Aku berkunjung ke tempat Holmes pada hari kedua setelah Natal untuk memberi ucapan selamat padanya. Dia sedang berbaring di sofa dengan pakaian tidur ungu. Di sebelah kanannya terdapat rak pipanya agar gampang dijangkau, dan terlihat pula setumpuk koran kumal di dekatnya yang nampaknya baru saja dibolak-baliknya. Ada sebuah kursi kayu di samping sofa, dan sebuah topi kumal yang nampaknya sudah lama sekali dipakai tergantung di situ. Kaca pembesar dan tang juga tergeletak di kursi itu, nampaknya tadi dipakai untuk memeriksa topi itu.

"Kau sedang sibuk," kataku, "aku mungkin mengganggumu."

"Oh, tidak. Aku senang kalau ada yang menemaniku untuk mendiskusikan penemuan-penemuanku. Masalahnya sebetulnya sepele saja," (jempolnya menunjuk ke arah topi tadi) "tapi ada hal-hal berkaitan dengan itu yang agak menarik dan menantang."

Aku duduk di kursi berlengan, dan menghangatkan tanganku di depan perapian, karena salju tebal telah turun, dan jendela-jendela dipenuhi kristal salju. "Kukira," komentarku, "topi itu, walaupun nampaknya biasa saja, berkaitan dengan suatu kisah tragis—dan dapat mengungkapkan sebuah misteri, sehingga kejahatan akan menerima ganjarannya."

"Bukan, bukan kejahatan," kata Sherlock Holmes sambil tertawa. "Hanya salah satu dari kejadian-kejadian aneh yang terjadi karena ada empat juta manusia yang tinggal berdesak-desakan di wilayah yang luasnya cuma beberapa kilometer persegi. Mereka melakukan aksi dan reaksi, maka peristiwa-peristiwanya jadi sangat bervariasi dan muncullah banyak masalah kecil yang aneh, tapi bukan kejahatan. Kita sudah pernah menangani hal seperti ini sebelumnya."

"Betul juga," komentarku. "Dari enam kasus terakhir yang sempat kucatat, tiga di antaranya benar-benar bukan kasus kejahatan resmi kan?"

"Persis. Kau menyinggung upaya-upayaku untuk mengambil kembali surat-surat Raja Bohemia yang dikirim kepada Irene Adler, kasus unik Miss Mary Sutherland, dan petualangan pria berbibir miring. Yah, aku yakin masalah kecil ini juga termasuk kategori yang sama. Kenalkah kau pada Peterson, petugas antar barang itu?"

"Ya."

"Tanda kemenangan ini miliknya."

"Maksudmu topi itu miliknya."

"Tidak, tidak; dia yang menemukannya. Pemiliknya tak diketahui. Kumohon kau bersedia mengamatinya, bukan sebagai topi kumal biasa, tapi sebagai masalah intelektual. Dan, biar kujelaskan dulu bagaimana topi itu sampai kemari. Topi itu dibawa ke sini, berikut seekor bebek gemuk, tepat pada pagi hari Natal yang lalu. Aku yakin bebek itu kini sudah dipanggang oleh Peterson. Beginilah kisahnya. Kira-kira jam empat pagi pada hari Natal, Peterson yang sebagaimana kau tahu adalah orang yang sangat jujur, sedang dalam perjalanan pulang ke Tottenham Court Road setelah bersenang-senang semalaman. Seorang pria jangkung berjalan sempoyongan di depannya sambil menggendong seekor bebek putih di bahunya. Ketika dia sampai di ujung Goodge Street, terjadi pertengkaran antara pria ini dengan sekelompok pemuda berandalan. Salah satu dari mereka memukul topi pria itu, yang dibalasnya dengan mengacungkan tongkatnya untuk melindungi diri. Ketika dia mengayunkan tongkat itu di atas kepalanya, tongkat itu menghantam kaca toko di belakangnya. Peterson berlari untuk menolongnya. tapi pria itu, yang menjadi terkejut karena telah memecahkan kaca toko milik orang lain, panik melihat seorang berseragam berlari ke arahnya. Dia langsung membuang bebeknya, melarikan diri, dan menyusup di antara gang-gang di belakang Tottenham Court Road.

Pemuda-pemuda berandalan tadi pun semuanya melarikan diri melihat kedatangan Peterson, sehingga tinggallah dirinya di tempat bekas pertengkaran tadi, dan sebagai tanda kemenangan dia mendapatkan topi penyok ini dan bebek Natal yang tak bercacat itu."

"Yang tentunya dikembalikannya kepada pemiliknya?'

"Sobat, itulah masalahnya. Memang ada kartu bertuliskan 'Kepada Mrs. Henry Baker' di kaki kiri angsa itu, dan ada singkatan H.B. dipinggiran topi ini, tapi karena ada ribuan orang yang namanya Baker, dan ratusan yang namanya Henry Baker di kota kita ini, tidaklah mudah untuk mengembalikan barang hilang kepada salah satu dari mereka."

"Lalu apa yang diperbuat Peterson?"

"Dia kemari bersama topi dan bebek itu pada pagi hari Natal, karena dia tahu bahwa masalah sekecil apa pun pasti akan menarik perhatianku. Kami menyimpan bebek itu sampai pagi tadi. Lalu walaupun salju turun, nampaknya bebek itu harus segera dimakan sebelum keburu busuk. Peterson membawa pulang bebek itu untuk dinikmati karena dialah yang menemukannya, sedangkan aku menyimpan topi milik orang tak dikenal yang telah pula kehilangan hidangan Natalnya itu".

"Dia tak memasang iklan?"

"Tidak."

"Lalu bagaimana kau akan mendapatkan identitasnya?"

"Hanya dari apa yang bisa kita simpulkan."

"Dari topinya?"

"Benar."

"Kau bercanda, ya. Apa yang bisa kaudapatkan dari topi penyok ini?"

"Coba lihatlah dengan kaca pembesar ini. Kau tahu cara-caraku, bukan? Informasi apa yang kaudapatkan mengenai orang yang memiliki topi semacam ini?"

Benda itu kutaruh di tanganku, lalu kuputar dengan agak mendongkol. Topi hitam yang bentuknya bulat itu biasa-biasa saja, kumal karena dimakan usia. Pinggirannya terbuat dari sutera merah, tapi warnanya sudah memudar. Tak ada mereknya, tapi sebagaimana telah dikatakan Holmes, ada coretan singkatan "H.B." di salah satu sisinya. Ada alat pengaman di pinggirnya, tapi elastiknya sudah copot. Secara keseluruhan, topi itu retak, penuh debu, dan belang-belang di beberapa tempat, walaupun nampaknya pemiliknya sudah mengupayakan untuk menyemir bagian yang belang-belang itu dengan tinta.

