Mrs. Hudson, pemilik rumah yang disewa Sherlock Holmes, adalah wanita yang luar biasa sabar. Bayangkan, bukan hanya lantai atas rumahnya sering dikunjungi orang-orang aneh, tapi sang penyewa pun orang eksentrik yang pasti sering membuatnya jengkel. Gaya hidupnya yang tak teratur kesukaannya menyetel musik pada jam-jam istirahat, kebiasaannya latihan menembak dengan menjadikan pintu sebagai objek bidikan, eksperimen ilmiahnya yang aneh-aneh dan kadang-kadang menimbulkan bau yang tak enak, jelas tak menjadikan Holmes penyewa teladan. Lebih-lebih hidupnya selalu dikelilingi kejahatan dan marabahaya yang sedikit-banyak mempengaruhi induk semangnya. Tapi di lain pihak, Holmes mengompensasi semua itu dengan uang sewa yang mahal. Aku yakin uang sewanya selama bertahun-tahun dia tinggal di situ bersamaku sebenarnya sudah cukup untuk membeli rumah itu.

Nyonya rumah sangat menghormati dia, dan tak pernah berani mencampuri urusannya, walaupun tingkah lakunya sering mengganggu orang lain. Lagi pula, wanita itu menyukai Holmes karena sikapnya sangat lemah lembut dan sopan terhadap wanita. Dia tidak suka dan tidak percaya pada wanita, tapi sikapnya terhadap mereka tetap saja sopan. Menyadari betapa baiknya wanita itu terhadap Holmes, aku pun mendengarkan kisahnya dengan saksama ketika dia menemuiku di kamar praktekku. Saat itu tahun kedua setelah aku menikah. Wanita itu melaporkan keadaan kesehatan Holmes yang terus memburuk.

"Dia sekarat, Dr. Watson!" katanya. "Selama tiga hari dia tak turun dari tempat tidurnya, dan saya bahkan merasa jangan-jangan dia tak akan tahan hidup hari ini. Dia melarang saya memanggil dokter. Pagi tadi ketika saya lihat wajahnya yang tinggal tulang dan matanya yang besar menatap saya, saya tak tahan lagi. 'Dengan atau tanpa persetujuan Anda, Mr. Holmes, saya akan pergi memanggil dokter saat ini juga,' kata saya. 'Kalau begitu, tolong panggil Watson saja,' jawabnya. Saya mohon Anda mau menengoknya sekarang juga, Sir, atau Anda tak akan sempat melihatnya dalam keadaan hidup lagi."

Aku menjadi panik, karena aku tak mendengar kabar sedikit pun bahwa dia sedang sakit. Aku langsung menyambar mantelku. Dalam perjalanan ke tempat Holmes, aku menanyakan beberapa hal kepada Mrs. Hudson.

"Tak banyak yang bisa saya katakan, Sir. Setahu saya, dia sedang menangani kasus di Rotherhithe, gang kecil dekat Sungai Thames, dan tahu-tahu dia jatuh sakit. Dia tak bangun dari tempat tidur sejak Rabu siang, bahkan selama tiga hari ini dia sama sekali tak makan dan minum."

"Ya Tuhan! Mengapa Anda tak memanggil dokter?"

"Dia tak mau, Sir. Anda tahu betapa keras kepalanya dia. Saya tak berani menentang kehendaknya. Tapi, dia tak akan bertahan lama. Nanti Anda akan lihat sendiri."

Keadaan sahabatku memang menyedihkan. Dalam keremangan cuaca di bulan November yang berkabut itu, kamarnya tampak sangat kelabu, namun wajahnya yang cekung dan pucat pasilah yang membuat jantungku seolah membeku. Matanya memerah karena demam tinggi, pipinya gemetaran, bibirnya mengeras dan kehitaman, tangannya yang kurus kering bergerak-gerak terus, tarikan napasnya serak dan sesak. Dia terbaring tak bergerak ketika aku memasuki kamarnya, tapi begitu melihatku, matanya mengenali diriku.

"Well, Watson, kita tampaknya harus menghadapi hari-hari yang buruk," katanya dengan suara yang sangat lemah tapi tetap dengan sikapnya yang acuh tak acuh.

"Sobatku," teriakku sambil melangkah mendekatinya.

"Jangan mendekat! Jangan mendekat!" katanya dengan begitu tajamnya seperti sedang menghadapi krisis berat. "Kalau kau mendekat, Watson, aku akan menyuruhmu keluar dari rumah ini."

"Tapi kenapa?"

"Karena begitulah mauku. Apakah kurang jelas?"

Ya, apa yang dikatakan Mrs. Hudson benar adanya. Dia jadi semakin suka memerintah. Namun aku benar-benar merasa kasihan melihat kelemahan tubuhnya.

"Aku cuma. mau menolongmu," aku menjelaskan.

"Tepat sekali! Kau akan sangat menolongku kalau kau melakukan apa yang kuminta."

"Baiklah, Holmes."

Sikapnya menjadi agak rileks.

"Kau tak marah padaku?" tanyanya sambil menarik napas dengan susah payah.

Kasihan benar dia! Bagaimana mungkin aku marah padanya saat melihatnya terbaring tak berdaya di hadapanku seperti ini?

