SALAH satu kelemahan Sherlock Holmes—kalau memang bisa disebut kelemahan—adalah ia sangat benci menyampaikan seluruh rencananya kepada orang lain sebelum saat pelaksanaannya. Sebagian tidak ragu lagi berasal dari sifatnya yang senang mendominasi dan mengejutkan semua yang ada di sekitarnya. Sebagian juga berasal dari kehati-hatian profesionalnya, yang mendesaknya untuk tidak pernah mengambil risiko. Tapi hasilnya sangat menjengkelkan bagi orang-orang yang bertindak sebagai agen dan pembantunya. Aku sering kali menderita karenanya, tapi belum pernah lebih menderita lagi dibandingkan selama perjalanan panjang dalam kegelapan itu. Tantangan besar tengah menanti di depan kami, akhirnya kami akan mengambil tindakan terakhir dan, meskipun demikian, Holmes tidak mengatakan apa-apa sementara aku hanya bisa memperkirakan tindakan apa yang akan dilakukannya. Saraf-sarafku bergetar penuh antisipasi sewaktu angin dingin yang menerpa wajah kami dan kegelapan kosong di kedua sisi jalan yang sempit memberitahuku bahwa kami berada di rawa-rawa lagi. Setiap derap langkah kuda dan setiap putaran roda membawa kami semakin dekat ke petualangan terbesar kami.

Percakapan kami agak terhambat dengan kehadiran kusir kereta sewaan itu, jadi kami terpaksa membicarakan hal-hal sepele sementara saraf kami tegang karena emosi dan antisipasi. Aku merasa lega, setelah tekanan yang tidak wajar itu, ketika kami akhirnya melewati rumah Frankland dan mengetahui kami semakin dekat dengan Hall dan tempat kejadian. Kami tidak melaju ke pintu, tapi turun di dekat gerbang masuk. Kusir kereta mendapat bayaran dan diperintahkan untuk seketika kembali ke Coombe Tracey, sementara kami berjalan kaki menuju Merripit House.

"Kau bersenjata, Lestrade?"

Detektif bertubuh kecil itu tersenyum.

"Selama aku mengenakan celana panjangku, selalu ada saku pinggangku, dan selama ada saku pinggangku, selalu ada sesuatu di dalamnya."

"Bagus! Temanku dan aku juga siap menghadapi keadaan darurat."

"Kau sangat tertutup mengenai urusan ini, Mr. Holmes. Apa permainannya sekarang?"

"Permainan menunggu."

"My word, tempat ini tampak sangat muram," kata si detektif sambil menggigil, memandang ke sekitarnya ke arah lereng-lereng bukit suram dan kabut tebal yang menyelubungi Grimpen Mire. "Aku melihat cahaya dari rumah di depan kita."

"Itu Merripit House dan merupakan akhir perjalanan kita. Aku terpaksa memintamu berjalan dengan hati-hati dan tidak berbicara lebih keras dari bisikan."

Dengan hati-hati kami menyusuri jalan setapak itu, seakan-akan hendak menuju ke rumah itu. Tapi Holmes menghentikan kami sekitar dua ratus meter dari sana.

"Ini sudah cukup," katanya. "Bebatuan di sebelah kanan ini bisa menjadi tirai yang bagus."

"Kita menunggu di sini?"

"Ya, kita akan melakukan penyergapan kecil di sini. Masuklah ke ceruk itu, Lestrade. Kau sudah pernah masuk ke dalam rumah, bukan, Watson? Bisa kaukatakan posisi ruangan-ruangannya? Jendela kecil apa itu di ujung sini?"

"Kurasa itu jendela dapur."

"Dan yang satu lagi, yang bersinar terang?"

"Itu jelas ruang makan."

"Tirainya diangkat. Kau yang paling tahu medan di sini. Merayaplah dengan hati-hati dan periksa apa yang sedang mereka lakukan—tapi demi Tuhan, jangan sampai mereka tahu sedang diawasi!"