"Aku tak dapat informasi apa-apa," kataku sambil mengembalikan topi itu kepada temanku.

"Sebaliknya, Watson, ada banyak informasi yang bisa kaudapatkan. Tapi kau tak melihatnya. Kau kurang gesit dalam menarik kesimpulan."

"Kalau begitu, katakan saja padaku kesimpulan apa yang kau dapat dari topi ini."

Diambilnya topi itu, lalu dipandanginya seperti biasanya bila dia sedang mengintrospeksi sesuatu. "Nampaknya tak mengandung informasi apa-apa," komentarnya, "padahal ada beberapa kesimpulan yang jelas dan kemungkinan-kemungkinan yang dapat ditarik. Penampilan topi ini menunjukkan bahwa pemiliknya adalah seorang yang sangat pandai dan selama tiga tahun terakhir ini cukup kaya, namun saat ini dia sedang bangkrut. Dulu, pemikirannya sangat mengacu ke masa depan. Tapi sekarang tidak lagi karena kondisi morilnya yang mundur. Bila dikaitkan dengan kebangkrutannya, pastilah ada pengaruh jahat dalam hidupnya, mungkin minuman keras. Ini pulalah yang mungkin menyebabkan istrinya tak lagi mencintainya."

"Astaga, Holmes!"

"Tapi harga dirinya tinggi," lanjutnya tanpa mempedulikan protesku. "Hidupnya mapan, jarang bepergian, sudah lama tak berolahraga, usianya setengah baya, rambutnya yang beruban dan selalu diolesi krim beraroma jeruk limau, baru saja dipotong beberapa hari yang lalu. Demikianlah fakta fakta yang bisa kita dapatkan dengan jelas dari topi ini. Dan juga, nampaknya sangat mungkin bahwa rumahnya tak dilengkapi dengan penerangan gas."

"Kau tentunya sedang bercanda, Holmes."

"Sama sekali tidak. Apakah kau tetap tak mengerti walaupun sudah kukatakan hal-hal itu?"

"Kuakui diriku memang tak secerdas dirimu, tapi terus terang aku tak bisa memahami pemikiranmu. Misalnya, bagaimana kau bisa mengambil kesimpulan bahwa pemilik topi ini orangnya pandai?"

Untuk menjawabnya Holmes memakai topi itu di kepalanya. Topi itu menjorok ke dahinya sampai ke ujung hidungnya. "Ini masalah ukuran," katanya. "Seseorang yang kepalanya begitu besar, otaknya juga pasti lumayan."

"Lalu mengenai kebangkrutannya?"

"Usia topi ini sudah tiga tahun. Buktinya pinggirnya sudah melesak ke dalam. Topi ini bagus sekali buatannya. Lihatlah pita suteranya, dan lapisan dalamnya yang bagus. Kalau orang ini mampu membeli topi semahal itu tiga tahun yang lalu, dan sejak itu tak membeli lagi yang baru, maka tentunya karena dia kini sudah bangkrut."

"Yah, kalau itu cukup jelas. Tapi bagaimana mengenai pikirannya tentang masa depan, dan kemunduran kondisi morilnya?"

Sherlock Holmes tertawa. "Ini menunjukkan pemikirannya akan masa depan," katanya sambil menaruh jarinya di alat pengaman topi itu. "Alat ini tambahan saja. Kalau orang ini minta dibuat demikian, ini tandanya dia memikirkan masa depan, karena kalau keluar dia perlu menjaga agar topinya tak dibawa kabur oleh angin. Tapi karena elastiknya sudah copot, dan dia tak berupaya menggantinya maka itu berarti dia tak terlalu memikirkan masa depannya lagi. Bukankah ini menunjukkan kemunduran kondisi moril seseorang? Sebaliknya, dia berupaya menutupi belang-belang di bagian atas topinya dengan tinta. Bukankah ini menandakan bahwa dia masih punya harga diri?"

"Pertimbanganmu cukup masuk akal."

"Lebih jauh lagi, mengenai usianya yang setengah baya, rambutnya yang beruban yang selalu diolesinya dengan krim beraroma jeruk limau dan baru saja dipotong, semua ini kudapatkan setelah mengawasi bagian bawah lapisan dalamnya dengan saksama. Lensa pembesar menunjukkan adanya banyak potongan rambut yang baru saja dipangkas. Semuanya melekat, dan berbau jeruk limau. Debu ini, lihatlah, bukan debu pasir jalanan yang biasanya berwarna abu-abu, tapi debu halus berwarna coklat yang biasa ditemukan di dalam rumah, yang menandakan bahwa topi ini lebih sering tergantung saja di dalam rumah; sementara bercak-bercak bekas cairan di bagian dalam menunjukkan bahwa pemakainya banyak berkeringat, dan sudah lama tak berolahraga"

"Tapi mengenai istrinya... katamu dia sudah tak mencintainya lagi."

"Topi ini sudah berminggu-minggu tak dibersihkan. Misalnya aku melihatmu, Watson, memakai topi penuh debu karena selama seminggu tak dibersihkan, dan istrimu membiarkanmu pergi ke luar dalam keadaan demikian, menurutku istrimu sudah tak mencintaimu lagi."

"Tapi, mungkin saja dia seorang perjaka tua."

"Tak mungkin, saat itu dia menggotong bebek untuk diberikan pada istrinya, dengan harapan mereka bisa berbaikan lagi. Ingat, ada kartu di kaki bebek itu."

"Kau bisa menjelaskan semuanya. Tapi bagaimana kau bisa tahu bahwa rumahnya tak dilengkapi dengan penerangan gas?"

"Kalau noda gemuknya cuma satu-dua, boleh saja dikesampingkan, tapi kalau sampai ada lima, kurasa itu menunjukkan bahwa dia sering berada di depan lilin yang menyala—malam-malam mungkin, dia sering berjalan masuk ke kamarnya dengan membawa topi di salah satu tangannya dan lilin di tangan lainnya. Pokoknya, takkan ada noda gemuk kalau penerangannya memakai gas. Sudah puas?"

"Wah, kau betul-betul hebat," kataku sambil tertawa. "Tapi karena menurutmu tadi tak ada kejahatan yang telah terjadi, dan tak ada kerugian kecuali hilangnya seekor bebek, apakah mengurus hal ini tak akan buang-buang tenaga saja?"

Baru saja Sherlock Holmes membuka mulutnya untuk menjawab, pintu terbuka, dan Peterson berlari memasuki ruangan. Pipinya memerah dan wajahnya penuh keheranan.