"Semua ini demi kebaikanmu, Watson," katanya dengan suara parau.

"Demi kebaikanku?"

"Aku tahu penyakit apa yang sedang kuderita, yaitu penyakit buruh Sumatra—yang lebih banyak diketahui orang Belanda daripada kita, walaupun mereka belum berhasil menanggulanginya. Satu hal yang pasti, penyakit ini sangat mematikan dan sangat menular."

Kini dia berbicara dengan lebih bersemangat, tangannya yang panjang melambai-lambai ke arahku, sebagai tanda agar aku tak mendekatinya.

"Kalau kausentuh aku, Watson, kau akan ketularan—ya, penyakit ini menular melalui sentuhan. Jadi harap menjaga jarak denganku."

"Ya Tuhan, Holmes! Kaukira aku mempersoalkan itu? Kalau yang sakit orang yang tak kukenal pun, aku akan tetap melakukan tugasku sebagai dokter, apalagi terhadap sobat baikku sendiri."

Aku kembali melangkah mendekatinya, tapi dia menentang sikapku ini melalui pandangannya yang penuh amarah.

"Kalau kau bersedia berdiri di situ aku mau bicara denganmu. Kalau tidak, kau harus segera keluar dari kamar ini."

Selama ini, aku selalu menghormati sikap Holmes dan selalu menuruti kemauannya, sekalipun aku tak mengerti maksudnya. Tapi sekarang, naluri kedokteranku begitu tergelitik. Biarlah dia memerintah dalam hal-hal lain, tapi saat ini akulah dokter di kamar ini.

"Holmes," kataku, "kau bukan seperti Holmes yang kukenal. Memang, orang yang sedang sakit itu sikapnya seperti anak kecil, jadi izinkan aku mengobatimu. Apakah kau suka atau tidak, aku ingin memeriksa penyakitmu, lalu mengupayakan pengobatan untukmu."

Dia menatapku dengan pandangan sengit.

"Kalau aku memang memerlukan dokter, kau suka atau tidak, biarlah aku paling tidak memilih dokter yang kupercayai," katanya.

"Kalau begitu, kau tak percaya padaku?"

"Sebagai sahabat jelas. Tapi kita harus menerima kenyataan, Watson, kau kan hanya dokter umum dengan pengalaman terbatas dan kualifikasi tak begitu tinggi. Aku sebenarnya tak suka mengatakan ini, tapi kau memaksaku melakukannya."

Aku sangat tersinggung.

"Kau tak berhak berkomentar seperti itu, Holmes. Itu malah menunjukkan kondisi pikiranmu yang sedang kacau. Tapi kalau memang kau tak percaya pada kemampuanku, aku pun tak memaksa. Biarlah kupanggilkan Sir Jasper Meek atau Penrose Fisher, atau siapa pun dokter terbaik di London. Pokoknya harus ada dokter yang memeriksamu, dan itu tak boleh dibantah lagi. Jangan kira aku akan berdiri saja di sini menyaksikanmu sekarat tanpa menolongmu atau memanggil orang lain untuk menolongmu—aku bukan orang macam begitu."

"Maksudmu baik sekali, Watson," kata Holmes, suaranya antara isakan dan rintihan. "Perlukah ku tunjukkan kau tak tahu apa-apa tentang penyakitku ini? Apa yang kau tahu, coba, tentang demam Tapanuli? Apa yang kau tahu tentang penyakit hitam Formosa?"

"Aku belum pernah mendengar tentang semua itu."

"Di belahan bumi Timur, ada banyak jenis penyakit yang aneh-aneh, Watson." Dia berhenti setiap habis mengucapkan satu kalimat sambil mengerahkan kekuatan untuk melanjutkan kalimat berikutnya. "Aku belajar banyak dalam beberapa riset akhir-akhir ini yang menyangkut aspek medis di samping aspek kriminal. Sehubungan dengan itulah, aku lalu ketularan penyakit ini. Kau tak bisa berbuat apa-apa."

"Mungkin tidak. Tapi aku kebetulan kenal dengan Dr. Ainstree, dokter terbaik untuk penyakit-penyakit tropis, dan sekarang dia berada di London. Tak ada gunanya membantah, Holmes. Aku mau memanggilnya sekarang juga."

Dengan sigap aku melangkah ke pintu, namun betapa kagetnya aku. Dalam sekejap, bagaikan harimau yang menerkam mangsanya, orang yang terbaring sekarat itu melompat melewatiku. Lalu ku dengar kunci pintu kamar diputar. Sesaat kemudian, dia terhuyung-huyung kembali ke tempat tidurnya, kelelahan, dan terengah-engah.

"Kau tak akan bisa mengambil kunci yang kubawa ini, Watson. Kau terkurung di sini, sobatku. Nah, kau akan tetap di sini sampai aku mengizinkanmu keluar. Tapi aku ingin menyenangkan hatimu." Semua ini dikatakannya dengan terpatah-patah sambil menarik napas berat setiap kali selesai mengucapkan satu kalimat. "Kau hanya memikirkan kepentinganku—itu kusadari. Aku akan menuruti nasihatmu, tapi biarlah kekuatanku pulih dulu. Tidak sekarang, Watson. Ini baru jam empat. Kau boleh pergi jam enam nanti."

