."

"Apakah hujan turun sepanjang malam itu?"

"Kira-kira mulai jam tujuh."

"Lalu, bagaimana mungkin wanita yang masuk ke kamar Anda kira-kira jam sembilan itu tak meninggalkan bekas lumpur dari sepatunya?"

"Senang sekali Anda menanyakan hal itu. Saya juga berpikir demikian waktu itu. Tapi ternyata wanita-wanita pelayan itu biasa menyimpan sepatu mereka di kamar satpam, lalu mereka ganti memakai sandal."

"Oh, begitu. Jadi tak ditemukan jejak kaki, padahal malam itu hujan? Rangkaian kejadiannya cukup unik. Apa yang Anda lakukan kemudian?"

"Kami juga mengamati kamar kerja saya. Tak ditemukan kemungkinan adanya pintu rahasia, dan jendelanya amat tinggi. Keduanya terkunci dari dalam. Karpetnya juga tak menyembunyikan pintu jebakan, dan atapnya berwarna putih seperti kebanyakan. Saya benar-benar yakin bahwa siapa pun pencurinya pasti lewat pintu satu-satunya itu."

"Bagaimana dengan perapian?"

"Kami tak pernah pakai perapian. Kami pakai kompor pemanas. Tali bel tergantung di sebelah kanan meja saya. Orang yang membunyikan bel tadi pasti sengaja menghampiri meja saya. Tapi untuk apa dia membunyikan bel? Benar-benar misteri yang tak terpecahkan."

"Ya, itu memang aneh. Apa yang Anda lakukan kemudian? Anda mengamati kamar kerja Anda untuk menemukan jejak, kan? Apakah Anda menemukan puntung rokok, sarung tangan, jepit rambut, atau barang-barang kecil lainnya?"

"Saya tak menemukan barang-barang seperti itu."

"Anda mencium bau tertentu?"

"Ya, kami tak berpikir sampai ke situ."

"Ah, bau rokok bisa sangat berarti dalam penyelidikan semacam ini."

"Saya sendiri tak merokok, jadi saya rasa saya akan mencium bau rokok kalau memang ada. Nampaknya memang tak ada. Satu-satunya fakta yang jelas ialah bahwa istri Satpam—Mrs. Tangey namanya—waktu itu meninggalkan gedung itu dengan tergesa-gesa. Suaminya tak bisa memberi alasan mengapa istrinya berbuat demikian, kecuali bahwa saat itu memang sudah waktunya bagi istrinya untuk pulang. Saya dan polisi memutuskan sebaiknya segera menangkap wanita itu sebelum dia menyerahkan berkas itu kepada orang lain, kalau berkas itu memang ada padanya.

"Berita kehilangan ini langsung terdengar oleh Scotland Yard, dan Mr. Forbes, detektif itu, langsung datang begitu mendengar berita itu dan berjanji akan menangani kasus ini dengan sungguh-sungguh. Kami menyewa kereta, dan setengah jam kemudian kami tiba di rumah Satpam. Seorang wanita muda, yang ternyata adalah putri Mrs. Tangey yang paling tua, membukakan pintu. Dia mengatakan bahwa ibunya belum pulang, dan kami dipersilakan menunggu.

"Kira-kira sepuluh menit kemudian terdengar pintu diketuk orang, dan waktu itu kami membuat kesalahan yang serius. Saya tak henti-hentinya menyalahkan diri saya sendiri untuk kesalahan ini, yaitu karena bukan kami yang membukakan pintu, tapi gadis itulah yang melakukannya. Kami mendengar dia berkata, 'Ibu ada dua orang tamu ingin bertemu denganmu,' dan tiba-tiba kami mendengar ada orang berlari di gang di samping rumah itu. Forbes menerobos keluar dari pintu itu, dan kami berdua pun lalu berlari mengejar menuju ruangan di belakang atau dapur, tapi wanita itu telah mendahului kami sampai di situ. Dia memandang kami dengan mata menantang, dan ketika dia mengenali saya, wajahnya pun berubah menjadi terheran-heran.

"'Oh, Mr. Phelps yang di kantor tadi, kan!' teriaknya.

"'Ayolah, ayolah, kau kira kami ini siapa sehingga kau melarikan diri seperti itu?' tanya teman saya.

"'Saya kira Anda berdua makelar,' katanya. 'Kami sedang ribut dengan seorang pedagang.'

"'Jangan pura-pura begitu,' jawab Forbes. 'Kami punya alasan untuk menuduh bahwa kau telah mengambil berkas penting dari kantor Kementerian, dan kau lalu lari pulang untuk menyembunyikannya. Kau harus ikut kami ke Scotland Yard untuk digeledah.'

"Dia menolak dan menyangkal dengan amat sengit, tapi tak berkutik. Kami bertiga lalu meninggalkan rumah itu setelah mengamati dapurnya, terutama perapiannya, untuk mengecek kalau kalau dia telah membuang berkas itu di situ sebelum kami tiba. Tapi tak ada bekas-bekas yang mendukung hal itu. Ketika kami sampai di Scotland Yard, seorang polisi wanita segera diminta untuk menggeledahnya. Kami menunggu dengan rasa tak sabar sampai polisi wanita itu melaporkan hasilnya. Berkas itu tak ditemukan di tubuh wanita itu.

"Untuk pertama kalinya saya menyadari situasi yang sedang saya hadapi. Sampai saat itu saya sibuk beraksi, sehingga tak sempat berpikir. Saya begitu yakinnya bahwa berkas itu akan segera saya temukan, sehingga saya tak sempat memikirkan bagaimana kalau ternyata gagal. Tapi sekarang tak ada lagi yang bisa dilakukan dan saya menyadari keadaan saya. Mengerikan sekali! Watson tahu bagaimana sensitif dan penggugupnya saya sejak masih sekolah. Memang begitulah sifat saya. Saya memikirkan paman saya dan teman-temannya di Kabinet, betapa saya telah memalukannya, betapa saya telah memalukan diri saya sendiri, dan betapa saya telah memalukan semua orang yang berkaitan dengan diri saya. Mengapa malapetaka ini menimpa saya? Tak ada maaf bagi kesalahan yang membahayakan kepentingan diplomatik. Saya benar-benar hancur secara amat memalukan dan tak ada harapan lagi. Saya tak tahu apa yang saya lakukan setelah itu. Mungkin saya telah membuat geger. Saya hanya ingat bahwa beberapa polisi mengerumuni saya dan berusaha menenangkan saya. Salah satu dari mereka lalu menemani saya ke Stasiun Waterloo dan mengantar sampai saya berada di dalam kereta api yang menuju Woking. Sebenarnya dia mau terus menemani saya sepanjang perjalanan, tapi di kereta itu kami bertemu dengan Dr. Ferrier, yang tinggal dekat rumah saya. Dokter itu lalu bersedia menemani saya, dan sungguh beruntung saya bersamanya waktu itu, karena di stasiun berikutnya saya mulai meronta-ronta lagi, dan saya diantar ke rumah dalam keadaan mengamuk seperti orang gila.

"Bayangkan betapa kagetnya seluruh isi rumah ketika mereka terbangun dari tidur karena bunyi bel pintu, dan mendapatkan saya dalam keadaan demikian. Kasihan Annie dan ibu saya. Mereka benar-benar terpukul. Dr. Ferrier yang tadi sempat diberitahu oleh Pak Detektif tentang peristiwa ini, lalu berusaha menjelaskannya pada keluarga saya, tapi itu pun tak banyak menolong keadaan. Yang mereka tahu hanyalah bahwa saya dibawa pulang karena saya menderita sakit yang berat. Maka Joseph lalu disuruh pindah dari kamar yang indah ini, dan jadilah kamar perawatan saya di sini. Saya sudah berbaring di sini selama sembilan minggu, Mr. Holmes, lebih sering dalam keadaan tak sadar, karena radang otak yang berat. Untung ada Miss Harrison di samping saya dan dokter yang merawat saya. Kalau tidak, mungkin saya sudah tak bisa berbicara kepada Anda saat ini. Dialah yang merawat saya sepanjang hari, sedang kalau malam ada suster yang menggantikannya menunggui saya, karena kalau saya sedang kumat saya mampu melakukan hal-hal yang berbahaya. Lambat laun pikiran saya menjadi agak jernih, tapi baru tiga hari terakhir inilah ingatan saya kembali normal. Kadang kadang saya berpikir sebaiknya saya tak ingat apa-apa lagi saja untuk selamanya. Begitu ingatan saya kembali normal, saya langsung mengirim telegram kepada Mr. Forbes, karena dialah yang menangani kasus saya. Dia lalu datang kemari dan menjelaskan bahwa walaupun dia sudah berusaha semaksimal mungkin, dia tak menghasilkan apa-apa. Satpam dan istrinya telah diperiksa dengan saksama, tapi tak ada titik terang. Kemudian kecurigaan polisi beralih ke Gorot yang masih muda itu, karena dia bekerja lembur malam itu dan namanya nama Prancis. Tapi saya sebetulnya baru mulai bekerja setelah dia pulang, dan meskipun dia masih keturunan kaum Huguenot, perilaku dan kesetiaannya sudah seperti orang Inggris, seperti halnya Anda dan saya. Tak ada bukti-bukti yang menjurus kepada keterlibatannya. Maka macetlah kasus itu sampai di situ. Saya lalu teringat Anda, Mr. Holmes, sebagai harapan terakhir saya. Kalau Anda menolak, maka kehormatan dan jabatan saya akan hilang untuk selamanya."