"Bebek itu, Mr. Holmes! Bebek itu!" katanya dengan terengah-engah.

"Eh! Kenapa bebek itu? Kembali hidup, lalu terbang ke jendela?" Holmes menoleh agar bisa memandang wajah orang yang sedang tercengang-cengang itu dengan lebih jelas.

"Lihatlah! Lihat apa yang ditemukan istri saya di tembolok bebek itu!" Dibukanya telapak tangannya, dan terlihatlah sebuah baru delima berwarna biru yang gemerlapan, besarnya sedikit lebih kecil dari biji buncis tapi sinarnya berkilauan seperti sinar lampu listrik di tangannya yang gelap.

Sherlock Holmes berdiri sambil bersiul. "Wah, Peterson," katanya, "ini sungguh-sungguh harta terpendam! Kukira kau sudah tahu barang apa itu yang kaudapatkan?"

"Berlian, sir! Batu mulia."

"Batu ini lebih dari sekadar batu mulia. Ini batu mulia khusus."

"Bukan batu delima biru milik Countess Morcar, kan?" kataku tiba-tiba.

"Tepat, memang itulah. Aku tahu ukuran dan bentuknya karena aku telah membaca iklannya di The Times tiap hari akhir-akhir ini. Batu itu unik sekali, dan nilainya tak bisa diduga. Dan hadiah seribu pound untuk siapa yang bisa menemukannya, jelas tak ada seperdua puluh nilai jualnya di pasaran."

"Seribu pound! Ya, Tuhan!" Petugas antar barang itu menjatuhkan diri di sebuah kursi, dan memandang kami secara bergantian

"Itu hadiah yang dijanjikan, dan setahu saya, ada alasan sentimental tertentu sehingga menyerahkan separo hartanya pun Countess bersedia, asalkan batu itu kembali padanya."

"Batu itu hilang, kalau tak salah, di Hotel Cosmopolitan," komentarku.

"Betul, kejadiannya pada tanggal 22 Desember, lima hari yang lalu. John Horner, seorang tukang leding, dituduh mencuri batu itu dari kotak perhiasan wanita itu. Tuduhan atas dirinya itu begitu kuatnya sampai sudah diajukan ke Pengadilan Assizes. Kukira aku punya beritanya." Dia mencari-cari di antara beberapa surat kabar yang dibawanya, melihat tanggal-tanggal, lalu mengambil salah satunya, dilipatnya menjadi dua, dan dibacanya paragraf berikut ini:

"Perampokan Perhiasan di Hotel Cosmopolitan. John Horner, 26, tukang leding, ditangkap karena pada tanggal 22 Desember mengambil batu mulia yang dikenal sebagai batu delima biru dari kotak perhiasan Countess Morcar. James Ryder, pegawai hotel itu, memberikan kesaksiannya bahwa dia mengantar Horner masuk ke ruang ganti Countess Morcar pada hari terjadinya perampokan itu untuk mematri jeruji yang longgar. Dia menemani Horner selama beberapa saat, tapi lalu meninggalkannya sendirian karena dia dipanggil ke tempat lain. Waktu dia kembali ke kamar itu, Horner sudah tidak ada di situ, lemari pakaian telah dibuka secara paksa, dan kotak kulit yang biasa dipakai Countess untuk menyimpan perhiasannya tergeletak di meja rias. Isinya telah hilang. Ryder segera melapor dan Horner ditangkap malam itu juga, tapi batu delima itu tak dapat ditemukan walaupun Horner dan rumahnya telah digeledah. Catherine Cusack, pelayan wanita Countess, menyatakan telah mendengar teriakan Ryder ketika mengetahui terjadinya perampokan itu, dan begitu dia berlari menuju kamar itu, dia menemukan kamar itu dalam keadaan seperti yang dijelaskan oleh Ryder. Inspektur Bradstreet dari Divisi B memerintahkan agar Horner ditangkap. Horner melawan ketika hendak ditangkap, dan dengan keras menyangkal telah melakukan perampokan itu. Bukti bahwa tertuduh dulu pernah dihukum juga dimunculkan. Hakim tak bersedia memutuskan masalah ini secepatnya, tapi malah melimpahkannya ke Pengadilan Assizes. Horner, yang sangat emosional selama persidangan itu, jatuh pingsan mendengar hal itu, dan digotong keluar pengadilan."

"Hm! Begitulah polisi mengadilinya, ya," kata Holmes dengan serius sambil menaruh koran. "Pertanyaan yang harus kita cari jawabannya adalah rangkaian peristiwa sejak dari kotak perhiasan yang dirampok di satu pihak sampai tembolok bebek di Tottenham Court Road di lain pihak. Kau lihat, Watson, kesimpulan-kesimpulan kita tiba-tiba menjadi penting, dan melibatkan perkara kriminal. Batu delima itu ada di sini; didapat dari seekor bebek, dan bebeknya berasal dari Mr. Henry Baker, pria yang memiliki topi jelek itu dan semua ciri-ciri yang telah membosankanmu tadi. Maka sekarang kita harus menemukan orang ini, dan memastikan peran apa yang dimainkannya dalam misteri kecil ini. Untuk itu, mari kita mulai dari yang paling sederhana saja, yaitu dengan memasang iklan di koran-koran sore. Kalau langkah ini tak ada hasilnya, barulah akan kupakai cara lain."

"Bagaimana bunyinya?"

"Tolong minta pensil dan secarik kertas. Jadi, begini: 'Telah ditemukan di ujung jalan Goodge Street, seekor bebek dan sebuah topi hitam. Silakan Mr. Henry Baker mengambilnya pada jam 6.30 malam ini di Baker Street No. 221B.' Singkat tapi jelas, kan?"

"Ya, tapi apakah dia akan melihat iklan itu?"

"Yah, dia pasti akan memperhatikan koran, karena bagi orang miskin, kehilangan itu cukup berarti. Dia begitu ketakutan karena telah memecahkan jendela toko dan melihat kedatangan Peterson, sehingga paling aman baginya adalah melarikan diri, tapi kemudian dia pasti sangat menyesal karena telah membuang bebeknya begitu saja. Lagi pula, karena namanya tertulis di iklan ini, dia akan dapat melihatnya dengan mudah, dan setiap orang yang mengenalnya pasti akan memberitahukan padanya. Nih, Peterson, tolong pasang iklan ini di koran-koran sore."

"Koran-koran yang mana, sir?"

"Oh, Globe, Star, Pall Mall, St. James's Gazette, Evening News, Standard, Echo, dan lain-lain yang sempat kauingat namanya."

"Baiklah, sir, dan bagaimana dengan batu delima ini?"