"Kau gila, Holmes."

"Cuma dua jam, Watson. Aku berjanji akan mengizinkanmu keluar pada jam enam. Kau keberatan?"

"Rasanya aku tak punya pilihan lain."

"Benar, Watson. Terima kasih. Aku tak perlu bantuan untuk mengatur pakaianku. Tolong, jangan dekat-dekat. Nah, Watson, ada satu syarat lagi yang harus kaupenuhi. Kau boleh cari bantuan dokter, tapi bukan yang namanya kausebut tadi. Aku mau pilih sendiri."

"Oh, silakan."

"Kalimat pertama yang sangat masuk akal yang kauucapkan sejak kau masuk ke kamar ini, Watson. Tuh, ada buku buku di sana. Aku capek sekali, aku sedang bertanya-tanya pada diriku sendiri bagaimana rasanya bila baterai mengalirkan listrik ke bahan nonkonduktor. Jam enam nanti, Watson, baru kita omong-omong lagi."

Ternyata kesunyian di kamar ini tak berlangsung sampai pukul enam. Terjadi sesuatu yang sangat mengagetkanku. Aku sedang berdiri menatap tubuhnya yang terbaring diam di tempat tidur. Wajahnya hampir tertutup pakaiannya yang kedodoran dan tampaknya dia tertidur. Karena aku tak berminat membaca buku-buku yang ditawarkannya, aku lalu berjalan pelan-pelan mengelilingi kamar itu sambil memperhatikan foto-foto penjahat terkenal yang memenuhi dinding. Akhirnya, karena bosan dan gelisah, aku menuju perapian. Pipa rokok, kotak tembakau, alat suntik, pisau kecil, peluru, dan macam-macam barang lain berserakan di rak. Di antara barang-barang ini, ada kotak gading kecil berwarna hitam-putih dengan tutup yang bisa diputar. Kotak kecil itu bagus sekali, dan aku mengulurkan tangan untuk melihatnya dengan lebih saksama, ketika...

Teriakannya sangat mengagetkanku—teriakan yang bagaikan berasal dari jalanan di bawah sana. Kulitku mengerut dan bulu kudukku berdiri. Ketika aku menoleh, kulihat wajahnya yang garang dan pandangan matanya yang liar. Aku berdiri terpaku; kotak kecil itu dalam genggamanku.

"Kembalikan kotak itu! Kembalikan sekarang juga, Watson... kukatakan, sekarang juga!" Kepalanya kembali terjatuh ke bantal dan dia mengeluh lega ketika aku mengembalikan kotak itu ke atas rak perapian.

"Aku tak suka orang lain menyentuh barang-barangku, Watson. Kau tahu itu, kan? Kau membuatku jengkel sekali. Kau, katanya dokter—tapi tindakanmu malah membuat orang sakit jadi gila. Duduk sajalah, ayo, dan biarkan aku istirahat sejenak."

Insiden itu membuatku sangat terpukul. Reaksinya yang kasar dan tak masuk akal, lalu kata-katanya yang menyakitkan hati, sungguh jauh berbeda dari biasanya. Semua ini justru menunjukkan betapa pikirannya sudah jadi kacau. Memang banyak orang bisa mengalami gangguan pikiran, tapi alangkah sayangnya kalau yang mengalaminya justru orang yang otaknya sangat cemerlang. Aku duduk diam dengan sangat tersiksa, sampai waktu menunjukkan pukul enam. Dia pun ternyata memperhatikan jam, karena beberapa saat sebelum pukul enam dia mulai mengatakan sesuatu, masih dengan sikap kasar seperti sebelumnya.

"Nah, Watson," katanya, "punya uang kecil?"

"Punya."

"Punya koin perak?"

"Banyak."

"Ada berapa yang nilainya setengah crown?"

"Lima."

"Ah, tak cukup! Tak cukup! Payah sekali kau ini, Watson! Tapi biarlah, coba kautaruh lima koin itu di kantong bajumu. Lalu taruh uangmu yang lain di kantong celanamu sebelah kiri. Terima kasih. Dengan begitu kau jadi seimbang, kan?"

Ini semua benar-benar ocehan gila. Dia meng-gigil, lalu bersuara lagi mirip isakan atau rintihan.

"Sekarang nyalakan lampu gas, Watson. Tapi hati-hati, aku mau kaunyalakan separonya saja. Dengar kataku, Watson, hati-hati! Terima kasih, Watson. Ya, begitu! Jangan, jangan kaututup kerai jendelanya. Sekarang, tolong kautaruh surat-surat dan kertas-kertas itu di meja dekat sini supaya aku bisa menjangkaunya. Terima kasih. Ambilkan beberapa barang dari rak perapian. Bagus, Watson! Ada jepitan gula di sana. Tolong angkat kotak gading kecil itu dengan jepitan itu. Taruh sini, dekat kertas-kertas ini. Bagus! Sekarang, kau pergi menjemput Mr. Culverton Smith di Lower Burke Street 13."