Orang yang sakit itu lalu kembali berbaring di bantalnya karena kelelahan setelah mengisahkan semuanya ini. Tunangannya—yang juga merangkap sebagai perawatnya—menuangkan segelas obat untuk menguatkannya. Holmes duduk diam dengan kepala tengadah dan mata tertutup. Orang yang tak tahu pasti akan merasa heran akan tingkahnya itu. Tapi aku tahu benar, beginilah sikapnya kalau dia sedang menyerap fakta sambil memikirkan kesimpulan-kesimpulan yang bisa diambilnya.

"Uraian Anda jelas sekali," katanya pada akhirnya, "sehingga saya tak perlu banyak bertanya lagi. Hanya ada satu pertanyaan yang sangat penting. Apakah sebelum ini Anda pernah mengatakan pada orang lain bahwa Anda dipercayai untuk melakukan tugas khusus itu?"

"Tidak."

"Juga tidak kepada Miss Harrison ini, misalnya?"

"Tidak. Saya belum kembali ke Woking setelah mendapat tugas itu dan mulai mengerjakannya."

"Dan tak ada satu anggota keluarga pun yang kebetulan menemui Anda di kantor waktu itu?"

"Tidak ada."

"Apakah mereka tahu kantor Anda?"

"Oh, ya, saya pernah menunjukkannya pada mereka semua."

"Dan, tentu saja, kalau Anda memang tak mengatakan tentang berkas ini kepada siapa pun, pertanyaan-pertanyaan saya ini tak ada maknanya."

"Saya tak mengatakan apa-apa kepada siapa pun."

"Anda kenal baik dengan Satpam?"

"Tidak, yang saya tahu hanyalah bahwa dia bekas tentara."

"Dari resimen apa?"

"Oh, Coldstream Guards, kalau tak salah."

"Terima kasih. Saya yakin saya akan bisa mendapatkan rincian kasus ini dari Forbes. Pihak berwajib sangat sempurna kalau mengumpulkan fakta, walaupun fakta itu kadang-kadang tak dimanfaatkan mereka dengan baik. Betapa indahnya bunga mawar itu!"

Dia berjalan melewati sofa menuju ke jendela yang terbuka, dan memetik setangkai mawar lumut yang telah layu sambil mengamat-amatinya. Tingkah lakunya itu membuatku terkejut, karena belum pernah dia menunjukkan perhatiannya pada benda-benda alam sebelum ini.

"Dalam agama, penting sekali bagi seseorang untuk mengambil kesimpulan," katanya sambil menempelkan punggungnya di pinggiran jendela.

"Mengambil kesimpulannya bisa secara ilmiah. Menurut saya, kebaikan Sang Pencipta bisa kita lihat dari bunga-bunga. Hal-hal lainnya seperti kekuatan keinginan, dan makanan kita, adalah kebutuhan utama kita. Tapi bunga mawar ini diberikan secara ekstra kepada kita. Bau dan warnanya menghiasi hidup kita. Maksudnya, tidak merupakan keharusan bagi kita untuk memilikinya. Karena kebaikan hati-Nya lah maka kita bisa menikmati hal-hal yang ekstra. Itulah sebabnya kita juga senantiasa memiliki harapan bagaikan bunga-bunga yang bermekaran di taman."

Percy Phelps dan perawatnya memandang Holmes dengan penuh keheranan sementara dia mendemonstrasikan filsafatnya itu, dan mereka tampaknya kecewa atas tanggapannya yang seperti itu. Dia sedang melamun dengan bunga mawar lumut di genggamannya. Kami berdiam diri selama beberapa menit lalu gadis itu mengungkapkan pikirannya.

"Mampukah Anda memecahkan misteri ini, Mr. Holmes?" tanyanya dengan ketus

"Oh, misteri itu!" jawabnya seakan telah kembali dari lamunannya yang melayang tinggi entah ke mana. "Yah, saya mengakui bahwa kasus ini sangat sulit dan rumit tapi saya berjanji akan menanganinya dan akan segera memberi kabar kalau ada kemajuan."

"Sudahkah Anda mendapatkan petunjuk?"

"Dari Anda saya mendapat tujuh macam petunjuk, tapi tentu saja saya harus mengujinya satu per satu sebelum saya mengemukakan kepentingannya."

"Adakah seseorang yang Anda curigai?"

"Saya curiga jangan jangan saya..."

"Apa?"

"Terlalu cepat mengambil kesimpulan."

"Kalau begitu, sebaiknya Anda pulang dulu ke London untuk menguji kesimpulan-kesimpulan Anda."

"Saran Anda bagus sekali, Miss Harrison," kata Holmes sambil berdiri. "Kurasa, Watson, sebaiknya demikian. Jangan menuruti kata hati terhadap harapan harapan yang kosong belaka, Mr. Phelps. Kasus ini benar-benar rumit"

"Saya akan sangat penasaran untuk dapat bertemu dengan Anda lagi," teriak sang diplomat.

"Nah, besok saya akan kembali dengan kereta api pagi seperti tadi, walaupun laporan saya mungkin tak akan menyenangkan hati Anda."

"Tuhan memberkati Anda untuk janji Anda mau datang kemari besok," teriak klien kami. "Saya merasa agak segar karena ada orang yang bersedia mengerjakan sesuatu untuk masalah saya ini. Omong-omong, saya tadi menerima surat dari Lord Holdhurst"

"Ha! Apa katanya?"

"Dia kecewa, tapi dia tak sampai mengumpat-umpat diri saya. Pasti karena dia mempertimbangkan keadaan saya yang sedang sakit berat ini. Dia mengulangi betapa gawatnya masalah saya ini, dan menambahkan bahwa dia tak akan mengambil langkah apa-apa sehubungan dengan masa depan saya—yang tentu maksudnya ialah pemecatan saya—sampai kesehatan saya pulih dan bisa memperbaiki nasib saya yang malang ini."

"Yah, bagaimanapun itu cukup beralasan dan bijaksana," kata Holmes. "Yuk, Watson, ada tugas yang harus kita kerjakan di kota."

Mr. Joseph Harrison mengantar kami sampai ke stasiun kereta api, dan tak lama kemudian kami sudah berada dalam kereta api yang menuju Portsmouth. Holmes tenggelam dalam pemikiran yang dalam, dan hampir-hampir tak mengucapkan sepatah kata pun sampai kami melewati Persimpangan Clapham.

"Menyenangkan juga naik kereta api cepat seperti ini menuju London. Dari ketinggian sini kita bisa melihat rumah-rumah di bawah sana."

Kupikir dia bergurau, karena pemandangannya sebenarnya cukup kotor, tapi dia lalu menjelaskan maksudnya.

"Coba lihat deretan bangunan besar di atas atap sana itu, seperti pulau-pulau di tengah laut yang berwarna timah."

"Gedung-gedung sekolah itu?"

"Mercu-mercu suar, temanku! Cahaya masa depan! Pesawat-pesawat yang semakin lama semakin canggih itu, akan membuat Inggris menjadi negara yang lebih baik dan lebih bijaksana. Kurasa si Phelps itu tak suka minum-minum, ya?"

"Menurutku demikian."

"Aku juga. Tapi kita harus mempertimbangkan setiap kemungkinan. Pria yang malang itu sedang tenggelam di laut yang amat dalam. Akan mampukah kita menariknya ke pantai? Bagaimana pendapatmu tentang Miss Harrison?"