"Ah, ya. Biar kusimpan. Terima kasih. Dan, Peterson, beli juga seekor bebek dalam perjalanan pulang, dan bawalah ke sini, karena kita perlu seekor untuk dikembalikan pada orang itu sebagai ganti bebek yang tengah disantap keluargamu."

Ketika petugas antar barang itu telah pergi, Holmes mengambil batu itu dan mengamatinya di bawah lampu. "Alangkah indahnya," katanya. "Coba lihat kemilau dan gemerlapnya. Tak heran batu ini jadi objek dan mangsa empuk kejahatan. Semua batu mulia begitu, mereka adalah umpan setan. Pada batu-batu mulia yang lebih besar dan lebih tua umurnya, setiap permukaannya bisa mengandung peristiwa berdarah. Batu ini umurnya belum sampai dua puluh tahun. Ditemukan di pinggir Sungai Amoy di Cina Selatan, dan terkenal karena ciri-ciri batu delimanya yang kuat, tapi anehnya warnanya biru dan bukannya merah delima. Walaupun umurnya belum terlalu tua, sejarahnya sudah cukup seram. Telah terjadi dua kali pembunuhan, sekali penganiayaan, sekali bunuh diri, dan beberapa kali perampokan, sehubungan dengan biji arang seberat empat puluh grain yang telah mengkristal ini. Siapa menyangka kalau mainan yang indah ini telah mengirim banyak orang ke tiang gantungan dan penjara? Kini aku harus menyimpannya baik-baik dalam lemari besi, lalu memberitahu Countess bahwa batu delimanya ada di sini."

"Apakah menurutmu Horner tak bersalah?"

"Aku belum bisa mengatakannya."

"Kalau begitu, apakah menurutmu Henry Baker ada hubungannya dengan kasus ini?"

"Menurutku, mungkin Henry Baker tak bersalah apa-apa, dan tak menduga bahwa bebek yang dibawanya berisi sesuatu yang amat berharga, jauh lebih berharga daripada kalau umpamanya bebek itu terbuat dari emas mumi. Tapi, itu baru bisa dipastikan kalau ada yang menanggapi iklan kita."

"Dan tak ada yang bisa kaulakukan sebelum itu?"

"Ya."

"Kalau begitu, sebaiknya aku kembali praktek. Aku akan ke sini nanti malam pada jam yang kausebut tadi, karena aku ingin mengetahui jalan keluar atas masalah yang kusut ini."

"Senang sekali kau mau datang. Aku makan malam jam tujuh. Kurasa menunya ayam. Omong-omong, sehubungan dengan apa yang baru saja terjadi, aku mungkin sebaiknya menyarankan Mrs. Hudson untuk memeriksa tembolok ayam itu. Siapa tahu?"

Aku kembali ke Baker Street jam setengah tujuh lewat sedikit, agak terlambat karena ada sedikit kasus dengan pasien. Ketika aku hampir sampai ke situ aku melihat seorang pria jangkung bertopi Skotlandia menunggu di luar di bawah lampu. Jasnya tertutup rapat sampai ke dagu. Begitu aku sampai di sana, pintu terbuka, dan kami berdua dipersilakan masuk ke kamar Holmes.

"Mr. Henry Baker, ya?" kata Holmes sambil bangkit dari kursinya dan menyalami tamunya dengan keramahtamahannya yang selalu siap. "Silakan duduk dekat perapian, Mr. Baker. Malam ini dingin sekali, dan agaknya Anda lebih tahan musim panas daripada musim dingin. Ah, Watson, kau datang tepat pada waktunya. Apakah topi itu milik Anda, Mr. Baker?"

"Ya, sir, tak saya ragukan lagi."

Pria itu gemuk, bahunya bulat, kepalanya besar dan lebar, wajahnya menunjukkan bahwa dia orang pandai, janggutnya beruban kecoklatan. Hidung dan pipinya yang kemerah-merahan, serta tangannya yang terulur agak gemetaran, mengingatkanku pada dugaan Holmes sebelumnya akan kebiasaan-kebiasaannya. Jas hitamnya yang kumal dikancingkannya sampai ke atas, kerahnya berdiri, dan pergelangan tangannya yang ramping tersembul dari lengan jasnya. Tampaknya dia tak memakai manset ataupun kemeja. Suaranya berat dan tajam, kata-katanya terpilih, dan penampilannya memberi kesan bahwa dia orang terpelajar yang bernasib buruk

"Barang barang ini sudah ada di sini selama beberapa hari," kata Holmes. "Sebetulnya kami menunggu kalau-kalau ada iklan kehilangan dari Anda supaya kami tahu alamat Anda. Saya tak mengerti kenapa Anda tak memasang iklan."

Tamu kami tertawa dengan agak malu. "Saya tak lagi punya uang banyak," komentarnya. "Saya kira gerombolan liar yang menyerang saya itulah yang telah mengambil barang-barang saya, sehingga saya tak mau buang-buang uang untuk sesuatu yang tak mungkin kembali."

"Benar. Omong-omong, tentang bebek itu... kami terpaksa memakannya."

"Memakannya!" Tamu kami hampir berdiri dari duduknya karena kaget.

"Ya, malah akan mubazir kalau kami tak memakannya. Tapi moga-moga Anda tak keberatan kalau kami menggantinya dengan bebek yang masih segar di bufet sana itu, yang beratnya hampir sama dengan bebek Anda."

"Oh, pasti, pasti!" jawab Mr. Baker dengan lega.

"Tentu saja, bagian-bagian yang tak dimakan dari bebek Anda seperti bulu, kaki, tembolok, dan lain-lainnya masih ada semuanya. Apakah Anda ingin..."

Pria itu terbahak-bahak. "Untuk apa semua itu? Kenang-kenangan atas petualangan saya?" katanya. "Tidak, sir, kalau Anda tak keberatan, saya akan ambil bebek yang di bufet itu saja."

Sherlock Holmes memandang sejenak padaku dengan tajam sambil agak mengangkat bahunya.

"Kalau begitu, silakan mengambil topi dan bebek Anda," kata Holmes. "Omong-omong, bisakah Anda memberitahu kami di mana Anda membeli bebek itu? Saya suka sekali bebek, dan saya jarang menemukan bebek sebagus itu."

"Tentu saja, sir," kata Mr. Baker sambil berdiri dan mengempit barang-barangnya di bawah lengannya. "Ada beberapa orang yang sering mengunjungi Alpha Inn dekat Museum—kami bekerja di Museum kalau siang. Tahun ini, tuan rumah kami yang baik hati, namanya Windigate, menyelenggarakan klub bebek, dan kami akan diberi seekor bebek pada hari Natal dengan membayar beberapa penny setiap minggu. Saya sudah membayar angsuran saya, dan lalu begitulah, cerita selanjutnya sudah Anda ketahui. Saya sangat berutang budi pada Anda, sir, karena topi Skotlandia ini tak cocok untuk orang segemuk dan seumur saya." Dengan gaya angkuh yang lucu, dia mengangguk dengan khidmat kepada kami berdua, lalu keluar.