Sebenarnya saat itu aku tak ingin pergi menjemput siapa pun, karena Holmes jelas sedang menderita demam tinggi. Aku takut terjadi sesuatu yang membahayakannya kalau dia kutinggalkan. Tapi, justru kini dia ngotot untuk diperiksa orang yang namanya disebutkannya, sama ngototnya dengan ketika tadi dia menolak diperiksa siapa pun.

"Aku belum pemah mendengar nama dokter ini," kataku.

"Mungkin belum, Watson. Kau mungkin heran kalau tahu orang terbaik untuk mengobati penyakitku ini bukanlah dokter, tapi pemilik perkebunan. Mr. Culverton Smith penduduk Sumatra yang sangat terhormat, yang sedang berkunjung ke London. Berhubung pemah terjadi penyebaran penyakit ini di perkebunannya, dan tak ada dokter yang mampu mengobati, dia lalu turun tangan sendiri mempelajari penyakit ini, padahal konsekuensinya sangat berat. Orangnya sangat pintar, dan aku tak mau kau ke sana sebelum jam enam karena aku tahu dia tak ada di tempat. Kalau kau bisa membujuknya untuk datang kemari dan mengobatiku berdasarkan eksperimen yang sangat digemarinya, dia pasti bisa menolongku."

Di sini aku menuliskan kata-kata Holmes dalam satu rangkaian yang tak terputus. Sebenarnya, kata-kata itu diucapkannya dengan susah payah, terputus-putus, dan dengan penuh penderitaan. Selama aku menemaninya, keadaannya jadi semakin bumk. Bintik-bintik di wajahnya semakin nyata, matanya semakin merah, dan keringat dingin membasahi alisnya. Namun sikapnya tetap saja galak. Rasanya, sekalipun sudah menjelang ajal, dia akan tetap saja suka memerintah.

"Katakan dengan terus terang kepadanya bagaimana keadaanku," dia berpesan. "Katakan padanya apa yang ada di benakmu—bahwa aku sekarat. Sekarat dan demam tinggi. Benar, aku jadi tak mengerti kenapa seluruh lautan tak hanya berisi tiram, bukankah binatang itu begitu cepatnya berkembang biak? Ah, bicaraku kacau lagi! Aneh bagaimana otak mengontrol pikiran kita! Aku tadi lagi ngomong apa, Watson?"

"Petunjuk untuk menghadapi Mr. Culverton Smith."

"Ah, ya. Aku ingat sekarang. Hidupku tergantung padanya. Jadi mohonlah kepadanya, Watson. Kami memang bukan teman baik. Keponakan lelakinya, Watson... mati secara mengerikan, dan aku mencurigainya. Dia dendam padaku. Tolong, lembutkan hatinya, Watson. Mohonlah dengan sangat agar dia bersedia datang, apa pun caranya. Dia akan menyelamatkan nyawaku—hanya dia!"

"Aku akan membawanya kemari, kalau perlu dengan paksa."

"Jangan begitu, bujuklah dia. Lalu kau pulang saja duluan. Pokoknya cari alasan agar kau tak kemari bersamanya. Jangan lupa, Watson, kau pasti tak akan mengecewakanku. Selama ini kau tak pernah mengecewakanku. Tak heran ada musuh-musuh alamiah yang membatasi berkembang biaknya binatang-binatang di bumi ini. Aku dan kau, Watson, sudah melaksanakan tugas kita. Berikutnya biarlah dunia diterjang tiram-tiram, ya? Tidak, tidak, mengerikan sekali! Pokoknya katakan saja apa yang kauketahui."

Kutinggalkan dia sementara dia terus menceracau. Kunci kamamya telah diserahkannya kepadaku, dan ini membuatku lega, karena paling tidak dia tak akan bisa mengunci dirinya dari dalam. Mrs. Hudson sedang menunggu sambil menangis gemetaran di gang. Ketika aku melangkah meninggalkan kamarnya, masih kudengar suara Holmes yang melengking tinggi sedang mengoceh tak menentu. Ketika aku sudah sampai di bawah dan sedang memanggil kereta, seseorang mendatangiku dalam kabut yang pekat.

"Bagaimana keadaan Mr. Holmes, Sir?" tanyanya.

Dia teman lama Holmes, Inspektur Polisi Morton dari Scotland Yard. Dia sedang tak bertugas dan mengenakan pakaian yang sangat santai.

"Sakit parah," jawabku.

Dia menatapku dengan sikap yang sangat aneh. Menurutku, dia malah tampak sangat gembira.

"Saya memang mendengar dia sedang sakit." Ada kereta datang, jadi aku pun meninggalkan orang itu.

Lower Burke Street ternyata terletak di antara Notting Hill dan Kensington. Rumah-rumah di jalan ini bagus-bagus. Rumah yang kudatangi berkesan kuno dan anggun. Teralisnya dari besi, pintunya besar sekali, dan kuningannya berkilauan. Pintu dibuka seorang pelayan pria berwajah serius, yang kelihatan cocok sekali dengan penampilan keseluruhan rumah itu.

"Ya, Mr. Culverton ada. Anda Dr. Watson. Baik, Sir, saya akan sampaikan kartu nama Anda kepadanya."

Nama dan gelarku ternyata tak menimbulkan kesan bagi Mr. Culverton Smith. Melalui pintu yang setengah terbuka, aku mendengar suara bernada marah dan tajam.