"Wataknya keras."

"Ya, tapi dia sebenarnya gadis yang baik, atau aku salah menilainya. Dia dan saudara laki-lakinya itu adalah anak seorang pandai besi di daerah Northumberland. Phelps bertunangan dengannya ketika berkunjung ke sana musim dingin yang lalu, dan gadis itu lalu dibawanya pulang untuk diperkenalkan kepada keluarganya. Gadis itu diizinkan pergi dengan ditemani oleh kakak laki-lakinya itu. Lalu terjadilah musibah itu, sehingga dia memutuskan untuk tinggal dan merawat kekasihnya itu. Sedangkan Joseph sang kakak pun tak keberatan untuk tetap tinggal di situ. Aku sudah melakukan beberapa penyelidikan. Tapi seharian ini kita akan melanjutkannya."

"Praktekku..."

Baru saja aku mulai berbicara, Holmes memotong dengan sengit, "Oh, kalau praktekmu memang lebih menarik dari kasus ini..."

"Aku baru mau bilang bahwa tak ada masalah dengan praktekku selama satu dua hari ini, karena memang lagi sepi."

"Bagus," katanya, kembali ke nada bicaranya yang penuh humor. "Kalau begitu, kita akan menangani masalah ini bersama. Kurasa kita sebaiknya mulai dengan menemui Forbes. Dia mungkin bisa menceritakan rincian-rincian yang kita butuhkan, sehingga kita bisa memutuskan dari mana kita akan menangani kasus ini."

"Tadi kau bilang sudah punya petunjuk." .

"Yah, memang ada beberapa, tapi kita perlu menguji semuanya dengan cara mengumpulkan sebanyak mungkin informasi. Kejahatan yang paling sulit untuk dilacak ialah kejahatan yang tak ada maksudnya. Nah, kasus ini tidak demikian. Siapa yang bisa mendapat keuntungan dari musibah ini? Mungkin Duta Besar Prancis atau orang-orang Rusia. Bisa juga orang yang menjual berkas itu kepada salah satunya, atau Lord Holdhurst"

"Lord Holdhurst!"

"Yah, bisa saja seorang negarawan merasa perlu untuk memusnahkan berkas semacam itu."

"Tidak mungkin seorang negarawan yang terhormat seperti Lord Holdhurst."

"Aku kan bilang hanya salah satu kemungkinan saja yang tidak boleh diremehkan. Kita akan menemuinya hari ini, dan nanti kita lihat apakah dia bisa menunjukkan sesuatu yang berharga bagi kita. Sementara itu, aku sudah melakukan sebuah penyelidikan baru."

"Sudah?"

"Ya, aku mengirim telegram dari Stasiun Woking ke semua koran sore di London. Iklan ini akan muncul nanti sore."

Dia menyerahkan secarik kertas yang dirobeknya dari buku notes. Kata-kata ini tertulis dengan pensil di kertas itu:

Hadiah sebesar 10 pound bagi siapa saja yang bisa menyebutkan nomor taksi yang berhenti dekat atau di depan pintu kantor Kementerian Luar Negeri di Charles Street, pada sekitar jam sepuluh kurang seperempat malam, tanggal 23 Mei. Kirim ke Baker Street 221B.

"Apakah kau yakin pencurinya datang naik taksi?"

Kalaupun tidak, ya tak apa-apa. Toh tak ada yang dirugikan. Tapi kalau Mr. Phelps berkata benar tentang tidak adanya tempat persembunyian baik di kamar kerjanya maupun di koridor, maka pencuri itu pasti masuk dari luar. Kalau dia masuk dari luar dalam cuaca hujan begitu tanpa meninggalkan bekas di lantai sebagaimana telah diamati beberapa menit kemudian, maka kemungkinannya ialah bahwa dia datang naik taksi. Ya, kurasa kesimpulannya di sini adalah bahwa dia datang naik taksi."

"Masuk akal juga."

"Itulah salah satu petunjuk yang tadi kusebutkan, yang bisa membawa sesuatu yang berarti bagi kita. Lalu, tentang bel itu—yang rasanya agak aneh. Untuk apa bel itu dibunyikan? Apakah pencurinya begitu nekatnya sampai berbuat begitu? Ataukah ada orang lain di situ yang membunyikan bel untuk mencegah terjadinya pencurian itu? Atau mungkinkah bel itu dibunyikan secara kebetulan saja? Ataukah...?" Dia kembali tepekur dalam pemikiran yang dalam. Menurut pendapatku, yang sudah mengenal betul kebiasaan-kebiasaannya, dia sepertinya tiba-tiba menemukan sebuah kemungkinan baru.

Kami tiba di London jam tiga lewat dua puluh menit. Sesudah makan siang yang tergesa-gesa di kantin stasiun, kami lalu menuju ke Scotland Yard. Holmes telah mengirim telegram kepada Forbes, dan ketika kami sampai di sana dia sudah menunggu kami. Forbes tubuhnya kecil, tapi orangnya lihai. Wajahnya kurang ramah dan sikapnya agak kaku terhadap kami, terutama ketika dia tahu untuk apa kami menemuinya.

"Saya sudah banyak mendengar tentang metode-metode Anda sebelumnya, Mr. Holmes," katanya mengejek. "Anda sekarang mau mendapatkan semua informasi yang dimiliki polisi, padahal Anda akan berusaha menyelesaikan kasus ini dengan cara Anda sendiri. Maka kalau nanti Anda berhasil, Anda lalu akan melecehkan upaya polisi selama ini, begitukah?"

"Sebaliknya," kata Holmes, "dari lima puluh tiga kasus yang berhasil saya selesaikan, nama saya hanya muncul empat kali. Sedangkan polisi mendapat penghargaan sebanyak empat puluh sembilan kali. Saya tak menyalahkan Anda kalau tak tahu hal ini, karena Anda masih muda dan belum berpengalaman tapi kalau Anda ingin karier Anda maju, Anda pasti akan bersedia bekerja sama dengan saya, bukannya malah memusuhi saya."

"Saya akan senang sekali bila Anda bersedia memberikan beberapa saran," kata detektif itu. Sikapnya langsung berubah. "Sejauh ini saya belum menemukan titik terang dari kasus ini."

"Apa saja yang telah Anda lakukan?"

"Mengawasi Tangey, si satpam itu. Tapi ternyata dia berhenti dari ketentaraan dengan baik-baik, dan kami tak menemukan hal-hal yang mencurigakan darinya. Istrinya memang bukan orang baik-baik. Saya rasa dia tahu lebih banyak dari apa yang telah diakuinya pada kami."

"Apakah istrinya kauawasi juga?"

"Kami menugaskan seorang polisi wanita untuk mengawasi dia. Mrs. Tangey suka minum-minum, dan dua kali polisi wanita itu sempat menanyainya waktu dia dalam keadaan sadar, tapi tak menghasilkan apa-apa."

"Saya dengar mereka ada utang kepada beberapa makelar di rumah mereka?"

"Ya, tapi sekarang sudah dilunasi."

"Dari mana mereka mendapatkan uang?"

"Sudah dilacak, kok. Ternyata uang pensiun Pak Satpam tepat keluar. Tidak ada tanda-tanda bahwa mereka mendapat uang dengan mendadak."

"Mengapa dia yang datang waktu Mr. Phelps membunyikan bel untuk minta kopi?"

Menurutnya, saat itu suaminya lelah sekali dan dia ingin membantunya."

"Yah, tentunya itu cocok dengan kenyataan ditemukannya Pak Satpam sedang tertidur di kursinya beberapa saat kemudian. Kalau begitu mungkin bukan mereka pelakunya, kebetulan saja tingkah laku wanita itu yang membuat kita curiga. Apakah Anda menanyakan mengapa dia meninggalkan gedung itu dengan tergesa-gesa malam itu sehingga menarik perhatian polisi jaga?"

"Katanya dia pulang terlambat dari biasanya dan ingin cepat sampai ke rumah."

"Apakah Anda katakan padanya bahwa Anda dan Mr. Phelps yang berangkat dua puluh menit kemudian, kok, bisa tiba di rumahnya lebih dulu?"

"Menurut dia, dia kan naik bus, sementara kami naik taksi."

"Lalu apakah dia menjelaskan mengapa dia langsung lari ke dapur ketika dia sampai ke rumahnya?"

"Karena uang yang akan dipakai untuk membayar makelar-makelar itu disimpan di situ."