"Itulah Mr. Henry Baker," kata Holmes setelah menutup pintu. "Aku cukup yakin bahwa dia tak tahu-menahu tentang kasus itu. Apakah kau lapar, Watson?"

"Belum."

"Kalau begitu, makan malamnya ditunda saja, dan kita ikuti petunjuk ini dulu sementara masih segar di ingatan."

"Oke."

Malam itu dinginnya sangat menggigit, sehingga kami harus memakai baju hangat panjang, dan melilitkan syal di leher kami. Di luar, bintang bersinar redup di langit yang tak berawan, dan embusan napas para pejalan kaki membentuk kepulan-kepulan asap bagaikan bekas tembakan-tembakan pistol. Langkah kaki kami berdebum dengan keras ketika kami melewati perumahan dokter, Wimpole Street, Harley Street, dan menyeberangi Wigmore Street menuju Oxford Street. Dalam seperempat jam kami sudah berada di daerah Bloomsbury di depan Alpha Inn, yang merupakan kedai minuman di salah satu ujung jalan yang menuju Holborn. Holmes mendorong pintu masuk bar pribadi, dan memesan dua gelas bir dari pemilik kedai yang berwajah kemerah-merahan dan memakai celemek putih.

"Kalau bir Anda bisa sebagus bebek Anda, alangkah hebatnya," katanya.

"Bebek saya!" Orang itu nampak terkejut.

"Ya. Setengah jam yang lalu saya baru saja berbicara dengan Mr. Henry Baker yang menjadi anggota klub bebek Anda."

"Oh, begitu. Tapi, sir, itu bukan bebek-bebek saya."

"Oh, ya? Lalu, punya siapa?"

"Begini, saya menerima dua lusin bebek dari seorang penjual di Covent Garden."

"Oh, ya? Saya kenal beberapa di antara mereka. Yang mana, ya?"

"Breckinridge namanya."

"Ah, kalau dia saya tak kenal. Baiklah, semoga Anda sehat-sehat saja dan sukses selalu. Selamat malam!"

"Sekarang kita temui Mr. Breckinridge," lanjutnya sambil mengancingkan baju hangatnya, ketika kami keluar ke jalanan yang udaranya membeku. "Ingat, Watson, walaupun di satu pihak kita hanya tahu soal bebek, di lain pihak ada orang yang bisa dituntut penjara selama tujuh tahun, kecuali bila kita bisa membuktikannya sebagai orang yang tak bersalah. Mungkin saja penyelidikan kita malah akan menegaskan kesalahannya, tapi yang jelas, penyelidikan yang kita lakukan terlewatkan oleh polisi, dan kita mendapat kesempatan emas untuk melakukan itu. Mari kita selidiki sampai semampu kita. Yuk, kita jalan cepat ke arah selatan!"

Kami menyeberangi Holborn ke Endell Street, lalu melewati perumahan kumuh yang tak teratur sampai ke Covent Garden Market. Salah satu kios yang besar bernama Breckinridge. Pemiliknya, seorang pria bermuka runcing dan bercambang di kedua pipinya, sedang membantu seorang anak untuk menaikkan penutup kiosnya.

"Selamat malam, hawanya dingin sekali malam ini," kata Holmes.

Orang itu mengangguk dan menatap temanku dengan rasa ingin tahu.

"Bebek Anda sudah habis terjual, ya," lanjut Holmes sambil menunjuk ke meja-meja marmer yang kosong.

"Kalau besok pagi, mau beli lima ratus ekor juga ada."

"Wah, tidak bisa."

"Di kios yang pakai lampu gas sana masih ada beberapa ekor."

"Ah, tapi saya dianjurkan agar membeli di kios Anda."

"Oleh siapa?"

"Pemilik Alpha."

"Ah, ya, saya pernah mengirim dua lusin padanya."

"Bebek Anda bagus bagus sekali. Dari mana Anda mendapatkannya?"

Aku heran, karena pertanyaan itu telah membuat orang itu marah.

"Dengar, mister" katanya sambil mendongak dan berkacak pinggang, "mau apa Anda, ha? Ayo, langsung saja."

"Saya sudah langsung menanyakannya. Saya ingin tahu siapa yang menjual bebek yang Anda kirim ke Alpha."

"Saya tak akan mengatakannya pada Anda. Ayo, mau apa lagi Anda sekarang?"

"Oh, itu tak mengapa, tapi saya jadi tak mengerti mengapa ditanya begitu saja Anda marah."

"Marah! Anda pun mungkin akan marah kalau diganggu seperti ini. Kalau saya membayar untuk barang dagangan saya, itu namanya bisnis, tapi kalau terus-terusan ditanya, 'Mana bebek-bebekmu?'... 'Kepada siapa saja kau menjual bebek?'... dan 'Berapa harga seekor bebekmu?', tentu saja saya lalu berpikir memangnya hanya saya yang punya bebek di seluruh dunia ini, sehingga perlu ditanya-tanya semacam itu?"

"Yah, saya tak ada hubungannya dengan orang lain yang pernah bertanya begitu pada Anda," kata Holmes acuh tak acuh. "Kalau Anda tak mau mengatakannya, ya sudah. Tapi saya selalu ingin mengecek kebenaran pendapat saya mengenai bebek yang saya makan. Saya berani taruhan lima pound, bahwa bebek itu adalah bebek kampung."

"Kalau begitu Anda akan kehilangan lima pound, karena bebek itu diternak di kota," bentak orang itu.

"Tak mungkin."

"Betul."

"Saya tak percaya."

"Anda kira Anda tahu lebih banyak tentang bebek dibanding saya yang sudah menjualnya sejak kecil? Dengar kata saya, semua bebek yang saya kirim ke Alpha diternak di kota."

"Anda tak akan bisa membujuk saya untuk mempercayai hal itu."

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita taruhan?"

"Anda pasti kalah, karena saya yakin sayalah yang benar. Tapi, bolehlah taruhan satu koin emas untuk memberi pelajaran pada Anda supaya jangan terlalu keras kepala."

Penjual bebek itu tergelak. "Coba bawa kemari buku-buku catatan itu, Bill," katanya.

Anak lelaki yang dipanggil Bill itu mengambil dua buah buku, yang satu tipis sedang satunya lagi tebal dan bagian belakangnya penuh minyak, dan menaruhnya di bawah lampu gantung.