"Siapa orang ini? Mau apa dia? Aduh, Staples, berapa kali sudah kukatakan agar aku jangan diganggu kalau sedang melakukan penelitian?"

Dengan sabar pelayan itu berusaha menjelaskan.

"Pokoknya, aku tak bisa menemuinya, Staples. Pekerjaanku tak bisa disela begitu saja. Aku tak ada di rumah, katakan saja begitu. Katakan padanya agar kembali ke sini besok pagi kalau dia memang perlu bertemu denganku."

Lalu terdengar suara pelayan itu menggumamkan sesuatu.

"Well, well, sampaikan sajalah pesanku. Dia boleh kemari besok pagi, atau tidak usah sama sekali. Pekerjaanku tak bisa diganggu."

Aku teringat pada sahabatku Holmes yang sedang sekarat, sambil menghitung menit-menit yang berlalu yang seharusnya bisa digunakan untuk menolongnya. Sekarang bukan waktunya untuk bersikap formal. Nyawanya tergantung pada kesigapanku. Sebelum pelayan itu sempat minta maaf karena tuannya tak bisa menemuiku, aku berlari melewatinya dan masuk ke kamar tuannya.

Sambil berteriak marah, seorang pria bangkit dari kursinya di samping perapian. Tampak olehku seraut wajah besar berwarna kekuningan, kasar, dan berminyak. Dagunya berlipat dan lebar. Matanya yang abu-abu menatapku dengan pandangan marah dan mengancam di balik bulu matanya yang terjuntai dan berwarna pirang. Kepalanya botak dan besar sekali, namun ketika kulihat bagian tubuhnya yang lain, aku terheran-heran karena ternyata dia berperawakan kecil kurus. Bahu dan punggungnya melengkung seperti orang yang pernah mengidap sakit rakhitis pada masa kecilnya.

"Ada apa ini?" teriaknya lantang. "Mau apa Anda nyelonong masuk begini? Kan saya sudah menyuruh pelayan saya mengatakan saya bersedia menemui Anda besok pagi!"

"Maafkan saya," kataku, "tapi masalahnya tak bisa ditangguhkan lagi. Mr. Sherlock Holmes..."

Mendengar aku menyebutkan nama sahabatku, pria kerempeng itu terperanjat. Kemarahan langsung menyusut dari wajahnya. Sikapnya menjadi serius dan waspada.

"Anda disuruh kemari oleh Holmes?" tanyanya.

"Ya, saya baru saja dari tempatnya."

"Kenapa dia? Bagaimana keadaannya?"

"Dia sakit parah. Itulah sebabnya saya datang kemari."

Pria itu mempersilakanku duduk, lalu dia sendiri duduk di kursinya. Saat itulah aku melihat wajahnya di kaca yang tergantung di atas rak perapian. Berani sumpah! Dia sedang tersenyum dengan sinis dan licik. Kutenangkan diriku, anggap saja itu disebabkan oleh kekagetannya atas berita yang kusampaikan. Sekejap kemudian dia kembali menghadap ke arahku dengan sikap serius.

"Saya ikut prihatin mendengarnya," katanya. "Saya pernah berurusan dengan Mr. Holmes, dan saya sangat menghargai kemampuan dan sikapnya. Dia itu ahli kriminal amatir, sedangkan saya ahli penyakit amatir. Penjahat adalah objeknya, sementara bagi saya kuman-kuman. Di sanalah penjara saya," lanjutnya sambil menunjuk deretan botol dan stoples yang berjejer di sebuah meja di ujung ruangan. "Di antara jeli-jeli yang sedang saya biakkan itu, terdapat bakteri-bakteri yang sangat mematikan."

"Justru karena pengetahuan Anda yang luar biasa inilah Mr. Holmes ingin menemui Anda. Dia sangat memuji kehebatan Anda. Dan menurutnya, hanya Anda yang bisa menolongnya."

Pria itu terkejut, sehingga topinya terjatuh ke lantai.

"Kenapa?" tanyanya. "Kenapa Mr. Holmes mengira hanya saya yang bisa menolongnya?"

"Karena hanya Anda yang banyak tahu soal penyakit-penyakit dari Timur."

"Tapi bagaimana dia bisa menduga kalau penyakitnya itu berasal dari Timur?"

"Karena dalam menjalankan salah satu penyelidikannya, dia harus bergaul dengan pelaut-pelaut Cina di pelabuhan."

Mr. Culverton Smith tersenyum ramah dan memungut topinya.

"Oh, begitu?" katanya. "Saya yakin masalahnya tak terlalu serius sebagaimana yang Anda takutkan. Sudah berapa lama dia sakit?"

"Kira-kira tiga hari."

"Apakah demamnya tinggi sampai dia mengigau?"

"Kadang-kadang."

"Tut, tut! Kalau begitu cukup serius. Sungguh tak berperikemanusiaan kalau saya tak menangkapnya. Saya sebetulnya tak suka kalau pekerjaan saya terganggu, Dr. Watson, tapi kali ini jelas kekecualian. Saya akan datang ke sana sekarang juga bersama Anda."