"Berarti dia punya alasan untuk semua tingkahnya yang kita curigai. Apakah Anda menanyakan kalau-kalau dia bertemu dengan seseorang yang berkeliaran di sekitar Charles Street?"

"Dia tak melihat siapa pun kecuali polisi jaga itu."

"Wah nampaknya Anda sudah memeriksanya dengan cermat. Apa lagi yang telah Anda lakukan?"

"Pegawai yang bernama Gorot itu juga diawasi selama sembilan minggu ini, tapi tanpa hasil. Tak ada tanda-tanda yang mencurigakan."

"Ada lagi lainnya?"

"Yah, cuma itu... habis, tak ada bukti-bukti yang mendukung."

"Apa pendapat Anda tentang bel yang dibunyikan itu?"

"Yah, saya akui itu pun memusingkan saya. Bodoh sekali, siapa pun pencurinya, kalau memang dia yang membunyikan bel itu."

"Ya, aneh sekali. Terima kasih banyak atas kesediaan Anda mengatakan semua ini. Kalau saya berhasil menyimpulkan siapa pencurinya, saya akan memberitahu Anda. Mari, Watson!"

"Mau ke mana kita sekarang?" tanyaku setelah meninggalkan kantor detektif itu.

"Sekarang kita akan mewawancarai Lord Holdhurst, menteri luar negeri yang mungkin kelak akan menjadi perdana menteri Inggris."

Kami beruntung karena Lord Holdhurst masih berada di kantornya di Downing Street. Setelah Holmes menunjukkan kartu pengenalnya, kami langsung diantar ke kamar kerjanya di lantai atas. Negarawan itu menerima kami dengan keramahannya yang khas yang telah terkenal di mana-mana itu. Kami berdua dipersilakannya duduk di kursi empuk yang mewah di samping perapian. Dia sendiri berdiri di antara kami. Dengan tubuh yang ramping dan tinggi, wajah yang lonjong dan serius serta rambut ikal yang sebagian pinggirnya berwarna abu-abu, dia benar-benar tampil sebagai seorang bangsawan sejati.

"Saya mengenal nama Anda, Mr. Holmes," katanya sambil tersenyum. "Dan tentu saja saya tak perlu berpura-pura tak tahu maksud kedatangan Anda. Hanya ada satu peristiwa di kantor ini yang sampai menarik perhatian Anda. Bolehkah saya tahu, atas nama siapa Anda melakukan semua ini?"

"Atas nama Mr. Percy Phelps," jawab Holmes.

"Ah, keponakan saya yang malang itu! Anda tentu mengerti bahwa hubungan kekeluargaan kami tidak memungkinkan saya untuk melmdunginya dengan cara apa pun. Saya khawatir peristiwa itu akan sangat merugikan kariernya."

"Tapi, bagaimana kalau dokumen itu bisa ditemukan?"

"Ah, kalau begitu pasti akan lain jadinya."

"Saya mohon Anda tak keberatan untuk menjawab satu-dua pertanyaan saya, Lord Holdhurst?"

"Dengan senang hati saya akan memberikan informasi yang saya ketahui"

"Di ruangan ini kah Anda memberitahukan tentang tugas menyalin dokumen itu?"

"Benar."

"Jadi tak mungkin ada orang lain yang secara tak sengaja bisa ikut mendengar pembicaraan itu?"

"Tak mungkin."

"Apakah Anda pernah mengatakan pada orang lain bahwa Anda hendak menyuruh seseorang untuk menyalin surat perjanjian itu?"

"Tak pernah."

"Anda yakin?"

"Yakin sekali."

"Nah, karena Anda tak pernah mengatakannya pada orang lain, begitu juga Mr. Phelps, dan tak ada orang lain yang tahu tentang hal itu, maka kehadiran si pencuri di kamar kerja Mr. Phelps pastilah secara kebetulan. Lalu dia melihat ada kesempatan, dan diapun lalu mengambil berkas itu."

Negarawan itu tersenyum. "Nampaknya saya tak punya wewenang untuk mengatakan demikian," katanya.

Holmes menimbang-nimbang sejenak. "Ada satu hal penting lagi yang ingin saya bicarakan dengan Anda," katanya. "Saya dengar Anda mengkhawatirkan kemungkinan terjadinya efek-efek yang gawat kalau perjanjian itu sampai diketahui oleh beberapa pihak, betulkah?"

Wajah negarawan itu menjadi mendung. "Betul sekali."

"Apakah sudah terjadi seperti yang Anda khawatirkan?"

"Belum."

"Kalau misalkan saja perjanjian itu sudah sampai ke Kementerian Luar Negeri, Prancis atau Rusia, Anda pasti akan tahu, bukan?"

"Seharusnya demikian," kata Lord Holdhurst dengan wajah masam.

"Karena sudah berlalu hampir selama sepuluh minggu, dan tak terlihat gejala-gejala berkenaan dengan itu, maka bisakah kita menyimpulkan bahwa berkas itu belum sampai ke tangan mereka?"

Lord Holdhurst mengangkat bahunya.

"Kita kan tak mungkin membayangkan, Mr. Holmes, bahwa pencurinya mengambil berkas itu hanya untuk dijadikan hiasan dinding di rumah nya?"

"Mungkin dia sedang minta bayaran yang lebih tinggi."

"Kalau dia terus menunggu, bahkan sebentar lagi saja, dia malah tak akan mendapat apa-apa. Perjanjian itu tak akan menjadi rahasia lagi dalam beberapa bulan berikutnya ini."

"Itu penting sekali," kata Holmes. "Tentu saja ada kemungkinan bahwa pencurinya tiba-tiba sakit keras...."

"Kena radang otak, misalnya?" tanya bangsawan itu sambil melotot.

"Saya tak mengatakan demikian," kata Holmes dengan kalem. "Nah, Lord Holdhurst, kami sudah mengganggu waktu Anda yang sangat berharga, selamat siang."

"Semoga penyelidikan Anda sukses dan Anda berhasil menemukan pencuri itu," jawab negarawan itu sambil membungkukkan badan ketika mengantar kami sampai ke pintu.

"Dia orang baik," kata Holmes ketika kami sudah berada di luar, di Jalan Whitehall. "Tapi dia harus bersusah payah mempertahankan kedudukannya. Dia tak terlalu kaya, dan banyak rekening yang harus dibayarnya Apakah kauperhatikan bahwa sol sepatunya baru saja ditambal? Nah, Watson, aku tak akan mengganggu pekerjaan resmimu lagi. Tak ada yang perlu kulakukan lagi hari ini, kecuali kalau ada yang membalas iklan tentang taksi yang kupasang itu. Tapi kuharap kau bisa menemaniku pergi ke Woking besok, dengan kereta api yang sama seperti yang kita naiki hari ini."

Keesokan harinya aku menemuinya seperti yang direncanakannya, dan kami lalu berangkat ke Woking bersama-sama. Dia mengatakan bahwa tak ada seorang pun yang membalas iklannya, dan belum terlihat titik terang bagi kasus ini. Temanku ini benar-benar memiliki ketegaran wajah seorang Indian. Aku tak bisa membaca dari air mukanya apakah dia merasa puas atau tidak dengan keadaan kasus yang sedang ditanganinya ini. Aku masih ingat, sepanjang perjalanan dia malah berbicara tentang sistem pengukuran Bertillon sambil mengemukakan kekagumannya yang amat sangat pada sarjana Prancis yang menemukan sistem itu.

Kami menemukan klien kami masih dalam perawatan tunangannya yang setia, tapi sekarang keadaannya sudah lumayan. Dia bangun dari sofa tanpa kesulitan dan menyambut kami ketika kami masuk ke kamamya.

"Ada berita apa?" tanyanya bersemangat.

"Seperti saya sudah duga kemarin, laporan saya tak menggembirakan," kata Holmes. "Saya sudah menemui Forbes, juga paman Anda, serta melakukan beberapa penyelidikan lainnya yang mungkin bisa membawa titik terang."

"Tapi Anda belum menyerah, kan?"

"Tak akan."

"Syukurlah kalau begitu!" teriak Miss Harrison

"Kalau kita tetap bertahan dan bersabar, kebenaran pasti akan dinyatakan bagi kita."

"Kami punya lebih banyak berita untuk kami laporkan pada Anda," kata Phelps sambil kembali duduk.

"Saya harap Anda mendapatkan sesuatu yang tak kami dapatkan."