Aku berjingkat-jingkat menyusuri jalan setapak dan membungkuk di balik dinding rendah yang mengitari pepohonan. Sambil merayap dalam bayang-bayang pepohonan, aku tiba di tempat aku bisa memandang lurus ke balik jendela yang tidak bertirai.

Di dalam ruangan itu hanya ada dua orang, Sir Henry dan Stapleton. Mereka duduk memunggungiku di sekitar meja bulat. Keduanya tengah mengisap cerutu, dan kopi serta anggur ada di hadapan mereka. Stapleton tengah berbicara sambil menggerak-gerakkan tangannya, tapi Sir Henry tampak pucat dan teralih perhatiannya. Mungkin pikiran akan berjalan kaki seorang diri melintasi rawa-rawa sangat membebani benaknya.

Saat aku mengawasi mereka, Stapleton bangkit berdiri dan berlalu dari dalam ruangan sementara Sir Henry mengisi gelasnya lagi dan menyandar di kursinya, mengisap cerutu. Kudengar derit pintu dan gemeresik sepatu bot menginjak kerikil. Langkah sepatu bot itu terdengar menyusuri jalan setapak di sisi lain dinding tempat aku berjongkok. Saat memandang ke sana, kulihat si pencinta alam itu berhenti di depan pintu sebuah bangunan luar di sudut kebun. Anak kunci diputar, dan saat ia masuk terdengar sedikit suara berisik dari dalam bangunan. Ia hanya sekitar satu menit di dalam, lalu kudengar lagi bunyi anak kunci diputar dan ia berjalan melewatiku, masuk kembali ke dalam rumah. Aku melihatnya menggabungkan diri dengan tamunya, dan aku merayap diam-diam ke tempat teman-temanku menunggu laporanku.

"Katamu, Watson, wanita itu tidak ada di sana?" tanya Holmes setelah aku selesai menyampaikan laporanku.

"Benar."

"Di mana dia, kalau begitu, karena tidak ada cahaya di ruangan lain kecuali dapur?"

"Aku tidak bisa memikirkan di mana dia sekarang."

Aku sudah mengatakan kabut tebal menutupi Grimpen Mire. Kabut itu kini melayang perlahan-lahan ke arah kami dan membentuk dinding putih di samping kami, rendah tapi tebal dan sangat pekat. Bulan bersinar di atasnya, dan kabut itu tampak seperti padang es luas yang berkilau-kilau, dengan ujung-ujung karang di kejauhan mencuat pada permukaannya. Holmes berpaling ke sana, dan ia menggumam tidak sabar sewaktu menyaksikan gerakan kabut yang lambat.

"Kabutnya bergerak ke arah kita, Watson."

"Apa itu serius?"

"Sangat serius—itu satu-satunya yang bisa merusak rencanaku. Sir Henry tidak boleh tinggal lebih lama lagi, sekarang sudah pukul sepuluh.

Keberhasilan kita dan bahkan keselamatannya mungkin tergantung pada kepergiannya dari rumah itu sebelum kabut menutupi jalan setapak."

Malam sangat bersih dan cerah di atas kami. Bintang-bintang bersinar dingin dan terang, sementara bulan yang hanya separo memandikan seluruh kawasan itu dengan cahaya yang lembut. Di depan kami berdiri rumah itu, dengan atap dan cerobongnya mencuat berlatar belakang langit yang dihiasi bintik-bintik keperakan. Berkas-berkas cahaya keemasan dari jendela yang lebih rendah membentang melintasi kebun ke rawa-rawa. Salah satunya tiba-tiba tertutup. Para pelayan telah meninggalkan dapur. Hanya tersisa cahaya lampu dari ruang makan, tempat kedua pria itu—tuan rumah pembunuh dan tamu yang tidak menyadari—masih bercakap-cakap sambil mengisap cerutu.