Aku teringat pesan Holmes.

"Saya masih ada urusan lain," kataku.

"Baiklah. Kalau begitu biar saya ke sana sendiri. Saya punya alamatnya kok. Percayalah, saya akan sampai di sana paling larnbat setengah jam lagi."

Hatiku pedih ketika aku memasuki kamar Holmes kembali. Aku khawatir jangan-jangan telah terjadi sesuatu yang tak kuharapkan sementara aku pergi meninggalkannya. Betapa leganya aku karena ternyata keadaannya malah membaik. Penampilannya segar sebagaimana biasanya, tak tampak tanda-tanda bahwa beberapa saat yang lalu dia sampai mengigau macam-macam. Suaranya memang masih lemah tapi malah lebih galak dan tajam dari biasanya.

"Well, kau bertemu dengannya, Watson?"

"Ya, dia akan segera kemari."

"Hebat, Watson! Hebat! Kau ini utusan paling hebat di seluruh dunia."

"Dia tadinya mau kemari bersamaku."

"Tak bisa begitu, Watson. Jelas tak mungkin. Apakah dia tanya keadaanku?"

"Aku bilang kau ketularan penyakit dari orang-orang Cina di daerah West End."

"Tepat sekali! Well, Watson, sebagai sahabat kau telah banyak membantuku. Sekarang kau boleh mengundurkan diri."

"Aku mau menunggu supaya bisa mendengarkan pendapatnya, Holmes."

"Tentu saja. Tapi menurutku pendapatnya akan lebih mudah diutarakannya kalau kami berdua saja. Di belakang ranjangku masih ada tempat, Watson."

"Astaga, Holmes!"

"Maaf, tak ada pilihan lain, Watson. Dalam kamar ini tak ada tempat persembunyian, dan memang sebaiknya begitu supaya tidak menimbulkan kecurigaan. Tapi di belakang ranjang masih bisa, Watson."

Tiba-tiba dia terduduk kembali di tempat tidurnya dengan ekspresi kaku. "Kudengar suara kereta, Watson. Cepatlah, sobat, kalau kau sungguh-sungguh mengasihiku! Dan jangan ribut, apa pun yang terjadi—apa pun yang terjadi, kaudengar? Jangan bicara apa-apa! Jangan bergerak! Cuma boleh nguping."

Dalam sekejap kekuatannya hilang, gaya bicaranya yang suka memerintah dan memaksa berubah menjadi rintihan pelan orang yang sedang demam tinggi.

Dari tempat persembunyian yang terpaksa kutempati, aku mendengar langkah-langkah kaki di tangga, lalu pintu kamar Holmes dibuka dan ditutup kembali. Aku heran karena tak mendengar apa-apa selama beberapa saat, kecuali tarikan napas Holmes yang berat. Tentunya sang tamu sedang berdiri di dekat tempat tidur Holmes sambil menatapnya. Akhirnya kesunyian yang aneh itu terkuak.

"Holmes!" teriaknya. "Holmes!" Suaranya keras seperti sedang membangunkan orang tidur. "Kau tak mendengarku, Holmes?" Lalu terdengar dia menggoyang-goyang bahu si sakit dengan keras.

"Andakah ini, Mr. Smith?" bisik Holmes. "Saya tak berani berharap Anda mau datang kemari."

Tamu itu tertawa.

"Tentu saja, Holmes." katanya, "tapi kaulihat sendiri, aku di sini. Air tuba dibalas dengan air susu, Holmes. Air tuba dibalas dengan air susu!"

"Anda baik sekali—baik hati sekali. Saya sangat memerlukan pengetahuan khusus Anda."

Tamu kami tertawa sinis.

"Memang. Untungnya kaulah satu-satunya orang di London yang memerlukan pengetahuanku. Kau tahu penyakit apa yang kauderita, Holmes?"

"Penyakit yang sama," kata Holmes.

"Ah! Kau tahu gejalanya, ya?"

"Tahu benar."

"Well, aku tak terkejut melihat keadaanmu, Holmes. Aku tak terkejut kalau memang itu yang kauderita. Kabar buruk bagimu, kalau begitu. Victor meninggal pada hari keempat, padahal dia lebih muda dan kuat dibandingkan dirimu. Seperti kaukatakan, aneh sekali dia bisa tertular penyakit Asia itu di jantung kota London—penyakit yang justru sedang kupelajari. Kebetulan yang benar-benar aneh, memang cerdik sekali kau dapat melihat hal itu, Holmes. Tapi salah besar kalau kau menimpakan kecurigaan padaku."

"Saya tahu Andalah yang membunuh pemuda itu!"

"Oh, ya? Well, kau toh tak bisa membuktikannya. Tapi apa maumu sebenarnya—menyebarkan berita-berita tentang aku, lalu merangkak minta bantuanku waktu kau dalam kesulitan. Permainan macam apa ini, heh?"

Aku mendengar napas sahabatku yang memburu. "Air! Saya minta air!" pintanya tersendat.

"Tak lama lagi ajalmu akan tiba, teman, tapi sebelumnya aku perlu bicara padamu. Itulah sebabnya kuambilkan air minum ini. Nih, jangan sampai tumpah! Nah, begitu. Apakah kau bisa mengerti apa yang kukatakan?"