"Nah, Tuan sok tahu," kata penjual bebek itu, "mari kita buktikan ketololan Anda. Anda lihat buku tipis ini?"

"Ya?"

"Ini daftar pemasok bebek saya. Sudah lihat? Yang di halaman ini nama-nama pemasok dari kampung, dan di belakangnya itu nomor-nomor mereka sebagaimana tercantum di buku induk. Lalu, Anda lihat halaman berikutnya yang bertinta merah? Nah, itu pemasok-pemasok dari kota. Kini, lihatlah nama ketiga itu, dan bacalah keras-keras."

"Mrs. Oakshott, Brixton Road 117—249," Holmes membaca.

"Baik. Sekarang lihat di buku induk."

Holmes membuka halaman 249 dari buku induk "Tertulis, 'Mrs. Oakshott, Brixton Road 117, pemasok telur dan unggas.'"

"Coba baca catatan terakhir!"

"22 Desember. Dua puluh empat bebek dengan harga 7s 6d."

"Betul, kan? Dan bawahnya itu?"

"'Dibeli oleh Mr. Windigate dari Alpha dengan harga 12s.'"

"Apa komentar Anda sekarang?"

Sherlock Holmes terlihat amat kecewa. Diambilnya sekeping koin emas dari sakunya dan ditaruhnya di meja kios itu, lalu berbalik dengan rasa jengkel yang amat sangat. Setelah berjalan beberapa meter, dia berhenti di bawah tiang lampu, lalu tertawa terbahak-bahak, tapi anehnya tanpa bersuara.

"Kalau kau berjumpa dengan pria bercambang seperti itu, dan ada saputangan merah jambu tersembul dari kantong bajunya, itu tandanya dia suka bertaruh," katanya. "Aku berani mengatakan bahwa dia lebih suka bertaruh, daripada kalau aku tawarkan uang seratus pound padanya untuk memberiku informasi yang begitu lengkap. Nah, Watson, nampaknya kita hampir mendapatkan jawaban atas teka-teki kita, dan yang masih perlu dipastikan adalah apakah kita perlu menemui Mrs. Oakshott malam ini juga, atau besok pagi saja. Dari omelan penjual bebek yang kurang simpatik tadi kita jadi tahu bahwa bukan hanya kita yang menyelidiki hal ini, dan sebaiknya aku..."

Kata-katanya tiba-tiba terhenti oleh suara ribut yang berasal dari kios yang baru saja kami tinggalkan. Tampak seseorang yang bertubuh kecil dan berwajah tirus berdiri tepat di tengah pancaran cahaya lampu ayun, sementara Breckinridge melongok dari pintu kiosnya sambil mengacung-acungkan tinjunya ke arah orang yang ketakutan itu.

"Aku sudah muak melihat mukamu dan juga bebek-bebekmu," teriaknya. "Kalian setan semua. Kalau ada yang berani menggangguku lagi dengan pertanyaan macam-macam, akan kulepaskan anjing penggigit itu. Silakan bawa Mrs. Oakshott kemari, dan akan kuhadapi dia, tapi apa urusannya denganmu? Aku kan tak membeli bebek darimu?"

"Memang tidak, tapi salah satu bebek yang kaubeli dari Mrs. Oakshott itu milikku," rengek pria kecil itu.

"Kalau begitu, suruh saja Mrs. Oakshott untuk mengurus hal itu."

"Dia menyuruhku untuk menanyakannya padamu."

"Yah, kalau begitu tanya saja pada Raja Proosia. Muak aku jadinya. Pergi sana!" Dengan marah Beckinridge lari mendekati pria itu, tapi dia telah menghilang di kegelapan.

"Ha, kita tak perlu pergi ke Brixton Road," bisik Holmes. "Yuk, kita lacak pria kecil tadi."

Kami menerobos orang banyak yang berkumpul di sekeliling kios kios yang terang itu. Tak lama kemudian kami sudah menemukan pria kecil tadi dan Holmes menepuk pundaknya. Dia menoleh dan wajahnya langsung menjadi pucat.

"Anda ini siapa? Apa yang Anda inginkan?" tanyanya dengan gemetar.

"Maafkan saya," kata Holmes dengan sopan. "Saya mendengar pertanyaan-pertanyaan yang baru saja Anda ajukan pada penjual bebek itu. Mungkin saya bisa membantu Anda."

"Anda? Anda ini siapa? Mana mungkin Anda tahu masalah ini?"

"Nama saya Sherlock Holmes. Pekerjaan saya ialah mencari tahu apa yang tak diketahui orang lain."

"Tapi Anda tak mungkin tahu masalah yang ini."

"Maaf, saya tahu semuanya. Anda sedang berusaha melacak bebek-bebek yang telah dijual oleh Mrs. Oakshott dari Brixton Road kepada penjual bebek bernama Breckinridge, yang lalu telah menjualnya pada Mr. Windigate dari Alpha, dan dari situ lalu telah dijual ke klub di mana salah satu anggotanya adalah Mr. Henry Baker."

"Oh, sir, kalau begitu Andalah orang yang sebetulnya saya butuhkan," teriak pria kecil itu sambil mengulurkan tangannya yang gemetaran. "Tak dapat saya katakan betapa pentingnya urusan ini bagi saya."

Sherlock Holmes melambai ke sebuah kereta yang lewat. "Kalau begitu, mari kita bicarakan di dalam ruangan yang nyaman saja, daripada di pasar yang anginnya amat kencang ini," katanya. "Tapi, sebelum membantu Anda lebih jauh, bersediakah Anda menyebutkan nama Anda?"

Pria itu ragu sejenak. "Nama saya John Robinson," jawabnya sambil melirik.

"Bukan, bukan, nama Anda yang sebenarnya," kata Holmes dengan manis. "Saya tak suka melakukan bisnis dengan orang yang memakai nama samaran."

Pipi pria asing yang pucat itu langsung menjadi merah. "Kalau begitu, baiklah," katanya. "Nama saya sebenarnya James Ryder."

"Tepat sekali. Kepala pelayan Hotel Cosmopolitan. Silakan naik ke kereta, dan akan saya ceritakan semua yang Anda butuhkan."

Pria kecil itu berdiri sambil memandangi kami satu per satu, setengah takut, setengah berharap, bagaikan orang yang bingung, apakah dia akan mendapat rezeki atau malah malapetaka. Lalu dia masuk ke kereta itu, dan setengah jam kemudian kami sudah berada di ruang duduk di Baker Street. Selama perjalanan kami membisu, tapi napas teman baru kami yang agak tersengal dan tangannya yang berkali-kali digenggam lalu dibukanya lagi, menunjukkan bahwa dia sedang gugup.