"Ya, kami mengalami sesuatu tadi malam yang pasti besar artinya." Wajahnya menjadi serius ketika dia mengatakan hal itu, dan pandangannya dipenuhi rasa takut. "Tahukah Anda," katanya, "bahwa saya baru menyadari kalau saya ini sedang diincar oleh sebuah komplotan yang tidak hanya menginginkan kehancuran karier saya, tapi juga nyawa saya?"

"Ah!" seru Holmes.

"Aneh, bukan? Sebab saya tak merasa punya seorang musuh pun di dunia ini. Tapi kejadian semalam membuat saya menyimpulkan demikian."

"Wah, saya ingin segera mendengar apa yang terjadi pada Anda semalam."

"Anda perlu tahu bahwa tadi malam untuk pertama kalinya sejak saya sakit, saya tidur tanpa ditunggui oleh perawat. Keadaan saya sudah banyak kemajuan sehingga saya pikir saya tak memerlukannya lagi. Tapi saya menyalakan lampu kecil. Nah, kira-kira jam dua fajar ketika saya sedang tidur-tidur ayam, tiba-tiba saya terbangun oleh suara samar-samar seperti suara tikus yang sedang menggerogoti sebilah papan. Saya tetap berbaring sambil mendengarkan selama beberapa saat sambil membayangkan bahwa suara itu memang suara tikus. Tapi kemudian suara itu menjadi semakin keras, dan tiba-tiba ada suara semacam logam yang beradu di jendela. Saya terduduk karena keheranan. Saya kini menjadi yakin suara apa itu. Suara sebelumnya pastilah berasal dari seseorang yang sedang berusaha membuka palang jendela melalui celah yang ada, lalu suara berikutnya berasal dari kaitan jendela yang ditekan oleh seseorang.

"Lalu tak terdengar apa-apa selama kira-kira sepuluh menit, seolah-olah orang yang mau masuk itu ingin memastikan dulu kalau-kalau suaranya ketika membuka jendela itu membangunkan saya. Lalu saya mendengar jendela itu dibuka secara perlahan-lahan. Saya tak tahan lagi, karena saraf saya tak sebaik dulu. Saya melompat dari tempat tidur, dan membuka daun jendela dengan keras. Di balik jendela itu ada seseorang yang sedang membungkuk-bungkuk. Saya tak sempat melihat wajahnya karena dalam sekejap dia langsung berlari menghilang dalam kegelapan. Dia memakai semacam jubah yang menutupi tubuhnya mulai dari bagian bawah wajahnya. Tapi saya yakin dia membawa semacam pisau yang panjang di tangannya. Saya melihat kilat senjata itu ketika dia membalikkan badan dan berlari menghilang."

"Menarik sekali," kata Holmes. "Lalu, apa yang Anda lakukan?"

"Kalau saja badan saya kuat, saya pasti akan mengejarnya. Saya lalu membunyikan bel untuk membangunkan semua penghuni rumah. Tapi nampaknya tak ada yang mendengar bel itu karena letaknya ada di dapur, sedangkan para pelayan tidur di lantai atas. Saya lalu berteriak-teriak sehingga Joseph lari mendatangi saya dari kamarnya di lantai atas. Dia lalu membangunkan penghuni rumah lainnya. Joseph dan tukang kuda menemukan bekas-bekas kaki di taman bunga tepat di bawah jendela kamar saya, tapi karena musim kering, mereka tak berhasil menemukan jejak orang itu di rerumputan. Namun di pagar kayu yang membelok ke jalan ditemukan tanda-tanda sepertinya seseorang telah mematahkan sebagian pagar itu ketika tadi melompatinya. Saya belum melaporkan hal ini kepada polisi setempat, karena saya pikir sebaiknya saya minta pendapat Anda terlebih dahulu." Kisah klien kami itu nampaknya sangat mempengaruhi Sherlock Holmes. Dia bangkit dari duduknya dan mondar-mandir di kamar itu dengan penuh semangat.

"Kemalangan kok datangnya beruntun, ya," kata Phelps sambil tersenyum, walaupun kelihatan sekali bahwa petualangannya itu cukup mengguncangkan hatinya.

"Yang sudah berlalu sudahlah," kata Holmes. "Apakah Anda bersedia berjalan mengitari rumah bersama saya?"

"Oh, ya. Saya pun ingin sekali menikmati sinar matahari pagi. Sebaiknya Joseph juga ikut."

"Saya juga mau ikut," kata Miss Harrison.

"Maaf, tak usahlah," kata Holmes sambil menggelengkan kepala. "Saya pikir sebaiknya Anda tetap tinggal duduk saja di tempat Anda sekarang."

Wanita muda itu kembali ke kursinya dengan perasaan agak tersinggung. Tapi kakak laki-lakinya tetap mengikuti kami, sehingga kami berempat lalu meninggalkan kamar itu. Kami memutar melewati halaman rumput menuju jendela kamar diplomat itu dari arah luar. Seperti yang tadi dikatakannya, di situ kami melihat jejak-jejak di taman bunga. Sayangnya, jejak-jejak itu sangat kabur dan tak jelas. Holmes membungkuk untuk mengamati sejenak, dan ketika dia berdiri kembali, dia lalu mengangkat bahunya.

"Wah, jejak ini tak menunjukkan apa-apa," katanya. "Mari kita mengitari rumah ini untuk melihat kenapa kamar itu yang dipilih oleh orang yang mau masuk semalam. Bukankah ruang keluarga dan ruang makan itu lebih mudah dimasukinya karena jendelanya lebih besar-besar?"

"Tapi lebih mudah terlihat dari jalanan," saran Mr. Joseph Harrison.

"Ah, ya, tentu saja. Ada pintu di sini yang mungkin bisa dicobanya juga. Untuk apa pintu ini?"

"Ini pintu masuk dari samping, khusus untuk para pedagang yang datang kemari. Tentu saja, pintu itu dikunci kalau malam hari."

"Pernahkah terjadi seperti yang Anda alami tadi malam sebelumnya?"

"Tidak pernah," jawab klien kami.

"Apakah ada banyak barang berharga atau barang-barang yang menarik perhatian pencuri di dalam rumah?"

"Tak ada barang berharga di dalam sana."

Holmes berjalan mengelilingi rumah. Kedua tangannya terselip di kedua saku celananya. Nampaknya sikapnya santai saja ketika melakukan tugas penyelidikannya ini. Dan tidak biasanya dia bertingkah laku demikian.

"Omong-omong," katanya kepada Joseph Harrison, "Anda mengatakan bahwa pencuri itu telah mematahkan sebagian pagar kayu. Mari kita lihat."

Pria muda itu mengantar kami ke tempat yang dimaksud. Salah satu ujung pagar kayu memang terlihat patah dan patahannya masih menggantung di situ. Holmes mengangkat patahan kayu itu dan mengamatinya dengan teliti.

"Menurut Anda, apakah memang baru tadi malam pagar ini patah? Nampaknya patahnya sudah lama, bukan?"

"Yah, mungkin saja."

"Tak ada jejak orang telah melompat ke sebelah luar. Ya, tak ada. Kita tak mendapatkan apa-apa di sini. Mari kita kembali ke kamar saja untuk membicarakan hal ini lebih lanjut."

Percy Phelps berjalan amat perlahan sambil menopangkan lengannya pada calon iparnya. Holmes berjalan dengan cepat melewati rerumputan sehingga kami tiba di jendela kamar klien kami lebih cepat dari yang lain.

"Miss Harrison," kata Holmes dengan suara yang bersungguh-sungguh, "Anda harus tetap di situ sepanjang hari. Jangan ke mana-mana. Ini penting sekali."

"Baiklah, kalau begitu kemauan Anda, Mr. Holmes," kata gadis itu dengan heran.

"Nanti malam, kalau sudah waktunya bagi Anda untuk pergi tidur, kuncilah pintu kamar ini dari luar dan simpan kuncinya baik-baik. Berjanjilah, Anda akan melakukan hal ini."

"Tapi bagaimana dengan Percy?"

"Dia akan pergi ke London bersama kami."

"Tanpa saya?"

"Ini demi keselamatan jiwanya. Anda pasti mau menolongnya, kan? Cepat! Berjanjilah!"

Dia mengangguk tanda bersedia tepat pada saat Percy dan Joseph tiba di situ.

"Untuk apa kau duduk termangu-mangu di situ, Annie?" teriak saudara laki-lakinya. "Keluarlah untuk menikmati sinar matahari!"

"Tidak, terima kasih, Joseph. Kepalaku agak pusing. Di dalam sini sejuk dan tenang."