Holmes mengerang kesakitan.

"Tolonglah saya. Yang sudah, biarlah berlalu," rintih Holmes. "Saya akan melupakan semuanya—saya janji. Tolong obati saya, dan saya akan melupakan semuanya."

"Melupakan apa?"

"Kematian Victor Savage. Secara tak langsung telah Anda akui Andalah pembunuhnya. Saya akan melupakan itu."

"Terserah kau mau melupakan atau mengingatnya. Kau toh tak mampu bersaksi lagi. Kau akan segera menghadap pengadilan yang lain, Holmes yang budiman, aku yakin akan hal itu. Tak jadi soal bagiku kau tahu bagaimana keponakanku menemui ajalnya. Kita tidak membicarakan dia, tapi dirimu."

"Ya, ya."

"Orang yang datang ke tempatku—aku lupa namanya—mengatakan kau ketularan penyakit ini di East End di antara para pelaut."

"Hanya itu penyebab yang masuk akal."

"Kau bangga akan kecerdasanmu, Holmes, ya, kan? Kaupikir kau cerdik? Tapi kali ini kau berhadapan dengan orang yang lebih cerdik darimu. Sekarang, coba kauingat-ingat lagi, Holmes. Tidak mungkinkah ada cara penularan lain?"

"Tidak. Saya tak bisa berpikir lagi. Demi Tuhan, tolonglah saya!"

"Ya, aku akan menolongmu. Aku akan menolongmu agar kau mengerti bagaimana keadaanmu saat ini dan bagaimana kau bisa jadi begini. Kau perlu tahu ini sebelum ajalmu tiba."

"Tolong beri obat untuk meringankan rasa sakit saya."

"Sakit, ya? Ya, para buruh itu biasa menjerit-jerit menjelang ajal mereka. Rasanya seperti kejang-kejang, kan?"

"Ya, ya, kejang-kejang."

"Pokoknya kau masih bisa mendengar kata-kataku. Sekarang dengarkan baik-baik! Coba kauingat-ingat peristiwa yang terjadi sebelum kau merasakan gejala-gejala penyakit ini?"

"Tidak, tidak, tak ada apa-apa."

"Coba pikir lagi."

"Saya terlalu sakit... tak mampu berpikir."

"Kalau begitu aku akan menolongmu. Apakah ada kiriman via pos untukmu?"

"Lewat pos?"

"Paket, mungkin."

"Saya mau pingsan—Saya akan mati... !"

"Dengar, Holmes!" Kudengar dia mengguncang-guncang temanku yang sedang sekarat, dan rasanya aku sudah tak tahan lagi untuk tetap bersembunyi.

"Kau harus mendengarkan aku. Kau ingat sebuah kotak—terbuat dari gading? Datangnya hari Rabu yang lalu. Kaubuka kotak itu, kan? Ingat?"

"Ya, ya. Saya buka kotak itu. Di dalamnya ada semacam pegas yang tajam! Lelucon apa itu...?"

"Itu bukan lelucon. Nyawamulah bayarannya. Kau bodoh, kau mau tahu saja urusan orang, dan sekarang kena batunya kau! Kalau saja kau tak usil menggangguku, aku tak akan menyakitimu."

"Saya ingat," Holmes tersengal. "Pegas itu! Berdarah. Kotaknya... ada di meja."

"Ya, betul, ini dia! Aku akan membawanya pulang dan lenyaplah sudah bukti terakhir yang kau cari-cari. Sekarang kau tahu yang sebenarnya, Holmes, akulah yang membunuhmu, dan kau boleh membawa rahasia itu ke liang kubur. Kau terlalu banyak tahu tentang kematian Victor Savage, jadi sebaiknya kau menyusul dia. Aku akan duduk di sini dan melihatmu menyongsong ajal."

Holmes membisikkan sesuatu. Suaranya sudah sangat lemah.

"Apa?" kata Smith. "Nyalakan lampu gas? Ah, sudah mulai malam rupanya. Ya, akan kunyalakan, supaya aku bisa melihatmu dengan lebih jelas."

Dia menyeberangi kamar ini dan menyalakan lampu.

"Ada permintaan lain lagi, sobat?"

"Korek api dan rokok!"

Aku hampir saja terlonjak. Suara Holmes normal kembali! Masih agak lemah, mungkin, tapi aku kenal betul suara itu. Sunyi beberapa saat, kuperkirakan Culverton Smith sedang berdiri kaku saking terkejutnya, sambil menatap si sakit.

"Apa-apaan ini?" akhirnya kudengar dia berkata, dengan suara kering dan serak.

"Kalau mau berhasil memainkan suatu peran, kita harus sungguh-sungguh menjalaninya," kata Holmes. "Percayalah, selama tiga hari aku tak makan dan minum, sampai kau berbaik hati mengambilkanku air. Tapi yang paling menggangguku ialah puasa rokok itu. Ah, ini ada rokok."

Kudengar suara orang memantik korek api. "Ah, aku merasa jauh lebih baik. Halloa! Halloa! Ada langkah kaki seorang teman rupanya!"

Memang, terdengar langkah-langkah kaki di luar kamar. Lalu pintu kamar Holmes dibuka, dan masuklah Inspektur Morton.