Setiap menit dataran bagai wol putih yang menutupi separo rawa-rawa, melayang semakin dekat dan semakin dekat dengan rumah. Berkas-berkas tipis putihnya yang pertama telah meling-karlingkar di jendela yang memancarkan cahaya persegi keemasan. Dinding seberang kebun sudah tidak tampak, dan pepohonannya telah berdiri di tengah-tengah uap putih yang melingkar-lingkar. Saat kami mengawasi, kabut merayap keluar dari kedua sudut rumah dan pcrlahan-lahan bergulung-gulung menjadi satu. Lantai atas dan atap pun mengambang bagai perahu aneh di laut bayang-bayang. Holmes menghantam batu di depan kami dengan emosi dan mengentakkan kakinya tidak sabar.

"Kalau dia tidak muncul dalam seperempat jam, jalan setapak akan tertutup. Dalam setengah jam kita tidak akan bisa melihat tangan kita sendiri."

"Apa sebaiknya kita mundur ke tanah yang lebih tinggi?"

"Ya, kurasa sebaiknya begitu."

Jadi saat tepi kabut melayang maju, kami mundur hingga sejauh setengah mil dari rumah. Akan tetapi lautan putih itu, dengan cahaya keperakan bulan memantul di tepinya, merayap perlahan-lahan dan pasti ke arah kami.

"Kita terlalu jauh," kata Holmes. "Kita tidak boleh mengambil risiko dia dikuasai terlebih dulu sebelum mencapai tempat kita. Kita harus bertahan dengan segala cara." Ia berlutut dan menempelkan telinga ke tanah. "Syukurlah, rasanya aku mendengar dia datang."

Suara langkah kaki yang cepat memecah kesunyian rawa-rawa. Sambil berjongkok di sela-sela bebatuan, kami menatap tajam ke tepi keperakan di depan kami. Langkah kaki itu terdengar semakin keras. Dan dari balik kabut yang bagai tirai, melangkah keluar pria yang telah kami tunggu. Ia memandang sekitarnya dengan terkejut sewaktu memasuki malam yang cerah dan diterangi bintang. Lalu ia bergegas menyusuri jalan setapak, melewati tempat persembunyian kami, dan terus mendaki lereng panjang di belakang kami. Sambil berjalan ia terus-menerus berpaling ke kedua sisi jalan, seperti orang yang merasa tidak nyaman.

"Sst!" seru Holmes, dan aku mendengar bunyi "klik" keras pistol terkokang. "Hati-hati! Makhluk itu datang!"

Terdengar langkah-langkah kaki yang ringan, lincah, dan terus-menerus dari jantung kabut yang mendekat. Kami berada sekitar lima puluh meter dari kabut itu, terus memelototinya, tidak pasti akan kengerian apa yang muncul dari sana. Aku berada di samping Holmes, dan sekilas meliriknya. Wajah Holmes pucat dan tegang, matanya berkilau-kilau cerah tertimpa cahaya bulan. Tapi tiba-tiba tatapannya terpaku, dan bibirnya membuka terpesona. Pada saat yang sama Lestrade menjerit ngeri dan membuang diri ke tanah. Aku melompat bangkit, tanganku telah meraih pistol, dan benakku membeku melihat sosok mengerikan yang melompat keluar dari dalam kabut di depan kami. Makhluk itu memang seekor anjing, hitam besar, tapi tidak seperti anjing manapun yang pernah dilihat manusia. Api menyembur dari mulutnya yang terbuka, matanya menyala-nyala, moncong dan cakarnya bercahaya. Belum pernah ada apa pun yang tampak lebih buas, lebih menakutkan, dari sosok gelap dan wajah mengerikan yang muncul dari dinding kabut itu.

Dengan langkah-langkah panjang makhluk hitam itu menyusuri jalan setapak, berusaha keras mengikuti jejak teman kami. Kami begitu terpaku melihatnya sehingga membiarkan makhluk itu berlalu sebelum kami pulih. Lalu Holmes dan aku sama-sama menembak.

Makhluk itu melolong menakutkan, yang berarti salah satu dari kami berhasil mengenainya, tapi ia tidak berhenti, terus berderap maju. Di kejauhan di jalan setapak kami melihat Sir Henry berpaling, wajahnya pucat pasi di bawah sinar bulan, tangannya terangkat ngeri, membelalak tidak berdaya menatap makhluk mengerikan yang tengah memburunya.