"Kita sudah sampai!" kata Holmes dengan gembira begitu kami masuk ke ruang duduk nya. "Pada cuaca begini, paling enak duduk dekat perapian. Anda nampaknya kedinginan, Mr. Ryder. Silakan duduk di kursi rotan itu. Saya mau pakai sandal dulu sebelum membicarakan masalah Anda. Ya, sudah! Anda ingin tahu apa yang terjadi dengan bebek-bebek itu?"

"Ya, sir."

"Atau lebih tepatnya, Anda hanya tertarik pada salah satu di antaranya, yaitu yang warnanya putih, dengan garis hitam di ekornya."

Ryder terperanjat. "Oh, sir," teriaknya, "tahukah Anda ke mana perginya bebek itu?"

"Dia pernah mampir kemari."

"Ke sini?"

"Ya, bebek yang luar biasa. Tak heran Anda menyukainya. Ternyata bebek itu sempat bertelur sebelum dipanggang—telurnya berwarna biru yang indah sekali. Saya simpan telur itu di tempat penyimpanan khusus di kamar ini."

Tamu kami berdiri dan mencengkeram rak di atas perapian dengan tangan kanannya. Holmes membuka lemari besinya, dan menunjukkan batu delima biru yang sinarnya berkilauan ke segala arah seperti bintang gemerlapan itu. Ryder tertegun sambil memandang batu itu dengan wajah tegang, dia ragu-ragu apakah sebaiknya menyatakan bahwa batu itu miliknya atau mengingkarinya.

"Permainan sudah selesai, Ryder" kata Holmes dengan tenang. "Tahanlah, atau kau akan jatuh ke perapian. Tolong papah dia kembali ke kursinya, Watson. Dia belum terbiasa melakukan kejahatan sebesar ini. Berilah dia minum sedikit brendi. Ya, begitu! Nah, kini agak baikan dia. Wah, kok penakut sekali, ya!"

Tadi pria kecil itu sempoyongan dan hampir jatuh, tapi setelah minum brendi, wajahnya kini kelihatan agak merah. Dia duduk, memandangi temanku yang telah menangkap basah dirinya dengan penuh ketakutan.

"Hampir semuanya sudah kuketahui, dan hampir semua bukti yang diperlukan kumiliki, jadi tinggal sedikit saja yang perlu kauceritakan padaku. Tapi baiklah kita bereskan sekalian yang sedikit itu, untuk menuntaskan kasus ini. Jadi sebenarnya kau sudah tahu tentang batu delima biru milik Countess Morcar ini, kan?'

"Catherine Cusack yang memberitahu saya," katanya dengan suara serak.

"Oh, pelayan wanita Countess itu. Yah, agaknya kau tergoda untuk menjadi kaya mendadak dengan gampang. Memang banyak orang berpikir begitu. Sayang kau kurang cermat dalam mengatur semuanya. Tapi menurutku, Ryder, kau ini bajingan juga. Kau tahu bahwa Horner, si tukang leding itu, pernah berbuat kejahatan sebelumnya, sehingga pasti dialah yang langsung dicurigai. Aku tahu apa yang kaulakukan. Kau mengutak-atik jeruji perapian di kamar Countess—bersama Cusack yang bersekongkol denganmu—dan kauatur supaya Horner dipanggil untuk memperbaikinya. Lalu, waktu dia sudah selesai, kauambil kotak perhiasan itu, kau bunyikan tanda bahaya, dan tukang leding yang sial itu pun ditangkap. Lalu, kau..."

Tiba-tiba Ryder menjatuhkan diri ke karpet dan berlutut di depan temanku. "Demi Tuhan, kasihanilah saya!" dia memohon. "Pikirkanlah ayah dan ibu saya! Hati mereka akan hancur. Saya tak pernah melakukan kejahatan sebelum ini! Dan saya berjanji tak akan melakukannya lagi. Sungguh, saya berani sumpah dengan Kitab Suci. Tapi, jangan bawa saya ke pengadilan! Demi Tuhan, jangan!'

"Kembali ke kursimu!" kata Holmes dengan ketus. "Bisa-bisanya kau memohon-mohon demikian, padahal pernahkah kau berpikir bagaimana nasib Horner seandainya dia dihukum padahal dia tak bersalah apa-apa?"

"Saya mau pergi, Mr. Holmes. Saya akan tinggalkan negeri ini, sir, sehingga tuntutan atas dirinya akan dibatalkan."

"Hm! Nanti kita bicarakan soal itu lagi. Sekarang, kami ingin dengar kelanjutan ceritamu. Bagaimana sampai batu itu bisa masuk ke dalam tubuh bebek, dan bagaimana sampai bebek itu bisa sampai ke pasar? Katakan sejujurnya, kalau kau mengharap selamat."

Ryder membasahi bibirnya yang kering dengan lidahnya. "Akan saya ceritakan peristiwanya, sir," katanya. "Ketika Horner sudah ditangkap, saya merasa sebaiknya batu itu saya singkirkan karena mungkin saja polisi akan menggeledah saya dan kamar saya. Kalau saya sembunyikan di hotel, rasanya tak aman juga. Maka saya lalu pergi, pura-pura ada keperluan di luar, dan saya menuju ke rumah adik perempuan saya. Suaminya bernama Oakshott, dan mereka tinggal di Brixton Road. Pekerjaan adik saya ialah mensuplai unggas ke pasar. Sepanjang perjalanan ke rumahnya, semua orang yang saya jumpai di jalan tampak oleh saya bagai polisi atau detektif, sehingga walaupun udara saat itu dingin sekali, muka saya bersimbah keringat sesampainya di Brixton Road. Adik saya bertanya apakah ada masalah dengan saya dan mengapa saya pucat sekali. Saya jawab bahwa saya merasa kaget atas terjadinya perampokan perhiasan di hotel. Lalu saya pergi ke halaman belakang, menyalakan rokok, dan memikirkan apa yang sebaiknya saya perbuat.

"Saya pernah punya teman bernama Maudsley. Dia seorang penjahat, dan baru saja keluar dari penjara Pentonville. Suatu hari dia mengunjungi saya, dan lalu bercerita panjang lebar tentang cara-cara pencuri beroperasi dan bagaimana mereka menyembunyikan barang curian mereka. Saya tahu dia takkan mengkhianati saya, karena beberapa rahasianya ada di tangan saya. Jadi, saya putuskan untuk mengunjunginya di Kilburn, dan mempercayakan masalah ini padanya. Dia akan mengajari saya bagaimana menjual batu mulia tersebut. Tapi bagaimana saya bisa sampai di tempatnya dengan selamat? Saya tak mungkin melupakan bagaimana ketakutannya diri saya ketika keluar dari hotel. Saya bisa sewaktu-waktu ditangkap dan digeledah, dan akan ketahuanlah batu itu berada di kantong mantel saya. Saat itu saya menyandar ke dinding sambil memandangi bebek-bebek yang berkeliaran di sekeliling kaki saya, dan tiba-tiba saya mendapatkan ide yang jauh lebih brilian dibanding ide detektif mana pun yang pernah ada.