"Apa yang harus kami lakukan sekarang, Mr. Holmes?" tanya klien kami.

"Yah, penyelidikan terhadap kejadian semalam harus dikaitkan dengan kasus Anda secara keseluruhan. Sebaiknya Anda pergi ke London bersama kami."

"Sekarang juga?"

"Yah, secepatnya. Bagaimana kalau satu jam lagi?"

"Kalau memang diperlukan, baiklah. Saya merasa badan saya sudah cukup kuat untuk itu."

"Memang perlu sekali."

"Maksudmu, mungkin saya harus bermalam di sana?"

"Saya baru saja mau mcngatakannya."

"Maksudmu, kalau nanti malam pencuri itu datang lagi, dia takkan menemukan saya, begitu, kan? Kami percayakan diri kami kepada Anda, Mr. Holmes, dan kami akan turuti apa kemauan Anda. Apakah Joseph perlu diajak agar dia bisa menjaga saya?"

"Oh, tak usah. Anda tahu bahwa teman saya Watson adalah seorang dokter, dan dia pasti bersedia merawat Anda. Kami akan makan siang di sini, kalau Anda tak keberatan, lalu kita bertiga akan berangkat ke kota bersama."

Begitulah, semua sebagaimana diatur olehnya. Miss Harrison tetap berada di kamar tunangannya sesuai dengan permintaan Holmes. Aku sendiri tak tahu apa maksud Holmes dengan semua rencananya ini. Aku hanya bisa menduga bahwa dia sedang berusaha menjauhkan gadis ini dari Phelps. Phelps sendiri telah merasa cukup sehat dan bersemangat untuk melakukan rencana Holmes, sehingga dia pun makan siang bersama kami di ruang makan. Ternyata Holmes masih punya kejutan lain lagi. Ketika kami sudah sampai di stasiun, dengan tenang dia mengatakan bahwa dia akan tetap tinggal di Woking.

"Masih ada satu-dua hal yang ingin saya selidiki sebelum saya kembali ke London," katanya. "Dengan kepergian Anda, Mr. Phelps, akan lebih mudah bagi saya untuk melakukannya. Watson, kalau nanti sampai di London, tolong langsung antarkan tamu kita ini ke Baker Street, dan temanilah dia di sana sampai aku kembali. Untunglah kalian berdua bekas teman sekolah, sehingga kalian bisa banyak ngobrol. Biarlah Mr. Phelps tidur di kamar tamu, dan aku akan kembali besok supaya bisa makan pagi bersama kalian. Pukul delapan aku pasti sudah tiba di Waterloo."

"Lalu bagaimana dengan rencana penyelidikan kita di London?" tanya Phelps dengan kesal.

"Akan kita lakukan besok. Saya rasa saat ini saya lebih diperlukan di sini."

"Tolong katakan pada keluarga saya di Briarbrae bahwa saya mungkin akan kembali besok malam," teriak Phelps ketika kami mulai menaiki kereta.

"Saya mungkin tak akan kembali ke Briarbrae," jawab Holmes sambil melambaikan tangannya dengan gembira begitu kereta kami meninggalkan stasiun.

Kami membicarakan tingkah Holmes selama perjalanan kami itu, tapi kami tak berhasil mendapatkan alasan yang memuaskan atas perubahan rencananya yang tiba-tiba itu.

"Mungkin dia ingin menyelidiki tentang pencurian semalam, kalau betul itu pencurian. Menurutku, apa yang terjadi semalam bukan pencurian biasa."

"Lalu, menurutmu apakah itu?"

"Aku yakin aku sedang diincar oleh suatu komplotan berlatar belakang politis. Dan sejauh pengetahuanku, nyawakulah yang mereka inginkan. Rasanya terlalu mengada-ada, ya! Tapi coba pertimbangkan kejadian semalam itu! Untuk apa seorang pencuri mendobrak jendela kamar tidur yang tak mungkin berisi barang-barang berharga? Dan untuk apa dia membawa pisau panjang itu?"

"Kau yakin yang dibawanya itu bukan hanya linggis kecil seperti yang biasanya dibawa oleh pencuri untuk mendongkel jendela atau pintu?"

"Jelas bukan. Yang dibawanya itu pedang. Aku melihat sekejap kilatan pisaunya yang tajam."

"Lalu untuk apa gerangan dia ingin membunuhmu dengan cara sekejam itu?"

"Ah! Itulah soalnya."

"Yah, kalau Holmes berpendapat sama, dia pasti akan berbuat sesuatu untuk itu, bukankah demikian? Misalkan saja pendapatmu benar adanya, dan dia berhasil menemukan orang yang telah, mengancam nyawamu tadi malam, pasti dia pun akan mencium siapa pencuri berkas perjanjian itu. Rasanya orang yang mencuri dokumen itu pasti ada hubungannya dengan orang yang mengancam jiwamu semalam."

"Tapi Mr. Holmes tadi bilang bahwa dia tak ada rencana untuk pergi ke Briarbrae."

"Aku cukup mengenal dia," kataku, "dan apa pun yang diputuskan untuk dilakukannya selalu kuat alasannya," dengan kata-kataku ini percakapan kami lalu beralih ke topik-topik lain.

Namun percakapan kami sungguh menjengkelkanku. Phelps belum pulih benar dari sakitnya, dan kemalangan yang telah menimpanya membuatnya gampang bersungut-sungut dan gelisah. Usahaku untuk menarik perhatiannya dengan membicarakan tentang Afganistan, India, dan masalah masalah sosial lainnya, sia-sia belaka. Dia tak bisa melupakan barang sekejap pun nasib malang yang sedang menimpanya. Dia akan selalu kembali mempermasalahkan surat perjanjian yang hilang itu sambil bertanya-tanya menduga-duga dan berspekulasi tentang apa yang sedang dilakukan Holmes, langkah-langkah apa yang akan diambil oleh Lord Holdhurst, dan berita apa yang akan dibawa Holmes besok pagi. Semakin malam semakin menjadi jadi kegelisahannya.

"Apakah kau yakin Holmes mampu menyelesaikan kasusku ini?" tanyanya.

"Dia sudah sering dipercaya untuk menangani kasus, dan berhasil dengan gemilang,"

"Tapi sebelum ini, kasus-kasus yang ditanganinya tak ada yang seberat kasusku, kan?'

"Siapa bilang? Aku tahu dia juga telah berkali-kali berhasil menyelesaikan masalah-masalah yang lebih rumit dari masalahmu."

"Tapi tak menyangkut kepentingan seseorang yang sedemikian gawat, kan?"

"Wah, kalau itu aku tak tahu. Yang kutahu ialah bahwa dia pun pernah menangani kasus-kasus yang sangat gawat dari tiga kerajaan di Eropa "

"Tapi kau sendiri tahu, Watson, bahwa dia itu orang yang sangat tak terduga. Aku tak mengerti apa maunya. Menurutmu, apakah dia optimis akan berhasil menyelesaikan masalahku?"

"Dia belum mengatakan apa-apa padaku."

"Bukankah itu pertanda buruk?"

"Justru sebaliknya. Dia biasanya akan mengatakannya padaku kalau dia kehilangan jejak. Tapi dia akan tutup mulut kalau dia mencium suatu jejak tapi belum yakin apakah jejak itu benar. Nah, sobat, tak ada gunanya kita merasa gelisah 'seperti ini. Bagaimana kalau kau tidur saja sekarang supaya tubuhmu menjadi segar kembali besok untuk menghadapi apa pun yang harus kau hadapi."

Akhirnya aku berhasil membujuknya untuk menuruti saranku, walaupun aku tahu bahwa dia pasti tak akan bisa tidur nyenyak karena pikirannya yang selalu penasaran begitu. Sialnya, keadaannya itu menular juga padaku, karena aku pun jadi tak bisa memejamkan mata sampai tengah malam karena memikirkan kasusnya yang unik ini sambil mencoba-coba ratusan teori yang masing-masing lebih konyol dari yang sebelumnya. Untuk apa Holmes tinggal di Woking? Untuk apa dia minta Miss Harrison tinggal di kamar klien kami itu sepanjang hari? Mengapa dia mengatur sedemikian rupa sehingga penghuni Briarbrae tak menyangka bahwa dia sebenarnya tak kembali ke London saat itu? Kuputar otakku dalam upaya untuk mendapatkan penjelasan dari pertanyaan pertanyaan itu, sampai akhirnya aku jatuh tertidur dengan sendirinya.