Tapi jerit kesakitan anjing itu telah menghancurkan ketakutan kami. Kalau ia bisa ditembak berarti ia bisa mati, dan kalau kami bisa melukainya, kami bisa membunuhnya. Belum pernah aku melihat seseorang berlari seperti Holmes malam itu. Aku dikenal sebagai pelari cepat selama ini, tapi ia berhasil meninggalkan diriku sama seperti aku meninggalkan pelari pemula. Di depan kami—saat kami melesat di sepanjang jalan setapak—terdengar jeritan demi jeritan Sir Henry serta raungan anjing itu. Aku tiba tepat pada waktunya untuk melihat makhluk itu melompat menerkam korbannya, menjatuhkannya ke tanah, dan mengincar tenggorokannya. Tapi saat berikutnya Holmes telah mengosongkan kelima butir peluru revolvernya ke sisi tubuh anjing itu. Diiringi lolongan kesakitan dan gertakan rahang yang mengerikan di udara, makhluk itu berguling telentang, keempat kakinya mencakar-cakar mati-matian, dan lalu terguling lemas ke samping. Aku membungkuk, terengah-engah, dan menekankan pistolku ke kepala yang berkilau-kilau menakutkan itu. Tapi tidak ada gunanya menarik picunya. Anjing raksasa itu telah mati.

Sir Henry tergeletak tidak bergerak di tempatnya. Kami merobek kerah bajunya, dan Holmes mengucapkan syukur sewaktu melihat tidak ada tanda-tanda luka di sana, pertolongan kami tiba tepat pada waktunya. Kelopak mata Sir Henry bergetar dan ia berusaha bergerak. Lestrade mendorongkan botol brendi-nya ke sela-sela gigi si bangsawan, dan dua mata yang ketakutan memandang kami.

"Ya Tuhan!" bisiknya. "Apa itu tadi? Demi surga, apa itu?"

"Sudah mati, apa pun itu," kata Holmes. "Kita sudah menamatkan riwayat hantu keluarga untuk selama-lamanya."

Bahkan hanya melihat ukuran dan kekuatannya, makhluk yang tergeletak di depan kami itu sudah luar biasa. Hewan itu bukan anjing pemburu maupun anjing mastiff murni, tapi tampaknya merupakan kombinasi dari keduanya—ramping, buas, dan sebesar singa betina. Bahkan sekarang, setelah tergeletak mati dan tidak bergerak, cairan yang menyala-nyala masih menetes dari rahangnya yang besar. Dan matanya yang kecil, dalam, serta kejam masih dikelilingi lingkaran api. Kusentuh moncongnya yang menyala, dan saat kutarik kembali tanganku tampak bersinar dalam kegelapan. "Fosfor," kataku.

"Persiapan yang licik sekali," kata Holmes sambil mengendus bangkai hewan itu. "Tidak ada bau yang bisa mengacaukan indra penciumannya. Kami harus meminta maaf yang sedalam-dalamnya kepadamu, Sir Henry, karena membiarkan dirimu menghadapi kengerian sehebat ini. Aku sudah menyiapkan diri menghadapi seekor anjing, tapi bukan makhluk seperti ini. Dan kabut malam ini memberi kami hanya sedikit waktu untuk menyambut kehadirannya."

"Kau sudah menyelamatkan nyawaku."

"Sesudah membahayakannya terlebih dulu. Apa kau sudah cukup kuat untuk berdiri?"

"Beri aku seteguk brendi lagi dan aku akan siap menghadapi apa pun. So! Sekarang, tolong bantu aku berdiri. Apa rencanamu selanjutnya?"

"Meninggalkan dirimu di sini. Kondisimu tidak siap untuk petualangan yang selanjutnya. Kalau kau mau menunggu, salah satu dari kami akan kembali menemanimu pulang ke Hall."

Dengan terhuyung-huyung Sir Henry berusaha berdiri, tapi wajahnya masih pucat dan tubuhnya masih gemetar. Kami membantunya menuju ke sebuah batu, di sana ia duduk menggigil dengan wajah terbenam di tangannya.