"Semuanya berlangsung sesuai rencana. Inilah orang yang Anda cari-cari," kata Holmes.

Inspektur polisi itu, sebagaimana biasa, membacakan hak-hak tertuduh.

"Saya menangkap Anda dengan tuduhan pembunuhan atas seseorang bernama Victor Savage," katanya kemudian.

"Dan Anda bisa menambahkan dengan tuduhan percobaan pembunuhan terhadap seseorang bernama Sherlock Holmes," komentar temanku sambil tergelak. "Saya yang tadi terbaring sakit, Inspektur, malah tak usah susah-susah mengirimkan sinyal kepada Anda. Mr. Culverton-lah yang menyalakan lampu gas ini. Ngomong-ngomong, tawanan Anda itu memiliki kotak kecil di kantong kanan jasnya. Sebaiknya diamankan saja. Terima kasih. Anda perlu menyimpan benda itu baik-baik, atau titipkan saja di sini. Nanti boleh diambil kalau diperlukan di pengadilan."

Tiba-tiba terdengar suara borgol dibuka, diikuti suara besi membentur sesuatu, lalu teriakan kesakitan.

"Anda hanya menyakiti diri sendiri," kata sang inspektur. "Berdiri saja dengan tenang, bisa tidak?" Lalu terdengar suara borgol dikunci.

"Jebakan yang jitu!" bentak si tawanan dengan nyaring. "Kaulah yang akan dipenjarakan, Holmes, bukan aku. Dia yang memintaku datang kemari untuk mengobatinya. Aku kasihan padanya, maka aku datang. Sekarang dia pasti akan berpura-pura aku telah mengatakan sesuatu yang dikarang-karangnya sendiri untuk membenarkan kecurigaannya yang gila. Kau boleh berbohong semaumu, Holmes. Kita lihat saja kata-kata siapa yang dapat dipercaya."

"Astaga!" teriak Holmes. "Aku betul-betul lupa. Sobatku Watson, aku mohon beribu-ribu maaf. Aku sampai lupa akan kehadiranmu! Kau tak perlu kuperkenalkan kepada Mr. Culverton, kan? Soalnya kau pemah bertemu dengannya. Apakah ada kereta di bawah? Aku nanti menyusul setelah ganti pakaian. Kehadiranku mungkin dibutuhkan di kantor polisi."

"Aku sangat membutuhkan ini," kata Holmes sambil menenggak segelas anggur merah Prancis dan mengunyah beberapa potong biskuit. Semua itu dilakukannya sambil berganti pakaian. "Tapi, kebiasaan makanku memang tak teratur, sehingga berpuasa seperti ini tak terlalu berat bagiku. Yang paling penting, aku harus memberi kesan kepada Mrs. Hudson bahwa aku benar-benar sakit payah, karena dia akan melaporkannya padamu, dan kau pada gilirannya akan lapor pada pria itu. Kau tak marah, kan, Watson? Aku tahu kau tak punya bakat akting, dan seandainya kau tahu rahasiaku sebelumnya kau tak akan berhasil. Semua ini kan kulakukan untuk memancing kedatangannya. Menyadari sifatnya yang pendendam, aku yakin dia akan datang, agar dapat berbangga atas hasil karyanya."

"Tapi penampilanmu, Holmes—wajahmu benar-benar mengerikan!"

"Puasa total selama tiga hari penuh jelas tak membuat rupaku jadi tampan, Watson. Tambahan pula, rias wajah dapat membantu. Dengan mengoleskan vaseline di dahi, belladonna di mata, pemerah di tulang pipi, dan lilin di bibir, aku mendapatkan efek yang kukehendaki. Ngoceh sedikit tentang koin, tiram, atau hal lain yang aneh-aneh akan membuat orang mengira aku mengigau karena demam tinggi."

"Tapi kenapa kau tak mengizinkanku mendekatimu? Kau toh tak akan menularkan apa-apa?"

"Alasannya jelas, kan, sobatku Watson? Kaukira aku tak menghargai kemampuanmu? Sebagai dokter yang andal, apakah kau akan percaya aku sekarat kalau ternyata denyut jantung dan suhu badanku normal? Dalam jarak tiga setengah meter, aku bisa mengelabuimu. Kalau tidak, siapa yang akan membawa Smith ke dalam jangkauan tanganku?

"Tidak, Watson, aku tak menyentuh kotak itu. Dari samping saja sudah kelihatan pegas yang tajam bagaikan gigi ular berbisa, yang akan langsung menyengatmu begitu kaubuka kotak itu. Aku berani mengatakan, melalui alat semacam itulah pemuda Savage yang malang menemui ajalnya. Kau tentu tahu aku selalu waspada kalau menerima kiriman, apalagi paket. Tapi aku sengaja berpura-pura, supaya dalam kegembiraannya karena rencananya berhasil, Smith membuka rahasia. Ternyata aku memang berhasil mendapatkan pengakuannya. Terima kasih, Watson, atas bantuanmu.

"Kini tolong aku mengenakan mantel. Begitu urusan di kantor polisi selesai, rasanya kita perlu makan besar di Restoran Simpson's."