Aku terbangun pada jam tujuh pagi, dan langsung menengok ke kamar Phelps. Dia dalam keadaan kusut masai. Pasti tak bisa tidur semalaman. Pertanyaan yang pertama-tama diajukannya ialah apakah Holmes sudah kembali.

"Dia akan tiba seperti yang dijanjikannya," kataku, "tak lebih tak kurang sedetik pun."

Dan benarlah apa yang kukatakan. Beberapa saat setelah jam delapan, sebuah kereta berhenti di depan dan teman kami melompat turun. Sambil memandangnya dari jendela, kami melihat bahwa tangan kirinya dibalut serta wajahnya cemberut dan pucat. Dia memasuki rumah, tapi tak langsung naik ke atas.

"Dia sepertinya gagal," teriak Phelps.

Aku pun merasa demikian. "Mungkin saja," kataku. "Petunjuk kasus ini sebenarnya ada di kota ini, kan?"

Phelps menggeram.

"Aku tak tahu apa yang terjadi," katanya, "tapi sebetulnya aku benar-benar mengharap bahwa kedatangannya akan membawa sedikit angin segar. Kemarin tangannya tak dibalut begitu. Apa yang terjadi dengannya?"

"Kau tak terluka, kan, Holmes?" tanyaku ketika dia memasuki kamar kami.

"Oh, hanya tergores sedikit saja, kok, karena aku kurang sigap sedikit," jawabnya sambil menganggukkan kepala sebagai salam selamat pagi kepada kami. "Kasus Anda ini, Mr. Phelps, benar-benar yang paling berat dari semua yang pernah saya tangani."

"Maksud Anda, apakah ini di luar kemampuan Anda?"

"Saya mendapat pengalaman yang luar biasa semalam."

"Dari balutan tanganmu itu aku tahu bahwa kau telah berpetualang semalaman," kataku. "Tak keberatan mencentakan tentang apa yang telah terjadi, kan?"

"Nanti setelah makan pagi, sobatku Watson. Ingat, aku baru saja menempuh perjalanan sepanjang tiga puluh mil dari daerah Surrey. Kurasa tak ada yang menjawab iklanku tentang taksi itu, ya? Yah, yah, kita memang takkan selalu berhasil dalam segala hal yang kita upayakan."

Meja makan sedang disiapkan, dan baru saja aku mau membunyikan bel, ketika Mrs. Hudson memasuki kamar kami dengan membawa teh dan kopi. Beberapa menit kemudian dia kembali lagi membawa taplak meja, dan kami semua lalu mengambil tempat. Holmes kelaparan, aku penasaran, dan Phelps benar-benar putus asa.

"Mrs. Hudson memasak khusus untuk kesempatan ini," kata Holmes ketika membuka mangkuk berisikan ayam. "Masakannya itu-itu saja, tapi menu pagi berupa masakan Skotlandia-nya agak istimewa. Kau makan apa, Watson?"

"Ham dan telur," jawabku.

"Bagus! Anda mau makan apa, Mr. Phelps: kari ayam, telur, atau mau ambil sendiri, silakan!"

"Terima kasih. Saya tak berselera untuk makan," kata Phelps.

"Oh, ayolah! Cobalah makanan di depan Anda itu."

"Terima kasih. Tak usahlah."

"Yah, kalau begitu," kata Holmes sambil melirik nakal, "Anda tak keberatan menolong membukakan mangkuk itu untuk saya, kan?"

Phelps membuka tutup mangkuk itu, dan tiba-tiba dia langsung berteriak sambil wajahnya menjadi pucat seperti warna mangkuk yang sedang dipelototinya itu. Di dalam mangkuk itu tergeletak sebuah gulungan kertas berwarna abu-abu. Dengan serta-merta diambilnya gulungan itu, diamatinya dengan teliti, lalu tiba-tiba dia bangkit dan menari-nari di ruangan itu bagaikan orang sinting. Didekapkanpya gulungan itu ke dadanya dan dia pun lalu berteriak-teriak kegirangan. Lalu dia menjatuhkan dirinya ke sebuah kursi karena tubuhnya menjadi lemas dan lelah karena ledakan kegembiraannya tadi. Kami menuangkan sedikit brendi ke kerongkongannya agar dia tidak pingsan.

"Nah! Nah!" kata Holmes sambil menepuk-nepuk pundaknya untuk menenangkannya. "Maaf, telah mengejutkan Anda seperti ini, tapi Watson nanti pasti akan menjelaskan pada Anda bahwa saya memang suka mendramatisir suasana."

Phelps menangkap tangan temanku dan menciumnya. "Tuhan kiranya memberkati Anda!" teriaknya. "Anda telah menyelamatkan kehormatan diri saya."

"Yah, ketahuilah bahwa kehormatan diri saya pun terancam, kata Holmes. "Begini, saya pun tak ingin gagal dalam menangani suatu kasus yang bisa merusak kelangsungan karier saya."

Phelps menaruh dokumen yang sangat berharga itu ke saku jasnya yang paling dalam.

"Saya tak tega memotong acara makan pagi Anda, namun rasanya saya tak sabar lagi menunggu untuk mendengar kisah Anda bagaimana dan di mana Anda mendapatkan dokumen itu."

Sherlock Holmes meneguk habis secangkir kopi, lalu melahap ham dan telur. Kemudian dia bangkit, menyalakan pipanya, dan duduk di kursinya.

"Pertama-tama akan saya ceritakan apa saja yang saya lakukan kemarin. Atas dasar apa saya melakukan itu akan saya bahas kemudian," katanya. "Sesudah meninggalkan kalian di stasiun, saya berjalan-jalan dengan santai sambil menikmati pemandangan daerah Surrey yang terkenal indahnya itu menuju ke sebuah desa kecil bernama Ripley. Saya mampir di sebuah penginapan dan minum teh di sana. Untuk bekal, saya mengisi botol minum dan memesan roti lapis. Keduanya saya masukkan ke dalam saku. Saya duduk di sana sampai malam, lalu saya kembali ke Woking dan menuju ke Briarbrae.

"Nah, saya menunggu sampai jalanan sepi—saya kira memang tak banyak orang yang biasa berlalu lalang di situ, ya? Lalu saya menaiki pagar untuk masuk ke halaman."

"Bukankah pintu masuknya tak dikunci?" teriak Phelps.

"Ya, tapi saya maunya begitu. Saya bersembunyi di balik tiga pohon cemara di halaman itu sehingga saya bisa mengamati rumah Anda dengan jelas tanpa terlihat dari dalam. Saya lalu berjalan merunduk-runduk, kadang-kadang bahkan harus merangkak, di semak-semak—kalau tak percaya, nih, lihat akibatnya pada lutut celana saya—sampai saya tiba di gerumbulan tanaman tepat di seberang jendela kamar tidur Anda. Di situlah saya berjongkok sambil melihat-lihat perkembangan situasi.

"Tirai jendela kamar Anda masih belum ditutup dan saya melihat Miss Harrison sedang duduk sambil membaca di samping meja. Waktu jam menunjukkan pukul sepuluh lewat seperempat, dia berhenti membaca bukunya, menutup dan mengunci jendela, dan pergi tidur ke kamarnya sendiri. Saya mendengarnya ketika dia menutup pintu kamar Anda, dan saya yakin dia pasti menguncinya juga."

"Mengunci?" seru Phelps.

"Ya, saya telah menyuruh Miss Harrison mengunci pintu kamar Anda dari luar dan lalu membawa kunci itu bersamanya kalau dia pergi tidur. Dia benar-benar melakukan apa yang saya suruh sampai ke hal yang sekecil-kecilnya, dan tanpa kesediaannya untuk bekerja sama, mungkin dokumen Anda tak akan kembali pada Anda. Setelah dia meninggalkan kamar Anda, lampu-lampu lalu padam, dan tinggallah saya sendirian berjongkok di gerumbulan pepohonan di luar sana.

"Malam itu cukup indah, tapi penantian saya benar-benar menjemukan. Memang, saya merasakan kegairahan tersendiri bagaikan seorang atlet yang sedang menunggu saatnya bertanding. Lama sekali, lho, Watson—seperti dulu waktu kau dan aku menunggu di kamar yang mengerikan ketika sedang menangani kasus Lilitan Bintik-bintik itu. Di dekat situ ada jam gereja yang tiap seperempat jam berdentang, dan rasanya lama sekali menunggu suara dentangan dentangan jam itu. Tapi akhirnya, kira-kira pada jam dua pagi, tiba-tiba saya mendengar suara palang pintu diangkat perlahan-lahan dan juga suara orang membuka kunci. Beberapa saat kemudian pintu ruang pelayan terbuka dan Mr. Joseph Harrison melangkah ke luar."