"Kami harus meninggalkanmu sekarang," kata Holmes. "Sisa pekerjaan kami harus dibereskan, dan setiap saat sangat penting. Kami sudah menyusun kasusnya, dan sekarang kami hanya ingin menangkap pelakunya.

"Kemungkinannya seribu banding satu kita bisa menemukannya di rumahnya," lanjutnya saat kami kembali menyusuri jalan setapak. "Tembakan-tembakan tadi pasti sudah memberitahunya bahwa permainan sudah berakhir."

"Kita cukup jauh, dan mungkin kabut ini sudah meredamnya."

"Dia mengikuti anjingnya untuk memanggilnya kembali—kau boleh yakin akan hal itu. Tidak, tidak, dia sudah pergi sekarang! Tapi kita akan menggeledah rumah dan memastikannya."

Pintu depan terbuka, jadi kami bergegas masuk dan memeriksa ruangan demi ruangan yang menyebabkan pelayan tua—yang bertemu dengan kami di lorong—tertegun. Tidak ada lampu yang menyala kecuali di ruang makan, tapi Holmes meraih lampu tersebut dan menjelajahi setiap sudut rumah. Tidak ada tanda-tanda ke-hadiran orang yang kami kejar. Tapi, di lantai atas, salah satu pintu kamar tidur terkunci.

"Ada orang di dalam," seru Lestrade. "Aku bisa mendengar gerakan. Buka pintunya!"

Erangan dan gemerisik pelan terdengar dari dalam. Holmes menendang pintunya tepat di atas kunci dan pintu itu pun melayang terbuka. Dengan pistol di tangan, kami bertiga menyerbu masuk.

Tapi tidak tampak tanda-tanda kehadiran penjahat yang terpojok di dalamnya. Sebaliknya kami berhadapan dengan benda yang begitu aneh dan begitu tidak terduga sehingga kami berdiri ternganga menatapnya selama beberapa saat.

Kamar itu telah diubah menjadi semacam museum kecil, dinding-dindingnya tertutup oleh kotak-kotak kaca penuh berisi koleksi kupu-kupu dan ngengat yang merupakan kegiatan santai pria yang rumit dan berbahaya ini. Di tengah-tengah kamar terdapat sebatang balok yang tegak berdiri, yang ditempatkan di sana untuk menopang balok kayu yang menahan atap. Seseorang terikat pada tiang itu, tertutup seprai begitu rapat sehingga sulit memastikan apakah ia seorang pria atau wanita Sehelai' handuk meliliti lehernya dan diikatkan ke bagian belakang pilar. Handuk yang lain menutupi bagian bawah wajahnya, dan di atasnya terdapat sepasang mata hitam—mata yang memancarkan kedukaan dan malu dan amat keheranan—menatap ke arah kami. Semenit kemudian kami telah melepaskan sumpalnya, ikatannya, dan Mrs. Stapleton merosot ke lantai di depan kami. Saat wajahnya yang cantik tertunduk, aku bisa melihat bekas cambuk kemerahan di lehernya.

"Brengsek!" seru Holmes. "Kemarikan botol brendimu, Lestrade! Dudukkan dia di kursi! Dia sudah kehabisan tenaga."

Mrs. Stapleton membuka matanya lagi.

"Apa dia selamat?" tanyanya. "Apa dia berhasil melarikan diri?"

"Dia tidak bisa lari dari kami, Madam."

"Tidak, tidak, maksudku bukan suamiku. Sir Henry? Apa dia selamat?"

"Ya."

"Dan anjingnya?"

"Sudah mati."

Ia mendesah panjang penuh kepuasan.

"Syukur Tuhan! Syukur Tuhan! Oh, bajingan itu! Lihat bagaimana dia memperlakukan diriku!" Ia menjulurkan lengannya dari balik lengan bajunya dan kami melihat memar-memar yang mengerikan di sana. "Tapi ini bukan apa-apa—bukan apa-apa. Benak dan jiwaku yang sudah disiksanya. Aku bisa menanggung semuanya, perlakuan buruk, kesepian, kehidupan penuh kebohongan, segalanya, selama aku masih bisa berharap dia akan mencintaiku. Tapi sekarang aku tahu dalam hal ini pun aku sudah tertipu dan hanya merupakan alat baginya." Ia terisak-isak penuh emosi ketika berbicara.