"Beberapa minggu sebelumnya, adik saya mengatakan bahwa saya akan mendapat jatah seekor bebek sebagai hadiah Natal, dan saya yakin dia bersungguh-sungguh. Nah, saya ambil saja bebek jatah saya saat itu, dan setelah saya paksa bebek itu menelan batu itu, akan saya bawa dia ke Kilburn. Di halaman itu ada kandang kecil, dan saya segera menuju ke belakang kandang itu untuk menangkap salah satu bebek, yaitu yang besar, putih, dan ada garis hitam di ekornya. Setelah menangkap bebek itu, saya buka paruhnya dan saya masukkan batu itu ke dalam tenggorokannya sejauh-jauhnya. Bebek itu mcnelannya, dan saya lihat batu itu bergerak melewati kerongkongannya dan terus ke temboloknya. Tapi dia lalu mengepakkan sayapnya dan meronta-ronta, sehingga adik saya berlari dari dalam rumah dan mendekati saya sambil menanyakan apa yang sedang terjadi. Ketika saya menoleh untuk menjawab, bebek itu terlepas, dan bergabung dengan teman-temannya.

'"Kauapakan bebek itu, Jem?' tanya adik saya.

"'Yah,' kata saya, 'kaubilang kau akan memberiku seekor sebagai hadiah Natal, dan aku tadi melihat-lihat mana yang paling gemuk.'

"'Oh,' katanya, 'kami sudah menyisihkan satu untukmu. Kami menyebutnya bebek si Jem. Yang besar dan putih di sana itu. Saat ini ada dua puluh enam ekor. Seekor untukmu, seekor untuk kami sendiri, dan yang dua puluh empat akan disuplai ke pasar untuk dijual.'

"'Terima kasih, Maggie,' kata saya, 'tapi kalau kau tak keberatan, aku mau yang baru saja kupegang tadi.'

"'Yang kami pilihkan untukmu malah jauh lebih gemuk,' katanya, 'dan memang sengaja dipersiapkan untukmu.'

"'Tak apa-apa. Aku ingin yang tadi itu saja, dan akan kubawa sekarang,' kata saya.

"'Sesukamulah,' katanya dengan agak gusar. 'Yang mana tadi yang kaupilih?'

"'Yang putih dan bergaris di ekornya, itu dia persis di tengah'.

"'Baiklah. Silakan kau sembelih dan bawa pulang.'

"Saya lakukan seperti apa katanya, Mr. Holmes, lalu saya bawa bebek itu ke Kilburn. Saya ceritakan apa yang telah saya lakukan pada teman saya di sana, karena hal semacam itu tak aneh baginya. Dia tertawa terbahak-bahak sampai tercekik, kemudian kami mengambil pisau untuk memotong bebek itu, Jantung saya serasa berhenti berdetak, karena batu itu tak ditemukan. Saya langsung menyadari bahwa saya telah salah ambil. Segera saya berlari ke rumah adik saya lagi, dan langsung menuju halaman belakang. Tak terlihat seekor bebek pun di situ.

"'Di mana bebek-bebek itu, Maggie?' teriak saya.

"'Sudah kukirim ke penjualnya.'

"'Penjual yang mana?'

"'Breckinrigde, yang di Covent Garden.'

'"Apakah memang ada lebih dari satu yang memiliki garis di ekornya?' tanya saya. 'Sama seperti yang kuambil?'

"'Ya, Jem. Ada dua yang ekornya bergaris hitam, dan aku sendiri tak bisa membedakannya.'

"Yah, tentu saja saya jadi tahu duduk persoalannya dan saya segera berlari sekencang-kencangnya ke kios Breckinridge, tapi bebek-bebek itu sudah terjual semua, dan dia tak bersedia memberitahu saya kepada siapa saja dia telah menjual bebek-bebek itu. Anda dengar sendiri tadi. Yah, memang dia selalu begitu terhadap saya. Adik saya menganggap saya hampir gila. Saya sendiri pun berpikir demikian. Dan kini... kini saya telah menjadi seorang pencuri, tanpa pernah menjamah harta yang saya curi. Padahal untuk itu saya telah mempertaruhkan nama baik saya. Kiranya Tuhan mengampuni saya! Tuhan, ampunilah saya!" Dia terisak-isak tertahan, wajahnya ditutupinya dengan kedua belah tangannya.

Kami terdiam selama beberapa saat. Hanya terdengar helaan napasnya yang panjang-panjang dan suara ujung jari Sherlock Holmes yang mengetuk-ngetuk pinggiran meja. Kemudian temanku berdiri, dan membuka pintu.

"Pergi!" katanya.

"Apa, sir! Oh, Tuhan memberkati Anda!"

"Tak usah ngomong apa-apa lagi. Pergi!"

Memang tak diperlukan kata-kata lagi. Segera terdengar suara orang menuruni tangga, membanting pintu, dan berlari ke luar.

"Toh, Watson," kata Holmes sambil menggapai pipanya yang terbuat dari tanah liat, "aku tak diminta polisi untuk mengemukakan apa yang tak diketahui mereka. Aku akan bertindak lain kalau keadaan ini membahayakan Horner. Tapi orang ini tak akan tampil lagi sebagai saksi yang memberatkan Horner, maka kasusnya akan dibatalkan. Mungkin aku sendiri telah melakukan tindak kejahatan, ya. Tapi, ini kan dalam rangka menyelamatkan jiwa seseorang. Aku yakin orang ini tak akan berani berbuat kejahatan lagi. Dia ketakutan sekali. Kalau kita kirim dia ke penjara, selama hidupnya dia akan berlangganan dengan penjara, Lagi pula, bukankah saatnya tepat bagi kita untuk mengampuni sesama pada masa Natal ini? Kita mendapat kesempatan menangani masalah yang aneh dan unik ini. Bahwa akhirnya kasus ini dapat kita selesaikan, itu saja sudah merupakan upah yang memadai. Kalau kau tak keberatan untuk membunyikan bel, Dokter, kita akan mulai penyelidikan baru, yang juga melibatkan seekor unggas sebagai peran utamanya."