"Joseph!" teriak Phelps.

"Dia tak memakai penutup kepala, tapi memakai jubah hitam yang bisa dengan cepat dikerudungkannya ke kepalanya kalau-kalau ada yang memergokinya. Dia berjalan berjingkat, dilindungi bayangan tembok. Ketika dia sampai ke jendela itu dia mengeluarkan pisau panjang untuk mendongkel gerendel jendela. Lalu dengan menjepitkan pisau itu di antara celah yang ada, dibukanyalah jendela itu.

"Dari tempat bersembunyi, saya bisa melihat ke dalam kamar Anda dan apa yang dikerjakannya dengan jelas. Dia menyalakan dua lilin yang ada di rak di atas perapian, lalu dia membalikkan ujung karpet yang terletak di samping pintu. Dia lalu membungkuk dan membuka papan lantai yang di bawahnya terdapat sambungan pipa gas dapur. Dari tempat persembunyian ini diambilnya gulungan dokumen itu. Lalu dikembalikannya papan lantai itu, dirapikannya karpet, dimatikannya lilin, dan dia pun lalu bergegas pergi dari kamar itu... untuk masuk ke dalam pelukan saya yang sejak tadi telah menunggu di luar jendela.

"Wah, Mr. Joseph bereaksi secara lebih ganas dari yang saya perkirakan. Diterjangnya saya dengan pisau di tangannya, dan saya sempat menangkap pisau itu dua kali. Akibatnya buku-buku jari saya terluka. Tapi akhirnya saya berhasil meringkusnya. Dia amat berang, tapi mau juga dia mendengarkan perkataan saya, dan akhirnya menyerahkan dokumen itu pada saya. Sesudah menerima dokumen itu saya membiarkannya pergi, tapi saya menjelaskan semuanya pada Detektif Forbes pagi tadi. Kalau dia bisa bertindak cepat, pasti buronannya akan tertangkap! Tapi kalau buronan itu sudah melarikan diri sebelum dia sempat menangkapnya, peduli amat, mungkin itu lebih baik untuk pemerintah. Saya rasa baik Lord Holdhurst maupun Mr. Percy Phelps akan lebih suka kalau masalah ini tak sampai diajukan ke pengadilan."

"Ya, Tuhan!" klien kami bersuara dengan terengah-engah. "Jadi selama sepuluh minggu yang menyiksa saya itu, ternyata dokumen yang hilang itu berada di kamar saya?"

"Begitulah."

"Dan Joseph! Joseph bajingan dan pencuri!"

"Hm! Saya sudah merasa bahwa tabiat Joseph itu jauh lebih berbahaya dari penampilannya. Dia tadi juga mengaku bahwa dia mengalami banyak kerugian di bursa saham, dan dia merencanakan untuk melakukan apa saja yang bisa membuatnya kaya dalam sekejap. Dasar orang serakah, begitu ada kesempalan langsung saja mau diraupnya tanpa mempertimbangkan sedikit pun kebahagiaan adiknya ataupun reputasi Anda."

Percy Phelps terperenyak di tempat duduknya. "Kepala saya pusing," katanya, "perkataan-perkataan Anda sangat mengejutkan saya."

"Kesulitan utama kasus Anda," komentar Holmes dengan gayanya yang menggurui, "justru karena terlalu banyak bukti. Jadi yang penting malah dikesampingkan dan tersembunyi oleh hal-hal yang sebenarnya tak ada kaitannya. Dari semua fakta yang dibeberkan kepada kita, kita harus mengambil yang penting-penting saja, lalu menganalisisnya untuk merekonstruksi jalinan peristiwa-nya. Saya sudah mulai mencurigai Joseph sejak Anda mengatakan bahwa Anda sebenarnya ingin pulang ke Woking bersamanya pada malam yang naas itu. Bukankah itu berarti dia punya alasan untuk mampir ke kantor Anda sebelum dia berangkat ke Woking—kebetulan dia juga tahu letak kantor Anda. Ketika ternyata ada orang yang ingin sekali masuk ke kamar Anda, di mana mungkin seseorang telah menyembunyikan sesuatu, kecurigaan saya lalu berubah menjadi keyakinan. Siapa lagi orang itu kalau bukan Joseph, karena dialah yang menempati kamar itu sebelumnya, dan terpaksa harus pindah secara mendadak karena kehadiran Anda yang dalam keadaan sakit pada waktu itu. Apalagi ternyata usaha masuk ke kamar Anda itu dilakukan ketika suster jaga Anda tidak sedang menemani Anda untuk pertama kali nya sejak Anda sakit. Ini menunjukkan bahwa orang yang masuk itu tahu banyak tentang kebiasaan-kebiasaan di dalam rumah Anda."

"Betapa butanya saya sehingga tak menyadari hal-hal ini!"

"Beginilah kejadian kasus itu sebagaimana telah saya analisis: Joseph Harrison ini masuk ke kantor dari Jalan Charles Street, dan dia masuk ke kamar Anda ketika Anda baru saja keluar untuk minta kopi ke bawah. Karena tak ada orang di kamar Anda, dia langsung membunyikan bel. Saat itulah matanya melihat dokumen itu di meja Anda. Dalam sekejap dia menyadari betapa berharganya dokumen milik pemerintah itu dan dengan cepat disisipkannya dokumen itu ke dalam jasnya, lalu segera berlari keluar. Baru beberapa menit kemudian Satpam mengingatkan Anda tentang bunyi bel itu, kan? Dan kesempalan itu cukup bagi si pencuri untuk melarikan diri.

"Dia lalu pulang ke Woking dengan kereta api pertama. Setelah memperhatikan dan meyakinkan dirinya bahwa hasil curiannya itu sangatlah berharga, dia menyembunyikannya di tempat yang menurutnya paling aman, untuk kemudian akan ditawarkannya ke Kedutaan Prancis atau pihak mana saja yang bersedia memberinya imbalan uang yang banyak. Kemudian, tanpa disangka-sangka, Anda dibawa pulang ke rumah dalam keadaan payah begitu. Dia langsung diminta pindah kamar, dan sejak itu Anda selalu berdua berada dalam kamar itu sehingga dia tak memiliki kesempatan untuk mengambil barang berharga yang disembunyikannya di kamar itu. Dia pasti kelabakan dengan keadaan ini. Tapi akhirnya dia merasa mendapatkan kesempatan. Dia berusaha mencuri dokumen itu, tapi gagal karena Anda terbangun. Anda tentu ingat bahwa Anda tidak minum obat tidur malam itu."

"Ya, saya ingat"

"Saya rasa dia telah membuat obat itu sangat mujarab dengan harapan Anda tertidur dengan nyenyak sekali. Tentu saja, dia pasti akan mengulangi percobaan pencuriannya kalau keadaan memungkinkan. Kepergian Anda ke London memberinya kesempatan yang dia harapkan. Saya minta Miss Harrison berada di kamar itu sepanjang hari, supaya Joseph tak akan mendahului mengambil dokumen itu. Begitulah, setelah mengatur agar kamar itu kelihatan aman baginya pada malam hari itu, saya pun berjaga-jaga di luar seperti yang telah saya ceritakan. Saya sudah tahu bahwa kemungkinan besar dokumen itu ada di kamar itu, tapi saya tak berminat untuk susah-susah membongkar dan mencarinya. Biar pencurinya sendiri saja yang mengambilnya agar saya tak perlu repot-repot. Adakah yang perlu saya jelaskan lagi?"

"Mengapa dia berusaha lewat jendela ketika pertama kali masuk?" tanyaku "Lewat pintu kan bisa?"

"Kalau lewat pintu, dia harus melewati tujuh kamar tidur lainnya. Di samping itu, dengan lewat jendela dia bisa kabur ke halaman dengan mudah. Ada pertanyaan lain lagi?"

"Dia sebenarnya tak bermaksud membunuh siapa pun, kan?" tanya Phelps. "Pisaunya hanya mau dipakai sebagai alat untuk mendongkel jendela?"

"Bisa saja begitu," jawab Holmes sambil mengangkat bahunya. "Saya hanya ingin mengatakan bahwa Mr. Joseph Harrison adalah seorang pria yang tak pantas dikasihani dan dipercaya."