"Anda tidak perlu bersikap baik padanya, Madam," kata Holmes. "Katakan di mana kami bisa menemukannya. Kalau Anda pernah membantunya melakukan kejahatan, bantu kami sekarang untuk membalasnya."

"Hanya ada satu tempat ke mana dia bisa melarikan diri," jawabnya. "Ada tambang timah tua di pulau di jantung rawa-rawa. Dia mengurung anjingnya di sana dan juga membuat persiapan untuk melarikan diri. Dia pasti pergi ke sana."

Kabut melayang-layang bagai wol putih di balik jendela. Holmes mengacungkan lampu ke sana.

"Lihat," katanya. "Tak seorang pun bisa menemukan jalan melintasi Grimpen Mire malam ini."

Mrs. Stapleton tertawa dan menepukkan tangannya. Mata dan giginya kemilau tertimpa cahaya lampu.

"Dia mungkin bisa menemukan jalan masuk, tapi tidak jalan keluar," serunya. "Bagaimana dia bisa melihat patok-patok pemandunya malam ini? Kami menanamnya bersama-sama, dia dan aku, untuk menandai jalan melintasi rawa-rawa. Oh, kalau saja aku sempat mencabutnya tadi. Dengan begitu Anda benar-benar bisa menguasai-nya!"

Jelas bagi kami bahwa sia-sia mengejar sebelum kabutnya menghilang. Sementara itu kami meninggalkan Lestrade untuk menjaga rumah. Holmes dan aku kembali bersama Sir Henry ke Baskerville Hall. Cerita mengenai pasangan Stapleton tidak lagi disembunyikan darinya, tapi ia menerima pukulan itu dengan tabah saat mengetahui kebenaran tentang wanita yang dicintainya. Namun kejutan petualangan malam itu telah menghancurkannya, dan sebelum pagi tiba ia telah tergeletak dengan demam tinggi di bawah perawatan Dr. Mortimer. Mereka berdua sudah ditakdirkan untuk keliling dunia bersama-sama sebelum Sir Henry kembali menjadi pria sehat, seperti dulu sebelum menjadi penguasa lahan terkutuk itu.

Dan sekarang aku dengan cepat tiba di akhir narasi aneh ini, saat aku mencoba agar pembaca juga merasakan ketakutan dan perkiraan samar yang melingkupi kehidupan kami begitu lama dan berakhir dengan begitu tragis. Pada pagi hari setelah kematian anjing itu, kabut menghilang dan kami dipandu Mrs. Stapleton pergi ke tempat mereka menemukan jalan setapak melintasi rawa-rawa. Kami menyadari akan kengerian kehidupan wanita ini sewaktu melihat semangat dan kegembiraannya dalam melacak jejak suaminya. Kami meninggalkannya di semenanjung tanah keras kecil yang menjulur masuk ke rawa-rawa. Dari ujungnya terdapat patok-patok kecil yang ditanam di sana-sini untuk menunjukkan jalan setapak berliku-liku di antara genangan-genangan lumpur tersembunyi yang menghalangi jalan bagi orang asing. Bau busuk tanaman dan tanah serra uap rawa menerpa wajah kami, sementara satu langkah yang salah akan membawa kami ke dalam genangan lumpur hitam setinggi paha yang membentang bermeter-meter di bawah kaki kami. Kami melangkah dengan susah payah melintasinya. Dan bila kami tidak sengaja melesak ke dalamnya, rasanya seperti ada tangan-tangan jahat yang menarik kami ke bawah karena begitu mantapnya tarikan itu. Kami hanya sekali melihat jejak kehadiran seseorang yang melintasi rawa-rawa sebelum kami. Di tengah-tengah batang-batang rumput kapas yang mencuat di atas kubangan lumpur, terdapat benda hitam. Holmes terjun hingga ke pinggangnya saat melangkah keluar dari jalan setapak untuk mengambilnya. Dan kalau kami tidak berhasil menyeretnya keluar dari lumpur itu, ia tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki di tanah keras lagi. Ia mengacungkan sepatu bot hitam ke udara. "Meyers, Toronto," tercetak di sisi dalam kulitnya.

"Mandi lumpur layak untuk mendapatkannya," katanya. "Ini sepatu bot Sir Henry yang hilang."

"Dilempar oleh Stapleton sewaktu melarikan diri."

"Tepat sekali. Dia tetap memegang sepatu ini sesudah menciumkannya pada anjingnya. Dia melarikan diri sewaktu menyadari permainan sudah berakhir sambil membawanya, dan dia membuangnya sewaktu tiba di sini. Paling tidak kita tahu dia masih selamat sejauh ini."

Tapi lebih dari itu kami tidak pernah bisa mengetahuinya, walaupun ada banyak dugaan yang bisa kami susun. Mustahil menemukan jejak kaki di kawasan ini karena lumpur yang naik dengan mudah menghilangkannya. Meskipun demikian, sewaktu kami tiba di tanah yang keras, dengan penuh semangat kami berusaha menemukannya. Sayangnya kami gagal. Seandainya tanah menceritakan kebenaran, maka Stapleton tidak pernah mencapai pulau tujuan yang dengan susah payah hendak dicapainya di tengah-tengah kabut semalam. Di suatu tempat di jantung Grimpen Mire, di dasar kubangan lumpur berbau busuk yang telah mengisapnya, manusia yang berhati dingin dan kejam ini terkubur untuk selama-lamanya.

Banyak jejaknya yang kami temukan di pulau tempat dia menyembunyikan sekutunya yang buas. Roda gigi besar dan as yang separo terisi sampah menunjukkan posisi tambang tua yang telah ditinggalkan itu. Di sampingnya terdapat reruntuhan tempat tinggal para penggali tambang yang terusir oleh bau busuk rawa-rawa di sekitarnya. Di salah satu gubuk ini—tempat hewan itu dikurung—terdapat tiang dan rantai beserta sejumlah besar tulang yang telah dikunyah-kunyah, di antaranya tergeletak tulang belulang dengan seonggok bulu kecokelatan.

"Anjing!" kata Holmes. "By Jove, seekor spanil berbulu keriting. Mortimer yang malang tidak akan pernah melihat hewan peliharaannya lagi. Well, aku tidak tahu ada rahasia apa lagi di tempat ini. Dia bisa menyembunyikan anjingnya, tapi tidak bisa membungkamnya. Dan karena itu terdengar lolongannya yang tidak menyenangkan, bahkan di siang hari. Dalam keadaan darurat dia bisa mengurung anjingnya di Merripit, tapi tindakan itu selalu berisiko. Dan hanya pada hari-hari tertentu, karena tidak ada jalan lain, dia berani melakukannya. Pasta di kaleng ini tidak ragu lagi pasti campuran fosfor yang digunakan untuk melaburi anjingnya. Tentu saja tindakan ini dipicu oleh legenda keluarga tentang anjing setan, dan oleh keinginan untuk menakut-nakuti Sir Charles tua hingga tewas. Tidak heran narapidana yang malang itu melarikan diri sambil menjerit-jerit, seperti teman kita Sir Henry, dan seperti yang mungkin kita sendiri lakukan, sewaktu makhluk seperti itu muncul dalam kegelapan rawa-rawa dan memburunya. Taktik yang licik, terlepas dari kemungkinan menakut-nakuti korbannya hingga tewas, petani mana yang berani berkeliaran terlalu dekat dengan makhluk seperti itu bila mereka melihatnya di rawa-rawa? Seperti yang sudah kukatakan di London, Watson, dan sekarang kuulangi lagi, kita belum pernah memburu orang yang lebih berbahaya dari pria yang sekarang tergeletak entah di mana"—ia melambaikan lengannya ke rawa-rawa yang membentang luas hingga ke lereng-lereng kemerahan.